Studi CIFOR yang bermarkas di Bogor menemukan kalau kebijakan perkayuan dunia masih bermasalah


Senin, 20 Juni 2011 – Sebagian besar produk yang berasal dari kayu tropis merusak hutan dan logo keberlanjutan tidak dapat menjadi panduan yang handal untuk memberi kesadaran hijau. Sementara sebuah laporan minggu ini merayakan 50 persen peningkatan daerah hutan tropis yang diatur secara berkelanjutan, studi lainnya menunjukkan kalau penilaian ini dapat dipertanyakan.
Luas hutan tropis yang diatur secara berkelanjutan naik dari 36 juta hektar di tahun 2005 menjadi 53 juta hektar di tahun 2011, menurut sebuah laporan dari Organisasi Perkayuan Tropis Internasional (ITTO). Namun itu hanya 10 persen dari semua hutan tropis produktif.
“Saya berharap sedikit lebih banyak,” kata Duncan Poore, ilmuan kehutanan Inggris yang memimpin studi 33 negara untuk ITTO, yang anggotanya mencakup sebagian besar negara yang terlibat dalam perdagangan kayu tropis. Di pertengahan 1980an, ketika Poore melakukan penelitian pertama jenis ini, kurang dari 1 persen saja hutan yang diatur secara berkelanjutan.
Namun bisakah kita mempercayai gambaran baru ini? Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) yang bermarkas di Bogor, Indonesia, memperingatkan kalau banyak kayu dijual dengan logo keberlanjutan paling terkenal, dari Forest Stewardship Council, sesungguhnya tidak memenuhi aturan ketat FSC.
Studi CIFOR, yang diterbitkan bulan Desember 2010 kemarin, menemukan kalau hanya tiga dari 10 hutan bersertifikat FSC di Kamerun beroperasi “memakai teknik yang memastikan masa depan penebangan dengan laju yang sama seperti sekarang.” Beberapa pemberi sertifikat komersial, yang dipakai oleh perusahaan-perusahaan kayu, tidak menerapkan aturan FSC dengan ketat sebelum diberi sanksi dalam penggunaan logo FSC, kata penulis Paolo Cerutti. FSC dikendalikan bersama oleh industri perkayuan dan kelompok hijau, termasuk WWF.
Manuel Cuariguata dari CIFOR mengatakan sertifikasi di Brazil sama buruknya. Poore mengatakan kalau saat ini ada beberapa insentif untuk menebang hutan dengan cara tidak menghancurkannya. Sertifikasi itu mahal dan sebagian besar pasar tidak menginginkannya. Sementara itu, masih lebih menguntungkan untuk mengubah hutan menjadi lahan pertanian.
Sumber
New Scientist, 11 Juni 2011.

Keragaman Spesies Mekongga Memukau Dunia


KENDARI, KOMPAS.com — Tim peneliti dari University of California-Davis, Amerika Serikat, terpukau dengan beragamnya keanekaragaman hayati yang mereka temukan di Pegunungan Mekongga, Sulawesi Tenggara. Dari hasil penelitian sementara, tim tersebut menyimpulkan bahwa Pegunungan Mekongga merupakan salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia.
“Selama penelitian di Mekongga, kami menyaksikan keanekaragaman (hayati) yang luar biasa,” kata Professor Lynn Kimsey, Sabtu (23/7/2011). Lynn merupakan salah satu ahli entomologi (serangga) yang selama sebulan terakhir melakukan penelitian bersama tim dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Pegunungan Mekongga.
Lynn menambahkan, selama meneliti di pegunungan yang terletak di Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara, Sultra, itu ia berhasil mengumpulkan 100.000 sampel serangga. Dari jumlah itu, Lynn memprediksi separuhnya merupakan jenis baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya.
Direktur Bohart Museum UC-Davis tersebut juga menambahkan, dibandingkan beberapa tempat yang pernah ditelitinya, seperti Cile, Panama, Papua, dan Australia, serangga-serangga yang ditemukan di Mekongga memiliki karakter unik. “Misalnya, kami menemukan lebah raksasa terbesar di dunia (sepanjang 4 cm) yang tak ditemukan di tempat lain,” ujarnya.
Selama sebulan terakhir, tim gabungan LIPI dan UC-Davis ini melakukan penelitian lanjutan di Pegunungan Mekongga dalam kerangka International Cooperative Biodiversity Group-Indonesia yang telah berlangsung sejak 2009. Penelitian ini dimaksudkan untuk mendata keanekaragaman hayati Pegunungan Mekongga dan melihat prospek flora dan fauna yang bisa dimanfaatkan untuk obat-obatan, sumber energi, ataupun penanganan hama penyakit.
Selain Lynn, terdapat dua ahli lainnya dari UC-Davis, yakni Bob Kimsey (entomologi) dan Alan Thomas Hitch (ekologi vertebrata). Adapun tim dari LIPI terdiri dari 18 ahli flora dan fauna, seperti ahli mamalia, tumbuhan, reptil, burung, dan ikan, yang salah satu pemimpin timnya adalah ahli botani LIPI, Elizabeth A Widjaja.
Aneka Biota Langka di Mekongga
Lebih dari 10 biota air tawar langka ditemukan peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di kawasan Pegunungan Mekongga, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Berdasarkan temuan ini, peneliti LIPI menganjurkan agar kawasan Pegunungan Mekongga harus dilindungi.
Studi peneliti LIPI, Reny Kurnia Hadiaty, sementara ini mendata ada 13 biota langka di kawasan sungai Pegunungan Mekongga. Daisy Wowor, peneliti LIPI, mengatakan, sebagian besar biota itu termasuk krustasea. “Untuk dua jenis biota air tawar, udang dan kepiting, kami belum melihat atau menemukan data yang sama dengannya di wilayah ekosistem lain, di luar kawasan Pegunungan Mekongga, sehingga kami masih perlu menelitinya lebih lanjut,” tutur Daisy.
Namun, menurut dia, mereka harus membandingkan dengan jenis spesies lain yang pernah ditemukan di perairan air tawar Pulau Sulawesi meski dugaan sementara terhadap hasil penelitian adalah biota-biota ini merupakan temuan baru.
Reny pun menambahkan, “Kawasan Pegunungan Mekongga ini harus dilindungi karena menyimpan potensi yang sangat berarti bagi kehidupan manusia dan kepentingan ilmu pengetahuan. Ada indikasi perkembangan populasi biota air tawar di kawasan terancam karena ulah masyarakat mengeksploitasi sumber daya alam ini dengan cara tidak ramah lingkungan.”

Hutan Penelitian Juga Terus Dibabat

MUARA TEBO, KOMPAS.com – Hutan penelitian Southeast Asia Regional Centre for Tropical Biology terus dibakar dan dirambah secara liar. Aktivitas itu dilakukan setiap hari, tapi oleh pelaku dinilai sebagai tindakan legal.
Pantauan Kompas di hutan Seameo Biotrop, Desa Pasir Mayang, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Tebo, Jambi, seluas 2.700 hektar, pada 6-7 Mei 2011, pembakaran berlangsung di sejumlah titik dengan luas lebih dari 20 hektar.
Api membubung tinggi dan cepat meluas karena suhu normal pada siang itu—dalam radius 700 meter dari lokasi—mencapai 40 derajat celsius dan angin bertiup kencang.
Pembakaran lahan juga marak terjadi di hutan sekitarnya, seperti hutan produksi eks hak pemanfaatan hutan PT Industries et Forest Asiatiques, hutan tanaman industri PT Lestari Asri Jaya, dan sebagian areal milik masyarakat.
Peneliti lokal di Biotrop, Miswandi, mengatakan, lahan yang dibakar telah diklaim pelaku dengan membayar sejumlah uang kepada oknum desa. Lahan dibeli dari oknum perangkat desa sekitar Rp 2 juta per hektar. Setelah dikapling, lahan dibakar untuk ditanami sawit atau karet.
Kepala Seksi Perlindungan Hutan Dinas Kehutanan Tebo Sumarjo membenarkan maraknya aktivitas pembakaran dan perambahan hutan di Tebo. “Namun, sulit menindak pelaku karena aktivitas itu berlangsung di banyak lokasi,” ujarnya.
Biotrop pada 1990-an merupakan hutan hujan dataran rendah dengan koleksi vegetasi serta satwa sangat lengkap. Hutan primer ini dilengkapi laboratorium penelitian alam untuk analisis vegetasi dan laboratorium kultur jaringan. Pada masa itu, banyak peneliti asing memanfaatkan hutan Biotrop untuk penelitian.
Biotrop rusak sejak penjarahan pada 2003. Tidak sedikit hutan yang gundul karena dicuri kayunya. Laboratorium penelitian yang dibangun sejak 1984 itu kini hanya menyisakan tonggak-tonggak penyangga.
Seameo Biotrop seluas 2.700 hektar merupakan hutan dan laboratorium penelitian yang dibangun PT Industries et Forest Asiatiques selaku pemilik HPH. Penelitian untuk menumbuhkan model dinamika pertumbuhan hutan hujan dataran rendah mengkaji aspek iklim mikro hutan sebagai parameter lingkungan yang memengaruhi kondisi pertumbuhan vegetasi dan hewan, serta mencermati perubahan jangka panjang berupa suksesi atau degradasi hutan. Kini penelitian sulit dilakukan karena hutan hampir habis.
Segera hentikan
Walhi Aceh mendesak skema pengurangan karbon dalam pengelolaan hutan di Aceh dihentikan. Skema ini hanya jadi lahan permainan guna mencari keuntungan pihak yang terlibat di dalamnya. Kasus transaksi saham oleh Carbon Conservation dengan East Asia Minerals Corporation dan hutan Aceh sebagai asetnya adalah salah satu bukti permainan dalam urusan karbon hutan.
“Walhi sejak awal sudah menduga bakal seperti ini. Apa pun bentuk skema pengurangan karbon hutan selalu berujung pada permainan bisnis yang menguntungkan pihak tertentu. Jadi, kami meminta semua skema karbon dihentikan,” ujar Direktur Walhi Aceh Zulfikar. (ITA/HAN

Ilmu Antropologi dalam kehutanan

Isu kehutanan saat ini menjadi perhatian berbagai pihak yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi pula pada aspek lain. Mengingat permasalahan kehutanan dilihat dari aspek ekologi menjadi permasalahan yang sangat kompleks. Sehingga perlu dikaitkan dengan berbagai aspek lain yang memungkinkan menjadi salah satu masukan positif dalam menyelesaikan berbagai permasalahan tesebut.
Ilmu Antopologi yang merupakan  salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa.
Kaitannya dengan permasalahan kehutanan adalah, bagaimana permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat atas dasar karakteristik budaya seringkali bertentangan dengan kepentingan pemerintah dalam pembangunan kehutanan lebih lanjut. Sehingga dalam penyelesaiannya terkadang tumpang tindih dan tidak menghasilkan keputusan yang optimal.
Kerisis ekologi dan lingkungan hidup seringkali terbatas pada permasalahan pemerintah dalam akses pengelolaan suatu kawasan dengan kepentingan masyarakat sebagai suatu kesatuan karakter budaya. Dalam artian bahwa kebijakan dan hukum kehutanan dari pemerintah tidak sepenuhnya berpihak pada masyarakat sekitar hutan yang mana sebagian besar mata pencaharian dan penghidupan masyarakat terbatas pada pemanfaatan hutan tersebut.
Sedangkan dalam hal ini, kita ketahui bahwa pemanfaatan oleh masyarakat sekitar hutan sering dianggap sebagai salah satu faktor ancaman kerusakan bagi suatu kawasan hutan tersebut. Dengan pemahaman disiplin ilmu Antropologi ini maka diharapkan pemerintah dalam penentuan kebijakannya mampu melibatkan aspek kebudayaan masyarakat serta menjadi bahan untuk penyusunan strategi lebih lanjut dalam pengelolaan kehutanan.
 

Mangrove Hambat Perubahan Iklim


BOGOR, KOMPAS.com — Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa mangrove memberi sumbangan sangat potensial untuk mengurangi emisi karbon dibanding hutan hujan tropis. Masalahnya, mangrove terus mengalami kerusakan dengan cepat di sepanjang garis pantai, sejalan dengan persoalan emisi gas rumah kaca.
Para ahli dari Center for International Forestry Research (Cifor) dan USDA Forest Service menekankan perlunya hutan mangrove dilindungi sebagai bagian dari upaya global dalam melawan perubahan iklim.
“Kerusakan mangrove saat ini sudah pada tingkat yang menghawatirkan. Ini harus dihentikan. Penelitan kami menunjukkan bahwa hutan mangrove mempunyai peranan kunci dalam strategi mitigasi perubahan iklim,” kata Daniel Murdiyarso, peneliti senior dari Cifor, Selasa (5/4/2011) malam.
Daniel mengemukakan, pada 15 -20 tahun lalu, luas hutan mangrove Indonesia masih sekitar 8 juta hektar. Saat ini diperkirakan tinggal 2,5 juta hektar.
Cifor mengungkapkan, sebuah studi yang dipublikasikan pada 3 April 2011 dalam Nature GeoScience, para ahli mengukur cadangan karbon dalam hutan mangrove berdasarkan atau luas areal wilayah Indo-Pasifik. Tidak ada studi selama ini yang mengintegrasikan pentingnya mengukur total cadangan karbon mangrove berdasarkan geografi atau luas wilayah hutan mangrove.
Dari hasil-hasil tersebut, para ahli mengestimasi bahwa tingkat pembusukan dan penguraian di hutan mangrove lebih cepat daripada hutan di daratan. Sebagian besar karbon disimpan di bawah hutan mangrove, yang dapat dilihat, yakni antara tanah dan air.  
Mangrove hidup sepanjang pantai dari sebagian besar laut-laut utama di 188 negara. Sebanyak 30 sampai 50 persen berkurangnya mangrove sepanjang setengah abad lalu telah menimbulkan ketakutan. Sebab, bisa jadi mangrove akan punah seluruhnya dalam kurun waktu kurang dari 100 tahun.
Kelanjungan mangrove juga terancam oleh tekanan pertumbuhan kota dan pembangunan industri, sebagaimana ancaman dari pertumbuhan tambak atau fish farm yang tidak terkendali.
“Saat ini belum ada kesadaran akan bahaya kehilangan mangrove bagi kelangsungan kehidupan umat manusia. Sehingga, setiap pemerintah harus ditekan agar menyadari pentingnya dan membuat kebijakan yang dapat melindungi hutan mangrove,” kata Daniel. 

Mangrove Hambat Perubahan Iklim


BOGOR, KOMPAS.com — Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa mangrove memberi sumbangan sangat potensial untuk mengurangi emisi karbon dibanding hutan hujan tropis. Masalahnya, mangrove terus mengalami kerusakan dengan cepat di sepanjang garis pantai, sejalan dengan persoalan emisi gas rumah kaca.
Para ahli dari Center for International Forestry Research (Cifor) dan USDA Forest Service menekankan perlunya hutan mangrove dilindungi sebagai bagian dari upaya global dalam melawan perubahan iklim.
“Kerusakan mangrove saat ini sudah pada tingkat yang menghawatirkan. Ini harus dihentikan. Penelitan kami menunjukkan bahwa hutan mangrove mempunyai peranan kunci dalam strategi mitigasi perubahan iklim,” kata Daniel Murdiyarso, peneliti senior dari Cifor, Selasa (5/4/2011) malam.
Daniel mengemukakan, pada 15 -20 tahun lalu, luas hutan mangrove Indonesia masih sekitar 8 juta hektar. Saat ini diperkirakan tinggal 2,5 juta hektar.
Cifor mengungkapkan, sebuah studi yang dipublikasikan pada 3 April 2011 dalam Nature GeoScience, para ahli mengukur cadangan karbon dalam hutan mangrove berdasarkan atau luas areal wilayah Indo-Pasifik. Tidak ada studi selama ini yang mengintegrasikan pentingnya mengukur total cadangan karbon mangrove berdasarkan geografi atau luas wilayah hutan mangrove.
Dari hasil-hasil tersebut, para ahli mengestimasi bahwa tingkat pembusukan dan penguraian di hutan mangrove lebih cepat daripada hutan di daratan. Sebagian besar karbon disimpan di bawah hutan mangrove, yang dapat dilihat, yakni antara tanah dan air.  
Mangrove hidup sepanjang pantai dari sebagian besar laut-laut utama di 188 negara. Sebanyak 30 sampai 50 persen berkurangnya mangrove sepanjang setengah abad lalu telah menimbulkan ketakutan. Sebab, bisa jadi mangrove akan punah seluruhnya dalam kurun waktu kurang dari 100 tahun.
Kelanjungan mangrove juga terancam oleh tekanan pertumbuhan kota dan pembangunan industri, sebagaimana ancaman dari pertumbuhan tambak atau fish farm yang tidak terkendali.
“Saat ini belum ada kesadaran akan bahaya kehilangan mangrove bagi kelangsungan kehidupan umat manusia. Sehingga, setiap pemerintah harus ditekan agar menyadari pentingnya dan membuat kebijakan yang dapat melindungi hutan mangrove,” kata Daniel. 

Hutan Bakau Simpan Lebih Banyak Karbon


JAKARTA, KOMPAS.com – Hutan bakau ternyata menyimpan lebih banyak karbon dibanding kebanyakan hutan hujan tropis. Hal tersebut terungkap dalam hasil penelitian Center for International Forestry Research (CIFOR) dan USDA Forest Service.
Penemuan ini menggarisbawahi pentingnya pelestarian hutan bakau sebagai langkah mengatasi perubahan iklim. Selama ini, hutan bakau di kawasan pesisir selama ini dirusak dalam kecepatan signifikan, berkontribusi pada emisi gas rumah kaca.
Daniel Murdiyarso, ilmuwan senior CIFOR mengatakan, “Hutan bakau dihancurkan sangat cepat. Ini perlu dihentikan. Penelitian kami menunjukkan bahwa hutan bakau memainkan peranan penting dalam mitigasi melawan perubahan iklim.”
Dalam studi yang dipublikasikan di Nature GeoSceince 3 April lalu itu, ilmuwan menghitung jumlah simpanan karbon di hutan bakau di sepanjang wilayah Indo-Pacific. Sejauh ini, belum ada studi serupa yang mengcover wilayah yang luas.
Dari hasil riset, terlihat bahwa perusakan dan degradasi hutan mangrove bisa menghasilkan setidaknya 10 persen dari emisi perusakan hutan global meskipun hanya terhitung 0,7 persen dari area hutan hujan tropis.
Kebanyakan karbon disimpan di dasar hutan mangrove dan bisa terlihat di permukaan tanah dan air. Mangrove sendiri diketahui terdapat di pantai tepi samudera, tersebar  di 118 negara.
Perusakan hutan dan alih fungsi lahan berkontribusi sebanyak 8-20 persen dari total emisi karbon, kedua setelah penggunaan bahan bakar fosil. Inisiatif international REDD+ dipertimbangkan sebagai cara paling efektif menahan laju perubahan iklim.


Meranti Terancam Punah

Dikutip dari Kompas.com pada Senin, 27 September 2010 | 18:43 WIB

Populasi tumbuhan kayu meranti mendekati kepunahan. Meranti yang merupakan spesies dari famili Dipterocarpaceae masuk dalam penetapan spesies prioritas konservasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI.
Peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr Tukirin Partomiharjo, Senin (27/9/2010), mengatakan, meranti bersama tumbuhan lain dalam famili Dipterocarpaceae seperti kayu kapur, kruing, dan bengkirai menjadi spesies yang paling banyak dimanfaatkan manusia. Namun, pengeksplorasian besar-besaran terhadap tumbuhan ini membuat populasinya terus berkurang.
Tukirin mengungkapkan, kayu-kayu jenis di atas banyak ditanam di dataran rendah. Tumbuhan di kawasan ini rawan kepunahan karena tak ada payung hukum yang melindunginya. Oleh karena itu, LIPI menempatkannya sebagai salah satu prioritas konservasi pada tahun ini.
“Jenis tanaman di dataran rendah memang menghadapi tingkat kepunahan yang sangat tinggi karena tidak ada payung hukum yang melindungi sehingga bisa digunakan untuk macam-macam,” kata Tukirin di Gedung Konservasi LIPI, Kebun Raya Bogor, Jawa Barat.
Meski masuk dalam prioritas dilindungi, ia mengatakan, tak perlu ada kekhawatiran jika jenis tumbuhan ini tak bisa lagi dimanfaatkan. Pelabelan prioritas konservasi merupakan upaya sosialisasi bahwa tumbuhan target terancam kehilangan populasi. “Kalau sudah begini, maka harus ada upaya perlindungan dan pengawetan sehingga kita tidak kehilangan populasinya,” ujar Tukirin.

Mengenal Meranti merah

Meranti merah adalah nama sejenis kayu pertukangan yang populer dalam perdagangan. Berbagai jenis kayu meranti dihasilkan oleh marga Shorea dari suku Dipterocarpaceae. Sekitar 70 spesies dari marga ini menghasilkan kayu meranti merah.

Meranti merah tergolong kayu keras berbobot ringan sampai berat-sedang. Berat jenisnya berkisar antara 0,3 – 0,86 pada kandungan air 15%. Kayu terasnya berwarna merah muda pucat, merah muda kecoklatan, hingga merah tua atau bahkan merah tua kecoklatan. Berdasarkan BJnya, kayu ini dibedakan lebih lanjut atas meranti merah muda yang lebih ringan dan meranti merah tua yang lebih berat. Namun terdapat tumpang tindih di antara kedua kelompok ini, sementara jenis-jenis Shorea tertentu kadang-kadang menghasilkan kedua macam kayu itu.
Menurut kekuatannya, jenis-jenis meranti merah dapat digolongkan dalam kelas kuat II-IV; sedangkan keawetannya tergolong dalam kelas III-IV. Kayu ini tidak begitu tahan terhadap pengaruh cuaca, sehingga tidak dianjurkan untuk penggunaan di luar ruangan dan yang bersentuhan dengan tanah. Namun kayu meranti merah cukup mudah diawetkan dengan menggunakan campuran minyak diesel dengan kreosot.
Meranti merah merupakan salah satu kayu komersial terpenting di Asia Tenggara. Kayu ini juga yang paling umum dipakai untuk pelbagai keperluan di kawasan Malesia.
Kayu ini lazim dipakai sebagai kayu konstruksi, panil kayu untuk dinding, loteng, sekat ruangan, bahan mebel dan perabot rumahtangga, mainan, peti mati dan lain-lain. Kayu meranti merah-tua yang lebih berat biasa digunakan untuk konstruksi sedang sampai berat, balok, kasau, kusen pintu-pintu dan jendela, papan lantai, geladak jembatan, serta untuk membuat perahu.
Meranti merah baik pula untuk membuat kayu olahan seperti papan partikel, harbor, dan venir untuk kayu lapis. Selain itu, kayu ini cocok untuk dijadikan bubur kayu, bahan pembuatan kertas.
Di samping menghasilkan kayu, hampir semua meranti merah menghasilkan damar, yakni sejenis resin yang keluar dari batang atau pepagan yang dilukai. Damar keluar dalam bentuk cairan kental berwarna kelabu, yang pada akhirnya akan mengeras dalam warna kekuningan, kemerahan atau kecoklatan, atau lebih gelap lagi.
Beberapa jenis meranti merah menghasilkan buah yang mengandung lemak serupa kacang, yang dikenal sebagai tengkawang. Pada musim-musim tertentu setiap beberapa tahun sekali, buah-buah tengkawang ini dihasilkan dalam jumlah yang berlimpah-ruah; musim mana dikenal sebagai musim raya buah-buahan di hutan hujan tropika. Di musim raya seperti itu, masyarakat Dayak di pedalaman Pulau Kalimantan sibuk memanen tengkawang yang berharga tinggi.

Meranti Endangered
Meranti wood plant populations approaching extinction. Meranti is a species of the family Dipterocarpaceae species included in the determination of conservation priorities Indonesian Institute of Sciences or LIPI. Researchers from the Research Center for Biology LIPI, Dr Tukirin Partomiharjo on Monday (9/27/2010), said the timber with other plants in the family Dipterocarpaceae such as wood, lime, kruing, and bengkirai become the most widely used species of human. However, exploring the massive of these plants to make the population continues to decrease.
Tukirin revealed, the timber species over many planted in the lowlands. Plants in this region prone to extinction because there is no legal umbrella to protect him. Therefore, LIPI placing it as one conservation priority this year.
“The type of plants in the lowlands is facing a very high level of extinction because there are no laws protecting umbrella so that it can be used for all kinds,” said Tukirin in Building Conservation LIPI, Bogor Botanic Garden, West Java.
Although included in the priority protected, he said, there need not worry if this species could no longer be utilized. Labeling is a conservation priority dissemination efforts that target plants at risk of losing population. If you have this, then there must be protection and preservation efforts so that we do not lose population,” said Tukirin.
Know the Red Meranti
Red meranti is the name of a popular type of construction timber in the trade. Various types of meranti wood produced by the clan of the tribe Dipterocarpaceae Shorea. About 70 species of this genus produce red meranti. Red meranti hardwood relatively lightweight to heavy-medium. Density ranged from 0.3 to 0.86 at 15% moisture content. Wood porch pale pink, brownish pink, dark red to dark red or even brown. Based BJnya, wood is distinguished further on meranti a lighter pink and dark red meranti more severe. But there is overlap between these two groups, while certain types of Shorea sometimes produce two kinds of wood.
According to its strength, red meranti species can be classified in a strong class II-IV, while the durability is categorized in class III-IV. Wood is not very resistant to weather influences, so it is not recommended for use outdoors and in contact with soil. However, red meranti wood is easy enough preserved by using a mixture of diesel oil with creosote.
Red Meranti is one of the most important commercial timber in Southeast Asia. Wood is also the most commonly used for various purposes in the area of Malesia.
Wood is commonly used as construction timber, wood panels for walls, attic, insulation of the room, materials and furnishings household furniture, toys, caskets and others. Red meranti heavier-old is used for moderate to heavy construction, beams, rafters, door frames, doors and windows, floor boards, bridge decks, as well as to make a boat.
Red meranti good also to make processed wood such as particle board, harbor, and veneer for plywood. In addition, the timber is suitable to be used as wood pulp, paper-making materials.
In addition to producing timber, almost all red meranti produce resin, which is a resin that comes out of the trunk or pepagan of the injured. Damar out in the form of gray-colored viscous liquid, which in turn will harden in the color yellow, reddish or brown, or darker.
Some types of red meranti produce fruits that contain similar fat bean, known as tengkawang. In certain seasons every few years, the fruits of this tengkawang produced in abundant quantities, which is known as the winter season feast of fruits in tropical rainforests. In the season of such highway, the Dayak community in the interior of the island of Borneo busy harvesting valuable tengkawang high.

LUTUNG JAWA YANG HAMPIR PUNAH

Lutung Jawa terancam punah karena sekitar 90 persen habitat asli kera di Jawa Timur telah habis. “Perambahan hutan di Jawa Timur mengakibatkan kepunahan lokal di bebagai daerah,” kata Direktur Profauna Internasional Rosek Nursahid di Malang, Jawa Timur.  Sekitar 10 tahun lalu, ia menjelaskan, di kawasan Cangar, Kabupaten Malang, ada tujuh kelompok Lutung tapi kini tinggal satu kelompok. Bahkan di kawasan gunung Vanderman tak ada Lutung yang hidup padahal dulu banyak sekali kera berbulu hitam itu di sana. Di Jember dan Banyuwangi, Lutung Jawa diburu lalu dagingnya dijual ke Bali. Jika tak ada perlindungan dari pemerintah, habitat Lutung akan benar-benar punah. Rosek mendesak pemerintah melakukan langkah-langkah strategis untuk mencegah kepunahan satwa asli Jawa tadi. Kini masih tersisa delapan titik habitat asli Lutung Jawa yakni di gunung Semeru sisi Barat, Coban Kelurahan Paranglejo Kecamatan Dau, Hutan Cangar  bagian bawah, Cemoro Kandang Gunung Kawi, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Alas Purwo, Taman Nasional Baluran, dan Taman Nasional Meru Betiri. (Sumber: zimbio.com)

Sekitar 80 ekor lutung jawa (Trachypithecus auratus) ditemukan di Hutan Cangar yang masuk dalam kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R Soerjo Kota Batu, Jawa Timur. Lutung jawa yang dilindungi undang-undang dan ditemukan di kawasan Hutan cangar itu terbagi menjadi 11 kelompok. Keberadaan lutung jawa tersebut harus dilestarikan, apalagi lutung jawa tersebut juga bisa menjadi objek menarik bagi wisata alam,” tegasnya. Penelitian yang dilakukan ProFauna bersama Balai Tahura R Soerjo itu meliputi jalur ke Gunung Anjasmoro, Coban Watu Ondo, Coban Teyeng, air panas Cangar, kebun Brawijaya, dan hutan sekitar Goa Jepang. Penemuan adanya habitat lutung jawa itu semakin menegaskan bahwa Tahura R Soerjo menjadi sangat penting sebagai habitat satwa liar khususnya lutung jawa. Jumlah individu lutung jawa paling banyak ditemukan di hutan sekitar Coban Watu Ondo dan Coban Teyeng, sedangkan di jalur ke Gunung Anjasmoro tidak ditemukan sama sekali.
Penelitian tersebut juga menunjukan bahwa pohon jenis kukrup (Engelhardia spicata) mendominasi habitat lutung, yakni sekita 60-70 persen. Sedangkan jenis pohon lain yang teridentifikasi antara lain anggrung (Trema orientalis), santenan (Euodia latifolia), rasamala (Altingia excels), gondang (Ficus variegata) serta elo (Ficus racemosa). Keberadaan lutung jawa di Cangar tersebut menjadi indikator bahwa hutan hujan tropis di Cangar masih bagus, karena lutung jawa sangat menyukai hutan heterogen yang masih bagus. (Sumber: republika.co.id)
SEKILAS MENGENAI LUTUNG JAWA
Nama Lain Lutung jawa adalah Langur, Budeng, Petu, Hirengan. (Langur dalam bahasa Hindi berarti ‘ekor panjang’)
Penampilan lutung
Lutung memiliki warna rambut hitam diselingi warna keperakan. Di kepalanya terdapat helaian rambut yang menjuantai kedepan membentuk jambul. Panjang tubuh Lutung (dari kepala hingga tungging) sekitar 50 cm, panjang ekor sekitar 70 cm atau dapat mencapai dua kali panjang tubuh. Berat Lutung rata-rata 6 kg.
Hidup berkelompok sangatlah bermanfaat bagi lutung yang lambat menjadi dewasa. Kelompok itu menjadi tempat penyimpanan pengalamannya yang kemudian diteruskan kepada generasi baru. Maka bayi yang baru lahir dari suatu kelompok sangatlah beruntung. Selama masa mudanya yang panjang monyet tadi tidak hanya mendapatkan perlindungan dari anggota kelompok yang lain tetapi memperoleh waktu untuk belajar dari anggota lain, dan apa yang telah dipelajarinya dilatih lagi dengan permainan.
Makanan lutung
Menurut beberapa penelitian, lutung memakan lebih dari 66 jenis tumbuhan yang berbeda. Sebagian besar makanan lutung adalah daun, sebagian kecil adalah buah dan bunga. Terkadang memakan serangga dan bagian lain dari tumbuhan seperti kulit kayu. Beberapa jenis tumbuhan yang disukai lutung antara lain kaliandra, sapen, dadap cangkring dan anggrung.
Perilaku
Lutung hidup berkelompok dengan dengan jumlah teman antara 6-23 ekor. Dalam setiap kelompok terdapat jantan sebagai pimpinan kelompok, dan beberapa betina serta anak-anak yang masih dalam asuhan induknya. Lutung merupakan hewan yang aktif di siang hari. Jantan dominan mendominasi anggota kelompok dalam hal perlindungan, pengamanan dalam pergerakan, dan merawat. Jantan selalu menjaga anggota kelompoknya dari berbagai gangguan yang berasal dari luar atau dari kelompok lain. Umumnya jantan mengeluarkan suara dan melakukan gertakan dengan suara dan perubahan mimik yang menunjukkan marah.
Tempat Tinggal
Lutung hidup di hutan dengan berbagai macam variasi mulai dari hutan bakau di pesisir, hutan dataran rendah hingga hutan dataran tinggi. Terkadang lutung juga mendiami daerah perkebunan. Sebagian besar waktunya dihabiskan di atas pohon. Terkadang lutung juga turun ke tanah untuk mencari serangga tetapi hal ini sangat jarang terjadi. Daerah jelajah Lutung minimal 15 Ha atau setara dengan 350 kali luas lapangan basket. Area bermain dan mencari makan Lutung dapat mencapai 1.300 meter atau setara dengan tiga kali lapangan basket.
Dimana Dapat Melihatnya
Lutung ini relatif lebih mudah ditemukan di beberapa hutan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Lombok. Umumnya mereka masih aman hidup di dalam kawasan pelestarian seperti Taman Nasional Baluran, Meru Betiri, Alas Purwo, Bali Barat dan Rinjani.
Apa Yang Membahayakan Lutung
Hewan yang mengancam lutung bila di tanah adalah ular dan bila di pohon adalah elang, namun ancaman terbesar bagi kehidupan lutung adalah manusia. Lutung termasuk hewan yang dilindungi baik secara nasional maupun internasional, sehingga perdagangannya dalam segala bentuk adalah dilarang karena melanggar hukum.
ENDANGERED JAVAN LANGURS
Java monkey endangered because about 90 percent of the original ape habitat in East Java have been exhausted. “Encroachment of forest in East Java caused the local extinction in many-region,” said Director of International ProFauna Rosek Nursahid in Malang, East Java. About 10 years ago, he explained, in the region Cangar, Malang regency, there are seven groups of monkey but is now only one group. Even in the mountain region Vanderman no monkey who used to live when so many black hairy ape in there. In Jember and Banyuwangi, Java monkey being hunted and their meat sold to Bali. If there is no protection from the government, monkey habitat will be completely extinct. Rosek urged the government to make strategic moves to prevent the extinction of native species of Java earlier. Now the remaining eight points namely Java monkey native habitat in the western side of Mount Semeru, Coban Paranglejo Kelurahan Kecamatan Dau, Forest Cangar bottom, Cemoro Cage Mount Kawi, Bromo Tengger Semeru National Park, National Park Alas Purwo, Baluran National Parks and National Parks Meru Betiri. (Source: zimbio.com)
About 80 Javan langurs (Trachypithecus auratus) are found in the Forest Cangar included in the Forest Park area (Tahura) R Soerjo Batu, East Java. Javan langurs are protected by law and are found in the region cangar Forest is divided into 11 groups. The existence of Javan langurs are to be preserved, let alone Javan langurs could also be the object of interest to nature tourism, “he said. Research conducted with Hall Tahura ProFauna R Soerjo it includes the path to Mount Pearl, Ondo Watu Coban, Coban Teyeng, Cangar hot water, UB gardens, and forests around Goa Japan. The discovery of the Javan langur habitat was increasingly asserted that Tahura R Soerjo become very important as a habitat for wildlife, especially monkeys of Java. Number of individuals of Javan langurs most commonly found in the woods around Watu Ondo and Coban Coban Teyeng, whereas on the path to Mount Pearl was not found at all.
Research also shows that tree species kukrup (Engelhardia spicata) dominate langur habitat, ie About a 60-70 percent. While other tree species were identified, among others anggrung (Trema orientalis), santenan (Euodia latifolia), Rasamala (Altingia excels), gondang (Ficus variegata) and elo (Ficus racemosa). The existence of Javan langurs in Cangar has become an indicator that the tropical rain forest in Cangar still good, because really liked Javan langurs heterogeneous forest is still good. (Source: republika.co.id)


OVERVIEW OF THE JAVA LANGUR
Other Names Java is Langur monkey, monkey, Petu, Hirengan. (Langur in Hindi means ‘long tail’)
Appearances langur
Monkey has black hair color interspersed silvery color. On their heads is of hair strands to form the next menjuantai topknot. Monkey body length (from head to upside-down) about 50 cm, tail about 70 cm long or can reach twice the length of the body. Serious monkey average 6 kg.
Living in groups is very beneficial to a slow ebony mature. The group is a place where experiences are then forwarded to the new generation. And the newborn baby from a group of very lucky. During his youth long monkey was not only getting protection from the other group members but get the time to learn from other members, and what he had learned were trained again with the game.
Food langur According to some studies, monkey eats more than 66 different plant species. Most of the food langur is a leaf, a small portion of fruit and flowers. Sometimes eat insects and other parts of the plant like bark. Some plant species are preferred among others Caliandra langur, sapen, dadap cangkring and anggrung.
Behavior
Monkeys live in groups with the number of friends between 6-23 tail. In every group there are male as head of the group, and several females and children who are still in the care of its mother. Monkey is the animal that is active in the daytime. Dominant male dominated group members in terms of protection, safety in movement, and caring. Males always keep his group members from a variety of disorders originating from outside or from other groups. Generally male snapping sound and voice and expression changes that indicate anger.
Residence
Monkeys live in forests with a variety of variations ranging from coastal mangroves, lowland forests to upland forest. Sometimes the monkeys also inhabit the plantation. Most of the time spent in the trees. Sometimes the monkeys also fell to the ground to find insects but this is very rare. Monkey home range of at least 15 hectares, equivalent to 350 times the size of a basketball court. Play areas and foraging monkey can reach 1,300 meters, equivalent to three times the basketball court.

Where Can See it This monkey is relatively more easily found in some forests in Central Java, East Java, Bali and Lombok. Generally they are still safe to live in conservation areas such as Baluran National Park, Meru Betiri, Alas Purwo, West Bali and Rinjani.
What monkey-Threatening Animals are threatened monkey when the ground is a snake and when the tree is an eagle, but the biggest threat to human life is ebony. Langur including animals that are protected both nationally and internationally, so that trade in any form is prohibited because it violates the law.

PERENCANAAN HUTAN

Kali ini saya posting sebuah literatur yang saya dapatkan dari sebuah dokumen PDF, tentunya mengenai apa pengertian perencanaan hutan dan bagaimana perencanaan hutan tersebut dilaksanakan. Pada awalnya saya merasa kesulitan mencari informasi dan mengumpulkan informasi tersebut. Setelah saya menyelesaikan laporan PKL (Praktek Kerja Lapangan) di Perum Perhutani KPH Kuningan Unit III Jabar tanpa tidak sengaja saya mendapatkan literatur tersebut.
Saya merasa perlu untuk memposting Literatur ini karena masih banyak dokumen dan literatur yang tidak bisa di sajikan secara Online.

Literatur ini di tulis oleh Rahmawaty, S.Hut, M.Si
Semoga ermanfaat……

Perencaanaan
1 Pengertian Perencanaan Hutan
Perencanaan hutan adalah suatu upaya dalam bentuk rencana, dasar acuan dan pegangan bagi pelaksanaan berbagai kegiatan dalam rangka mencapai tujuan pengusahaan hutan yang bertolak dari kenyataan saat ini dan memperhitungkan pengaruh masalah dan kendala yang memungkinkan terjadi selama proses mencapai tujuan tersebut (Soeranggadjiwa, 1991).
Zaitunah ( 2004) mengemukakan bahwa perencanaan merupakan tahapan penting dalam mewujudkan tujuan dari pengelolaan hutan lestari. Perencanaan yang baik menjadikan pengelolaan hutan terarah dan terkendali, baik dalam awal pengelolaan hutan maupun kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan.
Perencanaan hutan tersebut dimaksudkan untuk memberikan landasan dan pengarahan yang rasional bagi kegiatan-kegiatan pelaksanaan selanjutnya. Oleh sebab itu dalam pencapaian tujuan prinsip kelestarian, maka segala kegiatan di bidang pengusahaan hutan harus dilaksanakan dengan prinsip kelestarian (Rahmawaty, 1997). Departemen Kehutanan RI (1999) lebih lanjut menguraikan bahwa perencanaan hutan dimaksudkan untuk memberikan landasan kerja dan landasan hukum dalam pemanfaatan hutan sehingga menjamin diperolehnya manfaat yang sebesar-besarnya dari hutan yang berfungsi serbaguna dan didayagunakan secara lestari. Samsuri (2003) mengemukakan bahwa perencanaan hutan merupakan proses menyusun arahan dan pedoman dalam kegiatan pengelolaan hutan dengan tujuan agar :
1. Pengelolaan hutan dapat terarah dan terkendali sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai.
2. Dapat dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pengelolaan hutan.
1 Komponen-Komponen Perencanaan Hutan
a. Inventarisasi Hutan
Inventarisasi hutan adalah kegiatan dalam sistem pengelolaan hutan untuk mengetahui kekayaan yang terkandung di dalam suatu hutan pada saat tertentu (Simon, 1996). Istilah inventarisasi hutan ini biasa juga disebut perisalahan hutan/timber cruising/cruising/timber estimation. Secara umum inventarisasi hutan didefinisikan sebagai pengumpulan dan poenyusunan data dan fakta mengenai sumberdaya hutan untuk perencanaan pengelolaan sumberdaya tersebut bagi kesejhteraan masyarakat secara lestari dan serbaguna (Departemen Kehutanan dan Perkebunanan, 1999).
Berdasarkan tujuan penggunaan serta kedalaman dan cakupan data yang akan digunakan inventariosasi hutan dibagi menjadi empat tinhgkatan, aitu:
1. Inventarisasi hutan nasional (IHN)
2. Inventarisasi hutan untuk rencana pengelolaan (IHRP)
3. Inventraisasdi hutan untuk rencana operasional (IHRO)
4. Inventarisasai hasil huan non-kayu (IHHNK)
Tujuan inventarisasi hutan adalah:
1. Mendapatkan data untuk diolah menjadi informasi yang dipergunakan sebagai bahan perencanaan dan perumusan kebijaksanaan strategis jangka panjang, jangla menengah dan operasional jangka pendek sesuai dengan tingkatan dan kedalaman inventarisasi yang dilaksanakan.
2. Pemantauan atas perubahan kuantitatif sumberdaya hutan, baik yang bersifat pertumbuhan maupun pengurangan karena terjadinya gangguan alami maupoun gangguan manusia.
Inventarisasi hutan untuk rencana pengelolaan (IHRP) adalah kegiatan inventarisasi pada tingkat unit atau sub-unit pengelolaan hutan seperti bagian hutan, hak pengusahaan hutan (HPH), hak pengusahaan hutan tanaman industri (HPHTI), areal rencana karya lima tahunan (RKL) dan lainnya. Kegiatan IHRP meliputi kegiatan persiapan dan pelaksanaan, serta persiapan rencana kerja dan peta kerja Persiapan pelaksanaan IHRP meliputi penyiapan peta dasar (peta interpretasi sitra satelit bumi, peta tematik, peta tanah dan peta iklim), rescoring dan evaluasi areal, persiapan alat dan bahan (GPS, kompas, hagameter, clinometer, pita ukur, hypsometer, christenmeter, tabel konversi jarak lapang ke jarak datar, alat pembuat herbarium, alat tulis, alat hitung, kanera, alat camping dan obat-obatan), persiapan tenaga regu kerja, stratifikasi dan bagan penarikan contoh.
Pelaksanaan IHRP di lapangan dimulai dengan pencarian titik awal, pembuatan unit contoh/jalur, pengumpulan data pohon maupun data penunjang, pengolahan data serta pembuatan laporan. Kegiatan pencarian titik awal terdiri dari pembuatan unit contoh, pengumpulan data pohon, pencacahan jenis pohon, pengukuran diameter pohon, pengukuran tinggi pohon dan pencacahan/ pengukuran permudaan.
Kegiatan pengumpulan data penunjang terdiri dari data luas dan letak, topografi, bentang alam spesifik, geologi dan tanah, iklim, fungsi hutan, tipe hutan, flora dan fauna yang dilindungi, pengusahaan hutan serta penduduk, kelembagaan dan sarana-prasarana. Kegiatan pengolahan data terdiri dari penyususnan daftar nama jenis pohon dan dominasi, perhitungan masa tegakan, perhitungan luas bidang dasar pohon dan perhitungan volume pohon. Laporan yang dibuat dalam pelaksanaan IHRP adalah lapaoran hasil evaluasi dan laporan hasil inventarisasi. Inventarisasi hasil hutan non-kayu (IHHNK) dilakukan untuk mengumpulkan data potensi dan penyebaran hasil-hasil hutan non kayu yang pada saat ini mempunyai nilai ekonomi tinggi, seperti rotan, bambu, sagu dan nipah. IHHNK dikakukan pada areal yang berisi hasil-hasil hutan tersebut baik secara murni maupun bagian dari ekosistem hutan.
Beberapa jenis hasil hutan non-kayu yang biasa diinventarisasi adalah rotan dan bambu. Metode inventarisasai rotan terdiri dari stratifikasi, pola inventarisasi, persiapan, pelaksanaan di lapangan dan pengolahan data. Pola inventarisasi terdiri dari pengenalan jenis rotan dan pengumpulan data mengenai jenis rotan, potensi per jenis, potensi seluruh jenis dan potensi permudaan.
Kegiatan persiapan terdiri dari persiapan peta 9peta topografi, peta tata guna hutan kesepakatan dan peta vegetasi), persiapan bahan dan alat (alat tulis, kompas, tali ukur, golk, alat ukur lereng, alat ukur berat, alat ukur diameter, tally sheet, obat-obatan dan personal use), dan persiapan bagan sampling. Pelaksanaan di lapangan terdiri dari penentuan titik awal, pembuatan jalur ukur, pengumpulan rotan contoh, pengukuran dan pencatatan data. Pengolahan data terdiri dari identifikasi jenis rotan, penaksiran panjang dan berat basah rotan, penaksiran panjang rotan dan penaksiran potensi rotan tiap hektar.
Metode inventarisasi bambu terdiri dari pola inventarisasi bambu, persiapan, pengumpulan data dan pengolahan data. Dalam inventarisasi bambu, data yang dikumpulkan adalah data primer dan skunder. Data primer seperti pengambilan jenis contoh bambu untuk mengetahui jenis, jumlah rumpun, jumlah batang dalam rumpun dan permudan. Data skunder antara lain seperti kedaan hutan (massa tegakan bambu, jenis, penyebaran, tringkat permudaan, jenis flora dan fauna), keadaan fisik (luas dan letak hutan, hidrologi, bentang alam spesifik, geologi dan tanah serta iklim) dan data penduduk dan perhubungan (jumlah dan kepadatan penduduk, mata pencaharian, kesehatan, interaksi penduduk dengan hutan abambu dan sarana prasarana perhubungan darat, laut dan udara).
Kegiatan persiapan terdiri dari persiapan peta (peta pencadangan area, peta topografi, peta dasar sesuai SK Menhut No 3 tahun 1989, peta penafsiran potret udara, peta tanah dan geologi, peta ilkim dan peta kerja), persiapan bahan dan alat (plainimeter, timbangan, tally sheet, kuisioner, alat tulis, perlengkapan kemah dan personal use) dan pembuatan bagan pengambilan contoh. Kegiatan pengambilan data terdiri dari penentuan titik awal, pembuatan jalur ukur, perhitungan rumpun bambu dan potensi biomassa. Kegiatan pengolahan data terdiri dari perhitungan masa tegakan, perhitungan tegakan bambu pada areal dengan keragaman rendah, perhitungan tegakan bambu pada areal dengan keragaman tinggi dan analisis permudaan.
b. Pengukuhan Hutan
Dalam rangka perencanaan hutan, pemerintah menyusun rencana umum yang memuat peruntukan, penyediaan, pengadaan dan penggunaan hutan di seluruh Indonesia. Berdasarkan rencana umum tersebut disusun rencana pengukuhan hutan dan rencana penatagunaann hutan. Pengukuhan hutan adalah kegiatan yang berhubungan dengan penataan batas suatu wilayah yang telah ditunjuk sebagai wilayah hutan, guna memperolah kepastian hukum mengenai status dan batas kawasan hutan. Penatagunaan hutan adalah kegiatan perencanaan tata guna hutan, pemanfaatan hutan dan pengendalian pemanfaatan hutan sesuai dengan fungsinya kawasan hutan suaka alam (cagar alam dan suaka margasatwa), kawasan hutan pelstarian alam (taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam), kawasan hutan taman buru, kawasan hutan lindung, kawasan hutan produksi (hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap dan hutan produksi yang dapat dikonversi). Perencanaan hutan dimaksudkan untuk memberikan landasan kerja dan hukum guna terwujudnya ketertiban dan kepastian hukum dalam pemanfaatan hutan sehingga menjamin diperolehnya manfaat yang sebesar-besarnya dari hutan yang berfungsi serbaguna dan didayagunakan secra lestari.
Pengukuhan hutan bertujuan untuk terwujudnya kepastian hukum mengenai status, batas dan luas wilayah hutan. Penatagunaan hutan bertujuan:
1. Terselenggaranya perencanaan, pemanfaatan, pengendalian pemanfaatan hutan sesuai fungsinya secara serbaguna dan berkelanjutan bagi berbagai kegiatan pembangunan yang diselenggarakan baik oleh pemerintah maupun masyarakat sesuai rencana tata guna hutan yang telah ditetapkan.
2. Terselenggaranya pemanfaatan hutan yang berwawasan lingkungan di kawasan lindung dan kawasan budidaya.
3. Terwujudnya tertib pemanfaatan hutan yang meliputi peruntukan, penyediaan, pengadaan, penggunaan dan pemeliharaan hutan.
4. Terwujudnya kepastian hukum untuk menggunakan hutan bagi masyarakat yang mempunyai hubungan hukum dengan hutan.
c. Penataan Hutan
Penataan hutan adalah kegiatan penataan ruang hutan sebagaimana dipersyaratkan oleh prinsip pengelolaan hutan lestari didasarkan atas identifikasi areal dan kualitas lahan dari suatu areal kerja pengusahaan hutan agar terselenggara kegiatan pengelolaan hutan yang lestari, efisien dan berwawasan lingkungan. Berdasarkan kegiatan penataan hutan dapat disusun rencana karya yang meliputi penanaman hutan, pemeliharaan hutan, pemungutan hasil hutan dan pemasaran hasil hutan.
Tujuan penataan hutan adalah untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang potensi dan keadaan hutan serta menentukan cara pengaturan pemanfaatan dan pembinaannya untuk menjamin azas kelestarian dan hasil optimum. Penataan hutan dilaksanakan oleh pengelola kesatuan pengusahaan hutan produksi (KPHP), dengan dapat menggunakan jasa konsultan dan disahkan oleh Departemen Kehutanan. Kegiatan penataan hutan terdiri dari invetarisasi hutan, penataan batas, pembagian hutan, pengukuran dan pemetaan, serta kompartemenisasi.
Hasil dari pemetaan hutan adalah dibuatanya rencana karya pengusahaan, yaitu suatu dokumen yangg memuat rencana pengelolaan areal hutan secara lengkap yang meliputi rencana jangka panjang, jangka mengenah, dan jangka pendek (tahunan). Menurut Peraturan Pemerintahno. 21 tahun 1970 bab II pasal 3 ayat 3, pemegang pengusahaan hutan (HPH) wajib membuat rencana karya yang terdiri dari:
1. Rencana karya pengusahaan hutan (RKPH)
2. Rencana karya pengusahaan hutan tanaman industri (RKP-HTI)
3. Rencana karya lima tahun pengusahaan hutan (RKT-PH)
4. Rencana karya tahunan pengusahaan hutan (RKT-PH)
d. Pemetaan Hutan
Peta adalah gambaran dari permukaan bumi pada suatu bidang datar yang dibuat secara kartografis menurut proyeksi dan skala tertentu dengan menyajikan unsur-unsur alam dan buatan serta informasi lain yang diinginkan. Jenis-jenis peta terdiri dari peta dasar, peta tematik dan peta kehutanan.
Pemetaan adalah proses penggambaran informasi yang ada di permukaan bumi mulai dari pengambilan data secara terestris maupun penginderaan jauh, pengolahan data dengan metode dan acuan tertentu serta penyajian data berupa peta secara manual ataupun digital. Tujuan pemetaan hutan adalah untuk membuta atau mengadakan peta dasar maupun peta tematik sebagai salah satu dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian kegiatan khususnya di bidang kehutanan. Salah satu teknologi untuk mendukung pemetaan adalah Sistem Informasi Geografis (SIG). SIG digunakan untuk membentuk basis data kehutanan yang mantap sebagai bahan pengambilan keputusan kebijakan yang berkaitan dengan areal atau kawasan hutan. Dengan adanya SIG maka data daan informasi kehutanan baik yang bersifat deskriptif maupun numerik/angka akan tertata dengan baik dan terpetakan secara rapi menggunakan teknologi digital, serta mempergunakannya secara akurat dan cepat untuk keperluan analisis.
Prosedur input data secara digital dala SIG adalah:
1. Persiapan, yang meliputi pengecekan peta, pengecekan antar lembar peta, mempersiapkan titik ikat beserta koordinat, pemilahan layer, menyiapkan kodifikasi pada setiap layer, dan penyiapan sistematika penyimpanan coverage.
2. Digitasi, dengan metode streamline atau metode point.
3. Edgematching atau penyambungan sisi peta yang satu dengan sisi peta lainnya.
4. Editing, untuk mengkoreksi poligon dan garis, penyusunan topologi, dan pengecekan label error.
5. Atributing, yaitu memasukkan data non-spasial yang berkaitan dengan kodifikasi penampakan (legenda)
e. Pengaturan Produksi
Inti dari pengaturan produksi adalah penentuan etat. Etat adalah besarnya porsi luas atau massa kayu atau jumlah batang yang boleh dipungut setiap tahun selama jangka pengusahaan yang menjamin kelestarian produksi dan sumber daya.
Prinsip-pronsip yang harud diperhatikan dalam etat penebangan adalah:
1. Etat volume tidak diperkenankan melebihi pertumbuhan tegakan (riap)
2. Pemanfaatan semua jenis kayu komersil secara optimalMenjamin kelestarian produksi dan kelstarian hutan
3. Memperhatikan kebijaksanaan pemerintah di bidang pengusahaan hutan
4. Menjamin fungsi perlindungan hutan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi etat tebangan adalah:
1. Sistem silvikultur yang digunakan
2. Rotasi tebangan yang digunakan
3. Diameter minimum yang diijinkan untuk ditebang
4. Luas areal berhutan yang dapat dilakukan penebangan
5. Massa tegakan
6. Jenis pohon
7. Kriteria pohon inti
8. Kriteria pohon induk
9. Faktor pengaman (fp) dan faktor eksploitasi (fe).


Perhitungan etat dalam sistem silvikultur TPTI untuk HPH baru:
Etat Luas =(Luas areal berhutan–Luas kawasan lindung dlm areal berhutan etat)
Rotasi tebang
Etat Jumlah Batang = Etat luas x Jumlah batang tiap ha x fp x fe
Etat Volume = Etat luas x Volume kayu tiap ha x fp x fe
Perhitungan etat dalam sistem silvikultur TPTI untuk SK HPH Addendum penambahan/pengurangan:
Etat Luas = (Luas VF yang kompak–Luas kawasan lindung dlm VF yang kompak)
Rotasi tebang – Umur perusahaan
Etat Jumlah Batang = Etat luas x Jumlah batang tiap ha x fp x fe
Etat Volume = Etat luas x Volume kayu tiap ha x fp x fe
Keterangan:
fp = faktor pengaman
fe = faktor eksploitasi
VF = virgin forest
Perhitungan etat dalam sistem silvikultur TPTI untuk HPH perpanjangan sama dengan perhitungan etat dalam sistem silvikultur TPTI untuk SK HPH Addendum penambahan/pengurangan. Perhitungan etat dalam sistem silvikultur hutan payau (mangrove) HPH baru sama dengan perhitungan etat dalam sistem silvikultur TPTI untuk HPH baru.
Perhitungan etat dalam sistem silvikultur hutan payau (mangrove) untuk SK HPH Addendum penambahan/pengurangan sama dengan perhitungan etat dalam sistem silvikultur TPTI untuk SK HPH Addendum penambahan/pengurangan. Perhitungan etat dalam sistem silvikultur hutan payau (mangrove) untuk HPH perpanjangan sama dengan perhitungan etat dalam sistem silvikultur TPTI untuk SK HPH Addendum penambahan/pengurangan.


f. Tabel Volume Pohon
Perangkat pendugaan volume pohon (berupa model, rumus/persamaan, maupun tabel) adalah salah satu perangkat penting dalam perencanaan pengelolaan hutan. Salah satu jenis data yang diperlukan dalam pengelolaan hutan adalah dugaan potensi atau massa tegakan. Pengumpulan massa tegakan dilakukan melalui kegiatan inventarisasi yang selalu melibatkan pendugaan volume pohon per pohon. Karena bentuk pohon bervariasi menurut jenis atau kelompok jenis dan dari satu lokasi ke lokasi lain, maka dalam penyusunan perangkat pendugaan volume pohon perlu memperhatikan karakteristik tersebut.
Perangkat pendugaan volume pohon yang bersifat umum untuk berbagai jenis pohon dan lokasi hutan dapat menyebabkan hasil dugaan yang kurang teliti, tidak akurat, dan bias sehingga informasi massa tegakan yang dihasilkan menjadi over estimate atau under estimate.
Tujuan penyusunan tabel volume pohon adalah untuk menyediakan perangkat pendugaan volume pohon berdiri untuk keperluan inventarisasi massa tegakan. Alat dan bahan yang digunakan untuk penyusunan tabel volume pohon antara lain: tally sheet pengukuran pohon contoh, laporan hasil cruising (LHC), cat atau kapur pohon, pohon contoh, chainsaw, kaliper pohon, pita keliling (meetband), haga hypsometer atau christenmeter, meteran, sigmat (kaliper kecil), parang dan kapak, alat tulis, alat hitung, komputer, kompas, peta kerja, obatobatan (PPPK), dan peralatan kemping.
Kegiatan pengambilan data dari lapangan adalah pemilihan pohon contoh dan pengukuran pohon contoh meliputi pengukuran diameter, tinggi pohon total, tinggi batang bebas cabang, diameter proyeksi tajuk, dan tebal kulit pohon.
g. Kriteria dan Indikator Sistem Sertifikasi Pengelolaan Hutan secara Lestari
Pengelolaan hutan produksi lestari merupakan sistem pengelolaan hutan produksi yang menjamin keberlanjutan fungsi produksi, fungsi ekologis/lingkungan, dan fungsi sosial dari hutan. Sistem Sertifikasi Pengelolaan Hutan Lestari telah dikembangkan di Indonesia menggunakan pedoman Badan Standardisasi Nasional (BSN) untuk menjamin pelaksanaan sertifikasi yang efisien, efektif, serta didasarkan atas kriteria dan indikator yang menjamin kesetaraan penilaian unsur-unsurnya. Standar acuan pengelolaan hutan produksi lestari didasarkan pada seri Standar
Nasional Indonesia (SNI) tentang sistem pengelolaan hutan lestari. Pelaksanaan pengelolaan hutan produksi lestari dapat dinilai dari dua aspek dimensi, yaitu:
1. Dimensi hasil, yang terdiri dari kelestarian produksi, kelestarian ekologis/lingkungan, dan kelestarian sosial.
2. Dimensi manajemen (strategi pencapaian hasil), yang terdiri dari manajemen kawasan, manajemen hutan, dan penataan kawasan.