Sumber Tulisan : http://tulisandharmawati.blogspot.com
Komposisi dan Kecernaan Asam Amino dari dua spesies Keong Rawa“Kalambuai” yang Diolah dengan Metode yang Berbeda
(The Amino Acid Composition and Digestibility of Two Spesies Fresh Water Snail “Kalambuai” by Different Procesing Methodes)
Siti Dharmawati
)
)
1 Fakultas Pertanian Jurusan Peternakan, Universitas Islam Kalimantan Banjarmasin
ABSTRACT. The research was conducted at Laboratory of Poultry of Animal Husbandry Faculty Islam Kalimantan Univercity, Banjarmasin – to to evaluate the effect of processing methodes fresh water snail on Amino Acid Composition and Amino acid Digestibility. Three two Alabio Duck were used in the study . The experiment was done based on Completely Randomized Design of factorial (3×4) , consisted of two factors treatments, one factors is varian fresh water snail (P. glauca and P. Canaliculata) and the second factors is the processing methodes (steam, Acid silage, biological silage and tepsil ). Test significance the continued Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Result of this experiment showed that treatments influence was significantly on Amino Acid Composition and Amino acid Digestibility. There were interaction spesies and processing methods of fresh water snail “Kalambuai” (P<0,05) on amino acid composition and digestibility. The methode biological silage of fresh water snail could increasing Amino Acid Composition and Amino acid Digestibility (P<0,05)
Key Words : Amino acid composition, Digestibility,Fresh water snail “Kalambuai” Processing Methodes
PENDAHULUAN
Kalimantan selatan memiliki luas 3.737.743 Ha dengan kondisi geografis sebagian besar adalah rawa yang luasnya 800.000 Ha, terdiri dari 500.000 Ha rawa monoton, 200.000 Ha rawa pasang surut dan 100.000 Ha kawasan banjir. Adanya rawa pasang surut di wilayah Kalimantan Selatan, memungkinkan pertanian di Kalimantan Selatan berlangsung sepanjang tahun. Di kawasan ini merupakan habitat potensial bagi pertumbuhan dan perkembangan keong air tawar/rawa yang dalam bahasa daerahnya disebut kalambuai (Dinas Peternakan Tingkat I Kalimantan Selatan, 1999).
Kendala utama yang dihadapi oleh peternak itik Alabio adalah tingginya biaya ransum disamping masalah pemasaran, fluktuasi harga dan kualitas produk. Tingginya harga ransum disebabkan adanya bahan pakan sebagai penyusun ransum tersebut berasal dari bahan impor seperti tepung ikan. Biaya ransum pada usaha peternakan itik Alabio menduduki urutan terbesar dari semua biaya produksi yaitu berkisar antara 70 sampai 80%. Biaya ransum dapat ditekan dengan menyusun ransum sendiri dengan memanfaatkan bahan pakan lokal yang tersedia di daerah salah satunya adalah keong rawa “kalambuai” yang banyak terdapat di kawasan rawa Kalimantan Selatan.
Hasil penelitian ternyata keong rawa memenuhi syarat untuk menggantikan tepung ikan karena mengandung proteinnya relatif sama dengan tepung ikan yaitu sebesar 57,43%. Dari hasil penelitian juga diketahui tepung keong rawa mengandung zat anti nutrisi yang dapat menghambat pertumbuhan ternak. Zat-zat anti nutrisi yang dimaksud adalah asam tanin 692 mg/100 g (Dharmawati, 2006), selain itu terdapat juga asam oksalat 381 mg/100 g dan asam hidrosianin 112 mg/100 g (Udoh, 1994). Selain adanya anti nutrisi pada lendir , secara histologi, histochemistry dan struktur tubuh dari keong rawa merupakan tempat yang baik bagi parasit untuk berkembangbiak. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan pengolahan untuk mengeliminir anti nutrisi dan bakteri tersebut. Disisi lain pengolahan dapat mempengaruhi dan melarutkan nutrien yang terdapat pada daging keong rawa terutama protein dan asam-asam amino. Khusus untuk kualitas bahan pakan bukan saja ditinjau dari kualitas protein, tetapi tergantung pada komposisi dan keseimbangan asam amino yang menyusun dari bahan pakan tersebut. Pada unggas keseimbangan asam amino sangat berperan penting untuk menghasilkan produksi yang optimal, karena itu dimasa mendatang semakin perlu menyusun ransum unggas yang berpatokan bukan saja pada imbangan protein dan energi tetapi juga pada keseimbangan asam amino dan asam amino dapat dicerna.
Penelitian ini bertujuan menentukan metode pengolahan keong rawa yang tepat untuk menghasilkan produk yang berkualitas dari komposisi asam amino dan kecernaannya dengan harapan metode ini dapat diterapkan dan diadopsi oleh peternak itik Alabio di pedesaan dengan biaya yang terjangkau.
Metode Penelitian
Penelitisan ini menggunakan dua spesies keong rawa yang terdapat di Rawa Kalimantan Selatan yakni spesies Pomacea canaliculata dan Pomacea glauca dan sedangkan metode pengolahan yang diterapkan adalah melalui pengukusan, silase biologi (ensiling), silase asam dan tepsil. Hasil pengolahan dilakukan pengujian di laboratorium untuk mengetahui komposisi asam amino (Amino acid Analizer).
Uji Biologis
Uji biologis dilakukan pada 32 itik Alabio untuk mengetahui nilai kecernaan asam amino. Bahan pakan yang telah dianalisa kadar asam aminonya sebelum dimasukkan ke dalam oesophagus itik Alabio terlebih dahulu ditimbang untuk diketahui beratnya. Kemudian bahan pakan perlakuan dalam bentuk pasta dimasukkan secara force-feeding ke dalam oesophagus itik sebanyak 70 gram, sedangkan air minum diberikan secara ad libitum. Untuk mendapatkan ekskreta mengikuti metode Sklan dan Hurwitz (1980) dengan sedikit modifikasi yaitu menggunakan teknik mematikan itik percobaan untuk koleksi feses dari usus besarnya. Setelah 14 jam itik kemudian dipotong atau dimatikan, usus besarnya dikeluarkan untuk mendapatkan feses. Feses yang dikoleksi kurang lebih 10 cm dari daerah ileo-caecal dengan tujuan untuk menghindari adanya kontaminasi dengan urine (Ali dan Leeson, 1995). Sampel feses kemudian dikeringkan, digiling dan seterusnya dianalisis kandungan asam aminonya. Indikator yang digunakan adalah Chromium oksida dan dianalisis dengan menggunakan Spectrophotometry .
Pengukuran dengan menggunakan indikator dan pemotongan pada bagian usus halus disebut kecernaan asam amino semu (Apparent amino acid digestibility). Menurut Sibbald (1983) pengukuran kecernaan asam amino dengan metode ini menghasilkan data yang lebih akurat, karena sudah dilakukan pemisahan antara feses dan urine unggas percobaan.
Asam amino dalam pakan Asam amino dalam usus halus (ileum) Cr203 dalam pakan Cr203 dalam usus halus (ileum)
Asam amino dalam pakan
Cr203 dalam pakan
Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah Komposisi asam amino dan kecernaan asam amino
Hasil dan Pembahasan
Komposisi Asam Amino
Komposisi asam amino esensial maupun non esensial keong rawa spesies P. Glauca lebih rendah dibandingkan dengan komposisi asam amino P. canaliculata, kecuali prolin. Perbedaan komposisi ini diduga erat hubungannya dengan sifat dan pola makan dari kedua spesies keong tersebut selain karena faktor genetik. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa keong rawa spesies P. Glauca bersifat lebih memilih dalam mengkonsumsi tanaman rawa/air, tidak menyukai permukaan daun yang keras dan lebih menyukai pakan tumbuhan yang lebih dekat dengan dasar perairan atau di dasar perairan. Sedangkan spesies P. canaliculata bersifat pemakan segala (omnivor) dan memakan lumut, umbi-umbian, pellet, sisa sampah serta organisme mati. Tarupay et al (1991) keong rawa P canaliculata atau keong mas merupakan keong pemangsa tumbuhan yang tercepat. Diduga dengan preferensi pakan tersebut memberikan sumbangan terhadap tingginya kompsisi asam amino pada spesies P. canaliculata .
Tabel 1. Pengaruh Perlakuan terhadap Komposisi Asam Amino esensial Tepung Keong Rawa “Kalambuai
|
Perlakuan
|
Asam amino esensial
|
|||||||||||||||||
|
Histidin
|
Arginin
|
Treonin
|
Valin
|
Met
|
Sistin
|
Isoleusin
|
Phenil
|
Lisin
|
Leusin
|
|||||||||
|
Jenis Keong :
1. P.Glauca
2.P.Canaliculata
Signifikansi
|
1,864a
2.004b
**
|
1.289a
1.411b
**
|
0.754a
1.006b
**
|
0.444a
0.563b
**
|
1.188a
1.640b
**
|
0.610a
0.785b
**
|
0.741a
0.849b
**
|
0.990a
1.168b
**
|
1.263a
1.358b
**
|
1.750a
1.994b
**
|
||||||||
|
Metode Pengolahan:
Kukus
S.Asam
S.Biologi
Tepsil
Signifikansi
|
1.660a
2.005c
2.220d
1.850b
**
|
1.133a
1.283b
1.410c
1.575d
**
|
0.563a
0.878c
1.223d
0.858b
**
|
1.415a
1.615c
1.720d
1.440b
**
|
1.275c
1.228b
1.968d
1.185a
**
|
0.318a
0.428b
1.125d
0.920c
**
|
0.587a
0.913c
0.838b
0.843b
**
|
0.870a
1.018b
1.353d
1.075c
**
|
1.118a
1.235b
1.530d
1.358c
**
|
1.573a
1.938c
2.120d
1.858b
**
|
||||||||
|
Perlakuan
|
Asam amino Non esensial
|
|||||||||||||||||
|
A. aspartat
|
A. Glutamat
|
Serin
|
Glisin
|
Prolin
|
Tirosin
|
|||||||||||||
|
Jenis Keong :
1. P.Glauca
2.P.Canaliculata
Signifikansi
|
2.123a
2.140b
**
|
4.323a
4.578b
**
|
1.071a
1.218b
**
|
0.591a
0.733b
**
|
0.558a
0.600b
**
|
0.865b
0.771a
**
|
||||||||||||
|
Metode Pengolahan:
Kukus
S.Asam
S.Biologi
Tepsil
Signifikansi
|
1.598a
2.250c
2.595d
2.083b
**
|
3.798a
4.785c
5.178d
4.040b
**
|
0.800a
1.060b
1.405d
1.313c
**
|
0.485a
0.580b
0.873d
0.710c
**
|
0.423a
0.598b
0.708c
0.588b
**
|
0.503a
1.025d
0.923c
0.823b
**
|
||||||||||||
abcd Nilai dengan superskrip yang berbeda pada baris atau kolom menunjukkan perbedaan (P<0,05)
Berdasarkan metode pengolahan tepung keong rawa yang diolah dengan metode silase biologi mengandung asam amino esensial dan non esensial lebih tinggi dibanding ketiga perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan karena dalam proses fermentasi ada beberapa bakteri mempunyai kemampuan untuk memproduksi asam amino disamping karena terdegradasinya protein tepung keong rawa menjadi komponen yang lebih kecil yaitu asam amino. Wibowo (1990) menyebutkan bahwa dalam proses fermentasi ada beberapa bakteri yang dikondisikan dengan metode tertentu mempunyai kemampuan membebaskan selnya untuk membentuk asam amino seperti bakteri asam glutamat yang memproduksi asam glutamate, metionin, treonin, isoleusin, triptofan, arginin, fenilalanin dan prolin ; E. coli yang memproduksi lisin, treonin, serin, isoleusin, valin dan as. aspartat ; Salmonella, sp yang memproduksi histidin dan jamur memproduksi alanin dan sistin. Menurut Malek (1981) bahwa secara histologi, histochemistry struktur tubuh dari keong rawa merupakan habitat yang baik bagi parasit untuk berkembangbiak, parasit tersebut antara lain E. coli dan Salmonella sp.
Tabel 2. Interaksi Spesies dan Metode Pengolahan terhadap Kandungan Asam Amino Esensial Tepung Keong Rawa “Kalambuai”
|
Jenis
Keong
|
Pengolahan
|
Kandungan asam amino tepung keong rawa “Kalambuai” hasil olahan
|
|||||||||
|
His
|
Arg
|
Treo
|
Val
|
Met
|
Sistin
|
Ile
|
Phenil
|
Lisin
|
Leusin
|
||
|
P. Glauca
|
Kukus
|
2.00c
|
1.15c
|
0.60c
|
1.33b
|
1.34d
|
0.31a
|
0.59b
|
0.93b
|
1.25c
|
1.59b
|
|
S. Asam
|
2.04b
|
1.47e
|
0.74d
|
1.85g
|
0.50a
|
0.50e
|
0.95f
|
1.05e
|
1.31d
|
1.98d
|
|
|
S. Biologi
|
2.28f
|
1.60h
|
1.27h
|
1.77f
|
1.91f
|
1.25g
|
0.94e
|
1.42g
|
1.42f
|
2.23f
|
|
|
Tepsil
|
1.15a
|
0.95a
|
0.41a
|
1.04a
|
1.01b
|
0.39d
|
0.50a
|
0.57a
|
0.84a
|
1.20a
|
|
|
P.
Canaliculata
|
Kukus
|
1.33b
|
1.12b
|
0.53b
|
1.51d
|
1.21c
|
0.33b
|
0.59b
|
0.81c
|
0.99b
|
1.56b
|
|
S. Asam
|
1.98c
|
1.35d
|
1.02e
|
1.39c
|
1.96g
|
0.36c
|
0.88d
|
0.99d
|
1.17e
|
1.90c
|
|
|
S. Biologi
|
2.17e
|
1.56g
|
1.18f
|
1.68e
|
2.03h
|
1.01f
|
0.74c
|
1.29f
|
1.41f
|
2.01e
|
|
|
Tepsil
|
2.55g
|
1.52f
|
1.31g
|
1.85g
|
1.36e
|
1.45h
|
1.19g
|
1.59h
|
1.88g
|
2.52g
|
|
abcdefgh Nilai dengan superskrip yang berbeda pada baris atau kolom menunjukkan perbedaan (P<0,05)
Kedua spesies keong memberikan respon yang berbeda terhadap metode pengolahan. Secara umum P. Glauca diolah dengan metode biologi menunjukkan kandungan asam amino esensial yang lebih tinggi dibanding dengan ketiga perlakuan lainnya sebaliknya komposisi asam amino yang diolah dengan metode tepsil komposisi asam aminonya rendah. Komposisi asam amino terendah terdapat pada spesies P. canaliculata yang diolah dengan metode dikukus. Kondisi ini menunjukkan bahwa setiap ternak mempunyai respon yang berbeda terhadap perlakuan yang diujikan walaupun masih dalam genus yang sama. Perbedaan ini diduga erat hubungannya dengan faktor genetik, sifat dan pola konsumsi pakan sehingga memiliki komposisi tubuh (komposisi asam amino) yang berbeda. Sejalan dengan pernyataan Maynard (1983), bahwa komposisi nutrien setiap spesies adalah berbeda, perbedaan ini disebabkan berbedanya aktivitas kimiawi dan fisiologis setiap jenis hewan dalam mengubah pakan menjadi zat – zat tubuh.
Kecernaan Asam Amino
Koefisien Cerna Asam Amino Esensial Tepung Keong Rawa “Kalambuai disajikan pada Tabel 3. Koefisien cerna spesies P. Glauca lebih tinggi (82,78 – 84,78%) dibandingkan dengan P. Canaliculata (81,99 – 83,48%) , hal ini diduga erat hubungannya dengan tekstur tubuh dari keong rawa spesies P. Glauca. Hasil pengamatan Pomacea glauca memiliki tekstur lebih lunak dan memiliki persentase daging yang lebih banyak dibanding dengan P. Canaliculata.
Tabel 3. Pengaruh Perlakuan terhadap Koefisien Cerna Asam Amino Esensial Tepung Keong Rawa “Kalambuai
|
Perlakuan
|
Koefisien Cerna Asam amino esensial
|
|||||||||
|
Histidin
|
Arginin
|
Treonin
|
Valin
|
Met
|
Sistin
|
Isoleusin
|
Phenil
|
Lisin
|
Leusin
|
|
|
Jenis Keong :
1. P.Glauca
2.P.Canaliculata
Signifikansi
|
82.78b
82.26a
**
|
83.16b
81.99a
**
|
82.89a
81.97b
**
|
82.75a
82.94b
**
|
84.64b
83.48a
**
|
83.44b
82.61a
**
|
84.14b
83.05a
**
|
83.02b
82.50a
**
|
83.46a
83.48b
**
|
84.78b
83.07a
**
|
|
Metode Pengolahan:
Kukus
S.Asam
S.Biologi
Tepsil
Signifikansi
|
81.02a
82.80b
83.06bc
83.20cd
**
|
80.57a
82.81b
83.23c
83.68d
**
|
81.59a
81.40a
83.73b
83.01b
**
|
81.44a
82.88b
83.69c
83.36c
**
|
81.31a
85.17c
86.34d
83.42b
**
|
81.68a
83.42b
83.33b
83.67b
**
|
83.01a
85.43d
82.44b
83.49c
**
|
80.85a
82.20b
83.76c
84.23d
**
|
80.91a
82.91b
85.26d
84.82c
**
|
82.77a
84.18c
85.40d
83.34b
**
|