MENGENAI ANGGREK BULAN LOKAL (Phalaenopsis amabilis) YANG HAMPIR PUNAH

Anggrek merupakan salah satu tanaman hias berbunga yang tidak kalah indahnya dengan tanaman hias berbunga lainnya. Anggrek memiliki bentuk dan corak bunga yang beraneka ragam dan indah dipandang mata. Keindahan bentuk dan bunganya telah membuat tanaman dari keluarga “Orchidaceae” ini banyak dikoleksi oleh semua orang baik hanya untuk hobi saja bahkan sampai di perjual belikan.
Anggrek tergolong anggota famili “Orchidaceae”,dimana merupakan salah satu famili bunga-bungaan yang paling besar, memiliki kurang lebih 43.000 spesies dari 750 generasi yang berbeda. Menurut berbagai informasi diperoleh keterangan lebih kurang sekitar 5.000 spesies anggrek di antaranya terdapat di indonesia dengan penyebaran hampir di seluruh Nusantara. Tanaman anggrek itu sendiri memiliki bermacam fungsi, diantaranya yang paling utama yakni sebagai tanaman hias yang dinikmati keindahan bunganya karena setiap jenis bunga anggrek memiliki bentuk, corak, warna dan wangi yang khas sehingga semua orang tidak jenuh untuk menikmatinya. Selain itu tanaman anggrek juga diambil bunganya untuk dicampur dalam pembuatan aneka produk kecantikan dan kesehatan bagi masyarakat luas.
Anggrek terbaik di dunia jenis anggrek bulan lokal (Phalaenopsis amabilis) dari Kabupaten Tanah Laut kini tidak bisa ditemukan lagi di hutan Kabupaten Tanah Laut ataupun di kawasan hutan Kalimantan Selatan lainnya.  Ketua Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Kalimantan Selatan Aida Muslimah di Banjarmasin, Sabtu (4/9/2010), mengatakan, anggrek lokal Phalaenopsis amabilis di dunia ini hanya ada di tiga tempat, yaitu dua tempat di Indonesia, di Bogor dan Pelaihari, ibu kota Kabupaten Tanah Laut; dan di Filipina.
Dari tiga tempat tersebut, kata Aida, yang hadir dalam acara buka bersama komunitas jurnalis “Pena Hijau” Kalsel, anggrek bulan Pelaihari yang paling bagus dijadikan sebagai inti silang. Hal ini disebabkan ada beberapa kelebihan yang tidak terdapat pada anggrek jenis lainnya di daerah lain. Beberapa kelebihan tersebut, kata Aida, yang didampingi Sekretaris PAI Yulianto, antara lain, anggrek bulan Pelaihari memiliki masa bunga cukup lama antara tiga dan enam bulan, sedangkan anggrek biasa tidak lebih dari satu bulan.Selain itu, katanya, jumlah kuntum dalam satu tangkai bisa mencapai 25-50 buah, sedangkan anggrek biasa hanya 10-15 kuntum, dan banyak cabang dalam tangkai, sedangkan anggrek lainnya hanya satu cabang.
Anggrek bulan Pelaihari ini juga merupakan salah satu jenis anggrek yang memiliki bunga yang sangat indah berwarna putih bersih sehingga harganya pun cukup mahal, bisa mencapai Rp 5 juta untuk satu pohon. Sayangnya, kata Yulianto, jenis bunga yang dinobatkan sebagai bunga terbaik dunia di jenisnya tersebut kini tidak ditemukan lagi di habitatnya karena kesalahan kebijakan pemerintah pada masa lalu. “Dulu anggrek merupakan tanaman hasil komoditas yang bisa diperjualbelikan sehingga pada saat itu penjualan anggrek Pelaihari ke beberapa negara cukup marak, hingga akhirnya anggrek kebanggaan tersebut sulit ditemukan, bahkan tidak ada lagi di hutan Pelaihari,” katanya.
Anggrek Bulan Lokal (Phalaenopsis  amabilis) Sebagai Komoditas Bisnis
Anggrek Bulan Lokal (Phalaenopsis  amabilis) merupakan salah satu jenis anggrek yang memiliki bunga yang sangat indah sekali, masih merupakan anggrek spesies atau dikenal dengan anggrek alam (lokal), karena mengingat penyebaran terbanyak ditemukan di Pulau Jawa dan Sumatera. Anggrek Bulan ini juga bermanfaat sebagai hiasan taman dan rumah yang dinikmati keindahannya. Anggrek ini tergolong jenis epifit yakni menempel di pohon untuk mendapatkan sari makanan akan  tetapi tidak merugikan sama sekali bagi inangnya. Anggrek bulan ini tidak suka terlalu lembab atau bahkan kering, karena masih tergolong anggrek alam, maka perlakuannya jika dikoleksi harus disesuaikan dengan kondisi alam asli tempat hidupnya demi kelangsungan hidup dan kecepatan berbunga. Phalaenopsis amabilis ini sekarang sangat langka, jarang dijumpai karena plasma nutfahnya sudah banyak yang diambil untuk dijadikan indukan persilangan dengan jenis anggrek alam lainnya.
Sebagai komoditas bisnis, Anggrek  Phalaenopsis  amabilis ini pernah menduduki rangking atas dalam perdagangan tanaman anggrek, karena harganya yang relatif terjangkau namun memiliki sosok bunga yang sangat indah dan bahkan bunganya  tahan sampai kisaran hampir 6 bulan. Pada era sebelum ditemukannya atau baru sedikit ditemukannya anggrek silangan, Phalaenopsis  amabilis inilah yang mendominasi pasar anggrek nasional. Sampai sekarang pun jenis  Phalaenopsis  amabilis ini masih banyak sekali peminatnya karena harganya masih relatif terjangkau.
Untuk saat ini pasar anggrek Nasional masih tetap stabil dan akan terus stabil sampai selamanya karena tanaman anggrek ini yang dinikmati adalah bunganya dan para penyilang anggrek itu sendiri hampir setiap waktu membuat silangan-silangan baru untuk mempertahankan kestabilan pasar dalam segi bisnis anggrek itu sendiri. Di Indonesia sendiri juga terdapat “PAI“ (Perhimpunan Anggrek Indonesia) dimana disitu merupakan ajang berkumbul, bertemu, berbisnis para penyilang, petani, pembenih dan pedagang tanaman anggrek  itu sendiri dari seluruh penjuru Indonesia, dan tidak menutup kemungkinan untuk Asia Tenggara, khususnya Thailand. Maka dari itu dapat dilihat bahwa prospek bisnis anggrek sangatlah menjanjikan untuk masa depan dan sangat menguntungkan untuk dijadikan aset berharga bagi Negara Indonesia khususnya.
ORCHID OF THE MONTH LOCAL (Phalaenopsis amabilis) ENDANGERED
Orchid is one of the flowering plants that are not less beautiful with other flowering plants. Orchid flowers have a shape and pattern of diverse and beautiful eyes. The beauty of form and interest have been made of plants of the family “Orchidaceae” This much was collected by all good people just for a hobby just got even perjual traded.
Orchids belong to the family members “Orchidaceae”, which is one family of flowers that most large, has approximately 43,000 species from 750 different generations. According to various more or less information was obtained about 5,000 species of orchids of which there are in Indonesia with the spread almost all over the archipelago. Orchid plant itself has various functions, including the most important as an ornamental plant that is enjoyed the beauty of the flowers because each type of orchid flowers have the shape, style, color and distinctive scent that everyone is bored to enjoy it. In addition, orchid plants also captured the interest to be mixed in the manufacture of various beauty and health products to the general public.
The best orchid in the world of local species of orchids month (Phalaenopsis amabilis) of Tanah Laut District now can not be found again in Tanah Laut regency woods or in other forest areas in South Kalimantan. Chairman of the Indonesian Orchid Association (PAI), South Kalimantan, Banjarmasin Aida Muslimah on Saturday (04/09/2010), said the local orchid Phalaenopsis amabilis in this world exist only in three places, two places in Indonesia, the Bogor and Pelaihari, mother Tanah Laut regency town, and in the Philippines.
Of the three sites, said Aida, who attended the opening ceremony together with community journalist “Pen Green” South Kalimantan, orchid months Pelaihari best serve as the core cross. This is because there are some advantages that are not found in other orchid species in other areas. Some of these advantages, said Aida, who was accompanied by Secretary of PAI Yulianto, among others, orchid flower moon Pelaihari have a long period between three and six months, while the ordinary orchid no more than one bulan.Selain it, he said, the number of florets in a single stalk can reached 25-50 fruits, whereas only 10-15 regular orchid petals, and many branches in the stalk, while the other orchid is only one branch.
Orchid Pelaihari this month is also one type of orchid that has a very beautiful flowers of pure white color, so the price is quite expensive, can reach Rp 5 million for a single tree. Unfortunately, said Yulianto, type of flower which was named the best interest of the world in its kind is now no longer found in their habitat because of government policy mistakes in the past. “Once the orchid is a commodity crops that can be traded so that at the time Pelaihari orchid sales to several countries is rampant, until finally the pride orchids are difficult to find, even there is no longer in the forest Pelaihari,” he said.
Local Moon Orchid (Phalaenopsis amabilis) As a Commodity Business
Local Moon Orchid (Phalaenopsis amabilis) is one type of orchid that has a very beautiful flower, is still an orchid species known as wild orchids (local), because given the spread of the largest found in Java and Sumatra. Phalaenopsis is also useful as a decorative garden and house enjoyed its beauty. It belongs to the type epiphytic orchid that is attached to the trees to get nutrients but does not hurt at all for the host. Orchids this month do not like too moist or even dry, because it is still classified as wild orchids, the treatment if the collection should be adapted to the conditions of the original natural habitat for survival and flowering rate. Phalaenopsis amabilis is now very rare, rare plasma nutfahnya because so many have taken to be a cross breeding with other species of wild orchids.
As a commodity business, Orchid Phalaenopsis amabilis was once ranked top in the trade of orchid plants, because the price is relatively affordable but has a very beautiful figure of interest and even the flowers stand up to the range of nearly 6 months. In the era before the discovery or invention of new small hybrid orchid, Phalaenopsis amabilis orchid is what dominates the national market. Until now any type of Phalaenopsis amabilis is still a lot of demand because the price is still relatively affordable.
For now the National orchid market remained stable and will remain steady until forever because of this orchid plants that enjoy the flowers and the penyilang orchid itself nearly every time a new cross-cross to maintain market stability in terms of the orchid business itself. In Indonesia there are also “PAI” (Indonesian Orchid Association) where there is an event berkumbul, meet, do business the penyilang, farmers, and traders pembenih itself orchid plants from all over Indonesia, and it is possible to Southeast Asia, especially Thailand. Thus it can be seen that the orchid business outlook is very promising for the future and very profitable to be a valuable asset to the State of Indonesia in particular.

MENGENAL KANTONG SEMAR YANG TERANCAM PUNAH (Dari Berbagai Sumber)

Kelompok kantong semar (Nepenthes) merupakan tanaman di Indonesia yang dikategorikan paling langka, spesies yang membutuhkan prioritas tinggi untuk segera dikonservasi. “Tanaman yang dimasukkan dalam prioritas ada 100 spesies, mereka butuh dikonservasi tahun ini juga, kelompok spesies dari kantong semar atau Nepenthes dapat prioritas tertinggi,” kata Pakar Taksonomi dari LIPI Didik Widyatmoko yang dihubungi dari Jakarta, Jumat.
Menurut Didik, hasil penilaian para pakar tumbuhan pada pertemuan yang digagas LIPI awal pekan ini, menetapkan 191 spesies dari empat famili tanaman menjadi prioritas konservasi tahun ini. “Dari 191 diperas lagi jadi 100 spesies,” kata Kepala Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas itu.
Empat famili itu yakni, anggrek-anggrekan (orchidaceae), palem-paleman (arecaceae), paku-pakuan (cyatheaceae), dan kantong semar (nepenthaceae) adalah taksa-taksa dengan jumlah spesies berkategori terancam punah paling banyak. Tanaman langka dari famili lainnya menunggu tahap konservasi selanjutnya, ujarnya sambil menambahkan, angka 191 itu diambil berdasarkan referensi dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan pendapat para pakar di bidangnya.
Sementara itu Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor Mustaid Siregar merahasiakan nama spesies kantong semar paling langka tersebut. “Para pakar mengkhawatirkan publikasi suatu spesies tanaman langka justru akan membuat peminat tanaman berusaha memburu tanaman itu, sehingga kemungkinan tanaman itu semakin punah semakin terbuka lebar,” katanya. Skala prioritas untuk melakukan konservasi terhadap tanaman langka perlu diberlakukan, karena dana, tenaga ahli dan waktu sangat terbatas, sementara tumbuhan yang terancam punah terus meningkat, katanya
Menurut dia, jumlah spesies tumbuhan Indonesia terancam punah yang berkategori kritis (critically endangered), genting (endangered) dan rawan (vulnerable) telah mencapai 513 jenis. Dari jumlah itu 386 spesies tercantum dalam IUCN 2008.
“Jumlah sebenarnya jauh lebih banyak lagi. Indonesia merupakan negara kedua di dunia setelah Malaysia yang memiliki tumbuhan terancam punah, disusul Brazil,” katanya. Skor tertinggi tumbuhan terancam punah dilakukan melalui 17 kriteria, misalnya keunikan taksonomis, distribusi geografis, nilai manfaat, jumlah populasi, dampak eksploatasi, hingga tingkat kemerosotan populasi. Semakin terbatas suatu tanaman hanya bisa tumbuh di lokasi tertentu (tingkat endemisitas tinggi) maka skornya lebih tinggi, demikian pula jika populasinya terbatas dan terlalu banyak dieksploitasi karena nilai manfaatnya tinggi serta keunikannya yang menonjol.
MENGENAI KANTONG SEMAR
Kantong semar atau dalam nama latinnya Nepenthes sp. pertama kali dikenalkan oleh J.P Breyne pada tahun 1689. Di Indonesia, sebutan untuk tumbuhan ini berbeda antara daerah satu dengan yang lain. Masyarakat di Riau mengenal tanaman ini dengan sebutan periuk monyet, di Jambi disebut dengan kantong beruk, di Bangka disebut dengan ketakung, sedangkan nama sorok raja mantri disematkan oleh masyarakat di Jawa Barat pada tanaman unik ini. Sementara di Kalimantan setiap suku memiliki istilah sendiri untuk menyebut Nepenthes sp. Suku Dayak Katingan menyebutnya sebagai ketupat napu, suku Dayak Bakumpai dengan telep ujung, sedangkan suku Dayak Tunjung menyebutnya dengan selo bengongong yang artinya sarang serangga (Mansur, 2006).
Sampai dengan saat ini tercatat terdapat 103 jenis kantong semar yang sudah dipublikasikan (Firstantinovi dan Karjono, 2006). Tumbuhan ini diklasifikasikan sebagai tumbuhan karnivora karena memangsa serangga. Kemampuannya itu disebabkan oleh adanya organ berbentuk kantong yang menjulur dari ujung daunnya. Organ itu disebut pitcher atau kantong. Kemampuannya yang unik dan asalnyayang dari negara tropis itu menjadikan kantong semar sebagai tanaman hias pilihan yang eksotis di Jepang, Eropa, Amerika dan Australia. Sayangnya, di negaranya sendiri justru tak banyak yang mengenal dan memanfaatkannya (Witarto, 2006).
Selain kemampuannya dalam menjebak serangga, keunikan lain dari tanaman ini adalah bentuk, ukuran, dan corak warna kantongnya. Secara keseluruhan, tumbuhan ini memiliki lima bentuk kantong, yaitu bentuk tempayan, bulat telur/oval, silinder, corong, dan pinggang.
Penyebaran
Kantong semar tumbuh dan tersebar mulai dari Australia bagian utara, Asia Tenggara, hingga Cina bagian Selatan. Indonesia sendiri memiliki Pulau Kalimantan dan Sumatera sebagai surga habitat tanaman ini. Dari 64 jenis yang hidup di Indonesia, 32 jenis diketahui terdapat di Borneo (Kalimantan, Serawak, Sabah, dan Brunei) sebagai pusat penyebaran kantong semar. Pulau Sumatera menempati urutan kedua dengan 29 jenis yang sudah berhasil diidentifikasi.
Keragaman jenis kantong semar di pulau lainnya belum diketahui secara pasti. Namun berdasarkan hasil penelusuran spesimen herbarium di Herbarium Bogoriense, Bogor, ditemukan bahwa di Sulawesi minimum sepuluh jenis, Papua sembilan jenis, Maluku empat jenis, dan Jawa dua jenis (Mansur, 2006).
Habitat
Kantong semar hidup di tempat-tempat terbuka atau agak terlindung di habitat yang miskin unsur hara dan memiliki kelembaban udara yang cukup tinggi. Tanaman ini bisa hidup di hutan hujan tropik dataran rendah, hutan pegunungan, hutan gambut, hutan kerangas, gunung kapur, dan padang savana. Berdasarkanketinggian tempat tumbuhnya, kantong semar dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kantong semar dataran rendah, menengah, dan dataran tinggi.
Karakter dan sifat kantong semar berbeda pada tiap habitat. Beberapa jenis kantong semar yang hidup di habitat hutan hujan tropik dataran rendah dan hutan pegunungan bersifat epifit, yaitu menempel pada batang atau cabang pohon lain. Pada habitat yang cukup ekstrim seperti di hutan kerangas yang suhunya bisa mencapai 30º C pada siang hari, kantong semar beradaptasi dengan daun yang tebal untuk menekan penguapan air dari daun. Sementara kantong semar di daerah savana umumnya hidup terestrial, tumbuh tegak dan memiliki panjang batang kurang dari 2 m.

Status Perlindungan
Status tanaman kantong semar termasuk tanaman yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Hal ini sejalan dengan regulasi Convention on International Trade in Endangered Species (CITES), dari 103 spesies kantong semar di dunia yang sudah dipublikasikan, 2 jenis: N. rajah dan N. khasiana masuk dalam kategori Appendix-1. Sisanya berada dalam kategori Appendix-2. Itu berarti segala bentuk kegiatan perdagangan sangat dibatasi.  

Potensi
Kantong semar memang belum sepopuler tanaman hias lainnya seperti anggrek, dan aglaonema. Namun, saat ini kepopuleran kantong semar sebagai tanaman hias yang unik semakin meningkat seiring dengan minat masyarakat pecinta tanaman hias untuk menangkarkannya. Nama tanaman dari famili Nepenthaceae ini sudah terkenal hingga ke mancanegara. Bahkan di negaranegara seperti Australia, Eropa, Amerika, Jepang, Malaysia, Thailand, dan Sri Lanka budidaya tanaman ini sudah berkembang menjadi skala industri. Ironisnya, tanamanan pemakan serangga ini kebanyakan jenisnya berasal dari Indonesia. 
Selain berpotensi sebagai tanaman hias, kantong semar juga dapat digunakan sebagai obat tradisional (Mansur, 2006). Sementara itu, kandungan protein di dalam kantongnya berpotensi untuk pengembangan bertani protein menggunakan tanaman endemik Indonesia (Witarto, 2006). Dalam penelitiannya baru-baru ini, Witarto (2006), berhasil mengisolasi protein dalam cairan kantong atas dan kantong bawah dari N. gymnamphora dari Taman Nasional Gunung Halimun. Dari masing-masing 800 ml cairan yang dikumpulkan dari kantong, dapat dimurnikan protein sebanyak 1 ml. Uji aktivitas terhadap protein yang telah dimurnikan menunjukkan bahwa protein itu adalah enzim protease yang kemungkinan besar adalah Nepenthesin I dan Nepenthesin II.

Nepenthes sp. DI SUMATERA
Sumatera merupakan urutan kedua setelah Kalimantan sebagai tempat penyebaran spesies, tapi dari segi jumlah populasi Sumatera dapat mengimbangi Kalimantan. Dari jenis-jenis yang sudah ditemukan di Sumatera, 12 di antaranya masih dalam proses identifikasi  Anonimus, 2006). Semua jenis Nepenthes sp. yang ada di Sumatera tersebar dari dataran rendah sampai ke dataran tinggi.
Kantong semar (Nepenthes sp.) di Sumatera memiliki beberapa sebutan seperti periuk monyet di Riau, kantong beruk di Jambi, dan Ketakung atau calong beruk di Bangka. Bahkan di Gunung Kerinci (Sumatera Barat) ada sebutan terompet gunung untuk jenis Nepenthes aristolochioides. Pada awalnya, Nepenthes sp. di Sumatera sangat mudah ditemukan di hampir seluruh tipe hutan dan tersebar hampir merata di setiap provinsi, kecuali untuk jenis endemik tertentu. Akan tetapi, sekarang sudah mulai sulit dijumpai, kecuali di daerah tertentu.


NEPENTHES KNOW THAT THREATENED EXTINCT (FROM VARIOUS SOURCES)
Group semar bag (Nepenthes) is a plant in Indonesia which categorized most rare, species that require high priority for immediate conservation. “Plants that are included in the priority there are 100 species, they need to be converted this year, group or species of Nepenthes semar bag to the highest priority,” said Specialist Taxonomy of LIPI Educate Widyatmoko who contacted from Jakarta on Friday.
According to Educate, results of the assessment of plant experts at the meeting was initiated by LIPI earlier this week, set the 191 plant species from four families a priority for conservation this year. “Of the 191 100 species to be squeezed,” said Head of the Botanical Gardens Plant Conservation Center Cibodas it.
The four families that is, orchid-anggrekan (Orchidaceae), a palm-paleman (arecaceae), ferns (cyatheaceae), and the bag semar (nepenthaceae) is taxa-taxa categorized by the number of endangered species at most. Rare plants from other families wait for the next phase of conservation, she said, adding, the number 191 was taken based on the reference of the International Union for Conservation of Nature (IUCN) and the opinions of experts in their fields.
Meanwhile, Head of the Bogor Botanical Gardens Plant Conservation completed Siregar conceal the name of the most endangered species such semar bag. “The experts worry about the publication of a rare plant species, it will make the plant enthusiasts trying to hunt down the plant, making it more likely that the extinct plants more wide open,” he said. Priorities for conservation of rare plants need to be enforced, because the funds, expertise and time is very limited, while the plants are threatened with extinction continues to increase, he said
According to him, the number of endangered species of Indonesian plants are categorized critical (critically endangered), precarious (endangered) and sensitive (vulnerable) has reached 513 species. Of the total 386 species listed in the IUCN 2008.
“The number is actually much more. Indonesia is the second country in the world after Malaysia that has endangered plants, followed by Brazil,” he said. The highest score of endangered plants conducted through 17 criteria, such as the uniqueness of taxonomic, geographic distribution, the value of benefits, the number of population, the impact of exploitation, to the level of population decline. The more limited a plant can only grow in certain locations (high endemic level) then the higher the score, so if the population is limited and too many are exploited because of the benefits of high value and uniqueness that stands out.
ABOUT Nepenthes
Nepenthes or the Latin name Nepenthes sp. first introduced by JP Breyne in 1689. In Indonesia, the term for these plants vary from one region to another. Communities in the Riau recognize this plant as pot monkey, in Jambi called with pocket monkey, in the Pacific called ketakung, while the name of the king sorok paramedics pinned by the community in West Java on this unique plant. While in Borneo every tribe has its own term to describe Nepenthes sp. Katingan Dayak tribe called it a diamond Napu, Dayak tribe Bakumpai with telep tip, while the Dayak tribe called the cello bengongong Tunjung which means nest of insects (Mansur, 2006).
Up to now there are 103 species recorded semar bags that have been published (Firstantinovi and Karjono, 2006). These plants are classified as carnivorous plants because of insect prey. His ability was caused by a bag-shaped organs that protrude from the tip of the leaf. The organ is called a pitcher or a bag. Unique ability and asalnyayang from tropical countries that made the bag semar as an exotic ornamental plant choice in Japan, Europe, America and Australia. Unfortunately, in his own country it’s not much to know and use it (Witarto, 2006).
In addition to its ability to trap insects, another uniqueness of this plant is the shape, size, color and style pockets. Overall, this plant has five pockets form, namely the form of jars, round egg / oval, cylinder, funnel, and waist.
Spread

Nepenthes grow and spread from northern Australia, Southeast Asia, to China Southern. Indonesia alone has the island of Borneo and Sumatra as a paradise habitat of this plant. From 64 species that live in Indonesia, 32 species are known in Borneo (Kalimantan, Sarawak, Sabah and Brunei) as a center for distributing bags semar. Sumatra Island ranks second with 29 species have been identified.
The diversity of species on other islands semar bag has not been clearly established. However, based on the search results Bogoriense herbarium specimens in the Herbarium, Bogor, found that at least ten species of Sulawesi, Papua nine species, four species Moluccas, and Java are two types (Mansur, 2006).

Habitat
Nepenthes live in open places or somewhat shielded in nutrient-poor habitats and have a fairly high humidity. These plants can live in lowland tropical rain forest, montane forests, peat forests, heath forests, limestone mountains, and savannas. Berdasarkanketinggian where it grew, semar bag divided into three groups: the lowlands semar bags, medium, and high plains.

The character and nature of different semar bag in each habitat. Several types of bags semar living in tropical rain forest habitat of lowland and montane forests are epiphytes, which is attached to the trunk or branch of another tree. In a fairly extreme habitats such as heath forest where the temperature can reach 30 º C during the day, bag semar adapt to the thick leaves to suppress evaporation of water from leaves. Meanwhile, pockets semar in savanna areas generally terrestrial life, grow upright and have long stems less than 2 m.
Protection Status
Status semar bag including crop plants protected by the Act No. 5 / 1990 on Conservation of Biological Resources and Ecosystems and Government Regulation no. 7 / 1999 on the Preservation of Plants and Animals. This is in line with the regulation of the Convention on International Trade in Endangered Species (CITES), from 103 species in the world semar bags that have been published, 2 types: N. rajah and N. khasiana included in Appendix-1 category. The rest are in Appendix-2 category. That means all forms of trading activity is very limited.
Potential
Nepenthes are not as popular as other ornamental plants such as orchids, and aglaonema. However, the current popularity as an ornamental plant semar bag unique increased along with public interest in ornamental plants for menangkarkannya lovers. Nepenthaceae family name of this plant are well known to the world. Even in countries such as Australia, Europe, America, Japan, Malaysia, Thailand, and Sri Lanka cultivation of this plant has developed into an industrial scale. Ironically, these insect-eating tanamanan most species come from Indonesia.
Besides potential as an ornamental plant, semar bag can also be used as traditional medicine (Mansur, 2006). Meanwhile, the protein content in the pocket proteins has the potential for the development of farming uses plants endemic to Indonesia (Witarto, 2006). In a recent study, Witarto (2006), succeeded in isolating the protein in the fluid bag above and below the pocket of N. gymnamphora of the Mist Mountain National Park. From each 800 ml of fluid collected from the bag, can be as much as 1 ml of purified protein. Test of activity of the purified protein showed that the protein is a protease enzyme which is most likely Nepenthesin Nepenthesin I and II.
Nepenthes sp. IN SUMATRA
Sumatra is second only to Borneo as a place to spread the species, but in terms of total population to offset the Borneo Sumatran. Of the types that have been found in Sumatra, 12 of whom are still in the process of identification Anonymous, 2006). All types of Nepenthes sp. in Sumatra spread from the lowlands to the highlands.
Nepenthes (Nepenthes sp.) In Sumatra have some title like stoneware monkey in Riau, Jambi monkey bag, and Ketakung or calong monkey in the Pacific. Even on Mount Kerinci (West Sumatra) there is a trumpet call for this type of Nepenthes aristolochioides mountain. At first, Nepenthes sp. in Sumatra is very easy to find in almost all types of forests and spread almost evenly in every province, except for certain endemic species. However, it is now beginning difficult to find, except in certain areas.

BAGAIMANA PROSES FOTOSINTESIS PADA TUMBUHAN TERJADI?

Berikut akan saya jelaskan dulu apa pengertian Fotosintesis. Menurut Wikipedia, Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan, alga, dan beberapa jenis bakteri untuk menghasilkan makanan dengan memanfaatkan energi cahaya. Hampir semua makhluk hidup bergantung dari energi yang dihasilkan dalam fotosintesis. Akibatnya fotosintesis menjadi sangat penting bagi kehidupan di bumi. Fotosintesis juga berjasa menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di Atmosfer bumi. Organisme yang menghasilkan energi melalui fotosintesis disebut sebagai fototrof.
Jadi pada dasarnya Fotosintesis hanya sebuah istilah/ sebutan proses pembuatan nutrisi atau makanan yang dibutuhkan tumbuhan. Sedangkan dari hasil proses Fotosintesis ini, tumbuhan memerlukan karbon dioksidan dan mengeluarkan oksigen. Tentunya kita sudah tau bahwa manusia memerlukan oksigen untuk bernapas.
Lagi-lagi menurut wikipedia menyatakan bahwa berbeda dari organisme lain yang memperoleh energi dengan memakan organisme lainnya, tumbuhan bersifat autotrof. Autotrof artinya dapat mensintesis makanan langsung. dari senyawa anorganik. Tumbuhan menggunakan karbon dioksida dan air untuk menghasilkan gula dan oksigen yang diperlukan sebagai makanannya. Energi untuk menjalankan proses ini berasal dari fotosintesis itu sendiri.
Glukosa dapat digunakan untuk membentuk senyawa organik lain seperti selulosa dan dapat pula digunakan sebagai bahan bakar. Proses ini berlangsung melalui respirasi seluler yang terjadi baik pada hewan maupun tumbuhan. Pada respirasi gula (glukosa) dan senyawa lain akan bereaksi dengan oksigen untuk menghasilkan karbon dioksida, air, dan energi kimia. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa langkah-langkah dalam fotosintesis dan respirasi sesungguhnya amatlah amat rumit dan memiliki perbedaan-perbedaan yang mendetail.
Tumbuhan menangkap cahaya menggunakan pigmen yang disebut klorofil. Pigmen inilah yang memberi warna hijau pada tumbuhan. Klorofil mengandung organel yang disebut kloroplas. Kloroplas inilah yang menyerap cahaya yang akan digunakan dalam fotosintesis. Meskipun seluruh bagian tubuh tumbuhan yang berwarna hijau mengandung kloroplas, namun sebagian besar energi dihasilkan di daun. Di dalam daun terdapat lapisan sel yang disebut mesofil yang mengandung setengah juta kloroplas setiap milimeter perseginya. Cahaya akan melewati lapisan epidermis tanpa warna dan yang transparan, menuju mesofil, tempat terjadinya sebagian besar proses fotosintesis. Permukaan daun biasanya dilapisi oleh kutikula dari lilin yang bersifat anti air untuk mencegah terjadinya penyerapan sinar matahari ataupun penguapan air yang berlebihan.
Untuk lebih jelasnya berikut proses kimia pada fotosintesis tersebut.
12H2O + 6CO2 + cahaya –> C6H12O6 (glukosa) + 6O2 + 6H2O
Berikut adalah beberapa faktor utama yang menentukan laju fotosintesis:
1.      Intensitas cahaya, Laju fotosintesis maksimum ketika banyak cahaya.
2.      Konsentrasi karbon dioksida, Semakin banyak karbon dioksida di udara, makin banyak jumlah bahan yang dapt digunakan tumbuhan untuk melangsungkan fotosintesis.
3.      Suhu, Enzim-enzim yang bekerja dalam proses fotosintesis hanya dapat bekerja pada suhu optimalnya. Umumnya laju fotosintensis meningkat seiring dengan meningkatnya suhu hingga batas toleransi enzim.
4.      Kadar air, Kekurangan air atau kekeringan menyebabkan stomata menutup, menghambat penyerapan karbon dioksida sehingga mengurangi laju fotosintesis.
5.      Kadar fotosintat (hasil fotosintesis), Jika kadar fotosintat seperti karbohidrat berkurang, laju fotosintesis akan naik. Bila kadar fotosintat bertambah atau bahkan sampai jenuh, laju fotosintesis akan berkurang.
6.      Tahap pertumbuhan, Penelitian menunjukkan bahwa laju fotosintesis jauh lebih tinggi pada tumbuhan yang sedang berkecambah ketimbang tumbuhan dewasa. Hal ini mungkin dikarenakan tumbuhan berkecambah memerlukan lebih banyak energi dan makanan untuk tumbuh.

Penemuan

Meskipun masih ada langkah-langkah dalam fotosintesis yang belum dipahami, persamaan umum fotosintesis telah diketahui sejak tahun 1800-an.
Pada awal tahun 1600-an, seorang dokter dan ahli kimia, Jan van Helmont, seorang Flandria (sekarang bagian dari Belgia), melakukan percobaan untuk mengetahui faktor apa yang menyebabkan massa tumbuhan bertambah dari waktu ke waktu. Dari penelitiannya, Helmont menyimpulkan bahwa massa tumbuhan bertambah hanya karena pemberian air. Tapi pada tahun 1720, ahli botani Inggris, Stephen Hales berhipotesis bahwa pasti ada faktor lain selain air yang berperan. Ia berpendapat faktor itu adalah udara.
Joseph Priestley, seorang ahli kimia dan pendeta, menemukan bahwa ketika ia menutup sebuah lilin menyala dengan sebuah toples terbalik, nyalanya akan mati sebelum lilinnya habis terbakar. Ia kemudian menemukan bila ia meletakkan tikus dalam toples terbalik bersama lilin, tikus itu akan mati lemas. Dari kedua percobaan itu, Priestley menyimpulkan bahwa nyala lilin telah “merusak” udara dalam toples itu dan menyebabkan matinya tikus. Ia kemudian menunjukkan bahwa udara yang telah “dirusak” oleh lilin tersebut dapat “dipulihkan” oleh tumbuhan. Ia juga menunjukkan bahwa tikus dapat tetap hidup dalam toples tertutup asalkan di dalamnya juga terdapat tumbuhan.
Pada tahun 1778, Jan Ingenhousz, dokter kerajaan Austria, mengulangi eksperimen Priestley. Ia menemukan bahwa cahaya matahari berpengaruh pada tumbuhan sehingga dapat “memulihkan” udara yang “rusak”.
Akhirnya di tahun 1796, Jean Senebier, seorang pastor Perancis, menunjukkan bahwa udara yang “dipulihkan” dan “merusak” itu adalah karbon dioksida yang diserap oleh tumbuhan dalam fotosintesis. Tidak lama kemudian, Theodore de Saussure berhasil menunjukkan hubungan antara hipotesis Stephen Hale dengan percobaan-percobaan “pemulihan” udara. Ia menemukan bahwa peningkatan massa tumbuhan bukan hanya karena penyerapan karbon dioksida, tetapi juga oleh pemberian air. Melalui serangkaian eksperimen inilah akhirnya para ahli berhasil menggambarkan persamaan umum dari fotosintesis yang menghasilkan makanan (seperti glukosa).
Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Fotosintesis

WHAT HAPPENED PHOTOSYNTHESIS IN PLANTS?
Here I will explain first what Photosynthesis understanding. According to Wikipedia, Photosynthesis is a biochemical process by plants, algae, and some types of bacteria to produce food using light energy. Almost all living things depend on energy produced in photosynthesis. As a result of photosynthesis becomes very important for life on earth. Photosynthesis is also credited with producing most of the oxygen contained in the atmosphere of the earth. Organisms that produce energy through photosynthesis is called the fototrof.
Photosynthesis So basically just a term / name process of making the required nutrients or food plants. While the results of this process of photosynthesis, plants require carbon dioksidan and release oxygen. Of course we already know that humans need oxygen to breathe. Again, according to wikipedia states that differ from other organisms that obtain energy by eating other organisms, plants are Autotroph. Autotroph means to synthesize food directly. of inorganic compounds. Plants use carbon dioxide and water to produce sugar and oxygen necessary as food. Energy for these processes comes from photosynthesis itself.
Glucose can be used to form other organic compounds such as cellulose and can also be used as fuel. This process takes place through respiration, found in both animals and plants. On the respiration of sugar (glucose) and other compounds will react with oxygen to produce carbon dioxide, water and chemical energy. However, keep in mind that the steps in photosynthesis and respiration in fact very very complicated and have differences in the details.
Plants capture light using a pigment called chlorophyll. These pigments give the green color in plants. Chlorophyll containing organelles called chloroplasts. This Chloroplasts absorb light that will be used in photosynthesis. Although all parts of a plant that is green chloroplasts, most of the energy produced in the leaves. In the leaf there is a layer of cells called mesophyll containing half a million chloroplasts per square millimeter. Light will pass through the epidermis layer of colorless and transparent, to the mesophyll, the site of most of the photosynthesis process. Leaf surface is usually covered by the cuticle of wax that is resistant to water to prevent the absorption of sunlight or excessive evaporation of water.


Here are some key factors that determine the rate of photosynthesis:
1.      The intensity of light, maximum photosynthetic rate when a lot of light.
2.      The concentration of carbon dioxide, more carbon dioxide in the air, the more amount of material used dapt photosynthesis of plants to establish.
3.      Temperature, Enzymes that work in the photosynthetic process can only work at optimum temperature. Generally fotosintensis rate increases with temperature until tolerance limit of the enzyme.
4.      Water content, water shortage or drought causes the stomata to close, blocking the absorption of carbon dioxide, thereby reducing the rate of photosynthesis.
5.      Fotosintat levels (of photosynthesis), if such fotosintat reduced carbohydrate content, photosynthesis rate will rise. If levels fotosintat increases or even up to saturation, the rate of photosynthesis will decrease.
6.      Stage of growth, research shows that the rate of photosynthesis is much higher in plants that were germinated than adult plants. This may be due to the plants germinate and require more energy to grow food.
Discovery
Although there are still steps in photosynthesis are not yet understood, the general equation of photosynthesis has been known since the 1800s.
In the early 1600s, a physician and chemist Jan van Helmont, a Flemish (now part of Belgium), conducted an experiment to find out what factors led to the mass of plants increased from time to time. From his research, Helmont concluded that plants grow only because of the mass of water. But in 1720, British botanist Stephen Hales hypothesize that there must be other factors that play a role other than water. He argues that factor is the air.
Joseph Priestley, a chemist and minister, discovered that when he closed a burning candle with a jar upside down, its flame will die before the candle burned down. He then found when he put a rat in a jar upside down with wax, the mouse would suffocate. From both experiments, Priestley concluded that the flame of a candle had been “damaging” the air in the jar and cause death of mice. He then showed that the air that had been “destroyed” by the candle can be “restored” by the plant. He also showed that mice could stay alive in a closed jar in it as long as there are also plants.
In 1778, Jan Ingenhousz, Austrian royal physician, repeated Priestley’s experiments. He found that the effect of sunlight on plants that can “restore” the air that “damaged”.
Finally in 1796, Jean Senebier, a French pastor, showed that the air is “restored” and “ruin” it is the carbon dioxide absorbed by plants in photosynthesis. Soon afterwards, Theodore de Saussure was able to show the relationship between hypothesis Stephen Hale experiments “recovery” of air. He found that increasing the mass of plants not only because of absorption of carbon dioxide, but also the incorporation of water. Through this series of experiments the experts finally succeeded in describing the general equation of photosynthesis to produce food (such as glucose).
Retrieved from “http://id.wikipedia.org/wiki/Fotosintesis”

MENGENAI LUMUT



Dalam bahasa Indonesia, lumut merupakan istilah umum untuk menyatakan sekumpulan tetumbuhan (vegetasi) kecil yang tumbuh menutupi suatu permukaan. Dari sudut pandang taksonomi, vegetasi ini mungkin tergolong dalam divisio tumbuhan lumut, lumut hati, lumut tanduk, fungi, alga, lumut kerak, atau bahkan tumbuhan berbiji (lumut spanyol).
Lumut biasanya tidak disukai keberadaannya, khususnya bila tumbuh di tempat orang melakukan aktivitas (misalnya di tembok rumah, kantor, atau pagar). Pengendalian lumut biasanya dilakukan dengan pemberian oksidator kuat pada konsentrasi rendah yang banyak dijual sebagai pemutih (bleach), misalnya larutan natrium hipoklorit 4% (tersedia dalam beberapa merek dagang) atau larutan hidrogen peroksida 4%.
Tumbuhan lumut merupakan sekumpulan tumbuhan kecil yang termasuk dalam divisio Bryophyta (dari bahasa Yunani bryum, “lumut”). Tumbuhan ini sudah menunjukkan diferensiasi tegas antara organ penyerap hara dan organ fotosintetik namun belum memiliki akar dan daun sejati. Kelompok tumbuhan ini juga belum memiliki pembuluh sejati. Alih-alih akar, organ penyerap haranya adalah rizoid (harafiah: “serupa akar”). Daun tumbuhan lumut dapat berfotosintesis. Tumbuhan lumut merupakan tumbuhan pelopor, yang tumbuh di suatu tempat sebelum tumbuhan lain mampu tumbuh. Ini terjadi karena tumbuhan lumut berukuran kecil tetapi membentuk koloni yang dapat menjangkau area yang luas.
Jaringan tumbuhan yang mati menjadi sumber hara bagi tumbuhan lumut lain dan tumbuhan yang lainnya. Klasifikasi tradisional menggabungkan pula lumut hati ke dalam Bryophyta. Namun, perkembangan dalam taksonomi tumbuhan menunjukkan bahwa penggabungan ini parafiletik, sehingga diputuskan untuk memisah lumut hati ke dalam divisio baru. Di dunia terdapat sekitar 4.000 spesies tumbuhan lumut (termasuk lumut hati), 1.500 di antaranya tumbuh di Indonesia Pergiliran keturunan tumbuhan lumut Tumbuhan lumut mengalami pergiliran keturunan dalam daur hidupnya. Apa yang dikenal orang sebagai tumbuhan lumut merupakan tahap gametofit (tumbuhan penghasil gamet) yang haploid (x = n). Dengan demikian, terdapat tumbuhan lumut jantan dan betina karena satu tumbuhan tidak dapat menghasilkan dua sel kelamin sekaligus. Sel-sel kelamin jantan (sel sperma) dihasilkan dari anteridium dan sel-sel kelamin betina (sel telur atau ovum) terletak di dalam arkegonium. Kedua organ penghasil sel kelamin ini terletak di bagian puncak dari tumbuhan. Anteridium yang masak akan melepas sel-sel sperma. Sel-sel sperma berenang (pembuahan terjadi apabila kondisi lingkungan basah) menuju arkegonium untuk membuahi ovum. Ovum yang terbuahi akan tumbuh menjadi sporofit yang tidak mandiri karena hidupnya disokong oleh gametofit. Sporofit ini diploid (x = 2n) dan berusia pendek (3-6 bulan untuk mencapai tahap kemasakan). Sporofit akan membentuk kapsula yang disebut sporogonium pada bagian ujung. Sporogonium berisi spora haploid yang dibentuk melalui meiosis. Sporogonium masak akan melepaskan spora. Spora tumbuh menjadi suatu berkas-berkas yang disebut protonema. Berkas-berkas ini tumbuh meluas dan pada tahap tertentu akan menumbuhkan gametofit baru. Peran tumbuhan lumut dalam ekosistem Tumbuhan lumut memiliki peran dalam ekosistem sebagai penyedia oksigen, penyimpan air (karena sifat selnya yang menyerupai spons), dan sebagai penyerap polutan.
Manfaat tumbuhan lumut Beberapa tumbuhan lumut dimanfaatkan sebagai ornamen tata ruang. Beberapa spesies Sphagnum dapat digunakan sebagai obat kulit dan mata. Lumut merupakan tumbuhan darat sejati, walaupun masih menyukai tempat yang lembab dan basah. Lumut yang hidup di air jarang kita jumpai, kecuali lumut gambut (sphagnum sp.). Pada lumut, akar yang sebenarnya tidak ada, tumbuhan ini melekata dengan perantaraan Rhizoid (akar semu), olehkaren aitu tumbuhan lumut merupakan bentuk peralihan antara tumbuhan ber-Talus (Talofita) dengan tumbuhan ber-Kormus (Kormofita). Lumut mempunyai klorofil sehingga sifatnya autotrof. Lumut tumbuh di berbagai tempat, yang hidup pada daun-daun disebut sebagai epifil. Jika pada hutan banyak pohon dijumpai epifil maka hutan demikian disebut hutan lumut. Akar dan batang pada lumut tidak mempunyai pembuluh angkut (xilem dan floem). Pada tumbuhan lumut terdapat Gametangia (alat-alat kelamin) yaitu: a. Alat kelamin jantan disebut Anteridium yang menghasilkan Spermtozoid b. alat kelamin betina disebut Arkegonium yang menghasilkan Ovum Jika kedua gametangia terdapat dalam satu individu disebut berumah satu (Monoesius). Jika terpisah pada dua individu disebut berumah dua (Dioesius). Gerakan spermatozoid ke arah ovum berupakan Gerak Kemotaksis, karena adanya rangsangan zat kimia berupa lendir yang dihasilkna oleh sel telur. Sporogonium adalah badan penghasil spora, dengan bagian bagian : – Vaginula (kaki) – Seta (tangkai) – Apofisis (ujung seta yang melebar) – Kotak Spora : Kaliptra (tudung) dan Kolumela (jaringan dalam kotak spora yang tidak ikut membentuk spora). Spora lumut bersifat haploid.
CONTOH-CONTOH SPESIES LUMUT
Kelas HEPATICAE (lumut hati) : Marchantia polymorpha >> bentuknya pipih seperti pita, dahulu digunakan untuk pengobatan hepatitis.
Klasifikasi lumut hati
Regnum                 : Plantae
Division                 : Hepaticophyta
Kelas                     : Hepaticosida
Ordo                     : Hepaticoceales
Family                   : Hepaticoceae
Genus                    : Hepaticopsida
Spesies                  : Hepaticopsida sp
Klasifikasi tradisional menggabungkan pula lumut hati ke dalam Bryophyta. Namun, perkembangan dalam taksonomi tumbuhan menunjukkan bahwa penggabungan ini parafiletik, sehingga diputuskan untuk memisah lumut hati ke dalam divisio baru.
Lumut hati banyak ditemukan menempel di bebatuan, tanah, atau dinding tua yang lembab. Bentuk tubuhnya berupa lembaran mirip bentuk hati dan banyak lekukan. Tubuhnya memiliki struktur yang menyerupai akar, batang, dan daun. Hal ini menyebabkan banyak yang menganggap kelompok lumut hati merupakan kelompok peralihan dari tumbuhan Thallophyta menuju Cormophyta. Lumut hati beranggota lebih dari 6000 spesies.
Terdapat rizoid berfungsi untuk menempel dan menyerap zat-zat makanan. Tidak memiliki batang dan daun. Reproduksi secara vegetatif dengan membentuk gemma (kuncup), secara generatif dengan membentuk gamet jantan dan betina.
Tubuhnya terbagi menjadi dua lobus sehingga tampak seperti lobus pada hati. Siklus hidup lumut ini mirip dengan lumut daun. Didalam spongaria terdapat sel yang berbentuk gulungan disebut alatera. Elatera akan terlepas saat kapsul terbuka , sehingga membantu memencarkan spora. Lumut ini juga dapat melakukan reproduksi dengan cara aseksual dengan sel yang disebut gemma, yang merupakan struktur seperti mangkok dipermukaan gametofit. Contoh lumut hati adalah Marchantia polymorpha dan porella.
tubuhnya masih berupa talus dan mempunyai rhizoid gametofitnya membentuk anteredium dan arkegonium yg berbentuk seperti payung. sporofit perumbuhannnya terbatas krn tdk mempunyai jaringan meristematik berkembang biak scr generatif dgn oogami, dan scr vegetatif dgn fragmentasi, tunas, dan kuncup eram habitatnya ditempat lembab.
Pada tempat-tempat yang basah, untuk struktur tubuh yang himogrof. Pada tempat-tempat yang kering, untuk struktur tubuh yang xeromorf (alat penyimpan air).
sebagai epifit umumnya menempel pada daun-daun pepohonan dalam rimba di daerah tropika.
Berdasarkan bentuk talusnya, lumut hati dibagi menjadi 2 kelompok yaitu lumut hati bertalus dan lumut hati berdaun. menyerupai talus (dorsiventral), bagian atas dorsal berbeda dengan bagian bawah ventral. Daun bila ada tampak rusak dan tersusun pada tiga deret pada batang sumbu. Alat kelamin terletak pada bagian dorsal talus pada /pada jenis terletak pada bagian terminal, sporogonium sederhana tersusun atas bagian kaki dan kapsul atau kaki tangkai dan kapsul. Mekanisme merakahnya kapsul tidak menentu dan tidak teratur.
Seperti pita bercabang menggarpu dan menyerupai rusuk ditengah mempunyai rizoid. Pada rusuk tengah, terdapat badan seperti piala dengan tepi yang bergigi, yang disebut piala eram atau keranjang eram kepala atau mangkok. Kemudian puncup-puncup eram atau tunas yang disebut gema mudah terlepas oleh air hujan protonema lumut hati umumnya hanya berkembang menjadi suatu bulu yang pendek. Sebagian besr lumut hati mempunyai sel-sel yang mengandung minyak, minyak itu terdapat dalam bentuk yang spesifik kumpulan tetes-tetes minyak aksiri dalam bentuk demikian. Minyak tadi tidak pernah ditemukan pada tumbuhan lain.
Anteredium terpancang pada permukaan atas, bentuknya seperti cakram. Dasar bunga betina agak melebar dan berbentuk paying, dengan cuping berbentuk jari, umumnya berjumlah 9. Arkegonium tumbuh pada alur-alur diantara cuping-cuping dengan leher menekuk kebawah. Anteredium merekah, mengeluarkan sperma menuju ke arkegonium, generasi sporofit dari telur yang sudah dibuahi (zigot). Zigot membelah membentuk embrio (bentuk bola), bagian pangkal dari embrio membentuk kaki masuk ke jaringan reseptakel. Bagian terbesar dari janin membentuk kapsul yang dipsahkan dari bagian kaki oleh zona yang terdiri dari sel-sel yang disebut tangkai. Kapsul berisi sel-sel induk spora yang berkelompok yaitu benang-benang memanjang dengan dinding bagian dalam terpilin. Setelah meiosis terbentuklah tetraspora, tangkainya memanjang, arkegonium yang melebar jadi pecah dan kapsul jadi terdorong kebawah. Kapsul lalu mongering dan terbuka memancarkan spora, lepasnya spora dari kapsul dibantu oleh elater yang sifatnya higroskopik. Akibat mengeringnya kapsul, elater menggulung menjadi kering dan menggandakan gerakan sentakan yang melebar spora keudara.
Adapun manfaat dan fungsinya yaitu sebagai penyedia tanah bagi tumbuhan yang lebih besar yang tumbuh dipohon Karena akar-akar lumut dapat menyimpan tanah. Sebagai penyedia makanan bagi hean-hewan kecil dan tanaman lain yang semuanya tersimpan diakar lumut. Sebagai sarang hewan-hewan kecil Karen biasanya terdapat celah-celah pada tumbuhan tersebut segingga hewan bias masuk kedalamnya. Sebagai penyimpanan air dalam jumlah yang cukup besar. lumut menjaga kelembaban udara dan porositas tanah.
Lumut dari marga Polythrichum adalah salah satu contoh yang dapat digunakan sebagai penutup media tanam tanaman hias atau taman dan bahan kasur
Manfaat lainnya, ada lumut yang dipercaya bisa digunakan sebagai bahan obat, meski masih diperlukan penelitian lebih lanjut, termasuk uji klinis. Secara tradisional lumut dari marga Marchantia (lumut hati) yang bentuknya mirip hati, digunakan untuk mengobati penyakit hepatitis. Sementara, lumut spagnum dikenal sebagai obat penyakit kulit dan mata.
Kelas MUSCI (lumut daun) : Sphagnum ruppinense Semuanya dinamakan lumut gambut dan sering disterilkan dan digunakan orang sebagai pengganti kapas.
Klasifikasi lumut hati
Regnum                 : Plantae
Division                 : Bryophyta
Kelas                     : Bryopsida
Ordo                     : Bryopceales
Family                   : Bryopceae
Genus                    : Bryopsida
Spesies                  : Bryopsida sp
Lumut daun juga disebut lumut sejati. Bentuk tubuhnya berupa tumbuhan kecil dengan bagian seperti akar (rizoid), batang dan daun. Reproduksi vegetatif dengan membentuk kuncup pada cabang-cabang batang. Kuncup akan membentuk lumut baru.
Lumut daun banyak terdapat ditempat – tempat yang lembab, mempunyai struktur seperti akar yang disebut rizoid dan struktur seperti daun.
Bryopsida adalah kelas yang terbesar di antara anggota Bryophyta lainnya dan paling tinggi tingkat perkembangannya karena baik gametofit maupun sporofitnya sudah mempunyai bagian-bagian yang lebih kompleks. Gametofit dari lumut daun umumnya dibedakan dalam 2 tingkatan yaitu protonema yang terdiri dari benang bercabang-cabang, dan gametafora yang berbatang dan berdaun.Sporogonium dari lumut daun terdiri atas bagian kaki, seta dan kapsul. Selanjutnya bagian kapsul mempunyai bagian-bagian yang dinamakan apofise, kotak spora atau teka, dan tutup atau operculum. Kebanyakan ahli bryologi membagi Bryopsida menjadi 3 anak kelas yaitu Sphagnidae, Andreaeidae, dan Bryidae. Perbedaan dari ketiga anak kelas tersebut terutama terletak pada struktur anatomi sporogoniumnya. Anak kelas Sphagnidae mempunyai ciri-ciri antara lain: protonema berbentuk daun kecil yang terdiri dari satu lapis sel, gametafora pada ujungnya membentuk cabang-cabang sebagai roset yang menyerupai jambul dan tidak mempunyai rizoid. Sporofit didukung oleh perpanjangan ujung batang yang namanya pseudopodium. Andreaeidae mempunyai persamaan dengan Sphagnidae dalam hal sporofitnya yang didukung oleh pseudopodium, tetapi berbeda dalam hal cara membukanya kapsul spora yaitu dengan membentuk 4 katup. Anggota Bryidae yang tergolong Stegocarpi mempunyai peristoma pada kapsul sporanya, didasarkan atas sifat dari peristomanya Bryidae dibedakan menjadi 2 golongan yaitu Nematodonteae dan Arthrodonteae.Peristoma adalah gigi-gigi atau rambut-rambut yang mengelilingi stoma pada kapsul spora-spora yang dapat mengadakan gerakan higroskopis, yaitu apabila spora-spora sudah masak peristoma bergerak membuka ke arah luar hingga spora dapat keluar. Dalam klasifikasi lumut daun, bentuk kapsul, jumlah gigi peristom, bentuk operkulum maupun kaliptra dapat dijadikan dasar penggolongan yang penting. Protonema sekunder ialah protonema yang tidak berasal dari perkecambahan spora, biasanya berupa benang-benang hijau seperti ganggang. Melalui tunas-tunas yang timbul dari prononema sekunder dapat terbentuk individu yang lebih banyak.
Siklus hidup lumut mengalami pergantian antara generasi haploid dengan diploid. Sporofit pada umumnya lebih kecil , berumur pendek dan hidup tergantung pada gametofit. Contoh lumut ini antara lain: polytricum juniperinum, furaria, pogonatum cirratum, Aerobrysis longissima, dan lumut gambut sphagnum.
Tumbuhan ini sudah menunjukkan diferensiasi tegas antara organ penyerap hara dan organ fotosintetik namun belum memiliki akar dan daun sejati. Kelompok tumbuhan ini juga belum memiliki pembuluh sejati. Alih-alih akar, organ penyerap haranya adalah rizoid (harafiah: “serupa akar”). Daun tumbuhan lumut dapat berfotosintesis.
Secara lengkap ciri-ciri yang dimilik lumut daun yaitu: fase dominannya adalah fase gametofit Akarnya belum berupa akar, masih berupa rhizoid reproduksi vegetatif dengan spora, generatif dengan arkegonium yang menghasilkan ovum dan anteridium yang menghasilkan sperm. Mempunyai struktur spt akar (rizoid) dan struktur spt daun.
Sporofit pd umumnya lebih kecil, berumur pendek, dan hidup tergantung pada gametofit. tubuhnya mempunyai struktur yg mirip batang, daun, dan akar, ttpi tdk mempunyai sel/jaringan dan fungsi spt pada tumbuhan tingkat tinggi gametofit dibedakan dgn 2 tingkatan, yaitu protonema yg berbntk benang dan gametofora yg berupa tumbuhan lumut sporofitnya terdiri dari bagian seta, apofiksis, kapsul, gigi peristom, dan kaliptra spora terdiri 2 lapisan, yaitu endospora dan eksospora, habitatnya pada tempat lembab.
Tumbuhan tersusun dari sumbu (batang), daun, dan rizoid multiseluler. Daun tersusun dalam 3 sampai 8 baris. Daun mempunyai rusuk (simetri radial). Sumbu batang pada lumut daun biasanya menunjukkan diferensiasi menjadi epidermis korteks, dan silinder pusat. Alat kelamin tubuh pada bagian ujung batang, sporogonium terdiri dari kaki, tangkai dan kapsul. Gigi peristoma terdapat satu atau dua deret melingkari lubang diujung kapsul.
Alat-alat kelamin terkumpul pada ujung batang atau pada ujung cabang-cabangnya, dan dikelilingi oleh daun-daun yang letaknya paling atas. Daun-daun itu kadang-kadang mempunyai bentuk dan susunan yang khusus seperti pada jungermaniales juga dinamakan periantum.
Alat-alat kelamin itu dikatakn bersifat banci atau berumah satu, jika dalam kelompok itu terdapat baik arkogenium dan dinamakn berumah dua jika kumpulan arkegonium dan anteredium terpisah tempatnya. Diantara alat-alat kelamin dalam kelompok itu biasanya terdapat sejumlah rambut-rambut yang terdiri dari banyak sel dan dapat mengeluarkan suatu cairan. Seperti pada tubuh buah fungi rambut-rambut steril itu dinamakan parafisis.
lumut ini dipercaya bisa digunakan sebagai bahan obat, meski masih diperlukan penelitian lebih lanjut, termasuk uji klinis. Secara tradisional lumut dari marga Usnea dipakai untuk obat diare atau sakit perut dengan cara direbus.. Sementara dari marga lumut spagnum dikenal sebagai obat penyakit kulit dan mata.
LUMUT TANDUK (Antheceroptopsida)
Klasifikasi lumut tanduk
Regnum : Plantae
Division : Antheceroptophyta
Kelas : Antheceroptopsida
Ordo : Antheceroptoceales
Family : Antheceroptoceae
Genus : Antheceroptopsida
Spesies : Antheceroptopsida.sp
Bentuk tubuhnya seperti lumut hati yaitu berupa talus, tetapi sporofitnya berupa kapsul memanjang. Sel lumut tanduk hanya mempunyai satu kloroplas. Hidup di tepi sungai, danau, atau sepanjang selokan. Reproduksi seperti lumut hati.
Mempunyai gametofit lumut hati; perbedaannya adalah terletak pada sporofit lumut ini mempunyai kapsul memanjang yang tumbuh seperti tanduk dari gametofit, masing – masing mempunyai kloroplas tunggal yang berukuran besar, lebih besar dari kebanyakan tumbuhan lumut.Contoh lumut tanduk adalah anthoceros laevis.

Tubuh utama berupa gametofit yang mempunyai talus berbentuk cakram dengan tepi bertoreh, biasanya melekat pada tanah dengan perantara-perantara rizoid-rizoid susunan talus masih sederhana, sel-selnya hanya mempunyai suatu kloroplas dengan satu pirunoid besar. Pada sisi bawah talus terdapat stoma dengan dua sel penutup berbentuk ginjal.
Sporofit umumnya berupa kapsul yang berbentuk silender dengan panjang antara 5-6 cm. pangkal sporofitnya dibungkus dengan selubung dari jaringan gametofit.
Secara seksual, dengan membentuk anteridium dan arkhegonium. Anteridium terkumpul pada suatu lekukan sisi atas talus arkegonium juga terkumpul pada suatu lekukan pada sisi atas talus. Zigot mula-mula membelah menjadi dua sel dengan suatu dinding pisah melintang. Sel diatas terus membelah yang merupakan sporogenium diikuti oleh sel bagian bawah yang membelah terus-menerus membentuk kaki ang berfungsi sebagai alat penghisap, bila sporogenium masak makan akana pecah seperti buah plongan s, menghasilakan jaringan yang terdiri dari beberapa deretan sel-sel mandul yang dinamakan kolumila inin diselubungi oleh sel jaringan yang akemudian menghasilkan spora, yang disebut arkespora.

MENGENAL JAMUR DAN PENGARUHNYA TERHADAP TANAMAN




Seperti apa yang dikutip dari Wikipedia bahwa Jamur dalam bahasa Indonesia sehari-hari mencakup beberapa hal yang agak berkaitan. Arti pertama adalah semua anggota kerajaan Fungi dan beberapa organisme yang pernah dianggap berkaitan, seperti jamur lendir dan “jamur belah” (Bacteria). Arti kedua berkaitan dengan sanitasi dan menjadi sinonim bagi kapang. Arti terakhir, yang akan dibahas dalam artikel ini, adalah tubuh buah yang lunak atau tebal dari sekelompok anggota Fungi (terutama Basidiomycetes) yang biasanya muncul dari permukaan tanah atau substrat tumbuhnya. Pengertian terakhir ini berkaitan dengan nilai ekonomi jamur sebagai bahan pangan, sumber racun, atau bahan pengobatan. Bentuk umum jamur biasanya adalah seperti payung, walaupun ada juga yang tampak seperti piringan.
Beberapa jamur aman dimakan manusia bahkan beberapa dianggap berkhasiat obat, seperti jamur merang (Volvariela volvacea), jamur tiram (Pleurotus), jamur kuping (Auricularia polytricha), jamur kancing atau champignon (Agaricus campestris), dan jamur shiitake (Lentinus edulis). Jamur yang beracun contohnya adalah Amanita muscaria, dan jamur yang dikenal sebagai “destroying angel“.
Ciri-Ciri Umum Jamur
Jamur merupakan kelompok organisme eukariotik yang membentuk dunia jamur atau regnum fungi. Jamur pada umumnya multiseluler (bersel banyak). Ciri-ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya dalam hal cara makan, struktur tubuh, pertumbuhan, dan reproduksinya.

1. Struktur Tubuh  
Struktur tubuh jamur tergantung pada jenisnya. Ada jamur yang satu sel, misalnyo khamir, ada pula
jamur yang multiseluler membentuk tubuh buah besar yang ukurannya mencapai satu meter,
contohnyojamur kayu. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa
membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh
buah. 
Hifa adalah struktur menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa. Dinding ini
menyelubungi membran plasma dan sitoplasma hifa. Sitoplasmanya mengandung organel eukariotik.
Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa mempunyai pori besar yang
cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria, dan kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel.
Akan tetapi, adapula hifa yang tidak bersepta atau hifa senositik. 
Struktur hifa senositik dihasilkan oleh pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan
pembelahan sitoplasma.
Hifa pada jamur yang bersifat parasit biasanya mengalami modifikasi menjadi haustoria yang
merupakan organ penyerap makanan dari substrat; haustoria dapat menembus jaringan substrat. 

2.      Cara Makan dan Habitat Jamur
Semua jenis jamur bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur tidak memangsa dan mencernakan makanan. Clntuk memperoleh makanan, jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh karena jamur merupakan konsumen maka jamur bergantung pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Semua zat itu diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit.
Parasit obligat
merupakan sifat jamur yang hanya dapat hidup pada inangnya. Sedangkan di luar inangnya tidak dapat hidup. Misalnya, Pneumonia carinii (khamir yang menginfeksi paru-paru penderita AIDS).
 Parasit fakultatif
adalah jamur yang bersifat parasit jika mendapatkan inang yang sesuai, tetapi bersifat saprofit jika tidak mendapatkan inang yang cocok.
Saprofit
merupakan jamur pelapuk dan pengubah susunan zat organik yang mati. Jamur saprofit menyerap makanannya dari organisme yang telah mati seperti kayu tumbang dan buah jatuh. Sebagian besar jamur saprofit mengeluar-kan enzim hidrolase pada substrat makanan untuk mendekomposisi molekul kompleks menjadi molekul sederhana sehingga mudah diserap oleh hifa. Selain itu, hifa dapat juga langsung menyerap bahanbahan organik dalam bentuk sederhana yang dikeluarkan oleh inangnya.
Cara hidup jamur lainnya adalah melakukan simbiosis mutualisme. Jamur yang hidup bersimbiosis, selain menyerap makanan dari organisme lain juga menghasilkan zat tertentu yang bermanfaat bagi simbionnya. Simbiosis mutualisme jamur dengan tanaman dapat dilihat pada mikoriza, yaitu jamur yang hidup di akar tanaman kacang-kacangan atau pada liken.
Jamur berhabitat pada bermacam-macam lingkungan dan berasosiasi dengan banyak organisme. Meskipun kebanyakan hidup di darat, beberapa jamur ada yang hidup di air dan berasosiasi dengan organisme air. Jamur yang hidup di air biasanya bersifat parasit atau saprofit, dan kebanyakan dari kelas Oomycetes. 

3. Perrtumbuhan dan Reproduksi

Reproduksi jamur dapat secara seksual (generatif) dan aseksual (vegetatif). Secara aseksual, jamur menghasilkan spora. Spora jamur berbeda-beda bentuk dan ukurannya dan biasanya uniseluler, tetapi adapula yang multiseluler. Apabila kondisi habitat sesuai, jamur memperbanyak diri dengan memproduksi sejumlah besar spora aseksual. Spora aseksual dapat terbawa air atau angin. Bila mendapatkan tempat yang cocok, maka spora akan berkecambah dan tumbuh menjadi jamur dewasa.
Reproduksi secara seksual pada jamur melalui kontak gametangium dan konjugasi. Kontak gametangium mengakibatkan terjadinya singami, yaitu persatuan sel dari dua individu. Singami terjadi dalam dua tahap, tahap pertama adalah plasmogami (peleburan sitoplasma) dan tahap kedua adalah kariogami (peleburan inti). Setelah plasmogami terjadi, inti sel dari masing-masing induk bersatu tetapi tidak melebur dan membentuk dikarion. Pasangan inti dalam sel dikarion atau miselium akan membelah dalam waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun. Akhimya inti sel melebur membentuk sel diploid yang segera melakukan pembelahan meiosis.
4.      Peranan Jamur
Peranan jamur dalam kehidupan manusia sangat banyak, baik peran yang merugikan maupun yang menguntungkan. Jamur yang menguntungkan meliputi berbagai jenis antara lain sebagai berikut.
a.       Volvariella volvacea (jamur merang) berguna sebagai bahan pangan berprotein tinggi.
b.      Rhizopus dan Mucor berguna dalam industri bahan makanan, yaitu dalam pembuatan tempe dan oncom.
c.       Khamir Saccharomyces berguna sebagai fermentor dalam industri keju, roti, dan bir.
d.      Penicillium notatum berguna sebagai penghasil antibiotik.
e.       Higroporus dan Lycoperdon perlatum berguna sebagai dekomposer.
5.      Di samping peranan yang menguntungkan, beberapa jamur juga mempunyai peranan yang merugikan, antara lain sebagai berikut.
a.       Phytium sebagai hama bibit tanaman yang menyebabkan penyakit rebah semai.
b.      Phythophthora inf’estan menyebabkan penyakit pada daun tanaman kentang.
c.       Saprolegnia sebagai parasit pada tubuh organisme air.
d.      Albugo merupakan parasit pada tanaman pertanian.
e.       Pneumonia carinii menyebabkan penyakit pneumonia pada paru-paru manusia.
f.       Candida sp. penyebab keputihan dan sariawan pada manusia.
Peranan Jamur Terhadap Pertumbuhan Tanaman.
Jamur berperan penting dalam pertumbuhan tanaman sebagai pengurai tanah dan kemudian menyediakan nutrisi penting bagi tanaman dari proses fermentasi dalam pengomposan. Selain itu Berkaitan dengan cara hidup jamur yang bersimbiosis mutualisme yang mana jamur menyerap makanan dari organisme lain dan juga menghasilkan zat tertentu yang dapat bermanfaat bagi peningkatan pertumbuhan tanamah. Simbiosis mutualisme jamur dengan tanaman dapat dilihat pada mikoriza (Rhizopogon sp.), yaitu jamur yang hidup di akar tanaman kacang-kacangan atau pada liken, dan yang menginfeksi berbagai akar tanaman hingga area penyerapan akar tanaman menjadi lebih luas.
Seperti dikutip dari faktailmiah.com bahwa Penelitian baru oleh para ilmuwan di Universitas Sheffield telah berhasil menjelaskan bagaimana tanaman pertama di bumi mulai memenuhi daratan lebih dari 470 juta tahun yang lalu dengan menjalin kemitraan dengan jamur tanah. Penelitian yang diterbitkan di Nature Communications, telah memberikan bukti penting yang hilang, yang menunjukkan bahwa kelompok tanaman purba bekerja sama dengan jamur tanah untuk ‘menghijaukan’ bumi pada era Paleozoikum awal, hampir setengah miliar tahun yang lalu.
Penelitian, yang juga melibatkan para ahli dari Royal Botanic Gardens, Kew, Imperial College London dan Universitas Sydney, telah memberikan wawasan baru ke dalam pemahaman kita tentang perkembangan perilaku dinamis tanaman dan jamur darat di bumi.
Para ilmuwan telah lama menduga bahwa jamur tanah menjalin hubungan saling menguntungkan dengan tanaman darat awal untuk berperan penting dalam membantu kolonialisasi awal pada lingkungan darat. Namun, hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bagaimana tanaman darat purba paling awal, dari era Paleozoikum awal (lebih dari 470 juta tahun yang lalu), mungkin telah bekerja sama dengan jamur untuk saling menguntungkan.
Tim peneliti mempelajari tanaman thalloid liverwort, jenis yang merupakan anggota dari kelompok tanaman darat paling purba yang masih ada dan masih menyimpan banyak fitur asli nenek moyangnya. Mereka menggunakan ruang pertumbuhan lingkungan terkontrol untuk mensimulasikan atmosfir kaya CO2, mirip dengan era Paleozoikum di mana tanaman tersebut berasal. Lingkungan ini secara signifikan memperkuat manfaat dari jamur bagi pertumbuhan tanaman serta awal jalinan hubungan antara tanaman dan mitra jamurnya.
Tim peneliti menemukan bahwa ketika thalloid liverwort dijajah oleh jamur, maka itu secara signifikan meningkatkan penyerapan karbon fotosintesis, pertumbuhan dan reproduksi aseksual, faktor yang berdampak menguntungkan pada kebugaran tanaman. Tanaman bertumbuh dan berkembang biak lebih baik bila dijajah oleh jamur simbiosis karena jamur tanah memberikan nutrisi penting. Sebagai gantinya, jamur juga memperoleh manfaat dengan menerima karbon dari tanaman. Penelitian ini menemukan bahwa setiap tanaman mendukung jamur yang memiliki area seluas 1-2 kali dari lapangan tenis.
Profesor David Beerling, dari Departemen Ilmu Hewan dan Tanaman di Universitas Sheffield, mengatakan, “Dengan mempelajari tanaman purba ini kita membuka sebuah jendela pada masa lalu untuk menyelidiki bagaimana tanaman darat awal berevolusi. Hasil kami mendukung gagasan bahwa ‘penghijauan’ bumi dipromosikan oleh simbiosis antara tanaman dan jamur. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman tidak akan bertahan di daratan tanpa bekerja sama dengan jamur – hal ini telah lama dicurigai, tetapi sampai sekarang tidak terselidiki. Hal ini mengharuskan kita berpikir lagi tentang peran penting kerjasama di antara organisme yang mendorong perubahan mendasar dalam ekologi di planet kita.”
Martin Bidartondo dari Laboratorium Jodrell di Royal Botanic Gardens, Kew, mengatakan, “Jamur ada di setiap jenis habitat di seluruh dunia dan sangat penting bagi banyak tanaman untuk bertumbuh. Hal ini menarik bahwa kita sekarang mulai menemukan jamur berasosiasi dengan tanaman ‘lebih rendah’, dan masih banyak lagi yang harus terus diselidiki.” 

KNOW YOUR MUSHROOMS AND ITS EFFECT ON PLANT

Like what is quoted from Wikipedia that the fungus in the Indonesian language daily covering some things somewhat related. The first meaning is that all members of the kingdom Fungi and some who never thought to be related organisms, such as slime molds and “fission fungi” (Bacteria). The second meaning relates to sanitation and became a synonym for mold. Last meaning, which will be discussed in this article, is the body of the fruit is soft or thick of a group of fungi (mainly basidiomycetes) which usually arise from the surface of the soil or growth substrate. Understanding the past is related to the economic value of fungi as food, source of poison, or the treatment material. A common form of fungus usually is like an umbrella, although there also seemed like the dish.
Some mushrooms safe to eat humans and even some medications are considered nutritious, such as mushroom (Volvariela volvacea), oyster mushrooms (Pleurotus), ear mushroom (Auricularia polytricha), button mushroom or champignon (Agaricus campestris), and shiitake mushrooms (Lentinus edulis). A poisonous mushroom is Amanita muscaria for example, and fungi, known as the “destroying angel”.
General Characteristics of Fungi
Fungi are eukaryotic organisms that make up the world of mushrooms or fungi Regnum. Fungi are generally multicellular (many celled). The characteristics of different fungi with other organisms in terms of diet, body structure, growth, and reproduction.
1. Body Structure
Mushroom body structure depending on its type. There are single cell fungi, yeasts misalnyo, there are multicellular fungi that form large fruiting bodies that reach one meter in size, contohnyojamur wood. Mushroom body is composed of basic components, called hyphae. Hyphae form a network called mycelium. Interwoven mycelium develop pseudo-braided into fruiting bodies.
Hyphae are thread-like structures composed of tubular wall. This wall surrounds the plasma membrane and cytoplasm of hyphae. Cytoplasm containing eukaryotic organelles. Most hyphae is limited by transverse walls or septa. Septa have pores large enough to pass ribosomes, mitochondria, and sometimes the cell nucleus that flows from cell to cell. However, that does not bersepta adapula hyphae or hyphae senositik. Structure senositik hyphae produced by the cell nucleus division many times that is not followed by cytoplasmic division.
Hyphae of the parasitic fungus usually undergo modification into haustoria which is the organ of food absorbent substrate; haustoria to penetrate the substrate network.
2. How to Eat and Fungi Habitat
All types of fungi are heterotrophic. However, unlike other organisms, fungi are not prey and digest food. Clntuk obtain food, fungi absorb organic substances from the environment through the hyphae and miseliumnya, then save it in the form of glycogen. Because the fungus is a consumer then the mushroom depends on the substrate that provides carbohydrates, protein, vitamins, and other chemical compounds. All substances were obtained from the environment. As being heterotrophic, obligate parasitic fungi can, facultative parasites, or saprophyte. Obligate parasites is a fungus that only nature can live in its host. Meanwhile, outside of their host can not live. For example, Pneumocystis carinii (yeast that infects the lungs of AIDS patients).  Facultative parasite is a parasitic fungus that if you get a suitable host, but is saprophyte if not get a suitable host.
Saprophyte
is a modifier composition rot fungi and dead organic matter. Saprophyte mushrooms absorb food from dead organisms such as fallen logs and fallen fruit. Most of the fungal saprophyte issued a hidrolase enzymes in the food substrate to decompose complex molecules into simpler molecules that are easily absorbed by the hyphae. In addition, the hyphae can also directly absorb organic bahanbahan in a simple form issued by the host.
Another way of life is to do a symbiotic fungus mutualism. Symbiotic fungi that live, in addition to absorb food from other organisms also produce certain substances that are beneficial to simbionnya. Fungus mutualism symbiosis with mycorrhizal plants can be seen in, ie fungi that live on the roots of legumes or on Liken.
Fungi berhabitat on a variety of environments and associated with many organisms. Although most live on land, there are some fungi that live in water and in association with aquatic organisms. Fungi that live in water usually parasitic or saprophyte, and most of the class Oomycetes.
3. Growth and Reproduction
Sexual reproduction of fungi can be (generative) and asexual (vegetative). Asexually, fungi produce spores. Fungal spores of different shapes and sizes and usually unicellular, but those that multicellular. If suitable habitat conditions, the fungus multiplies by producing large amounts of asexual spores. Asexual spores can be carried by water or wind. When you find a suitable place, then the spores will germinate and grow into mature mushrooms.
Sexual reproduction in fungi through contact gametangium and conjugation. Contact gametangium singami cause, namely the union of two individual cells. Singami occurs in two stages, first stage is plasmogami (fusion of cytoplasm) and the second stage is kariogami (melting the core). After plasmogami occurs, the cell nucleus from each parent come together but not fused and formed dikarion. Couples in the cell nucleus will split dikarion or mycelium within a few months to several years. Eventually the cell nucleus fuse to form diploid cell that immediately meiotic division.
4. Role of Fungi
The role of fungi in human life very much, both the role of adverse or beneficial. Beneficial fungi include various types are as follows.
a. Volvariella volvacea (edible mushroom) is useful as a high protein food.
b. Rhizopus and Mucor useful in the food industry, namely in the manufacture of tempeh and oncom.
c. Yeast Saccharomyces useful as the fermenter in industrial cheese, bread, and beer.
d. Penicillium notatum is useful as a producer of antibiotics.
e. Lycoperdon perlatum Higroporus and useful as a decomposer.
5. In addition to the beneficial role, some mushrooms also have a detrimental role, among others, as follows.
a. Phytium as a pest plant seeds that cause disease fall seeding.
b. Phythophthora inf’estan cause disease on leaves of potato plants.
c. Saprolegnia as parasites on the body of water organisms.
d. Albugo is a parasite on agricultural crops.
e. Pneumocystis carinii pneumonia cause disease in human lung.
f. Candida sp. cause of vaginal discharge and sores in humans.
Role of Fungi on Growth of Plants.
Fungi play an important role in plant growth soil decomposers and then provide essential nutrients for plants from the fermentation process in composting. Also Regarding the symbiotic way of life mushroom fungus mutualism which absorb food from other organisms and also produce certain substances that can be useful for improving growth tanamah. Mutualism symbiotic fungi with plants can be seen in the mycorrhizal (Rhizopogon sp.), Ie fungi that live on the roots of legumes or on Liken, and that infects a variety of root crops to plant root absorption area becomes more widespread.
As quoted from faktailmiah.com that new research by scientists at the University of Sheffield has successfully explained how the first plants on earth began to fill the mainland more than 470 million years ago by establishing partnerships with soil fungi. The study, published in Nature Communications, has provided important evidence is missing, which suggests that an ancient group of plants in cooperation with soil fungi to ‘greening’ of the earth in the early Paleozoic era, nearly half a billion years ago.
The study, which also involve experts from the Royal Botanic Gardens, Kew, Imperial College London and University of Sydney, has provided new insights into our understanding of the development of the dynamic behavior of plants and fungus land on earth.
Scientists have long suspected that the soil fungus to establish mutually beneficial relationships with early land plants to play an important role in helping the early colonization of terrestrial environments. However, until now there is no evidence to show how the earliest ancient land plants, from the early Paleozoic era (more than 470 million years ago), may have cooperated with the fungus for mutual benefit.
The team of researchers studying plant thalloid liverwort, the kind that is a member of the most ancient group of land plants are still there and still save a lot of original features of his fathers. They use a controlled environment growth chamber to simulate the CO2-rich atmosphere, similar to the Paleozoic era in which the plants originated. This environment is significantly strengthen the benefits of the fungus for plant growth and the beginning of relationships between plants and mushrooms partners.
The team found that when the thalloid liverwort colonized by the fungus, then it significantly increases the absorption of carbon photosynthesis, growth and asexual reproduction, favorable factors impacting on plant fitness. Plants grow and reproduce better when colonized by symbiotic fungi as mushroom soil provides important nutrients. In return, the fungi also benefit by receiving carbon from the plant. The study found that each plant support fungus that has an area of 1-2 times of the tennis courts.
Professor David Beerling, of the Department of Animal and Plant Sciences at the University of Sheffield, said, “By studying this ancient plant we opened a window on the past to investigate how early land plants evolved. Our results support the notion that the ‘greening’ of the earth promoted by the symbiosis between plants and fungi. This indicates that plants will not survive on land without working with mushrooms – this has long been suspected, but until now no terselidiki. This requires us to think again about the important role of cooperation between organisms that promote a fundamental change in the ecology of our planet. “
Martin Bidartondo of the Jodrell Laboratory at the Royal Botanic Gardens, Kew, said: “Fungi exist in every type of habitat throughout the world and very important for many plants to grow. It is interesting that we are now beginning to find fungi associated with plants ‘lower’, and many more which must continue to be investigated. “

MEKANISME PEMBENTUKAN AKAR



Peristiwa utama pada awalnya pembentukan akar adalah pembentukan meristem akesnya. Saat biji berkecambah, promeristem di ujung akar embrio membentuk akar utama. Penelitian fisiologi biokimia menunjukan bahwa pada umumnya pemula yang menyebabkan pola dsar akar berhenti membelah pada saat pertumbuhan akar berlangsung. Aktivitas pertumbuhan digantikan oleh sel yang terletak lebih dalam (Hidayat, 1995)
Dalam embrio biji mengandung sebuah radikula atau meristem akar untuk pengembangan akar utama. Akar pertama ini bercabang dan memanjang menghasilkan sistem perakaran serabut atau kembal mati. Sementara pucuk literal muncul pada akar, batang akar literal muncul dari lapisan terluar dari partikel. Selama inisiasi akar literal, sel-sel perisikel menjadi meristematis membentuk primordial akar yang tumbuh melewati endodermis, korteks dan epidermis. Sebelum akar literal merobek jaringan permukaan akar utama, akar tersebut membentuk meristem apical dan tudung akar. Pada beberapa jarak tertentu dari promeristem, sel membesar dan berkembang menjadi sel terspesialisasi. Hal itu melibatkan masa pemanjangan sebagian besar sel yang terjadi dibelakang pelebaran awal dari ujung akar. Batas epidermis, korteks dan silinder pusat tampak dekat belakang promeristem. Korteks bertambah lebar karena pembelahan periklinal serta pembesaran dari pada sel ke arah radial. Sel metaxilem membesar dan menghasilkan vakuola yang besar (Hidayat, 1995)
Pada gimnospermae dan angiospermae, akar literal biasanya dimulai dalam perisikel dan dari sini ke korteks akar induk sampai ke sisi luar, (Ogura 1938). Pada angiospermae, perimordium akar literal terbentuk dari belahan periklinal dan antiklinal sebuah gugus sel perisikel (Fahn, 1995)
Bell dan Mc Cully (1970) dalam fahm (1995) mengamati bahwa pada Zea may tahap awal irisan akar literal yang berdekatan dengan kutub protoxilem, tidak saja melibatkan sel-sel persikel tetapi juga banyak sekali sel-sel parenkim dari bagian terdekat stele. Sebagai pertumbuhan lanjut, promiridias tersebut menembus korteks akar induknya. Endodermis dapat membelah secara antiklinal dan periklinal, membentuk lebih dari satu sel. Dengan menyembulkan akar literal ke permukaan akar induk, atau bahkan sebelum itu terjadi, jaringan yang berkembang dari endodermis itu mati dan akhirnya digugurkan (Fahn, 1995)
Menurut Hidayat (1995) pembentuk akar literal dimulai dengan pembelahan periklinal yang terjadi pada beberapa sel perisikel, sel yang dihasilkan membelah lagi secara pereklinal atau antiklinal sehingga terjadi suatu himpunan sel. Pada waktu primordial akar bertambah panjang, korteks ditembus sehingga akar literal muncul dipermukaan akar induk. Diawali perkembangan sel endodermis di luarnya membelah secara antiklinal untuk mengikuti pembesaran akar baru itu dan rusak.
PENYEBARAN AKAR
Laju penyebaran akar, seperti halnya karakteristik sistem perakaran di pengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Di bawah kondisi konstan laju pertumbuhan akar yang berkembang tergantung pada diameternya. Meristem yang lebar menunjukan pertumbuhan yang cepat (Russel, 1977). Bentuk dan laju pertumbuhan akar dipengaruhi secara nyata oleh media perakaran (kozlowzki, 1971), distribusi perakaran merupakan fungsi dari spesies, umur pohon, lingkungan dan unit ukuran. Perakaran yang halus biasanya mewakili 85-99% total panjang akar, tetapi hanya 14-16% total berat akar (Lyr dan Hoffman dalam F.S daniel T.W and Helms J.A, 1987)
Jumlah kapasitas akar menunjukan kapasitas absorbsi dari akar, total jumlah akar biasanya dinyatakan dalam gram akar kering tetapi juga bisa dinyatakan dalam total panjang akar atau total permukaan akar. Total permukaan akar merupakan karakteristik penting tetapi sulit untuk dihitung. Total berat akar dapat dinyatakan dalam satuan perhektar sebagai parameter dari suplai bahan organik ke tanah (Schuurman and Goedewaagen, 1971) Sedangkan menurut Bohn 1979, parameter yang umum digunakan untuk menyatakan pertumbuhan dan penyebaran akar adalah jumlah, berat, luas permukaan, volume, diameter, panjang dan jumlah ujung akar.
Perkembangan akar dipengaruhi oleh suhu, oksige, kesuburan tanah rintangan mekanis. Suhu rendah menghambat pertumbuhan, metabolisme dan pendewasaan akar. Pada suhu rendah air menjadi pekat dan jaringan menjadi kurang permeabel. Pada suhu tinggi kecepatan respirasi mengurangi pertumbuhan akar (Baker et al, 1987). Sedangkan menurut Kozlowzki (1971) Bahwa karakteristik pertumbuhan akar pohon sebagian besar dipengaruhi oleh persaingan spesies, media perakaran dan teknik budidaya.
Akar tanaman sering menyebar secara lateral sejauh lebar tajuk, namun penyebaran akar akan sangat bervariasi sesuai dengan keadaan tempat tumbuh dan tipe tanah.
Kozlozki (1971) menemukan bahwa akar pohon berbuah yang tumbuh pada lempung menyebar secara lateral kira-kira dua kali panjang tajuk, pada tanah liat satu setengah kali dan pada pasir tiga kali. Sedangkan menurut Baker (1987) penyebaran lateral sistem perakaran biasanya 2 sampai 5 kali radius tajuk, menjadi lebih besar pada tempat tumbuh yang jelek pada kondisi kering.
Scholter (1948) menunjukan perbedaan dalam perkembangan akar. Semai pinus 4 bulan tumbuh tanpa saingan memiliki jumlah akar 419 dengan panjang total 5,3 feet. Sementara Robinia pseudoaacacia lebih 1000 dengan panjang total 1069 feet.
PENGARUH KONDISI TANAH TERHADAP PERKEMBANGAN AKAR
Tanah merupakan faktor penting dalam pertumbuhan tanaman yaitu sebagai sumber dalam penyediaan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman, tempat akar berpegang serta tumbuh dan tempat penyimpanan air tanah yang sangat vital sebagai kelangsungan hidup tanaman bersangkutan perkembangan akar sangat dipengaruhi oleh keadaan tempat tumbuhnya. Menurut Bohm (1979) faktor ekologis yang penting, yang mempengaruhi pertumbuhan akar adalah Bulkdensity, kekerasan, air, udara dan unsur hara didalam tanah. Menurut Buckman dan Brandy (1969) bahwa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman pada umumnya adalah : 1. cahaya, 2. Bantuan mekanik, 3. Panas, 4. Udara, 5. Air dan 6. Unsur hara. Kecuali cahaya tanah merupakan perantara dalam pemberian semua faktor itu, baik sebagaian atau seluruhnya.



ROOT FORMATION MECHANISM
The main event was initially the formation of root meristem formation akesnya. When the seeds germinate, promeristem in embryo root tips form the main roots. Biochemistry physiology research shows that most beginners that causes the pattern of the bed the roots stop dividing at the time of root growth takes place. Activity growth was replaced by cells located deeper (Hidayat, 1995)
The seeds contain an embryo radicle or root meristem to the primary root development. This first root branching and root system extends to produce fibers or back dead. While literally shoots appear on the roots, stems roots literally emerged from the outermost layer of the particle. Over the literal root initiation, the cells forming primordial perisikel be meristematis roots that grow through the endodermis, cortex and epidermis. Prior to literally rip the roots of the primary root surface tissues, the root apical meristem and cap forming roots. At some distance from promeristem, cells enlarge and develop into specialized cells. It involves the elongation of most of the cells that occurs behind the initial widening of the root tips. Limit the epidermis, cortex and central cylinder appears near the rear promeristem. Increased cortical width because periklinal division and enlargement of the cells to the radial direction. Tues metaxilem enlarge and produce large vacuoles (Hidayat, 1995)
In gimnospermae and angiospermae, literal roots usually begins in perisikel and from here into the parent root cortex to the outer side, (Ogura 1938). In angiospermae, perimordium literal roots formed from parts of periklinal and antiklinal a cell cluster perisikel (Fahn, 1995)
Bell and Mc Cully (1970) in fahm (1995) observed that in the early stages of Zea May literal root slices adjacent to the pole protoxilem, not only involve persikel cells but also lots of parenchymal cells from the nearest part of Stele. As growth continued, it penetrates promiridias parent root cortex. Endodermis can divide antiklinal and periklinal, forming more than one cell. With roots menyembulkan literally to the root surface of the parent, or even before that happens, the tissue that develops from the endodermis was dead and eventually aborted (Fahn, 1995)
According to Hidayat (1995) forming the roots of the literal begins with periklinal division that occurs in some perisikel cells, the cell divides again resulting in pereklinal or antiklinal resulting in a set of cells. At the time of primordial roots grew longer, so that the roots penetrate the cortex literally appears on the surface of the parent root. Preceded the development of endodermis cells in the outer divide antiklinal to follow the new root enlargement and damaged.
ROOT DISTRIBUTION
The rate of spread of the roots, as well as the characteristics of the root system is influenced by genetic and environmental factors. Under conditions of constant rate of root growth that develops depends on its diameter. Wide meristem showed rapid growth (Russell, 1977). The form and rate of root growth is influenced significantly by the rooting medium (kozlowzki, 1971), the distribution of roots is a function of species, tree age, environment and unit sizes. Fine roots typically represent 85-99% of total root length, but only 14-16% of total root weight (full scr and Hoffman in FS daniel TW and JA Helms, 1987)
Total capacity of the roots showed absorption capacity of roots, the total number of roots is usually expressed in grams of dried roots but can also be expressed in total root length or total root surface. Total root surface is an important characteristic, but difficult to calculate. Total weight of roots can be expressed in units per hectare as a parameter of the supply of organic material to soil (Schuurman and Goedewaagen, 1971) Meanwhile, according to Bohn, 1979, the parameters commonly used to express the growth and spread of roots is the number, weight, surface area, volume, diameter, length and number of root tips.
Root development is influenced by temperature, oksige, soil fertility, mechanical barrier. Low temperature inhibits the growth, metabolism and maturation of roots. At low temperatures water becomes dense and the network becomes less permeable. At high temperature reduces the respiration rate of root growth (Baker et al, 1987). Meanwhile, according Kozlowzki (1971) The characteristics of tree root growth largely influenced by the competition of species, rooting medium and cultivation techniques. Plant roots often spread laterally as far as width header, but the spread of the roots will vary according to the state of the site and soil type.
Kozlozki (1971) found that the roots of fruit trees growing on clay spread laterally approximately twice the length of the header, on clay and a half times and three times on the sand. Meanwhile, according to Baker (1987) Lateral spread of root system usually 2 to 5 times the canopy radius, becomes larger in a bad place to grow in dry conditions.
Scholter (1948) showed differences in root development. 4 months pine seedlings grown without root competition has a number of 419 with a total length of 5.3 feet. While Robinia pseudoaacacia over 1000 with total length of 1069 feet.
EFFECT OF SOIL CONDITIONS ON ROOT GROWTH
Soil is an important factor in plant growth that is as a source in the supply of nutrients necessary for plant growth, a place to hold and grow roots and soil water storage is very vital as the survival of the relevant plant root development is influenced by the circumstances where it grew. According to Bohm (1979) are important ecological factors, which affect root growth is Bulkdensity, violence, water, air and nutrients in the soil. According to Buckman and Brandy (1969) that the factors that affect plant growth in general is: 1. light, 2. Mechanical assistance, 3. Heat, 4. Air, 5. Water and 6. Nutrients. Except for light soils is an intermediary in the provision of all these factors, either in part or entirely.

PERTUMBUHAN AKAR

Akar merupakan organ vegatitf utama yang memasok air, mineral dan bahan-bahan yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, selain itu perakaran merupakan landasan yang sangat penting karena perakaran memberikan penguat mekanis untuk memelihara struktur lurus keatas suatu pohon atau tanaman. Penelitian mengenai akar tanaman sampai saat ini dirasakan masih kurang sekali bila di banding dengan organ-organ lain pada tanaman.
Pertumbuhan akar yang kuat, lazimnya diperlukan untuk kekuatan dan pertumbuhan pucuk tanaman pada umumnya. Apabila akar mengalami kerusakan akibat gangguan bilogis, mekanis dan fisis maka pertumbuhan pucuk tanaman akan menjadi kuarang optimal. Selain berhubungan dengan tanaman maka akar juga akan selalu berhubungan dengan tanah sebagai tempat melekatnya akar. Peranan akar sangat penting untuk pertumbuhan tanaman oleh karena itu perlu dilakukan upaya-upaya pengamatan dan kajian yang lebih intensif mengenai proses-proses pembentukan akar.
Struktur Anatomi Akar
Tiap jenis tanaman memiliki struktur anatomi sistem perakaran yang berbeda. Pada kelas dikotiledoneae, akar primer (radikula) berkembang memanjang kedalam tanah serta dari pada munculnya cabang akar (akar skunder) yang biasanya ukurannya lebih kecil. Sistem perakaran ini biasanya disebut akar tunjang, lain halnya dengan kelas monokotil, akar primer tidak lama bertahan dalam pertumbuhan tanaman dan segera mengering, dari pangkal akar tersebut akan muncul akar baru yang disebut dengan akar adventif. Sistem perakaran tersebut disebut dengan perakaran serabut (hidayat, 1995)
Russel (1997), membagi akar kedalam tiga zona yang berbeda sesuai dengan fungsinya yaitu:
  1. Zona meristem (meristem zone) yaitu tempat berlangsung pembelahan sel.
  2. Zona pemanjangan (Elongation zone) tempat sel-sel berdiferensiasi membentuk struktur jaringan yang tepat, dizona ini biasanya banyak muncul rambut akar.
Menurut fungsinya dikenal berbagai bentuk akar seperti akar nipas, akar banir, akar rambut, akar tunggang dan umbi akar. Akar banir lebih berperan sebagai penguat berdirinya pohon, akar nafas berfungsi untuk mengambil oksigen diatas permukaan tanah biasanya ditemukan pada hutan mangrove.
Umbi akar adalah akar yang berfungsi untuk mengabsorbsi nutrisi dan air dalam tanah. Jaringan penyusun akar terdiri dari jaringan epidermis (Eksosodermis), endodermis, korteks, silinder pusat, berfungsi sebagai pelindung sel-sel bagian dalamnya. Jaringan endodermis mengandung selapis suberin di dinding anti klinalnya, yaitu pada dinding radial dan melintang. Pada jaringan ini terdapat pita kaspari yang berperan yang merubah tekanan turgor akar sehingga air mampu naik dari akar ke batang, pita kaspari juga berperan sebagai liter untuk menyeleksi ion mana yang dapat masuk ke batang dan akar (Hidayat, 1995)
Silinder pembuluh menempati bagian tengah dari akar, silinder pembuluh terdiri dari jaringan pembuluh disebelah luarnya yaitu, persikel. Persikel biasanya terdiri dari atas satu lapis atau lebih sel-sel parenkim yang berdinding tipis. Struktur ini berhubungan langsung dengan protofloem dan protoxilem dan sudah dapat dibedakan. Pesikel tetap mempertahan ciri-ciri meristematiknya.
Tudung akar terdapat di ujung akar untuk melindungi promeristem akar dan pembantu penetrasi akar yang tumbuh didalam tanah, tudung akar terdiri dai sel-sel parenkim hidup yang sering mengandung pati. Sel-sel tudung akar mengeluarkan lendir polisakarida. Tudung akar berkembang terus menerus. Sel paling luar mati terpisah dari yang lain dan kemudian hancur lalu diganti oleh sel-sel baru yang dibentuk oleh pemula (Hidayat, 1995). Fungsi dari tudung akar adalah:
  1. Untuk melindungi meristem akar.
  2. Untuk membuat lubang kedalam tanah.
  3. Untuk merangsang adanya rangsangan grafitasi (torrey and Clarkson, 1975)
Perkembangan dari rambut akar pada beberapa spesies pohon. Akar ini umumnya terbut dari epidermis tetapi hanya beberapa spesies yang tumbuh pada korteks, dibawah epidermis. Rambut akar umumnya terbentuk diatas zona meristematis semakin mendekati tudung akar jumlahnya makin berkurang (Kozlowski, 1977). Formasi rambut akar banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Terdapat beberapa variasi didalam ukuran dan umur hidupnya. Pada beberapa spesies panjang bias mencapai 1000 um dan diameter antara 10-15 um. Rambut akar umumnya berbanding tebal dan memiliki vakuola besar. Seringkali mereka bertahan hanya untuk beberapa hari, dan rentan terhadap serangan mikroorganisme.

ROOT GROWTH
The root is the organ that supplies the main vegatitf water, minerals and materials essential for plant growth and development, other than that rooting is the foundation that is very important because roots provide mechanical reinforcement to maintain a straight structure and above a tree or plant. Research on plant roots until recently felt still less so when compared with other organs in plants.
Strong root growth, usually needed for strength and growth of shoots of plants in general. If the roots were damaged due to biological disturbance, mechanical and physical then the growth of plant shoots would be optimal. In addition associated with the plant roots will also be always in touch with the land as a place of attachment of the root. The role of roots is essential for plant growth is therefore necessary observation efforts and more intensive study of the processes of root formation.
Anatomical Structure of Root
Each type of plant has the anatomical structure of different root systems. In dikotiledoneae class, primary root (radicle) develops lengthwise into the ground and from the emergence of branch roots (secondary roots) that are usually smaller. Root system is usually called the root Tunjang, another case with monocot class, primary root not long survive in plant growth and dry immediately, from the base of these roots will emerge a new root called adventitious roots. Root system is called the root fibers (hidayat, 1995)
Russell (1997), divide the roots into three different zones according to function, namely:
  1. To protect the root meristem.
  2. To make a hole into the ground.
  3. To stimulate the stimulation of gravity (Torrey and Clarkson, 1975)
The development of root hair on some tree species. The root is generally of epidermis but only a few species that grow in the cortex, below the epidermis. Are formed above the root hair zone closer meristematis root cap numbers dwindle (Kozlowski, 1977). Root hair formation much influenced by the environment. There is some variation in size and age of his life. In some species can reach 1000 um length and diameter of 10-15 um. Hair root is generally proportional to the thick and has a large vacuole. Often they persist only for a few days, and vulnerable to attack microorganisms.

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan proses yang penting dalam kehidupan dan perkembangbiakan suatu spesies. Pertumbuhan dan perkembangan berlangsung secara terus menerus sepanjang daur hidup. Tergantung pada tersedianya meristem hasil asimilasi, hormone dan substansi pertumbuhan lainnya. Secara empiris pertumbuhan tanaman dapat di nyatakan berbagai faktor genotif x lingkungan = (faktor internal x faktor eksternal) ciri-ciri tertentu suatu tumbuhan terutama dipengaruhi oleh genotif, sedangkan ciri-ciri lain dipengaruhi oleh lingkungan.
Pertumbuhan dapat diartikan sempit yaitu suatu pembelahan sel (peningkatan jumlah) dan pembelahan sel (peningkatan ukuran). Kedua proses ini memerlukan sintesis protein dan merupakan proses yang tidak dapat terbalik. Jadi apabila beberapa ahli mengatakan bahwa pertumbuhan merupakan pembelahan dan pemanjangan sel, maka ahli tanah mengungkapkan bahwa pertumbuhan sebagai pertambahan bahan kering. Dalam analisis terakhir bahwa dinyatakan pertumbuhan dan morfogenesis tanaman sebagai akibat dari pembelahan, pembesaran, dan diferensiasi sel (penebalan dinding sel, pengisian sel dan pengesan protoflasma).
FAKTOR-FAKTOR PERTUMBUHAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, secara luas dapat di kategorikan sebagai faktor internal (genetik) dan eksternal (lingkungan) dikelompokan sebagai berikut.
Faktor internal:
  1. Ketahanan terhadap tekanan iklim, tanah dan bioligis.
  2. Laju fotosintetik.
  3. Respirasi.
  4. Permbagian hasil asimilasi dan N.
  5. Klorofil, karoten dan kandungan figmen lainnya.
  6. Tipe dan letak meristem.
  7. Kapasitas untuk menyimpan cadangan makanan.
  8. Aktivitas untuk menyimpan enzim.
  9. Pengaruh langsung gen.
  10. Diferensiasi.                


Faktor eksternal
  1. Iklim: cahaya, temperatur, air, panjang hari, angin, gas, gas inisering menjadi polutan atmosfer dan konsentrasinya dapat cukup tinggi untuk penghambat pertumbuhan.
  2. Edafik: etkstur, struktur, bahan organik, kapasitas tukar kation, kejenuhan basa dan kesediaan nutrien, secara keseluruhan kesebelas unsur diperlukan oleh tanaman.
  3. Biologis: gulma, serangga, organisme penyebab penyakit, nematoda, macam-macam tipe herbivora dan mikro organisme tanah seperti bakteri Nitrifikasi, bakteri, denitifikasi, serta mikoriza (asosiasi simbolik antara jamur dan akar)
Ada beberapa hukum yang berkaitan dengan pembatasan pertumbuhan dari respon terhadap tanaman salah satunya adalah:
Hukum minimum, hukum ini diajukan oleh justus von liebig (1862) merupakan teori pembatas yang paling terkenal ia mengatakan bahwa suatu definisi atau tidaknya salah satu penyusun yang diperlukan, walaupun penyusun lainnya ada, menyebabkan tanah menjadi tandus untuk tanaman budidaya yang “apabila sebuah tong memiliki sebuah papan penyusun yang tingginya berbeda-beda, papan terpendeklah yang menentukan kapasitas tong tersebut.
Analisis pertumbuhan
Analisis pertumbuhan tanaman dapar dilakukan terhadap sebatang atau beberapa komunitas tanaman, analisis pertumbuhan dapat dilakukan pada tahap awal, yaitu meliputi beberape hal, yaitu:
  1. Laju pertumbuhan relatif mutlak, laju relatif menunjukan berat kering dalam satu interval waktu, dalam hubungannya dengan berat asal.
  2. Laju satuan daun atau laju satuan asimilasibersih, rasio luas daun menunjukan luas lamina daun / helaian daun dan jaringan yang melaksanakan fotosontesa dengan jaringan tanaman total yang melakukan respirasi atau biomasa total tanaman.
  3. Rasio luas daun
  4. Luas daun khusus
  5. Berat daun khusus
  6. Berat daun khusus dan alometi dalam pertumbuhan.



GROWTH AND DEVELOPMENT
Growth and development of plants is an important process in the life and breeding of a species. Growth and development take place continuously throughout the life cycle. Depending on the availability of meristem results of assimilation, hormones and other growth substances. Empirically, the growth of plants in the state to various environmental factors genotif x = (x internal factors to external factors), certain characteristics of a plant mainly influenced by genotif, whereas other traits are influenced by the environment.
Growth can be interpreted narrowly is a cell division (increase in number) and cell division (increase in size). Both these processes require protein synthesis and is a process that can not be reversed. So if some experts say that growth is a division and cell elongation, the experts revealed that the growth of soil as dry-added material. In a recent analysis that revealed the growth and morphogenesis of plants as a result of the division, enlargement, and differentiation of cells (cell wall thickening, filling the cell and perceiver protoflasma).
GROWTH FACTORS
Factors that affect growth, can be broadly categorized as internal factors (genetic) and external (environment), classified as follows.
Internal factors:
1.      Resistance to climatic pressures, land and
2.      bioligis.
3.      Photosynthetic rate.
4.      Respiration.
5.      Sharing of assimilation and N.
6.      Chlorophyll, carotenoids and other figmen content.
7.      The type and location of the meristem.
8.      The capacity to store food reserves.
9.      Activities to keep enzymes.
10.  The direct effect of genes.
11.  Differentiation.
External factors
1.      Climate: light, temperature, water, day length, wind, gas, gas inisering become atmospheric pollutants and their concentrations can be quite high for inhibiting growth.
2.      Edafik: etkstur, structure, organic matter, cation exchange capacity, base saturation and nutrient availability, overall eleventh element needed by plants.
3.      Biological: weeds, insects, disease-causing organisms, nematodes, various types of herbivores and soil micro-organisms such as bacteria Nitrification, bacteria, denitifikasi, and mycorrhizae (symbolic associations between fungi and roots).
Analysis of growth
Plant growth analysis carried out on a buffer or some plant communities, growth analysis can be done at an early stage, which includes beberape matters, namely:
Absolute relative growth rate, dry weight indicates the relative speed in one time interval, in conjunction with a weight of origin.
  1. Rate or unit leaf rate asimilasibersih unit, the ratio of leaf area showed extensive leaf lamina / blade leaves and implement network fotosontesa with total plant tissues that do respiration or total plant biomass.
  2. The ratio of leaf area
  3. Specific leaf area
  4. Specific leaf weight
  5. Specific leaf weight and alometi in growth.

PENGARUH KUALITAS CAHAYA TERHADAP PERTUMBUHAN POHON

Respon Terhadap Radiasi Ultraviolet
Cahaya dengan keadaan kualitas yang berbeda-beda ditemukan dalam dua keadaan tresterial utama dibumi ini yaitu dibawak kanopi daun dan didaerah altitude tinggi dimana terjadi radiasi dengan penambahan jumlah sinar ultraviolet (UV). Di daerah yang altitudenya lebih rendah UV secara nyata disaring oleh atmosfer terutama oleh oksigen dan ozon. Tetapi perbedaan UV ditempat tinggi dan yang rendah, secara relative kecil, walau UV secara biologis merupakan bentuk radiasi yang mempunyai bentuk yang ekstrim, hanya sedikit pengaruh UV pada tanaman didaerah dataran tinggi. Caidwell (1996) menemukan peningkatan sebesar 26 % radiasi matahari langsung pada pita 280-315 nm pada ketinggian 4450 m bila dibandingkan dengan ketinggian 1670 m, tetapi hal ini  sebagian besar diimbangi oleh suatu penurunan dalam radiasi UV.
Dari gambar diatas dapat kita lihat perbedaan yang mencolok dari radiasi sinar matahari pada hari yang tidak berawan antara daerah ekuator (yang memiliki iklim tropis) dan daerah lintang 200U, 400U, 600U (yaitu merupakan daerah temperat)
Pengaruh Terhadap Fotosintesis
Pola dari pucuk tanaman diarahkan untuk menuju efisiensi dalam fotosintesis struktur dari mesosfil kurang dan organ stomata memungkinkan perubahan gas secara cepat, bahkan adanya fakta bahwa fotosintesis memanfaatkan sebagian besar radiasi panjang gelombang yang terlihat sangat nyata, karena panjang gelombang ini adalah wilayah spektrum dengan nilai energi yang paling besar disamping adaptasi diatas, sebenarnya hanya sedikit energi matahari dimanfaatkan dalam proses fotosintesis (0,025%).
Kebanyakan daun telah menjadi jenuh cahaya dan hanya 20% dari cahaya matahari penuh yang dapat diserap. Dari jumlah ini hanya 20% yang disimpan dalam molekul gula yang dihasilkan. Sejumlah cahaya yang dibutuhkan untuk fotosintesis, agar dapat seimbang dengan menggunakan ikatan karbon yang digunakan untuk respirasi. Dalam hal ini prosentase dari cahaya penuh, titik kopensasiuntuk permudaan tanaman biasanya berada antara 2 dan 30%.
Cahaya dapat menembus daun dengan 4 cara
  1. Irradiasi langsung yang tidak terhalang yang diberikan oleh noda-noda matahari. Noda matahari ini mempunyai sifat berirradiasi langsung kecuali bila terjadi pengaruh bayangan. (Anderson dan miller 1974). Cahaya matahari langsung nampak menjadi berkurang nilainya pada sebagian besar di bawah kanopi.
  2. Radiasi difusi yang tak terhalang merupakan cahaya langit difusi yang mengiringi noda matahari.
  3. Refleksi daun-daun tidak hanya meneruskan cahaya, tetapi sama dengan permukaan biologis lainnya, memantulkan sebagian tertentu. Jumlah yang dipantulkan akan tergantung pada beberapa parameter cahaya yang dipantulkan. Juga diubah spektrumnya dengan cara yang sama seperti cahaya yang diteruskan.
  4. Transmisi derajat penaungan lebih tergantung jumlah cahaya yang diabsorbsi dan yang dipantulkan oleh daun.
Dari keempat cara tersebut diatas sudah jelas akan mempengaruhi terhadap proses fotosintesis karena kualitas, intensitas dan fotoperiode cahaya untuk proses fotosintesa terjadinya pada daun.
Pengaruh Terhadap Perkecambahan
Jumlah cahaya yang dibutuhkan untuk merangsang perkecambahan sangat nyata untuk tanaman bluegrass, namun untuk tanaman tembakau, cahaya selama 0,01 detik sudah mampu mendorong perkecambahannya, ketika biji ditanam tidak boleh sepenuhnya tertutup tanah karena biji-bijian dari banyak spesies tidak akan berkecambah pada keadaan gelap itu memerlukan rangsangan cahaya. Beberapa peneliti memperlihatkan bahwa biji yang peka terhadap cahaya tidak akan berkecambah dibawah kanopi daun (Black, 1969; Stoutjesdijk, 1972, King 1975) Diduga karena peningkatan derajat FR. Gorski (1975) menemukan hambatan perkecambahan pada semua dari tujuh spesies dengan biji-biji yang dirangsang cahaya. Karena itu, kelihatannya perkecambahan yang dikendalikan oleh cahaya merupakan satu adaptasi tanaman yang tidak toleran terhadap penaungan. Namun berdasarkan penemuan hasil penelitian, bahwa pada biji yang telah direndam dan diberikan perlakuan cahaya yang cukup kemudian dikeringkan kembali, maka rangsangan cahaya masih bertahan sehingga perkecambahan tetap terjadi meskipun biji sepenuhnya tertutup tanah.
Biji beberapa spesies liar bahkan terhambat perkecambahannya dalam keadaan terang, dikarenakan cahaya biru terutama diakibatkan oleh adanya cahaya merah-jauh  (FR). Gelombang merah jauh dari sinar matahari merupakan panjang gelombang yang paling menghambat perkembangan dan pertumbuhan biji sampai pada taraf yang lebih rendah. Biji yang membutuhkan cahaya untuk berkecambah disebut fotodorman.
Pengaruh Terhadap Pertumbuhan Vegetatif
Pertumbuhan vegetatif diawali dalam meristem kuncup ujung, literal dan didalam meristem interkalar daun muda dan ruas sampai kepada pertumbuhan bunga dan kembali menjadi biji. Pertumbuhan dari interkalar, biasanya terbatas pada jumlah tertentu sel-sel aktif dan kebutuhan hormon yang dipasok pada sumber yang lain (Kuncup dan daun muda). Tanaman akan menjadi kerdil apabila tanaman didalam meristem interkalar kekurangan hormon pertumbuhan, terutama kekurangan gas maupun sinar cahaya infra merah jauh (730 nm). Kualitas cahaya mempunyai pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman, terutama dengan adanya cahaya merah (660nm) dan merah jauh (739nm), pertumbuhan meristematik interkalar pada tanaman rumput-rumputan terjadi dengan cara pemanjangan batang muda dan terlindung dari sinar atau cahaya, dari radiasi merah jauh. Panjang gelombang cahaya tidak semua digunakan dan mempengaruhi terhadap pertumbuhan vegetatif dari suatu tanaman hal ini akan sangat tergantung kepada kemampuan dan kebutuhan tanaman dalam perkembangan dan pertumbuhannya.
EFFECT OF LIGHT QUALITY ON GROWTH TREE
Response to Ultraviolet Radiation
The light with the circumstances of different qualities are found in two main tresterial circumstances of this earth that is under the canopy of leaves and high altitude areas where there is radiation with the addition of ultraviolet (UV). In areas of lower altitude UV significantly filtered by the atmosphere mainly by oxygen and ozone. But the difference in UV high and low places, are relatively small, although the biological UV radiation is a form that has an extreme form, there is little effect of UV on plants plateau region. Caidwell (1996) found an increase of 26% direct solar radiation in the band 280-315 nm at an altitude of 4450 m when compared with a height of 1670 m, but this was largely offset by a decrease in UV radiation.
From the above picture we can see a striking difference of solar radiation on cloudless days between the equator (which has a tropical climate) and latitude regions 200U, 400U, 600U (which is a temperate region)
Influence on Photosynthesis
Patterns of plant shoots directed toward efficiency in photosynthesis and the structure of organs mesosfil less stomata allow gas change rapidly, even the fact that photosynthesis utilize most of the radiation wavelength that look very real, because this wavelength is the region of the spectrum with the energy value greatest adaptation in addition to the above, actually very little solar energy utilized in the process of photosynthesis (0.025%).
Most leaves have become saturated light and only 20% of full sunlight that can be absorbed. Of this number only 20% are stored in sugar molecules are produced. A number of light needed for photosynthesis, in order to balance by using the carbon bond that is used for respiration. In this case the percentage of full light, kopensasi point for the regeneration of plants are usually located between 2 and 30%.
Light can penetrate the leaf with 4 way
  1. Direct irradiation is not blocked is given by sun spots. Noda sun has a direct berirradiasi properties except in case of a shadow effect. (Anderson and Miller 1974). Direct sunlight seemed to diminish in value in the largely under the canopy.
  2. Radiation diffusion which is unobstructed sky light diffusion that accompany the sun spots.
  3. Reflections on the leaves not only continue the light, but together with other biological surface, reflect a certain portion. The amounts reflected will depend on several parameters of the reflected light. Also changed its spectrum in the same manner as the transmitted light.
  4. Transmission depends on the degree of shade over the amount of light absorbed and reflected by the leaf.
Of the four methods above are obviously going to affect the process of photosynthesis because of the quality, intensity and fotoperiode light for photosynthesis of the leaves.Simak
Influence Germination
The amount of light needed to stimulate germination is very real to plant bluegrass, but the cultivation of tobacco, light during the 0.01 seconds was able to push the Germination, when seeds are planted should not be completely covered with soil because the seeds of many species will not germinate in the dark It requires a light stimulus. Some researchers showed that the light-sensitive seeds will not germinate under the canopy of leaves (Black, 1969; Stoutjesdijk, 1972, King 1975) is suspected because of the increased degree of FR. Gorski (1975) found the germination constraints on all of the seven species with seeds that stimulated light. Therefore, it seems that germination is controlled by light, is an adaptation of plants that are not tolerant of shade. However, based on research findings, that the seeds that have been soaked and given enough light treatment and then dried again, then the stimulus light remained so still occur even though seed germination completely covered with soil.
Seeds of some species of wild Germination is inhibited even in a state of light, blue light caused mainly caused by the far-red light (FR). Red wave away from the sun is the wavelength of the most inhibiting development and growth of seeds to a lesser extent. Seeds that need light to germinate called fotodorman.
Effect on Vegetative Growth
Vegetative growth begins in the bud tip meristem, meristem interkalar literal and in young leaves and segments to the growth rate and back into seeds. Growth of interkalar, usually limited to a certain number of active cells and hormones needs to be supplied to other sources (buds and young leaves). Plants will be stunted if the plants in meristem interkalar growth hormone deficiency, especially lack of gas and light rays far infrared (730 nm). The quality of light has a significant effect on vegetative growth, especially in the presence of red light (660nm) and far red (739nm), interkalar meristematik growth on herbaceous plants occurred with the way young stem elongation and protected from the rays or light, from red radiation far. Not all wavelengths of light used and the influence of vegetative growth of a plant it will greatly depend on the abilities and needs of plants in the development and growth.Baca secara fonetik
  1. Simak
  2. Baca secara fonetik

KUALITAS CAHAYA DAN PERTUMBUHAN TANAMAN


Oleh: Agus Yadi Ismail, MSi
Cahaya merupakan salah satu dari faktor lingkungan yang diperlukan dan sangat berperan untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman/pohon. Alasan utama tentu saja karena cahaya membantu dalam proses potosintesis. Lagi pula, cahaya mempengaruhi perkembangan fototrofisme. Cahaya yang dapat terlihat merupakan satu bagian kecil (kira-kira 400-700 nm) dari spektrum radiasi matahari penuh.
Secara fisiologis, cahaya mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap pertumbuhan tanaman/pohon. Pengaruh secara langsung terjadi pada metabolisme melalui proses fotosintesis, sedangkan proses tidak langsung melalui pertumbuhan dan perkembangan tanaman, keduanya sebagai akibat respon metabolik yang langsung. Fotosintesis merupakan proses yang penting bagi tanaman dalam rangka suplai energi.
Energi radiasi yang tersedia untuk fotosintesis dibumi berasal dari matahari. Setiap energi yang digunakan, secara langsung maupun tidak langsung, berasal dari radiasi matahari untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman/pohon.
Banyak pengaruh-pengaruh stimulasi yang dipacu oleh cahaya terhadap perkembangan dan pertumbuhan tanaman/pohon, khususnya terhadap diferensiasi organ dan jaringan. Klorofil melalui kemampuannya untuk mengabsorbsi energi yang dipancarkan oleh matahari dan mengkonversinya menjadi energi kimia yang disimpan dalam molekul gula sederhana, menyajikan hubungan keterkaitan yang erat antara seluruh organisme tanaman dengan energi matahari.

Kualitas Cahaya
Radiasi energi yang diterima oleh bumi dari matahari berbentuk gelombang elektromagnetik yang bervariasi panjangnya yaitu dari 5000-290 milimikron. Rangkaian spektrum matahari ini dapat dikelompokan berdasarkan panjang gelombangnya. Cahaya mempunyai sifat gelombang dan sifat partikel.
Cahaya hanya merupakan bagian dari energi cahaya yang memiliki panjang gelombang tampak bagi mata manusia sekitar 390-760 nanometer. Sipat partikel cahaya biasanya diungkapkan dalam pernyataan bahwa cahaya itu datang dalam bentuk kuanta dan foton, yaitu paket energi yang terpotong-potong dan masing-masing mempunyai panjang gelombang tertentu.
Cahaya memberikan energi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman/pohon secara langsung melalui tumbuhan hijau atau melalui organisme lain, hal ini tergantung kepada zat-zat organik yang disintesa oleh tumbuhan hijau. Kualitas cahaya berkaitan erat dengan panjang gelombang, dimana panjang gelombang ungu dan biru mempunyai foton yang lebih berenergi bila dibanding dengan panjang gelombang jingga dan merah. Kualitas cahaya dibedakan berdasarkan panjang gelombang menjadi.
· Panjang gelombang 750-626 mu adalah warna merah.
· Panjang gelombang 626-595 mu adalah warna orange/jingga.
· Panjang gelombang 595-574 mu adalah warna kuninga.
· Panjang gelombang 574-490 mu adalah warana hijau.
· Panjang gelombang 490-435 mu adalah warna biru.
· Panjang gelombang 435-400 mu adalah warna ungu.
Semua warna-warni dari panjang gelombang ini mempengaruhi terhadap fotosintesis dan juga mempengaruhi terhadap pertumbuhan dan perkembangan pohon baik secara generatif maupun vegetatif, tetapi kuning dan hijau dimanfaatkan oleh tanaman sangat sedikit, panjang gelombang yang paling banyak diabsorbsi beada di wilayah violet sampai biru dan orange sampai merah.
Variasi harian dan variasi musiman tidak hanya mempengaruhi masukan energi, tetapi juga suatu masukan faktor periode yang penting. Panjang siang hari pada waktu yang berbeda dalam satu tahun, untuk organisme yang non tropis dan merupakan indikator yang paling dapat dipercaya dan sebagian besar tanaman bersifat fotoperiodik. Irradiasi langsung pada dini hari dan senja hari mengandung banyak radiasi panjang gelombang yang disebabkan oleh celah atmosfer yang lebih panjang dan berakibat penghamburan gelombang pendek.
QUALITY OF LIGHT AND PLANT GROWTH
By: Agus Yadi Ismail, MSi
Light is one of the necessary environmental factors and was instrumental to the development and growth of plants / trees. The main reason, of course, because the light helps in the process potosintesis. Besides, the light affects the development fototrofisme. The light can be seen is one small part (approximately 400-700 nm) of full spectrum solar radiation.
Physiologically, the light has a direct or indirect influence on the growth of plants / trees. Direct influence on metabolism occurs through the process of photosynthesis, while the indirect process through plant growth and development, both as a direct result of the metabolic response. Photosynthesis is an important process for the plant in order to supply energy.
Radiation energy available for photosynthesis on Earth comes from the sun. Any energy used, directly or indirectly, derived from solar radiation to the growth and development of plants / trees.
Many influences are driven by light stimulation on the development and growth of plants / trees, particularly on organ and tissue differentiation. Chlorophyll through its ability to absorb energy emitted by the sun and convert it into chemical energy stored in simple sugar molecules, presents a close linkage relationship between the whole organism of plants with solar energy.
Light Quality
Energy radiation received by earth from the sun in the form of electromagnetic waves that vary in length from 5000-290 milimikron. The series of the solar spectrum can be grouped according to their wavelengths. Light has wave properties and particle properties.
The light energy is only part of which has a wavelength of light visible to human eyes around 390-760 nanometers. Carpenter’s light particles are usually disclosed in the statement that it comes in the form of light quanta and photons, the energy package is cut into pieces and each has a specific wavelength.
Light provides the energy needed for plant growth / trees directly through green plants or through other organisms, this depends on the organic substances are synthesized by green plants. The quality of light is closely related to the wavelength, where the purple and blue wavelength photons have more energy when compared with orange and red wavelengths. The quality of light becomes distinguishable on the basis of wavelength.
  • Wavelength of 750-626 mu is the color red.
  • Wavelength of 626-595 mu is the color orange / orange.
  • Wavelength is the color of your yellow 574
  • Wavelength warana 574-490 mu is green.
  • Wavelength of 490-435 mu is blue.
  • Wavelength of 435-400 mu is the color purple.
All the colors of this wavelength affects photosynthesis and also affect tree growth and development both in generative and vegetative, but yellow and green plants utilized by very few, at most wavelengths in the region absorbed difference violet to blue and orange until red.
Daily variation and seasonal variation not only affects the energy input, but also an important input factor that period. The length of daylight at different times in one year, for non-tropical organisms and is an indicator of the most reliable and most of the plants are photoperiod. Direct irradiation at dawn and dusk contain many wavelengths of radiation caused by a longer gap atmosphere and result in short-wave scattering.