RAMA Mengendus La Nina

Anomali cuaca La Nina akan kembali memengaruhi iklim di Indonesia hingga Maret 2011. Gangguan cuaca pada musim hujan itu perlu diantisipasi karena bisa berdampak pada curah hujan di atas normal hingga berakibat banjir, terutama pada puncak musim hujan: Desember 2011 hingga Januari 2012.

Kondisi anomali itu sesuai analisis data dari jaringan pelampung Research Moored Array for African-Asian-Australian Monsoon Analysis and Prediction (RAMA) di Samudra Hindia dan TAO/Triton di Samudra Pasifik. Analisis disampaikan pakar cuaca Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional (National Oceanic and Atmospheric Administration/NOAA) Amerika Serikat, Michael Mc Phaden, pekan lalu.

Prediksi NOAA itu berbeda dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut musim hujan kali ini akan bersifat normal. BMKG mengacu pantauan fenomena yang memengaruhi iklim di Indonesia, yaitu El Nino/La Nina, Dipole Mode, sirkulasi Monsun Asia-Australia, daerah pertemuan Angin Antar-tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ), dan suhu permukaan laut di Indonesia.

Simpulan BMKG, sifat hujan selama musim hujan 2011/2012 pada sebagian besar daerah, yaitu 267 zona musim (ZOM) mencapai 78,07 persen, diperkirakan Normal dan 40 ZOM (11,70 persen) di Atas Normal. Sementara, Bawah Normal ada di 35 ZOM (10,23 persen).

Kemunculan La Nina

Untuk perkiraan musim, NOAA menganalisis data cuaca yang dihimpun dari jaringan pemantau telemetri di Samudra Pasifik dan Hindia. Hasilnya, musim hujan tahun ini akan dipengaruhi fenomena La Nina, sama dengan musim hujan tahun 2010.

”Secara statistik, probabilitas musim hujan dengan curah hujan di atas normal pada akhir 2011 hingga awal 2012 sekitar 70 persen,” tutur Michael, yang juga peneliti senior pada Pacific Marine and Environmental Laboratory NOAA di Seattle, Amerika Serikat.

Menurut dia, fenomena La Nina yang berlangsung dua tahun berturut-turut telah terjadi beberapa kali sejak 13 tahun lalu, masing-masing tahun 1998-1999 dan 2007-2008. Kemunculan La Nina berlangsung dari akhir hingga pertengahan tahun, ditandai menghangatnya suhu muka laut di barat Samudra Pasifik.

Fenomena La Nina itu menimbulkan suplai uap air atau curah hujan di atas normal di wilayah Indonesia, terutama di bagian timur. Sebaliknya, kurang hujan di pantai barat Benua Amerika. ”Musim hujan tahun lalu, Texas misalnya, menghadapi musim kering,” kata Michael.

La Nina berlangsung relatif lebih panjang dibandingkan dengan El Nino yang hanya berlangsung setahun. Menurut dia, itu terkait karakteristik air yang relatif lebih lama menyimpan panas atau melalui proses pendinginan. Pengaruh pemanasan matahari di kawasan tropis juga memicu gangguan cuaca itu.

Pelampung RAMA

Kini, sejumlah pelampung dipasang di Samudra Hindia, yaitu jejaring RAMA di dekat garis khatulistiwa: dari timur Benua Afrika hingga utara Benua Australia. Jejaring Triton dipasang di utara Papua hingga timur Peru dilengkapi sensor/alat pengukur suhu muka laut hingga kedalaman 300 meter, salinitas, profil udara, dan kecepatan angin.

Data kelautan dari sistem pemantau pelampung itu mulai banyak digunakan peneliti kelautan dan iklim untuk mengetahui fenomena perubahan iklim. Korelasi perubahan suhu, densitas, salinitas, dan parameter lain di kolom air laut memberi indikasi anomali musim seperti El Nino atau La Nina hingga sembilan bulan ke depan. Menurut Michael, data itu juga dapat menunjukkan pertanda adanya perubahan iklim.

Menurut Kepala Unit Pelaksana Teknik Baruna Jaya Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Wahyu Pandoe, data dari pelampung itu secara otomatis dan hampir secara langsung dikirim ke PMEL NOAA di AS dan BPPT. Data itu untuk mengetahui korelasi interaksi lautan-atmosfer, antisipasi perubahan iklim regional dan global, pemanasan global, serta prediksi musim kering dan basah.

Indonesia ikut aktif dalam observasi kelautan global sejak tahun 2006 lewat program Global Ocean Observing System (GOOS) di Samudra Hindia. Itu terkait kerja sama NOAA, BPPT, dan Kementerian Riset dan Teknologi. Kerja sama itu meliputi pemasangan pelampung RAMA.

”Sejak tahun 2007, Indonesia memasang dan merawat enam pelampung RAMA menggunakan kapal Baruna Jaya. Sejauh ini terpasang 30 pelampung dari rencana 46 pelampung RAMA di Samudra Hindia,” kata dia. Mudah-mudahan, kemajuan di bidang prediksi iklim diikuti kecerdasan pemerintah mengantisipasi bencana, termasuk banjir. (Kompas, 26 September 2011/ humasristek)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *