Budidaya Tembakau

Tembakau adalah tanaman yang paling banyak dan populer dibudidayakan oleh petani. Daun tembakau sendiri dimanfaatkan untuk pembuatan bahan dasar rokok. Di Indonesia, tembakau yang baik hanya dihasilkan di daerah tertentu dan kualitas tembakau sangat ditentukan oleh lokasi dan pengolahan pascapanen.

Anda berminat dengan budidaya tembakau. Proses budidaya tembakau ada beberapa tahap yang perlu anda ketahui dan dimengerti, salah satunya tanah harus keadaan subur. Di Indonesia budidaya tembakau sangat baik dan cocok, bila ini dilestarikan dan dikembangkan ini bisa menjadi masukan devisa negara.
Budidaya tanaman tembakau tidak sulit, tinggal anda bisa telaten dan sabar dalam memeliharanya. Informasi budidaya tanaman tembakau dari berbagai sumber akan saya rangkum dan sharing dalam blogiztic.net. Cara budidaya tanaman tembakau yang benar tersaji sebagai berikut.

Pengolahan tanah

Pengolahan tanah dilaksanakan dengan menggunakan alat pertanian berupa hand Tractor minimal 2 x pembajakan untuk mempersiapkan media terbaik bagi proses penanaman tembakau dengan menjaga kesuburan tanah.

Penanaman dan pemupukan

Empat puluh lima hari s/d lima puluh hari (45 s/d 50) setelah benih ditabur, bibit ditanam pada tanah gudan di lahan yang telah dipilih dengan luasan yang sesuai dan perlu diketahui sebelum penanaman bibit perlu diadakan pemangkasan, agar tidak terjadi stagnasi. Pada tahapan penanaman ini dilakukan pemupukan I dengan memperhatikan jenis dan dosis serta cara pemupukan. Adapun pupuk yang digunakan NPK (Fertila) dengan dosis 10 gr/batang. Pemupukan ke II dengan umur tanaman 21 hari dilakukan Pemupukan dengan NPK (KNO 3) dengan dosis 5 gr/batang.

Pembubunan dan pengairan

Pembumbunan adalah proses yang dilakukan untuk tanah tetap gembur, sebagai persiapan media tumbuh yang baik bagi tanaman tembakau dan sekaligus untuk membersihkan tanaman pengganggu ( Gulma ). Adapun sistim irigasi (Pengairan) yang tepat sangat penting dalam menjamin kualitas clan tingkat produktifitas tembakau virginia.

Punggel dan wiwil atau suli

Punggel dan wiwil/suli memastikan penggunaan bahan gizi tanaman dalam proses pengembangan daun tembakau untuk mendapatkan jumlah daun, berat daun dan kualitas tinggi yang akan memberikan basil maksimal bagi petani. Penggunaan sukirisida alami dilakukan dengan alasan biaya produksi, penerapan teknologi ramah lingkungan yang semua ini dilakukan pada waktu yang tepat. Dalam pelaksanaan wiwilan sangat penting sekali karena akan berpengaruh terhadap ketebalan daun/berat daun.
Pengendalian hama dan penyakit terpadu
Pengendalian Hama Terpadu dilaksanakan sesuai kondisi tanaman yang ada dengan memprioritaskan penggunaan Bio Pestisida dengan pengawasan secara berkala, terhadap residu pestisida baik pada tanaman tembakau virginia. Adapaun penggunaan pestisida dan bahan kimia bisa digunakan (Dancis, Furadan) tergantung serangan hama yang ada.
Panen tembakau
Pemanenan adalah suatu tahapan yang sangat penting diperhatikan dalam mendapatkan kualitas panenan yang tinggi. Adapun yang hams diperhatikan sebagai berikut :
– Kematangan daun
– Keseragaman daun dalam proses penanaman
– Penanganan daun hasil panenan
Sebagian besar dari varietas tembakau dipanen berdasarkan tingkat kematangan daunnya dilakukan mulai dari daun bawah sampai daun atas dengan pemetikan 2 sampai 3 daun pada setiap tanaman dengan interval satu minggu hingga daun tanaman habis.
Persiapan curing
Curing merupakan proses biologis yaitu melepaskan kadar air dari daun tembakau basah yang dipanen dalam keadaan hidup. Selama ini di beberapa petani ada yang berpendapat bahwa curing adalah proses pengeringan tembakau saja. Tidak menyadari bahwa sel-sel di dalam daun tersebut masih tetap hidup setelah dipanen.
Tujuan Curing :
– Melepaskan air daun tembakau hidup dari kadar air 80-90 % menjadi 10-15 %.
– Perubahan warna dari Zat hijau daun menjadi WarDa orange dengan aroma sesuai dengan standar tembakau yang diproses.
Ciri-ciri daun tembakau masak
– Wama daun sudah mulai hijau kekuningan dengan sebagian ujung dan tepi daun
– berwama coklat.
– Wama tangkai daun hijau kuning, keputih-putihan.
– Posisi daun/tulang daun mendatar
– Kadang-kadang pada lembaran daun ada bintik-bintik coklat, sebagai lambang ketuaan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan
Pada saat curing, yang perlu diperhatikan juga adalah kapasitas daun di dalam oven. Sebagai contoh untuk oven ukuran 4 x 4 x 7 rak sebanding dengan 1,8 ha, sedangkan 5 x 5 x 7 rak maksimum 2,8 ha. Juga cuaca waktu proses, kalau musim hujan harus lebih longgar daripada waktu musim kering.

Saat Panen dilakukan

Pada saat panen tembakau harus dipastikan berapa lembar yang harus dipetik sesuai kapasitas oven. Daun tembakau yang dipetik haruslah seumur dan posisi daun yang sama, karena apabila umur daun dan posisi daun berbeda, akan sangat sulit menentukan kapan harus menaikkan suhu oven, kapan harus masuk ke tahapan berikutnya, kapan barus buka ventilasi dan sebagainya. Oleh sebab itu pengetahuan petani clan pemetik daun harus benar-benar baik tentang saat panen ini. Sebaiknya saat menjelang panen, petani yang bersangkutan mengumpulkan seluruh tenaga petiknya clan diberitahu mana yang sudah boleh dipanen clan mana yang belum.

Ada beberapa Tahapan curling

a. Penguningan
Proses biologis daun ini merupakan proses perubahan warna dari hijau ke warna kuning, karena hilangnya zat hijau daun / klorophyil ke zat kuning daun dan terjadi penguraian zat tepung menjadi gula. Perubahan ini bisa terjadi pada suhu 32 s/d 42 derajat celcius. Proses ini harus dilakukan secara perlahan-lahan waktu yang diperlukan tergantung posisi daun. Umumnya berlangsung selama 55 s/d 58 jam. Pada saat ini awalnya semua ventilasi ditutup, baik atas maupun bawah. Tetapi apabila seluruh daun sudah berwama kuning orange ventilasi atas dibuka 1/4 , proses ini sangat menentukan terhadap hasil curling.
b. Pengikatan Wama
Apabila seluruh daun sudah berwama kuning orange baik lembar daun maupun tulang daun, maka secara pertiahan-lahan suhu dinaikkan. Pada saat proses ini terjadi, maka apabila daun masih berwama hijau, maka daun tetap akan berwama hijau, sebaliknya apabila sudah berwama kuning orange maka hasil curing akan kuning orange. Karena pada suhu 43-52 °C ini terjadi pengikatan warna. Sehingga apabila warna daun pada proses penguningan belum sempuna, maka jangan terburu-buru menaikkan temperatur lebih dari 42 °C. Pada tahapan ini ventilasi dibuka secara bertahap, sedikit demi sedikit sampai akhirnya dibuka seluruhnya. Waktu yang diperlukan kalau berjalan sempuma umumnya sekitar 18-19 jam.
c. Pengeringan Lembar Daun
Proses ini bertujuan untuk mengurangi kadar air didalam lembar daun dengan cara menaikkan suhu 53-62 °C. Pada saat ini seluruh ventilasi dibuka, karena air yang keluar dari sel-sel daun akan menjadi uap air, yang harus dibuang keluar oven agar tidak kembali ke daun. Ciri-ciri proses ini, daun sudah terasa kering apabila dipegang, tapi tulang daun masih terasa basah daun terlihat keriput atau keriting waktu yang dibutuhkan lebih kurang 30-32 jam.
d. Pengeringan Gagang
Pengeringan gagang dilakukan pada suhu 63-72 °C. Pada saat ini air yang bisa dilapas didalam batang daun akan dikeluarkan proses awal tahap ini ventilasi mulai ditutup secara perlahan dan bertahap, untuk menjaga kelembaban udara tetap berkisar pada 32 %. Ciri-ciri tahapan ini bisa selesai apabila seluruh tulang daun sudah kering, dan bila ditekuk batangnya akan patah dan berbunyi krek. Ini menandakan bahwa tahap ini berjalan baik 5-8 jam sebelum proses berakhir, seluruh ventilasi harus ditutup agar kelembaban udara tetap terjaga. Proses ini memerlukan waktu normalnya 30-32 jam jangan pernah menaikkan suhu oven diatas 72 C, karena tembakau akan terbakar.
Demikian tahapan curing yang terjadi pada tembakau virginia Flue Cure. Proses ini harus dilakukan dengan hati-hati clan penuh pengawasan karena tembakau yang sudah sangat baik pertumbuhannya dilapangan, akan sia-sia hasilnya apabila proses curing ini tidak berjalan lancar. Oleh karena itu untuk semua oven yang aktif harus memiliki termometer untuk memastikan apakah setiap tahapan tersebut sudah berjalan baik atau belum. Dan juga setiap oven harus memiliki table pedoman prosedur curing tembakau virginia serta menggunakan alat Hygrocurometer untuk mengukur suhu dan kelembaban udaranya.

Budidaya Semangka

Semua orang pasti kenal dengan tanaman semangka karena tanaman ini sangat populer di masyarakat Indonesia berikut adalah cara budidaya atau menanam semangka terbaru. Semangka merupakan tanaman yg sangat bermanfaat untuk kesehatan karena banyak mengandung banyak air dan serat. Oleh karena itu perlu kita membudidayakan tanaman tersebut dengan memperhatikan jarak tanam yg sesuai dengan petunjuk tekhnis,agar mendapatkan hasil buah yang berlimpah. Disamping jarak tanam kita juga memperhatikan keadaan iklim dan curah hujan yang rendah.
Berikut ini adalah gambar buah semangka yang unik yaitu semangka bentuk prisma dan kotak
Menurut penelitian, nilai gizinya cukup tinggi. Namun buah “semangka” 21 % terdiri dari air. Namun buah “semangka” juga terkenal sangat segar Tingkat dan kualitas produksi semangka di Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan antara lain karena tanah yang keras, miskin unsur hara dan hormon, pemupukan yang tidak berimbang, serangan hama dan penyakit tanaman, pengaruh cuaca /iklim, serta teknis budidaya petani. 
Berikut adalah cara untuk menanam semangka atau sering juga disebut dengan tehnis budidaya semangka :
Syarat Tumbuh Tanaman Semangka 
Curah hujan ideal 40-50 mm/bulan. Seluruh areal pertanaman perlu sinar matahari sejak terbit sampai tenggelam. Suhu optimal ± 250 C. Semangka cocok ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl. Kondisi tanah cukup gembur, kaya bahan organik, bukan tanah asam dan tanah kebun/persawahan yang telah dikeringkan. Cocok pada jenis tanah geluh berpasir. Keasaman tanah (pH) 6 – 6,7. 
Pembibitan Semangka 
Penyiapan Media Semai 
– Pupuk Kandang sebanyak 25-50 kg dicampur dengan tanah untuk lahan 1000 m2. Diamkan + 1 minggu di tempat teduh dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik). 
– Campurkan tanah halus (telah diayak) 2 bagian atau 2 ember (volume 10 lt), pupuk kandang matang yang telah diayak halus sebanyak 1 bagian atau 1 ember, TSP (± 50 gr) . 
– Masukkan media semai ke dalam polybag kecil 8×10 cm sampai terisi hingga 90%. 
Teknik Perkecambahan Benih Semangka 
Benih dimasukkan ke dalam kain lalu diikat, kemudian direndam dalam ramuan : 1 liter air hangat suhu 20-250C + 1 sendok POC NASA (direndam 8-12 jam). Benih dalam ikatan diambil, dibungkus koran kemudian diperam 1-2 hari. Jika ada yang berkecambah diambil untuk disemaikan dan jika kering tambah air dan dibungkus kain kemudian dimasukkan koran lagi. Berikut adalah gambar bibit semangka yang baru ditanam.
Semai Benih dan Pemeliharaan Bibit 
– Media semai disiram air bersih secukupnya. Benih terpilih yang calon akarnya sudah sepanjang 2-3 mm, langsung disemai dalam polybag sedalam 1-1,5 cm. 
– Kantong persemaian diletakkan berderet agar terkena sinar matahari penuh. Diberi perlindungan plastik transparan, salah satu ujung/pinggirnya terbuka. 
– Penyiraman 1-2 kali sehari. Pada umur 12-14 hari bibit siap ditanam. 
Pengolahan Media Tanam 
Pembukaan Lahan 
Pembajakan sedalam + 30 cm, dihaluskan dan diratakan. Bersihkan lahan dari sisa-sisa perakaran dan batu. Pembentukan Bedengan Lebar bedengan untuk menanam semangka adalah 6-8 m, tinggi bedengan minimum 20 cm.
Pengapuran Penggunaan 
kapur per 1000 m2 pada pH tanah 4-5 diperlukan 150-200 kg dolomit , pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomit dan pH >6 dibutuhkan dolomit sebanyak 50 kg. 
Pemupukan Dasar 
a. Pupuk kandang 600 kg/ha, diberikan pada permukaan bedengan kurang lebih seminggu sebelum tanam. b. Pupuk anorganik berupa TSP (200 kg/ha), ZA (140 kg/ha) dan KCl (130 kg/ha). 
Lain-lain 
Bedengan perlu disiangi, disiram dan diberi plastik mulsa dengan lebar 110-150 cm agar menghambat penguapan air dan tumbuhnya tanaman liar. Di atas mulsa dilapisi jerami kering setebal 2-3 cm untuk perambatan semangka dan peletakan buah. 
Teknik Penanaman Semangka 
Pembuatan Lubang Tanaman Semangka 
Dilakukan Satu minggu sebelum penanaman dengan kedalaman 8-10 cm. Berjarak 20-30 cm dari tepi bedengan dengan jarak antara lubang sekitar 90-100 cm. Waktu. Berikut gambar semangka yang sudah selesai ditanam.
Penanaman Semangka 
Penanaman sebaiknya pagi atau sore hari kemudian bibit disiram hingga cukup basah. 
Pemeliharaan Tanaman Semangka 
Penyulaman Semangka 
Sebaiknya dilakukan 3 – 5 hari setelah tanam. 
Penyiangan Semangka 
Tanaman semangka cukup mempunyai dua buah saja, dengan pengaturan cabang primer yang cenderung banyak. Dipelihara 2-3 cabang tanpa memotong ranting sekunder. Perlu penyiangan pada ranting yang tidak berguna, ujung cabang sekunder dipangkas dan disisakan 2 helai daun. Cabang sekunder yang tumbuh pada ruas yang ada buah dipotong karena mengganggu pertumbuhan buah. Berikut gambar cara penyiangan kebun semangka.
Perempelan Semangka 
Dilakukan perempelan tunas-tunas muda yang tidak berguna karena mempengaruhi pertumbuhan pohon/buah semangka yang sedang berkembang. 
Pengairan dan Penyiraman Semangka 
Pengairan melalui saluran diantara bedengan atau digembor dengan interval 4-6 hari. Volume pengairan tidak boleh berlebihan. 
Pemupukan Semangka
Pemupukan satu minggu setelah tanam : ZA = 40 Kg/Ha TSP = – Kg/Ha KC = l40 Kg/Ha 
Pemupukan tanaman semangka dua minggu setelah tanam ZA = 120 Kg/Ha TSP = 85 Kg/Ha KC = 170 Kg/Ha 
Pemupukan tanaman semangka saat tanaman bunga ZA = 130 Kg/Ha TSP = – Kg/Ha KC = 30 Kg/Ha 
Pemeliharaan Lain 
Pilih buah yang cukup besar, terletak antara 1,0-1,5 m dari perakaran tanaman, bentuk baik dan tidak cacat. Setiap tanaman diperlukan calon buah 1-2 buah, sisanya di pangkas. Semenjak calon buah ± 2 kg sering dibalik guna menghindari warna yang kurang baik akibat ketidakmerataan terkena sinar matahari. 
Hama dan Penyakit Tanaman Semangka 
Hama Tanaman Semangka 
a. Thrips Berukuran kecil ramping, warna kuning pucat kehitaman, mempunyai sungut badan beruas-ruas. Cara penularan secara mengembara dimalam hari, menetap dan berkembang biak. Pengendalian: semprotkan Natural BVR atau Pestona. 
b. Ulat Perusak Daun Berwarna hijau dengan garis hitam/berwarna hijau bergaris kuning, gejala : daun dimakan sampai tinggal lapisan lilinnya dan terlihat dari jauh seperti berlubang. Pengendalian: dilakukan penyemprotan Natural Vitura atau Pestona. 
c. Tungau Binatang kecil berwarna merah agak kekuningan/kehijauan berukuran kecil mengisap cairan tanaman. Tandanya, tampak jaring-jaring sarang binatang ini di bawah permukaan daun, warna dedaunan akan pucat. Pengendalian: semprot Natural BVR atau Pestona. 
d. Ulat Tanah Berwarna hitam berbintik-bintik/bergaris-garis, panjang tubuh 2-5 cm, aktif merusak dan bergerak pada malam hari. Menyerang daun, terutama tunas-tunas muda, ulat dewasa memangsa pangkal tanaman. Pengendalian: (1) penanaman secara serempak pada daerah yang berdekatan untuk memutus siklus hidup hama dan pemberantasan sarang ngengat disekitarnya; (2) pengendalian dengan penyemprotan Natural Vitura/Virexi atau Pestona. 
e. Lalat Buah Ciri-ciri mempunyai sayap yang transparan berwarna kuning dengan bercak-bercak dan mempunyai belalai. Tanda-tanda serangan : terdapat bekas luka pada kulit buah (seperti tusukan belalai), daging buah beraroma sedikit masam dan terlihat memar. Pengendalian : membersihkan lingkungan, tanah bekas hama dibalikan dengan dibajak/dicangkul, pemasangan perangkap lalat buah dan semprot Pestona. 
Penyakit Tanaman Semangka 
a. Layu Fusarium Penyebab: lingkungan/situasi yang memungkinkan tumbuh jamur (hawa yang terlalu lembab). Gejala: timbul kebusukan pada tanaman yang tadinya lebat dan subur. Pengendalian: (1) dengan pergiliran masa tanam dan menjaga kondisi lingkungan, menanam pada areal baru yang belum ditanami, (2) pemberian Natural GLIO sebelum atau pada saat tanam. 
b. Bercak Daun Penyebab: spora bibit penyakit terbawa angin dari tanaman lain yang terserang. Gejala: permukaan daun terdapat bercak-bercak kuning dan selanjutnya menjadi coklat akhirnya mengering dan mati, atau terdapat rumbai-rumbai halus berwarna abu-abu/ungu. Pengendalian: seperti pada penyakit layu fusarium. 
c. Antraknosa Penyebab: seperti penyakit layu fusarium. Gejala: daun terlihat bercak-bercak coklat yang akhirnya berubah warna kemerahan dan akhirnya daun mati. Bila menyerang buah, tampak bulatan berwarna merah jambu yang lama kelamaan semakin meluas. Pengendalian: seperti pengendalian penyakit layu fusarium. 
d. Busuk Semai Menyerang pada benih yang sedang disemaikan. Gejala: batang bibit berwarna coklat, merambat dan rebah kemudian mati. Pengendalian: pemberian Natural GLIO sebelum penyemaian di media semai. 
e. Busuk Buah Penyebab: jamur/bakteri patogen yang menginfeksi buah menjelang masak dan aktif setelah buah mulai dipetik. Pengendalian: hindari dan cegah terjadinya kerusakan kulit buah, baik selama pengangkutan maupun penyimpanan, pemetikan buah dilakukan pada waktu siang hari tidak berawan/hujan. f. Karat Daun Penyebab: virus yang terbawa oleh hama tanaman yang berkembang pada daun tanaman. Gejala: daun melepuh, belang-belang, cenderung berubah bentuk, tanaman kerdil dan timbul rekahan membujur pada batang. Pengendalian: sama seperti penyakit layu fusarium. Catatan : Jika pengendalian hama penyakit menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia. Agar penyemprotan pestisida kimia dapat merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810 dengan dosis + 5 ml ( 1/2 tutup)/tangki. 
Panen Tanaman Semangka 
Ciri dan Umur Panen Umur panen setelah 70-100 hari setelah penanaman. Ciri-cirinya: terjadi perubahan warna buah, dan batang buah mulai mengecil maka buah tersebut bisa dipetik (dipanen). Cara Panen Pemetikan buah sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah sehingga buah dalam kondisi kering permukaan kulitnya, dan tahan selama dalam penyimpananan ataupun ditangan para pengecer. Sebaiknya pemotongan buah semangka dilakukan beserta tangkainya. Berikut gambar panen semangka.

Teknik budidaya tembakau

Penanaman dan penggunaan tembakau di Indonesia sudah dikenal sejak lama. Komoditi tembakau mempunyai arti yang cukup penting, tidak hanya sebagai sumber pendapatan bagi para petani, tetapi juga bagi NegaraTanaman Tembakau merupakan tanaman semusim, tetapi di dunia pertanian termasuk dalam golongan tanaman perkebunan dan tidak ermasuk golongan tanaman pangan. Tembakau (daunnya) digunakan sebagai bahan pembuatan rokok. Usaha Pertanian tembakau merupakan usaha padat karya. Meskipun luas areal perkebunan tembakau di Indonesia, diperkirakan hanya sekitar 207.020 hektar, amun jika dibandingkan dengan pertanian padi, pertanian tembakau memerlukan tenaga kerja hampir tiga kali lipat. Seperti juga ada kegiatan pertanian lainnya, untuk
mendapatkan produksi tembakau dengan mutu yang baik, banyak faktor yang harus
diperhatikan. Selain faktor tanah, iklim, pemupukan dan cara panen. Nicotiana tobacum
dibudidayakan umumnya karena memiliki arti ekonomi penting. Spesies yang sering
dibudidayakan adalah Nicotiana tobacum dan Nicotiana rustika. Nicotiana tobacum, daun
mahkota bunganya memiliki warna merah muda sampai merah, mahkota bunga berbentuk terompet panjang, habitusnya piramidal, daunnya berbentuk lonjong dan pada ujung runcing, kedudukan daun pada batang tegak, tingginya 1,2 m. Nicotiana rustika, daun mahkota bunganya berwarna kuning, bentuk mahkota bunga seperti terompet berukuran pendek dan sedikit bergelombang, habitusnya silindris, bentuk daun bulat yang pada ujungnya tumpul, kedudukan daun pada batang agak terkulai.

Sistematika tanaman tembakau
adalah sebagai berikut:
Klass : Dicotyledonaea
Ordo : Personatae
Famili : Solanaceae
Sub Famili : Nicotianae
Genus : Nicotianae
Spesies :Nicotiana
tabacum L.

Akar
Tanaman tembakau merupakan tanaman berakar tunggang yang tumbuh tegak ke pusat bumi.
Akar tunggangnya dapat menembus tanah kedalaman 50- 75 cm, sedangkan akar serabutnya menyebar ke samping. Selain itu, tanaman tembakau juga memiliki bulubulu akar. perakaran akan berkembang baik jika tanahnya gembur, mudah menyerap air,dan subur.

Batang
Tanaman Tembakau memiliki bentuk batang agak bulat, agak lunak tetapi kuat, makin ke
ujung, makin kecil. Ruas-ruas batang mengalami penebalan yang ditumbuhi daun, batang
tanaman bercabang atau sedikit bercabang. Pada setiap ruas batang selain ditumbuhi daun, juga ditumbuhi tunas ketiak daun, diameter batang sekitar 5 cm.

Daun
Daun tanaman tembakau berbentuk bulat lonjong (oval) atau bulat, tergantung pada
varietasnya. Daun yang berbentuk bulat lonjong ujungnya meruncing, sedangkan yang
berbentuk bulat, ujungnya tumpul. Daun memiliki tulang-tulang menyirip, bagian tepi daun agak bergelombang dan licin. Lapisan atas daun terdiri atas lapisan palisade parenchyma dan spongy parenchyma pada bagian bawah. Jumlah daun dalam satu tanaman sekitar 28- 32 helai

SYARAT TUMBUH

Iklim
Tanaman tembakau pada umumnya tidak menghendaki iklim yang kering ataupun iklim
yang sangat basah. Angin kencang yang sering melanda lokasi tanaman tembakau dapat merusak tanaman (tanaman roboh) dan juga berpengaruh terhadap mengering dan mengerasnya tanah yang dapat menyebabkan berkurangnya kandungan oksigen di dalam
tanah. Untuk tanaman tembakau dataran rendah, curah hujan rata-rata 2.000 mm/tahun,
sedangkan untuk tembakau dataran tinggi, curah hujan ratarata 1.500-3.500 mm/tahun.
Penyinaran cahaya matahari yang kurang dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman kurang baik sehingga produktivitasnya rendah. Oleh karena itu lokasi untuk tanaman tembakau sebaiknya dipilih di tempat terbuka dan waktu tanam disesuaikan dengan jenisnya.
Suhu udara yang cocok untuk pertumbuhan tanaman tembakau berkisar antara 21-32,30 C.
Tanaman tembakau dapat tumbuh pada dataran rendah ataupun di dataran tinggi bergantung pada varietasnya. Ketinggian tempat yang paling cocok untuk pertumbuhan
tanaman tembakau adalah 0 – 900 mdpl.

BUDIDAYA ANGGUR

ANGGUR
Anggur merupakan tanaman buah berupa perrdu yang merambat. Anggur berasal dari Armenia, tetapi budidaya anggur sudah dikembangkan di Timur Tengah sejak 4000 SM. Sedangkan teknologi pengolahan anggur menjadi wine pertama kali dikembangkan orang Mesir pada 2500 SM. Dari Mesir budidaya dan teknologi pengolahan anggur masuk ke Yunani dan menyebar ke daerah Laut Hitam sampai Spanyol, Jerman, Prancis dan Austria. Sejalan dengan perjalanan Columbus anggur dari asalnya ini mulai menyebar ke Mexico, Amerika Selatan, Afrika selatan, Asia termasuk Indonesia dan Australia. Penyebaran ini juga menjadikan Anggur punya beberapa sebutan seperti Grape di Eropa dan Amerika, orang China menyebut Pu tao dan di Indonesia disebut anggur.
  1. A. JENIS TANAMAN
Anggur termasuk tanaman marga Vitis. Tidak semua jenis dari marga ini dapat dimakan, yang bisa dimakan hanya dua jenis yaitu Vitis vinifera dan Vitis labrusca.
Tanaman anggur jenis Vitis vinifera mempunyai ciri:
a) Kulit tipis, rasa manis dan segar.
b) Kemampuan tumbuh dari dataran rendah hingga 300 m dari permukaan laut
beriklim kering.
c) Termasuk jenis ini adalah Gros Colman, Probolinggo Biru dan Putih, Situbondo Kuning, Alphonso Lavalle dan Golden Champion.
Tanaman anggur jenis Vitis labrusca mempunya ciri:
  1. Kulit tebal, rasa masam dan kurang segar.
b.  Kemampuan tumbuh dari dataran rendah hingga 900 m dpl.
  1. Termasuk jenis ini adalah Brilliant, Delaware, Carman, Beacon dan Isabella.
Dari kedua jenis ini yang banyak dikembangkan di Indonesia dan direkomendasi oleh
Departemen Pertanian sebagai jenis unggul adalah jenis Vitis vinifera dari varietas Anggur Probolinggo Biru dan Alphonso Lavalle. Namun ada juga yang dianjurkanditanam antara lain Gross Collman, Probolinggo Putih, Isabella, Delaware, Chifungdan Australia.
  1. SYARAT TUMBUH
  • Iklim
1) Tanaman anggur dapat tumbuh baik di daerah dataran rendah, terutama di tepitepi
pantai, dengan musim kemarau panjang berkisar 4-7 bulan.
2) Angin yang terlalu kencang kurang baik bagi anggur.
3) Curah hujan rata-rata 800 mm per tahun. Dan keadaan hujan yang terus menerus
dapat merusak premordia/ bakal perbungaan yaitu tengah berlangsung serta
dapat menimbulkan serangan hama dan penyakit.
4) Sebaiknya sinar matahari yang banyak/udara kering sangat baik bagi
pertumbuhan vegetatif dan pembuahannya.
5) Suhu rata-rata maksimal siang hari 31 derajat C dan suhu rata-rata minimalmalam hari 23 derajat C dengan kelembaban udara 75-80 %.
  • Media Tanam
1) Tanah yang baik untuk tanaman anggur adalah mengandung pasir, lempung
berpasir, subur dan gembur, banyak mengandung humus dan hara yang
dibutuhkan.
2) Derajat keasaman tanah yang cocok untuk budidaya anggur adalah 7 (netral).
  • Ketinggian Tempat
Anggur akan tumbuh baik bila ditanam antara 5-1000 m dpl atau di daerah dataran rendah. Perbedaan ketinggian akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannyaJenis Vitis vinifera menghendaki ketinggian 1-300 m dpl. JenisVitis labrusca menghendaki ketinggian 1-800 m dpl.
  1. TEKNIK BUDIDAYA
  • Pembibitan
1) Pengadaan Benih
Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara generatif (biji) dan vegetative (cangkok, stek cabang, stek mata, penyambungan). Perbanyakan tanaman yang paling efektif anggur adalah dengan menggunakan stek.
Bibit stek yang baik adalah :
a) Panjang stek sekitar 25 cm terdiri atas 2-3 ruas dan diambil dari pohon induk
yang sudah berumur di atas satu tahun.
b) Bentuknya bulat berukuran sekitar 1 cm.
c) Kulitnya berwarna coklat muda dan cerah dengan bagian bawah kulit telah hijau, berair dan bebas dari noda-noda hitam.
d) Mata tunas sehat berukuran besar dan tampak padat. Mata tunas yang tidak sehat ukurannya kecil dan ujungnya tampak memutih seperti kapuk.
2) Teknik Penyemaian Benih
Cara generatif bibit disemai di tempat yang telah disediakan. Cara vegetatif (stek)
yaitu :
a) Pembibitan dikerjakan dengan menyemaikan lebih dulu dalam pot /keranjang
sempai kira-kira selama 5 hari
b) Setelah itu dipindah ke media semai berupa campuran tanah, pupuk kandang
dan pasir dengan perbandingan 1:1:1. Media semai ini berupa
polybag/keranjang yang lebih besar dari tempat awal.
3) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
a) Selama di persemaian selalu disiram dan jangan sampai tergenang.
b) Penyemaian bibit di tempat teduh dan lembab selama sekitar 2 bulan.
4) Pemindahan Bibit
a) Sekitar 2 bulan tersebut bibit sudah tumbuh dan berakar banyak siap untuk dipindah ke lapangan dengan memilih yang segar dan sehat kondisinya.
b) Penanaman dilakukan di awal musim kemarau/saat panas tertinggi.
  • Pengolahan Media Tanam
1) Persiapan
Persiapan yang perlu dilakukan adalah:
a) Menentukan lokasi penanaman.
b) Menentukan luas areal tanam.
c) Mengatur jarak tanam.
d) Membuat lubang tanam.
e) Menentukan dosis pupuk kandang yang diperlukan.
2) Pembukaan Lahan
Lahan yang digunakan dibersihkan dan tidak terlindung dari sinar matahari. Pencangkulan untuk pembuatan lubang tanam dilakukan setelah ada pengaturan jarak tanam yang sesuai dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm. Lubang dibiarkan terkena sinar matahari selama 2-4 minggu.
3) Pengapuran
Pengapuran hanya dilakukan bila pH tanah rendah/terlalu asam.
4) Pemupukan
Setelah 2-4 minggu lubang tanam diisi pupuk kandang, pasir dan tanah dengan perbandingan 2:1:1.
  • Teknik Penanaman
1) Penentuan Pola Tanam
Tanaman anggur merupakan tanaman monokultur. Pengaturan jarak tanam penting diperhatikan dan juga sesuai dengan larikan karena arah datangnya angin sangat besar pengaruhnya. Jarak tanam bisa diatur dengan pola: 3 x 3 m, 4 x 4 m, 3 x 5 m, 3 x 4 m, 4 x 5 m, 4 x 5 m, 3 x 5 m dan 4 x 6 m. Jarak tanam mempengaruhi jumlah tanaman persatuan luas :
a) 3 x 3 m untuk 1 Ha = 1.111 pohon
b) 3 x 4 m untuk 1 Ha = 833 pohon
c) 3 x 5 m untuk 1 Ha = 666 pohon
d) 4 x 4 m untuk 1 Ha = 625 pohon
e) 4 x 5 m untuk 1 Ha = 500 pohon
f) 4 x 6 m untuk 1 Ha = 416 pohon
2) Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam yang diperlukan berukuran 60 x 60 x 60 cm yang disesuaikan dengan jarak tanam, isi lubang berupa campuran tanah, pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1 atau 1:1:2.
3) Cara Penanaman
Penanaman bibit anggur terbaik pada saat musim kemarau, sekitar Juni dan Juli. Setiap tanaman perlu lahan 20 m² termasuk para-paranya yang harus
dipersiapkan sebelum tanamannya tumbuh. Para-para ini berguna untuk
merayapkan batang dan cabangnya secara mendatar pada ketinggian 2 m. Setiap tanaman juga diberi ajir bambu untuk titian setelah bibit ditanam, agar
pertumbuhannya dapat menjalar ke atas menuju para-para.
  • Pemeliharaan Tanaman
1) Penyulaman dan Penjarangan
Penyulaman hanya dilakukan bila terdapat tanaman yang tidak sehat/mati. Pengontrolan dilakukan rutin bersamaan saat penyiraman karena anggur perlu perhatian kontinyu.
Penjarangan buah sangat penting karena buah yang terlalu rapat justru merusak perkembangan buah dan menurunkan kualitas buah. Dalam penjarangan buah – buah yang perlu dibuang adalah: (1) yang bertangkai panjang; (2) tidak sempurna bentuknya; (3) buah yang ada di sebelah dalam; (4) buah yang terbentuk tanpa adanya persarian.
Penjarangan dilakukan dalam dua tahap, tahap satu saat umur satu bulan setelah pembungaan dan buah masih pentil, tahap dua dilakukan dua minggu setelah tahap satu dan buah sebesar biji jagung. Untuk menjaga kualitas buah, juga perlu dilakukan pembrongsongan (pembungkusan) buah. Pembungkusan dilakukan bila dalam satu dompol buah sudah ada dua atau tiga buah yang masak. Bahan yang umum dipakai bungkus adal kertas semen dan kertas koran.
2) Penyiangan
Penyiangan dilakukan bila terdapat tanaman pengganggu sekitar tanaman anggur.
3) Perempalan
a) Perempalan bentuk pada anggur dilakukan mulai tanam sampai umur 1 tahun, bertujuan untuk mendapat pertumbuhan yang baik, dengan cara membuang tunas yang tidak perlu dan membiarkan satu tunas yang baik sebagai batang pokok.
b) Perempalan untuk pembuahan dilakukan setelah anggur berumur 1 tahun.
Sebelum perempalan diperiksa dahulu dengan memotong ujung salah satu
cabang, bila meneteskan air perempalan dilaksanakan, tetapi bila tidak harus
ditunda. Perempalan dilakukan dengan memotong ranting-ranting, dengan
meninggalkan 2-4 mata tunas dan semua daun dibuang sehingga tanaman jadi
gundul. Dalam 1 tahun dilakukan 3 kali perempalan:
1. Tahap I : Maret-April, 90-110 hari
2. Tahap II : Juli-Agustus, 90-110 hari
3. Tahap III : Nov-Des, tahap ini sering gagal
Perempalan antara bulan November-Desember, tidak memperoleh hasil.
Tujuannya hanya untuk memelihara tingkat kesuburan tanaman sampai musim
hujan berakhir dan tanaman tidak rusak.
4) Pemupukan
Ada dua masa pemupukan:
a) Pemupukan tanaman muda (0-1 tahun)
1. Umur 0-3 bulan, 10 gram urea, interval 10 hari
2. Umur 3-6 bulan, 15 gram urea, interval 15 hari
3. Umur 6-12 bulan, 50 gram urea
Cara pemberian dengan membuat larikan melingkar sekeliling tanaman
diameter 10-20 cm sedalam 5 cm.
b) Pemupukan tanaman dewasa (1-seterusnya)
1. Umur 21 hari sebelum perempalan, 5 kaleng pupuk kandang
2. Umur 11 hari sebelum perempalan, 80 gram TSP/100 gram ZK
3. Umur 7 hari sebelum perempalan, 100 gram urea
Pupuk kandang diberikan sekali setahun, tahun kedua dosis dinaikkan jadi 10 kaleng. Pupuk buatan dinaikkan dosisnya urea 600 gram, TSP 300 gram, ZK 450 gram. Cara pemberian dengan pembuatan larikan sekitar tanaman dengan diameter 1,5 m.
5) Pengairan dan Penyiraman
Yang perlu diperhatikan adalah:
a) Anggur tidak tahan pada air yang tergenang.
b) Anggur butuh pengairan yang harus dilakukan mulai tanam sampai
pemangkasan.
c) Menjelang pemangkasan, 3-4 minggu sebelumnya pemberian air harus
dihentikan.
d) Setelah masa pemangkasan, 2-3 hari sebelumnya diberi air kembali sampai
ujung ranting mengeluarkan air.
e) Pemberian dilakukan sampai buahnya hampir masak, setelah mulai tua
pemberian air dihentikan supaya buah tidak pecah dan busuk.
6) Waktu Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan insektisida dilakukan sebagai pencegahan terhadap hama yang mengganggu pada anggur. Penyemprotan harus dihentikan 15 hari sebelum panen. Khusus untuk hama Phyiloxera Vitifolia digunakan insektisida Furadan 3G/Temik 1 OG.
7) Pengaturan Bunga
Setelah dua minggu pemangkasan pembuahan, cabang tersier yang baru tumbuh
mengeluarkan sulur-sulur pembentukan bunga yang keluar dari mata ke 3, 4 dan 5. Bila ada cabang tersier yang tidak mengeluarkan sulur dapat diadakan
pemotongan dengan meninggalkan 3 mata bertujuan untuk merangsang
pertumbuhan sulur. Cabang tersier yang baru muncul disisakan satu sulur saja,
agar menghasilkan dompol bunga yang besar dan buahnya bisa bermutu tinggi.
  1. HAMA DAN PENYAKIT
  • Hama
1)    Phylloxera Vitifolia
Menyerang tanaman anggur baik muda maupun tua berakibat anggur jadi keringdan mati. Yang diserang adalah daun dan akar tanaman secara langsung. Gejalaumum pada daun terbentuk bisul-bisul kecil dan akar membengkak seperti kutil.Hama ini menetap di bawah kulit batang yang terkelupas dan dalam jaringan akar.
2) Kumbang Apogonia destructor
Bentuk kumbang kecil dan warna hitam mengkilat. Menyerang daun anggur pada malam hari dan kumbang ini mudah tertarik oleh sinar lampu.
3) Wereng daun
Serangan wereng ini menyebabkan daun anggur berbintik putih, kemudian menjadi kuning coklat dan gugur.
4) Kutu putih
Dapat menyebabkan pucuk/tunas menjadi kerdil.
5) Ulat daun
Menyerang daun untuk dijadikan makanannya.
6) Rayap
Serangan yang paling parah bila menggerogoti akar tanaman yang           masih muda sehingga membuat jadi layu dan akhirnya mati.
7) Burung, kalong, bajing dan musang
Menyerang buah yang mulai masak untuk dijadikan makanannya.
Cara untuk memberantas hama anggur dilakukan dengan      menyemprotkan insektisida pada bagian yang terkena serangan. Penyemprotan dilakukan secara rutin dan dihentikan menjelang masa petik. Khusus hama Phyloxera    vitifoliadilakukan dengan           menyiramkan insektisida di sekeliling tanaman. Penyiraman bisa
dilakukan sebelum tanam, setelah tanam/setelah panen. Sedangkan          untuk menanggulangi hama dari hewan besar dapat memakai jebakan.
  • Penyakit
1)    Downy Mildew (jamur)
Gejalanya daun nampak kuning bagian bawah terlihat ada tepung warna putihkuning. Daun, bunga maupun tandan muda bisa mati bila terkena penyakit ini terutama saat musim penghujan atau kelembaban yang tinggi.
2) Powdery Mildew
Pada permukaan daun terdapat bedak tipis putih kelabu. Menyerang pucuk, bunga dan buah muda bahkan dapat merusak ranting sehingga jadi kerdil dan rusak.
3) Penyakit busuk hitam
Menyebabkan buah jadi keriput, busuk dan gugur.
4) Phakospora Vitis
Daun sebelah bawah tertutup tepung berwarna orange (massa sporanya).
5) Peronospora
Bila udara terlalu lembab jamur ini menyerang daun anggur dan dapat dikenali karena spora berwarna kuning di bawah daun. Untuk memberantas penyakit anggur dilakukan dengan menyemprotkan fungisida dengan waktu a sebelum masa berbunga, setelah berbunga dan 8-12 hari sesudah penyemprotan kedua setelah berbunga. Sedang untuk penyakit busuk hitam penyemprotan dilakukan sebelum masa berbunga, saat berbunga dan 2 minggu sebelum masa petik.
  1. PANEN
  • Ciri dan Umur Panen
Umur panen anggur tergantung jenis yang ditanam, iklim dan tinggi tempat. Untuk daerah rendah umur buah 90-100 hari setelah pangkas, daerah dataran tinggi umur buah antara 105–110 hari. Tingkat kemasakan buah yang baik untuk dipanen adalah warna dalam satu tandan telah rata, butir buah mudah lepas dari tandan dan keadaan buah kenyal serta lunak.
  • Cara Panen
Umur panen anggur tergantung jenis yang ditanam, iklim dan tinggi tempat. Untuk daerah rendah umur buah 90-100 hari setelah pangkas, daerah dataran tinggi umur buah antara 105–110 hari. Tingkat kemasakan buah yang baik untuk dipanen adalah warna dalam satu tandan telah rata, butir buah mudah lepas dari tandan dan keadaan buah kenyal serta lunak.
  • Periode Panen
Tanaman anggur dalam satu tahun mengalami dua kali panen.
  • Prakiraan Produksi
Dari areal tanaman anggur 1 ha dengan rasio jarak tanam 4 x 5, jumlah tanaman 500 batang dengan hasil panen per tahun rata-rata 7.500 kg anggur.
  1. PASCAPANEN
  • Pengumpulan
Pengumpulan anggur tidak boleh ditumpuk karena dapat merusak buah di bawahnya. Hal yang penting bedak yang terdapat pada anggur dijaga agar tidak hilang.
  • Penyortiran dan Penggolongan
Penyortiran dilakukan dengan menyingkirkan buah yang rusak dan buah yang masih terlalu muda dalam satu dompolan. Kemudian anggur digolongkan menurut ukuran dompolan dan keseragaman besar buah.
  • Penyimpanan
Cara terbaik dalam penyimpanan adalah dengan memasukkan dalam ruang pendingin untuk mengurangi penguapan, tetapi cara yang mudah, ringkas dan kapasitas penyimpanan besar adalah dengan menggantung anggur untuk dianginanginkan dalam ruang yang sejuk.
  • Pengemasan dan Pengangkutan
Cara menggunakan keranjang bambu dilapisi kertas koran. cara ini kurang baik karena banyak buah yang rusak. Cara terbaik dengan menggunakan kotak kayu yang diisi dengan serbuk gergaji sehingga kerusakan buah dapat ditekan saat pengangkutan.
  1. STANDAR PRODUKSI
  • Ruang Lingkup
Standar mutu anggur di Indonesia masih belum, namun ditingkat petani sudah ada standar mutu berdasar dompolan, ukuran buah dan rasa.
  • Diskripsi
Banyaknya buah dalam dompolan menjadi ukuran mutu yang menunjukkan tingginya produksi. Sedang ukuran buah yang seragam dan rasa akan menaikkan nilai jual dalam pemasaran.
  • Klasifikasi dan Standar Mutu
Standar mutu yang berlaku di petani:
1) Mutu A: dompolan rapat, buah besar dan seragam, rasa manis.
2) Mutu B: dompolan renggang, buah kecil, rasa manis.
3) Mutu C: di luar ketentuan mutu A dan B.
  • Pengambilan Contoh
Pengambilan contoh yang berfungsi untuk penanganan berikutnya diambil saat dilakukan pemanenan. Anggur yang diambil sebelum umur panen mempunyai mutu rendah.
  • Pengemasan
Standar pengemasan anggur adalah buah dalam baik saat pengangkutan sampai ke tempat tujuan. Pengemasan terbaik dengan menggunakan kotak kayu yang diisi serbuk gergaji sehingga anggur tetap terjaga keutuhannya.

Budidaya Kopi

I. PENDAHULUAN 
Tanaman Kopi merupakan tanaman yang sangat familiar di lahan pekarangan penduduk pedesaan di Indonesia. Jika potensi dahsyat ini bisa kita manfaatkan tidaklah sulit untuk menjadikan komoditi ini menjadi andalan di sektor perkebunan. Hanya butuh sedikit sentuhan teknis budidaya yang
tepat, niscaya harapan kita optimis menjadi kenyataan.
PT. Natural Nusantara berusaha mewujudkan harapan bersama tersebut dengan paket panduan teknis dan produk tanpa melupakan Aspek K-3 yaitu kuantitas, kualitas dan kelestarian yang kini menjadi salah satu syarat persaingan di era globalisasi.
II. PERSIAPAN LAHAN 
– Untuk tanah pegunungan/miring buat teras.
– Kurangi/tambah pohon pelindung yang cepat tumbuh kira-kira 1:4 hingga 1: 8 dari jumlah tanaman kopi.
– Siapkan pupuk kandang matang sebanyak 25-50 kg, sebarkan Natural GLIO, diamkan satu minggu dan buat lobang tanam 60 x 60, atau 75 x 75 cm dengan jarak tanam 2,5×2,5 hingga 2,75 x 2,75 m minimal 2 bulan sebelum tanam
III. PEMBIBITAN
– Siapkan biji yang berkualitas dari pohon yang telah diketahui produksinya biasanya dari penangkar benih terpercaya.
– Buat kotak atau bumbunan tanah untuk persemaian dengan tebal lapisan pasir sekitar 5 cm.
– Buat pelindung dengan pelepah atau paranet dengan pengurangan bertahap jika bibit telah tumbuh
– Siram bibitan dengan rutin dengan melihat kebasahan tanah
– Bibit akan berkecambah kurang lebih 1 bulan, pilih bibit yang sehat dan lakukan pemindahan ke polibag dengan hati2 agar akar tidak putus pada umur bibit 2 -3 bulan sejak awal pembibitan
– Tambahkan pupuk NPK sebagai pupuk dasar (lihat tabel) hingga umur 12 bulan
– Siramkan SUPERNASA dosis 1 sendok makan per 10 liter air, ambil 250 ml per pohon dari larutan tersebut
– Setelah bibit umur 4 bulan semprotkan 2 tutup POC NASA per tangki sebulan sekali hingga umur bibit 7-9 bulan dan siap tanam
Tabel Dosis Pupuk Untuk Bibit Kopi
Umur (bln) gr/m2
Urea SP-36 KCl
3 10 5 5
5 20 10 10
7 30 15 15
9 40 20 20
12 50 25 25
Catatan : Jenis dan dosis pupuk bisa sesuai dengan anjuran dinas pertanian setempat. Perhatikan kelembapan tanah agar bibit tidak terkena serangan karat daun.
IV. PENANAMAN 
– Masukkan pupuk kandang dengan campuran tanah bagian atas saat penanaman bibit.
– Usahakan saat tanam sudah memasuki musim hujan.
– Lakukan penyiraman tanah setelah tanam
– Hindarkan resiko kematian tanaman baru dari gangguan ternak.
V. PENYULAMAN
– Lakukan penyulaman segera jika tanaman mati atau gejala pertumbuhannya tidak normal.
– Penyulaman dilakukan awal musim hujan
VI. PENYIRAMAN
Lakukan penyiraman jika tanah kering atau musim kemarau
VII. PEMUPUKAN– Pemupukan NPK diberikan dua kali setahun, yaitu awal dan akhir musim hujan.
– Setelah pemupukan sebaiknya disiram.
Jenis dan Dosis Pupuk Makro sesuai table.
Tahun gr/pohon/tahun
Urea SP-36 KCl
1 2 x 25 2 x 25 2 x 20
2 2 x 50 2 x 50 2 x 40
3 2 x 75 2 x 70 2 x 40
4 2 x 100 2 x 90 2 x 40
5 – 10 2 x 150 2 x 130 2 x 60
> 10 2 x 200 2 x 175 2 x 80
Catatan : Jenis dan Dosis pupuk sesuai dengan jenis tanah atau rekomendasi dinas pertaniam setempat
Cara pemupukan dibuat lubang kecil mengelilingi tanaman sejauh ¾ lebar tajuk, pupuk dimasukan dan ditutup tanah.
Akan lebih baik ditambah pupuk organik SUPERNASA dosis 1 botol untuk ± 200 tanaman . 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon atau siram atau kocorkan SUPERNASA 1 sendok makan per 10 liter air setiap 3-6 bulan sekali.
Semprotkan POC NASA 3-4 tutup + HORMONIK 1-2 tutup per tangki setiap 1 bulan sekali
VIII. PEMANGKASAN
Lakukan pemangkasan rutin setelah berakhirnya masa panen (pangkas berat) untuk mengatur bentuk pertumbuhan, mengurangi cabang tunas air (wiwilan), mengurangi penguapan dan bertujuan agar terbentuk bunga, serta perbaikan bagian tanaman yang rusak.
Pemangkasan pada awal atau akhir musim hujan setelah pemupukan
IX. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
A. H A M A
1. Bubuk buah kopi (Stephanoderes hampei) serangan di penyimpanan buah maupun saat masih di kebun . Pencegahan dengan PESTONA atau BVR secara bergantian
2. Penggerek cabang coklat dan hitam (Cylobarus morigerus dan Compactus )menyerang ranting dan cabang. Pencegahan dengan PESTONA.
3. Kutu dompolan (Pseudococcus citri) menyerang kuncup bunga, buah muda, ranting dan daun muda, pencegahan gunakan PESTONA, BVR atau PENTANA.+ AERO 810 secara bergantian
B. PENYAKIT
1. Penyakit karat daun disebabkan oleh Hemileia vastatrix , preventif semprotkan Natural GLIO
2. Penyakit Jamur Upas disebabkan oleh Corticium salmonicolor : Kurangi kelembaban , kerok dan preventif oleskan batang/ranting dengan Natural GLIO + POC NASA
3. Penyakit akar hitam penyebab Rosellina bunodes dan R. arcuata. Ditandai dengan daun kuning, layu, menggantung dan gugur. preventif dengan Natural GLIO
4. Penyakit akar coklat penyebabnya : Fomes lamaoensis atau Phellinus lamaoensis preventif dengan Natural GLIO
5. Penyakit bercak coklat pada daun oleh Cercospora cafeicola Berk et Cookepencegahan dengan Natural GLIO
6. Penyakit mati ujung pada ranting.Penyebabnya Rhizoctonia .Preventif gunakan Natural GLIO.
Catatan : Jika pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum mengatasi, sebagai alternative terakhir bisa digunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata Pembasah AERO 810 dosis 0,5 tutup botol per tangki
X. P A N E N
Kopi akan berproduksi mulai umur 2,5 tahun jika dirawat dengan baik dan buah telah menunjukkan warna merah yang meliputi sebagian besar tanaman, dan dilakukan bertahap sesuai dengan masa kemasakan buah.
XI. PENGOLAHAN HASIL
Agar dipersiapkan terlebih dahulu tempat penjemuran, pengupasan kulit dan juga penyimpanan hasil panen agar tidak rusak akibat hama pasca panen. Buah panenan harus segera diproses maksimal 20 jam setelah petik untuk mendapatkan hasil yang baik.
Penyebab Kerusakan Kopi Beras :
1. Biji keriput : asal buah masih muda
2. Biji berlubang :kopi terserang bubuk
3. Biji kemerahan : Kurang bersih mencucinya
4. Biji pecah : mesin pengupas kurang sempurna, berasal dari buah yang terserang bubuk, pada saat pengupasan dengan mesin kopi terlalu kering.
5. Biji pecah diikuti oleh perubahan warna: mesin penguap dan pemisah kulit dengan biji kurang sempurna, fermentasi pada pengolahan basah kurang sempurna.
6. Biji belang : pengeringan tidak sempurna, terlalu lama disimpan , suhu penyimpanan terlalu lembab.
7. Biji Pucat : terlalu lama disimpan di tempat lembab
8. Biji berkulit ari : Pengeringan tidak sempurna atau terlalu lama, pada pengeringan buatan suhu awal terlalu rendah.
9. Biji berwarna kelabu hitam : pada pengeringan buatan suhunya terlalu tinggi.
10. Noda-noda cokelat hitam : pada pengeringan buatan, kopi tidak sering diaduk/dibolak-balik.

Pasca Panen Kedelai Yang Baik

Kedelai banyak ditanam oleh petani Indonesia karena merupakan bahan makanan penting yaitu sebagai sumber protein nabati. Kedelai dapat diolah menjadi tempe, tahu, kecap, tauco, susu kedelai, tepung kedelai, dan lain-lain. Disamping itu kedelai juga bisa digunakan sebagai makanan ternak dalam bentuk tepung kedelai, bungkil kedelai dan ampas tahu. Selama ini, penanganan pasca panen kedelai belum banyak mendapat perhatian sehingga kehilangan hasil sebagai susut tercecer masih tinggi dan mutu hasil masih rendah, untuk itu perlu penanganan pasca panen yang baik sehingga dapat mempertahankan potensi kuantitas dan kualitas hasil.

Penanganan pasca panen kedelai meliputi serangkaian kegiatan yaitu penentuan saat panen, teknik pemanenan, pengeringan brangkasan, perontokan/pembijian, pembersihan biji, pengeringan biji, pengemasan dan penyimpanan. 
Panen kedelai dilakukan apabila sebagian besar daun sudah menguning, tetapi bukan karena serangan hama atau penyakit, lalu gugur, buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak-retak, atau polong sudah mulai kelihatan tua, batang berwarna kuning agak coklat dan gundul. Perlu diperhatikan perbedaan usia pemetikan kedelai untuk bahan konsumsi dan untuk benih. Sebagai bahan konsumsi, kedelai dapat dipetik pada usia 75 hari, dan untuk benih pada umur 100-110 hari (tergantung varietasnya).

Penentuan saat panen merupakan tahap awal yang sangat penting dari seluruh rangkaian kegiatan penanganan pasca panen kedelai karena berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas hasil panennya. Pemanenan yang terlalu awal, memberikan hasil panen dengan jumlah butir muda yang tinggi sehingga kualitas biji dan daya simpannya rendah. Sedangkan pemanenan yang terlambat mengakibatkan penurunan kualitas dan peningkatan kehilangan hasil sebagai akibat pengaruh cuaca yang tidak menguntungkan maupun serangan hama dan penyakit pada lahan.

Penentuan saat panen kedelai juga dapat dilakukan berdasarkan : (1) deskripsi varietas kedelai; (2) kadar air yang diukur dengan alat ukur kadar air (Moisture Tester); (3) kenampakan fisik. Secara visual umur panen yang tepat ditandai dengan : (1)daun berwarna kuning dan rontok; (2) batang telah kering; (3) polong kering, berwarna coklat dan pecah. Pemanenan kedelai sebaiknya dilakukan pada kadar air rendah (17%-20%), karena mempunyai beberapa keuntungan yaitu sebagai berikut : (1)rantai kegiatan penanganan pasca panen lebih pendek sehingga menghemat waktu, tenaga dan biaya; (2) jumlah susut pasca panen keseluruhan yang mungkin terjadi lebih rendah dari pemanenan pada kadar air tinggi yaitu susut panen pada kadar air rendah mencapai 6%, sedangkan pada kadar air tinggi dapat mencapai 13%.
Pemungutan hasil kedelai dilakukan pada saat tidak hujan, agar hasilnya segera dapat dijemur. Kedelai dipanen dengan dua cara yaitu (1) dengan cara mencabut, perlu diperhatikan keadaan tanahnya yaitu ringan dan berpasir dengan memegang batang pokok, tangan dalam posisi tepat di bawah ranting dan cabang yang berbuah. Pencabutan harus hati-hati karena kedelai yang tua mudah rontok. Pada dasarnya panen dengan cara mencabut tidak dianjurkan, karena butil akar yang mengandung rezobium ikut terbuang; (2) dengan cara memotong, yaitu menggunakan sabit yang tajam agar pekerjaan bisa dilakukan dengan cepat dan jumlah buah yang rontok akibat goncangan bisa ditekan. Cara ini juga bisa meningkatkan kesuburan tanah karena akar dengan bintil-bintil menyimpan banyak senyawa nitrat tidak ikut tercabut.

Ada lima tahapan penanganan pasca panen kedelai yaitu: (1) Pengeringan Brangkasan. Setelah pemungutan selesai, seluruh hasil panen segera dijemur, tidak ditunda terlalu lama. Dalam proses pengeringan ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara alami dan menggunakan para-para. Pengeringan secara alami brangkasan kedelai dijemur langsung di bawah sinar matahari. Dapat dilakukan dengan dijemur diatas tikar, anyaman bambu, atau menggunakan alas plastik, sebaiknya dipilih yang berwarna gelap/hitam untuk mempercepat pengeringan. Pengeringan dilakukan selama 3-7 hari bila cuacanya baik, semua buah yang masih menempel pada batang diusahakan di jemur di tempat penjemuran. Agar kedelai kering sempurna, pada saat penjemuran hendaknya dilakukan pembalikan berulang kali, hal ini menguntungkan karena dengan pembalikan banyak polong pecah dan biji terlepas dari polongnya. Sedangkan biji kedelai yang digunakan untuk benih dijemur secara terpisah. Penjemuran dilakukan sampai kadar air 10% – 15% dan di pagi hari pukul 10.00 sampai 12.00 siang. Brangkasan kedelai yang baru dipanen tidak boleh ditumpuk dalam timbunan besar, terutama pada musim hujan, untuk mencegah kerusakan biji karena kelembaban yang tinggi. Pengeringan dengan para-para dilakukan terutama bila panenan dilaksanakan waktu musim hujan. Para-para dibuat bertingkat, kemudian brangkasan kedelai ditebar merata di atas para-para tersebut. Dari bawah dialirkan udara panas dengan cara membakar sekam, untuk menurunkan kadar air. Brangkasan dianggap cukup kering bila kadar airnya telah mencapai kurang lebih 18%. (2) Perontokan/pembijian. Ada beberapa cara memisahkan biji dari kulit polongan yaitu dengan cara: a) memukul-mukul tumpukan brangkasan kedelai secara langsung dengan kayu/karet ban dalam sepeda/ kain untuk menghindarkan terjadinya biji pecah; b) brangkasan kedelai sebelum dipukul-pukul dimasukkan ke dalam karung atau dihamparkan dengan tebal 20 cm; atau c) menggunakan alat mekanis (power thresher) yang biasa digunakan untuk merontokkan padi. Pada waktu perontokan dikurangi hingga mencapai kurang lebih 400 rpm. Brangkasan kedelai yang dirontokkan dengan alat ini hendaknya tidak terlalu basah. Kadar air yang tinggi dapat mengakibatkan biji rusak dan peralatan tidak dapat bekerja dengan baik. Setelah biji terpisah, brangkasan disingkirkan. (3) Pembersihan biji kedelai. Biji yang terpisah kemudian ditampi agar terpisah dari kotoran-kotoran lainnya. Biji yang luka dan keriput dipisahkan. Pembersihan juga bisa dilakukan dengan menggunakan mesin pembersih (winower), mesin ini merupakan kombinasi antara ayakan dengan blower. (4) Pengeringan biji kedelai. Biji yang bersih selanjutnya dijemur kembali sampai kadar airnnya 9% – 11%. (5) Pengemasan, dan penyimpanan. Biji yang kering lalu disimpan dalam wadah yang bebas hama dan penyakit. Sebagai tanaman pangan, kedelai dapat disimpan dalam jangka waktu cukup lama. Caranya kedelai disimpan di tempat kering dalam karung goni/plastik. Karung yang digunakan harus diberi label berupa tulisan yang dapat menjelaskan tentang produk yang dikemas. Karung-karung ini ditumpuk pada tempat yang diberi alas kayu agar tidak langsung menyentuh tanah atau lantai. Apabila kedelai disimpan dalam waktu lama, maka setiap 2 – 3 bulan sekali harus dijemur sampai kadar airnya sekitar 9% – 11%. Apabila diangkut pada jarak jauh, hendaknya dipilih jenis wadah/kemasan yang kuat. Tempat penyimpanan haruslah teduh, kering dan bebas hama atau penyakit. Biji kedelai yang akan disimpan sebaiknya mempunyai kadar air 9 – 14 %.
Penulis : Wiwiek Hidajati,M.Ed., Penyuluh Pertanian Madya, e-mail : wiwiekhidajati@yahoo.co.id
Sumber : 1. Kementran Pertanian R.I., Teknologi Pasca Penen Kedelai,
2. Sinar Tiani, Penanganan Pasca Panen Kedelai Yang Baik. 
3. Agromaret, Kegiatan Pasca Panen Kedelai

PENYIAPAN LAHAN TANAMAN KEDELAI

Tanaman kedelai dapat tumbuh diberbagai kondisi jenis tanah yang berbeda. Hal ini dapat ditunjukkan dari adanya perlakuan yang berbeda dalam penyiapan lahan pada pertanaman kedelai. Penyiapan lahan untuk tanaman kedelai sangat ditentukan oleh kondisi tanah sebelum penanaman. Pengolahan lahan di tanah kering/ tanah tegalan atau tanah sawah tadah hujan berbeda perlakuannya dengan tanah sawah. Pada dasarnya kedelai menghendaki kondisi tanah yang tidak terlalu basah, tetapi air harus tetap tersedia. Oleh karena itu di tanah tegalan, kedelai ditanam pada awal dan pertengahan musim hujan, sehingga penyiapan lahannya sebelum musim hujan. Demikian juga pada tanah sawah tadah hujan, kedelai ditanam pada pertengahan atau akhir musim hujan, sehingga penyiapan lahan dilakukan sebelumnya.
Pengolahan tanah pada dasarnya bertujuan untuk mematikan gulma, menggemburkan tanah sehingga benih mudah tumbuh, pertumbuhan kecambah dan akar tanaman dapat berkembang sempurna. Melalui pengolahan, tanah akan menjadi gembur dan aerasi tanah jadi lebih baik. Kondisi ini sangat menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Selain itu pengolahan tanah juga dapat mencegah pertumbuhan penyakit di dalam tanah.
Penyiapan Lahan,
Lahan yang dipersiapkan pada tanaman kedelai harus tidak tergenang air, menghendaki kondisi tanah yang tidak terlalu basah namun masih cukup lembab.Oleh karena itu areal lahan tanam kedelai umumnya berbentuk bedengan. Ada 2 cara mempersiapkan lahan pada tanaman kedelai yakni persiapan tanpa pengolahan tanah (ekstensif) pada lahan sawah, lahan pasang surut dan persiapan dengan pengolahan tanah (intensif) pada lahan kering/ tanah tegalan.
Penyiapan Lahan Kering. 
Pada umumnya penyiapan lahan untuk tanah kering dilakukan 1 – 2 bulan sebelum hujan turun. Pengolahan tanah dilakukan dengan tanah dicangkul/ dibajak/ ditraktor sedalam 5 – 10 cm sebanyak 2 kali. Pada cangkulan 1 biarkan bongkahan terangin-angin selama 5 – 7 hari. Pencangkulan ke 2 sekaligus digemburkan, dibersihkan dari gulma dan diratakan. Biarkan tanah yang telah diolah selama 3 – 4 minggu, untuk memperoleh struktur tanah yang baik. Dianjurkan untuk melaksanakan pengapuran setelah tanah diolah untuk menghindari tanah menjadi masam atau ber pH rendah. Karena dengan tanah yang masam atau pH rendah maka tanaman yang tumbuh diatasnya sering dihinggapi bermacam-macam gangguan seperti daun rontok, tanaman kerdil. Pengapuran dapat menggunakan dolomit, dengan cara menyebar rata sebanyak dosis 1,5 ton/ ha. Jika ditambah pupuk kandang 2,5 ton/ha, dosis kapur dapat dikurangi menjadi 750 kg/ha.
Selain itu perlu dibuat saluran pembuangan air sehingga tidak terjadi genangan air di dalam petakan agar biji yang baru tumbuh tidak busuk atau mati.
Penyiapan Lahan Sawah / Lahan Pasang Surut 
Apabila menanam kedelai pada tanah sawah, tanah tidak perlu diolah, hanya yang perlu dilakukan adalah membersihkan tanah sawah dari gulma dan sisa-sisa jerami hasil panen padi. Kemudian jerami padi dibabat dan dihamparkan serta dibiarkan selama 3 hari agar kering. Setelah itu dibakar. Dua minggu setelah jerami dibakar, lahan disemprot dengan herbisida.
Selanjutnya dibuatkan saluran pembuangan air (drainase) setiap 3 – 4 meter, sedalam 25 – 30 cm, lebar 20 – 25 cm. Pembuatan saluran drainase ini untuk mencegah terjadinya penggenangan air, karena tanaman kedelai tidak tahan terhadap genangan air yang menyebabkan benih menjadi busuk.
Penyiapan lahan pada pertanaman kedelai pada musim kemarau (setelah tanaman padi kedua) setelah tanaman kedelai I dipanen, cukup dilakukan pembersihan gulma. Tapi lebih baik lagi jika dilakukan pengolahan lahan yang minimal ( dicangkul 1 kali).
Sedang penyiapan lahan untuk penanaman kedelai pada musim hujan atau bila lahan yang akan digunakan banyak tumbuh gulma, maka dilakukan dengan pengolahan tanah (intensif). Selain diolah, pada hari ke 3 – 5 sebelum tanah diolah dilakukan penyemprotan herbisida untuk mencegah pertumbuhan penyakit dalam tanah.
Penulis : Asia ( Penyuluh BPPSDMP) 
Sumber Informasi :
1. Panduan umum pengelolaan tanaman terpadu kedelai. 2009. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-Umbian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.
2. Peningkatan Produksi Kedelai di Lahan Pasang Surut. 2009. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian.
3. Teknologi Budidaya Kedelai. 2008.Balai Besar Pengkjin dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 
4. Kumpulan buku Tanaman Pangan, Tanaman Sayur, Tanaman Buah dan Tanaman obat. 2003. Badan Pengembangan SDM Pertanian. Bagian Proyek Pemberdayaan Penyuluhan Pertanian Pusat.
5. Bercocok Tanam Kedelai.1985. Departemen Pertanian. Proyek Informasi Pertanian Riau.

Lengkeng Cangkok Cepat Berbuah

SELAMA ini,buah lengkeng (kelengkeng,Bahasa Jawa) sangat digemari masyarakat dalam dan luar negeri terutama oleh orang Tionghoa,karena memang rasanya yang khas dan manis.Harga buah lengkeng di pasaran pun tergolong mahal bila dibandingkan dengan harga jenis buah lainnya.Pada saat musim panen pun harganya bisa mencapai Rp.15.000/kg
Pohon lengkeng berdiri tegak lurus dengan tinggi mencapai 12 meter bila sudah dewasa,umurnya panjang,dan dapat berbuah secara produktif sampai sekitar berumur 50 tahun.Kayunya keras dan alot tetapi tidak lurus,perakar annya kuat dan berdaun rimbun,percabangannya banyak,kuat dan alot, sehingga dapat dipanjat orang hingga ranting-ranting terkecil sekalipun.
Tanaman lengkeng dapat tumbuh di dataran rendah maupun tinggi.Tapi mutu buah terbaiknya adalah yang tumbuh pada ketinggian 400-600 meter dpl.Juga menghendaki tanah yang subuh dan selalu banyak mengandung humus serta gembur dengan drainase yang baik.
Pada umumnya,lengkeng berbunga pada bulan agustus sampai September dan buahnya dapat dipanen bulan Desember sampai Februari.Ketika muda buahnya agak lonjong dengan kulit kasar kehijauan dan setelah tua buahnya bulat dengan kulit kasar halus di samping tidak berbulu dan warnanya cokelat kekuningan.Lengkeng yang baik memiliki daging buah tebal,agak kering dan bening,manis dan aroma khas serta biji kecil.
Tanaman lengkeng dapat diperbanyak secara generatif maupun vegetatif. Namun sayangnya,perbanyakan secara generatif membutuhkan waktu cukup lama sampai bisa dipetik buahnya yakni sekitar 8-15 tahun,dan cara ini tidak menjamin hasil buahnya akan sama dengan induknya bahkan dapat mandul karena tanaman lengkeng ada yang berumah satu dan berumah dua.
Dengan demikian,cara perbanyakan lain yang dianggap menguntungkan karena buahnya lebih cepat bisa dipetik dan akan serupa dengan induknya, yakni cara vegetatif khususnya melalui pencangkokan.Dengan cara cangkok ini,maka umur 4 tahun saja sudah berbuah terutama bila dipelihara secara intensif,maka petani sudah dapat menikmati keuntungan bila panen tiba.
CARA MENCANGKOK
Pada prinsipnya,system cangkok yang dilakukan pada tanaman lengkeng tidak berbeda dengan cara mencangkok tanaman buah lainnya.Jadi,petani bisa melakukan pembibitan tanaman lengkeng dengan cara cangkok,dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini.
Pertama,pilihlah cabang atau ranting yang besarnya sedang (sekitar 2 jari tangan orang dewasa),umurnya belum terlalu tua dan tidak terlalu muda, berasal dari tanaman yang produksi buahnya yang baik dan sehat.
Kedua,kulit cabang atau ranting itu dikupas dengan pisau tajam sepan jang 10 cm,selanjutnya dikerok sampai hilang lendirnya.Biarkan cabang atau ranting yang terkupas itu terbuka sampai 2 hari agar terangin-angin.
Ketiga,untuk media tanamnya berupa campuran tiga bagian tanah dan satu bagian kompos atau pupuk kandang.Setelah ditempelkan melingkar pada bagian yang akan dicangkok,media tanam itu dibungkus pakai sabut kelapa dan diikat pakai tali rapia.Proses pencangkokan pun selesai.Jika pencangkokan itu berhasil,maka sesudah 4-6 bulan akan mengeluarkan akar.
Jika akar sudah menyembul dari bungkusnya,bagian cabang di bagian akar dipotong memakai gergaji dan turunkan calon bibit secara hati-hati agar tidak merusak tanah cangkokan dan juga akar-akarnya.Kemudian sebagian ranting dan daun dipangkas untuk mencegah banyaknya penguapan pada bibit tanaman.
Kini bibit lengkeng sudah bisa langsung ditanam di kebun atau lahan yang telah disediakan.Namun,sebaiknya perlu disemai dulu dalam keranjang untuk penyesuaian,simpanlah di tempat teduh selama 1-2 bulan disertai perawatan khususnya peyiraman dan bisa pula disemprot pupuk daun 10 hari sekali.
Kalau sudah tampak segar,barulah bibit cangkokan tanaman lengkeng itu di pindahkan ke kebun atau lahan yang telah disediakan,dengan jarak tanam 10 x 10 meter.Adapun lubang tanamnya 1 x 1 x 1 meter dan diberi pupuk kandang secukupnya.Lakukan perawatan sebagaimana mestinya agar pertumbuhannya bagus.

BUDIDAYA KAYU PUTIH

Kegiatan penghijauan untuk mengurangi lahan kritis harus dilakukan terus menerus, agar lahan-lahan kritis dapat berubah menjadi lahan-lahan yang menghasilkan (produktif). Pemilihan jenis tanaman kayu-kayuan harus mempertimbangkan kelangsungan hidup tanaman tersebut, jika dipilih jenis tanaman yang kayunya berharga, maka suatu saat nanti tanaman tersebut akan ditebang untuk dijual oleh pemiliknya, sehingga perlu dipilih tanaman yang bisa diambil hasilnya selain kayu seperti buah atau daun, misalnya tanaman gambir yang diambil buahnya atau kayu putih yang diambil daunnya.

Tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron) sangat baik untuk reboisasi / penghijauan bagi tanah-tanah yang kurang subur. Kayu putih dapat dipilih untuk penghijauan lahan kritis karena memiliki manfaat sbb:

a)   sebagai penutup lahan kosong,

b)   tanaman cepat tumbuh dan dapat tumbuh  di tanah kritis/marginal,

c)   dapat mengurangi erosi dan tanah longsor,

d) menghasilkan bahan baku daun kayu putih yang dapat diproses untuk menghasilkan minyak kayu putih yang bernilai tinggi.


Dengan penanaman kayu putih dapat diharapkan kelestarian tegakan, karena yang diambil hasilnya bukan kayu melainkan daunnya, sehingga lahan akan terus terjaga dari kerusakan. Pada sela-sela tanaman kayu putih masih bisa ditanami tanaman semusim secara tumpangsari, sehingga lahan dapat menghasilkan tambahan selain dari tanaman kayu putih tersebut.

Sifat Botani Kayu Putih adalah:

  1. Tanaman Kayuputih ( Melaleuca leucadendron ) adalah jenis tanaman semak.
  2. Tumbuh baik pada daerah yang mempunyai musim kemarau agak basah maupun kering.
  3. Tumbuh subur ditanah  tandus yang tidak baik untuk tanaman jati, ketinggian tempat 0 – 500 m DpL.
  4. Varietas yang tumbuh di pulau jawa adalah varietas ponorogo (hasil persilangan antara varietas Buru & Timor)
  5. Melaleuca leucadendron bentuk daun lonjong seperti ujung tombak, panjang 4,5 – 15 Cm, Lebar 0,75 – 4 Cm.
  6. Kuncup warna putih, rendemen lebih tinggi dibanding kuncup merah

Proses pengolahan daun kayu putih dapat dilakukan dengan penyulingan sederhana maupun penyulingan modern. Penyulingan skala rumah tangga bisa dilakukan dengan teknologi yang sederhana seperti yang sudah banyak dilakukan di daerah-daerah lain. Penyulingan minyak kayu putih secara sederhana banyak dijumpai di Pulau Buru, Maluku, setiap tiga keluarga mempunyai satu unit peralatan penyulingan.


Wilayah Kecamatan Prambanan yang kondisi lahannya tidak jauh berbeda dengan wilayah Gunung Kidul diharapkan dapat menjadi pusat pengembangan tanaman kayu putih di Kabupaten Sleman. Pengembangan tanaman kayu putih di Gunung Kidul lebih banyak dilakukan hutan negara, sedangkan di Prambanan dicoba dikembangkan di hutan rakyat.


Pada Tahun Anggaran 2006 Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Sleman memulai pengembangan tanaman kayu putih di wilayah Kecamatan Prambanan seluas 50 Ha yang meliputi Dusun Gayam, Jontro dan Kalinongko Lor. Kegiatan ini dilaksanakan  dengan APBN tahun anggaran 2006 melalui Gerakan Nasional RHL. Wakil Bupati Sleman membuka kegiatan ini dengan melakukan penanaman bibit tanaman kayu putih pada Acara Puncak Penghijauan tingkat kabupaten. Pada tahap awal ditanam 15.000 batang bibit kayu putih.


Pada tahun anggaran 2007 ini dialokasikan penanaman kayu putih 30.000 batang di Kalinongko Lor Gayamharjo Prambanan melalui APBD. Pada awal 2008 telah dilakukan pemangkasan awal terhadap tanaman kayu putih tahun 2006 dan daunnya disuling di tempat penyulingan minyak nilam, ternyata dapat menghasilkan minyak kayu putih.


Daun kayu putih dapat langsung dijual ke industri penyulingan maupun disuling sendiri untuk menghasilkan minyak kayu putih. Industri penyulingan minyak kayu putih  masih membutuhkan banyak bahan baku daun kayu putih.

PENYAKIT KARAT TUMOR/KARAT PURU PADA SENGON LAUT (Uromycladium spp.)

A.  PENDAHULUAN
Penyakit  karat tumor /karat puru (gall rust), merupakan salah satu penyakit yang berbahaya pada tanaman sengon lautParaserianthes falcataria (Miq. Barneby &J.W. Grimes). Dampak penyakit meluas pada semai  sampai  tanaman  dewasa, mulai dari menghambat pertumbuhan sampai mematikan tanaman. Pulau Jawa merupakan salah satu pusat penghasil kayu sengon terbesar di Indonesia. Epidemik penyakit karat tumor/karat puru bias terjadi pada tanaman sengon secara besar-besaran pada tahun mendatang. Hal ini tentu saja akan berpengaruh kuat pada peta pengusahaan tanaman sengon di Jawa serta prospek pengembangan produk berbasis kayu sengon. Oleh karena itu perlu dipikirkan langkah-langkah  terbaik untuk mengendalikan penyakit tersebut.
Adapun langkah-langkah konkrit hanya bisa diambil apabila kita telah mempunyai dasar-dasar pengetahuan tentang penyakit karat tumor/karat puru meliputi:
1. Penyebab penyakit karat tumor/karat puru, perilaku, serta cara penyebaran maupun siklus hidupnya.
2.  Gejala dan akibat yang ditimbulkan.
3.   Faktor lingkungan maupun faktor dalam tanaman itu sendiri yang mendukung atau menghambat terjadinya penyakit
Mengingat keberadaan penyakit karat tumor/karat puru terutama di daerah Kabupaten Sleman sudah mencapai tingkat epidemi, maka perlu dilaksanakan penanggulangan secara serius.  Kerjasama aktif antara pemerintah, masyarakat, LSM, peneliti dan pengusaha serta unsur-unsur terkait lainnya sangat diperlukan untuk mendapatkan solusi/hasil yang terbaik
B.  PENYEBARAN PENYAKIT KARAT TUMOR/KARAT PURU
Sebaran geografis penyakit ini adalah di Australia, New Coledonia, Papua New Guinea (1984), Maluku (1988/1989), Afrika Selatan (1992), Sabah (1993), Philipina (1997), Timor-Timur ( mulai tahun 1998), dan Jawa (mulai 2003). Di Jawa beberapa sentra sengon yang diketahui telah terserang penyakit karat tumor/karat puru antara lain : Lumajang, Jember, Banyuwangi, Probolinggo, Malang, Boyolali, Salatiga, dan Wonogiri.
Dari hasil pengamatan para penyuluh kehutanan lapangan, penyakit ini telah masuk  Kabupaten Sleman pada tahun 2006 tepatnya di wilayah Kecamatan Turi, awal tahun 2008 menyebar  di Kecamatan Cangkringan, serta terakhir pada  tahun 2009  sudah merata di wilayah lereng Selatan Gunung Merapi Kabupaten Sleman. 
C. PENYEBAB DAN PENYEBARANNYA
    Penyebab penyakit karat tumor/karat puru pada tanaman sengon laut telah diidentifikasi sebagai jamur karat (Uromycladium tepperianum (Sace.)McAlp.). Jamur karat ini hanya memerlukan 1 inang saja yaitu tanaman sengon laut untuk menyelesaikan seluruh siklus hidupnya. Jamur hanya membentuk satu macam spora yang dinamakan teliospora saja. Secara spesifik, teliospora mempunyai struktur yang berjalur, bergerigi dan setiap satu tangka terdiri dari 3 teliospora. Ukuran spora berkisar antara lebar 14-20 um dan panjang 17-28 um (Rahayu dan Lee, 2007).
    Tiliospora mudah diterbangkan oleh angin dari satu tempat ke tempat lain ataupun dari tanaman sengon satu ke tanaman sengon yang lain. Apabila telah mendapatkan tempat sesuai terutama pada bagian tanaman yang masih muda, dan kondisi lingkungannya menguntungkan, teliospora akan berkecambah membentuk basidiospora. Basidiospora ini dapat  secara langsung melakukan penetrasi, menembus lapisan epidermis membentuk hypha didalam atau diantara sel-sel epidemis, xylem dan phloem (Rahayu, 2007).
    Infeksi dapat terjadi  pada biji, semai maupun tanaman dewasa tanaman dilapangan. Semua bagian tanaman meliputi pucuk, cabang, ranting, daun, batang, bunga dan biji dapat terinfeksi oleh jamur tersebut (Franje,  1993 ; Braza, 1997 ;  Rahayu dkk, 2005). Pada semai, batang merupakan bagian tanaman yang paling rentan terhadap serangan jamur karat tumor/karat puru (Rahayu dkk,2006).
    D.  GEJALA SERANGAN
    Serangan karat tumor/karat puru  ditandai dengan terjadinya pembengkakan (gall) pada ranting/cabang, pucuk-pucuk ranting, tangkai daun dan helai daun. Gall ini merupakan tubuh buah dari jamur.  Penyakit karat tumor/karat puru dapat menjadi persoalan yang serius dalam pengelolaan tanaman sengon. Penyebaran penyakit ini sangat cepat, dengan menyerang tanaman sengon mulai dari persemaian sampai lapangan dan pada semua tingkatan umur. Kerusakan serius bila serangan terjadi pada tanaman muda (umu r1-2 tahun), karena titik-titik serangan (gall) bisa terjadi di batang pokok/utama sehingga batang pokok/utama rusak/cacat, tidak dapat menghasilkan pohon yang berkualitas yang tinggi.
    Penyebab penyakit karat tumor/karat puru yang menyerang tanaman sengon  adalah jamur Uromycladium tepperianum. Jamur ini dikenal sebagai jamur karat yang menyerang lebih dari seratus spesies Acaccia, jenis-jenis Paraserianthes/Albizia spp, Racosperma spp. (ketiganya merupakan anggota famili Fabaceae  ( =Leguminosae ) menyebabkan pembentukan (gall) yang menyolok pada dedaunan dan ranting pohon. Setiap gall karat tumor/karat puru dapat melepaskan ratusan sampai ribuan spora yang dapat menularkan ke pohon-pohon sekitarnya dengan cepat melalui bantuan angin. Ukuran, bentuk , dan warna gallbervariasi tergantung bagian tanaman yang terserang dan umur gall. Warna gall pada awalnya hijau kemudian berubah menjadi coklat. Warna coklat indikasi bahwa spora-spora yang melimpah siap dilepaskan/terbang.
    E.  PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
    1. Pencegahan
    1. Untuk serangan karat tumor/karat puru di persemaian: yang menunjukkan gejala-gejala serangan harus segera dicabut dan dimusnahkan/dibakar
    2. Untuk pencegahan perluasan karat tumor/karat puru: adanya pengawasan yang ketat terhadap transportasi benih, bibit dan kayu tebangan dari daerah yang telah terserang penyakit karat tumor/karat puru ke daerah yang belum terserang.
    3. Pemeliharaan tanaman dengan pemberian pupuk dan penjarangan tanaman
    2. Pengendalian
    Upaya pengendalian tanaman yang telah terserang penyakit karat tumor/karat puru adalah menghilangkan gall dan bagian tanaman yang terserang sedini mungkin, sebelum gall membesar dan berwarna coklat. Langkah yang dilaksanakan dengan mematikan sel-sel penyakit karat tumor/karat puru di bagian yang terserang agar tidak tumbuh gall lagi, caranya  adalah sebagai berikut :
    a. Cara Kemis/kimiawi : spirtus, larutan/bubur garam, larutan/bubur belerang
    a1. Spritus : Bagian tanaman yang terserang  dibersihkan dengan cara mengelupas gall tersebut dari batang/cabang/pucuk. Selanjutnya bagian tersebut dismprot/dioles dengan spirtus.
    a2. Larutan/bubur garam : 5 kg kapur + 0,5 kg garam  + air 5-10 liter diaduk-aduk sampai rata. Bagian tanaman yang terserang dibersihkan dari gallnya, kemudian disemprot/dioles dengan larutan/ bubur garam.
    a3. Larutan/bubur belerang : 1 kg kapur + 1 kg belerang + air 10-20 liter  diaduk-aduk sampai rata. Bagian tanaman yang terserang dibersihkan dari gallnya, kemudian bagian tersebut disemprot/dioles larutan /bubur belerang.
    b. Cara mekanik : memotong pucuk, cabang ranting yang ditumbuhi  gall.
    b1. Pucuk, cabang ranting yang ditumbuhi gall dipotong dan dikumpulkan, kemudian disemprot/disiram dengan sprirtus atau larutan/bubur garam atau larutan/bubur belerang.
    b2. Pucuk, cabang ranting  yang ditumbuhi gall dipotong dikumpulkan, kemudian dibakar atau dipendang dalam tanah.
    Catatan :  jangan sekali-kali memotong pucuk, cabang, ranting yang ditumbuhi gall dibuang disembarang tempat, karena akan menyebarkan spora penyakit karat tumor/karat puru lagi
    c. Cara rotasi tanaman:
    c1. Menghindari penanaman sengon untuk sementara, terutama di dataran tinggi yang berkabut.
    c2. Penggantian sengon sebagai tanaman pokok, dengan jenis-jenis FGS ( tanaman cepat tumbuh dan menghasilkan) yang potensial tidak menjadi inang jamur Uromycladium spp., yaitu jenis-jenis famili Fabaceae/Leguminosae, seperti Acacia spp, Paraserianthes/Albizia spp dan Racosperma spp.
    dCara pemulian tanaman
    Dicari individu-individu pohon sengon yang tahan terhadap penyakit karat tumor/karat puru, benihnya diambil dijadikan bibit, untuk penanaman selanjutnya. 
    F. LANGKAH PENANGGULANGAN
      Status penyakit karat tumor/karat puru di pulau Jawa, terutama di wilayah Kabupaten Sleman telah mencapai tingkat epidemik/serius/gawat. Secara umum berdampak negative terhadap penurunan produksi pohon sengon, industri perkayuan, ekonomi dan sosial. Oleh karenanya perlu segera ada kerja sama pemerintah, peneliti, Lembaga Swadaya Masyarakat, pengusaha, tokoh-tokoh masyarakat, masyarakat serta pihak-pihak lain yang terkait untuk menanggulangi penyakit karat tumor/karat puru pada tanaman sengon.
      DAFTAR  PUSTAKA
      Rahayu, S. 2007. Karat tumor desease of Falcataria moluccana on Tawau. Sabah, Malaysia PhD. Thesis. University Malaysia, Malaysia.
      Rahayu, S. 2009. Penyakit karat tumor pada sengon, Woekshop serangan karat tumor pada sengon.
      Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Nair. 2000
      Sumber : Jumali