DAYA JELAJAH DAN NAVIGASI HARIMAU


Ada beberapa hal yang menjadi latar belakang harimau menjelajah ke beberapa wilayah hutan. Hal tersebut menjadikan dasar teori dalam mengkaji bagaimana penyebaran dan fariasi genetis harimau di beberapa wilayah. Khususnya kawasan hutan tropis beserta wilayah kepulauan yang terbagi-bagi menjadi beberapa karakter hutan yang berbeda-beda. Begitu juga perbedaaan dalam menggunakan indicator navigasi yang digunakan harimau untuk menentukan wilayah jelajahannya serta tempat yang akan dituju.
Sebenarnya belum ada kajian yang lebih mendalam mengenai perangkat apa yang digunakan harimau sebagai satwa malam untuk melakukan perjalanannya atau penjelajahannya. Baik itu dalam mencari satwa mangsa dengan wilayah yang lebih luas dengan kelimpahan yang stabil dengan kawasan lain. Hal ini tentunya ada kaitannya dengan persaingan antar individu lain, mengingat satwa harimau merupakan satwa soliter yang hidup tanpa berkelompok atau individu satu dengan yang lainnya tidak berasosiasi dengan baik.
Selain untuk mencari kelimpahan satwa mangsa untuk dapat bertahan hidup, harimua melakukan penjelajahan juga untuk memperluas wilayah yang menjadi tempat perkembangbiakannya. Dalam kurun beberapa tahun jumlah harimau yang menempati suatu kawasan akan semakin bertambah seiring dengan penambahan luasan kawasan yang mampu di jelajahinya. Begitu juga dengan satwa pesaing yang merupakan predator lain yang menempati suatu kawasan yang menjadi wilayah jelajah harimau. Dengan semakin tingginya kepadatan satwa harimau, daya dukung kawasan untuk menjadi habitat beberapa satwa mangsa yang menyediakan energy bagi harimau pun menjadi factor penentu.
Satwa harimau sengaja menandai wilayahnya selain sebagai peringatan, juga menjadi parameter untuk menentukan jalan kembali pada wilayah semula. Begitu juga dengan wilayah yang menjadi tempat perburuannya. Saat satwa mangsa mengalami penurunan jumalah populasinya, maka harimau akan memperluas wilayah jelajahannya dan akan kembali saat adanya peningkatan populasi satwa mangsanya di wilayah perburuannya semula.
Harimau menggunakan indra penciumannya untuk mengetahui lokasi satwa burunya, bau yang tercium dari satwa mangsa ini akan terbawa angin dan menjadi penanda bagi harimau pada suatau kawasan tertentu. Sehingga yang menjadi lokasi tujuan jelajah harimau tidak semata-mata hanya sebagai perluasan wilayah saja, namun dipertimbangkan pula mengenai ketersediaan sumber air, mangsa, penutupan vegetasi dan kondisi ancaman dari luar (pesaing, gangguan manusia)
Selain menggunakan kemampuan penciuman yang tajam untuk pemandu dalam melakukan penjelajahan dimalam hari, satwa harimau menggunakan beberapa metode lain salah satunya adalah arus panas dingin sebagai turunan dari perubahan musiman. Saat musim kemarau harimau akan lebih pintar memilih wilayah hutan dengan penutupan yang rapat dengan ketersedian air yang cukup. Demikian wilayah ini akan menjadi habitat penting bagi sejumlah satwa mamalia lain yang akan menjadi calon satwa mangsa bagi harimau dikemudian harinya.
Pada saat ini, pola tersebut mengalami gangguan seiring dengan variasi hutan yang semakin menyempit. Hal tersebut tidak dapat menjadi acuan bagi kawasan hutan yang terisolasi dengan hutan lain yang memiliki karakteristik yang berbeda. Sehingga dengan demikian tidak bisa menjadi dasar bagi kajian di sejumlah kawasan hutan yang terganggu, dengan masuknya bebeapa spesies tumbuhan yang cenderung heterogen dengan variasi jenis yang rendah akan menyulitkan satwa harimau dalam melakukan jelajahannya.
Dengan luasan kawasan hutan dataran rendah yang semakin menyempit, pada saat ini satwa harimua mengalami isolasi dan semakin terpinggirkan ke sejumlah kawasan hutan pegunungan yang sulit dijangkau. Begitu juga dengan kesesuaian lahan yang merupakan habitat yang kurang baik bagi satwa ini, sedangkan ketersediaan satwa mangsa sangat rendah mengingat semakin tinggi suatu kawasan maka variasi jenis vegetasinya pun semakin rendah.

Kajian Ekologi Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica)


Mengetahui Kepunahan dan Dinamika perubahan Habitat Harimau Jawa
Sejak tahun 1980 Harimau jawa dinyatakan punah, kajian tersebut hanya terbatas pada penaksiran frekuensi perjumpaan dan tanda-tanda keberadaan satwa tersebut hingga pendalaman pada aspek habitat yang sudah mengalami tekanan sejak lama.  Pada dasarnya Harimau Jawa dapat hidup dengan baik pada kawasan hutan yang terkonsentrasinya satwa mangsa sebagai pakan utama, selain itu bentuk kelerengan yang datar dan penutupan vegetasi yang sesuai menjadi pertimbangan dalam pendugaan keberadaan harimau jawa.
Hipotesis ini tidak berlaku untuk kawasan habitat hutan yang terganggu seperti yang ditunjukkan oleh hasil penelitian Yoan Dinata & Jito Sugardjito, 2008. Hasil ini juga didukung oleh penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa di samping variasi jenis vegetasi yang menjadi sumber pakan, kepadatan hewan mangsa juga bergantung pada tingkat kerawanan kawasan hutan terhadap perburuan. Santiapilai dan Ramono (1993) dalam (Yoan Dinata Dan Jito Sugardjito, 2008) menambahkan bahwa hutan-hutan dataran rendah lebih mendukung kehidupan biomasa ungulata besar, tetapi hutan dataran rendah yang kaya mangsa menghilang begitu cepat, sehingga distribusi hewan-hewan ungulate tersebut menjadi terbatas dan bahkan akan melakukan migrasi ke daerah perbukitan dan pegunungan. (Yoan Dinata & Jito Sugardjito, 2008)
Saat kabar punahnya harimau Jawa, konsentrasi penelitian saat ini hanya pada pndugaan-pendugaan keberadaan satwa tersebut yang masih tersisa pada kawasan yang sangat sulit dijangkau. Sedangkan kajian terhadap dinamika dan perubahan habitat satwa Harimau Jawa masih sangat minim. Dinamika dan perubahan habitat Harimau Jawa dapat diketahui dengan perbandingan kondisi alam saat populasi Harimau Jawa mendapatkan kesetabilannya berbanding lurus dengan jumlah satwa mangsa. Sedangkan tekanan dan kerusakan sebagai salah satu dinamika habitat akibat adanya tekanan manusia dapat diketahui dengan transisi perubahan kawasan hutan menjadi kawasan lain yang berbanding terbalik dengan luasan habitat harimau dengan kawasan yang terganggu.
Saat pemerintahan kolonial Belanda kita ketahui bahwa perubahan bentuk kawasan hutan menjadi kawasan perkebunan, pertanian dan pemungkiman sudah berlangsung sejak lama. Dengan kemampuan adaptasi Harimau Jawa inilah yang mengakibatkan sejak tahun 1980-an satwa Harimau Jawa sulit ditemukan. Sejak zaman penjajahan ini perubahan kebudayaan dan cara pengelolaan sumberdaya alam semakin moderen. Dengan datangnya teknologi terbaharukan yang dibawa oleh pemerintahan kolonial, perubahan bentuk kawasan hutan menjadi kawasan lain berlangsung semakin cepat.
Gejolak tekanan ekologi ini terkonsentrasi di pulau Jawa, kota-kota yang dibangun oleh pemerintahan kolonial semakin berkembang sangat pesat. Kemajuan teknologi ini pula yang mempermudah akses masyarakat pada kawasan-kawasan hutan yang semula sulit dijangkau. Hingga kemudian datangnya masa dimana kondisi nasib Harimau Jawa seperti yang terjadi pada Harimau Sumatra pada saat ini.
Pembangunan perkotaan diawali di daerah dataran rendah yang cenderung memiliki kemiringan yang datar. Selain itu sebagai salah satu syarat menjadikannya pemungkiman-pemungkiman serta lahan pertanian dan perkebunan adalah sumberdaya air yang berlimpah. Dengan demikian sudah tidak asing kawasan hutan yang pada saat ini masih ada hanya terbatas pada daerah dataran tinggi hingga pegunungan yang sulit dijangkau.
Kajian tersebut erat kaitannya terhadap populai satwa yang menjadi mangsa Harimau Jawa, bagaimana tingkat populasi beberapa satwa mamalia seperti Babi Hutan, Kijang dan beberapa satwa Reptilia kemudian beralih pada kawasan hutan dataran tinggi yang cenderung sangat sukar untuk dijadikan tempat hidup yang lebih layak jika melihat pada aspek Klimatis dan topografi.
Memasuki abad ke 20 perkebunan dan lahan pertanian sudah mulai menekan daerah perbukitan, satwa Babi Hutan dan Kijang yang mencari pakan di kawasan tersebut seing dianggap sebagai hama. Hal ini merupakan akibat dari pembangunan perkotaan yang semakin pesat pula terhadap tata guna lahan yang semakin tinggi dan tidak terkendali. Luasan sawah di dataran rendah sudah semakin tertekan oleh pemungkiman dan infrastruktur hingga beralih tempat pada pedesaan yang ada di daerah perbukitan.
Dengan semakin terganggunya satwa mangsa sebagai salah satu akbat asumsi hama tanaman pertanian juga kebudayaan perburuan oleh para peladang dan petani maka tekanan ekologi di kawasan ini semakin berat. Jumlah populai mamalia ini semakin berkurang dan berbanding lurus pula terhadap penurunan jumlah populai Harimau Jawa yang tersisa akibat ketersediaan habitat yang semakin sempit.
Kejadian serupa terjadi pada Macan Tutul, namun secara biologis Harimau Jawa memerlukan nutrisi makanan yang bobotnya lebih tinggi dibandingkan dengan Macan tutul sehingga peluang akan persaingan semakin renggang dengan kebutuhan yang berbeda ini. Namun hal tersebut hanya terbatas pada ketersediaan nutrisi yang dibutuhkan oleh Harimau Jawa sebanding dengan luasan territorial untuk mencari mangsa. Namun, kembali pada kondisi habitat yang tersedia saat ini pula. Yaitu dataran tinggi yang cenderung memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan yang lebih rendah untuk satawa mangsa sehingga ketergantungan jumlah populasi satwa mangsa tidak secara utuh jika dibandingkan dengan kawasan hutan di dataran rendah.

BENARKAH HARIMAU JAWA SUDAH PUNAH?

Harimau Jawa (panthera tigris sundaica) yang merupakan spesies harimau yang hidup di Jawa, dinyatakan punah pada tahun 1980-an (Toyne dan Hoyle, 1998) (Dikutip dari buku “Berkawan Harimau Bersama Alam” Karangan Didik Haryono & E.T. Paripurno. Namun sebagian orang masih meyakini akan keberadaan Harimau Jawa (panthera tigris sundaica) ini di sejumlah kawasan hutan di Jawa.
Pada dasarnya, kondisi hutan di Jawa terkelompok-kelompok dan terisolasi pada kawasan-kawasan tertentu. Sedangkan habitat Harimau Jawa (panthera tigris sundaica) tersebut kemudian mengalamai fragmentasi akibat luasan hutan yang semakin menyempit.
Seandainya Harimau Jawa (panthera tigris sundaica) ini masih tersisa, tentunya merupakan sebuah fenomena besar. Mengingat kondisi kawasan hutan saat ini, banyak yang telah mengalami alih fungsi dan beberapa pengrusakan secara ekologis. Sayangnya, setiap informasi yang menyatakan bahwa Harimau Jawa (panthera tigris sundaica) tersebut masih ada, tidak didasari dengan pembuktian dan penelitan yang intens. Sehingga rekomendasi yang diberikan tidak mampu mendorong usah perlindungan yang tepat.
Di sini saya mengumpulkan beberapa informasi yang mungkin penting sebagai dasar bahwa Harimau Jawa (panthera tigris sundaica) ini masih ada. Walaupun tidak disertai dengan pembuktian yang nyata, saya harap informasi ini bermanfaat bagi anda yang sedang menapaki jejak keberadaannya.
Informasi ini saya kutip dari berbagai sumber.
  1. Pada 1985 ada catatan bahwa di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, seekor harimau yang disebut “macan gembong” oleh warga daerah itu, mati ditembak setelah menerkam seorang warga. Sedangkan sejumlah warga sekitar Gunung Kotakakhir-akhir ini mempercayai Harimau Jawa masih berkeliaran di kawasan perbatasan daerah itu dengan Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Pomo (55), warga Dukuh Growong, Desa Ngroto, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri, bahkan mengaku melihat bekas telapak kaki harimau yang diduga Harimau Jawa, sekitar Desember 2009. dan Yanto (35), warga Dukuh Growong, Desa Ngroto, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri menyatakan sejumlah warga pernah melihat langsung seekor harimau bersama tiga anaknya tahun 2010 (Sumber: antaranews.com)
  1. Seorang peneliti Didik Rahayono, Sejak 1996, di beberapa kawasan hutan Meru Betiri, Raung, Alas Purwo, Wilis, Wijen, Gunung Slamet bersama rekannya telah berhasil menemukan jejak kaki, feses, garutan di pohon dan rambut yang kesemuanya itu mengindikasikan masih adanya satwa Harimau Jawa.
  1. Tahun 1997 tim ekspedisi PL-Kapai ’97 mengklaim menemukan bekas aktivitas harimau jawa meliputi feses, cakaran di pohon, jejak tapak kaki dan rambut. Walaupun sampel temuan rambut baru teridentifikasi sebagai milik harimau jawa setelah dianalisis pada tahun 2001 (Kompas, 29/09/2003).
  1. Pada tahun 1993 seorang jagawana TNMB (Taman Nasional Meru Betiri )pernah melihat langsung harimau loreng melintas di depan mobil yang ditumpanginya bersama turis asing sewaktu menuju pantai Sukamade. Selain itu pasca ekspedisi PL-Kapai ‘97 pernah ditemukan feses harimau jawa oleh jagawana TNMB di Sukamade pada bulan Mei 1998. Feses tersebut berdiameter 7 cm, dengan pajang 25 cm, terdiri dari dua bolus, mengandung rambut kijang dan babi hutan. Berdasarkan ukuran feses diperkirakan tubuh harimau jawa pelaku defekasi memiliki panjang tubuh sekitar 300 cm dengan berat badan berkisar 200 kg (Sumber: astacala.org)
  1. Diketahui bahwa di Gunung Raung dan Gunung Slamet Jawa Tengah tahun 1999 dan 2000 berlandaskan temuan rambut yang dianalisis menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) membuktikan masih ada harimau jawa.
  1. Warga Desa Candi Binangun, November 2010. Pakem, Sleman, Yogjakarta dihebohkan dengan munculnya seekor harimau. Harimau itu terlihat sedang berkeliaran di permukiman warga. Diduga hewan buas ini turun puncak Merapi yang tengah erupsi dan menyemburkan awan panas. Kondisi harimau ini sangat mengenaskan. Warga yang melihat menyebutkan, tubuhnya dipenuhi debu vulkanik. Sementara kakinya mengalami luka bakar (Sumber: vivanews.com)
  2.  

    Does JAVA TIGER IS extinct?
    Java tiger (Panthera tigris sundaica) which is a species of tigers living in Java, declared extinct in the 1980s (Toyne and Hoyle, 1998) (Quoted from the book “befriended Tiger Joint Nature” Authorship Educate Haryono & ET Paripurno. But some people still believe in the existence of the Javan Tiger (Panthera tigris sundaica) is in some forest areas in Java.
    Basically, the condition of forests in Java are grouped and isolated groups in certain areas. While the habitat of the Javan Tiger (Panthera tigris sundaica) is then experienced the fragmentation of forest area due to the increasingly narrow.
    Had the Javan Tiger (Panthera tigris sundaica) is still remaining, of course, is a major phenomenon. Given the current condition of forest areas, many of which have experienced over the functions and some ecological destruction. Unfortunately, any information which states that the Java tiger (Panthera tigris sundaica) are still there, not based on the evidence and intense research. So the recommendations are not able to push the need appropriate protection.
    Here I collect some information that may be important as the basis that the Java tiger (Panthera tigris sundaica) is still there. Although not accompanied by tangible evidence, I hope this information is useful for those of you who are climbing the trail existed.
    This information I quoted from various sources.
    1. In 1985 there are records that in Wonogiri, Central Java, a tiger, called “tiger kingpin” by the people of the area, was shot after pouncing on a citizen. While some residents around Mount Kotakakhir these days believe Java Tiger is still roaming the border region area with Ponorogo, East Java. Pomo (55), a resident of Hamlet Growong, Ngroto Village, District Kismantoro, Wonogiri, even claimed to see former alleged tiger feet tiger Java, around December 2009. and Yanto (35), a resident of Hamlet Growong, Ngroto Village, District Kismantoro, Wonogiri stated several residents had seen a tiger direct with her three children in 2010 (Source: antaranews.com)
    2. A researcher Educate Rahayono, Since 1996, in some forest areas of Meru Betiri, roar, Purwo Alas, Willis, Sesame, Mount Slamet and colleagues have discovered footprints, feces, hair garutan in the tree and all of which indicates the persistence of wildlife Java Tiger .
    3. PL expedition team in 1997-’97 vessels claimed to find the former Javanese tiger activities include feces, scratches on trees, traces of footprints and hair. Although the findings of new hair samples identified as belonging to Javan tiger after analyzed in 2001 (Kompas, 29/9/2003).
    4. In 1993 a national park ranger (Meru National Park Betiri) never seen a tiger stripe passes directly in front of the car which together host foreign tourists during the beach Sukamade. In addition, the PL-post expedition vessels ever found in feces ’97 Javan tiger by national park rangers in Sukamade in May 1998. Stool 7 cm in diameter, with a shelf 25 cm, consists of two bolus, containing deer and boar hair. Based on the size of the Javan tiger feces estimated defecation actor has a body length of about 300 cm with weight ranges from 200 kg (Source: astacala.org)
    5. It is known that at Mt roar and Mount Slamet in Central Java in 1999 and 2000 based on findings that the hair was analyzed using Scanning Electron Microscope (SEM) proves there are still Javan tiger.
    6. Villagers Binangun Temple, November 2010. Grip, Sleman, Yogyakarta dihebohkan with the emergence of a tiger. The tiger was seen roaming the neighborhood residents. Presumably this beast down the middle peak of Merapi eruption and spewing hot clouds. Tiger condition is very pathetic. Residents who saw mention, his body filled with volcanic ash. While his feet were burned (Source: vivanews.com)
       

      Harimau Hantui Warga di Sungai Nilau

      Beberapa warga yang berada di sekitar Sungai Nilau melaporkan adanya tanda-tanda keberadaan harimau di sekitar pemungkimannya. Malahan untuk beberapa kesempatan ada sebagian wargannya yang melaporkan bahwa mereka melihat langsung kehadiran Harimau ini.
      Hasil penelusuran, ditemukan jejak kaki harimau, baik jejak kaki lama, maupun jejak kaki sekitar dua hari lalu. Jejak kaki tersebut terlihat di beberapa titik, dan kebanyakan dijumpai di tepi sungai.
      Saat warga yang bernama Rahman membawa Tribun ke sebuah jalan yang digunakan warga untuk menuju ladang, namun jalan tersebut sepertinya sudah jarang dilalui, karena semak di kiri dan kanan jalan sudah hampir menutupi jalan. Di jalan tersebut, tampak jelas sekali jejak kaki harimau. Ukurannya bervariasi. Ada jejak kaki harimau yang cukup besar, lebarnya sekitar 10-15 cm. Untuk jejak kaki yang paling besar ini, sepertinya dibaut oleh seekor harimau dewasa. (Sumber: Kompas.Com)
      Sesuai dengan yang dikutip dari Wikipedia bahwa Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) hanya ditemukan di Pulau Sumatra di Indonesia, merupakan satu dari enam sub-spesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Populasi liar diperkirakan antara 400-500 ekor, terutama hidup di Taman-taman nasional di Sumatra. Uji genetik mutakhir telah mengungkapkan tanda-tanda genetik yang unik, yang menandakan bahwa subspesies ini mungkin berkembang menjadi spesies terpisah, bila berhasil lestari.
      Penghancuran habitat adalah ancaman terbesar terhadap populasi saat ini. Pembalakan tetap berlangsung bahkan di taman nasional yang seharusnya dilindungi. Tercatat 66 ekor harimau terbunuh antara 1998 dan 2000.
      Ciri-ciri Harimau Sumatra
      Harimau Sumatra adalah subspesies harimau terkecil. Harimau Sumatra mempunyai warna paling gelap diantara semua subspesies harimau lainnya, pola hitamnya berukuran lebar dan jaraknya rapat kadang kala dempet. Harimau Sumatra jantan memiliki panjang rata-rata 92 inci dari kepala ke buntut atau sekitar 250cm panjang dari kepala hingga kaki dengan berat 300 pound atau sekitar 140kg, sedangkan tinggi dari jantan dewasa dapat mencapai 60cm. Betinanya rata-rata memiliki panjang 78 inci atau sekitar 198cm dan berat 200 pound atau sekitar 91kg. Belang Harimau Sumatra lebih tipis daripada subspesies harimau lain. Warna kulit Harimau Sumatra merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua. Subspesies ini juga punya lebih banyak janggut serta surai dibandingkan subspesies lain, terutama harimau jantan. Ukurannya yang kecil memudahkannya menjelajahi rimba. Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang cepat. Harimau ini diketahui menyudutkan mangsanya ke air, terutama bila binatang buruan tersebut lambat berenang. Bulunya berubah warna menjadi hijau gelap ketika melahirkan.
      Residents in River haunt Tigers Nilau
      Some residents around the River Nilau report any sign of the tiger in the vicinity home. In fact, for some chance there are some people who reported that they saw the direct presence of this tiger.
      Search results, find tiger footprints, both old footprints, and footprints around two days ago. Footprints were seen at some point, and mostly found on the riverbank.
      When residents called Rahman brings Tribune into a street that used people to get to the fields, but the road seems to have less traveled, because the bush on the left and right side of the road was almost covered the road. On the road, it seems clear tiger footprints. Its size varies. There are tiger footprints are quite large, about 10-15 cm in width. For most large footprint, it seems bolted by an adult tiger.
      In accordance with that quoted from Wikipedia that the Sumatran Tiger (Panthera tigris sumatrae) is only found on the island of Sumatra in Indonesia, is one of six sub-species of tigers that still survive today and are included in the classification of critical wildlife threatened with extinction (critically endangered) red list of threatened species in the IUCN World Conservation Society released. The wild population is estimated between 400-500 animals, especially living in national parks in Sumatra. Sophisticated genetic testing has revealed genetic markers unique, indicating that this subspecies may evolve into separate species, if managed sustainably. Destruction of habitat is the greatest threat to the population today. Logging continues even in the supposedly protected national parks. Recorded 66 tigers were killed between 1998 and 2000.
      The characteristics of the Sumatran Tiger
      Sumatran tigers are the smallest tiger subspecies. Sumatran tiger has the darkest color among all other tiger subspecies, the black pattern width and the distance is sometimes tightly attached. Male Sumatran tigers average length 92 inches from head to tail, or about 250cm long from head to foot with the weight 300 pounds or about 140kg, while the height of adult males can reach 60cm. Females average 78 inches in length or about 198cm and weighs 200 pounds or about 91kg. Sumatran tiger stripe is thinner than other tiger subspecies. Sumatran Tiger skin color is the darkest of all tigers, ranging from the yellow-red to dark orange. This subspecies also had more beard and mane than other subspecies, especially the male tiger. Their small size makes it easier to explore the jungle. There is a membrane in between her fingers that made them able to swim fast. Tigers are known to corner their prey into the water, especially if the prey animal is a slow swimmer. Fur changed color to dark green when giving birth.

      HARIMAU JAWA

      Dikutip Dari “Berkawan Harimau Bersama Harimau” Didik haryono E.T. Paripurno
      Karnivora besar merupakan top Predator  di darat yang mengendalikan populasi ungulata. Harimau jawa merupakan salah satu karnivora besar di Jawa, disamping macan tutul dan macan kumbang. Postur tubuh Harimau jawa besar, kekar dan kuat ditunjang ornamen kulit indah bergaris hitam secara vertikal, berrambut halus, menjadikan satwa ini disegani manusia.
      Harimau jawa oleh sebagian masyarakat jawa dianggap berkarisma tinggi. Hal ini terlihat pada banyak penyebutan tertuju pada harimau semisal: kyaine, simbah, singbaurekso atau danyang. Penyebutan nama tersebut hanya untuk harimau loreng dan tidak pernah untuk macan tutul. Penyebutan khusus merupakan penghargaan atas kedekatan hubungan antara harimau dengan manusia jawa. Kemungkinan kedekatan hubungan ini dikarenakan manusia dan harimau hidup berdampingan disuatu kawasan dan keduanya sama-sama menjadi predator herbivora.
      Kekutan, ketenanngan, keunikan dan kharisma harimau menjadikan satwa ini sebagai sumber inspirasi ‘mistik’ yang didambakan oleh masyarakat jawa. Penuturan masyarakat disekitar hutan msih mengkonfirmasikan tentang nilai-nilai mitos yang melekat kuat pada sosok Harimau jawa. Terkadang sebagian orang berkeyakinan bahwa Harimau jawa merupakaan jelmaan kakek buyut merka.
      Keyakinan itu menjadi bumerang bagi masyarakat sehingga ketika ada pelaporan bahwa mereka melihat sosok harimau jawa, selalu dianggap cerita mitos. Bahkan tak jarang penuturan warga divonis sebagai halusinasi, dikarenakan masyarakat sudah dianggap terobsesi oleh keanggunan harimau.
      Untuk itu telaah ilmiah berlandaskan penuturan masyarakat, perlu sibuktikan. Penuturan masyarakat tempatan selalu dianggap belum menerapkan kaidah-kaidah ilmiah dalam usaha pembuktian keberadaan Harimau jawa. Penguatan temuan lebih difokuskan pada pembuktian menggunakan parameter terukur ataupun pengamanan sampel-sampel yang dapat dijadikan bukti penguat perjumpaan.
      Di dalam keseharian masyarakat tempatan sudah mengenal harimau sebagai satwa hutan pemangsa kijang, rusa, banteng ataupun babi hutan. Jika satwa ini tidak diganggu, maka dia tidak mengganggu manusia. Banyak masyarakat yang menuturkan sering ditemani harimau saat bermalam dihutan, terutama jika mereka membuat perapian. Masyarakat mengetahui bahwa macan dan harimau merupakan golongan hewan pemakan daging. Kedua hewan tersebut tidak pernah dijumpai secara bersasmaan di suatu tempat di dalam hutan. Masyarakat juga tahu bahwa dibawah akar banir pohon besar di dalam hutan biasanya dijadikan sebagai tempat istirahat, memangsa makanan ataupun sebagai tempat tidur harimau. Pemburu lokal juga menginformasikan tentang kebiasaan harimau yang menimbun sisa pemangsaan, dan menjaganya sampai tiga hari. Uraian ini menunjuka bahwa disekitar kawasan hutan yang kemungkinan menjadi habitat Harimau pasti ada satu dua orang yang mengenal betul satwa tersebut.
      Untuk itu penulis berusaha mengawinkan pengetahuan masyarakat tempatan dengan pengetahuan akademis, yang dikandung maksud agar pengetahuan dan ilmu masyarakat tempatan dapat terdokumentasikan sebagai bahan wacana kajian akademis.
      JAVA TIGER
      Large carnivores is a top predator on land that control ungulate populations. Javan tiger is one of the large carnivores in Java, as well as leopards and panthers. Javan Tiger Posture big, burly and strong supported ornaments beautiful skin black striped vertically, smooth, making it respected the human animal.
      Javan tiger by some communities in Java are considered highly charismatic. This is seen in many reference fixed on the tigers such as: kyaine, Simbah, singbaurekso or Danyang. The mention of the name only for the tiger stripes and never to leopard. Special mention of an appreciation for the closeness of the relationship between humans Javan tiger. Possible close relationship is because humans and tigers coexist sector in the region and they both become predators herbivores.
      Powerful, quiet, uniqueness and charisma of the tiger makes these animals as a source of inspiration ‘mystical’ is coveted by the Java community. The narrative confirms msih forest surrounding communities about the values inherent strong myth in the figure Javan tiger. Sometimes some people believe that the Javan tiger’s great-grandfather merupakaan incarnation they see themselves.
      The conviction was a boomerang for the community so that when there is reporting that they saw the figure of Javanese tiger, always considered the story a myth. In fact, not uncommon narrative citizens convicted as hallucinations, because society has deemed obsessed by the elegance of a tiger.
      For that the scientific study of narrative based society, need to be proven. Host community narrative is always considered not to apply scientific principles in an attempt to prove the existence of Javan tiger. Strengthening of the findings focused on the evidentiary use measurable parameters or securing samples that can be used as evidence reinforcing encounter.
      In the host society in everyday life are familiar with the tiger as predators of forest animals deer, elk, bison or wild boar. If wildlife is not disturbed, so she does not bother humans. Many people are told often accompanied by a tiger at night the forest, especially if they make a fireplace. Society knows that the tiger and the tiger is a carnivorous animal group. Both animals were never found in bersasmaan somewhere in the woods. The people also know that under a large tree roots banir in the woods are usually used as a place of rest, eat food or as a bed tiger. Local hunters also informed about the habit of hoarding the remaining tiger predation, and keep up to three days. This description menunjuka that the surrounding forest areas that may be a tiger habitat must have one or two people who know these animals well.
      For that the author tried to marry the host community knowledge with academic knowledge, which was conceived for the purpose of knowledge and science can be documented as a host community discourse of academic study.