Persiapan Seleksi Calon Penyiar Radio

Seleksi calon penyiar adalah pekerjaan yang sudah akrab dilakukan oleh para program director, manager siaran atau station manager sebuah radio. Dalam posting kali ini saya akan berbagi pengalaman menyeleksi penyiar radio. Semoga bisa bermanfaat, juga bagi anda yang berminat menjadi penyiar radio.

Kemampuan dasar yang harus dimiliki Broadcaster / Newscaster

1. Kemampuan vokal:

  • memiliki kualitas vokal yang bagus, bulat dan tidak pecah
  • memiliki artikulasi yang jelas
  • bisa berekspresi melalui suara
  • bisa memainkan intonasi suara
  • bisa mengatur kecepatan bicara
  • cukup memiliki kemampuan verbal

2. Kemampuan personal:

  • suka bicara dan bisa menjadi pendengar yang baik jika berhadapan dengan narasumber / saat melakukan wawancara
  • memiliki spontanitas yang baik
  • memiliki kepekaan terhadap situasi
  • mampu menjaga emosi, terutama pada saat siaran
  • percaya diri saat berbicara / siaran
  • memiliki rasa ingin tahu
  • bisa berkonsentrasi
  • memiliki sense of humor
Point-point ini bisa kita temukan di awal seleksi melalui wawancara dan mendengarkan rekaman calon penyiar. Perlu diperhatikan, kualitas vokal yang baik, suka berbicara dan suka mendengar tidak bisa dilatih. Seseorang yang tidak bisa memiliki kemampuan tersebut sulit menjadi seorang penyiar radio. Sedangkan pelamar yang bisa memenuhi kemampuan dasar, akan lebih mudah untuk dilatih menjadi penyiar yang baik.

Menjadi Penyiar Radio Bag 3

Jika di postingan sebelumnya kita lebih membahas mengenai tekhnik-tekhnik dasar yang harus dimiliki untuk menjadi seorang penyiar radio, kali ini dibagian terakhir kita coba untuk lebih mengasah dan menemukan skill yang kita miliki.
Seorang penyiar harus menemukan suara terbaiknya dan ini butuh eksperimen. Nah, berikut hal-hal yyang bisa anda coba lakukan sebagai bentuk latihan dan menampilkan kemampuan anda untuk menjadi seorang penyiar yang profesional :

Jika anda punya pilihan mikrofon, cobalah satu per satu untuk menemukan mic paling sesuai bagi anda. Beberapa mic dibuat untuk mendorong tinggi-rendah suara, dan anda bisa menyelaraskannya sesuai dengan kebutuhan.

Selain itu, cobalah dengan merekam suara anda dalam sikap tubuh yang berbeda, kedekatan yang berbeda dengan mic, dan tingkat proyeksi (pengerasan) yang berbeda.

Bayangkan ragam pendengar dan lihatlah bagaimana “mental image” ini mempengaruhi penyampaian Anda.Bayangkan, pendengar itu satu orang! Orang yang baru pertama kali berbicara di radio, sering secara salah memvisualkan pendengarnya –membayangkan bahwa pendengar itu ribuan. Padahal, orang yang mendengarkan itu dalam kelompok berjumlah satu orang (in group of one). Ya, bayangkan pendengar itu satu orang!. Berbicaralah layaknya kepada teman akrab. Lihat wajah teman anda itu dalam “pikiran mata” anda.

Jangan lupa juga untuk selalu tersenyum, meski pendengar tidak melihat kita. Berbicara dengan senyum, akan terasa hangat, ramah, friendly, di telinga pendengar.

Gunakan gerakan tubuh (gesture), meskipun tidak ada orang yang melihat kita. Penyiar adalah aktor. Jadi, bayangkan kita adalah seorang aktor yang sedang “mentas” di televisi.
Jedalah untuk beberapa detik untuk membiarkan pesan kita sampai ke pendengar. Saat jeda, kita juga bisa mencari gagasan berikutnya.

Pelajarilah cara orang berbicara saat ngobrol dan gunakan pola pembicaraan itu ketika membaca naskah. Perhatikan bagaimana dinamika vokal berfluktuasi: lebih keras, lebih lembut. Juga perhatikan obrolan itu berubah-ubah arah dan bagaimana tingkat lagu kalimat (range of inflection) mereka melebar.

Semoga bermanfaat…

Menjadi Penyiar Radio Bag 2

Penyiar adalah “pemain sandiwara” (performer) dan menghadapi tantangan yang sama sepertihalnya penyanyi atau aktor. Begitu berada di ruang siaran, di depan microphone, penyiar tidak akan dapat memberikan penampilan terbaik kecuali jika ia bisa santai (relax). Tenggorokan tercekik, leher tegang, dan pundak yang kaku, akan membuat seorang penyiar tidak dapat mengeluarkan suara terbaik.

Bagaimana agar bisa rileks? Bukan dengan mengatakan pada diri Anda, “Relax, relax!” Relaksasi bukanlah soal psikologis, tapi soal fisik. Ia tidak dimulai di otak, tapi di badan. Relaksasi diperoleh melalui sebuah proses fisik berupa peregangan dan pernafasan. Jika tubuh kita rileks, emosi kita akan mengikuti.

Mati lemas atau kekurangan nafas adalah penyebab mati gaya nomor satu di kalangan penyiar. Banyak penyiar biasa terus menahan nafas selama bertutur. Nafas megap-megap tidak akan menghasilkan siaran yang bagus.

Bernafas secara tepat adalah dasar siaran profesional. Script siaran harus memberi kesempatan untuk bernafas. Ketika kita membaca script, buatlah tanda di mana Anda akan mengambil nafas. Ikuti instruksi diri kita sendiri dan bernafaslah saat kita melihat tanda itu.

Sikap badan yang baik dan dukungan dari diafragma kita, akan membuat tiap nafas bekerja lebih lama bagi kita. Kita bisa latih hal itu dengan cara meratakan jari tangan dan tekan diafragma (rongga antara dada dan perut). Ketika kita mulai dengan suara rendah, tekan diafragma kita dengan tangan. Teknik ini akan memberi kita kekuatan ekstra. Jauhkan mulut kita dari microphone saat menarik nafas dan jangan sampai tarikan nafas kita terdengar diudara (onair).

Penyiar radio berbicara kepada pendengar yang tidak terlihat. Penyiar radio juga sering sendirian di ruang siaran, tidak ada lawan bicara, karena itu membentuk “mental image” tentang pendengar kita sangat penting untuk siaran terbaik. Membayangkan adanya seorang pendengar di depan kita, akan membantu kita berkomunikasi secara alamiah.

Di radio, kita hanya punya satu kesempatan untuk membuat pendengar kita mengerti apa yang sedang kita bicarakan. Berbeda dengan media cetak, pembaca akan mengulang bacaan pada bagian yang mereka tidak pahami. Begitu juga televisi, ada bantuan visual untuk memperjelas berita. Tapi di radio, yang dimiliki pendengar hanya suara kita.

Karena itu, saat menyampaikan sebuah informasi, gunakan kata-kata mana yang menjadi kata kunci (key words) dan garisbawahi agar pendengar bisa gampang mencerna dan memahami isi dari informasi yang kita sampaikan.

Selain itu, siaran yang baik membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi. Tidak mudah untuk mengatur nafas kita, memvisualkan pendengar kita, dan menyampaikan informasi pada saat yang sama. Karena itu, relaksasi adalah kunci konsentrasi. bersambung…

Menjadi Penyiar Radio Bag 1

Sebagaimana kita ketahui, RADIO bisa diartikan SUARA… Media elektronik yang hanya bisa didengar dan tidak bisa menampilkan gambar (visual). Suara (voice) lah yang menjadi aset terpenting bagi seorang penyiar radio, dimana penyiar juga sebagai ujung tombak sebuah radio yang berinteraksi langsung dengan pendengarnya.

Diantara kita banyak yang terlahir dengan memiliki suara indah. Namun, kebanyakan dari kita belum tentu bisa langsung menjadi seorang penyiar radio, karena kita harus bekerja keras untuk menjadi penyiar yang profesional. Lagi pula, menjadi penyiar radio yang profesional tidak cukup hanya bermodalkan suara emas, tapi juga perlu modal lainnya, seperti wawasan / pengetahuan umum, sense of music, sense of humor, dan lainnya.

WAWASAN
Penyiar harus mempunyai wawasan / pengetahuan umum untuk menunjang kegiatan siarannya agar siaran lebih hidup, berisi, dan tidak monoton. Karena ada istilah penyiar adalah panutan pendengar, jadi seorang penyiar harus bisa memberikan informasi-informasi yang ingin diketahui oleh pendengar. Dengan mempunyai wawasan luas, kita bisa mempunyai banyak kosakata, bisa berimprovisasi, tidak kehabisan kata-kata dan tidak membuat bosan telinga pendengar. Karena itu, untuk mempunyai wawasan yang luas, banyak-banyaklah membaca, jadilah orang yang haus akan informasi & pengetahuan.

SENSE OF MUSIC
Untuk menjadi penyiar yang profesional, selain harus mempunyai wawasan yang luas, penyiar juga dituntut harus memiliki sense of music atau pengetahuan tentang musik yang tinggi. Karena, tugas penyiar bukan hanya memutarkan lagu-lagu atau membaca request, tapi juga harus memahami / mengetahui tentang genre musik, asal usul penyanyinya, pencipta lagunya ataupun komposisi musiknya.

SENSE OF HUMOR
Selain dua hal tadi, Penyiar juga harus humoris dan mempunyai bakat menghibur. Bakat itu diperlukan karena profesi penyiar radio dituntut mampu menghibur pendengarnya. Apalagi
pendengar yang tengah sedih, patah hati atau kecewa mereka memerlukan hiburan dengan mendengarkan radio untuk mengobati perasaannya. Lagi pula, sebagaimana kita ketahui, radio identik dengan dunia hiburan (entertaintment).


BAHASA / TUTUR
Selain harus mempunyai banyak kosakata dalam siaran agar tidak monoton, seorang penyiar dalam siarannya juga harus menggunakan bahasa tutur, bahasa percakapan. Bahasa tutur yaitu bahasa yang dipakai dalam pergaulan sehari-hari yang mempunyai ciri khas kalimatnya sederhana, singkat, kurang lengkap, tidak banyak menggunakan kata penghubung; dan menggunakan kata-kata yang lazim dipakai sehari-hari.
bersambung…