Kuda Nil (Hippopotamus amphibious) Hewan Paling Berbahaya di Afrika


Anda mungkin sudah tidak asing lagi dengan hewan yang satu ini. Kuda Nil atau dengan istilah latinnya Hippopotamus amphibiou, merupakan hewan herbivora dengan cirri khas berkulit tebal dan berbobot lumayan sangat berat. Selin itu gading kuda nil lebih dikenal banyak orang sebagai senjata andalannya yang digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan hewan pemangsa. Kuda nil hidup di daratan Afrika, dan terbanyak kuda nill tersebut hidup di Negara Tanzania dan Zambia.
Mereka hidup dengan baik pada daerah yang memiliki banyak tempat untuk mereka berkubang. Dengan pola berkelompok, sangat baik sekali bagi kuda nil ini bertahan dari serangan-serangan hewan pemangsa. Dengan kemampuannya, kuda nil mampu menghindar dari serangan Chitez sekalipun satwa tersebut saling beradu kecepatan.
Selain ular dan serangga kuda nil membunuh lebih banyak orang di Afrika dari pada hewan buas lain. Ini adalah fakta statistik yang mengejutkan karena mereka tidak benar-benar pemakan daging. Jadi apa yang membuat kuda nil begitu berbahaya?
Banyak orang di Afrika bahwa kuda nil merupakan ancaman yang sebenarnya. Bukan mengenai Singa, ular ataupun buaya sebagai pemangsa dengan kekuatannya yang luar biasa. Namun, kuda nil merupakan ancaman lain dan paling berbahaya karena sifat tempramennya.
Alasan lain adalah tubuh kuda nil yang besar, sangat pemarah dan dapat bergerak dengan cepat di tanah maupun di air saat mereka berkubang  jika terkejut . Jika Anda menggabungkan faktor-faktor ini dengan satu rahang kuat dan gading yang besar maka kuda nil  merupakan hewan dengan gigitan yang sangat merusak.
Kebanyakan serangan tampaknya terjadi pada lubang penyiraman atau dekat dengan air di mana manusia baik datang terlalu dekat atau hanya mengganggu kuda nil dari kejauhan. Jadi ingat waktu berikutnya Anda berada di Afrika itu bukan hanya singa, cheetah dan crocidiles Anda perlu khawatir tentang kuda nil tersebut

Paus Bungkuk Navigator Hebat di Lautan


KOMPAS.com – Menurut hasil proyek pengamatan selama 8 tahun, paus bungkuk menggunakan posisi Matahari, medan magnet Bumi, dan bintang sebagai pemandu perjalanan. Paus bungkuk bisa menempuh perjalanan sejauh 16.000 kilometer dan bisa menempuh jalur lurus selama beberapa minggu.
“Padahal mereka harus melalui pusaran air, tapi mereka tetapi bisa berenang lurus,” kata ilmuwan lingkungan dari University of Canterbury, Selandia Baru, Travis Horton. “Mereka menggunakan hal lain di luar tubuh mereka,” kata Horton yang penelitiannya terbit di Biology Letters pada 20 April.
Paus bungkuk mencari makan selama musim panas di lautan daerah kutub. Saat musim dingin, mereka bermigrasi ke lautan tropis. Saat itu pula mereka kawin dan bereproduksi. Sekali jalan, mereka bisa menempuh jarak 8.000 kilometer, membuat mereka menjadi hewan dengan jarak migrasi terjauh di Bumi.
Untuk penelitian, Travor dan timnya memasangkan alat bertenaga baterai yang memberikan informasi lokasi. Berdasarkan pengamatan, tak peduli arus air, badai, dan penghalang lain, jalur paus bungkuk tidak pernah menyimpang lebih dari 5 derajat salah bermigrasi. Sekitar separuh paus yang diamati, hanya menyimpan 1 derajat bahkan lebih kecil.
“Mengagumkan betapa jalur mereka sangat lurus,” kata ahli biologi bahari Alex Zerbini dari National Oceanic and Atmospheric Administration. “Kami penasaran untuk mengetahui cara mereka melakukan hal itu,” tambahnya.
Sudah puluhan tahun, ada penelitian mengenai migrasi satwa yang menggunakan magnet Bumi dan pelacakan Matahari. Tapi keduanya biasa dipakai oleh unggas. Paus bungkuk sepertinya tidak hanya mengandalkan kedua metode tersebut. Horton memperkirakan kalau paus bungkuk juga menggunakan posisi bulan atau bintang.(National Geographic Indonesia/Alex Pangestu