Persepsi masyarakat pesisir: Manakah yang benar dan salah?

(Foto: Helen Brunt / Mongabay.com)
Dwi Ariyogagautama

Banyak pengalaman yang didapat dari bapak-bapak nelayan dan ibu-ibu papalele (pembakul), ada beberapa hal yang positif dan banyak juga yang negatif, kurang pemahaman dan persepsi yang mendarah daging dari leluhur, perlu diluruskan. Teori ilmiah dan konseptual yang tertuang dalam regulasi dan management perikanan, sebaiknya menyerap

Dampak Pemanasan Global pada Penyu Laut

Diperkirakan, tahun 2070, pasir di pantai akan menjadi sangat panas dan kemungkinan besar akan membuat telur telur penyu ‘matang’ dan ini berarti fenomena alam ini berpotensi mengahncurkan populasi penyu laut. Selain itu, kenaikan permukaan laut juga merupakan ancaman yang serius dalam waktu dekat ini, yaitu sekitar tahun 2030.
Saat penyu laut naik ke darat untuk bertelur, mereka mengahdapi 3 ancaman serius dari perubahan iklim yaitu: siklon, air pasang & suhu yang memanas.
Para peneliti memperkirakan dari sekarang hingga tahun 2030, kenaikan garis pantai akan membahayakan daratan tempat penyu bertelur. Dan ditambah lagi, di tahun 2070, pasir di banyak daerah akan sangat panas hingga telur penyu tidak akan bisa bertahan.
Para ahli merasa pasti dengan dampak pemanasan pantai. Suhu pasir menentukan rasio jenis kelamin penyu.Dengan kenaikan suhu, akan menetas lebih banyak penyu betina. Suhu yang lebih hangat juga mengurangi keberhasilan penetasan & menghasilkan tukik yang cacat, sedangkan suhu diatas 33 derajat celcius mengakibatkan telur mati.
Membangun tempat tempat teduh di pantai, menanam tanaman di seanjang pantai atau merelokasi telur ke tempat yang lebih dingin kemungkinan strategi yang baik untuk melindungi teur telur ini dari pemanasan yang berlebihan. Temuan ini dapat membantu memprioritaskan upaya konservasi. Untuk jangka panjang, pengurangan dampak dari kenaikan permukaan air laut tidak terlalu jadi masalah karena peningkatan suhulah yang akan menyebabkan sebagian besar kerusakan. Tapi rasanya tidak semudah itu. Daratan tempat bertelur kemungkinan akan berpindah dengan cara yang tidak bisa diantipasi oleh ilmu pengetahuan karena kenaikan permukaan laut.

Perlu adakah profesi motivator akuakultur ?

Mencapai target peningkatan hasil budidaya perikanan 353% tahun 2014 terlihat sulit bagi sebagian orang. Alasannya bermacam-macam, mulai dari kebijakan kurang berpihak, terbatasnya pengetahuan dan pengalaman akuakulturis kita, pesaing dari luar negeri, modal minim dan infrastruktur belum lengkap. Namun, jika mau merenung lebih mendalam jawaban yang paling akhir adalah kita kurang termotivasi, benarkah demikian ?

Sesuatu yang dianugerahkan di dalam diri kita yang sulit kita pahamilah yang berperan utama membuat kita menjadi seperti ini. Karena jika dikatakan ‘gen’ maka gen seperti apa yang telah kita ketahui mengendalikan diri kita. Walaupun ia tidak jelas namun ia nyata.
Sesuatu yang nyata keluar darinya adalah motif dan motivasi yakni tujuan hidup, semangat hidup, keyakinan dan merasa mampu. Motivasi berperan besar dalam menyaring dan menafsirkan pengalaman kita, menggerakkan fisik kita dan bersikap terhadap peristiwa. Walaupun motivasi berakar pada gen namun seringkali ia dipengaruhi kuat oleh pengasuhan, pendidikan dan kejadian-kejadian tak terduga. Banyak pihak telah berusaha supaya pengasuhan dan pendidikan menjadi alat pembentuk motivasi positif untuk menggerakkan masyarakat.
Sudah jelas bahwa tindakan manusia digerakkan oleh motif-motif. Nalar berguna untuk merasionalkan dan mewujudkan motif.  Dengan demikian agar akuakulturis bertindak diperlukan motif-motif dengan dasar alasan yang jelas untuk tindakan mereka. Akuakulturis yang sangat termotivasi dijamin lebih giat bertindak dibanding orang yang bermotif sedang saja. 
Sebagian besar akuakulturis atau calonnya menjalankan akuakultur karena didorong ekonomi. Oleh karena itu dibutuhkan akuakulturis sukses sebagai pemandu sorak bagi akuakulturis lain. Mereka diperlukan sebagai model contoh, penunjuk jalan, problem solver dan narasumber masalah real akuakultur. 
Ciri-ciri mereka adalah selalu menjawab dengan pasti. Pasti untung, pasti sukses, pasti selamat jika ikut saya. Arah penjelasan mereka adalah praktek. Yang penting prakteknya, buktinya. Sebenar apa pun teori Anda itu tak senyata hasil praktek Saya, jadi percayalah pada Saya. 
Contoh 1: A Seng Medan motivator kerapu
Kesuksesannya sebagai akuakulturis kerapu (yang dibuktikan dengan rumah, mobil banyak, sering bepergian ke luar negeri, dan beranak buah bejibun) dianggap sudah cukup untuk menjadikan dirinya orang yang punya otoritas untuk mengatakan apapun berkaitan dengan praktek budidaya kerapu. Frase meyakinkan yang sering dan perlu diucapkan adalah: saya percaya, anugerah Tuhan, saya yakin, berawal dari kemelaratan berakhir kesuksesan, anda juga bisa sukses, tak ada lagi orang miskin, kita harus bersatu.
Contoh 2: Letkol Nasrudin motivator lele
Secara ajaib lele telah mengorbitkan dirinya di sekeliling selebritis akuakultur lain. Letkol telah berhasil memelihara lele dengan suatu teknik khusus dan ramuan rahasia. Dirinya telah diundang sebagai pembicara di 32 propinsi dan luar negeri, berkenalan dengan pejabat-pejabat penting. Modal ini dibumbui dengan kelakarnya yang segar dan logat sundanya yang kentara membuat dia disukai kalangan leleist. Slogannya adalah: Kalau ga sukses ga perlu kenal saya lagi, dari kolam lele jadi kolam susu, dari letkol (letnan kolam) jadi jenkol (jenderal kolam).
Mereka mampu membangkitkan emosi peserta, mengubah rasa ragunya menjadi yakin dan dunia sempitnya menjadi berbunga. Mereka mengubah petambak miskin bermasa depan suram menjadi sangat berpengharapan. Mereka yang hadir diacaranya langsung berkeinginan untuk membuka kolam. Mata hadirin menjadi melotot dan otot-otot mereka menegang. Dengan demikian 353% bukan hal sulit lagi, paling tidak dalam angan-angan.