TUNA LONG LINE

Alat tangkap yang banyak digunakan untuk menangkap ikan tuna di perairan lepas pantai salah satunya adalah rawai tuna (tuna long line).

Konstruksi
Konstruksi tuna rawai tuna (long line) yang umum dioperasikan di Indonesia dewasa ini adalah long line dengan sistem, arranger, sistem seperti ini Iebih banyak resikonya dibandingkan dengan sistem lama, kerena tidak boleh terlambat mengangkat branch line. Jumlah mata pancing diantara pelampung berjumlah antara 15-19 mata pancing, jumlah pelampung dalam satu set long line berkisar antara 90-110 buah dan main line yang digunakan adalah polyester atau kuralon.
Metode pengoperasian
Pemasangan pancing (setting) dilakukan sesuai dengan kebiasaan nelayan atau disesuaikan dengan kondisi perairan. Lama perendaman pancing selama 5-8 jam. Pemasangan atau penurunan pancing (setting) dilakukan dari bagian belakang kapal (bagian buritan), sedangkan pengangkatan (hauling) dilakukan dan bagian depan kapal (bagian haluan)
Daerah penangkapan
Daerah penangkapan yang terbaik adalah di daerah penangkapan yang sebelumnya sudah diketahui adanya keberadaan ikan cakalang Biasanya di perairan lepas pantai yang menjadi tempat ikan tuna.
Untuk ikan tuna jenis southern bluefin berada di selatan Jawa (Samudra Hindia), untuk tuna jenis albacore, yellowfin, bigeye dan longtail hampir menyebar mulai dan perairan Indonesia bagian Utara sampai ke selatan.
Musim penangkapan
Musim penangkapan sepanjang tahun.
Pemeliharaan alat
Pemeliharaan alat tangkap sebaiknya setelah alat dipakai dicuci dengan air tawar, bagian yang rusak diperbaiki, dikeringkan di tempat yang tidak kena sinar matahari secara langsung dan disimpan ditempat yang bersih.
Pengadaan alat dan bahan jaring
Alat dan bahan jaring bisa diperoleh di semua toko perlengkapan nelayan di lokasi terdekat.
Kisaran harga satuan peralatan
Kapal tuna long line bisa mencapai ratusan juta rupiah. Satu set pancing long line berkisar antara Rp. 6,000,000-10,000,000.- atau tergantung besar kecilnya alat.
Sumber : Dit PMP, DKP
Kontak : Departemen Kelautan dan Perikanan
Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Lantai 9 Tel. (021)3519070 (Hunting) Fax. (021) 3522560 Jakarta

PENANGKAPAN IKAN CAKALANG

Alat tangkap yang banyak digunakan untuk menangkap ikan cakalang di pantai maupun perairan lepas pantai salah satunya adalah jaring insang satu lembar (gillnet cakalang).

Konstruksi jarring

Konstruksi dari Jaring kejer terdiri dari hanya satu lembar jaring (badan jaring) di mana ukuran matanya adalah sama. Pada bagian atas dilengkapi beberapa pelampung dan pada bagian bawah dilengkapi dengan pemberat.

Bahan jarring

Jaring umumnya mempergunakan Nylon multifilament No. 1013/12 warna biru, besar mata jaring (mesh size) 11.43-13.97 cm (4.5-5.5 inci), jumlah mata ke arah tinggi jaring 44-52 mata untuk mata jaring berukuran 11.43 cm, sedangkan untuk yang berukuran 13.97 cm, mata ke arah tinggi jaring adalah 36-43 mata. Jumlah mata jaring satu meter sebanyak 12-15 mata/m untuk yang berukuran 11.43 sedangkan untuk yang berukuran 13.97 cm sebanyak 10-12.5 mata/m.

Panjang jarring

Panjang  jaring dalam satu tingting (piece) baik untuk bagian tali ris atas (bagian atas) maupun untuk bagian tali ris bawah (bagian bawah) adalah 60-100 m.

Metode pengoperasian

Jumlah piece disesuaikan dengan besar kapal, modal dan kemampuan nelayan yang mengoperasikannya, tetapi umumnya memakai 20-40 piece. Pemasangan jaring (setting) dilakukan sebelum matahari terbenam dengan cara dibentangkan di perairan dan salah satu ujungnya diikatkan pada kapal, kemudian kapal dan jaring dibiarkan hanyut terbawa arus dan angin. Pengangkatan jaring dilakukan sebelum matahari terbit.

Daerah penangkapan

Daerah penangkapan terbaik adalah di daerah penangkapan yang sebelumnya sudah diketahui adanya keberadaan ikan cakalang. Biasanya di perairan lepas pantai yang menjadi tempat bermuaranya ikan cakalang.

Musim penangkapan

Musim penangkapan sepanjang tahun.

Pemeliharaan alat

Pemeliharaan alat tangkap sebaiknya setelah alat dipakai dicuci dengan air tawar, bagian yang rusak diperbaiki, dikeringkan di tenipat yang tidak kena sinar matahari secara Iangsung dan disimpan ditempat yang bersih.

Pengadaan alat dan bahan jarring

Alat dan bahan jaring bisa diperoleh di semua toko perlengkapan nelayan di lokasi terdekat atau bisa dipesan dan pabrik jaring “PT. Anida” di Cirebon atau “PT Indoneptun” di Ranca Ekek Bandung.

Kisaran harga satuan peralatan
Kapal motor/tempel Rp. 25,000,000-40,000,000.-. Jaring 20-40 piece Rp. 4,000,000-8,000,000.-

Sumber : Dit PMP, DKP

Kontak : Departemen Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Lantai 9 Tel. (021)3519070 (Hunting) Fax. (021) 3522560 Jakarta

PENANGKAPAN IKAN CAKALANG

Alat tangkap yang banyak digunakan untuk menangkap ikan cakalang di pantai maupun perairan lepas pantai salah satunya adalah jaring insang satu lembar (gillnet cakalang).

Konstruksi jarring

Konstruksi dari Jaring kejer terdiri dari hanya satu lembar jaring (badan jaring) di mana ukuran matanya adalah sama. Pada bagian atas dilengkapi beberapa pelampung dan pada bagian bawah dilengkapi dengan pemberat.

Bahan jarring

Jaring umumnya mempergunakan Nylon multifilament No. 1013/12 warna biru, besar mata jaring (mesh size) 11.43-13.97 cm (4.5-5.5 inci), jumlah mata ke arah tinggi jaring 44-52 mata untuk mata jaring berukuran 11.43 cm, sedangkan untuk yang berukuran 13.97 cm, mata ke arah tinggi jaring adalah 36-43 mata. Jumlah mata jaring satu meter sebanyak 12-15 mata/m untuk yang berukuran 11.43 sedangkan untuk yang berukuran 13.97 cm sebanyak 10-12.5 mata/m.

Panjang jarring

Panjang  jaring dalam satu tingting (piece) baik untuk bagian tali ris atas (bagian atas) maupun untuk bagian tali ris bawah (bagian bawah) adalah 60-100 m.

Metode pengoperasian

Jumlah piece disesuaikan dengan besar kapal, modal dan kemampuan nelayan yang mengoperasikannya, tetapi umumnya memakai 20-40 piece. Pemasangan jaring (setting) dilakukan sebelum matahari terbenam dengan cara dibentangkan di perairan dan salah satu ujungnya diikatkan pada kapal, kemudian kapal dan jaring dibiarkan hanyut terbawa arus dan angin. Pengangkatan jaring dilakukan sebelum matahari terbit.

Daerah penangkapan

Daerah penangkapan terbaik adalah di daerah penangkapan yang sebelumnya sudah diketahui adanya keberadaan ikan cakalang. Biasanya di perairan lepas pantai yang menjadi tempat bermuaranya ikan cakalang.

Musim penangkapan

Musim penangkapan sepanjang tahun.

Pemeliharaan alat

Pemeliharaan alat tangkap sebaiknya setelah alat dipakai dicuci dengan air tawar, bagian yang rusak diperbaiki, dikeringkan di tenipat yang tidak kena sinar matahari secara Iangsung dan disimpan ditempat yang bersih.

Pengadaan alat dan bahan jarring

Alat dan bahan jaring bisa diperoleh di semua toko perlengkapan nelayan di lokasi terdekat atau bisa dipesan dan pabrik jaring “PT. Anida” di Cirebon atau “PT Indoneptun” di Ranca Ekek Bandung.

Kisaran harga satuan peralatan
Kapal motor/tempel Rp. 25,000,000-40,000,000.-. Jaring 20-40 piece Rp. 4,000,000-8,000,000.-

Sumber : Dit PMP, DKP

Kontak : Departemen Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Lantai 9 Tel. (021)3519070 (Hunting) Fax. (021) 3522560 Jakarta

Pukat Cincin

Pukat cincin adalah jaring yang umumnya berbentuk 4 persegi panjang, tanpa kantong dan digunakan untuk menangkap gerombolan ikan permukaan (pelagic fish). Pukat cincin (purse seine) adalah suatu alat penangkapan ikan yang digolongkan dalam kelompok jaring Iingkar (surrounding nets,). Disebut pukat cincin karena alat tangkap ini dilengkapi dengan cincin untuk mana tali cincin (purse line) atau tali kerut dilalukan didalamnya.



Fungsi cincin dan tali kerut/ tali kolor ini penting terutama pada waktu pengoperasian jaring. Sebab dengan adanya tali kerut tersebut jaring yang semula tidak berkantong akan terbentuk kantong pada tiap akhir penangkapan. Pukat cincin ini produktivitas hasil tangkapannya termasuk tinggi terutama untuk penangkapan ikan pelagik.
Konstruksi
Dilihat dari segi konstruksi maka bagian/komponen pukat cincin dapat dikelompokkan dalam 4 bagian besar yaitu: (1) badan jaring, (2) tali kerut, (3) cincin (ring) serta (4) pelampung dan pemberat, (5) tali selambar.
Berdasarkan Subani dan Barus (1989) konstruksi dari pukat cincin terdiri atas:
1.   Bagian jaring, nama bagian-bagian jaring ini belum mantap, tetapi ada yang membagi menjadi 2 yaitu bagian tengah dan jampang. Namun yang jelas ia terdiri dari 3 bagian, yaitu:
Jaring utama, bahan nilon 210 D/9, # 1 inci (1#)
Jaring sayap, bahan dari nilon 210 D/6, # 1 inci (1#);
Jaring kantong, # 3/4 inci (3/4).
2.   Srampatan (selvedge), dipasang pada bagian pinggiran jaring yang fungsinya untuk memperkuat jaring pada waktu dioperasikan terutama pada waktu penarikan jaring. Bagian ini langsung dihubungkan dengan tali temali. Srampatan dipasang pada bagian atas, bawah dan samping dengan bahan dan ukuran mata yang sama, yakni PE 380 (12, # = 1 inci) (1) sebanyak 20,25 dan 20 mata.
3.   Tali-temali,
4.   Tali pelampung, bahan PE, diameter 10 mm, panjang 420 m;
5.   Tali ris atas, bahan PE, diameter 6 mm dan 8 mm, panjang 420 m;
6.   Tali ris bawah, bahan PE, diameter 6 mm dan 8 mm, panjang 450 m;
7.   Tali pemberat, bahan PE, diameter 10 mm, panjang 450 m;
8.   Tali kolor, bahan kuralon, diameter 26 mm, panjang 500 m;
9.   Tali selambar, bahan PE, diameter 27 mm, panjang bagian kanan 38 m dan kiri 15 m;
10. Pelampung, ada 2 pelampung dengan bahan yang sama yakni synthetic rubber (SR). Pelampung Y-50 dipasang di pinggir kiri dan kanan 600 buah dan pelampung Y-80 dipasang di tengah sebanyak 400 buah. Pelampung yang dipasang di bagian tengah lebih rapat dibanding dengan bagian pinggir;
11.  Pemberat, terbuat dari timah hitam sebanyak 700 buah dipasang pada tali pemberat;
12.  Cincin, terbuat dari besi dengan diameter lubang 11,5 cm, digantungkan pada tali pemberat dengan seutas tali yang panjangnya 1 meter dengan jarak 3 meter setiap cincin. Ke dalam cincin ini dilalukan purse line.
Kapal pukat cincin adalah kapal yang secara khusus dirancang dan dibangun untuk digunakan menangkap ikan dengan alat penangkap jenis pukat cincin atau sering juga disebut pukat cincin, dan sekaligus menampung, menyimpan, mendinginkan dan mengangkutnya. Kapal pukat cincin ukuran 30-100 GT adalah kapal pukat cincin yang khusus dioperasikan untuk menangkap ikan jenis pelagis yang selalu bermigrasi dalam bentuk schooling fish, seperti ikan tongkol besar dan cakalang. Kekhasan kapal pukat cincin terutama yang beroperasi pada waktu malam hari adalah pada bagian atas kapal, sisi atas wheel house, dilengkapi dengan lampu-lampu merkuri.
Tiap kapal pukat cincin ukuran di atas 30 GT seharusnya minimal dilengkapi dengan power block yang berfungsi untuk membantu menarik jaring dari dalam air ke atas dek kapal, atau di kapal-kapal pukat cincin Indonesia fungsi power block dapat diganti dengan capstan yang dipasang di atas dek kapal. Alat bantu penangkapan lainnya yang disarankan adalah pukat cincin winci, davit, skif boat. Selain itu, juga diperlukan alat bantu penangkapan seperti echo sounder, yaitu alat yang digunakan untuk mencari posisi schooling fish agar operasi penangkapan menjadi lebih efektif.
Kapal pukat cincin di atas 30 GT telah dilengkapi dengan alat bantu navigasi. Alat bantu navigasi yang minimal harus ada di atas kapal adalab gyro compass dan SSB. Radar dan gyro compass digunakan untuk mengetahui posisi dan SSB sebagai alat komunikasi.
Metode pengoperasian
Pukat cincin (purse seine) dioperasikan dengan cara melingkari segerombolan ikan yang sebelumnya telah dideteksi keberadaanya. Penurunan (setting) dan penarikan (hauling) alat tangkap dilakukan pada sisi lambung bagian kanan kapal. Posisi kapal diatur sedemikian rupa agar jaring tidak terpintal pada baling-baling kapal. Setting berturut-turut dari salah satu ujung, bagian pelampung dan badan serta bagian bawah jaring sampai akhirnya pada bagian ujung sayap lainnya. Disela-sela penurunan jaring (setting) tersebut beberapa ABK menyisipkan cincin dan tali kerut pada ris bawah jaring yang telah dipasangi tali ring.
Hal ini dilakukan untuk mempermudah pemasangan dan pelepasan cincin dan tali kerut, sehingga dengan demikian posisi jaring di atas kapal dapat diatur rapi dan mudah dioperasikan. Setelah semua jaring diturunkan, Iangkah selanjutnya adalah menarik tali kerut (purse line) dengan dibantu mein dan gardan. Diusahakan agar tali kerut terlebih dabulu menutup celah bagian bawah jaring dan pertemuan dua ujung sisi sayap sampai pelampung. Dalam kondisi yang demikian ikan-ikan tidak mungkin lagi lolos dari jebakan kurungan raksasa. Langkah selanjutnya adalah menarik secara bersama-sama bagian pelampung, badan jaring dan bagian bawah jaring (pemberat dan cincin), sehingga cekungan makin lama semakin menyempit. Dalam kondisi seperti ini ikan-ikan yang telah terkumpul mulai diserok (disekop) dan dimasukkan ke dalam palka setelah terlebih dahulu dibilas dengan air bersih. Akhir dari operasi penangkapan adalah semua bagian terangkat dan tersusun rapi di atas kapal. Seperti halnya jaring payang, penangkapan dengan pukat cincin ini dilengkapi dengan rumpon dan kadang menggunakan lampu untuk malam hari sebagai alat bantu penangkapan.
Daerah penangkapan
Operasi pukat cincin pada umumnya dilakukan di daerah yang masih subur dan bebas dari karang. Hasil tangkapan terutama untuk Jawa dan sekitarnya adalah layang (Decapterus spp), bentong (Caranx spp), kembung (Rastrelliger spp), lemuru (Sardinella spp) dan Iain-Iainnya.
Musim penangkapan
Musim penangkapan dari pukat cincin ini sepanjang tahun.
Pengadaan alat dan bahan jaring
Alat dan bahan jaring bisa diperoleh di semua toko perlengkapan nelayan di lokasi terdekat atau bisa dipesan dari pabrik jaring “PT. Arida” di Cirebon atau ”PT. Indoneptun” di Ranca Ekek Bandung. Pukat cincin banyak digunakan di daerah pantura (Jakarta, Cirebon, Batang, Pemalang, Tegal, Pekalongan, Juana, Muncar) dan pantai selatan Jawa (Cilacap, Prigi dan lain-lain). Pukat cincin ini ada yang menamakan kursin, jaring kolor, jaring slerek dan pukat cincin janggutan.
Kisaran harga saturn peralatan
Kisaran harga 1 unit alat tangkap Rp. 10,000,000-Rp. 15,000,000,-. Kisaran harga kapal termasuk mesin Rp. 10,000,000-20,000,000,-.
Sumber : Dit PMP, DKP
Kontak : Departemen Kelautan dan Perikanan
Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Lantai 9 Tel. (021)3519070 (Hunting) Fax. (021) 3522560 Jakarta

Pukat Cincin

Pukat cincin adalah jaring yang umumnya berbentuk 4 persegi panjang, tanpa kantong dan digunakan untuk menangkap gerombolan ikan permukaan (pelagic fish). Pukat cincin (purse seine) adalah suatu alat penangkapan ikan yang digolongkan dalam kelompok jaring Iingkar (surrounding nets,). Disebut pukat cincin karena alat tangkap ini dilengkapi dengan cincin untuk mana tali cincin (purse line) atau tali kerut dilalukan didalamnya.



Fungsi cincin dan tali kerut/ tali kolor ini penting terutama pada waktu pengoperasian jaring. Sebab dengan adanya tali kerut tersebut jaring yang semula tidak berkantong akan terbentuk kantong pada tiap akhir penangkapan. Pukat cincin ini produktivitas hasil tangkapannya termasuk tinggi terutama untuk penangkapan ikan pelagik.
Konstruksi
Dilihat dari segi konstruksi maka bagian/komponen pukat cincin dapat dikelompokkan dalam 4 bagian besar yaitu: (1) badan jaring, (2) tali kerut, (3) cincin (ring) serta (4) pelampung dan pemberat, (5) tali selambar.
Berdasarkan Subani dan Barus (1989) konstruksi dari pukat cincin terdiri atas:
1.   Bagian jaring, nama bagian-bagian jaring ini belum mantap, tetapi ada yang membagi menjadi 2 yaitu bagian tengah dan jampang. Namun yang jelas ia terdiri dari 3 bagian, yaitu:
Jaring utama, bahan nilon 210 D/9, # 1 inci (1#)
Jaring sayap, bahan dari nilon 210 D/6, # 1 inci (1#);
Jaring kantong, # 3/4 inci (3/4).
2.   Srampatan (selvedge), dipasang pada bagian pinggiran jaring yang fungsinya untuk memperkuat jaring pada waktu dioperasikan terutama pada waktu penarikan jaring. Bagian ini langsung dihubungkan dengan tali temali. Srampatan dipasang pada bagian atas, bawah dan samping dengan bahan dan ukuran mata yang sama, yakni PE 380 (12, # = 1 inci) (1) sebanyak 20,25 dan 20 mata.
3.   Tali-temali,
4.   Tali pelampung, bahan PE, diameter 10 mm, panjang 420 m;
5.   Tali ris atas, bahan PE, diameter 6 mm dan 8 mm, panjang 420 m;
6.   Tali ris bawah, bahan PE, diameter 6 mm dan 8 mm, panjang 450 m;
7.   Tali pemberat, bahan PE, diameter 10 mm, panjang 450 m;
8.   Tali kolor, bahan kuralon, diameter 26 mm, panjang 500 m;
9.   Tali selambar, bahan PE, diameter 27 mm, panjang bagian kanan 38 m dan kiri 15 m;
10. Pelampung, ada 2 pelampung dengan bahan yang sama yakni synthetic rubber (SR). Pelampung Y-50 dipasang di pinggir kiri dan kanan 600 buah dan pelampung Y-80 dipasang di tengah sebanyak 400 buah. Pelampung yang dipasang di bagian tengah lebih rapat dibanding dengan bagian pinggir;
11.  Pemberat, terbuat dari timah hitam sebanyak 700 buah dipasang pada tali pemberat;
12.  Cincin, terbuat dari besi dengan diameter lubang 11,5 cm, digantungkan pada tali pemberat dengan seutas tali yang panjangnya 1 meter dengan jarak 3 meter setiap cincin. Ke dalam cincin ini dilalukan purse line.
Kapal pukat cincin adalah kapal yang secara khusus dirancang dan dibangun untuk digunakan menangkap ikan dengan alat penangkap jenis pukat cincin atau sering juga disebut pukat cincin, dan sekaligus menampung, menyimpan, mendinginkan dan mengangkutnya. Kapal pukat cincin ukuran 30-100 GT adalah kapal pukat cincin yang khusus dioperasikan untuk menangkap ikan jenis pelagis yang selalu bermigrasi dalam bentuk schooling fish, seperti ikan tongkol besar dan cakalang. Kekhasan kapal pukat cincin terutama yang beroperasi pada waktu malam hari adalah pada bagian atas kapal, sisi atas wheel house, dilengkapi dengan lampu-lampu merkuri.
Tiap kapal pukat cincin ukuran di atas 30 GT seharusnya minimal dilengkapi dengan power block yang berfungsi untuk membantu menarik jaring dari dalam air ke atas dek kapal, atau di kapal-kapal pukat cincin Indonesia fungsi power block dapat diganti dengan capstan yang dipasang di atas dek kapal. Alat bantu penangkapan lainnya yang disarankan adalah pukat cincin winci, davit, skif boat. Selain itu, juga diperlukan alat bantu penangkapan seperti echo sounder, yaitu alat yang digunakan untuk mencari posisi schooling fish agar operasi penangkapan menjadi lebih efektif.
Kapal pukat cincin di atas 30 GT telah dilengkapi dengan alat bantu navigasi. Alat bantu navigasi yang minimal harus ada di atas kapal adalab gyro compass dan SSB. Radar dan gyro compass digunakan untuk mengetahui posisi dan SSB sebagai alat komunikasi.
Metode pengoperasian
Pukat cincin (purse seine) dioperasikan dengan cara melingkari segerombolan ikan yang sebelumnya telah dideteksi keberadaanya. Penurunan (setting) dan penarikan (hauling) alat tangkap dilakukan pada sisi lambung bagian kanan kapal. Posisi kapal diatur sedemikian rupa agar jaring tidak terpintal pada baling-baling kapal. Setting berturut-turut dari salah satu ujung, bagian pelampung dan badan serta bagian bawah jaring sampai akhirnya pada bagian ujung sayap lainnya. Disela-sela penurunan jaring (setting) tersebut beberapa ABK menyisipkan cincin dan tali kerut pada ris bawah jaring yang telah dipasangi tali ring.
Hal ini dilakukan untuk mempermudah pemasangan dan pelepasan cincin dan tali kerut, sehingga dengan demikian posisi jaring di atas kapal dapat diatur rapi dan mudah dioperasikan. Setelah semua jaring diturunkan, Iangkah selanjutnya adalah menarik tali kerut (purse line) dengan dibantu mein dan gardan. Diusahakan agar tali kerut terlebih dabulu menutup celah bagian bawah jaring dan pertemuan dua ujung sisi sayap sampai pelampung. Dalam kondisi yang demikian ikan-ikan tidak mungkin lagi lolos dari jebakan kurungan raksasa. Langkah selanjutnya adalah menarik secara bersama-sama bagian pelampung, badan jaring dan bagian bawah jaring (pemberat dan cincin), sehingga cekungan makin lama semakin menyempit. Dalam kondisi seperti ini ikan-ikan yang telah terkumpul mulai diserok (disekop) dan dimasukkan ke dalam palka setelah terlebih dahulu dibilas dengan air bersih. Akhir dari operasi penangkapan adalah semua bagian terangkat dan tersusun rapi di atas kapal. Seperti halnya jaring payang, penangkapan dengan pukat cincin ini dilengkapi dengan rumpon dan kadang menggunakan lampu untuk malam hari sebagai alat bantu penangkapan.
Daerah penangkapan
Operasi pukat cincin pada umumnya dilakukan di daerah yang masih subur dan bebas dari karang. Hasil tangkapan terutama untuk Jawa dan sekitarnya adalah layang (Decapterus spp), bentong (Caranx spp), kembung (Rastrelliger spp), lemuru (Sardinella spp) dan Iain-Iainnya.
Musim penangkapan
Musim penangkapan dari pukat cincin ini sepanjang tahun.
Pengadaan alat dan bahan jaring
Alat dan bahan jaring bisa diperoleh di semua toko perlengkapan nelayan di lokasi terdekat atau bisa dipesan dari pabrik jaring “PT. Arida” di Cirebon atau ”PT. Indoneptun” di Ranca Ekek Bandung. Pukat cincin banyak digunakan di daerah pantura (Jakarta, Cirebon, Batang, Pemalang, Tegal, Pekalongan, Juana, Muncar) dan pantai selatan Jawa (Cilacap, Prigi dan lain-lain). Pukat cincin ini ada yang menamakan kursin, jaring kolor, jaring slerek dan pukat cincin janggutan.
Kisaran harga saturn peralatan
Kisaran harga 1 unit alat tangkap Rp. 10,000,000-Rp. 15,000,000,-. Kisaran harga kapal termasuk mesin Rp. 10,000,000-20,000,000,-.
Sumber : Dit PMP, DKP
Kontak : Departemen Kelautan dan Perikanan
Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Lantai 9 Tel. (021)3519070 (Hunting) Fax. (021) 3522560 Jakarta

Rawai Cucut

Rawai dasar adalah suatu alat tangkap yang berbentuk tali panjang yang dibentangkan secara horizontal, pada tali panjang diikatkan tali-tali lain yang teratur secara vertikal. Pada ujung tali vertikal diikatkan mata pancing dan dipasang di dasar perairan dengan bantuan pemberat. Untuk mengetahui adanya alat tangkap di perairan digunakan tanda dengan bantuan pelampung yang dihubungkan oleh tali pelampung. Jenis rawai dasar yang telah umum dikenal berdasarkan jenis ikan tujuan penangkapan adalah rawai kakap dan rawai cucut.

Konstruksi
Tali utama dan bahan PE dengan diameter 8 mm. Tali cabang dan bahan PE dengan diameter 5 mm. Panjang tali cabang 8 m dengan jarak antara tail cabang 24 m. Mata pancing nomor 6 dan 7 yang terbuat dari bahan baja putih. Tali pelampung dan bahan PE dengan diameter 5 mm sepanjang 11 meter.
Pelampung pelastik kurang lebih 300 gram dengan diameter 26 cm. Bendera tanda dengan panjang tiang 5-7 m dengan diameter 4-5 cm, batu kali 9 kg dan pelampung dan bahan styrofoam.
Metode pengoperasian
Operasi penangkapan dimulal pada sore hari. Sebelum dilakukan operasi penangkapan terlebih dahulu dilakukan persiapan yang terdiri dari persiapan alat tangkap, persiapan perbekalan kapal dan persiapan perbekalan nelayan kurang lebih untuk satu minggu.
Pengoperasian terdiri dari pemasangan umpan serta mempersiapkan pelampung, setting yang diawali dengan penurunan bendera tanda, hauling dan pengangkatan hasil tangkapan dengan menggunakan ganco. Pada saat hauling mesin tetap dihidupkan agar penarikan rawai lebih ringan.
Daerah penangkapan
Operasi penangkapan dilakukan pada perairan yang memiliki kedalaman 42- 93 meter.
Musim penangkapan
Kecuali pada musim barat di mana kegiatan penangkapan agak terganggu karena kondisi cuaca, operasi penangkapan tetap berjalan.
Pemeliharaan alat
Pemeliharaan alat tangkap sebaiknya setelah alat dipakai dicuci dengan air tawar, bagian yang rusak diperbaiki, dikeringkan di tempat yang tidak kena sinar matahari secara langsung dan disimpan ditempat yang bersih.
Pengadaan alat dan bahan jaring
Alat dan bahan jaring bisa diperoleh di semua toko perlengkapan nelayan di lokasi terdekat atau bisa dipesan dan pabrik jaring “PT. Arida” di Cirebon atau “PT Indoneptun” di Ranca ekek Bandung.
Kisaran harga satuan peralatan
Kisaran harga 1 unit alat tangkap kurang lebih Rp 10,000,000, kisaran harga kapal termasuk mesin kurang lebih Rp 20,000,000.-.
Sumber : Dit PMP, DKP
Kontak : Departemen Kelautan dan Perikanan
Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Lantai 9 Tel. (021)3519070 (Hunting) Fax. (021) 3522560 Jakarta

Rawai Cucut

Rawai dasar adalah suatu alat tangkap yang berbentuk tali panjang yang dibentangkan secara horizontal, pada tali panjang diikatkan tali-tali lain yang teratur secara vertikal. Pada ujung tali vertikal diikatkan mata pancing dan dipasang di dasar perairan dengan bantuan pemberat. Untuk mengetahui adanya alat tangkap di perairan digunakan tanda dengan bantuan pelampung yang dihubungkan oleh tali pelampung. Jenis rawai dasar yang telah umum dikenal berdasarkan jenis ikan tujuan penangkapan adalah rawai kakap dan rawai cucut.

Konstruksi
Tali utama dan bahan PE dengan diameter 8 mm. Tali cabang dan bahan PE dengan diameter 5 mm. Panjang tali cabang 8 m dengan jarak antara tail cabang 24 m. Mata pancing nomor 6 dan 7 yang terbuat dari bahan baja putih. Tali pelampung dan bahan PE dengan diameter 5 mm sepanjang 11 meter.
Pelampung pelastik kurang lebih 300 gram dengan diameter 26 cm. Bendera tanda dengan panjang tiang 5-7 m dengan diameter 4-5 cm, batu kali 9 kg dan pelampung dan bahan styrofoam.
Metode pengoperasian
Operasi penangkapan dimulal pada sore hari. Sebelum dilakukan operasi penangkapan terlebih dahulu dilakukan persiapan yang terdiri dari persiapan alat tangkap, persiapan perbekalan kapal dan persiapan perbekalan nelayan kurang lebih untuk satu minggu.
Pengoperasian terdiri dari pemasangan umpan serta mempersiapkan pelampung, setting yang diawali dengan penurunan bendera tanda, hauling dan pengangkatan hasil tangkapan dengan menggunakan ganco. Pada saat hauling mesin tetap dihidupkan agar penarikan rawai lebih ringan.
Daerah penangkapan
Operasi penangkapan dilakukan pada perairan yang memiliki kedalaman 42- 93 meter.
Musim penangkapan
Kecuali pada musim barat di mana kegiatan penangkapan agak terganggu karena kondisi cuaca, operasi penangkapan tetap berjalan.
Pemeliharaan alat
Pemeliharaan alat tangkap sebaiknya setelah alat dipakai dicuci dengan air tawar, bagian yang rusak diperbaiki, dikeringkan di tempat yang tidak kena sinar matahari secara langsung dan disimpan ditempat yang bersih.
Pengadaan alat dan bahan jaring
Alat dan bahan jaring bisa diperoleh di semua toko perlengkapan nelayan di lokasi terdekat atau bisa dipesan dan pabrik jaring “PT. Arida” di Cirebon atau “PT Indoneptun” di Ranca ekek Bandung.
Kisaran harga satuan peralatan
Kisaran harga 1 unit alat tangkap kurang lebih Rp 10,000,000, kisaran harga kapal termasuk mesin kurang lebih Rp 20,000,000.-.
Sumber : Dit PMP, DKP
Kontak : Departemen Kelautan dan Perikanan
Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Lantai 9 Tel. (021)3519070 (Hunting) Fax. (021) 3522560 Jakarta

Mengenal Pancing Tonda


alat ini banyak Diaplikasikan di  maluku, dan trenggale, sedangkan di padang, jawa ada juga dan di mukomuko belum biasa

Salah satu alat tangkap untuk memanfaatkan sumberdaya ikan pelagis (permukaan) adalah pancing tonda. Alat tangkap ini banyak dioperasikan di beberapa wilayah di Indonesia. Kontruksi pancing tonda terdiri dari galah, tali pancing utama, kili-kili, tali pancing cabang, dan mata pancing. Mata pancing pada pancing tonda ada yang dilengkapi dengan umpan tiruan (hook With false bail), umpan tiruan yang dilengkapi dengan mata pancing (rapala), atau ada juga yang diiengkapi dengan umpan alam.
Kontruksi Pancing
Pancing tonda terdiri dari komponen-komponen yang penting, yaitu: (1) tali utama, bahan umumnya dari benang plastik monofilament dengan panjang tali bervariasi tergantung keadaan, umumnya antara 100-500 meter, (2) kili-kili, (3) tali kawat, (4) mata pancing tunggal atau mata pancing ganda, dan (5) umpan tiruan.
Daerah penangkapan
Daerah penangkapan untuk pancing tonda skala kecil hanya di sekitar perairan pantai, untuk yang berskala menengah dan besar biasanya di lepas pantai.
Sumber : Dit PMP, DKP
Kontak : Departemen Kelautan dan Perikanan
Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Lantai 9 Tel. (021)3519070 (Hunting) Fax. (021) 3522560 Jakarta

Mengenal Pancing Tonda


alat ini banyak Diaplikasikan di  maluku, dan trenggale, sedangkan di padang, jawa ada juga dan di mukomuko belum biasa

Salah satu alat tangkap untuk memanfaatkan sumberdaya ikan pelagis (permukaan) adalah pancing tonda. Alat tangkap ini banyak dioperasikan di beberapa wilayah di Indonesia. Kontruksi pancing tonda terdiri dari galah, tali pancing utama, kili-kili, tali pancing cabang, dan mata pancing. Mata pancing pada pancing tonda ada yang dilengkapi dengan umpan tiruan (hook With false bail), umpan tiruan yang dilengkapi dengan mata pancing (rapala), atau ada juga yang diiengkapi dengan umpan alam.
Kontruksi Pancing
Pancing tonda terdiri dari komponen-komponen yang penting, yaitu: (1) tali utama, bahan umumnya dari benang plastik monofilament dengan panjang tali bervariasi tergantung keadaan, umumnya antara 100-500 meter, (2) kili-kili, (3) tali kawat, (4) mata pancing tunggal atau mata pancing ganda, dan (5) umpan tiruan.
Daerah penangkapan
Daerah penangkapan untuk pancing tonda skala kecil hanya di sekitar perairan pantai, untuk yang berskala menengah dan besar biasanya di lepas pantai.
Sumber : Dit PMP, DKP
Kontak : Departemen Kelautan dan Perikanan
Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Lantai 9 Tel. (021)3519070 (Hunting) Fax. (021) 3522560 Jakarta

MENGENAL PANCING RAWAI

PANCING RAWAI
Pancing jenis Rawai ini merupakan salah satu jenis alat tangkap yang cukup popular dan alat ini sudah banyak Diaplikasikan di beberapa Daerah seperti (Kabupaten Yapen Waropen, Kabupaten Ketapang, Kabupaten Seluma, Kabupaten Kaur dan  kabupaten Mukomuko)

Pancing rawai terdiri dari sejumlah mata kail yang dipasangkan pada panjangnya tali yang mendatar. Tali yang mendatar ini merupakan tali utama dari suatu rangkaian pancing rawai. Jenis pancing rawai terdiri dari pancing rawai kolom perairan, dan pancing rawai dasar. Pancing rawai kolam perairan dan pancing rawai dasar masing-masing terdiri dari pancing rawal vertikal dan pancing rawai horizontal.Pancing rawai terdiri dari sejumlah mata kail yang dipasangkan pada panjangnya tali yang mendatar. Tali yang mendatar ini merupakan tali utama dari suatu rangkaian pancing rawai. Jenis pancing rawai terdiri dari pancing rawai kolom perairan, dan pancing rawai dasar. Pancing rawai kolam perairan dan pancing rawai dasar masing-masing terdiri dari pancing rawal vertikal dan pancing rawai horizontal.
Konstruksi pancing
Seperangkat alat rawai mempunyai susunan bagian-bagian dan ukuran sebagai berikut; tali utama ukuran 3-4 mm, panjang 450-500 m, cabang dengan panjang 30 cm s/d 100 cm jarak antara tali cabang 3-4 m. Ukuran mata pancing nomor 7 atau 9 untuk di perairan pantai, dan nomor 4 s/d 1 untuk perairan lepas pantai. Tail pelampung dengan ukuran 20-80 cm, dengan panjang 8 cm. Pada setiap 50 mata pancing dipasang 1 pelampung. 
Metode pengoperasian
Metode pengoperasian dari pancing rawai adalah dengan cara menset pancing di perairan, kemudian dibiarkan untuk beberapa lama. Untuk rawai yang dioperasikan siang hari, kapal bersama alat tangkap dibiarkan hanyut, sedangkan untuk yang dioperasikan malam hari, setelah pancing diset, kapal dijangkar.
Daerah penangkapan
Daerah penangkapan adalah daerah penangkapan yang sebelumnya diperkirakan akan ikan yang akan dijadikan target tangkapan (berdasarkan data hasil tangkapan sebelumnya), kedalaman perairan, mulai dari perairan dangkal sampai dengan perairan dalam.
Musim penangkapan
Bisa dilakukan sepanjang tahun.
Pengadaan alat dan bahan
Bahan pancing bisa dibeli di toko jaring, atau di toko perlengkapan nelayan.
Perkiraan harga satuan peralatan
Perkiraan harga satu set (perahu dan pancing) Rp 3.000.000,- s/d Rp 10.000.000,-
Sumber : Dit PMP, DKP
Kontak : Departemen Kelautan dan Perikanan
Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Lantai 9 Tel. (021)3519070 (Hunting) Fax. (021) 3522560 Jakarta