Peluang Usaha
Bagi warga Jakarta, kawasan Kalimalang, Jakarta Timur memang sohor dengan pusat kemacetan. Namun, mereka tetap kerap menyambanginya lantaran di sana juga menjadi sentra mebel dengan harga yang murah.
Pusat mebel itu tepat berada di pinggir Jalan Kalimalang Raya, akses menuju kota Bekasi. Jika Anda melakukan perjalanan dari arah Jakarta menuju Bekasi, dengan mudah Anda bisa menemukan lokasi ini.
Di sana, terdapat sekitar 15-an pedagang sekaligus sebagai perajin mebel yang menjajakan barang dagangannya. Mereka berjualan secara berkelompok. Namun, beberapa di antara mereka berdagang di lokasi terpisah, tak jauh dari kali.
Produk mebel yang mereka jual antara lain: meja, kursi, lemari, kusen, meja makan, tempat tidur, ranjang tidur bayi, hingga pigura. Mebel tersebut terbuat dari beraneka bahan baku, seperti: kayu jati belanda, meranti, kamper serta rotan.
Didi Djunaidi, salah satu perajin dan pemilik toko mebel Persada Karya bilang, pusat penjualan mebel Kalimalang sudah ada sejak 1980-an. Masa kejayaan bisnis mebel di lokasi ini terjadi setelah krisis ekonomi 1998 melanda Indonesia. “Setelah krisis ekonomi, pembeli banyak berdatangan kemari,” katanya.
Kejayaan itu memudar memasuki tahun 2005, seiring dengan membaiknya ekonomi. Saat itu, mereka bertahan dengan menjual mebel berbahan kayu jati belanda, bekas sisa pelindung peti kemas. “Kami bertahan dengan menjual kayu jati belanda yang berharga murah,” kata Didi.
Namun sejak dua tahun belakangan, peminat mebel dari kayu jati belanda juga mulai surut. Kondisi itu diperparah dengan naiknya harga bahan baku kayu jati belanda.
Kondisi tersebut berakibat pada penurunan omzet pedagang. Jika dalam sebulan pedagang mampu mengantongi omzet Rp 70 juta, kini omzet pedagang tinggal Rp 20 juta saja. Bahkan ada pedagang yang cuma mampu mengantongi omzet belasan juta saja. “Omzet paling parah akhir 2010,” jelas Didi.
Namun, secercah harapan kini kini mulai tersembul. Banyak pembeli yang kini mulai melirik mebel rotan untuk memenuhi rumahnya.
Didi bilang, penjualan mebel rotan berlahan kembali naik naik setelah pemerintah mengeluarkan himbauan untuk memakai mebel rotan. “Untung, pemerintah mau mempromosikan mebel rotan ini,” terang Didi. Jika tidak, Didi yakin usahanya akan terus menyusut.
Kondisi yang sama juga dirasakan oleh Nurhayadi, perajin mebel dan juga pemilik toko Multiprima. Sejak dua tahun belakangan, omzetnya turun dari puluhan juta rupiah menjadi belasan juta rupiah saja per bulan. “Sekarang rata-rata omzet saya Rp 17 juta per bulan,” terang Nurhayati.
Sama dengan Didi, belakangan Nurhayadi menopang bisnisnya dengan mebel kayu jati belanda. Kini, ia juga tengah berusaha beralih ke mebel rotan yang mulai banyak dicari pembeli. “Dari sisi laba, mebel rotan jauh lebih mengutungkan dari pada mebel kayu jati belanda,” katanya.
Agar memiliki banyak ragam produk, Nurhayadi juga aktif memesan rotan dari para pemasok rotan di wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura) terutama dari Cirebon.
Usia sentra mebel Kalimalang memang sudah lebih tiga dekade. Jumlah pedagang pun terus bertambah, bahkan sudah berganti. Demikian juga dengan mebel. Kalau dulu kebanyakan dari kayu jati, kini banyak pedagang yang berjualan mebel rotan.
Namun, masih ada satu ciri khas dari sentra mebel Kalimalang yang tidak berubah, yakni harga mebel yang murah. Menurut Budi Dahlan, seorang konsumen di sentra mebel itu, harga mebel di Kalimalang ini bisa tempat itu bisa 40% lebih murah dibandingkan tempat lainnya, semisal di Kramat Jati. “Harga murah memang menjadi ciri khas sentra Kalimalang,” ujar pria yang tinggal di Pondok Cabe ini.
Nurhayadi, pemilik toko Multiprima, bilang, harga murah memang menjadi andalan pedagang dalam menjual mebel di sentra ini. “Karena dengan harga murah inilah kami bisa menjaring pelanggan,” ujarnya.
Namun Nurhayadi mengakui, pedagang di sentra ini gagal menjaring pelanggan baru. Saat ini semakin banyak konsumen mebel yang beralih ke mebel besi atau aluminium.
Apalagi, saat ini tren untuk mebel lebih banyak yang model minimalis. Hal ini mengikuti perkembangan tipe rumah yang kecil dan sederhana. “Banyak penjual di sini yang masih menjajakan jenis mebel ukuran besar sehingga kurang laku,” ujar Nurhayadi.
Namun menjelang tahun baru seperti sekarang ini, biasanya para pedagang di Kalimalang bisa menarik napas lebih lega. Pasalnya, permintaan akan berbagai jenis mebel akan meningkat drastis. “Selama Desember saja, saya sudah memperoleh Rp 35 juta,” tutur Eko Pujianto, pemilik toko Karya Mebel.
Padahal, biasanya dalam sebulan ia hanya bisa meraup omzet paling banyak sebesar Rp 20 juta. Peningkatan permintaan dipicu keinginan konsumen yang masih “berprinsip” tahun baru perlu penampilan baru. “Banyak yang beranggapan, memasuki tahun baru harus memiliki perabotan baru,” papar Eko. Apalagi, model-model mebel juga terus berubah seiring berjalannya waktu.
Rezeki yang sama juga dirasakan Nurhayadi. Hingga Natal lalu, ia sudah bisa mengumpulkan omzet sebesar Rp 25 juta. “Menjelang akhir tahun permintaan mebel memang sering meningkat drastis,” ujarnya.
Bahkan pemesanan jenis mebel tertentu sudah datang dua bulan sebelumnya. “Kalau untuk pemesanan sesuai dengan keinginan pembeli memang biasanya sudah dipesan jauh-jauh hari,” imbuh Nurhayadi.
Tentu saja, kenaikan permintaan mebel ini membuat pemilik toko perlu menambah tenaga kerja. Kalau pada hari biasa, mereka rata-rata mempekerjakan lima orang, di akhir tahun mereka butuh tenaga kerja hingga delapan orang.
Kebanyakan pekerja itu direkrut pedagang dari warga sekitar sentra. “Saya memang dari dulu mempekerjakan warga asli agar bisa mengurangi pengangguran,” tukas Nurhayadi.
Uniknya, meski ramai, ada juga toko yang menawarkan promo akhir tahun. Seperti toko Persada Karya, milik Didi Djunaidi. Pria berusia 57 tahun ini mengaku tiap akhir tahun memberikan satu unit mebel gratis bila ada konsumen memesan satu set mebel ruang tamu atau ruang keluarga. “Selama ini, cukup ampuh menarik peminat pembeli,” ujarnya.
Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1325741054/86843/Sentra-mebel-Kalimalang-Pedagang-mulai-beralih-ke-mebel-rotan-1-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/87089/Sentra-mebel-Kalimalang-Kebanjiran-order-menjelang-tahun-baru-2-
Bagi Anda penggemar kecap, tidak ada salahnya berkunjung ke Majalengka. Di sana terdapat puluhan industri skala kecil dan menengah yang memproduksi kecap dengan cara tradisional. Selain gurih, kecap dari Majalengka tidak menggunakan bahan pengawet.
Untuk menjaga citarasa, produsen kecap di Kabupaten Majalengka mempertahankan pemakaian alat masak tradisional, seperti memasak dengan kayu bakar. Selain itu, peracikan bahan baku dilakukan sesuai dengan takaran yang telah ditentukan pendahulu mereka.
Kecap Majalengka pernah menjadi tuan rumah di daerah sendiri pada 1970 hingga 1980-an. Tapi kini kecap Majalengka kalah bersaing dengan produsen kecap raksasa. Beruntung, belakangan ini, industri kecap Majalengka jadi salah satu daerah kunjungan wisata.
Wilayah Tamansari sangat dekat dengan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Di sini sekitar 15 sampai 20 pedagang menjual berbagai mebel berharga murah namun berkualitas. Pedagang menjual dengan harga murah karena menggunakan bahan baku kayu bekas.
Untuk menyediakan mebel daur ulang yang antik, pedagang mebel di Tamansari, Bandung mencari mebel bekas dari gedung tua, museum hingga ke luar negeri. Tapi tak seluruh mebel tua didaur ulang, pedagang hanya mencari mebel tua dari kayu yang berkualitas.
Pedagang mebel di sentra mebel Tamansari, Bandung, banyak memiliki pelanggan dari kalangan mahasiswa. Maklum, selain lokasinya yang dekat dengan kampus, banyak mahasiswa senang belanja mebel ke Tamansari karena di sini tersedia mebel dengan harga terjangkau.
Kawasan di sekitar Pejompongan sudah sejak lama dikenal sebagai pusatnya penjualan cermin. Di situ bercokol belasan perajin sekaligus pedagang cermin. Pembeli cermin berasal dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan menengah hingga kaum berpunya dan pebisnis.
Perajin dan pedagang cermin di sekitar Pejompongan, Jakarta Pusat, menjual jenis cermin polos dan jenis cermin jenis bevel kepada pelanggannya. Dua jenis cermin ini memiliki bentuk dan ukuran yang beragam, namun cermin jenis bevel lebih mahal ketimbang cermin polos.
Sentra pembuatan dan penjualan cermin di Pejompongan bahkan pernah terkenal hingga di luar negeri. Namun, setelah krisis moneter pada 1998, ekspor kaca cermin dari sentra ini terhenti. Selain surutnya jumlah pembeli, para perajin cermin ini juga kesulitan modal.
Desa Leuwilajah, Kecamatan Rajagaluh, Majalengka adalah salah satu sentra anyaman rotan yang terkenal. Di sentra ini ratusan orang menjadi perajin anyaman rotan. Dengan kerapian tinggi dan proses natural, produk kerajinan rotan asal Rajagaluh ini diminati pasar Eropa.
Perajin anyaman rotan Rajagaluh, Majalengka, Jawa Barat kerap kesulitan pasokan rotan. Utamanya saat musim hujan. Agar produksi tidak terganggu, para perajin mesti pintar-pintar menjaga stok. Caranya: membeli dalam jumlah banyak.
Perajin anyaman rotan di Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat sulit untuk menambah produksi. Selain masalah kelangkaan bahan baku rotan berkualitas, perajin mengeluhkan harga rotan yang bisa naik empat sampai lima kali dalam setahun.
Bagi yang berminat berburu ubin keramik berharga murah, sebaiknya datang ke sentra ubin keramik Cikuda Wanaherang, di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Di sana terdapat 20 pedagang ubin keramik yang menjual ubin keramik dengan harga miring.
Margin minim yang diambil oleh pedagang keramik di Cikuda Wanaherang membuat sentra ini terkenal menjual keramik murah berkualitas. Pelanggannya tak hanya datang dari Bogor namun juga Jakarta, Bandung, hingga Medan. Penjualan makin kinclong karena booming properti.
Persaingan bisnis antarpedagang ubin keramik di Cikuda Wanaherang, Bogor adalah biasa. Para pedagang justru khawatir dengan peredaran ubin keramik impor dari China dan Vietnam. Selain harga miring, ubin keramik impor itu menawarkan motif yang menarik.
Mainan menyerupai orang, hewan atau tokoh kartun yang disebut boneka ini banyak disukai anak-anak hingga orang dewasa. Nah, aneka boneka ini sejatinya banyak yang berasal dari Cikampek, Karawang. Di sana ada ratusan perajin dan puluhan toko boneka.
Untuk menggaet pelanggan, perajin boneka di Dusun Kampung Baru, Cikampek, Karawang, rajin mengikuti film kartun yang lagi populer, seperti Shaun The Sheep. Belakangan permintaan, boneka ini membanjir hingga perajin menolak pesanan.
Perajin dan pedagang boneka di Cikampek, Karawang, Jawa Barat mendambakan perhatian dari pemerintah. Mereka berharap mendapat bantuan kredit berbunga ringan bagi pengembangan usaha. Para perajin juga mendambakan pemasaran boneka yang lebih luas.
Kalau ingin membeli kebaya jadi, datang saja ke Pasar Tanah Abang, terutama di Blok A dan Blok F. Harga kebaya di Blok F relatif lebih terjangkau dibanding dengan di Blok A. Maklum, selisih harga itu bisa jadi lantaran suasana di Blok A lebih nyaman dan lebih adem.
Walau masih ramai pembeli, namun beberapa pedagang kebaya di Tanah Abang mengaku mengalami penurunan omzet. Selain bahan baku yang kian mahal, beberapa bahan aksesori kebaya dan ongkos produksi juga terus naik. Inilah yang membuat harga konsumen naik.
Pedagang kebaya di Pasar Tanah Abang melakukan beragam cara untuk menggaet pelanggan. Salah satunya dengan memberi servis terbaik bagi pelanggan. Selain melayani model kebaya sesuai dengan permintaan pelanggan, para pedagang juga selalu memperbarui model-model kebaya dengan tren terkini.
Pasar Senen punya sentra perdagangan cetakan kue yang berlokasi di Blok III. Terdapat 50-an pedagang yang menjual cetakan kue dan loyang yang terbuat dari aluminium, logam hingga plastik. Usaha dagang cetakan kue ini merupakan warisan turun-temurun sejak 1950-an.
Persaingan yang kian ketat sesama pedagang cetakan kue di Blok III Pasar Senen membuat omzet mereka menurun. Untuk bisa mengais laba, perlu strategi jitu, yakni dengan menambah jumlah toko. Itulah sebabnya, beberapa pedagang punya beberapa toko.
Walaupun bangunan Blok III Pasar Senen sudah uzur, puluhan pedagang cetakan kue tetap mengandalkan pasar itu untuk mencari laba. Namun pedagang mesti kerja keras karena kini mereka harus bersaing dengan pasar swalayan yang juga menjual cetakan kue.
