Manajemen Budidaya Ikan Sistem KJA yang Berkelanjutan di Danau/Waduk

oleh.Nugroho Ardi Cahyono,S.Pi.M.eng

Dalam rangka mendukung visi Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu menjadikan Indonesia sebagai penghasil ikan terbesar tahun 2015, budidaya ikan sistem KJA memiliki prospek yang cerah untuk peningkatan produksi ikan. Peningkatan produksi ikan sebesar 353% secara langsung akan berdampak pada meningkatnya usaha budidaya ikan intensif dengan tingkat kepadatan ikan yang tinggi dan pemberian pakan buatan. Pada saat jumlahnya melampaui batas tertentu dapat mengakibatkan proses sedimentasi yang tinggi berupa penumpukan sisa pakan di dasar perairan yang akan menyebabkan penurunan kualitas perairan (pengurangan pasokan oksigen dan pencemaran air danau/waduk).

Sisa pakan dan metabolisme dari aktifitas pemeliharaan ikan dalam KJA serta limbah domestik yang berasal dari kegiatan pertanian maupun dari limbah rumah tangga menjadi penyebab utama menurunnya fungsi ekosistem danau yang berakhir pada terjadinya pencemaran danau, mulai dari eutrofikasi yang menyebabkan ledakan (blooming) fitoplankton dan gulma air seperti enceng gondok (Eichornia crassipes), upwelling dan lain-lain yang yang dapat mengakibatkan organisme perairan (terutama ikan-ikan budidaya) serta diakhiri dengan makin menebalnya lapisan anaerobik di badan air danau.

Kondisi inilah yang mengakibatkan salah satunya adalah kematian massal ikan tiap tahun terjadi di berbagai danau/waduk di Indonesia. Selain self polution (sisa pakan dan feses ikan budidaya), meningkatnya polusi di area ini diperparah oleh adanya buangan limbah pabrik tekstil dan buangan limbah rumah tangga yang memang penduduknya sudah terlalu padat tinggal di sekitar kedua waduk tersebut. Melihat akibat yang ditimbulkan dari budidaya ikan sistem KJA di danau/waduk maka budidaya ikan sistem KJA perlu mengindahkan manajemen budidaya yang berkelanjutan. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui manajemen budidaya ikan yang berkelanjutan di kawasan danau/waduk.

Keuntungan merupakan target utama dalam menjalankan bisnis industri budidaya perikanan khususnya budidaya sistem KJA di danau/waduk. Pembudidaya ikan berpikir kearah bagaimana cara-cara terbaik untuk memaksimalkan keuntungan sehingga memicu berbagai permasalahan terkait dengan sistem budidaya yang berkelanjutan. Adapapun permasalahan yang timbul yaitu penurunan fungsi ekosistem danau/waduk berupa pencemaran perairan budidaya yang secara langsung mengakibatkan menurunnya produksi perikanan. Maka sudah sepatutnya mencari solusi pemecahannya berupa manajemen budidaya ikan sistem KJA yang berkelanjutan yang sesuai dengan konsep dasar pemikiran pembangunan perikanan budidaya. Manajemen budidaya ikan yang berkelanjutan adalah pengelolaan yang dapat berlanjut sepanjang waktu sebagai hasil proses kebijakan sosio-politik, menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan secara ekologis harus dapat menjamin kelestarian sumberdaya perairan. Secara umum budidaya ikan sistem KJA merupakan kegiatan ekonomi yang menguntukan jika dikelola dengan baik. Belajar dari pengalaman yang sudah terjadi diperlukan cara pengelolaan atau manajemen perairan danau/waduk sesuai dengan daya dukung. Tujuan pengelolaan tersebut yaitu peningkatan produksi ikan dan memelihara produksi dan sumber daya perairan tersebut sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pemanfaatan danau/waduk.

Pemilihan lokasi

Danau/waduk yang dipilih sebagai kawasan untuk pengembangan budidaya ikan sistem KJA dengan minimal danau/waduk 100 ha dengan memperhatikan daya dukungnya. Pemanfaatan danau/waduk untuk kegiatan budidaya ikan sistem KJA harus dilakukan secara rasional dan tetap mengacu pada tata ruang yang telah ditentukan serta kondisi sumber daya dan daya dukung perairannya dengan maksud untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mempertahankan fungsi utama waduk. Pembagian zonazi untuk perairan waduk secara umum dilakukan dengan mengacu pada kondisi lingkungan fisik, sifat kehidupan dan penyebaran populasi ikan dalam usahanya mengelola perikanan yang terpadu dan lestari (Ilyas et al, 1989).

Salah satu penyebab kematian massal ikan budidaya adalah penurunan tinggi muka air. Apabila tinggi muka air menurun maka jarak karamba jaring apung dengan dasar menjadi lebih dekat, akibatnya ikan budidaya semakin mendekati lapisan hipolimnion yang reduktif. Sementara kedalaman perairan dangkal, sehingga jarak KJA dan dasar menjadi semakin dekat. Akibatnya kolom air yang reduktif semakin mendekati KJA. Kolom air menjadi anoksik atau lapisan anoksik telah mencapai permukaan sehingga dapat disebutkan bahwa penyebab kematian massal karena kekurangan oksigen dan tingginya konsentrasi zat toksik (H2S) (Simarmata, 2007). Sebaiknya pada saat tinggi muka air minimum, padat tebar ikan di KJA dikurangi atau ikan budidaya diganti dengan jenis yang lebih toleran terhadap konsentrasi DO yang rendah. Menurut Krismono (1999), kegiatan budaya ikan sistem KJA di danau/waduk, kedalaman air disyaratkan minimal 5 m pada jalur yang berarus horizontal. Kedalaman tersebut dimaksudakan untuk menghindari pengaruh langsung kualitas air yang jelek dari dasar perairan

Daya dukung danau/waduk, desain, tata letak dan konstruksi KJA

Menurut Soemarwoto (1991), bahwa luas areal perairan waduk yang aman untuk kegiatan budidaya ikan di KJA adalah 1% dari luas seluruh perairan waduk dengan pertimbangan bahwa angka 1% tersebut non significant untuk luasan suatu waduk serbaguna sehingga dianggap tidak akan mengganggu kepentingan fungsi utama waduk.
Memperbaiki konstruksi KJA yang ramah lingkungan dengan pelampung polystyrene foam. KJA yang terbuat dari bambu dengan pelampung polystyrene foam merupakan KJA yang paling ramah lingkungan dibandingkan dengan KJA lainnya (Prihadi dkk, 2008).
Menurut Rochdianto (2000), letak antara jaring apung sebaiknya berjarak 10–30 m agar arus air leluasa membawa air segar ke dalam jaring-jaring tersebut, sedangkan menurut Schmittou (1991), jarak antar unit KJA yang baik adalah 50 m.
Pengendalian/pengurangan jumlah KJA yang beroperasi.
Pemindahan lokasi KJA pada saat akan terjadi umbalan yang terjadi secara menyeluruh (holomictic) ke lokasi perairan yang lebih dalam (Enan dkk, 2009).
Untuk meningkatkan DO di perairan menggunakan: 1). kincir yang dapat dipasang pada setiap unit KJA atau pada satu lokasi KJA (Enan dkk, 2009), 2). pompa air yang dipancarkan dari atas (Krismono, 1995), dengan penambahan oksigen murni yang diberikan pada saat oksigen kritis (dini hari) (Danakusumah, 1998).
Keramba jaring apung ganda/berlapis dikembangkan dengan tujuan untuk mengurangi beban dari sisa pakan, yang dapat mencemari perairan.
Kuantitas limbah pakan yang signifikan tinggi perlu diadakan restorasi waduk melalui pengangkatan sedimen (dredging) agar kegiatan perikanan dapat aman dari tingginya bahan toksik dan limbah pencemaran ini berpeluang dijadikan pupuk pertanian (Yap, 2003).

Manajemen pakan
Pemberian pakan dengan sistem pompa akan mengakibatkan banyak pakan yang terbuang di dasar perairan danau/waduk. Untuk mengurangi pakan yang terbuang ke dasar danau/waduk, efisiensi pakan dapat dilakukan dengan cara pemberian pakan berselang-seling dalam hal ini ikan tidak setiap hari diberi makan namun diberikan berselang-seling yakni satu hari diberi makan, hari berikutnya tidak diberi makan (dipuasakan) ternyata pertumbuhan tidak terganggu dan efisiensi pakan 20–30% (Krismono, 1999). Efisiensi pakan juga dapat dilakukan dengan menggunakan benih unggul yang efektif memanfaatkan pakan sedangkan untuk kondisi kualitas air yang jelek menggunakan benih ikan patin (Pangasius sp) yang tahan kualitas air jelek (Prihadi, 2005). Selain itu, perlu melakukan upaya pemberian pakan dengan kadar fosfor yang rendah atau pemberian enzim fitase terhadap ketersediaan fosfor dari sumber bahan nabati pakan ikan. Penerapan pemberian pakan yang efektif dengan rasio 3% dengan pakan yang rendah kandungan fosfornya dengan pemberian tepung ikan seyogyanya dikurangi, sehingga dapat mengurangi limbah (sisa pakan) yang masuk ke perairan danau. Oleh karena itu, perlu alternatif lain sebagai substitusi tepung ikan yaitu antara lain protein sel tunggal (PST), tepung rumput laut. Kualitas pakan, selain ditentukan oleh nilai nutrisinya, dalam Suhenda et al. (2003) juga disebutkan bahwa pakan yang baik untuk pembesaran ikan dalam KJA adalah berbentuk pelet yang tidak mudah hancur, tidak cepat tenggelam serta mempunyai aroma yang merangsang nafsu makan ikan.

Pemilihan jenis ikan dan penebaran benih
Jenis ikan yang dibudidayakan di KJA harus memenuhi kriteria:

Tidak mengancam keanekaragaman hayati di perairan waduk;
Mempunyai nilai ekonomis tinggi;
Dalam proses budidaya menghasilkan limbah organik yang sedikit.

Pemilihan benih bertujuan untuk mendapatkan benih yang sehat dan bermutu. Beberapa hal yang harus diperhatikan:

Benih ditebar sesuai SNI yang dijamin dengan sertifikat sistem mutu perbernihan dan padat penebaran sesuai dengan SNI pembesaran di KJA;
Sebelum ditebar benih harus dilakukan penyesuaian dengan kondisi perairan.

Pola dan perizinan usaha
Kegiatan usaha budidaya ikan sistem KJA dapat dilakukan melalui Pola Swadaya dan Pola Kemitraan Usaha. Dalam pengelolaan danau/waduk, hendaknya tidak memikirkan keuntungan dari aspek ekonomi saja tetapi juga harus mempertimbangkan aspek lingkungan. Hal ini dapat dilakukan dengan pengelolaan zonasi danau/waduk yang sesuai. Selain itu, sisi perizinan pendirian KJA diprioritaskan pada masyarakat sekitar danau/waduk. Tetapi masalah yang muncul dari masyarakat sekitar waduk waduk yaitu ketiadaan modal.

Pengembangan budidaya ikan sistem KJA harus dibangun pada suatu sistem produksi yang secara ekologi, ekonomi dan sosial mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan yang didukung dengan inforamsi ilmiah dan peraturan. Stratergi yang dilakukan pada budidaya ikan sistem KJA yang berkelanjutan yaitu meningkatkan kemampuan daya dukung lingkungan danau/waduk. Manajemen budidaya ikan sistem KJA dapat dilakukan dengan pemilihan lokasi, penentuan daya dukung, desain, tata letak, konstruksi KJA, manajemen pakan, pemilihan jenis ikan dan penebaran benih serta pola dan perizinan usaha.

Berikut ini adalah saran yang perlu dilakukan dalam mendukung manajemen budidaya ikan sistem KJA yang berkelanjutan di Danau/Waduk, yaitu :

Perlu menerapkan budidaya ikan berbasis trophic level (aquaculture based trophic level) agar produktivitas perairan tetap optimal.
Perlu pendekatan sosial budaya dan sosialisasi peraturan yang tepat pada strategi pengurangan jumlah KJA dan penataan kembali lokasi budidaya ikan sistem KJA.
Perlu koordinasi antara pembudidaya, pengelola waduk, pemerintah, masyarakat sekitar waduk dalam memanfaatkan danau/waduk dan menjaga kelestariannya.
Perlu dukungan sarana dan prasarana yang terkait budidaya KJA dalam upaya manajemen budidaya ikan sistem KJA yang lestari dan berkelanjutan. 

sumber.nugroho_ac.mpsa

MENGENAL KARAMBA JARING APUNG (KJA)

Wadah budidaya ikan selanjutnya yang dapat digunakan oleh masyarakat yang tidak memiliki lahan darat dalam bentuk kolam, masyarakat dapat melakukan budidaya ikan di perairan umum. Budidaya ikan dengan menggunakan karamba merupakan alternatif wadah budidaya ikan yang sangat potensial untuk dikembangkan karena seperti diketahui wilayah Indonesia ini terdiri dari 70% perairan baik air tawar maupun air laut.
Dengan menggunakan wadah budidaya karamba dapat diterapkan beberapa system budidaya ikan yaitu secara ekstensif, semi intensif maupun intensif disesuaikan dengan kemampuan para pembudidaya ikan. Jenis-jenis wadah yang dapat digunakan dalam membudidayakan ikan dengan karamba ada beberapa antara lain adalah karamba jarring terapung, karamba bambu tradisional dengan berbagai bentuk bergantung pada kebiasaan masyarakat sekitar. Teknologi yang digunakan dalam membudidayakan ikan dengan karamba ini relatif tidak mahal dan sederhana, tidak memerlukan lahan daratan menjadi badan air yang baru serta dapat meningkatkan produksi perikanan budidaya. Jenis karamba jaring apung yang digunakan untuk membudidayakan ikan dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2.

Kemudian Dalam mendesain konstruksi wadah budidaya ikan disesuaikan dengan lokasi yang dipilih untuk membuat budidaya ikan dijaring terapung. Budidaya ikan dijaring terapung dapat dilakukan untuk komoditas ikan air tawar dan ikan air laut. Sebelum membuat konstruksi wadah karamba jaring terapung pemilihan lokasi yang tepat dari aspek sosial ekonomis dan teknis benar. Sama seperti wadah budidaya ikan sebelumnya persyaratan secara teknis dan sosial ekonomis dalam memilih lahan yang akan digunakan untuk melakukan budidaya ikan harus diperhatikan. Aspek sosial ekonomis yang sangat umum yang harus dipertimbangkan adalah lokasi tersebut dekat dengan pusat kegiatan yang mendukung operasionalisasi suatu usaha seperti tempat penjualan pakan, pembeli ikan dan lokasi yang dipilih merupakan daerah pengembangan budidaya ikan sehingga mempunyai prasarana jalan yang baik serta keamanan terjamin. Persyaratan teknis yang harus diperhatikan dalam memilih lokasi usaha budidaya ikan di karamba jaring terapung antara lain adalah :

1. Arus air.
Arus air pada lokasi yang dipilih diusahakan tidak terlalu kuat namun tetap ada arusnya agar tetap terjadi pergantian air dengan baik dan kandungan oksigen terlarut dalam wadah budidaya ikan tercukupi, selain itu dengan adanya arus maka dapat menghanyutkan sisa-sisa pakan dan kotoran ikan yang terjatuh di dasar perairan. Dengan tidak terlalu kuatnya arus juga berpengaruh terhadap keamanan jaring dari kerusakan sehingga masa pakai jaring lebih lama. Bila pada perairan yang akan dipilih ternyata tidak ada arusnya (kondisi air tidak mengalir), disarankan agar unit budidaya atau jaring dapat diusahakan di perairan tersebut, tetapi jumlahnya tidak boleh lebih dari 1% dari luas perairan. Pada kondisi perairan yang tidak mengalir, unit budidaya sebaiknya diletakkan ditengah perairan sejajar dengan garis pantai.

2. Tingkat kesuburan.
Pada perairan umum dan waduk ditinjau dari tingkat kesuburannya dapat dikelompokkan menjadi perairan dengan tingkat kesuburan rendah (oligotropik), sedang (mesotropik) dan tinggi (eutropik). Jenis perairan yang sangat baik untuk digunakan dalam budidaya ikan di jaring terapung dengan sistem intensif adalah perairan dengan tingkat kesuburan rendah hingga sedang.Jika perairan dengan tingkat kesuburan tinggi digunakan dalam budidaya ikan di jaring terapung maka hal ini sangat beresiko tinggi karena pada perairan eutropik kandungan oksigen terlarut pada malam hari sangat rendah dan berpengaruh buruk terhadap ikan yang dipelihara dengan kepadatan tinggi.

3. Bebas dari pencemaran.
Dalam dunia perikanan, yang dimaksud dengan pencemaran perairan adalah penambahan sesuatu berupa bahan atau energi ke dalam perairan yang menyebabkan perubahan kualitas air sehingga mengurangi atau merusak nilai guna air dan sumber air perairan tersebut. Bahan pencemar yang biasa masuk kedalam suatu badan perairan pada prinsipnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu bahan pencemar yang sulit terurai dan bahan pencemar yang mudah terurai. Contoh bahan pencemar yang sulit terurai berupa persenyawaan logam berat, sianida, DDT atau bahan organik sintetis. Contoh bahan pencemar yang mudah terurai berupa limbah rumah tangga, bakteri, limbah panas atau limbah organik. Kedua jenis bahan pencemar tersebut umumnya disebabkan oleh kegiatan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penyebab kedua adalah keadaan alam seperti : banjir atau gunung meletus. Jika lokasi budidaya mengandung bahan pencemar maka akan berpengaruh terhadap kehidupan ikan yang dipelihara didalam wadah budidaya ikan tersebut.

4. Kualitas air.
Dalam budidaya ikan, secara umum kualitas air dapat diartikan sebagai setiap perubahan (variabel) yang mempengaruhi pengelolaan, kelangsungan hidup dan produktivitas ikan yang dibudidayakan. Jadi perairan yang dipilih harus berkualitas air yang memenuhi persyaratan bagi kehidupan dan pertumbuhan ikan yang akan dibudidayakan. Kualitas air meliputi sifat fisika, kimia dan biologi.

Setelah mendapatkan lokasi yang memenuhi persyaratan teknis maupun sosial ekonomis maka harus dilakukan perencanaan selanjutnya. Perencanaan disesuaikan dengan data yang diperoleh pada waktu melakukan survey lokasi. Perencanaan tersebut dapat dibuat dengan membuat gambar dari konstruksi wadah budidaya yang akan dibuat. Konstruksi wadah jaring terapung terdiri dari beberapa bagian, antara lain :


1. Kerangka
Kerangka (bingkai) jaring terapung dapat dibuat dari bahan kayu, bambu atau besi yang dilapisi bahan anti karat (cat besi). Memilih bahan untuk kerangka, sebaiknya disesuai-kan dengan ketersediaan bahan di lokasi budidaya dan nilai ekonomis dari bahan tersebut.

Kayu atau bambu secara ekonomis memang lebih murah dibandingkan dengan besi anti karat, tetapi jika dilihat dari masa pakai dengan menggunakan kayu atau bambu jangka waktu (usia teknisnya) hanya 1,5–2 tahun. Sesudah 1,5–2 tahun masa pakai, kerangka yang terbuat dari kayu atau bambu ini sudah tidak layak pakai dan harus direnofasi kembali. Jika akan memakai besi anti karat sebagai kerangka jaring pada umumnya usia ekonomis/ angka waktu pemakaiannya relatif lebih lama, yaitu antara 4–5 tahun.

Pada umumnya petani ikan di jaring terapung menggunakan bamboo sebagai bahan utama pembuatan kerangka, karena selain harganya relatif murah juga ketersediaannya di lokasi budidaya sangat banyak.

Bambu yang digunakan untuk kerangka sebaiknya mempunyai garis tengah 5 – 7 cm di bagian pangkalnya, dan bagian ujungnya berukuran antara 3 – 5 cm. Jenis bambu yang digunakan adalah bambu tali. Ada juga jenis bambu gombong yang mempunyai diameter 12 -15 cm tetapi jenis bambu ini kurang baik digunakan untuk kerangka karena cepat lapuk.

Ukuran kerangka jaring terapung berkisar antara 5 X 5 meter sampai 10 X 10 meter. Petani ikan jaring terapung di perairan cirata pada umumnya menggunakan kerangka dari bambu dengan ukuran 7 X 7 meter. Kerangka dari jaring apung umumnya dibuat tidak hanya satu petak/kantong tetapi satu unit. Satu unit jaring terapung terdiri dari empat buah petak/kantong. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3

2. Pelampung
Pelampung berfungsi untuk mengapungkan kerangka/ jaring terapung. Bahan yang digunakan sebagai pelampung berupa drum (besi atau plastik) yang berkapasitas 200 liter, busa plastik (stryrofoam) atau fiberglass. Jenis pelampung yang akan digunakan biasanya dilihat berdasarkan lama pemakaian. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.

tabel 1

3. Pengikat
Tali pengikat sebaiknya terbuat dari bahan yang kuat, seperti tambang plastik, kawat ukuran 5 mm, besi beton ukuran 8 mm atau 10 mm. Tali pengikat ini digunakan untuk mengikat kerangka jaring terapung, pelampung atau jaring. Jika akan menggunakan pelampung dari drum maka drum harus terlebih dahulu dicat dengan menggunakan cat yang mengandung bahan anti karat.

Jumlah pelampung yang akan digunakan disesuaikan dengan besarnya kerangka jaring apung yang akan dibuat. Jaring terapung berukuran 7 X 7 meter, dalam satu unit jaring terapung membutuhkan pelampung antara 33 – 35 buah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4 dan 5.

Gambar 4

Gambar 5

4. Jangkar
Jangkar berfungsi sebagai penahan jarring terapung agar rakit jaring terapung tidak hanyut terbawa oleh arus air dan angin yang kencang. Jangkar terbuat dari bahan batu, semen atau besi. Pemberat diberi tali pemberat/tali jangkar yang terbuat dari tambang plastic yang berdiameter sekitar 10 mm – 15 mm. Jumlah pemberat untuk satu unit jaring terapung empat petak/kantong adalah sebanyak 4 buah. Pemberat diikatkan pada masing-masing sudut dari kerangka jaring terapung. Berat jangkar berkisar antara 50 – 75 kg. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 6.

5. Jaring
Jaring yang digunakan untuk budidaya ikan di perairan umum, biasanya terbuat dari bahan polyethylene atau disebut jaring trawl. Ukuran mata jaring yang digunakan tergantung dari besarnya ikan yang akan dibudidayakan. Kantong jaring terapung ini mempunyai ukuran bervariasi disesuaikan dengan jenis ikan yang dibudidayakan, untuk ikan air laut ukuran kantong jaring yang biasa digunakan berukuran mulai 2 X 2 X 2 m sampai 5 X 5 x 5 m. Sedangkan untuk jenis ikan air tawar berkisar antara 3 X 3 X 3 m sampai 7 X 7 X 2,5 m. Untuk mengurangi resiko kebocoran akibat gigitan binatang lain.

biasanya kantong jaring terapung dipasang rangkap (doubel) yaitu kantong jaring luar dan kantong jaring dalam. Ukuran jaring bagian luar biasanya mempunyai mata jaring (mesh size) yang lebih besar.

Salah satu contohnya adalah sebagai berikut :

a. Jaring polyethylene no. 380
D/9 dengan ukuran mata jaring (mesh size) sebesar 2 inch (5,08 cm) yang dipergunakan sebagai kantong jaring luar.

b. Jaring polyethylene no. 280
D/12 dengan ukuran mata jaring 1 inch (2,5 cm) atau 1,5 inch (3,81 cm) dipergunakan sebagai kantong jaring dalam.

Jaring yang mempunyai ukuran mata jaring lebih kecil dari 1 inch biasanya digunakan untuk memelihara ikan yang berukuran lebih kecil. Di perairan umum, khususnya dalam budidaya ikan di jaring terapung ukuran jaring yang digunakan adalah ukuran ¾ – 1 inch.
 sumber bacaan:
Ujangsdm@gmail.com.

http://ujangsdm-pokdakan.blogspot.com/

http://ismail-jeunib.blogsprot.com/200/11/keramba-jaring-apung-kja.h

(KJA) SEDERHANA DI KOLAM TERPAL

———————-

MODEL KARAMBA JARING APUNG
(KJA) _ SECARA SEDERHANA DI KOLAM TERPAL 
Ide untuk membuat keramba jaring apung (KJA) sederhana ini sebenarnya telah muncul beberapa waktu lalu namun karena beberapa kesibukan maka baru sekitar 2 minggu yang lalu keramba ini selesai dibuat. Gagasan untuk pembuatan keramba ini bermula dari ‘kerepotan’ yang dialami beberapa rekan pembudidaya saat harus melakukan grading (penggolongan atau pengkelasan) bibit ikan berdasarkan ukurannya. Bagi pembudidaya ikan, aktifitas grading memang sudah merupakan kegiatan ‘wajib’ yang rutin dilakukan pada pemeliharaan ikan, baik di kolam tradisional, permanen maupun kolam terpal.
Grading bibit ikan biasanya dimulai pada segmen pembibitan dan berlanjut hingga segmen pembesaran, menjelang tercapainya ukuran konsumsi. Seperti telah sama-sama diketahui bahwa grading bibit ikan (yang umumnya masih dilakukan secara manual) merupakan proses yang cukup melelahkan dan menyita banyak waktu. Dimulai dari persiapan alat-alat budidaya yang diperlukan, seperti; jaring, seser, ember-ember penyaring (khususnya pada pembibitan lele) dan tong (drum) plastik sebagai wadah (tempat penampung sementara) ikan hasil grading hingga persiapan kolam-kolam tempat tujuan pemencaran bibit ikan.
Pada kondisi normal, proses grading ikan gurame dimulai saat bibit berukuran kuku (size 1-2 cm) telah dipelihara selama kurang lebih 35 sampai 40 hari hingga mencapai ukuran korek gas (size 2-3 cm). Proses grading berikutnya adalah saat bibit ikan gurame mencapai ukuran silet (size 2,5-4 cm) sekitar 40 hari masa pemeliharaan dari ukuran ‘korek gas’. Setelah dipelihara lagi selama 40-45 hari, bibit gurame ukuran ‘silet’ ini akan mencapai ukuran korek kayu (size 3,5-5 cm). Pada tahapan inilah, disamping proses grading, dilakukan pula langkah penjarangan (pemencaran) bibit ikan ke beberapa kolam terpal lain yang telah dipersiapkan sebelumnya. Proses pemencaran ini dilakukan agar tercapai tingkat kepadatan ikan yang ideal. Demikian seterusnya, grading dan penjarangan pun kembali dilakukan hingga bibit ikan gurame mencapai ukuran 3 jari dan 4 jari. Pada kondisi normal, setelah bibit ikan mencapai ukuran ‘tempelan’ atau kira-kira sebesar telapak tangan orang dewasa (5 jari) maka proses grading tak lagi dilakukan karena tingkat keseragaman ukuran bibit ikan gurame umumnya telah tercapai. Menjelang ukuran konsumsi, kepadatan populasi bibit ikan gurame sebaiknya dipertahankan pada kisaran 10-12 ekor/m3 agar dicapai tingkat pertumbuhan yang optimal.

Pada tingkat kepadatan yang terlalu tinggi akan menyebabkan bibit ikan tidak dapat berkembang dengan baik. Terjadi kompetisi ruang dan pakan yang mengakibatkan pertumbuhan ikan menjadi tidak seragam. Beberapa bibit ikan memang dapat tumbuh dengan cepat namun sebagian besar lainnya justru terhambat (berukuran kerdil). Sering didapati, bibit ikan yang berukuran kerdil ini cukup banyak jumlahnya sehingga harus dipelihara lagi ditempat terpisah hingga mencapai ukuran standar. Proses ini tentu akan memakan waktu dan membutuhkan biaya ekstra. Hal yang demikian tentu tidak dikehendaki oleh para pembudidaya karena bagaimanapun juga nilai jual bibit ikan lebih ditentukan oleh ukuran fisiknya, bukan oleh umur atau lamanya masa pemeliharaan.
Selain menyebabkan tingkat keseragaman pertumbuhan ikan yang tidak merata, pemeliharaan bibit gurame dengan tingkat kepadatan yang terlalu tinggi akan menyebabkan kualitas air kolam sulit untuk dikontrol. Kualitas air kolam dapat berubah dengan cepat dan tidak jarang hanya dalam hitungan jam kualitas air kolam telah menurun drastis. Hal ini mungkin cukup mengagetkan bagi pembudidaya ikan yang baru mencoba menekuni usaha pembibitan gurame. Bibit ikan yang semula tampak sehat, gesit dan lincah tiba-tiba sebagian besar mengalami ‘kolaps’ keesokan paginya tanpa adanya tanda-tanda (gejala) serangan penyakit pada hari sebelumnya.
Untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya hal tersebut (akibat terlambatnya proses penjarangan) serta upaya untuk menghemat waktu saat grading maka muncul gagasan untuk mencoba mengadopsi cara pemeliharaan ikan dengan model keramba jaring apung (KJA) seperti yang banyak ditemui pada budidaya ikan dengan sistem air mengalir seperti di danau dan sungai serta kawasan perairan tenang di sekitar teluk dan pantai. Walaupun pola budidaya ikan di media kolam terpal sedikit berbeda (tidak menggunakan sistem air mengalir) namun kami pandang metode keramba jaring apung (KJA) ini dapat pula diterapkan pada kolam terpal, hanya saja diperlukan sedikit modifikasi bentuk dan ukuran keramba serta beberapa penyesuaian seperlunya.
Pada tahap awal kami coba membuat 3 jenis keramba sederhana berukuran 1 x 1 m2, 2 x 1  m2 dan 3 x 1 m2 dengan kedalaman jaring sekitar 90 cm hingga 1 meter (disesuaikan dengan kedalaman setiap kolam), masing-masing diperuntukkan bagi kolam terpal berukuran 4 x 4 m2 atau 4 x 6 m2, kolam 4 x 8 m2 dan kolam 6 x 6 m2. Untuk menghemat biaya, ketiga jenis keramba ini dibuat dari bahan-bahan sisa atau bahan bekas pakai yang masih dapat dimanfaatkan kembali seperti ; 

– potongan pipa-pipa paralon (PVC) berbagai ukuran
– tali plastik berukuran sedang dan
– beberapa bagian dari lembaran jaring pemanen bibit yang sudah tak terpakai namun masih dapat dimanfaatkan kembali untuk membentuk jaring keramba
– dan jaring pelindung/ penutup permukaan keramba (jika dipandang perlu).
Bahan lainnya yang perlu disiapkan adalah beberapa sok penyambung pipa paralon (PVC) yang sesuai yakni ; type ‘I’, ‘L’ (knee) dan ‘T’ serta lem PVC tentunya.
Untuk membentuk 1 keramba jaring apung sederhana setidaknya diperlukan 2 jenis ukuran pipa paralon (PVC), yakni pipa paralon 1,5″ sebagai rangka pengapung (sekaligus penggantung jaring) dan pipa paralon 1/2″ sebagai rangka pemberat nya. Untuk ukuran keramba yang lebih kecil (1 x 1 m2), rangka pemberatnya cukup menggunakan pipa paralon berukuran 5/8″.
Berikut ini adalah contoh pembuatan keramba jaring apung sederhana berukuran 2 x 1 m2 yang akan digunakan pada kolam pendederan berukuran 4 x 8 m2 dengan kedalaman genangan sekitar 1 meter.
Tahap pertama adalah membentuk rangka pengapung (pipa paralon 1,5″) dan rangka pemberat (pipa paralon 1/2″) masing-masing berukuran 2 x 1 m2. Setiap sambungan antar pipa pada rangka pengapung harus dipastikan betul-betul rapat (kedap udara) karena akan berfungsi sebagai pelampung (Gambar 1). Berbeda halnya dengan rangka pengapung yang berisi udara, rangkaian pipa paralon 1/2″ sebagai rangka pemberat justru diisi air atau pasir sehingga dapat tenggelam dalam genangan air kolam

Tahap kedua, memasang jaring berukuran 2m x 1m x 1m (yang telah disiapkan sebelumnya) pada rangka pengapung dengan menggunakan tali plastik mengitari sisi bawah rangka (gambar 2). Awal pemasangan jaring dapat dimulai dari salah satu sudut rangka pengapung menuju sudut berikutnya di arah sisi panjang rangka (gambar 3). Setiap melewati salah satu sudut rangka selalu dilakukan pemeriksaan tingkat kekencangan dan kerapihan ikatan antara jaring dan rangka (gambar 4). Demikian seterusnya hingga seluruh jaring dapat terpasang tepat seperti yang direncanakan dan siap untuk dimasukkan ke kolam pemeliharaan benih ikan (gambar 5).


Tahap ketiga, sebelum uji coba sebaiknya telah dipastikan rangka pemberat dapat berfungsi dengan baik. Seluruh bagian rangka pemberat yang telah diisi air terlihat tenggelam sempuna dalam posisi horisontal (gambar 6). Jika tidak maka sebagian tirai jaring keramba akan ‘menekuk’. Hal ini menandakan bahwa rangka pemberat tidak berfungsi dengan baik sehingga rangka yang semula diisi air harus diganti dengan bahan lain yang memiliki berat jenis lebih besar, misalnya pasir.

Gambar 6
Tahap keempat adalah tahap uji coba untuk memastikan setiap bagian keramba (2 x 1 m2) ini telah terangkai dengan benar dan dapat berfungsi sesuai rencana (gambar 7 dan 8) demikian pula halnya pada keramba yang berukuran lebih kecil yakni 1 x 1 m2 (gambar 9). Untuk mencegah lolosnya bibit ikan yang mungkin saja dapat ‘melompat’ keluar melewati rangka pelampung maka perlu dipasang penutup keramba berupa hamparan jaring atau pelindung berbentuk pagar jaring yang dipasang pada posisi tegak (vertikal) setinggi 30-40an cm tepat diatas rangka pengapung di sekeliling keramba sederhana ini.

Gambar 7

Gambar 8

Gambar 9

Dengan sedikit kreatifitas Anda pun dapat membuat keramba-keramba sejenis yang sejak awal memang telah dirancang untuk dapat saling terangkai membentuk modul-modul keramba sederhana yang dapat diletakkan pada bagian tengah kolam atau bahkan mengelilingi tepian kolam terpal. Dengan demikian diharapkan dalam 1 kolam terpal setidaknya terdapat 2 hingga 4 jenis ukuran bibit ikan yang dapat dipelihara dalam waktu yang hampir bersamaan. Hal ini tidak saja mempersingkat waktu saat harus melakukan proses grading namun juga akan menghemat kebutuhan ruang (kolam) budidaya.
Tidak tertutup kemungkinan pola pemeliharaan beberapa jenis ikan dalam satu medium dengan teknik   heterolik (ikan lele dan nila) dapat pula diterapkan pada kolam terpal dengan menggunakan model keramba jaring apung sederhana ini.
Sumber: berbagai buku budidaya ikan

(KJA) SEDERHANA DI KOLAM TERPAL

———————-

MODEL KARAMBA JARING APUNG
(KJA) _ SECARA SEDERHANA DI KOLAM TERPAL 
Ide untuk membuat keramba jaring apung (KJA) sederhana ini sebenarnya telah muncul beberapa waktu lalu namun karena beberapa kesibukan maka baru sekitar 2 minggu yang lalu keramba ini selesai dibuat. Gagasan untuk pembuatan keramba ini bermula dari ‘kerepotan’ yang dialami beberapa rekan pembudidaya saat harus melakukan grading (penggolongan atau pengkelasan) bibit ikan berdasarkan ukurannya. Bagi pembudidaya ikan, aktifitas grading memang sudah merupakan kegiatan ‘wajib’ yang rutin dilakukan pada pemeliharaan ikan, baik di kolam tradisional, permanen maupun kolam terpal.
Grading bibit ikan biasanya dimulai pada segmen pembibitan dan berlanjut hingga segmen pembesaran, menjelang tercapainya ukuran konsumsi. Seperti telah sama-sama diketahui bahwa grading bibit ikan (yang umumnya masih dilakukan secara manual) merupakan proses yang cukup melelahkan dan menyita banyak waktu. Dimulai dari persiapan alat-alat budidaya yang diperlukan, seperti; jaring, seser, ember-ember penyaring (khususnya pada pembibitan lele) dan tong (drum) plastik sebagai wadah (tempat penampung sementara) ikan hasil grading hingga persiapan kolam-kolam tempat tujuan pemencaran bibit ikan.
Pada kondisi normal, proses grading ikan gurame dimulai saat bibit berukuran kuku (size 1-2 cm) telah dipelihara selama kurang lebih 35 sampai 40 hari hingga mencapai ukuran korek gas (size 2-3 cm). Proses grading berikutnya adalah saat bibit ikan gurame mencapai ukuran silet (size 2,5-4 cm) sekitar 40 hari masa pemeliharaan dari ukuran ‘korek gas’. Setelah dipelihara lagi selama 40-45 hari, bibit gurame ukuran ‘silet’ ini akan mencapai ukuran korek kayu (size 3,5-5 cm). Pada tahapan inilah, disamping proses grading, dilakukan pula langkah penjarangan (pemencaran) bibit ikan ke beberapa kolam terpal lain yang telah dipersiapkan sebelumnya. Proses pemencaran ini dilakukan agar tercapai tingkat kepadatan ikan yang ideal. Demikian seterusnya, grading dan penjarangan pun kembali dilakukan hingga bibit ikan gurame mencapai ukuran 3 jari dan 4 jari. Pada kondisi normal, setelah bibit ikan mencapai ukuran ‘tempelan’ atau kira-kira sebesar telapak tangan orang dewasa (5 jari) maka proses grading tak lagi dilakukan karena tingkat keseragaman ukuran bibit ikan gurame umumnya telah tercapai. Menjelang ukuran konsumsi, kepadatan populasi bibit ikan gurame sebaiknya dipertahankan pada kisaran 10-12 ekor/m3 agar dicapai tingkat pertumbuhan yang optimal.

Pada tingkat kepadatan yang terlalu tinggi akan menyebabkan bibit ikan tidak dapat berkembang dengan baik. Terjadi kompetisi ruang dan pakan yang mengakibatkan pertumbuhan ikan menjadi tidak seragam. Beberapa bibit ikan memang dapat tumbuh dengan cepat namun sebagian besar lainnya justru terhambat (berukuran kerdil). Sering didapati, bibit ikan yang berukuran kerdil ini cukup banyak jumlahnya sehingga harus dipelihara lagi ditempat terpisah hingga mencapai ukuran standar. Proses ini tentu akan memakan waktu dan membutuhkan biaya ekstra. Hal yang demikian tentu tidak dikehendaki oleh para pembudidaya karena bagaimanapun juga nilai jual bibit ikan lebih ditentukan oleh ukuran fisiknya, bukan oleh umur atau lamanya masa pemeliharaan.
Selain menyebabkan tingkat keseragaman pertumbuhan ikan yang tidak merata, pemeliharaan bibit gurame dengan tingkat kepadatan yang terlalu tinggi akan menyebabkan kualitas air kolam sulit untuk dikontrol. Kualitas air kolam dapat berubah dengan cepat dan tidak jarang hanya dalam hitungan jam kualitas air kolam telah menurun drastis. Hal ini mungkin cukup mengagetkan bagi pembudidaya ikan yang baru mencoba menekuni usaha pembibitan gurame. Bibit ikan yang semula tampak sehat, gesit dan lincah tiba-tiba sebagian besar mengalami ‘kolaps’ keesokan paginya tanpa adanya tanda-tanda (gejala) serangan penyakit pada hari sebelumnya.
Untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya hal tersebut (akibat terlambatnya proses penjarangan) serta upaya untuk menghemat waktu saat grading maka muncul gagasan untuk mencoba mengadopsi cara pemeliharaan ikan dengan model keramba jaring apung (KJA) seperti yang banyak ditemui pada budidaya ikan dengan sistem air mengalir seperti di danau dan sungai serta kawasan perairan tenang di sekitar teluk dan pantai. Walaupun pola budidaya ikan di media kolam terpal sedikit berbeda (tidak menggunakan sistem air mengalir) namun kami pandang metode keramba jaring apung (KJA) ini dapat pula diterapkan pada kolam terpal, hanya saja diperlukan sedikit modifikasi bentuk dan ukuran keramba serta beberapa penyesuaian seperlunya.
Pada tahap awal kami coba membuat 3 jenis keramba sederhana berukuran 1 x 1 m2, 2 x 1  m2 dan 3 x 1 m2 dengan kedalaman jaring sekitar 90 cm hingga 1 meter (disesuaikan dengan kedalaman setiap kolam), masing-masing diperuntukkan bagi kolam terpal berukuran 4 x 4 m2 atau 4 x 6 m2, kolam 4 x 8 m2 dan kolam 6 x 6 m2. Untuk menghemat biaya, ketiga jenis keramba ini dibuat dari bahan-bahan sisa atau bahan bekas pakai yang masih dapat dimanfaatkan kembali seperti ; 

– potongan pipa-pipa paralon (PVC) berbagai ukuran
– tali plastik berukuran sedang dan
– beberapa bagian dari lembaran jaring pemanen bibit yang sudah tak terpakai namun masih dapat dimanfaatkan kembali untuk membentuk jaring keramba
– dan jaring pelindung/ penutup permukaan keramba (jika dipandang perlu).
Bahan lainnya yang perlu disiapkan adalah beberapa sok penyambung pipa paralon (PVC) yang sesuai yakni ; type ‘I’, ‘L’ (knee) dan ‘T’ serta lem PVC tentunya.
Untuk membentuk 1 keramba jaring apung sederhana setidaknya diperlukan 2 jenis ukuran pipa paralon (PVC), yakni pipa paralon 1,5″ sebagai rangka pengapung (sekaligus penggantung jaring) dan pipa paralon 1/2″ sebagai rangka pemberat nya. Untuk ukuran keramba yang lebih kecil (1 x 1 m2), rangka pemberatnya cukup menggunakan pipa paralon berukuran 5/8″.
Berikut ini adalah contoh pembuatan keramba jaring apung sederhana berukuran 2 x 1 m2 yang akan digunakan pada kolam pendederan berukuran 4 x 8 m2 dengan kedalaman genangan sekitar 1 meter.
Tahap pertama adalah membentuk rangka pengapung (pipa paralon 1,5″) dan rangka pemberat (pipa paralon 1/2″) masing-masing berukuran 2 x 1 m2. Setiap sambungan antar pipa pada rangka pengapung harus dipastikan betul-betul rapat (kedap udara) karena akan berfungsi sebagai pelampung (Gambar 1). Berbeda halnya dengan rangka pengapung yang berisi udara, rangkaian pipa paralon 1/2″ sebagai rangka pemberat justru diisi air atau pasir sehingga dapat tenggelam dalam genangan air kolam

Tahap kedua, memasang jaring berukuran 2m x 1m x 1m (yang telah disiapkan sebelumnya) pada rangka pengapung dengan menggunakan tali plastik mengitari sisi bawah rangka (gambar 2). Awal pemasangan jaring dapat dimulai dari salah satu sudut rangka pengapung menuju sudut berikutnya di arah sisi panjang rangka (gambar 3). Setiap melewati salah satu sudut rangka selalu dilakukan pemeriksaan tingkat kekencangan dan kerapihan ikatan antara jaring dan rangka (gambar 4). Demikian seterusnya hingga seluruh jaring dapat terpasang tepat seperti yang direncanakan dan siap untuk dimasukkan ke kolam pemeliharaan benih ikan (gambar 5).


Tahap ketiga, sebelum uji coba sebaiknya telah dipastikan rangka pemberat dapat berfungsi dengan baik. Seluruh bagian rangka pemberat yang telah diisi air terlihat tenggelam sempuna dalam posisi horisontal (gambar 6). Jika tidak maka sebagian tirai jaring keramba akan ‘menekuk’. Hal ini menandakan bahwa rangka pemberat tidak berfungsi dengan baik sehingga rangka yang semula diisi air harus diganti dengan bahan lain yang memiliki berat jenis lebih besar, misalnya pasir.

Gambar 6
Tahap keempat adalah tahap uji coba untuk memastikan setiap bagian keramba (2 x 1 m2) ini telah terangkai dengan benar dan dapat berfungsi sesuai rencana (gambar 7 dan 8) demikian pula halnya pada keramba yang berukuran lebih kecil yakni 1 x 1 m2 (gambar 9). Untuk mencegah lolosnya bibit ikan yang mungkin saja dapat ‘melompat’ keluar melewati rangka pelampung maka perlu dipasang penutup keramba berupa hamparan jaring atau pelindung berbentuk pagar jaring yang dipasang pada posisi tegak (vertikal) setinggi 30-40an cm tepat diatas rangka pengapung di sekeliling keramba sederhana ini.

Gambar 7

Gambar 8

Gambar 9

Dengan sedikit kreatifitas Anda pun dapat membuat keramba-keramba sejenis yang sejak awal memang telah dirancang untuk dapat saling terangkai membentuk modul-modul keramba sederhana yang dapat diletakkan pada bagian tengah kolam atau bahkan mengelilingi tepian kolam terpal. Dengan demikian diharapkan dalam 1 kolam terpal setidaknya terdapat 2 hingga 4 jenis ukuran bibit ikan yang dapat dipelihara dalam waktu yang hampir bersamaan. Hal ini tidak saja mempersingkat waktu saat harus melakukan proses grading namun juga akan menghemat kebutuhan ruang (kolam) budidaya.
Tidak tertutup kemungkinan pola pemeliharaan beberapa jenis ikan dalam satu medium dengan teknik   heterolik (ikan lele dan nila) dapat pula diterapkan pada kolam terpal dengan menggunakan model keramba jaring apung sederhana ini.
Sumber: berbagai buku budidaya ikan