Pembelahan Sel dan Reproduksi Tidak Selalu Identik

Karena setiap sel membutuhkan seperangkat gen yang lengkap, sel purba harus menduplikasi genomnya sebelum membelah. Tiap dua sel baru kemudian menerima satu salinan genom. Karena gen terbuat dari DNA dan berada pada kromosom, ini artinya tiap kromosom harus disalin secara akurat. Ketika sebuah sel bakteri dengan satu kromosom membelah, tiap sel anak menerima satu salinan kromosom induk.
Pembelahan sel eukariotik lebih kompleks, karena tiap sel memiliki banyak kromosom. Tidak hanya semua kromosom harus diduplikasi, namun mekanisme dibutuhkan untuk memastikan setiap sel anak mendapatkan set kromosom yang identik pada saat pembelahan sel. Proses kompleks disebut mitosis.
Ketika sebuah organisme bersel satu membelah, hasilnya adalah dua organisme baru, masing-masing terdiri dari satu sel. Walau begitu, pada organisme multiseluler, pembelahan sel tidak secara otomatis menghasilkan pembentukan organisme baru. Ketika sel-sel menyusun sebuah organisme multiseluler membelah, mereka meningkatkan ukuran dan/atau kerumitan organisme asli. Proses berbeda dibutuhkan untuk menghasilkan organisme baru. Karenanya, pada organisme bersel satu, pembelahan sel dan reproduksi terjadi serentak, sementara pada organisme multiseluler, pembelahan sel dan reproduksi adalah dua proses berbeda.
Pada banyak tanaman dan jamur, setumpuk sel dapat memecah atau spora bersel satu dapat dilepas dari organisme induk dan menghasilkan organisme multiseluler individual baru. Ini disebut reproduksi vegetatif atau aseksual karena individu baru ini secara genetik identik dengan orang tua mereka. Hal ini berbeda dengan reproduksi seksual, dimana tiap individu baru mendapatkan informasi genetik yang kurang lebih sama dari dua orang tua berbeda dan karenanya merupakan rakitan genetika yang baru.
Reproduksi seksual adalah karakteristik khusus hewan dan hanya terjadi pada sebagian besar tanaman tingkat tinggi dan banyak jenis jamur. Sebagian organisme, khususnya tanaman dan jamur memiliki kemampuan reproduksi secara seksual maupun aseksual. Walaupun mereka saling hubung pada manusia dan banyak jenis hewan, penting untuk menyadari kalau seks dan reproduksi adalah dua proses berbeda dari sudut pandang biologi.
Secara khusus, bakteri tidak bereproduksi secara seksual karena bakteri baru selalu merupakan hasil dari pembelahan satu sel induk. Walau begitu, pencampuran gen dari dua individu dapat terjadi pada bakteri. Hal ini terjadi tanpa pembelahan sel dan melibatkan transfer segmen DNA yang relatif pendek dari satu sel (donor) ke sel lain (resipien). Transfer DNA menyamping demikian, antara anggota generasi yang sama disebut transmisi gen horizontal. Bila generasinya berbeda, maka ia disebut transmisi gen vertikal. Transmisi vertikal mencakup semua jenis pembelahan sel dan reproduksi yang membuat salinan baru genom, baik secara seksual ataupun tidak.
Sumber
Clark, D. 2005. Molecular Biology. Elsevier.

BAKTERI METANOGEN PENYEBAB GAS METANA YANG MENGAKIBATKAN PEMANASAN GLOBAL


Selain gas CO2, gas metan merupakan gas yang sangat penting dalam hubungannya sebagai gas rumah kaca (GRK). Gas ini mampu memerangkap panas 21 kali lebih kuat dibandingkan dengan gas CO2 (nilai GWP – The Greenhouse Warming Potential – gas metan adalah 21, CO2 nilai GWPnya 1 sedangkan NO2 nilai GWPnya adalah 310) (Hardy, 2003), akan tetapi masa hidup gas ini di atmosfer cukup pendek yaitu 7,9 tahun dan bila kita bandingkan dengan gas CO2 yang mencapai 50-200 tahun, NO2 adalah 120 tahun, CFC-11 adalah 50 tahun, dan CFC-12 adalah 102 tahun (Lelieveld et al., 1998; Hardy, 2003). (Sumber La an)
Gas metan diproduksi oleh mikrobia dalam keadaan anaerob. Secara alamiah lahan gambut, rawa dan sediment di daerah pantai merupakan sumber utama dari gas metan di atmosfer (Hardy, 2003), akan tetapi manusia juga berperan penting terhadap peningkatan gas metan di atmosfer, terutama sejak jaman pra industri yaitu melalui kegiatan-kegiatan peternakan, pertanian padi sawah, sampah, pembakaran batubara dan penggunaan minyak bumi.
Lebih dari sepertiga emisi metana, sekitar 900 miliar ton setiap tahun, diproduksi oleh bakteri metanogen yang hidup dalam sistem pencernaan hewan ruminansia, seperti sapi, kambing, dan domba. Berdasarkan volumenya, metana 20 persen jauh lebih kuat menangkap energi matahari dibandingkan dengan karbon dioksida. Itu membuat metana sebagai salah satu gas rumah kaca utama.
Bakteri metanogen termasuk salah satu golongan Archaebacteria selain halofilik, dan termofilik, sesuai dengan nama golongannya Archaebacteria merupakan mikroorganisme yang tahan hidup di daerah ektrim seperti perairan dengan kadar garam tinggi (halofil) contoh Halobacterium, serta daerah dengan temperatur tinggi seperti hydrothermal vent (extreme thermofil) contoh Sulfolobus, Pyrodictium. Bakteri metanogen bersifat anaerob obligat, terbagi menjadi tiga group. Group I Methanobacterium dan Methanobrevibacter , Group II meliputi Methanococcus, dan Group III termasuk genera Methanospirillum dan Methanosarcina . Semuanya ada di lingkungan air tawar yang anaerob seperti sedimen serta pada saluran pencernaan hewan. (Dubey, 2005).
Jika ditinjau dari struktur selnya, Archaebacteria memiliki kemiripan dengan struktur sel eubakteria yaitu sel dengan tipe prokariot, struktur membran sel lipid bilayer namun bedanya pada Archaea menggunakan gugus eter yang berikatan pada lipid berbeda dengan membran sel eubakteria yang menggunakan gugus ester untuk berikatan dengan lipid. Ikatan antara gugus eter dan lipid ini membentuk membran bilayer dari gliserol-dieter, membran monolayer dari digliserol-tetraeter.
Dinding sel berfungsi untuk melindungi sitoplasma dari perubahan tekanan osmotik dan memberi bentuk sel sehingga ada yang berbentuk kokus atau batang. Struktur dinding sel Gram positif dan Gram negatif tidak memiliki peptidoglikan, namun memiliki lapisan pseudopeptidoglikan yaitu suatu lapisan yang tersusun dari ulangan N-asetilglukosamin dan N-asam asetiltalosaminuronik (1-3 rantai, tahan terhadap lisozim ) dengan 7 group L-asam amino yang saling bertumpang tindih (Methanobacterium), memiliki lapisan polisakarida merupakan polimer tebal yang terdiri dari galaktosamin, asam glukoronat, glukosa, dan asetat . Lapisan ketiga berupa lapisan glikoprotein merupakan protein bermuatan negatif dengan banyak sisa asam amino terutama asam aspartat yang berikatan dengan polimer lain seperti glukosa, glukosamin, mannose, galaktosa, ribose, arabinosa. Lapisan protein merupakan lapisan terakhir dari struktur dinding sel Archaebacteria yang terdiri dari subunit polipeptida tunggal yang berbentuk lembaran (pada golongan Methanospirillum) atau beberapa subunit polipeptida yang berbeda (pada Methanococcus, Methanomicrobium).(Stevenson, 2008)
Kebanyakan metanogen bersifat mesofilik dengan kisaran suhu optimum antara 200C – 400C, namun metanogen juga dapat ditemukan di lingkungan ektrim seperti hydrothermal vent yang memiliki temperatur sampai 1000C. (Dubey,2005)
Identifikasi bakteri metanogen dapat dilakukan dengan mengkultivasi bakteri metanogen dalam medium selektif dengan kondisi anaerob, Metanogen tergolong archaebacteria dengan struktur dinding sel yang tidak memiliki peptidoglikan sehingga resisten terhadap agen yang dapat menghambat pembentukan peptidoglikan dan antibiotik cukup efektif digunakan untuk seleksi antara bakteri methanogen dan bakteri non methanogen.(Nakatsugawa,1992).
Antibiotik yang dapat digunakan adalah vancomycin yang efektif untuk menghambat pembentukan dinding sel serta kanamycin yang dapat menghambat sintesis protein.(Nakatsugawa,1992). Analisis bakteri metanogen dilanjutkan dengan analisis produksi gas metan dengan menggunakan Gas Kromatografi atau gas analizer.
Identifikasi bakteri metanogen secara mikroskopik telah dikaji sejak era tahun 70an. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ronald W. Mink dan Patrick R.Dugan (1978) menunjukkan bahwa bakteri metanogen dapat diidentifikasi secara mikroskopis dengan menggunakan mikroskop fluoresens. Secara fisiologi bakteri metanogen memiliki suatu substansi yang disebut F420, yaitu suatu koenzim yang dapat terabsorpsi dengan kuat pada panjang gelombang 420 nm (Ronald,1978), dengan adanya koenzim F420 dalam keadaan terreduksi menyebabkan bakteri ini dapat memancarkan sinar fluoresens berwarna hijau kebiruan ketika disinari oleh sinar ultraviolet pada panjang gelombang tertentu dan dapat membedakannya dengan bakteri non metanogen. Fungsi dari koenzim F420 adalah sebagai pembawa elektron pada proses metabolisme yaitu pada proses metanogenesis. (Michael,1989)
METHANOGENIC BACTERIA METHANE RESULT CAUSES GLOBAL WARMING
In addition to CO2, methane gas is a gas that is very important in relation to the greenhouse gas (GHG) emissions. Is capable of heat-trapping gas 21 times more powerful than CO2 (GWP value – The Greenhouse Warming Potential – methane is 21, the CO2 value GWPnya 1 while NO2 GWPnya value is 310) (Hardy, 2003), but the lifetime of this gas in the atmosphere is short enough that is 7.9 years and when we compare it with CO2 gas that reached 50-200 years, NO2 is 120 years old, CFC-11 is 50 years, and CFC-12 is 102 years (Lelieveld et al., 1998; Hardy, 2003). (Source La an)
Methane gas produced by microbes in anaerobic conditions. In natural peatlands, wetlands and sediment in coastal areas is a major source of methane in the atmosphere (Hardy, 2003), but humans also play an important role towards the increase of methane in the atmosphere, especially since pre-industrial era is through the activities of animal husbandry, rice agriculture, waste, coal combustion and use of petroleum.
More than a third of methane emissions, roughly 900 billion tons every year, is produced by methanogenic bacteria that live in the digestive system of ruminants, like cattle, goats, and sheep. Based on its volume, methane is much more robust 20 percent of solar energy capture compared with carbon dioxide. It makes methane as one of the main greenhouse gas.
Methanogenic bacteria including one group in addition to halophilic Archaebacteria, and thermophilic, in accordance with its class name Archaebacteria are resistant microorganisms living in extreme areas such as waters with high salinity (halofil) Halobacterium example, as well as areas with high temperatures, such as hydrothermal vents (extreme thermofil) Sulfolobus example, Pyrodictium. Methanogenic bacteria are obligate anaerobic, divided into three groups. Methanobacterium and Methanobrevibacter Group I, Group II includes Methanococcus, and Group III, including the genera Methanospirillum and Methanosarcina. It’s all in an anaerobic environment such as freshwater sediments and in the gastrointestinal tract of animals. (Dubey, 2005).
If viewed from the cell structure, Archaebacteria have similarities with eubakteria cell structure that is the type of prokaryotic cell, the structure of cell membrane lipid bilayer but the difference in Archaea using ether group which binds the different lipids with the cell membrane eubakteria using ester group to bind to lipid. Ether bond between the group and this lipid bilayer membranes formed from glycerol-dieter, monolayer membrane from digliserol-tetraeter.
Cell wall serves to protect the cytoplasm from osmotic pressure changes and give the cell shape so that there is a coccus or rod-shaped. The structure of cell walls of Gram positive and Gram-negative do not have peptidoglycan, but has a layer pseudopeptidoglikan which is a layer composed of repeated N-acetylglucosamine and N-asetiltalosaminuronik acid (1-3 chains, resistant to lysozyme) with 7 group of L-amino acid inter- overlap (Methanobacterium), has a thick layer of polysaccharide is a polymer consisting of galaktosamin, glukoronat acids, glucose, and acetate. The third layer is a glycoprotein layer of negatively charged proteins with many remaining amino acids, especially aspartic acid that binds with other polymers such as glucose, glucosamine, mannose, galactose, ribose, arabinose. Protein layer is the last layer of Archaebacteria cell wall structure consisting of a single polypeptide subunit in the form of sheets (in group Methanospirillum) or several different polypeptide subunits (in Methanococcus, Methanomicrobium). (Stevenson, 2008)
Most methanogens are mesophilic with an optimum temperature range between 200C – 400C, but methanogens can also be found in extreme environments like hydrothermal vents that have temperatures up to 1000C. (Dubey, 2005) The identification of methanogenic bacteria can be carried out with methanogenic bacteria cultivate in selective medium with anaerobic conditions, methanogenic archaebacteria belonging to the structure of cell walls that do not have peptidoglycan so resistant to the agents that can inhibit the formation of peptidoglycan and effective antibiotic used for selection of bacteria methanogens and non-methanogens bacteria . (Nakatsugawa, 1992).
The antibiotic vancomycin can be used is effective to inhibit the formation of cell walls and which can inhibit the synthesis of kanamycin protein. (Nakatsugawa, 1992).
Analysis of methanogenic bacteria followed by analysis of methane gas production by using gas chromatography or gas analyzer.
Microscopic identification of methanogenic bacteria have been studied since the 70s era. Results of research conducted by Ronald W. Mink and Patrick R. Dugan (1978) showed that methanogenic bacteria can be identified microscopically by using a fluorescent microscope. The physiology of methanogenic bacteria have a substance called F420, which is a coenzyme that can imbibition strongly at a wavelength of 420 nm (Ronald, 1978), in the presence of coenzyme F420 in a state terreduksi cause these bacteria to emit light bluish-green fluorescence when illuminated by ultraviolet light at specific wavelengths and can distinguish with non-methanogenic bacteria. Function of coenzyme F420 as electron carriers in the metabolic process that is in the process of methanogenesis. (Michael, 1989)

MENGENAL BAKTERI

Pengertian Bakteri
Bakteri merupakan makhluk hidup yang terdapat dimana-man. Dalam udara yang kita hirup, di tanah yang kita pijak dan tentu saja dalam tubuh kita. Bahkan sebenarnya, kita sepenuhnya hidup ditengah-tengah dunia bakteri yang tidak tampak.Bakteri berasal dari kata Bakterion (yunani = batang kecil). Di dalam klasifikasi, bakteri digolongkan dalam Divisio Schizomycetes.
Bakteri adalah organisme bersel satu yang terlalu kecil untuk dapat dilihat kecuali dengan bantuan mikroskop. Mereka berukuran micron (1/1000 mm). Seperti juga makhluk hidup lain, bakteri membutuhkan makanan, air dan suhu yang sesuai untuk hidup dan berkembang biak. Terkadang makhluk kecil ini hidup damai dengan sesamanya tetapi ada kalanya mereka terlibat peperangan antara hidup dan mati untuk memperebutkan makanan dan tempat untuk hidup. Kita tidak dapat secara langsung melihat, mendengar ataupun merasakan drama kehidupan bakteri ini, tetapi mereka mempunyai berbagai cara supaya kehadirannya dapat kita rasakan.
Sedangkan menurut Wikipedia Bakteri, dari kata Latin bacterium (jamak, bacteria), adalah kelompok terbanyak dari Organisme hidup. Mereka sangatlah kecil (mikroskopik) dan kebanyakan Uniseluler (bersel tunggal), dengan struktur sel yang relatif sederhana tanpa Nukleus/inti sel, cytoskeleton, dan organel lain seperti Mitokondria dan kloroplas. Bakteri merupakan prokariota, untuk membedakan mereka dengan organisme yang memiliki sel lebih kompleks, disebut eukariota. Istilah “bakteri” telah diterapkan untuk semua prokariota atau untuk kelompok besar mereka, tergantung pada gagasan mengenai hubungan mereka.
Bakteri adalah yang paling berkelimpahan dari semua organisme. Mereka tersebar (berada di mana-mana) di tanah, air dan sebagai simbiosis dari organisme lain. Banyak pathogen merupakan bakteri. Kebanyakan dari mereka kecil, biasanya hanya berukuran 0,5-5 μm, meski ada jenis dapat menjangkau 0,3 mm dalam diameter (Thiomargarita). Mereka umumnya memiliki dinding sel, seperti sel tumbuhan dan jamur, tetapi dengan komposisi sangat berbeda (peptidoglikan). Banyak yang bergerak menggunakan flagela, yang berbeda dalam strukturnya dari flagela kelompok lain.
Bakteri pertama ditemukan oleh Anthony van Leeuwenhoek pada 1674 dengan menggunakan mikroskop buatannya sendiri. Istilah bacterium diperkenalkan di kemudian hari oleh Ehrenberg pada tahun 1828, diambil dari kata Yunani βακτηριον yang memiliki arti “small stick“.
Struktur Sel Bakteri
Seperti prokariota (organisme yang tidak memiliki selaput inti) pada umumnya, semua bakteri memiliki struktur sel yang relatif sederhana. Struktur bakteri yang paling penting adalah dinding sel. Bakteri dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu Gram positif dan Gram negatif didasarkan pada perbedaan struktur dinging sel. Bakteri Gram positif memiliki dinding sel yang terdiri atas lapisan peptidoglikan yang tebal dan asam teichoic. Sementara bakteri Gram negatif memiliki lapisan luar, lipopolisakarida – terdiri atas membran dan lapisan peptidoglikan yang tipis terletak pada periplasma (di antara lapisan luar dan membran sitoplasmik).
Banyak bakteri memiliki struktur di luar sel lainnya seperti flagela dan fimbria yang digunakan untuk bergerak, melekat dan konjugasi. Beberapa bakteri juga memiliki kapsul atau lapisan lendir yang membantu pelekatan bakteri pada suatu permukaan dan biofilm formation. Bakteri juga memiliki kromosom, ribosom dan beberapa spesies lainnya memiliki granula makanan, vakuola gas dan magnetosom.
Beberapa bakteri mampu membentuk endospora yang membuat mereka mampu bertahan hidup pada lingkungan ekstrim.
Berdasarkan berntuknya, bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu:
  1. Kokus (Coccus) dalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola, dan mempunyai beberapa variasi sebagai berikut:
a)       Mikrococcus, jika kecil dan tunggal
b)       Diplococcus, jka bergandanya dua-dua
c)       Tetracoccus, jika bergandengan empat dan membentuk bujursangkar
d)       Sarcina, jika bergerombol membentuk kubus
e)       Staphylococcus, jika bergerombol
f)        Streptococcus, jika bergandengan membentuk rantai
  1. Basil (Bacillus) adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang atau silinder, dan mempunyai variasi sebagai berikut:
a)       Diplobacillus, jika bergandengan dua-dua
b)       Streptobacillus, jika bergandengan membentuk rantai
  1. Spiril (Spirilum) adalah bakteri yang berbentuk lengkung dan mempunyai variasi sebagai berikut:
a)       Vibrio, (bentuk koma), jika lengkung kurang dari setengah lingkaran
b)       Spiral, jika lengkung lebih dari setengah lingkaran
Bentuk tubuh/morfologi bakteri dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, medium dan usia. Oleh karena itu untuk membandingkan bentuk serta ukuran bakteri, kondisinya harus sama. Pada umumnya bakteri yang usianya lebih muda ukurannya relatif lebih besar daripada yang sudah tua.
Banyak spesies bakteri yang bergerak menggunakan flagel. Hampir semua bakteri yang berbentuk lengkung dan sebagian yang berbentuk batang ditemukan adanya flagel. Sedangkan bakteri kokus jarang sekali memiliki flagel. Ukuran flagel bakteri sangat kecil, tebalnya 0,02 – 0,1 mikro, dan panjangnya melebihi panjang sel bakteri. Berdasarkan tempat dan jumlah flagel yang dimiliki, bakteri dibagi menjadi lima golongan, yaitu:
  • Atrik, tidak mempunyai flagel.
  • Monotrik, mempunyai satu flagel pada salah satu ujungnya.
  • Lofotrik, mempunyai sejumlah flagel pada salah satu ujungnya.
  • Amfitrik, mempunyai satu flagel pada kedua ujungnya.
  • Peritrik, mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya.
Pengaruh Lingkungan Terhadap Bakteri
Kondisi lingkungan yang mendukung dapat memacu pertumbuhan dan reproduksi bakteri. Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan reproduksi bakteri adalah suhu, kelembapan, dan cahaya.

 

Suhu

Berdasarkan kisaran suhu aktivitasnya, bakteri dibagi menjadi 3 golongan:
  • Bakteri psikrofil, yaitu bakteri yang hidup pada daerah suhu antara 0°– 30 °C, dengan suhu optimum 15 °C.
  • Bakteri mesofil, yaitu bakteri yang hidup di daerah suhu antara 15° – 55 °C, dengan suhu optimum 25° – 40 °C.
  • Bakteri termofil, yaitu bakteri yang dapat hidup di daerah suhu tinggi antara 40° – 75 °C, dengan suhu optimum 50 – 65 °C
Pada tahun 1967 di Yellow Stone Park ditemukan bakteri yang hidup dalam sumber air panas bersuhu 93° – 500 °C.

 

Kelembapan

Pada umumnya bakteri memerlukan kelembapan yang cukup tinggi, kira-kira 85%. Pengurangan kadar air dari protoplasma menyebabkan kegiatan metabolisme terhenti, misalnya pada proses pembekuan dan pengeringan.

 

Cahaya

Cahaya sangat berpengaruh pada proses pertumbuhan bakteri. Umumnya cahaya merusak sel mikroorganisme yang tidak berklorofil. Sinar ultraviolet dapat menyebabkan terjadinya ionisasi komponen sel yang berakibat menghambat pertumbuhan atau menyebabkan kematian. Pengaruh cahaya terhadap bakteri dapat digunakan sebagai dasar sterilisasi atau pengawetan bahan makanan.
Jika keadaan lingkungan tidak menguntungkan seperti suhu tinggi, kekeringan atau zat-zat kimia tertentu, beberapa spesies dari Bacillus yang aerob dan beberapa spesies dari Clostridium yang anaerob dapat mempertahankan diri dengan spora. Spora tersebut dibentuk dalam sel yang disebut endospora. Endospora dibentuk oleh penggumpalan protoplasma yang sedikit sekali mengandung air. Oleh karena itu endospora lebih tahan terhadap keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan dibandingkan dengan bakteri aktif. Apabila keadaan lingkungan membaik kembali, endospora dapat tumbuh menjadi satu sel bakteri biasa. Letak endospora di tengah-tengah sel bakteri atau pada salah satu ujungnya.
  


KNOWN BACTERIA
Understanding Bacteria
Bacteria are living things that are where-man. In the air we breathe, the ground beneath us and of course in our body. In fact, we are fully alive in the midst of the world of bacteria that are not derived from the word Bakterion tampak.Bakteri (greek = rods).
In the classification, bacteria are classified into the Divisio Schizomycetes.
Bacteria are single-celled organisms that are too small to be seen except with the aid of a microscope.
They sized micron (1 / 1000 mm). As with other living creatures, bacteria need food, water and temperature suitable to live and breed. Sometimes these little creatures live in peace with each other but sometimes they involved a battle between life and death to compete for food and a place to live. We can not directly see, hear or feel the drama of life of these bacteria, but they have various ways so that its presence can be felt.
Meanwhile, according to Wikipedia Bacteria, from the Latin word bacterium (plural, bacteria), is the largest group of living organisms. They are very small (microscopic) and mostly unicellular (single celled), with a relatively simple cell structure with no nucleus / nucleus of cells, cytoskeleton, and organelles such as mitochondria and chloroplasts. Bacteria are prokaryotes, to distinguish them from the organisms that have more complex cells, called eukaryotes. The term “bacteria” has been applied to all prokaryotes or to a large group of them, depending on ideas about their relationship.
Bacteria are the most abundant of all organisms. They are spread (being everywhere) in the soil, water and as a symbiosis of other organisms. Many pathogens are bacteria. Most of them are small, usually measuring only 0.5 to 5 μm, although there are species can reach 0.3 mm in diameter (Thiomargarita). They generally have cell walls, such as plant cells and fungi, but with very different composition (peptidoglycan). Many are moved using flagella, which differs in structure from the flagella of other groups. The bacteria first discovered by Anthony van Leeuwenhoek in 1674 using a homemade microscope. The term bacterium was introduced at a later date by Ehrenberg in 1828, taken from the Greek word βακτηριον which means “small stick”.
Bacterial cell structure
As prokaryotes (organisms that do not have the core membrane) in general, all bacteria have a relatively simple cell structure. The structure is the most important bacterial cell wall. Bacteria can be classified into two groups: Gram positive and Gram-negative based on differences in the structure of cell dinging. Gram-positive bacteria have cell walls composed of a thick layer of peptidoglycan and teichoic acid. While Gram-negative bacteria have outer layer, lipopolysaccharide – consists of membrane and a thin layer of peptidoglycan lies in periplasma (between the outer layer and cytoplasmic membrane).
Many bacteria have structures outside of cells such as flagella and fimbria is used to move, stick and conjugation. Some bacteria also have a capsule or slime layer that helps the bacteria on a surface attachment and biofilm formation. Bacteria also have the chromosomes, ribosomes and a few other species have a granular food, gas vacuoles and magnetosom.
Some bacteria are able to form endospores that enable them to survive in extreme environments.
Based berntuknya, bacteria are divided into three major categories, namely:
1. Coccus (Coccus) dalah bacteria round like a ball, and has several variations as follows:
a)      Mikrococcus, if small and single
b)      Diplococcus, jka bergandanya two-two
c)      Tetracoccus, if holding four and form a rectilinear
d)      Sarcina, if the clusters to form a cube
e)      Staphylococcus, if clustered
f)        Streptococcus, if coupled to form chains
2. Bacillus (Bacillus) is a group of rod-shaped bacterium or cylinder, and has the following variations:
a)      Diplobacillus, if holding two-two
b)      Streptobacillus, if coupled to form chains
c)      Spiril (Spirilum) is an arch-shaped bacteria and has the following variations:
d)      Vibrio, (comma shape), if the arch is less than a half circle
e)      Spiral, if more than half-circle arc
Body shape / morphology of bacteria is influenced by environmental conditions, medium and age. Therefore, to compare the shape and size of bacteria, conditions should be the same. In general, bacteria that younger age relative size larger than the old.
Many species of bacteria that move using flagella. Almost all bacteria are curved rod shaped and some are found in the flagellum. While rarely coccus bacteria have flagella. Bacterial flagellum very small size, thickness 0.02 to 0.1 micro, and its length exceeds the length of bacterial cells. Based on the location and number of flagella that are owned, bacteria are divided into five groups, namely:
·        Atrik, do not have flagella.
·        Monotrik, has a single flagellum at one end.
·        Lofotrik, has a flagellum at one end.
·        Amfitrik, has a single flagellum at both ends.
·        Peritrik, has a flagellum on the entire surface of the body.
Environmental Effect Against Bacteria
Environmental conditions that support can spur growth and reproduction of bacteria. Environmental factors that influence the growth and reproduction of bacteria is the temperature, humidity, and light.

Temperature

Based on the temperature range of activities, the bacteria were divided into 3 groups:
• psikrofil bacteria, the bacteria that live in the area temperature between 0 ° – 30 ° C, with optimum temperature of 15 ° C.
• mesophile bacteria, the bacteria that live in temperatures between 15 ° – 55 ° C, with optimum temperature 25 ° – 40 ° C.
• termofil bacteria, the bacteria that can live in areas of high temperature between 40 ° – 75 ° C, with optimum temperature of 50-65 ° C
In 1967 in the Yellow Stone Park found bacteria living in hot springs temperature 93 ° – 500 ° C.
Humidity
In general, bacteria require a fairly high humidity, approximately 85%. Reducing the water content of protoplasm causes metabolic activity ceases, for example in the process of freezing and drying.
Light
The light is very influential in the process of bacterial growth. Generally light microorganisms that damage cells lacking chlorophyll. Ultraviolet rays can cause ionization of cell components that result in inhibiting the growth or cause death. The effect of light on bacteria can be used as the basis for sterilization or preservation of food.
If unfavorable environmental conditions such as high temperature, drought or certain chemical substances, several species of Bacillus are aerobic and some anaerobic species of Clostridium that can defend itself with the spores. Spores are formed in cells called endospores. Endospores formed by coagulation of protoplasm which contains very little water. Therefore endospores are more resistant to unfavorable environmental conditions compared with active bacteria. If environmental conditions improve again, endospore can grow into an ordinary bacterial cell. Location of endospores in the midst of a bacterial cell or at one end.