SENTRA MEBEL KALIMALANG, JAKARTA TIMUR

Peluang Usaha

SENTRA USAHA 

 
Kamis, 05 Januari 2012 | 12:24  oleh Ragil Nugroho
SENTRA MEBEL KALIMALANG, JAKARTA TIMUR
Sentra mebel Kalimalang: Pedagang mulai beralih ke mebel rotan (1)

Bagi warga Jakarta, kawasan Kalimalang, Jakarta Timur memang sohor dengan pusat kemacetan. Namun, mereka tetap kerap menyambanginya lantaran di sana juga menjadi sentra mebel dengan harga yang murah.

Pusat mebel itu tepat berada di pinggir Jalan Kalimalang Raya, akses menuju kota Bekasi. Jika Anda melakukan perjalanan dari arah Jakarta menuju Bekasi, dengan mudah Anda bisa menemukan lokasi ini.

Di sana, terdapat sekitar 15-an pedagang sekaligus sebagai perajin mebel yang menjajakan barang dagangannya. Mereka berjualan secara berkelompok. Namun, beberapa di antara mereka berdagang di lokasi terpisah, tak jauh dari kali.

Produk mebel yang mereka jual antara lain: meja, kursi, lemari, kusen, meja makan, tempat tidur, ranjang tidur bayi, hingga pigura. Mebel tersebut terbuat dari beraneka bahan baku, seperti: kayu jati belanda, meranti, kamper serta rotan.

Didi Djunaidi, salah satu perajin dan pemilik toko mebel Persada Karya bilang, pusat penjualan mebel Kalimalang sudah ada sejak 1980-an. Masa kejayaan bisnis mebel di lokasi ini terjadi setelah krisis ekonomi 1998 melanda Indonesia. “Setelah krisis ekonomi, pembeli banyak berdatangan kemari,” katanya.

Kejayaan itu memudar memasuki tahun 2005, seiring dengan membaiknya ekonomi. Saat itu, mereka bertahan dengan menjual mebel berbahan kayu jati belanda, bekas sisa pelindung peti kemas. “Kami bertahan dengan menjual kayu jati belanda yang berharga murah,” kata Didi.

Namun sejak dua tahun belakangan, peminat mebel dari kayu jati belanda juga mulai surut. Kondisi itu diperparah dengan naiknya harga bahan baku kayu jati belanda.

Kondisi tersebut berakibat pada penurunan omzet pedagang. Jika dalam sebulan pedagang mampu mengantongi omzet Rp 70 juta, kini omzet pedagang tinggal Rp 20 juta saja. Bahkan ada pedagang yang cuma mampu mengantongi omzet belasan juta saja. “Omzet paling parah akhir 2010,” jelas Didi.

Namun, secercah harapan kini kini mulai tersembul. Banyak pembeli yang kini mulai melirik mebel rotan untuk memenuhi rumahnya.

Didi bilang, penjualan mebel rotan berlahan kembali naik naik setelah pemerintah mengeluarkan himbauan untuk memakai mebel rotan. “Untung, pemerintah mau mempromosikan mebel rotan ini,” terang Didi. Jika tidak, Didi yakin usahanya akan terus menyusut.

Kondisi yang sama juga dirasakan oleh Nurhayadi, perajin mebel dan juga pemilik toko Multiprima. Sejak dua tahun belakangan, omzetnya turun dari puluhan juta rupiah menjadi belasan juta rupiah saja per bulan. “Sekarang rata-rata omzet saya Rp 17 juta per bulan,” terang Nurhayati.

Sama dengan Didi, belakangan Nurhayadi menopang bisnisnya dengan mebel kayu jati belanda. Kini, ia juga tengah berusaha beralih ke mebel rotan yang mulai banyak dicari pembeli. “Dari sisi laba, mebel rotan jauh lebih mengutungkan dari pada mebel kayu jati belanda,” katanya.

Agar memiliki banyak ragam produk, Nurhayadi juga aktif memesan rotan dari para pemasok rotan di wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura) terutama dari Cirebon.  

Senin, 09 Januari 2012 | 14:05  oleh Ragil Nugroho
SENTRA MEBEL KALIMALANG, JAKARTA TIMUR
Sentra mebel Kalimalang: Kebanjiran order menjelang tahun baru (2)

Usia sentra mebel Kalimalang memang sudah lebih tiga dekade. Jumlah pedagang pun terus bertambah, bahkan sudah berganti. Demikian juga dengan mebel. Kalau dulu kebanyakan dari kayu jati, kini banyak pedagang yang berjualan mebel rotan.

Namun, masih ada satu ciri khas dari sentra mebel Kalimalang yang tidak berubah, yakni harga mebel yang murah. Menurut Budi Dahlan, seorang konsumen di sentra mebel itu, harga mebel di Kalimalang ini bisa tempat itu bisa 40% lebih murah dibandingkan tempat lainnya, semisal di Kramat Jati. “Harga murah memang menjadi ciri khas sentra Kalimalang,” ujar pria yang tinggal di Pondok Cabe ini.

Nurhayadi, pemilik toko Multiprima, bilang, harga murah memang menjadi andalan pedagang dalam menjual mebel di sentra ini. “Karena dengan harga murah inilah kami bisa menjaring pelanggan,” ujarnya.

Namun Nurhayadi mengakui, pedagang di sentra ini gagal menjaring pelanggan baru. Saat ini semakin banyak konsumen mebel yang beralih ke mebel besi atau aluminium.

Apalagi, saat ini tren untuk mebel lebih banyak yang model minimalis. Hal ini mengikuti perkembangan tipe rumah yang kecil dan sederhana. “Banyak penjual di sini yang masih menjajakan jenis mebel ukuran besar sehingga kurang laku,” ujar Nurhayadi.

Namun menjelang tahun baru seperti sekarang ini, biasanya para pedagang di Kalimalang bisa menarik napas lebih lega. Pasalnya, permintaan akan berbagai jenis mebel akan meningkat drastis. “Selama Desember saja, saya sudah memperoleh Rp 35 juta,” tutur Eko Pujianto, pemilik toko Karya Mebel.

Padahal, biasanya dalam sebulan ia hanya bisa meraup omzet paling banyak sebesar Rp 20 juta. Peningkatan permintaan dipicu keinginan konsumen yang masih “berprinsip” tahun baru perlu penampilan baru. “Banyak yang beranggapan, memasuki tahun baru harus memiliki perabotan baru,” papar Eko. Apalagi, model-model mebel juga terus berubah seiring berjalannya waktu.

Rezeki yang sama juga dirasakan Nurhayadi. Hingga Natal lalu, ia sudah bisa mengumpulkan omzet sebesar Rp 25 juta. “Menjelang akhir tahun permintaan mebel memang sering meningkat drastis,” ujarnya.

Bahkan pemesanan jenis mebel tertentu sudah datang dua bulan sebelumnya. “Kalau untuk pemesanan sesuai dengan keinginan pembeli memang biasanya sudah dipesan jauh-jauh hari,” imbuh Nurhayadi.

Tentu saja, kenaikan permintaan mebel ini membuat pemilik toko perlu menambah tenaga kerja. Kalau pada hari biasa, mereka rata-rata mempekerjakan lima orang, di akhir tahun mereka butuh tenaga kerja hingga delapan orang.

Kebanyakan pekerja itu direkrut pedagang dari warga sekitar sentra. “Saya memang dari dulu mempekerjakan warga asli agar bisa mengurangi pengangguran,” tukas Nurhayadi.

Uniknya, meski ramai, ada juga toko yang menawarkan promo akhir tahun. Seperti toko Persada Karya, milik Didi Djunaidi. Pria berusia 57 tahun ini mengaku tiap akhir tahun memberikan satu unit mebel gratis bila ada konsumen memesan satu set mebel ruang tamu atau ruang keluarga. “Selama ini, cukup ampuh menarik peminat pembeli,” ujarnya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1325741054/86843/Sentra-mebel-Kalimalang-Pedagang-mulai-beralih-ke-mebel-rotan-1-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/87089/Sentra-mebel-Kalimalang-Kebanjiran-order-menjelang-tahun-baru-2-

SENTRA KECAP MAJALENGKA, JAWA BARAT

Peluang Usaha

Senin, 12 Desember 2011 | 14:42  oleh Hafid Fuad
SENTRA KECAP MAJALENGKA, JAWA BARAT
Sentra kecap Majalengka: Mengecap hasil kecap sejak zaman Belanda (1)

Bagi Anda penggemar kecap, tidak ada salahnya berkunjung ke Majalengka. Di sana terdapat puluhan industri skala kecil dan menengah yang memproduksi kecap dengan cara tradisional. Selain gurih, kecap dari Majalengka tidak menggunakan bahan pengawet.

Kabupaten Majalengka di Jawa Barat tak hanya menghasilkan kerajinan, perkebunan atau perikanan saja. Majalengka juga memiliki potensi industri, yaitu industri kecap.

Di kota yang terletak di perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah ini terdapat puluhan produsen kecap skala kecil dan menengah. Para pengusaha kecap ini tersebar di dua kecamatan, yakni di pusat kota, tepatnya di Kecamatan Majalengka dan di Kecamatan Kadipaten yang tak jauh dari pusat kota.

Kalau kita telusuri ke belakang, industri kecap di Majalengka punya sejarah panjang. Industri penyedap makanan berwarna hitam itu sudah muncul pada 1940-an, saat negeri ini masih dijajah Belanda.

Nah, jejak sejarah itu masih tersisa di pabrik kecap Maja Menjangan. “Kecap kami adalah generasi pertama di Majalengka,” kata Rini, pengelola Kecap Meja Menjangan.

Selain Kecap Meja Menjangan, ada 36 industri kecap lainnya di Majalengka. Tapi dari seluruh industri itu hanya 10 industri saja yang tersohor hingga ke luar daerah. “Mayoritas industri kecap di sini dikelola secara rumahan,” terang Rini.

Rata-rata setiap industri kecap itu mempekerjakan tiga sampai 15 karyawan. Dari tangan mereka inilah mengalir kecap Majalengka yang terkenal gurih dan tahan lama meski tanpa bahan pengawet.

Kecap yang diproduksi di Majalengka rata-rata dijual dalam tiga bentuk kemasan. Yang pertama, kemasan botol plastik berisi 140 mililiter (ml), kedua, kemasan botol kaca berisi 275 ml, dan ketiga kemasan botol kaca ukuran 575 ml.

Soal harga jual kecap, tiap produsen mematok harga berbeda. Namun rata-rata kemasan 140 ml dijual seharga Rp 3.000 – Rp 3.500 per botol. Untuk kemasan 275 ml dijual Rp 5.000-Rp 6.000 per botol. Sedangkan kemasan 575 ml dijual Rp 10.000- Rp 12.000 per botol.

Sebagian produsen kecap ada yang berinisiatif menjual kecap dalam kemasan plastik kecil yang dijual Rp 500 per kemasan. Namun, “Kemasan yang terlaris adalah kemasan botol 275 ml untuk pedagang kelontong dan rumah tangga,” kata Rini yang memiliki omzet lebih dari Rp 100 juta per bulan.

Selain menjual di daerah Majalengka, Rini melayani permintaan kecap dari Cirebon, Kuningan, dan Bandung. Tapi permintaan luar daerah itu masih dalam jumlah terbatas.

Untuk memproduksi kecap, produsen Majalengka membutuhkan waktu produksi setidaknya satu bulan. Selama 14 hari waktu untuk merendam kedelai, sisa waktu lainnya untuk meracik kedelai dengan bahan baku lainnya seperti gula aren dan garam.

Proses merendam kedelai butuh waktu lama agar air meresap sempurna ke dalam kedelai. “Banyak produsen yang tidak sabar sehingga kecapnya kurang gurih,” kata Muhammad Kandi, pemilik merek Kecap Ayam Panggang.

Sama dengan Rini, Kandi juga memproduksi kecap dengan kemasan botol plastik dan botol kaca. Namun sejak memulai usaha sejak 1982, Kandi hanya menjual produk kecapnya di Majalengka saja.

Selasa, 13 Desember 2011 | 16:27  oleh Hafid Fuad
SENTRA KECAP MAJALENGKA, JAWA BARAT
Sentra kecap Majalengka: Jaga racikan tradisi demi menjaga pasar (2)

Untuk menjaga citarasa, produsen kecap di Kabupaten Majalengka mempertahankan pemakaian alat masak tradisional, seperti memasak dengan kayu bakar. Selain itu, peracikan bahan baku dilakukan sesuai dengan takaran yang telah ditentukan pendahulu mereka.

Untuk memproduksi kecap, produsen kecap di Kabupaten Majalengka senantiasa mempertahankan cara produksi tradisional. Walaupun kapasitas produksi tradisional terbatas, tapi mereka mempertahankannya demi menjaga cita rasa.

Saat KONTAN bertandang ke dapur pembuatan kecap itu, memang tak terlihat peralatan modern seperti kompor gas. Di rumah produksi kecap milik Muhammad Kardi, misalnya. Di sana yang nampak justru tungku kayu bakar tempat merebus kedelai. “Rata-rata produsen kecap di sini memakai alat tradisional,” terang Kardi.

Menurut Kardi, merebus kedelai dengan kayu bakar membuat rasa kecap lebih gurih. Itulah sebabnya, Kardi enggan memakai kompor gas atau kompor minyak tanah.

Selain cara memasak tradisional, berbagai perlengkapan di pabrik kecap itu juga masih tradisional. Lihat saja, ember wadah kedelai yang masih terbuat kayu. Ember kayu itu berguna untuk merendam kedelai saat difermentasi selama 14 hari.

Taufiqurohman atau Oman, pegawai pabrik kecap Maja Menjangan bilang, proses fermentasi kedelai dengan cara merendam itulah yang membedakan produksi kecap mereka dengan pabrik kecap skala besar.

Mengenai racikan kecap itu, Oman mengaku berpedoman pada takaran yang sudah ditentukan pendahulu mereka. “Catatan takaran komposisi bahan baku dari pendahulu masih saya simpan dan saya pakai,” terang Oman.

Bahan baku untuk membuat kecap terdiri dari kedelai hitam, gula aren, garam kasar, air, dan tepung terigu. Semua bahan baku itu asli dari dalam negeri, kecuali tepung terigu.

Untuk kedelai hitam, industri kecap di Majalengka mendatangkannya dari Brebes, Jawa Tengah. Mereka membeli kedelai hitam saat panen tiba di bulan Juni-Juli dengan harga Rp 6.000 per kilogram (kg). “Kalau membeli di luar waktu panen harganya bisa Rp 8.000 per kg,” ujar Oman. Biasanya, di musim panen, para produsen langsung membeli berton-ton kedelai hitam.

Adapun gula aren didatangkan dari Banjarnegara, Tasikmalaya, dan Garut. Oman biasanya membeli gula aren dalam jumlah banyak karena pasokannya terkadang tidak menentu.

Pasokan yang tidak stabil itu mempengaruhi harga gula aren yang cenderung naik. Belakangan ini harga gula aren mencapai Rp 10.000 per kg, naik dari harga tahun lalu yang cuma Rp 6.000 per kg.

Selain gula aren, produsen kecap Majalengka juga membeli garam kasar yang harganya juga naik, terutama saat musim hujan. Belakangan ini harga garam kasar naik dari Rp 400 per kg menjadi Rp 1.600 per kg. “Harga tergantung cuaca,” jelasnya.

Untuk membuat kecap, pertama kali yang dilakukan adalah merebus kedelai kemudian menjemurnya hingga kering. Setelah itu kedelai direndam 10 – 14 hari kemudian dijemur lagi. “Usai penjemuran kedua, kedelai direndam lagi dengan air garam,” terang Oman.

Setelah direndam dengan air garam, kedelai itu direbus lagi kemudian disimpan selama sepekan. Selanjutnya baru masuk tahap peracikan dengan gula aren dan tepung terigu. “Campuran diaduk sampai kental. Setelah mengental baru bisa masuk botol,” kata Oman.


Rabu, 14 Desember 2011 | 15:46  oleh Hafid Fuad
SENTRA KECAP MAJALENGKA, JAWA BARAT
Sentra kecap Majalengka: Manis kejayaan kecap mulai terasa hambar (3)

Kecap Majalengka pernah menjadi tuan rumah di daerah sendiri pada 1970 hingga 1980-an. Tapi kini kecap Majalengka kalah bersaing dengan produsen kecap raksasa. Beruntung, belakangan ini, industri kecap Majalengka jadi salah satu daerah kunjungan wisata.

Pembuat kecap di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, mayoritas adalah pengusaha skala kecil dan menengah. Kapasitas produksi mereka terbatas untuk pasar kecap di Majalengka, pemasaran paling jauh di kabupaten tetangga.

Sementara untuk pasar kota besar seperti: Jakarta, Semarang dan Surabaya, produsen kecap dari Majalengka tak bisa menyentuhnya. Maklum, pasar kecap di kota besar itu diambil oleh produsen kecap raksasa.

Keinginan produsen kecap Majalengka menjual kecap ke kota besar sebenarnya ada, tapi kapasitas produksi mereka tidak mencukupi. Apalagi mereka juga tidak memiliki jalur distribusi yang berjangkauan luas. “Kami bisa produksi jika stok yang ada sudah terjual dulu,” kata Muhammad Kardi, pemilik kecap Ayam Panggang.

Karena tidak bisa bersaing di daerah lain, puluhan industri kecap di Majalengka terpaksa bersaing memperebutkan pasar di daerah sendiri. Padahal pasar itu kian mengecil, sebab kecap bermerek juga sudah merangsek hingga ke kampung-kampung. “Kami kalah bersaing dengan kecap bermerek itu,” keluh Kardi.

Kondisi pasar kecap di Majalengka itu sangat berbeda dengan kondisi pasar pada 1970 sampai 1980-an lalu. Kala itu, kecap Majalengka menjadi tuan rumah di daerah sendiri. .

Oman, pegawai bagian produksi kecap Maja Menjangan bilang, pernah kewalahan melayani pesanan walaupun sudah mempekerjakan 50 karyawan. Tapi kini karyawan perusahaan yang berdiri tahun 1940 itu tinggal 10 orang saja. “Dulu kami harus bekerja dua sift, siang malam,” kenang Oman.

Berbagai upaya sudah dilakukan Oman supaya pasar kecapnya kembali jaya. Salah satunya dengan mengurangi harga jual sampai 20%. Tapi upaya itu tak banyak mendatangkan hasil. “Kami sekarang mengandalkan pelanggan setia saja,” jelas Oman.

Walaupun kondisi pasar kecap di Majalengka kian mengecil, tapi Oman atau Kardi sama-sama ingin tetap mempertahankan usaha itu. Mereka paham, ada banyak masalah harus selesaikan selain berhadapan dengan produsen kecap raksasa.

Salah satu masalah itu adalah terbatasnya pasokan bahan baku. Khususnya pasokan bahan baku kacang kedelai hitam dan gula aren. Pasokan dari dua bahan baku itu sangat bergantung dengan kondisi cuaca.

Selain itu, harga bahan baku itu terus menanjak naik. Padahal para pengusaha kecap tradisional itu juga tidak mungkin bisa menaikkan harga jual kecap.

Masalah lain yang paling sulit diatasi adalah soal datangnya musim hujan yang tak menentu. Sementara produksi kecap Majalengka bergantung pada sinar matahari untuk mengeringkan kedelai yang akan diolah menjadi kecap. “Jika cuaca buruk seperti mendung saja, produksi kecap kami bisa terganggu,” jelas Oman.

Namun begitu Oman atau Kardi belakangan ini agak terhibur. Belakangan ini banyak wisatawan mampir ke tempat pembuatan kecap milik mereka untuk menyaksikan proses pembuatan kecap secara tradisional.

Para wisatawan itu, selain menikmati proses pembuatan kecap, mereka kerap membeli kecap untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. “Pejabat pemerintah juga sering memesan untuk oleh-oleh,” tambah Oman.
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1323675727/84999/Sentra-kecap-Majalengka-Mengecap-hasil-kecap-sejak-zaman-Belanda-1-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1323768455/85106/Sentra-kecap-Majalengka-Jaga-racikan-tradisi-demi-menjaga-pasar-2-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/85218/Sentra-kecap-Majalengka-Manis-kejayaan-kecap-mulai-terasa-hambar-3-

SENTRA MEBEL TAMANSARI, BANDUNG

Peluang Usaha

Rabu, 30 November 2011 | 13:33  oleh Ragil Nugroho
SENTRA MEBEL TAMANSARI, BANDUNG
Sentra mebel Tamansari: Harga miring, namun kualitas bersaing (1)

Wilayah Tamansari sangat dekat dengan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Di sini sekitar 15 sampai 20 pedagang menjual berbagai mebel berharga murah namun berkualitas. Pedagang menjual dengan harga murah karena menggunakan bahan baku kayu bekas.

Tamansari yang berada di Kecamatan Bandung Wetan merupakan satu dari sekian banyak sentra ekonomi di Kota Bandung. Di tempat ini, berbagai jenis mebel, seperti lemari, kursi, meja, hingga kitchen set dijual.

Taman Sari bisa dicapai dengan mudah baik dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Jika Anda menggunakan kendaraan umum, selepas Terminal Ledeng, Bandung, Anda hanya perlu naik angkutan umum jurusan terminal Cicaheum dan turun di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tak jauh dari Mesjid Salman ITB, di depan gedung Program Master Administrasi Bisnis ITB, sentra mebel Tamansari bisa ditemukan. Ada sekitar 15 sampai 20 toko mebel berjejer memadati jalan sepanjang 1 km di depan gedung tersebut. “Sentra ini sudah ada sejak 1972,” kata Hadi Permana, pemilik toko Karya Agung di Taman Sari.

Hadi mengaku sudah berdagang mebel di sentra ini sejak 1975. Dia menetap sebagai pedagang mebel di sentra ini setelah banyak pedagang yang dulunya menjajakan mebel dengan berkeliling mencari tempat menetap. Apalagi pada saat itu mayoritas penjual mebel keliling adalah warga Tamansari. Dia bercerita, pada awalnya hanya ada tiga toko mebel saja di Tamansari. Seiring berjalannya waktu, sentra mebel Tamansari semakin dikenal. Apalagi di sini menjual aneka produk mebel yang lengkap dan murah. “Di sini harganya lebih murah namun kualitas tetap terjaga,” klaim lelaki berusia 60 tahun itu.

Hadi menjual meja komputer mulai harga Rp 90.000 per unit, meja tulis biasa Rp 70.000, lemari pakaian Rp 170.000 sampai Rp 220.000, ranjang kayu Rp 270.000 sampai Rp 350.000. “Harga itu 70% lebih murah dibanding tempat lain di Bandung,” tambah Hadi berpromosi.

Walaupun sudah menawarkan dengan harga rendah, Hadi masih mempersilakan pembeli untuk menawar. Oleh karena itulah, banyak konsumen yang datang tidak hanya dari Bandung, namun juga Jakarta, Bekasi, Sumedang, hingga Tasikmalaya.

Tak hanya Hadi saja yang menawarkan harga murah. Selisih harga antara toko mebel yang satu dengan toko yang lain tidak jauh berbeda. “Agak murah karena mayoritas bahan kayu yang digunakan dari kayu bekas atau kayu sisa industri,” kata Aditya Nugraha, pemilik toko Afdhol dengan jujur.

Di Tamansari memang tak banyak mebel yang dibuat dari bahan kayu baru. Beberapa jenis kayu yang biasa dipakai adalah jati belanda, mahoni, dan kamper.

Walau banyak menggunakan kayu bekas. Namun menurut Hadi pemilihannya sangat selektif sehingga tidak menurunkan kualitas.

Hadi menambahkan, Tamansari hanya dipakai menjual mebel, sedangkan pembuatan mebel dilakukan di Jalan Pasirkoja dan Jalan Sriwijaya, Bandung. Dari sentra pembuatan ini, produk mebel di kirim ke Tamansari dalam bentuk setengah jadi.

Nantinya pedagang di Tamansari yang menyempurnakan dan memberi polesan akhir berupa pelitur atau cat. Dengan memberlakukan sistem, pedagang bisa lebih menekan harga jual.

Kamis, 01 Desember 2011 | 14:02  oleh Ragil Nugroho
SENTRA MEBEL TAMANSARI, BANDUNG
Sentra mebel Tamansari: Daur ulang mebel bekas berkualitas (2)

Untuk menyediakan mebel daur ulang yang antik, pedagang mebel di Tamansari, Bandung mencari mebel bekas dari gedung tua, museum hingga ke luar negeri. Tapi tak seluruh mebel tua didaur ulang, pedagang hanya mencari mebel tua dari kayu yang berkualitas.

Terkenal sebagai pusat penjualan mebel murah tidak membuat pedagang mebel di Sentra Tamansari, Bandung menyepelekan kualitas. Mereka menjual mebel daur ulang dari mebel bekas pakai yang terbuat dari kayu yang berkualitas tinggi.

Darmayadi, pemilik toko Lancar Jaya bilang, tak semua mebel bekas atau mebel tua itu yang terbuat dari kayu yang berkualitas tinggi. Untuk mencari mebel bekas berkualitas tinggi itu, pedagang mesti mengetahui jenis kayu yang digunakan, termasuk bentuk serat kayu pada mebel itu.

Darmayadi memberi contoh, mebel daur ulang yang banyak diminati adalah mebel yang terbuat dari kayu jati belanda, meranti atau kayu kamper.

Untuk mendapatkan mebel bekas berkualitas itu tidaklah mudah. Darmayadi harus memiliki banyak jaringan untuk mendapatkannya. Biasanya, ia mendapat pasokan mebel bekas dari pemilik bangunan tua, rumah pejabat diplomatik atau dari museum. “Jaringan luas dibutuhkan untuk mengetahui sumber mebel bekas itu,” terang Darmayadi.

Baru-baru ini, Darmayadi baru saja membeli sebuah kursi bekas dari gedung Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Kursi bekas pakai itu dibeli seharga Rp 2 juta per unit. Ia mengaku berani beli tinggi karena kursi itu terbuat dari kayu eboni yang bernilai tinggi. “Setelah didaur ulang kursi saya jual seharga Rp 7 juta,” kata Darmayadi.

Menurut dia, pembeli mebel daur ulang kebanyakan penggemar barang antik. Semakin tua dan semakin berkualitas kayu mebel bekas tersebut, maka semakin banyak kolektor yang akan memburunya.

Sementara itu, Indrawan Hikmawan, pemilik toko mebel Hikmah menempuh cara berbeda untuk mendapatkan pasokan mebel bekas. Karena sudah 20 tahun berkecimpung di dunia mebel, Indrawan bisa mendapatkan mebel bekas dari mancanegara, seperti Italia, Belanda, dan Prancis. “Jika kayu mebel bekas impor itu bagus, saya berani beli hingga Rp 5 juta per unit,” tegasnya.

Namun begitu, pasokan mebel bekas mancanegara itu tidaklah rutin. Indrawan harus bersabar menunggu mebel bekas itu datang ke Indonesia. “Pasokan datang sebulan sekali itu sudah bagus,” ujar Indrawan.

Ia berani membeli tinggi mebel bekas dari luar negeri itu karena pasarnya yang menarik. Mebel daur ulang dari mebel bekas impor itu juga banyak dicari oleh kolektor benda antik. “Tapi memang jumlah pembelinya terbatas,” terang Indra.

Karena pasokan mebel bekas dari luar negeri terbatas, Indrawan pun terbatas menjualnya. Dari seluruh penjualan Indrawan, mebel daur ulang dari mebel bekas impor itu hanya menyumbang 30% .

Penjualan Indrawan terbanyak datang dari penjualan mebel daur ulang yang terbuat dari mebel bekas lokal. Selain itu penjualan Indrawan datang dari penjualan mebel yang terbuat dari kayu bekas industri. Tak hanya itu Indrawan juga mengantongi penjualan dari mebel yang terbuat dari kayu baru.

Untuk menjual mebel kayu baru, Indrawan lebih banyak ikut tren pasar mebel. Sedangkan bahan kayu yang digunakan berasal dari kayu jati dari Jawa Tengah. “Mebel baru lebih banyak berdesain minimalis yang tidak memerlukan banyak ruang,” terang Indrawan.

Jumat, 02 Desember 2011 | 15:20  oleh Ragil Nugroho
SENTRA MEBEL TAMANSARI, BANDUNG
Sentra mebel Tamansari: Pedagang senang saat ajaran baru datang (3)

Pedagang mebel di sentra mebel Tamansari, Bandung, banyak memiliki pelanggan dari kalangan mahasiswa. Maklum, selain lokasinya yang dekat dengan kampus, banyak mahasiswa senang belanja mebel ke Tamansari karena di sini tersedia mebel dengan harga terjangkau.

Berada dekat dengan kampus ternama, Institut Teknologi Bandung (ITB), membuat sentra mebel Tamansari, Bandung, akrab bagi mahasiswa. Wajar jika sentra ini menjadi tujuan belanja mebel bagi mahasiswa ITB.

Kesempatan itu tentu dimanfaatkan dengan baik oleh pedagang mebel di Tamansari. Mereka menjual mebel khusus untuk kebutuhan mahasiswa. Mereka juga menyiasatinya dengan menjual perabotan murah yang sesuai dengan isi ATM mahasiswa.

Hadi Permana, pemilik toko mebel Karya Agung, menyebutkan, mebel untuk mahasiswa itu adalah mebel yang terbuat dari kayu bekas pakai, sehingga harganya relatif lebih miring. “Saat ini, 50% pelanggan saya adalah mahasiswa yang indekos,” ujar Hadi.

Untuk melayani pelanggan mahasiswa itu, pedagang mebel menyediakan aneka perabotan seperti: kursi, meja belajar, lemari, rak buku, meja komputer hingga tempat tidur kayu.

Selain harga yang terjangkau, pedagang mebel di Tamansari juga menyediakan jasa pesan antar. “Mahasiswa tak perlu repot, kami antar pesanan mebel ke tempat tujuan,” terang Hadi.

Karena pelanggan mereka banyak mahasiswa, membuat omzet pedagang mebel di Tamansari terpengaruh dengan siklus penerimaan mahasiswa baru. Hadi bilang, penjualan mebel terdongkrak naik ketika tahun ajaran baru tiba. Bahkan di saat itu, pedagang bisa kewalahan melayani pesanan.

Aditya Nugraha, pemilik toko mebel Afdhol bilang, pada tahun ajaran baru tepatnya pada Juli dan Agustus, omzet bisa naik hingga 67%. “Pada tahun ajaran baru omzet saya bisa Rp 30 juta dari hari biasa hanya Rp 18 juta per bulan,” jelas Aditya.

Begitu juga dengan Hadi Permana. Di hari-hari biasa, omzet dia cuma Rp 20 juta per bulan. Pada saat tahun ajaran baru datang, omzetnya bisa naik menjadi Rp 35 juta per bulan.

Selain pembeli dari mahasiswa, pada saat tahun ajaran baru pesanan mebel juga datang dari lembaga pendidikan. Namun sayangnya, kenaikan permintaan untuk mahasiswa dan lembaga pendidikan hanya datang sekali atau dua kali dalam setahun.

Di luar tahun ajaran baru, pedagang mebel di Tamansari kesulitan mencari pelanggan. Bahkan ada pedagang mebel memilih gulung tikar karena tidak terbiasa menghadapi musim penjualan tahunan seperti itu.

Hadi mengungkapkan, sebelum tahun 1998, jumlah pedagang mebel di Tamansari mencapai 40 pedagang. Namun saat ini jumlah pedagang itu menyusut menjadi 20 orang saja. “Yang bertahan hanya pedagang besar yang tidak bergantung pada konsumen mahasiswa saja,” ungkap Hadi.

Hadi menambahkan, dampak dari siklus penjualan musiman itu membuat pedagang harus punya modal besar. Apalagi mebel yang dipajang di toko mereka dibeli secara tunai. “Perajin hanya mau bekerja sama jika kita membeli tunai,” katanya.

Jika pedagang mebel tidak memiliki modal banyak, bisa dipastikan etalase toko mebel mereka kosong dari mebel pajangan.

 Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1322634818/84023/Sentra-mebel-Tamansari-Harga-miring-namun-kualitas-bersaing-1-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/84145/Sentra-mebel-Tamansari-Daur-ulang-mebel-bekas-berkualitas-2-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/84272/Sentra-mebel-Tamansari-Pedagang-senang-saat-ajaran-baru-datang-3-

SENTRA CERMIN PEJOMPONGAN, JAKARTA

Peluang Usaha

Selasa, 22 November 2011 | 15:26  oleh Fitri Nur Arifenie
SENTRA CERMIN PEJOMPONGAN, JAKARTA
Sentra cermin Pejompongan: Tiga dekade becermin di Pejompongan (1)

Kawasan di sekitar Pejompongan sudah sejak lama dikenal sebagai pusatnya penjualan cermin. Di situ bercokol belasan perajin sekaligus pedagang cermin. Pembeli cermin berasal dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan menengah hingga kaum berpunya dan pebisnis.

Cermin tak hanya untuk berkaca mematut diri. Namun cermin juga bisa dijadikan penghias ruang. Nah, bagi Anda yang tinggal di Jakarta dan ingin mendapatkan cermin unik dan cantik, tak ada salahnya mampir ke Jalan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat.

Bisa dibilang, di kawasan itu ada belasan perajin sekaligus pedagang cermin dengan aneka produk cermin. Mulai cermin yang biasa-biasa saja, hingga cermin penghias ruang tadi.

Salah satu perajin dan juga pedagang itu adalah Iwan Wahyudi. Pemilik Rasdja Furniture sejatinya sudah menggeluti bisnis cermin ini sudah puluhan tahun silam. Maklum, bisnis ini merupakan warisan keluarga Iwan.

Bisa dibilang, keluarga Iwan adalah salah satu perintis usaha cermin di Pejompongan ini. “Berdirinya sejak lama, sejak 1980-an. Setelah ayah tidak ada, usaha ini akhirnya saya yang meneruskan,” kata Iwan.

Awalnya, di daerah Pejompongan ini hanya ada dua perajin cermin. Kini, di situ setidaknya bercokol 15 toko yang menjual aneka cermin.

Selain ayah Iwan, perajin lainnya adalah Haji Sarkawi. “Haji Sarkawi pertama kali mengenalkan bisnis cermin ini,” ujar Lupi, anak Sarkawi, pemilik PD Hikmah Jaya.

Lupi bercerita, pada awalnya, Sarkawi tidak hanya berjualan kaca saja. Dia juga menjual aneka furnitur seperti kursi, meja, lemari, dan kusen pintu. Namun, di antara semua produk Sarkawi itu, justru cermin yang paling laku. Makanya sejak 1998, Sarkawi memutuskan hanya menjual cermin saja.

Demikian juga dengan keluarga Iwan. Menurut Iwan, ayahnya juga tak hanya membuat dan menjual cermin. Seperti halnya Sarkawi, orangtua Iwan juga membuat aneka furnitur berukir. Maklum, ayah Iwan berasal dari Jepara sehingga sudah pandai mengukir dari sono-nya.

Sayangnya, usaha furnitur itu berantakan saat negeri ini dilanda badai moneter pada 1998 silam. “Hanya cermin yang tersisa. Selain itu permintaan cermin juga terus ada sehingga kami memutuskan untuk berjualan kaca cermin saja,” lanjut Iwan.

Sedendang seirama dengan Iwan, Lupi juga memilih hanya berjualan cermin. Menurut Lupi, para pedagang kaca cermin lainnya mulai berbondong-bondong berjualan di Pejompongan sejak tujuh tahun lalu.

Para pedagang kaca cermin itu pindahan dari sekitar Gedung DPR/MPR yakni di sekitar Jalan Gatot Subroto. “Mereka diusir dari sana oleh Satpol PP,” jelas Lupi.

Pelanggan cermin made in Pejompongan ini memang lumayan banyak. Bahkan Lupi sering mendapatkan order dari kalangan menengah ke atas. Selain pesanan individu, Lupi juga mendapatkan pesanan dari pengembang apartemen, hotel, dan juga perkantoran. “Biasanya kalau pemesannya dari apartemen, hotel atau perkantoran, sekali pesan bisa sekitar 20 hingga 30 cermin,” lanjut Lupi.

Dari berjualan cermin, kalau pas lagi ramai, Lupi bisa mendulang omzet sebesar Rp 2 juta per hari. Namun, jika sedang sepi, paling-paling Lupi hanya bisa mendapatkan omzet Rp 500.000 per hari. “Pembelian ramai itu biasanya Sabtu dan Minggu. Selain itu, omzet semakin besar kalau memasuki bulan suci Ramadan atau menjelang Natal dan tahun baru,” jelas Lupi.  

Rabu, 23 November 2011 | 13:52  oleh Fitri Nur Arifenie
SENTRA CERMIN PEJOMPONGAN, JAKARTA
Sentra cermin Pejompongan: Dari cermin persegi sampai bentuk kartun (2)

Perajin dan pedagang cermin di sekitar Pejompongan, Jakarta Pusat, menjual jenis cermin polos dan jenis cermin jenis bevel kepada pelanggannya. Dua jenis cermin ini memiliki bentuk dan ukuran yang beragam, namun cermin jenis bevel lebih mahal ketimbang cermin polos.

Para perajin dan pedagang di sentra penjualan cermin di Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, umumnya menjual dua jenis cermin, yakni cermin polos dan cermin bevel atau bentuk cermin yang pengerjaan dengan menggunakan gerinda.

Tentu saja, dua jenis cermin itu tersedia dalam berbagai ukuran. Bentuk cermin itu bisa persegi panjang, oval atau membentuk buah-buahan atau tokoh kartun terkenal. Demikian juga dengan ukuran cermin, mulai ukuran puluhan hingga ratusan sentimeter. “Biasanya kaca yang di-bevel itu tidak menggunakan bingkai tetapi tergantung selera konsumen juga,” kata Dayat, pemilik UD Sumber Rejeki.

Dayat menjual kaca cermin dengan dua jenis yakni kaca cermin polos tanpa bingkai dan kaca cermin polos dengan bingkai. Untuk bingkai, kebanyakan kaca cermin yang dibuat oleh Dayat menggunakan kayu jati. “Ada juga yang fiber tapi cuma sedikit dan ukuran kacanya kecil,” tambah Dayat.

Dayat melego kaca cermin dengan bingkai kayu jati berbentuk oval anggur seharga Rp 350.000. Sedangkan untuk kaca cermin bentuk persegi panjang ukuran 60 cm x 90 cm dengan bingkai kayu jati, harganya Rp 800.000.

Semakin besar ukuran kaca dan semakin sulit ukiran bingkai, Dayat akan memasang harga lebih tinggi. Misalnya untuk kaca cermin persegi panjang dengan ukuran 200 cm x 150 cm, Dayat mematok harga hingga Rp 2,5 juta.

Pelanggan pun kebanyakan lebih menyukai kaca dengan bingkai kayu jati ukiran ketimbang bingkai fiber. Meski mahal, kaca cermin dengan bingkai kayu jati lebih enak dilihat dan lebih kuat. Biasanya pembeli meletakkan cermin berbingkai kayu jati itu di ruang tamu. Karena itu, “Ukiran pada bingkai juga harus indah,” terang Dayat.

Sedangkan Lupi Arisal, pemilik PD Hikmah Jaya, menjual kaca bevel dengan berbagai ukuran dan bentuk. Selain bentuk buah-buahan, seperti apel atau mangga, Lupi juga menyediakan cermin bevel berbentuk binatang atau tokoh kartun seperti Donald Bebek dan Winnie The Pooh. “Untuk pembelian perorangan, kaca dengan bentuk lucu ini yang laris,” kata Lupi.

Harga cermin biasa dan cermin bevel memang beda. Cermin bevel lebih mahal. Selisihnya bisa dua kali lipat. Lupi memberi contoh, cermin bevel dengan bingkai ukuran 40 cm x 160 cm dilego Rp 550.000. Namun untuk cermin biasa dengan ukuran yang sama harganya cuma Rp 300.000.

Cara membuat cermin bevel memang rumit. Awalnya, lembaran kaca dipotong sesuai dengan kebutuhan pembeli. Selanjutnya, potongan kaca itu dibentuk motif tertentu dengan menggunakan bevel. Pinggiran kaca yang masih kasar kemudian dihaluskan dengan gerinda besi dan diperhalus lagi dengan gerinda batu.

Selain jenis dan ukuran kaca cermin, ketebalan kaca cermin juga mempengaruhi harga. Baik Lupi dan Dayat menyediakan kaca cermin dengan ketebalan dua milimeter hingga lima milimeter. Makin tebal kacanya, makin mahal pula harganya.

 
Kamis, 24 November 2011 | 14:21  oleh Fitri Nur Arifenie
SENTRA CERMIN PEJOMPONGAN, JAKARTA
Sentra cermin Pejompongan: Dulu pernah ekspor, kini main di lokal (3)

Sentra pembuatan dan penjualan cermin di Pejompongan bahkan pernah terkenal hingga di luar negeri. Namun, setelah krisis moneter pada 1998, ekspor kaca cermin dari sentra ini terhenti. Selain surutnya jumlah pembeli, para perajin cermin ini juga kesulitan modal.

Jumlah penjual cermin di Pejompongan memang makin membengkak. Demikian juga dengan jumlah pembeli. Hanya saja, saat ini susah untuk menemukan pembeli asing di sini.

Padahal, sebelum krisis moneter tahun 1998, para perajin dan pedagang di sentra ini sering dihampiri pembeli asing. Bahkan beberapa pedagang juga sudah berani bermain di pasar ekspor.

Menurut Iwan Wahyudin, pemilik dari Rasdja Furniture, dulu, ketika usaha ini masih dipegang ayahnya, order cermin sering datang dari luar negeri. Bahkan, saban bulan, Rasdja Furniture mampu mengekspor cermin sebanyak 30-40 buah. “Paling banyak datang dari Singapura dan Malaysia,” kata Iwan. Para pelanggan Rasdja di luar negeri itu kebanyakan memesan cermin ukuran 100 cm x 150 cm berbingkai kayu jati.

Namun, kegiatan ekspor ini terhenti ketika krisis moneter dan harga bahan baku naik tinggi. Kini, Iwan hanya bisa berangan-angan suatu ketika nanti cermin Pejompongan bisa bertengger lagi di mancanegara. Maklum, sulitnya modal membuat para perajin dan pedagang cermin di situ susah mengembangkan usaha. Padahal, dulu pemerintah masih mau menggelontorkan modal untuk para perajin itu.

Iwan mengenang, pada 1996, Perum Peruri pernah membantu permodalan hingga sebesar Rp 10 juta. Modal ini kemudian dipergunakan oleh ayah Iwan untuk memperbesar bisnisnya dan memperbanyak penjualan kaca cermin. Memang bantuan modal itu hanya datang sekali saja karena setelah itu Rasdja mampu berkembang secara mandiri.

Menurut Iwan, saat ini para perajin dan pedagang memang lagi terdesak permodalan. Lihat saja, bahan baku cermin dan kayu kini sudah membubung tinggi. Sementara itu, para pedagang kesulitan untuk menaikkan harga jual.

Saban bulan, harga kaca naik sekitar 10%, bahkan pernah naik hingga 15%. “Harga kaca itu mengikuti harga emas. Kalau harga emas naik, ya, naik, kalau turun ikut turun,” tutur Iwan.

Adapun Lupi Arisal, pemilik PD Hikmah Jaya, memang tak berminat membidik pasar ekspor. Dia mengaku, saat ini saja tokonya kewalahan menerima order dari pembeli lokal.

Lupi beranggapan, sangat susah menembus pasar ekspor. Setidaknya dia perlu rajin berpromosi atau rajin ikut pameran. Padahal, untuk ikut pameran jelas butuh biaya tak sedikit. Sementara itu, dengan usaha seperti sekarang, promosi cukup dari mulut ke mulut saja. “Pernah juga diajak oleh pemerintah. Tapi tidak ada modal. Kan, kalau ikut pameran juga butuh modal,” kata Lupi.

Meski “main” di pasar lokal, cermin Lupi sudah menjangkau seluruh Indonesia. Ia punya pelanggan tetap dari Medan hingga Medan.

Rezeki ini juga menimpa Achmad Lutfi, pemilik PD Sumber Rejeki. Selama 10 tahun menggeluti bisnis cermin, Lutfi masih suka berjualan di pasar lokal lantaran peluangnya lokal masih sangat terbuka. Itulah sebabnya, Lutfi rajin membuka cabang, seperti di Bekasi, Tangerang, dan di Kebon Jeruk.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1321950380/83352/Sentra-cermin-Pejompongan-Tiga-dekade-becermin-di-Pejompongan-1-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/83448/Sentra-cermin-Pejompongan-Dari-cermin-persegi-sampai-bentuk-kartun-2-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/83556/Sentra-cermin-Pejompongan-Dulu-pernah-ekspor-kini-main-di-lokal-3-

SENTRA ANYAMAN ROTAN RAJAGALUH, MAJALENGKA

Peluang Usaha

 
Senin, 14 November 2011 | 15:00  oleh Hafid Fuad
SENTRA ANYAMAN ROTAN RAJAGALUH, MAJALENGKA
Sentra anyaman rotan Rajagaluh: Memikat pasar Eropa dengan rotan (1)

Desa Leuwilajah, Kecamatan Rajagaluh, Majalengka adalah salah satu sentra anyaman rotan yang terkenal. Di sentra ini ratusan orang menjadi perajin anyaman rotan. Dengan kerapian tinggi dan proses natural, produk kerajinan rotan asal Rajagaluh ini diminati pasar Eropa.

Kerajinan anyaman rotan menjadi usaha yang populer di Kecamatan Rajagaluh, Majalengka. Tak hanya dipasarkan dalam negeri, hasil industri kerajinan masyarakat Majalengka ini juga menembus pasar ekspor.

Pamor kerajinan anyaman rotan di Rajagaluh terlihat jika kita memasuki salah satu wilayah seperti Desa Leuwilajah. Di desa ini terlihat pemandangan utama berupa kolam air ukuran 10 m x 5 m atau lebih besar. Kolam-kolam itu digunakan para perajin untuk merendam rotan mentah supaya lebih awet dan tidak gampang lapuk.

Selain Leuwilajah, Rajagaluh, sentra lain yang memproduksi anyaman rotan di Majalengka adalah Desa Mindi, Kecamatan Leuwimunding, dan Desa Balagedok, Kecamatan Sindangwangi. Hanya saja nama Rajagaluh paling populer di antara sentra lain.

Data Dinas Perindustrian Kecamatan Majalengka menunjukkan, di wilayah ini terdapat 14 eksportir anyaman rotan dan menyerap 30.000 tenaga kerja. “Kalau di Rajagaluh hanya ada lima eksportir anyaman rotan,” kata Ikhwan Hidayanto, salah satu eksportir anyaman rotan di Rajagaluh dengan nama Tjakil Furniture.

Dari lima eksportir tersebut, menurut Ikhwan, ada ratusan perajin lain yang menyuplai produk. Dia sendiri saat ini bekerja sama dengan sekitar 50 perajin rotan.

Ikhwan menambahkan, Rajagaluh menjadi wilayah utama produksi kerajinan anyaman rotan karena paling banyak pemain. Selain perajin kelas rumahan, ada juga perajin dengan tenaga kerja puluhan hingga ratusan. Selain itu ada juga eksportir kelas kakap.

Bisnis kerajinan anyaman rotan di Majalengka, khususnya Rajagaluh, menurut Ikhwan dimulai sejak 1975. Walaupun daerah ini bukan penghasil rotan, namun karena banyak pihak yang bergantung dengan bisnis ini. Majalengka menjadi terkenal karena rotan.

Undi, salah satu perajin anyaman rotan di Rajagaluh sejak 1980-an, bercerita. Dia mengatakan, masyarakat Majalengka dari dulu memang sudah terkenal sebagai perajin anyaman bambu yang andal. Dari banyak perajin anyaman bambu, ada yang masih menekuni bisnis anyaman bambu sampai sekarang, namun ada juga yang berpindah ke bahan baku rotan.

Mulai tahun 1975, banyak perajin yang mencoba menggunakan bahan baku lain selain bambu. Mereka meniru Kota Cirebon yang terlebih dahulu memanfaatkan rotan sebagai bahan baku kerajinan. Dengan berbagai pelatihan dan sosialisasi hingga 1980, mulailah warga Majalengka turut memproduksi kerajinan rotan.

Produk anyaman rotan yang berasal dari Majalengka digemari karena rapi. Menurut Undi, salah satu produknya yang digemari adalah anyaman keranjang rotan. Selain rapi, pengolahan rotan mentah yang khas juga menjadikan kerajinan asal Majalengka banyak dicari.

Warna-warna anyaman rotan yang dihasilkan juga lebih natural. Mereka menggunakan bahan pewarnaan alam untuk memproses warna putih rotan mentah menjadi abu-abu. Namun, tanaman semak yang digunakan untuk pewarnaan tersebut tak mau dibocorkan. “Itu menjadi rahasia pengolahan rotan di sini,” kata Ikhwan. Untuk bisa menghasilkan warna abu-abu, rotan harus direndam selama sebulan dengan campuran bahan tanaman semak tadi.

Karena kerapian dan kekhasan itulah, banyak importir dari Eropa datang ke Majalengka. Mereka mencari pemasok bagi toko-toko mereka di berbagai negara. “Importir Eropa biasanya melihat produk anyaman dari kerapian, presisi, dan proses pengolahan yang alamiah,” kata Ikhwan. Kerapian dan presisi sebuah produk anyaman rotan bisa terlihat dari jalinan anyaman, dan lekukan yang proporsional.  

Selasa, 15 November 2011 | 15:19  oleh Hafid Fuad
SENTRA ANYAMAN ROTAN RAJAGALUH, MAJALENGKA
Sentra anyaman rotan Rajagaluh: Jaga stok rotan agar produksi aman (2)

Perajin anyaman rotan Rajagaluh, Majalengka, Jawa Barat kerap kesulitan pasokan rotan. Utamanya saat musim hujan. Agar produksi tidak terganggu, para perajin mesti pintar-pintar menjaga stok. Caranya: membeli dalam jumlah banyak.

Terletak di Kecamatan Rajagaluh, Majalengka, Jawa Barat, Anda bisa datang ke sentra kerajinan rotan dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Dari kota Majalengka, Anda hanya akan menghabiskan waktu 30 menit menuju sentra ini. Namun, bila Anda tengah berada di Cirebon, butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai.

Umumnya, perajin anyaman rotan Rajagaluh mengandalkan Pasokan rotan dari pedagang rotan di Cirebon. Rotan-rotan itu yang diperdagangkan itu berasal dari Kalimantan, Sumatra dan Sulawesi.

Dari banyak daerah sumber rotan, perajin rotan Rajagaluh lebih menyenangi rotan Kalimantan. “Harganya lebih murah,” celetuk Ikhwan Hidayanto, pengusaha kerajinan rotan dari Tjakil Furniture cepat.

Berdasarkan jenis rotan, banyak perajin rotan Rajagaluh yang membuat produk kerajinan dari rotan taman sega (Calamus caesius). Tapi, mulai tahun 2004, sebagian perajin mulai membuat anyaman rotan dari rotan jenis Soft koboo. Istimewanya rotan jenis ini adalah warnanya yang putih serta ringan.

Meski banyak orang bilang, pasokan rotan di Indonesia melimpah, perajin rontan Rajagaluh kerap kesulitan mendapatkan bahan baku kerajinan mereka. Penyebab utamanya adalah cuaca. “Saat musim hujan, suplai rotan seret,” ujar Ikhwan.

Agar produksi anyaman aman, Ikhwan mengaku harus pintar mengatur stok rotan. Ia memilih membeli dalam jumlah banyak bila pasokan tengah melimpah. Sekali beli, Ikhwan membeli rotan hingga 30 ton. Dengan cara ini, Ikhwan bisa terus berproduksi.

Sekadar informasi, rotan yang baru dibeli tidak langsung bisa dibuat anyaman. Terlebih dulu, rotan harus diolah menjadi warna abu-abu. “Warna ini disenangi pembeli Eropa,” katanya.

Proses mengolah rotan cukup sederhana. Perajin hanya merendam rotan dalam kolam yang sudah dicampur racikan pewarna alami dari daun jenis semak. Usai perendaman, rotan harus dikeringkan, lantas baru dianyam.

Dalam sepekan, Ikhwan mengaku mengolah rotan Soft koboo sebanyak lima ton hingga delapan ton. Ia mempekerjakan 50 perajin untuk mengolah 12 ton-18 ton rotan per bulan hingga menjadi produk anyaman

Kerajinan anyaman yang dihasilkannya adalah pot bunga, tempat baju kotor, peti, hingga lemari. Semua hasil produksi itu Ikhwan ekspor ke Belanda. Saban bulan, ia mengekspor dua sampai empat kontainer produk anyaman ke sana. “Nilai ekspor saya US$ 14.000-US$ 17.000 per bulan,” terang dua.

Pemain lain, Undi memilih berbisnis rotan sisa ekspor. Ia membeli produk rotan yang tak layak ekspor untuk dijual kembali ke pasar domestik. Umumnya, produk itu adalah produk yang sedikit cacat atau rusak.

Sebelum melempar produk ke pasar. Undi yang sudah melakoni bisnis ini sejak tahun 90-an terlebih dulu akan memperbaiki produk yang cacat atau rusak. Undi yang biasanya membeli satu produk anyaman Rp 40.000 itu mendapat omzet Rp 25 juta per bulan dari bisnis ini. 

 
Rabu, 16 November 2011 | 13:26  oleh Hafid Fuad
SENTRA ANYAMAN ROTAN RAJAGALUH, MAJALENGKA
Sentra anyaman rotan Rajagaluh: Sulit tumbuh akibat pasokan rotan langka (3)

Perajin anyaman rotan di Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat sulit untuk menambah produksi. Selain masalah kelangkaan bahan baku rotan berkualitas, perajin mengeluhkan harga rotan yang bisa naik empat sampai lima kali dalam setahun.

Walaupun perajin anyaman rotan di Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat ekspor ke mancanegara, tapi mereka tak luput dari masalah produksi. Mulai dari masalah kelangkaan bahan baku rotan, hingga masalah kenaikan harga rotan yang terjadi tiap tahun.

Kelangkaan pasokan bahan baku rotan dirasakan perajin anyaman rotan sejak tahun 2005, semenjak pemerintah membuka keran ekspor rotan. Perajin menilai, kebijakan ekspor rotan itu menghambat pasokan rotan ke daerah termasuk ke Rajagaluh, Majalengka.

Ikhwan Hidayanto, pengusaha kerajinan rotan Tjakil Furniture bilang, sejak keran ekspor dibuka, bahan baku rotan lebih banyak diekspor ketimbang dijual di dalam negeri, terutama rotan yang berkualitas tinggi. “Kualitas rotan yang tersisa hanya rotan berkualitas rendah,” keluh Ikhwan.

Ikhwan sendiri mengaku kesulitan mendapatkan pasokan rotan berkualitas itu. Jika pun tersedia, Ikhwan mesti merogoh kocek lebih dalam karena harga naik. “Kasihan perajin yang harus menambah modal agar bisa tetap bekerja dan produksi,” terang Ikhwan.

Keluhan sama disampaikan oleh Wawa, perajin anyaman rotan dari CV Dita Mandiri Persada di Rajagaluh. Wawa mengaku sulit mendapatkan pasokan rotan jenis soft koboo. “Kelangkaan rotan itu terjadi di Cirebon,” terang Wawa yang biasa memasok rotan dari Cirebon.

Dampak keterbatasan pasokan rotan itu mengganggu produksi anyaman rotan milik perajin. Wawa mengaku sering terlambat mengirim pesanan anyaman rotan milik pembelinya di luar negeri. “Kondisi ini menghambat ekspor kami,” katanya.

Sebenarnya Wawa ingin mengatasi kelangkaan bahan baku rotan dengan membeli langsung rotan itu kepada produsen di Kalimantan. Namun upaya itu urung dilakukan karena biayanya sangat mahal.

Selain seretnya pasokan rotan, Wawa mengeluhkan harga rotan yang naik terus tanpa henti. Wawa mencontohkan, sepanjang tahun ini saja harga rotan soft koboo naik 44% . “Tahun lalu harga rotan soft koboo Rp 9.000 per kilogram (kg), sekarang sudah Rp 13.000 per kg,” urai Wawa.

Kenaikan harga bahan baku rotan menambah biaya produksi anyaman rotan. Agar perajin tidak merugi, sebagian mereka melakukan rasionalisasi harga atau memangkas laba. “Sekarang kami terpaksa ambil untung tipis,” jelas Ikhwan.

Andre Sundriyo, Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Mebel, Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) bilang, keluhan perajin itu merupakan masalah lama yang tak berkesudahan. Ia berharap pemerintah membentuk lembaga khusus guna menjaga suplai bahan baku rotan. “Pemerintah sebaiknya membuat lembaga seperti Bulog yang bertugas menjaga suplai rotan,” harap Andre.

Selain masalah pasokan, ia berharap pemerintah melakukan bimbingan teknis untuk mengembangkan desain anyaman milik perajin. “Desain anyaman rotan itu seperti desain fesyen, yang cepat berkembang,” ungkap Andre.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1321257642/82638/Sentra-anyaman-rotan-Rajagaluh-Memikat-pasar-Eropa-dengan-rotan-1-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1321345144/82760/Sentra-anyaman-rotan-Rajagaluh-Jaga-stok-rotan-agar-produksi-aman-2-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/82850/Sentra-anyaman-rotan-Rajagaluh-Sulit-tumbuh-akibat-pasokan-rotan-langka-3-

SENTRA KERAMIK CIKUDA WANAHERANG, BOGOR

Peluang Usaha

Selasa, 15 November 2011 | 16:21  oleh Fahriyadi
SENTRA KERAMIK CIKUDA WANAHERANG, BOGOR
Sentra keramik Cikuda Wanaherang: Tempat berburu ubin keramik murah di Bogor (1)

Bagi yang berminat berburu ubin keramik berharga murah, sebaiknya datang ke sentra ubin keramik Cikuda Wanaherang, di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Di sana terdapat 20 pedagang ubin keramik yang menjual ubin keramik dengan harga miring.

Bagi Anda yang butuh ubin keramik, tak ada salahnya mampir di sentra penjualan ubin keramik yang ada di Jalan Raya Cikuda Wanaherang, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Di lokasi ini terdapat 20 pedagang ubin keramik yang menjual ubin keramik dengan harga miring.

Untuk mencapai lokasi tidaklah sulit, pedagang ubin keramik itu berjajar di sisi kanan dan kiri jalan Cikuda Wanaherang. Jalan ini merupakan akses utama yang menghubungkan Kecamatan Gunung Putri dengan Kecamatan Cileungsi.

Menuju lokasi bisa menggunakan akses jalan Cibubur menuju Cileungsi. Setelah itu bisa mengambil jalan menuju arah Gunung Putri. Dari Cibubur sampai lokasi setidaknya butuh waktu 20 menit sampai 30 menit dengan kendaraan pribadi.

Saat tiba di lokasi, mata dengan mudah tertuju pada tumpukan ubin keramik dengan beragam motif, jenis dan ukuran. Pedagang ubin keramik di sentra itu memajang dagangan di halaman rumah yang disulap menjadi kios ubin keramik.

Sentra penjualan ubin keramik itu muncul sejak tahun 1990-an. Saat itu warga menampung ubin keramik cacat produksi dari pabrik yang ada di sekitar Cikuda Wanaherang. Setelah diperbaiki, ubin keramik itu dijual lagi di lokasi yang kini dikenal sebagai sentra ubin keramik Cikuda Wanaherang.

Agus, salah seorang pedagang ubin keramik di sentra itu mengaku, dirinya adalah pedagang pertama yang membuka lapak ubin keramik di sentra itu. “Saya mulai usaha sejak tahun 1992,” kata Agus.

Selain Agus, ada Warno dan Rohmat yang juga ikut buka lapak. Dengan adanya lapak, warga dengan mudah memajang dan memasarkan ubin keramik itu. Apalagi mereka menjual ubin keramik dengan harga miring. “Karena ramai, banyak warga ikut profesi kami,” jelas Agus.

Pedagang ubin keramik di sentra Cikuda Wanaherang itu menjual ubin keramik seharga Rp 23.000 per meter persegi (m2), sedangkan ubin jenis granit dijual mulai Rp 55.000 per m2.

Menurut Agus, kehadiran sentra ubin keramik itu membuat ekonomi warga Cikuda Wanaherang membaik. Sebagian warga yang berbisnis ubin keramik bisa tersenyum karena menikmati laba yang menggiurkan.

Namun ada juga pedagang ubin keramik lain yang tersenyum getir karena usaha mereka gagal di tengah jalan. “Jualan ubin keramik tidak seperti rumus matematika yang punya hitungan pasti, jika usaha dikelola baik bisa sukses tapi kalau salah kelola bisa rugi, ” kata Agus pemilik kios Sahabat Keramik itu.

Salah satu warga yang tertarik berbisnis ubin keramik itu adalah Rudi Halidi, pemilik Maura Keramik yang membuka usaha sejak Maret 2011. “Awalnya, saya berjualan keramik sebagai usaha sampingan, tapi ternyata usaha ini bisa jadi sandaran hidup kami,” terangnya.

Walau terbilang baru, usaha Rudi itu berkembang karena ubin keramik yang ia jual menyasar segmen pasar menengah ke bawah. “Walau kualitas kelas dua, kami menjual dengan harga terjangkau,” kata Rudi.

Kini, pasokan ubin keramik pedagang tak lagi datang dari pabrik keramik di Cikuda Wanaherang saja. Banyak pabrik keramik di Bogor dan Karawang ikut memasok ubin keramik kepada para pedagang di Cikuda.  

Rabu, 16 November 2011 | 13:56  oleh Fahriyadi
SENTRA KERAMIK CIKUDA WANAHERANG, BOGOR
Sentra keramik Cikuda Wanaherang: Tekan margin untuk tingkatkan penjualan (2) 

Margin minim yang diambil oleh pedagang keramik di Cikuda Wanaherang membuat sentra ini terkenal menjual keramik murah berkualitas. Pelanggannya tak hanya datang dari Bogor namun juga Jakarta, Bandung, hingga Medan. Penjualan makin kinclong karena booming properti.
Pertumbuhan properti yang cukup pesat di Bogor dan wilayah sekitar Jawa Barat membuat penjualan keramik di Jl Raya Cikuda Wanaherang, Bogor makin berkilat. Dengan varian kualitas keramik yang ditawarkan, sentra penjualan ini semakin ramai dari waktu ke waktu.
Selain keramik lantai, dinding, dan kamar mandi, sentra ini juga menawarkan kualitas keramik dari nomor satu hingga nomor empat. Oleh karena itu sentra ini tak hanya didatangi warga Bogor saja, namun juga pembeli dari Jakarta, Tangerang, Bandung, hingga Medan.
Agus, pemilik toko keramik Sahabat Keramik mengaku permintaan keramik selalu meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan permintaan ini didorong oleh semakin banyaknya pembangunan perumahan, terutama di Bogor. “Permintaan meningkat namun dari sisi pendapatan peningkatan tidak terlalu besar karena pesaing bertambah dan harga keramik naik tiap tahun,” kata Agus, 57 tahun.
Agus mengatakan, tiap bulan mampu menjual keramik kualitas 3 dan 4 mencapai 6.000 meter. Dengan harga antara Rp 25.000 sampai Rp 40.000 per meter, omzet Agus mencapai Rp 180 juta per bulan. Harga jual keramik selain ditentukan dari kualitas, juga dilihat dari motifnya.
Peningkatan penjualan juga dirasakan Hermawan, pengelola toko Puri Keramik di sentra yang sama. Walau baru tiga bulan berdiri, namun Hermawan mengaku mendapat keuntungan lumayan. Puri Keramik tiap bulan mampu menjual sekitar 4.000 meter keramik. “Harga jual rata-rata Rp 25.000 per meternya,” jelasnya.
Sedangkan Anda Suhanda, pemilik Rai Jaya Granit mengaku bisa menjual hingga 1.000 granit berbagai ukuran tiap bulan. “Omzet kami sekitar Rp 75 juta per bulan,” ujarnya blak-blakan. Khusus menjual granit, Rai Jaya menyediakan berbagai ukuran mulai 60 cm x 60 cm hingga 80 cm x 80 cm dengan rentang harga Rp 70.000 sampai Rp 77.000 per meter.
Anda Suhanda mengaku telah memulai usaha penjualan granit sejak 2009. Walau harga granit lebih mahal, namun permintaannya selalu ada dan lumayan besar.
Permintaan yang tinggi baik keramik maupun granit seiring dengan pamor Cikuda Wanaherang sebagai tempat penjualan keramik murah namun berkualitas.
Menurut Agus, sebagian penjual di sentra ini telah sepakat untuk mengambil keuntungan kecil sewajarnya. Agus sendiri mengaku hanya mengambil margin 5% dari tiap meter keramik yang dijualnya.
Agus mengaku, tetap mengambil keuntungan wajar walau harga beli dari pabrik naik sering naik sekitar Rp 2.000 per meter. “Saya kadang hanya mengambil untung Rp 500 per meter untuk pelanggan yang mengambil dalam jumlah banyak,” katanya.
Sebagai sentra penjualan keramik yang sudah berdiri sejak 10 tahun lalu, Hermawan mengatakan bahwa prospek berjualan keramik masih sangat potensial, terlebih di wilayah Cikuda Wanaherang. Ia mengaku sebagian pelanggannya datang dari Bogor, Jakarta, dan Bekasi, termasuk sekitar Jawa Tengah.

 

Kamis, 17 November 2011 | 14:02  oleh Fahriyadi
SENTRA KERAMIK CIKUDA WANAHERANG, BOGOR
Sentra keramik Cikuda Wanaherang: Pedagang khawatir serbuan ubin impor (3)

Persaingan bisnis antarpedagang ubin keramik di Cikuda Wanaherang, Bogor adalah biasa. Para pedagang justru khawatir dengan peredaran ubin keramik impor dari China dan Vietnam. Selain harga miring, ubin keramik impor itu menawarkan motif yang menarik.

Maraknya bisnis properti serta merta turut mendongkrak kebutuhan ubin keramik Ini pula yang membuat pedagang ubin di Cikuda, Wanaherang, Bogor semakin ramai. Jika dulu hanya ada tiga pedagang ubin keramik, kini sudah berdiri 20 kios yang menjual beragam ubin keramik dan granit.

Bertambahnya jumlah pedagang tentu saja memperketat persaingan pasar antarpedagang. Agar tidak terjadi konflik, pedagang menerapkan asas kekeluargaan. Mereka saling membantu dalam menjalankan bisnis ini.

Rudi Halidi, pemilik kios Maura Keramik mengatakan, sesama pedagang bekerja sama dalam menyediakan pasokan ubin keramik. “Jika saya kurang stok, saya akan pesan stok ubin keramik dari pedagang lain dengan cara bagi hasil,” terang Rudi.

Selain itu, mereka juga sepakat untuk menjaga harga tetap stabil dan tidak saling menjatuhkan harga jual mereka. “Rata-rata produk sejenis harga sama, kalau beda tidak terlalu jauh,” terang Rudi.

Hermawan, pemilik kios Puri Keramik menambahkan, meski ia terbilang sebagai pedagang baru, dia nyaman menjalin kerja sama dengan pedagang lain, termasuk pedagang lawas. “Pedagang di sini sebenarnya kan tetangga. Jadi saling bantu membantu,” kata Hermawan.

Agus, pemilik Sahabat Keramik yang merupakan pedagang perintis di sentra ubin keramik Cikuda Wanaherang mengatakan, kehadiran pedagang baru bukanlah ancaman bagi pedagang lama di sentra ini. “Pedagang baru menjadi teman layaknya mitra,” jelas Agus. Meski begitu, Agus mengakui bahwa persaingan usaha ubin keramik semakin ketat dengan kedatangan mereka.

Makanya, agar tetap mendapat pelanggan, pedagang harus meningkatkan pelayanan kepada pelanggan. “Kami terpacu untuk memberikan servis terbaik ke konsumen,” ujar Agus yang mengajak dua orang anaknya untuk ikut berbisnis keramik di Cikuda.

Para pedagang keramik Cikuda yakin, bisnis keramik ke depan akan tetap mengkilat. Kedatangan keramik impor dari China dan Vietnam memang membuat konsumen senang lantaran pilihannya beragam.

Namun, kata Rudi, kehadiran keramik impor membuat khawatir produsen keramik lokal. Produk mereka bisa tersisih dari pasar. Apalagi, dari sisi harga, keramik impor asal China dan Vietnam jauh lebih murah ketimbang ubin keramik lokal. Belum lagi soal motif dan desain. “Keramik impor lebih unggul,” terang Rudi,

Rudi lantas memberi contoh: harga keramik kualitas satu dengan desain dan motif yang menarik dari China dijual Rp 60.000-Rp 80.000 per meter persegi (m²), sementara keramik lokal kualitas satu dijual Rp Rp 115.000 per m². Padahal, menurut Rudi, ketimbang produk impor, daya tahan keramik lokal lebih unggul.

Selain mengharapkan campur tangan pemerintah untuk bisa membendung serbuan keramik impor, industri keramik harus segera meningkatkan mutu desain dan motif.

Apalagi, “Pembeli sekarang suka membeli ubin keramik yang bermotif menarik dan baru,” tambah Rudi.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/82973/Sentra-keramik-Cikuda-Wanaherang-Pedagang-khawatir-serbuan-ubin-impor-3-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1321348896/82772/Sentra-keramik-Cikuda-Wanaherang-Tempat-berburu-ubin-keramik-murah-di-Bogor-1-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/82855/Sentra-keramik-Cikuda-Wanaherang-Tekan-margin-untuk-tingkatkan-penjualan-2-

SENTRA PEMBUATAN BONEKA CIKAMPEK

Peluang Usaha

SENTRA USAHA

Senin, 07 November 2011 | 16:22  oleh Fitri Nur Arifenie
SENTRA PEMBUATAN BONEKA CIKAMPEK
Sentra boneka Cikampek: Surga berburu aneka boneka lucu (1)

Mainan menyerupai orang, hewan atau tokoh kartun yang disebut boneka ini banyak disukai anak-anak hingga orang dewasa. Nah, aneka boneka ini sejatinya banyak yang berasal dari Cikampek, Karawang. Di sana ada ratusan perajin dan puluhan toko boneka.

Boneka berasal dari bahasa Portugis, yaitu boneca yang artinya, mainan yang menyerupai manusia, hewan atau tokoh kartun. Mainan ini termasuk mainan tertua karena sudah ada sejak zaman Yunani, Romawi ataupun Mesir kuno.

Walaupun termasuk mainan lawas, boneka masih banyak digandrungi termasuk di Indonesia. Tidak hanya anak-anak, boneka juga digemari remaja hingga orang dewasa.

Bagi Anda yang gemar boneka, tak ada salahnya berburu boneka di Desa Cikampek Utara, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Di desa itu ada ratusan perajin yang memproduksi aneka boneka.

Lokasi desa ini bisa ditempuh dalam waktu dua jam dari Jakarta via tol Jakarta-Cikampek. Setelah keluar dari gerbang tol Cikopo, lokasi bisa ditempuh dengan waktu 10 menit hingga 15 menit.

Dari gerbang tol Cikopo itu, Anda bisa menggunakan kendaraan umum atau ojek, meski dengan tarif yang tentu lebih mahal.

Bagi warga setempat, nama sentra boneka Cikampek Utara ini lebih dikenal dengan nama sentra boneka Kampung Baru, karena sentra ini persisnya di Dusun Kampung Baru. Selain ratusan perajin boneka, di sebuah gang di Kampung Baru berjejer sekitar 30 toko boneka.

Berbagai toko itu memajang aneka boneka berbentuk satwa, seperti singa, anjing, kucing, panda, lumba-lumba, dan kura-kura. Selain itu, toko-toko ini juga menjual ada boneka berbentuk tokoh kartun seperti Doraemon, Sinchan, dan yang lain-lain.

Wasno, seorang pedagang boneka bilang, sentra boneka Cikampek Utara itu berdiri sejak 1980-an. Namun baru berkembang pesat sejak 1997. “Awalnya hanya lima kepala keluarga (KK) yang membuat boneka, tapi lama-kelamaan perajinnya tambah banyak,” kata pemilik toko boneka Aldi Jaya itu.

Pertama kali produksi boneka, warga Cikampek Utara itu hanya mengandalkan bahan baku dari sisa pabrik garmen. Wasno menjelaskan, ketika itu, harga boneka Cikampek itu lebih miring karena perajin menggunakan bahan baku sisa garmen. Karena itu wajar jika penggemar atau pemilik toko boneka doyan berburu boneka di Cikampek.

Karena harga nan relatif murah, desa ini tak pernah sepi pembeli. Para perajin perlu merekrut banyak tenaga kerja. Hingga awal 1990-an, satu per satu pekerja mulai pandai membuat sendiri boneka dan memisahkan diri dari majikan untuk merintis usaha sendiri.

Lama-kelamaan jumlah perajin itu makin banyak, dari semula lima orang, kini sudah mencapai ratusan perajin. Bahkan, bisa dibilang, seluruh warga Kampung Baru kini berprofesi sebagai perajin boneka. Lihat saja, banyak rumah yang kini disulap menjadi bengkel pembuatan boneka.

Data terakhir menunjukkan, setidaknya ada 50 rumah yang merangkap sebagai “pabrik” boneka. Di setiap pabrik itu, ada lima hingga tujuh pembuat boneka yang bekerja dengan dibantu mesin jahit.

Faishal Ridla, salah satu perajin boneka bilang, boneka hasil produksi perajin itu banyak dibeli pelanggan dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Selain itu mereka juga melayani permintaan boneka dari Sumatra, Bali hingga Indonesia Timur. “Saya juga punya pelanggan dari Papua,” ujar Faishal yang juga punya toko boneka Fanny Collection.

Walaupun sudah memproduksi boneka sendiri, tapi Faishal mengaku tak bisa melayani pesanan boneka dalam jumlah banyak. Nah, kalau ada pesanan dalam jumlah besar, dia harus membagi pekerjaan itu ke perajin lain.

Soal harga boneka made in Kampung Baru ini juga tak membuat kantong bolong. Harga boneka dipatok mulai harga ribuan hingga puluhan ribu saja. Lihat saja, boneka Spongebob segede bantal harganya cuma Rp 20.000.

 

Selasa, 08 November 2011 | 14:36  oleh Fitri Nur Arifenie
SENTRA PEMBUATAN BONEKA CIKAMPEK
Sentra boneka Cikampek: Boneka kartun populer jadi tambang uang (2)

Untuk menggaet pelanggan, perajin boneka di Dusun Kampung Baru, Cikampek, Karawang, rajin mengikuti film kartun yang lagi populer, seperti Shaun The Sheep. Belakangan permintaan, boneka ini membanjir hingga perajin menolak pesanan.

Supaya penjualan boneka bisa laris manis, perajin boneka di Dusun Kampung Baru, Desa Cikampek Utara, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, selalu membuat boneka dengan karakter tokoh kartun yang sedang populer.

Di antara karakter tokoh kartun populer itu adalah Spongebob, Teddy Bear, atau Micky Mouse. Tapi baru-baru ini perajin juga memproduksi karakter tokoh kartun Shaun The Sheep, yang belakangan sedang naik daun.

Asal tahu, tokoh Shaun The Sheep merupakan aktor kartun dari seri animasi produksi CBBC Inggris yang tayang di televisi swasta Indonesia. Film kartun Shaun The Sheep bercerita tentang kehidupan sekelompok domba di peternakan.

Karena menarik, penggemar film Shaun The Sheep itu turut menggemari bonekanya. Tidak hanya anak-anak tapi juga kalangan remaja. “Dalam sehari saya bisa menjual 150 potong boneka Shaun The Sheep,” kata Wasno, pedagang boneka di sentra tersebut.

Demikian juga dengan Faishal, pedagang sekaligus perajin boneka, juga kebanjiran pesanan boneka Shaun The Sheep. Bahkan, lantaran permintaan terlalu banyak Faishal pernah menolak pesanan pelanggan. “Produksi saya terbatas, dan saya hanya bisa layani 900 buah per pekan,” ungkap Faishal.

Boneka Shaun The Sheep bikinan Faishal atau Wasno itu dijual dengan harga beragam. Untuk boneka ukuran kecil dijual mulai Rp 17.000 sampai Rp 19.000 per buah. Untuk boneka yang agak lebih besar dijual mulai Rp 27.000 sampai Rp 50.000 per buah.

Walaupun pesanan membanjir, perajin boneka mengaku tak mau memproduksi terlalu banyak. Sebab tren pasar boneka sering bersifat musiman, paling lama hanya selama tiga sampai lima bulan saja. “Setelah musimnya habis, pesanan boneka itu akan sepi lagi,” terang Wasno.

Wasno memberi contoh, tren pesanan boneka tokoh kartun Upin dan Ipin yang naik daun tahun lalu. Kenaikan pesanan boneka tokoh kartun dari Negeri Jiran itu hanya lima bulan. “Bahkan sekarang kami sudah tidak memproduksi lagi,” ucap Wasno.

Tapi, tidak seluruh boneka ramai sesaat saja. Ada boneka tokoh kartun yang tak kenal musim seperti boneka Spongebob dan boneka Teddy Bear. “Boneka ini selalu ada peminatnya,” terang Wasno.

Untuk boneka Teddy Bear ukuran manusia dewasa dijual mulai Rp 60.000 sampai Rp 80.000 per boneka. Selain kedua tokoh kartun populer itu, penjualan boneka satwa juga tidak mengenal musim. Seperti boneka berbentuk singa, jerapah, kura-kura, sapi, dan lumba-lumba.

Dalam sebulan Wasno menjual ribuan boneka beragam karakter. Selain produksi sendiri, Wasno juga menjual boneka buatan perajin lain. “Setiap pelanggan saya belanja minimal Rp 10 juta, karena kebanyakan mereka adalah pedagang,” kata Wasno.

Dari berjualan boneka itu, saban bulan Wasno mampu meraih omzet hingga Rp 500 juta. Adapun omzet Faishal lebih besar lagi. “Rp 800 jutaan sebulan,” ujar Faishal, sumringah.  

Rabu, 09 November 2011 | 14:04  oleh Fitri Nur Arifenie
SENTRA PEMBUATAN BONEKA CIKAMPEK
Sentra boneka Cikampek: Perajin boneka butuh belaian pemerintah (3)

Perajin dan pedagang boneka di Cikampek, Karawang, Jawa Barat mendambakan perhatian dari pemerintah. Mereka berharap mendapat bantuan kredit berbunga ringan bagi pengembangan usaha. Para perajin juga mendambakan pemasaran boneka yang lebih luas.

Walaupun perajin dan pedagang boneka di Dusun Kampung Baru, Desa Cikampek Utara, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat sudah ada sejak 1980-an tetapi mereka tak luput dari masalah. Di antaranya adalah minimnya modal untuk mengembangkan usaha.

Wasno, perajin dan pedagang boneka mengaku, sejak memulai membuat boneka pada 1991, ia belum pernah mendapatkan bantuan modal dari pemerintah. “Pemerintah tak peduli pada kami,” keluh Wasno.

Bagi perajin boneka, masalah permodalan memang jauh di luar jangkauan mereka. Ingin kredit pun tak banyak bank yang mau memberi. Menunggu bantuan pemerintah, juga tak kunjung tiba. Padahal mereka butuh menambah pembelian bahan baku dan mesin jahit untuk memperbesar usaha.

Bagi Faishal, yang juga perajin dan pedagang boneka, sejak merintis berdagang boneka pada 2002 lalu, tak sekalipun mendengar selentingan apalagi rencana pemerintah akan mengucurkan modal di Kampung Baru. “Kalaupun usaha kami berkembang itu karena usaha sendiri,” jelas Faishal.

Karena tidak dapat bantuan modal dari pemerintah, Wasno berinisiatif mencari pinjaman ke perbankan. Namun ia lebih suka meminjam uang ke perbankan swasta daripada perbankan pelat merah yang dinilainya berbunga tinggi. “Saya pernah ajukan ke BNI tapi dipersulit dan uangnya tidak cair,” keluh Wasno.

Sama halnya dengan Faishal yang juga meminjam uang dari perbankan untuk menjalankan usahanya. Namun uang pinjaman itu tidak hanya ia gunakan sendiri, tetapi dipinjamkan lagi kepada perajin yang butuh modal. “Tujuannya agar perajin bisa tetap produksi,” kata Faishal.

Tapi Faishal tidak mengutip bunga dari pinjaman itu. Untuk pembayaran utang dari perajin itu ia mengutipnya dari setoran boneka yang diproduksi perajin.

Itulah sebabnya Faishal meminta pemerintah untuk lebih peduli, terutama, pada perajin boneka. Terutama untuk perajin skala kecil yang kesulitan mengakses kredit ke perbankan.

Keluhan yang sama juga dirasakan Dendi Ramdani, perajin boneka di Kampung Baru. Ia mengaku hanya mengandalkan modal sendiri untuk produksi boneka. Dendi berharap ada Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) dari BUMN di sentra boneka itu. “Perajin boneka di Bandung bisa ikut PKBL, tapi kami, kok, tidak ada program itu,” tanya Dendi.

Selain masalah akses modal, pedagang dan perajin juga mengeluhkan minimnya akses pemasaran. “Dulu pemerintah pernah ajak pameran tapi tidak ada hasilnya,” ungkap Wasno.

Memang susah mengharapkan uluran tangan pemerintah. Padahal, kalau melongok ke belakang, di saat krisis pada 1997, sentra boneka itu terbukti mampu menampung buruh-buruh korban PHK industri di Karawang dan Purwakarta. Bahkan kini mereka sudah mandiri, mampu membuat boneka sekaligus menjualnya. “Ketika krisis malah mendapatkan banyak pesanan,” terang Wasno.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1320657737/82039/Sentra-boneka-Cikampek-Surga-berburu-aneka-boneka-lucu-1-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1320737804/82150/Sentra-boneka-Cikampek-Boneka-kartun-populer-jadi-tambang-uang-2-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/82271/Sentra-boneka-Cikampek-Perajin-boneka-butuh-belaian-pemerintah-3-

SENTRA PENJUALAN KEBAYA TANAH ABANG, JAKARTA

Peluang Usaha

Kamis, 13 Oktober 2011 | 14:00  oleh Dea Chadiza Syafina
SENTRA PENJUALAN KEBAYA TANAH ABANG, JAKARTA
Sentra kebaya Tanah Abang: Berbelanja Kebaya di Blok A dan F Tanah Abang (1)

Kalau ingin membeli kebaya jadi, datang saja ke Pasar Tanah Abang, terutama di Blok A dan Blok F. Harga kebaya di Blok F relatif lebih terjangkau dibanding dengan di Blok A. Maklum, selisih harga itu bisa jadi lantaran suasana di Blok A lebih nyaman dan lebih adem.

Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, sudah lama tenar sebagai sentra penjualan kain dan pakaian. Tidak hanya menjadi rujukan bagi konsumen yang ingin membeli produk fashion berkualitas dan murah, Pasar Tanah Abang juga menjadi rujukan bagi pedagang fashion yang ingin menjual kembali ke daerah asalnya.

Salah satu area yang menarik untuk dikunjungi di Pasar Tanah Abang adalah tempat penjualan baju kebaya siap pakai. Tersebar di beberapa lokasi seperti Blok F dan Blok A, ada sekitar 25 pedagang di Blok F. Sedangkan di Blok A ada sekitar 30 pedagang.

Di Blok F, area kebaya berada di lantai 1; di Blok A area kebaya berada di lantai dasar (SLG). Walaupun sama-sama menjual kebaya, harga yang ditawarkan di Blok F relatif lebih murah. Contohnya, untuk kebaya berbahan dasar tile, di Blok A ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 70.000 per potong. Sedangkan di Blok F, untuk bahan yang sama ditawarkan dengan harga Rp 50.000 per potong.

Penawaran harga yang lebih murah, mungkin disebabkan fasilitas bangunan di blok F tidak sebaik Blok A. Selain tidak berpendingin ruangan (AC), untuk menuju area kebaya Blok A harus menggunakan tangga manual bukan tangga berjalan. Sedangkan di Blok A suasana lebih mirip mal. Di blok ini pengunjung bisa merasakan dinginnya AC dan ber-eskalator.

Namun, meski ada selisih harga, dagangan kebaya itu sama larisnya. “Kebaya sekarang lagi digandrungi jadi penjualan lumayan,” kata Sylvia, pemilik Toko Fedora di Blok A. Ia menambahkan, kebaya sudah menjadi pakaian yang tak hanya bisa dipakai untuk acara formal namun non formal.

Berbagai bentuk, warna, dan bahan kebaya dijual di Blok A maupun Blok F, Tanah Abang. Kebaya polos, kebaya bordir, kebaya dengan hiasan sulam pita, kebaya payet, kebaya dengan hiasan manik batu-batuan juga tersedia di sini.

Walau lebih banyak menjual bentuk jadi, namun pembeli tak perlu khawatir kebayanya kedodoran. Sebab, kalau ukurannya tidak ada, pembeli bisa meminta untuk dijahitkan sesuai dengan ukuran tubuh. Sebab sebagian dari toko-toko kebaya di Tanah Abang juga menjual bahan kain kebaya dan bawahan. “Bisa juga ditambah hiasan bordir dan payet,” kata Susiana, pemilik toko Natasha Collection di Blok F.

Susiana mengaku, punya banyak pelanggan tetap yakni para pedagang kebaya eceran di luar Jawa. Pedagang-pedagang tersebut rata-rata membeli grosiran untuk dijual kembali. Selain pedagang, tentu masyarakat lain yang butuh kebaya juga datang ke sini.

Erik Budiyanto, pemilik Toko Mitra Niaga di Blok F juga menjual kebaya jadi dan bahan kebaya. Menurut Erik, lonjakan penjualan terjadi selama empat bulan setelah Hari Raya Idul Fitri. “Bulan-bulan itu merupakan musim kawin,” katanya. Selain itu, pembelian kebaya juga ramai setiap kali musim wisuda, terutama di awal dan akhir tahun. Selama empat bulan musim kawin, Erik mengaku bisa menjual hingga 20 kodi atau 400 potong kebaya siap pakai.

Tak hanya Erik yang merasakan keuntungan dari penjualan kebaya di Tanah Abang. Sylvia juga mampu menjual sekitar 1.000 potong kebaya siap pakai per bulan. Dari hasil penjualan itu dia mampu memperoleh omzet hingga Rp 100 juta per bulan. “Banyak yang membeli kodian, sehingga lebih murah,” kata Sylvia.

Untuk mendapat harga lebih murah, pembeli Blok A dan Blok F di Tanah Abang selain harus pandai menawar harga, juga disarankan membeli secara partai besar. Untuk jenis kebaya berbahan dasar silk yang dibanderol Rp 110.000 untuk satuan, bisa didapatkan dengan harga Rp 85.000 jika membeli minimal setengah lusin atau enam potong.

Peluang Usaha

 
Jumat, 14 Oktober 2011 | 15:02  oleh Dea Chadiza Syafina
SENTRA PENJUALAN KEBAYA TANAH ABANG, JAKARTA
Sentra kebaya Tanah Abang: Pembeli kian sesak, omzet malah turun (2)
dibaca sebanyak 229 kali

0 Komentar

Walau masih ramai pembeli, namun beberapa pedagang kebaya di Tanah Abang mengaku mengalami penurunan omzet. Selain bahan baku yang kian mahal, beberapa bahan aksesori kebaya dan ongkos produksi juga terus naik. Inilah yang membuat harga konsumen naik.

Meski nama tenar Pasar Tanah Abang tak lekang oleh waktu, beberapa pedagang kebaya di Blok A dan F mengaku terus mengalami penurunan omzet. “Mulai agak turun setelah 2009,” kata Susiana, pemilik Toko Natasha Collection di Blok F Tanah Abang.

Mengaku mulai membuka toko pada 2004, Susiana saat ini hanya mampu memperoleh omzet antara Rp 25 juta hingga 50 juta per bulan. Angka itu lebih rendah dibanding sebelum 2009 yang bisa mencapai lebih dari Rp 65 juta per bulan. Bahkan selama dua tahun terakhir ini, dia mengaku mengalami penurunan omzet sebesar 30%.

Menurutnya, harga bahan baku kebaya yang terus melonjak dari tahun ke tahun menjadi penyebab jumlah pembeli menurun. Apalagi bahan baku kebaya yang banyak didatangkan dari luar negeri harus dibeli dengan mata uang dolar Amerika, sehingga memberatkan pedagang.

Tak hanya bahan baku kain kebaya, harga beberapa bahan aksesori yang lain seperti payet dan manik-manik juga naik sebesar 10% dari tahun sebelumnya. Kenaikan ini, tentu saja mempengaruhi harga jual kebaya siap pakai.

Selain terbebani peningkatan bahan baku, kebaya-kebaya itu harus melewati beberapa proses produksi sebelum bisa menjadi produk siap pakai. Inilah yang membuat harga kebaya di tingkat konsumen menjadi jauh lebih mahal.

Pertama, bahan kain kebaya dibuat pola oleh para tukang jahit yang sebagian besar tinggal di Bandung. Selanjutnya, dibordir oleh perajin di Tasikmalaya agar terlihat lebih mewah dan cantik.

Setelah itu, bahan tadi dijahit menjadi pakaian jadi oleh perajin konveksi yang juga banyak terdapat di Tasikmalaya, Jawa Barat. Sebelum dikirim ke Tanah Abang, kebaya tadi akan harus melalui tahapan akhir berupa penambahan hiasan manik-manik, payet maupun batu-batuan.

Menurut Susiana, tahapan produksi yang panjang akan menambah biaya yang harus ditanggung penjual. Ia mengatakan, ongkos jahit satu pakaian kebaya setidaknya membutuhkan dana Rp 30.000. “Itu pun harga untuk pelanggan tetap,” katanya. Untuk mencari penjahit kebaya yang bagus menurutnya bukanlah hal yang mudah.

Selain kenaikan bahan baku dan ongkos produksi, faktor pengiriman barang juga dikeluhkan. Setelah melewati proses produksi di Bandung dan di Tasikmalaya, pemilik toko atau pedagang baru bisa menerima barang setelah satu atau dua minggu kemudian. Selain itu, ongkos kirim yang mahal, membuat pedagang harus berhemat dengan mengirimkan kebaya minimal 20 kodi atau 400 potong sekali kirim.

Berbagai kondisi inilah yang membuat harga jual kebaya juga meningkat. “Saya tidak mungkin jual eceran dengan harga di bawah Rp 100.000 per potong untuk kualitas premium. Karena memang ongkos produksi yang sudah mahal,” keluh Sylvia, pemilik Toko Fedora di Blok A.

Namun begitu, ia mengaku, tak jarang pembeli yang masih menawar harga untuk mendapatkan harga kebaya yang lebih murah.

Peluang Usaha

 
Senin, 17 Oktober 2011 | 13:33  oleh Dea Chadiza Syafina
SENTRA PENJUALAN KEBAYA TANAH ABANG, JAKARTA
Sentra kebaya Tanah Abang: Jual kebaya ngetren sembari jadi desainer (3)
dibaca sebanyak 109 kali

0 Komentar

Pedagang kebaya di Pasar Tanah Abang melakukan beragam cara untuk menggaet pelanggan. Salah satunya dengan memberi servis terbaik bagi pelanggan. Selain melayani model kebaya sesuai dengan permintaan pelanggan, para pedagang juga selalu memperbarui model-model kebaya dengan tren terkini.

Meski menjadi pusat penjualan kebaya grosir dan eceran di Indonesia, bukan berarti pedagang kebaya di Pasar Blok A dan F Tanah Abang mudah membukukan omzet gede.

Jika tak pandai-pandai berdagang, bisa-bisa pembeli enggan untuk belanja. Kondisi itulah yang membuat pedagang mesti kreatif membuat kebaya yang akan dijual ke pelanggan.

Seperti yang dilakukan Erik Budianto, pedagang kebaya toko Mitra Niaga di pasar Blok F, Tanah Abang. Agar dapat pelanggan, Erik menjual kebaya berbahan tile dengan desain yang bisa dipesan pelanggan. “Jenis kebaya bahan tile digemari di daerah,” terang Erik.

Agar pelanggannya suka, Erik memodifikasi kebaya itu agar terlihat mewah. Salah satunya dengan membubuhkan payet pada kebaya itu. “Saat ini, saya rutin mengirim kebaya tile ke Banjarmasin, Kupang, Surabaya dan Cirebon,” jelas Erik.

Untuk setiap kebaya, Erik menjualnya mulai dari Rp 150.000 hingga ratusan ribu rupiah. Menurutnya, harga jual tergantung tawar menawar. Kalau beli dalam jumlah banyak, Erik tak sungkan menurunkan harga.

Susiana, pemilik toko Natasha Collection di pasar Blok F Tanah Abang yang menempuh cara berbeda untuk menggaet pelanggan. “Saya fokus menyediakan kebaya model terbaru,” kata Susiana yang sudah membuka usaha sejak 2004 ini.

Susiana mengaku menjual kebaya populer di masyarakat. Belakangan jenis kebaya milik Susiana yang laris itu adalah kebaya bordir dengan bahan velvet dan katun yang mengilat.

Ia bilang, kebaya berbahan velvet dan katun merupakan pilihan kedua setelah kebaya sutra. Sebab dari sisi harga, kebaya velvet dan katun lebih murah ketimbang kebaya berbahan sutra.

Selain desain, Susiana juga memperhatikan warna kebaya populer. Ia memberi contoh, tahun ini, warna kebaya yang populer adalah warna ungu dan abu-abu. “Tren warna itu sudah sejak tahun 2010 lalu,” kata Susiana yang melayani pelanggan dari Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi itu.

Cara berbeda juga ditempuh oleh Sylvia, pemilik toko Fedora di Blok A Pasar Tanah Abang. Untuk menggaet pelanggan, Sylvia secara spesifik menyediakan kebaya model Betawi dengan desain sederhana.

Sylvia bilang, kebaya sederhana ala Betawi itu digemari anak muda karena bisa dikombinasikan dengan aksesori kalung dan ikat pinggang. “Kami harus ciptakan model kebaya sendiri, kalau tidak kami bisa kalah bersaing,” jelas Sylvia.

Ia menambahkan, pedagang kebaya di Tanah Abang tidak hanya sekadar menjadi pedagang saja. Ia juga harus bisa menjadi seorang desainer. Makanya, para pedagang harus bisa membaca selera pasar. Majalah dan televisi menjadi rujukan mereka melihat tren.

Di tengah upaya inovasi, mereka mengaku harus berhadapan dengan kenaikan bahan baku kain kebaya dan sewa toko. “Ini dilema rutin kami hadapi tiap tahun,” ungkap Susiana masygul.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/79908/Sentra-kebaya-Tanah-Abang-Berbelanja-Kebaya-di-Blok-A-dan-F-Tanah-Abang-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1318579346/80037/Sentra-kebaya-Tanah-Abang-Pembeli-kian-sesak-omzet-malah-turun-2-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/80184/Sentra-kebaya-Tanah-Abang-Jual-kebaya-ngetren-sembari-jadi-desainer-3-

SENTRA CETAKAN KUE PASAR SENEN, JAKARTA

Peluang Usaha

Kamis, 06 Oktober 2011 | 15:41  oleh Hafid Fuad
SENTRA CETAKAN KUE PASAR SENEN, JAKARTA
Sentra cetakan kue Senen: Sentra bisnis yang turun-temurun (1)

Pasar Senen punya sentra perdagangan cetakan kue yang berlokasi di Blok III. Terdapat 50-an pedagang yang menjual cetakan kue dan loyang yang terbuat dari aluminium, logam hingga plastik. Usaha dagang cetakan kue ini merupakan warisan turun-temurun sejak 1950-an.

Bagi produsen kue atau bagi pengusaha katering yang berdomisili di sekitar Jabodetabek, nama Pasar Senen di Jakarta Pusat tentu sudah sangat mereka kenal. Sebab di pasar inilah pusat perdagangan cetakan kue yang terbuat dari berbagai bahan.

Lokasi perdagangan cetakan kue itu ada di Blok III, Pasar Senen. Di sana terdapat 50 pedagang yang menyediakan aneka cetakan kue dan loyang mulai yang terbuat dari aluminium, logam, plastik, dan sebagainya.

Selain itu pedagang juga menyediakan aneka peralatan pembuat kue seperti oven, alat kukus, mixer adonan kue, serta aneka kebutuhan lainnya.

Menuju Pasar Senen relatif tidak terlalu sulit. Pasar yang berdiri sejak zaman Belanda itu dekat dengan stasiun kereta api Pasar Senen serta terminal bus dalam kota.

Walaupun pasar berdiri sejak zaman Belanda, tetapi kebanyakan pedagang cetakan kue hadir pada era 1950-an. Namun baru tahun 1985, pedagang cetakan kue itu direlokasi ke Blok III hingga sekarang ini.

Salah satu pedagang yang lama berjualan cetakan kue di Pasar Senen itu adalah Agus Winoto Halim. Pria berusia 61 tahun itu mewarisi toko cetakan kue merek ACC dari orangtuanya yang telah merintis usaha ini sejak 1950. “Toko kami yang pertama kali direlokasi ke Blok III,” klaim Agus.

Selain Agus, pedagang cetakan kue lainnya adalah Nunung, yang juga mewarisi usaha dari orangtuanya. Nunung memulai usaha karena terinspirasi dari toko ACC milik orang tua Agus. “Waktu itu orangtua sering belanja cetakan kue ke toko ACC,” kata Nunung.

Namun kini, toko milik Nunung berkembang lebih cepat ketimbang toko ACC. Nunung berhasil menambah jumlah toko dari satu toko menjadi delapan toko di lokasi Blok III Pasar Senen itu. “Suatu saat nanti usaha ini juga akan saya wariskan lagi kepada anak-anak,” terang Nunung.

Tidak hanya Agus dan Nunung saja yang menjadi pewaris toko cetakan kue di Blok III Pasar Senen itu. Keduanya bilang, ada beberapa toko cetakan kue lainnya yang menjadi bisnis keluarga turun temurun.

Nunung bilang, selain menjadi lahan ekonomi keluarga, toko cetakan kue itu juga menjadi bukti dari kesuksesan orang tua mereka. “Maka itu usaha ini harus diwariskan lagi,” kata Nunung.

Sayangnya, Blok III di Pasar Senen ini tak ditata dengan baik. Lihat saja, pedagang cetakan kue bercampur baur dengan pedagang sembako. Menurut pengurus Pasar Senen dari PD Pasar Jaya, ada 1.423 pedagang di Blok III itu. “Mayoritas memang pedagang sembako,” kata pengurus pasar yang enggan menyebut nama itu.

Padahal kalau ditata dengan baik, para pemburu cetakan kue tentu bisa berbelanja dengan lebih nyaman. Apalagi belakangan ini jumlah pedagang cetakan juga terus bertambah. Lokasi Blok III Pasar Senen itu terasa penuh dan kumuh karena banyak ruang kosong jadi tempat penimbunan dagangan pemilik toko.

Karena itu, jika berkunjung ke sana, pembeli mesti siap-siap kegerahan dan berhadapan dengan kekumuhan. “Sejak berdiri pasar ini tak pernah direnovasi,” keluh Agus yang kini berusia 61 tahun itu.

Masalah lain adalah, Blok III itu tidak terjamah sinyal telepon seluler. “Kami masih mengandalkan telepon kabel (fixed line),” jelas Agus.

Namun begitu, pedagang cetakan kue Pasar Senen tetap ramai dikunjungi pelanggan. Kebanyakan mereka adalah produsen kue, pengusaha katering hingga ibu rumah tangga. Ada juga pelanggan yang berprofesi sebagai pedagang cetakan kue yang datang khusus dari daerah. “Tapi mayoritas pembeli kami masih dari Jabodetabek,” jelas Agus.

Waktu berkunjung pelanggan kebanyakan pagi dan siang hari. Karena pada pukul 17.00 WIB, pedagang cetakan kue sudah menutup gerai.  

Jumat, 07 Oktober 2011 | 15:33  oleh Hafid Fuad
SENTRA CETAKAN KUE PASAR SENEN, JAKARTA
Sentra cerakan kue Senen: Memperbanyak toko agar bisa bersaing (2)
dibaca sebanyak 218 kali

0 Komentar

Persaingan yang kian ketat sesama pedagang cetakan kue di Blok III Pasar Senen membuat omzet mereka menurun. Untuk bisa mengais laba, perlu strategi jitu, yakni dengan menambah jumlah toko. Itulah sebabnya, beberapa pedagang punya beberapa toko.

Sentra cetakan kue Blok III Pasar Senen menawarkan berbagai produk yang berkaitan dengan pembuatan kue. Beragam loyang dipajang mulai yang berukuran mini sampai jumbo. Tak hanya ukuran, berbagai bentuk cetakan kue dengan desain menarik juga ditawarkan di sini.

Mulai bentuk yang sederhana, seperti persegi, bintang, sampai yang sedikit rumit seperti bentuk boneka juga ada. Harga yang ditawarkan juga sangat bervariasi tergantung jenis dan ukuran.

Menurut Majdi Syarif alias Adi, pemilik Toko ABC di sentra cetakan kue Pasar Senen, saat ini, hampir semua produk cetakan kue berbahan baku aluminium. Selain lebih ringan, harga yang ditawarkan juga lebih murah. Bahkan untuk cetakan kue buatan perajin di Citeureup, Bogor, bisa 30% lebih murah dibanding produk yang sama buatan pabrik.

Memang saat ini, sentra cetakan kue Pasar Senen selain menampung karya perajin asal Bogor, juga dibanjiri produk pabrikan, baik produk lokal maupun impor. Dengan penampilan yang lebih rapi, produk impor banyak disukai pembeli walaupun harganya lebih mahal.

Sebenarnya, menurut Adi, mahal murahnya harga cetakan kue ditentukan oleh tebal tipisnya aluminium. Walaupun ketebalan hanya selisih beberapa milimeter, perbedaan harga cukup signifikan.

Perbedaan harga ini pula yang menurut Adi, cukup membuatnya pusing. Sebab banyak pelanggan baru yang tidak mengetahui mengapa harga cetakan mahal, sehingga mereka batal membeli.

Keluhan yang sama juga dikatakan oleh W Lung, pemilik toko cetakan kue ACC. Menurut Lung, beberapa tahun belakangan ini omzet yang didapatnya terus mengalami penurunan. Saat ini, jika kondisi sepi, rata-rata omzet yang diperoleh Lung tak lebih Rp 400.000 per hari. “Jika ramai bisa mencapai Rp 1 juta per hari,” tambahnya.

Lung mengaku tidak tidak mengetahui mengapa omzetnya terus menurun. Yang pasti, mahalnya berbagai kebutuhan pokok yang membuat masyarakat berhenti membuat kue atau setidaknya berhenti membeli cetakan. “Kami tidak bisa memprediksi kapan pengunjung ramai,” ujarnya.

Sebenarnya tidak semua toko di sentra cetakan kue Pasar Senen menurut omzetnya. Adi mengaku omzetnya masih stabil di kisaran Rp 15 juta per per bulan per toko. Adi memiliki delapan toko serupa di Blok III Pasar Senen dan tiga di luar Pasar Senen. Kalau dari seluruh toko, Adi bisa mendapatkan omzet Rp 50 juta per bulan. Dari total omzet, “Bersihnya sekitar Rp 20 juta,” ujar Adi.

Walaupun omzetnya stabil, Adi mengakui, dagang cetakan kue di Pasar Senen saingannya semakin ketat. Semakin banyaknya penjual yang menjajakan barang yang sama, membuat pedagang harus pintar-pintar pasang strategi untuk menarik pembeli.

Inilah yang mendorong Adi membuka delapan toko di lokasi yang sama. Sebab, menurutnya, untuk mendapat keuntungan besar, pedagang harus mempunyai banyak toko sehingga volume penjualan meningkat.

Senin, 10 Oktober 2011 | 13:56  oleh Hafid Fuad
SENTRA CETAKAN KUE PASAR SENEN, JAKARTA
Sentra cetakan kue Senen: Bertahan di tengah panasnya pasar (3)

Walaupun bangunan Blok III Pasar Senen sudah uzur, puluhan pedagang cetakan kue tetap mengandalkan pasar itu untuk mencari laba. Namun pedagang mesti kerja keras karena kini mereka harus bersaing dengan pasar swalayan yang juga menjual cetakan kue.

Pasar Senen di kawasan Jakarta Pusat sudah lama dikenal sebagai pasar yang supersibuk. Apalagi setelah Pemerintah DKI Jakarta memugar pasar ini pada 1985 silam. Di pasar ini berkumpul berbagai pedagang, mulai jualan aneka jam, aneka kudapan ringan di pagi, dan juga sentra penjualan cetakan kue.

Masalahnya, keramaian pasar ini tak diimbangi dengan pengawasan keamanan yang baik. Akibatnya, tukang copet dan tukang todong pun merajalela. Pedagang di pasar ini pun mengeluh, tingginya angka kriminalitas membuat pengunjung enggan datang ke pasar ini.

W. Lung, pemilik toko cetakan kue ACC di Blok III, menceritakan, pada 1990-an silam, kejahatan itu sering terjadi dan banyak dikeluhkan pelanggannya, terutama ibu-ibu rumah tangga. Mereka enggan datang ke pasar karena khawatir menjadi korban kejahatan. “Saat itu jumlah pengunjung kami turun,” keluh Lung.

Selain masalah keamanan, pedagang juga mengeluhkan soal kenyamanan. Banyak infrastruktur pasar tidak terawat dan usang. Lung memberi contoh, gorong-gorong saluran air sering tersumbat sehingga air meluap dan menyebarkan bau busuk ke seantero pasar. Selain itu, pasar jadi lembab, kumuh, dan licin. “Masalah ini ini membuat orang malas belanja,” terang Lung.

Tak hanya itu, minimnya ventilasi udara membuat hawa panas menyengat di Blok III itu. Pengunjung bahkan harus rela bercucuran keringat jika datang belanja. Apalagi pasar BLok III itu tidak memiliki alat penyejuk udara. “Walau kami memakai kipas angin tetap saja hawa terasa panas,” kata Lung.

Namun kondisi sekarang agak lebih baik. Banyaknya keluhan itu rupanya sampai juga ke telinga PD Pasar Jaya, pengelola Pasar Senen. Mereka pun sudah memberikan solusi. Pada tahun 2000 lalu, pengelola pasar sudah menambah jumlah pegawai untuk dijadikan petugas keamanan dan juga petugas kebersihan pasar.

Tetapi peningkatan layanan keamanan dan kebersihan itu ternyata membuat pedagang mengeluarkan biaya ekstra. Mereka setiap bulan mesti merogoh kocek mulai dari Rp 240.000 sampai Rp 460.000, tergantung besar kecilnya toko, untuk ongkos petugas keamanan dan kebersihan itu. “Hasilnya memang bagus, sekarang premanisme sudah turun,” ujar Majdi Syarif, pedagang cetakan kue dari Toko ABC.

Walaupun sudah ada upaya pembenahan dari pengelola pasar, tapi pedagang cetakan kue tetap saja risau dengan kendurnya penjualan cetakan kue milik mereka. Agar omzet mereka tidak kendor, sebagian pedagang juga berjualan barang pecah belah.

Agus Winoto Halim, pedagang cetakan kue lainnya, menilai bahwa belakangan ini ada tren perubahan pola hidup membuat kue. “Sekarang orang ingin serbapraktis, mereka tidak mau lagi sibuk membuat kue di dapur,” kata dia.

Ia bilang, masyarakat lebih gemar belanja kue jadi. Kalau toh butuh cetakan, mereka mencari di pasar swalayan. “Pelanggan lebih senang ke swalayan yang sejuk,” keluhnya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1317890486/79291/Sentra-cetakan-kue-Senen-Sentra-bisnis-yang-turun-temurun-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/79396/Sentra-cerakan-kue-Senen-Memperbanyak-toko-agar-bisa-bersaing-2
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/79555/Sentra-cetakan-kue-Senen-Bertahan-di-tengah-panasnya-pasar-3

SENTRA JAMUR MERANG CILAMAYA, KARAWANG

PELUANG USAHA

SENTRA USAHA

Kamis, 04 Agustus 2011 | 13:41  oleh Bambang Rakhmanto
SENTRA JAMUR MERANG CILAMAYA, KARAWANG
Sentra jamur Cilamaya: Jamur merang menjamur di Karawang (1)

 

Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, adalah salah satu sentra penghasil jamur merang di Indonesia. Berkat kehadiran 16 kelompok petani, Cilamaya adalah salah satu pemasok kebutuhan jamur merang dalam negeri yang mencapai sekitar 30 ton per hari.

Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB, sebagian masyarakat Desa Krasak, Cilamaya, Karawang, mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Beberapa orang bersepeda motor tampak membawa keranjang berisikan jamur merang.

Mereka berbondong menuju rumah Sardi, Ketua Gabungan Kelompok Tani Bintang Jamur Mandiri. Di rumah Sardi itulah jamur-jamur tadi ditimbang dan dimasukkan ke dalam karung untuk dijual ke Jakarta, Bandung, dan Bogor.

Begitulah salah satu rutinitas petani jamur merang di Desa Krasak, Kecamatan Cilamaya, di pagi hari. Cilamaya sendiri adalah salah satu sentra penghasil jamur merang di Indonesia. Saat ini, di Cimalaya ada 16 kelompok petani jamur. Tiap kelompok memiliki tiga sampai lima anggota, sehingga total jumlah petani jamur sebanyak 47 orang dengan jumlah kubung atau rumah pembiakan bibit jamur sebanyak 1.000 unit. “Satu petani bisa memiliki tiga sampai lima unit kubung,” kata Sardi.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan, total kubung yang ada di Kabupaten Karawang mencapai 2.450 unit. Namun, dari jumlah itu, yang telah teregistrasi hanya sekitar 1.000 unit. Tiap unit mempunyai luas 4 meter x 7 meter.

Dari jumlah kubung itu, total produksi jamur merang di Karawang mencapai 3.537 ton per tahun. Untuk memproduksi jamur merang sebanyak itu membutuhkan jerami atau merang sebanyak 943.110 ton per tahun.

Dengan produksi sebanyak itu, Kabupaten Karawang memang menjadi salah satu pemasok utama jamur merang di Tanah Air. Kementerian Pertanian memperkirakan, total kebutuhan jamur merang mencapai 30 ton per hari atau 0,05 kg per kapita per tahun.

Menurut Sardi, budi daya jamur merang jelas mampu menyejahterakan petani jamur di Cimalaya. Selain itu, banyaknya kubung tentu juga membutuhkan banyak tenaga kerja. Selain itu, para buruh tani juga punya penghasilan tambahan sebagai buruh angkut jerami.

Sardi sendiri telah 18 tahun membudidayakan jamur merang. Dia memiliki dua kubung dan tiap kubung mampu memproduksi sekitar tiga kuintal jamur merang per bulan.

Harga jual jamur merang sebenarnya lumayan juga. Lihat saja, Sardi bisa menjual jamur di pengepul dengan harga antara Rp 15.000 hingga Rp 18.000 per kg untuk kualitas terbaik.

Dengan harga segitu dan dengan hasil sebanyak 600 kg, setidaknya saban panen Sardi bisa mendapatkan uang minimal sebanyak Rp 9 juta, kalau dia hanya menjual jamur kualitas terendah seharga Rp 15.000 per kg.

Hasil sebanyak itu kalau dikurangi biaya produksi yang meliputi pembelian jerami sebesar Rp 700.000 saban 40 hari sekali, pembelian bibit sebesar Rp 1,5 juta, dan biaya perawatan kubung sebesar Rp 200.000, Sardi masih mendapatkan untung bersih Rp 6,6 juta per bulan.

Nah, tentu hasil itu bisa lebih besar kalau punya kubung lebih banyak. Seperti rekan Sardi yang bernama Ichsan. Petani ini mempunyai tiga kubung yang mampu menghasilkan sembilan kuintal jamur merang per bulan.

Hasil sebanyak itu, tentu membuat Ichsan bisa tersenyum karena setidaknya dia bisa mengantongi hasil penjualan sebesar Rp 16,2 juta per bulan. 

Jumat, 05 Agustus 2011 | 15:13  oleh Bambang Rakhmanto
SENTRA JAMUR MERANG CILAMAYA, KARAWANG
Sentra jamur Cilamaya: Produksi turun karena andalkan metode lama (2)

 

Produksi jamur merang petani di Desa Krasak, Cilamaya, Karawang, terus merosot. Selama bertahun-tahun mereka belajar sendiri dengan mengandalkan metode turun temurun. Penurunan disebabkan minimnya sentuhan pemerintah dan tidak adanya metode tanam baru.

Prospek budi daya jamur merang yang bagus ternyata tidak diimbangi dengan peningkatan produksi. Bahkan, produksi para petani jamur merang di Desa Krasak, Cilamaya, Karawang mengaku terus mengalami penurunan.

Dengan mengandalkan pengetahuan bertanam jamur secara otodidak, para petani terus bertahan dengan metode tanam tradisional turun temurun. “Walaupun ada bantuan penyuluhan dari pemerintah tetapi sangat jarang,” ucap Sardi, Ketua Gabungan Petani Jamur Mandiri di Cilamaya.

Sardi mengaku, selama 18 tahun membudidayakan jamur merang, metode yang digunakannya tidak pernah berubah. Karena itu, dia berharap ada metode baru dalam membudidayakan jamur merang. Apalagi, “Produksi kami selama lima tahun terakhir mengalami penurunan,” katanya.

Menurut Sardi, petani jamur merang Cilamaya, diuntungkan dengan kemudahan mendapatkan merang atau jerami. Namun selebihnya harus berusaha sendiri untuk bisa bertahan.

Penurunan produksi juga dirasakan oleh Ichsan, salah seorang petani jamur merang di Desa Krasak. Menurutnya, jika dulu per kubung mampu memproduksi empat kuintal sekali panen, saat ini hanya mampu menghasilkan tiga kuintal saja.

Sedangkan Asnawi, petani jamur merang lainnya hanya mampu memproduksi 2,5 kuintal tiap panen per kubung. “Saya belum pernah panen lebih dari itu, tetapi kalau kurang sering,” ujarnya.

Karena itulah Sardi, Ichsan, dan Asnawi berharap pemerintah memperhatikan nasib mereka. Perhatian itu terutama dengan memberikan penyuluhan cara bertanam jamur merang yang benar, atau memberikan pengetahuan metode tanam baru yang bisa meningkatkan produksi.

“Biasanya orang yang diutus pemerintah bukan orang yang tepat, tidak mengetahui soal budi daya jamur merang,” ucap Asnawi. Karena tidak mendapatkan apa yang dibutuhkan, para petani jamur merang di sentra yang terletak di jalan alternatif menuju Cirebon ini lebih sering belajar sendiri.

Mereka harus belajar dari pengalaman untuk bisa bertahan. “Jika tidak belajar usaha kita akan cepat gulung tikar. Sudah banyak petani yang tutup karena produksinya menurun,” ujar Asnawi.

Metode budi daya jamur merang yang dipakai oleh petani masih sederhana. Tahap pertama adalah pengomposan. Tahap ini dilakukan dengan merendam jerami selama empat jam dan penaburan kapur sebanyak 5 kilogram (kg) dan dedak seberat 50 kg.

Penaburan itu dilakukan untuk mempercepat pembusukan. Setelah itu, jerami ditutup dengan terpal atau plastik tidak tembus cahaya selama tujuh sampai sembilan hari. Jerami yang telah busuk kemudian dipindah ke atas rak-rak dalam kubung.

Kubung dan jerami yang tertata rapi kemudian dipanaskan atau pasteurisasi dengan uap air panas selama 12 jam. Pemanasan dilakukan dengan menggunakan tiga drum berisi air. Drum dipasang pipa untuk mengalirkan panas. Proses pemanasan ruangan dan media tanam jamur merang berhenti sampai suhu dalam kubung sekitar 70 derajat Celcius. “Agar ruangan kubung dan media tanam bebas dari spora cendawan liar dan mikroorganisme pengganggu,” kata Sardi.

Setelah dipanaskan benih jamur kemudian di tebar diatas jerami. Dalam proses ini, petani wajib dalam keadaan bersih sebelum menebar benih. Ini dimaksudkan agar bibit tidak terkontaminasi.

Setelah benih ditebar, kubung ditutup rapat agar tidak terkena matahari dan tidak dan tidak ada bakteri yang masuk. Lalu dilakukan penyiraman selama tiga sampai lima hari berturut-turut. Pengecekan rutin setiap hari juga perlu dilakukan untuk mengawasi agar tidak ada hama pengganggu, seperti tikus. Panen dilakukan setelah 40 hari. 

Senin, 08 Agustus 2011 | 14:57  oleh Bambang Rakhmanto
SENTRA JAMUR MERANG CILAMAYA, KARAWANG
Sentra jamur Cilamaya: Petani jamur ingin pasar mengembang (3)


Jumlah petani jamur merang di Kecamatan Cilamaya, Karawang, Jawa Barat terus menjamur. Hasil panen bisa mencapai 3 ton/hari, sementara daya tampung industri pengolahan hanya 1 ton/hari. Pasokan yang melimpah membuat harga jamur turun jadi Rp 14.000 per kg.

Melihat begitu banyaknya kisah sukses petani jamur, banyak petani yang akhirnya tertarik ikut membudidayakan jamur. Jumlah petani jamur pun membengkak tajam. Kalau satu dasawarsa silam jumlah petani jamur terhitung baru puluhan, kini jumlahnya sudah mencapai ribuan orang.

Namun, bertambahnya jumlah petani dan membeludaknya panen jamur itu tidak diimbangi dengan daya serap pasar atas hasil panen jamur. Alhasil, kondisi itu membuat harga jamur Cilamaya turun.

Masalah makin rumit, karena petani tak punya pengalaman dalam memasarkan jamur atau menembus industri. Maklum, selama ini mereka langsung mengandalkan pengepul untuk menampung hasil panen jamur. “Banyak petani tidak mampu menjual jamur itu,” keluh Sardi, Ketua Gabungan Kelompok Tani Jamur Bintang Mandiri.

Tak jarang, petani jamur itu membuang jamur hasil panen karena membusuk. “Usia jamur yang dipanen hanya bertahan satu hari,” kata Sardi yang memiliki 47 anggota kelompok tani itu.

Menurut Sardi, budi daya jamur itu harus cepat dan tepat. Sebab, jamur yang sudah panen mesti sesegera mungkin dijual ke industri pengolahan atau dikirim ke pedagang jamur yang ada di pasar.

Saat harga jamur turun, petani hanya bisa membawa pulang Rp 14.000 per kilogram (kg) jamur. Harga ideal untuk jamur itu adalah Rp 25.000 per kg. “Namun harga ideal itu sulit tercapai,” kata Sardi.

Memang di Cilamaya ada industri pengolahan jamur yang bisa membeli dan menyimpan jamur. Namun, kapasitas daya tampung pengolahan jamur itu hanya satu ton per hari. Padahal, produksi jamur bisa mencapai tiga ton per hari. Nah, jamur yang tidak tertampung industri itu biasanya dijual ke tengkulak untuk dijual di luar Karawang.

Masalahnya, tengkulak terkadang membeli jamur dengan harga rendah. Karena tidak punya pilihan, petani terpaksa menjual murah jamur itu agar jamu tidak membusuk.

Saat ini, petani jamur berharap ada industri pengolahan mie instan juga pabrik cemilan dari jamur berdiri di Karawang. “Pabrik ini belum terealisasi juga,” kata Sardi.

Jika pabrik pengolahan berdiri di Karawang, jamur petani bisa langsung terserap. Selain itu, harga jamur juga bisa lebih stabil. “Tidak perlu lagi biaya transportasi mengirim ke daerah lain,” kata Sardi.

Selain berharap ada industri pengolahan jamur, petani juga berharap mempunyai alat pengering jamur. “Alat itu bisa mengurangi kadar air pada jamur,” terang Ikhsan, petani jamur.

Masalahnya, harga pengering itu mencapai Rp 30 juta per unit. Harga yang kelewat mahal buat petani. Padahal, “Jika punya alat pengering, jamur bisa disimpan lebih lama,” kata Ikhsan.

Berbeda dengan Ikhsan, Disam petani jamur lainnya mengaku optimistis dengan pasar jamur. Ia mengaku, permintaan jamur akan naik karena jamur merang adalah tanaman yang tidak menggunakan bahan kimiawi berbahaya. “Jamur juga mengandung vitamin C tinggi,” kata Disam, yakin.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1312440111/74624/Sentra-jamur-Cilamaya-Jamur-merang-menjamur-di-Karawang-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1312532038/74729/Sentra-jamur-Cilamaya-Produksi-turun-karena-andalkan-metode-lama-2
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/74888/Sentra-jamur-Cilamaya-Petani-jamur-ingin-pasar-mengembang-3