Mengungkap Sejarah Ekologi

Sejarah ekologi diturunkan melalui tradisi secara alami dari jaman dulu. Apa yang disebut Protoecology dalam tulisan carolus Linaeus (seorang ahli tumbuhan asal Swedia yang hidup pada abad ke-18) ia menulis melalui interaksi antara tanaman dengan binatang, yang kemudian ia sebut sebagai The Economy Natural.
Pada awal abad ke 19 seorang geographer jerman, Alexander Von Humboldt, menstimulasi penelitian mengenai distribusi komunitas tumbuhan sebagai suatu komunitas dari lingkungan yang kemudian disusul pada abad ke 20 oleh para ahli tumbuhan Eropa seperti Oscar drude dan Eugene Hangat. Edwar Forbes, seorang ahli Biologi laut berasal dari Inggir mempelajari ekosistem di laut pada awal abad ke 19 dan merupakan orang pertama yang menggunakan metode kuantitatif dalam mengukur hubungan antara kedalaman air dengan jumlah individu organism.
Nama ekologi diusulkan pertama kali pada tahun 1866 oleh ahli biologi Jerman Ernst Haeckl, seorang pengikut terkemuka Darwinisme.Pada tahun 1870, Hackel menulis bahwa Ekologi adalah kajian interaksi yang kompleks yang disebut oleh Darwin sebagai kajian tentang syarat-syarat dari perjuangan suatu mahluk hidup untuk bertahan hidup.
Ekologi dikenal sebagai sebuah ilmu pengetahuan pada tahun 1890-an dan awal 1900-an dikenal sebagai sebuah ilmu tentang campuran antara samudra dengan air tawar. (Limnologi) yang antara tumbuhan dengan hewan. Pada akhir tahun1900-an kemudian penekanan beralih ke penelitian laboratorium terutama dalam bidang ilmu faal (Fisiologi) dan genetika dan kemudian disarankan untuk kembali ke penekanan ilmu sejarah alam. Ahli ekologi hewan Inggris Charle Elton mendefinisikan ekologi sebagai sejarah alam yang ilmiah.
Di Amerika Serikat, Ekologi dikaji dengan intensif terutama sekali di Midwest. S.A. Forbes LLinois Laboratory Natural Hisyory yang pada tahun 1890-an Edward A Bridge mempelopori penelitian tumbuh-tumbuhan di Universitas Nebraska dengan ide-ide yang merumuskan tentang ekologis komunitas. Pada 1890-an penelitian di Amerika di dominasi oleh penelitian-penelitian ekologi selama kurun waktu lima pulih tahun. Pada decade yang sama Henrry C. Cowles dari universitas Chicago mempelajari tumbuh-tumbuhan di bukti pasir di wilayah Lake Michigan.
Clements dan Cowles adalah dua orang yang melakukan penelitian lebih maju dalam ekologi. Mereka menguji perubahan mereka menguji perubahan populasi specimen produsen (tanaman), komunitas dan kondisi lingkungan dari waktu ke waktu, suatu proses yang mereka sebut sebagai rangkaian perubahan dan adanya konsep superorganisme. Konsep rangkaian perubahan Clements ini mendominasi konsep ekologis sampai 1950-an. Ekologi menjadi semakin melembaga di inggir dan masyarakat ekologi di Amerika secara berturut-turut pada tahun 1913 dan 1915.

Anggrek Spesies baru Bulbophyllum nocturnum Hanya Mekar dalam Satu Malam

Tanaman anggrek memang sangat cantik, biasanya sengaja ditanam di batang pohon pekarangan rumah. Hal tersebut sudah tidak asing lagi bagi kita, hingga tanaman cantik ini mudah di dapat di took-toko tanaman hias yang sering kita jumpai di seluruh Indonesia. Namun lain halnya dengan Anggrek jenis Bulbophyllum nocturnum. Anggrek ini merupakan jenis baru yang telah ditemukan.
Anggrek jenis baru ini hanya mekar dalam satu malam dan ditemukan Kew Garden London di wilayah Papua New Britain, Papua Nuigini. Anggrek  Bulbophyllum nocturnum ini merupakan salah satu spesies baru dari 25.000 jenis anggrek lainnya yang ada di muka bumi ini.
Sampai saat ini, penyebab keunikan dari bunga ini masih menyimpan misteri. Tidak ada ilmuan yang mampu menjelaskan bagaimana bunga ini hanya mampu mekar dalam satu malam dan keesokannya kembali layu. Namun, spekulasi sementara menyatakan bahwa bunga ini mekar karena diserbuki oleh serangga malam seperti nyamuk dan ngengat. Walaupun diantaranya jenis anggrek banyak yang di sebuki oleh serangga malam namun tetap saja mekar pada keesokan harinya.
Penemuan ini berawal dari penemuan yang mengejutkan dari  seorang ilmuan Belanda Ed Ve Vogel yang menjumpai Anggrek Bulbophyllum nocturnum selalu dalam keadaan layu. Kemudian ilmuan tersebut bekerja sama dengan Andre Schuiteman dari  Kew Garden dan Jaap Vermeulenof dari Keanekaragaman Hayati Belanda untuk meneliti Anggrek Bulbophyllum nocturnum ini. Kemudian ilmuan tersebut mendapati bahwa Anggrek Bulbophyllum nocturnum ini ternyata mekar pada pukul 10 malam. Dan hal tersebut membuktikan bahwa jenis Anggrek Bulbophyllum nocturnum ini merupakan jenis Anggrek baru yang belum diketahui jenisnya.
Penemuan ini tentunya masih bias berlanjut untuk menyelamatkan Spesies Anggrek lainnya yang selalu berpacu dengan waktu untuk menghidarkannya dari kepunahan. Kenapa tidak, karena Anggrek ini hanya ditemui di kawasan hutan primer yang setiap waktu mengalami tekanan dan alih fungsi lahan yang sangat cepat. Jika tidak ada lagi yang peduli dengan hal ini maka dunia akan menghadapi sebuah legenda Anggrek Bulbophyllum nocturnum yang pernah ditemukan.

Evolusi Quaking Aspen


Minggu, 17 April 2011 – Sebelumnya kita sudah membahas mengenai hutan aspen yang ternyata merupakan ribuan pohon yang terhubung satu sama lain dan tiap pohon sebenarnya adalah perpanjangan akar dari pohon utama, yang mungkin telah mati. Hal ini membawa dilema besar dalam bidang ekologi mengenai definisi individu, apakah hutan Aspen dipandang sebagai satu individu tunggal, ataukah ia ribuan individu seukuran pohon. Sebelum melangkah pada sisi filsafat sains dari konsep ini, kita akan meninjau evolusi dari Aspen.
Salah satu alasan untuk membedakan ontologi sebuah klon terfragmen (klon pemecah) dari yang terintegrasi kohesif (integrator permanen) adalah bahwa mereka sepertinya memiliki nasib evolusi yang berbeda – walaupun mereka mungkin mendiami daerah permukaan yang sama dan karenanya lingkungan selektif yang sama. Genet terintegrasi dapat mengirimkan ramet dalam daerah yang lebih kompetitif (yaitu vegetasi tebal): nutrisi dari ramet penjelajah ini diwariskan dari sang ibu. Sebuah klon pembelah tidak sesukses ramet baru, karena benih baru hanya memiliki nutrisi yang dapat diakses sistem akar masing-masing ramet individual baru. Sebagian ilmuan telah benar-benar menguji hipotesis kalau biaya integrasi yang tinggi menjadi kendala dengan cara ini. Sebuah klon terintegrasi, sebagai organisme yang menggemuk selamanya, dapat merubah fenotipenya dengan tumbuh lebih cepat dalam lingkungan padat daripada populasi ramet-ramet terpecah mampu dan karenanya klon terintegrasi dapat mendiami lingkungan mikro baru dengan sumber daya baru. Ongkos dan keuntungan integrasi ramet telah dipelajari bertahun-tahun.
Menurut J.L. Harper tahun 1978, biaya integrasi ramet termasuk resiko kalau stress lokal dapat mempengaruhi keseluruhan klon, penyebaran penyakit lebih cepat, dst. Manfaat integrasi mencakup eksplorasi lingkungan baru yang lebih cepat, manfaat pada keseluruhan klon dalam kasus penjelajahan yang berhasil, realokasi sumberdaya, dsb.
Untuk menganggap klon yang terintegrasi sebagai populasi individu berarti menghapus perbedaan antara berbagai strategi evolusi. Namun untuk memahami perbedaan antara strategi-strategi evolusi ini, penjelasan sebab akibat mengenai individu (bukan deskripsi perubahan demografis seluruh populasi) diperlukan. Lagi pula, sejumlah ramet dapat mutlak sama sepanjang beberapa tahun, sementara arah adaptif akan menyebar dengan luas. Dalam pendekatan populasi pada evolusi, perubahan akan absen dari penjelasan, sementara ia akan menjadi pusat bila kita berfokus pada interaksi sebab akibat antara organisme dan lingkungannya.
Lalu bagaimana kita menjelaskan kebugaran (fitness) sebuah klon terintegrasi? Fokus studi Douglas E Gill dan  Timothy G. Halverson tahun 1984 adalah pada Hamamelis virginia L., namun sebagian besar kesimpulannya berlaku pada kasus Aspen kita. Mereka berusaha membuat kasus kalau percabangan individual pohon memiliki kebugaran individual dan bahwa kebugaran tersebut relevan dengan penjelasan evolusi kita. Gil dan Halverson menemukan tiga kriteria yang harus dipenuhi agar kasusnya sama:
  1. Harus ada variasi fenotipe signifikan dalam percabangan
  2. Bagian modular reproduksi atau keberlangsungan hidup berbeda harus ada
  3. Sifat yang mempertahankan kebugaran diferensial harus diwariskan
Pertama, perhatikan kalau dalam kriteria 2, kesuksesan adalah fungsi reproduksi atau keberlangsungan hidup. Gagasan kalau keberlangsungan hidup itu cukup akan berperan penting dalam argumen kita selanjutnya. Kedua, perhatikan kalau Gill dan Halverson menjelaskan percabangan sebagai bagian modular. Pandangan ini sangat dekat dengan yang dipertahankan Frederick Bouchard: kontribusi keturunan tidak diperlukan untuk mengukur kebugaran evolusioner, karena nasib komponen sudah cukup untuk mengukur adaptasi sebuah sistem.
Perlu diperhatikan kalau kriteria paling penting, kriteria warisan, tidak dipertahankan dengan eksplisit pada makalah mereka. Tanpa pertahanan demikian, argumen mereka gagal menunjukkan dengan meyakinkan bagaimana komponen-komponen dapat diseleksi untuk mendapat adaptasi. Namun, seperti dikatakan Bouchard, kasus analog pada quaking aspen dapat menunjukkan bagaimana Gil dan Halverson harus menjelaskan pewarisan dalam kasus evolusi pohon intragenerasi.
Masalah dengan perubahan intragenerasi adalah bahwa banyak konsep sentral memerlukan penyetelan. Bouchard telah membahas penumpukan perubahan kecil menunjukkan semacam pewarisan. Kembali ke seleksi fenotipe, dalam kasus pertumbuhan rumpun terdapat semacam pewarisan. Sebuah ramet (komponen rumpun) akan memiliki fenotipe mirip dengan fenotipe ramet asalnya daripada fenotipe ramet lain dalam rumpun, sebagian karena sebuah aspek signifikan dari fenotipe ramet adalah posisi spasialnya: posisi spasial sebuah ramet menentukan lingkungan mikro apa yang dapat ia jelajahi. Posisi spasial ini diwariskan antar ramet karena kendala fisik: sama halnya dengan apel yang tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya, ramet anak hanya dapat tumbuh dalam radius tertentu dari ramet induk.
Posisi yang bagus berarti kalau ramet A memiliki kemungkinan bertahan hidup lebih tinggi, dan karena ramet yang akan dihasilkan ramet A hanya dapat menjauh dari ramet yang mendekatinya, ramet anak akan mewarisi posisi yang dekat dengan posisi induk semata lewat kendala fisik dan perkembangan. Gagasan kalau posisi spasial dapat menjadi bagian dari fenotipe dan diwariskan telah dijelaskan dalam konteks lain pada biologi, yaitu pewarisan ekologis, dan dalam beberapa proyek filsafat.
Posisi spasial adalah bagian dari fenotipe karena anda dapat memilih posisi sama halnya anda dapat memilih ketinggian. Bila posisi tersebut diwariskan pada generasi masa depan – atau dalam kasus rumput, diwariskan pada dirinya sendiri – maka kita memperoleh kasus dimana variasi fenotipe non genetik yang dapat dikenai seleksi alam dipilih dan diwariskan secara diferensial pada bagian-bagiannya, namun tidak secara genetik.
Sebuah rumpun yang memecah berbeda dari yang tidak, perbedaannya adalah ramet yang terpecah memiliki potensi menjadi ramet individu dengan nasib evolusi individual, sementara ramet dalam rumpun tidak terpecah hanyalah semata bagian dari rumpun, bagian dari sebuah genet.
Usaha paling berani untuk mengakomodasi reproduksi aseksual atau pertumbuhan klonal menggeser semantik dari keturunan ke istilah salinan, yang terbaca sedikit lebih netral. Namun bila salinan adalah geseran semantik yang diterima, kenapa tidak bergerak lebih jauh dengan memuat bagian atau komponen saja?
Seperti kita telah lihat dalam kasus seperti quaking aspen, mungkin lebih membantu setidaknya bagi sebagian organisme untuk menyingkirkan istilah keturunan/salinan, dan menggunakan gagasan bagian dari organisme tunggal, dan ketika memeriksa pertanyaan tentang bagian-bagian, pertanyaan mengenai bagaimana mereka berkontribusi bagi ketangguhan keseluruhan sistem menjadi penting. Bouchard telah berargumen kalau yang kita perlukan adalah pendekatan ketangguhan, bukannya pendekatan reproduksi, untuk memahami evolusi sebagian tanaman, namun cara berpikir ini dapat membantu kita lebih menghargai evolusi spesies serangga sosial dan masyarakat simbiotik pula.

Pohon Lebih Merana di Musim Dingin


KOMPAS.com – Pepohonan di kawasan barat laut Amerika Utara, yang merupakan kawasan dengan ukuran batang tertinggi di dunia, menghadapi ancaman besar, justru di musim dingin. Hal ini tidak sesuai dengan anggapan ilmuwan bahwa pohon lebih merana di musim panas.
Dari sebuah studi yang dilakukan, terungkap bahwa pepohonan di sana mengalami krisis air di musim dingin. Menurut peneliti dari Oregon State University dan US Forest Service, meski pepohonan itu berdiri tegak di sekitar kawasan danau, namun mereka tidak mendapatkan pasokan air karena aliran air membeku. Meski penyebabnya berbeda dengan krisis air di musim kering, hasil akhir krisis tersebut serupa.
“Semua orang mengira bahwa musim panas merupakan musim yang paling berat bagi pepohonan. Tetapi dari sisi air, musim dingin bahkan lebih menyulitkan para pohon,” kata Katherine McCulloch, peneliti dari Oregon State University.
Pohon punya kemampuan lebih baik mengatasi kesulitan air di musim panas dibandingkan musim dingin. Saat musim panas, mereka menutup stomata (lubang pori-pori di daun atau bagian pohon lainnya), menyimpan air, dan mengurangi fotosintesis serta pertumbuhan.
Di kawasan perairan dengan curah hujan mencapai 2 meter per tahun, McCulloch dan timnya melihat pohon dengan xilem (selaput kayu) di cabang-cabang kecil di bagian atas tidak bisa menyalurkan air sebanyak ketika di musim panas. Ternyata siklus pembekuan dan pencairan air merupakan masalah terbesar dari transportasi air di dalam pohon.
Peneliti menyebutkan, studi semacam ini dinilai sangat penting untuk lebih memahami cara hutan bisa merespons iklim yang lebih hangat atau kering di masa depan. Meski kini peneliti mengetahui bahwa pohon lebih mampu bertahan dalam menghadapi musim kemarau dibanding perkiraan sebelumnya, namun belum tentu pohon bisa bertahan di masa yang akan datang.
“Jika iklim menghangat, kita kemungkinan akan mengalami siklus musim dingin yang lebih dingin,” kata McCulloch. “Ada banyak variabel efek dari perubahan iklim yang sejauh ini belum bisa kita pahami,” ucapnya.
Penelitian itu sendiri dilakukan di fasilitas penelitian Wind River Canopy Crane, dan hasilnya telah dipublikasikan di American Journal of Botany. (National Geographic Indonesia/Abiyu Pradipa

Evolusi Mampu Mengurangi Ukuran Genom dengan Cepat



Jumat, 22 April 2011 “Kami mempertimbangkan bahwa genom selada thale menjadi lebih efisien sebagai bentuk yang diperoleh melalui evolusi.”
Masuk akal jika mengasumsikan bahwa dua jenis tanaman yang berkerabat dekat akan memiliki cetak biru genetik yang sama. Namun, para ilmuwan dari Max Planck Institute for Developmental Biology di Tübingen, bekerja sama dengan tim peneliti internasional, sekarang untuk pertama kalinya telah menerjemahkan keseluruhan genom selada batu berdaun-kecapi (Arabidopsis lyrata), berkerabat dekat dengan selada thale (Arabidopsis thaliana), model tanaman yang sering digunakan oleh para ahli genetika. Mereka menemukan bahwa genom selada batu berdaun-kecapi berukuran lima puluh persen lebih besar dibandingkan dengan selada thale.
Selain itu, perubahan ini muncul selama periode yang sangat singkat dalam kasus evolusi. Analisa genom baru berkualitas tinggi ini akan memberikan dasar bagi studi banding lebih lanjut tentang ekologi, fungsi dan evolusi dari tanaman genus Arabidopsis.
Ukuran genom di antara spesies yang berbeda dari kerajaan tanaman secara signifikan bervariasi. Pada batas atas spektrum yang saat ini dikenal, para ilmuwan telah mengidentifikasi rempah Paris atau simpul cinta-sejati (Paris quadrifolia), di mana genomnya seribu kali lebih lama dibandingkan dengan tanaman karnivora dari genus Genlisea. Bagaimanapun juga, tanaman ini berkerabat sangat jauh, yang hampir tidak mungkin untuk mengidentifikasi kekuatan evolusi yang bekerja di dalam spesies individual.
Dengan demikian, para peneliti dari Fakultas Biologi Molekular Detlef Weigel di Max Planck Institute for Developmental Biology di Tübingen bekerja sama dengan tim peneliti internasional yang tengah meneliti genom spesies yang erat berkerabat dengan selada thale (Arabidopsis thaliana), tanaman yang mungkin paling banyak dipelajari dalam genetika tanaman bunga. Spesies yang dimaksud adalah selada batu berdaun-kecapi (Arabidopsis lyrata) yang, sama seperti selada thale, tanaman ini tidak memupuk diri.
“Selada thale dan selada batu berdaun-kecapi berbagi leluhur yang sama sekitar sepuluh juta tahun yang lalu, setelah garis keturunan evolusi mereka menyimpang,” jelas Ya-Long Guo dari MPI for Developmental Biology.
Genom dari selada thale telah sepenuhnya diterjemahkan saat ini: memiliki urutan 125 juta pasang basa, yang juga disebut sebagai huruf-huruf alfabet genetik, dan meliputi 27.025 gen yang didistribusikan pada lima kromosom.
Urutan genom filum selada batu berdaun-kecapi dari Amerika Utara menghasilkan suatu urutan basa yang, pada 207 juta pasang basa atau huruf, lebih dari 50 persennya lebih besar dibandingkan dengan selada thale. Namun, para ilmuwan berasumsi bahwa urutan hurufnya tidak membentuk kata dan teks yang bermakna dalam semua bidang genom, dan bahwa perbedaan antara kedua spesies dari keluarga sawi (Brassicaceae) ini, dalam hal jumlah gen, tidak begitu penting: selada batu berdaun-kecapi memiliki sekitar 32.670 gen yang didistribusikan ke delapan kromosom.
Para peneliti juga menetapkan bahwa elemen-elemen yang cukup besar telah menghilang dari beberapa bagian genom selada thale. Namun, sebagian besar perbedaan ukuran genom dua spesies ini dicatat oleh ratusan ribu penghapusan kecil yang sebagian besar muncul di wilayah yang terletak di antara gen atau pada transposon, urutan DNA yang dapat bergerak.
Sebuah genom yang lebih kecil muncul untuk menawarkan keuntungan selama seleksi alam individu. Hal ini didukung dengan rincian berikut dari temuan terbaru: transposon yang memiliki efek negatif terhadap gen di sekitarnya tampak sangat rentan terhadap penghapusan melalui seleksi. Menurut para ilmuwan, elemen-elemennya masih tetap menghilang dari genom selada thale. “Kami berasumsi bahwa genetik nenek moyang yang sama dari kedua tanaman ini adalah jauh lebih luas diawetkan di dalam selada batu berdaun-kecapi – mereka juga memiliki delapan kromosom. Kami mempertimbangkan bahwa genom selada thale menjadi lebih efisien sebagai bentuk yang diperoleh melalui evolusi,” kata Ya-Long Guo.
Apa yang mengejutkan para peneliti Tübingen adalah seberapa besar genom selada batu berdaun-kecapi dibandingkan selada thale. Melalui analisis mereka, para ilmuwan telah meletakkan fondasi untuk informasi lebih lanjut pada bagaimana evolusi tanaman dapat mulai berlaku pada tingkat gen dan molekul.
Para peneliti dari Max Planck Institute for Developmental Biology yang terlibat dalam studi ini: Juni Cao, Stephan Ossowski, Korbinian Schneeberger, Ya-Long Guo dan Detlef Weigel.

Duplikasi Genom Mendorong Adaptasi Tanaman dengan Cepat


Selasa, 10 Mei 2011 – Tanaman beradaptasi dengan cuaca lokal dan kondisi tanah dimana mereka tumbuh, dan adaptasi lingkungan ini diketahui berevolusi dalam ribuan tahun saat mutasi perlahan menumpuk dalam kode genetik tanaman.
Namun seorang biologiwan Universitas Rochester telah menemukan kalau setidaknya beberapa adaptasi tanaman dapat terjadi hampir seketika, bukan lewat perubahan barisan DNA, namun semata dengan duplikasi bahan genetik yang telah ada. Penemuan Justin Ramsey ini diterbitkan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences.
Sementara hampir semua hewan memiliki dua set kromosom – satu set diwariskan dari ibu dan satu dari ayah – banyak tanaman bersifat poliploid, yang artinya mereka punya empat atau lebih set kromosom. “Sebagian ahli botani bertanya apakah poliploid memiliki sifat baru yang memungkinkan mereka bertahan terhadap perubahan lingkungan atau mengkoloni habitat baru,” kata asisten profesor Justin Ramsey. “Namun gagasan ini belum pernah diuji sebelumnya.”
Penanam tanaman sebelumnya telah menginduksi poliploidi pada tanaman pertanian, seperti jagung dan tomat, dan mengevaluasi konsekuensinya di rumah kaca atau kebun. Pendekatan eksperimental demikian tidak pernah dilakukan pada spesies tanaman liar, kata Ramsey, jadi tidak diketahui bagaimana poliploidi mempengaruhi kesintasan dan reproduksi tanaman di alam.
Ramsey memutuskan melakukan tesnya sendiri dengan mempelajari yarrow liar (Achillea borealis) yang umum ditemukan di pesisir Kalifornia. Yarrow dengan empat set kromosom (tetraploid) hidup di habitat lembab padang rumput di bagian utara daerah studi Ramsey; yarrow dengan enam set kromosom (heksaploid) tumbuh di habitat pasir di selatan.
Ramsey mentransplantasi yarrow tetraploid dari utara ke habitat selatan dan menemukan kalau yarrow heksaploid asli memiliki keunggulan kesintasan lima kali lipat dari yarrow tetraploid yang ditransplantasikan. Eksperimen ini membuktikan kalau tanaman selatan secara intrinsik teradaptasi dengan kondisi kering; walau begitu, tidak jelas apakah perubahan jumlah kromosom yang bertanggung jawab. Seiring waktu, populasi heksaploid alami dapat menumpuk perbedaan barisan DNA yang meningkatkan kinerja mereka di habitat kering dimana mereka sekarang tinggal.
Untuk menguji gagasan ini, Ramsey mengambil yarrow heksaploid mutan generasi pertama yang dipindai dari populasi tetraploid, dan mentransplantasikannya ke habitat berpasir di selatan. Ramsey membandingkan kinerja yarrow yang ditransplantasi dan menemukan kalau mutan heksaploid memiliki 70 persen keunggulan kesintasan daripada saudaranya yang tetraploid. Karena tanaman tetraploid dan heksaploid memiliki latar belakang genetik yang sama, perbedaan kesintasan mereka langsung dikarenakan jumlah set kromosom bukannya barisan DNA yang terkandung dalam kromosom.
Ramsey menawarkan dua teori untuk kesintasan tanaman heksaploid yang lebih tinggi. Mungkin isi DNA mengubah ukuran dan bentuk sel pengatur pembukaan dan penutupan pori kecil di permukaan daun. Hasilnya, laju lewatnya air di daun yarrow berkurang dengan peningkatan jumlah set kromosom (ploidi). Kemungkinan lain, menurut Ramsey, adalah penambahan set kromosom menghalangi pengaruh gen perusak tanaman, sama dengan yang menyebabkan cystic fibrosis dan penyakit genetik lain pada manusia.
“Kadang mekanisme adaptasi bukanlah perbedaan dalam gen,” kata Ramsey, “ia adalah perbedaan jumlah kromosom.” Sementara para ilmuan sebelumnya percaya kalau poliploidi berperan dalam penciptaan famili gen – kelompok gen dengan fungsi-fungsi berhubungan – mereka tidak yakin apakah duplikasi kromosom itu sendiri punya manfaat adaptif.
Sekarang, Ramsey mengatakan para ilmuan “harus memperhatikan lebih baik pada jumlah kromosom, bukan hanya sebagai mekanisme evolusi, namun sebagai bentuk variasi genetik untuk melestarikan tanaman langka dan terancam punah.”
Sumber berita :
University of Rochester.

Empat Keladi Jenis Baru Ditemukan


KOMPAS.com – Kebun Raya Eka Karya Bali – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan empat jenis keladi (famili Aracea) baru.
Jenis pertama, Alocasia baginda, sudah dipublikasikan di jurnal Acta Phytotaxonomica et Geobotanica 60 (3), edisi Februari 2011. Jenis kedua, Homalomena agens, masih dalam proses publikasi di jurnal Aroideana. Kedua spesies itu memiliki sebaran di daerah Kalimantan Timur.
Jenis ketiga, Homalomena vittariifolia, dalam proses publikasi di jurnal Acta Phytotaxonomica et Geobotanica. Demikian pula dengan jenis keladi keempat, Schismatoglottis inculta. Jenis ketiga dan keempat memiliki sebaran di wilayah Sulawesi Tenggara.
Agung Kurniawan, peneliti di Kebun Raya Eka Karya Bali, Rabu (20/4), mengatakan, penemuan ini dibantu oleh ahli keladi-keladian, Peter C Boyce, dari Universiti Sains Malaysia. Agung mengatakan, Alocasia baginda telah tersebar di kalangan penghobi tanaman hias sejak 3-4 tahun lalu.
“Hanya saja mereka belum sadar kalau tanaman itu merupakan jenis baru,” kata dia. Temuan ini didapatkan dari eksplorasi hutan setempat. (ICH

Anggrek Endemik Kehilangan Habitat


KOMPAS.com – Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia membudidayakan ratusan anggrek spesies endemik dari berbagai wilayah di Indonesia. Namun, sebagian besar tak bisa dikembalikan ke lokasi asal karena habitat rusak.
“Seperti koleksi anggrek Tien Soeharto (Cymbidium hartinahianum), endemik Tapanuli Utara, habitatnya berkurang drastis,” kata Sofi Mursidawati, peneliti anggrek Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, Selasa (20/4/2011) di Bogor.
Anggrek Tien Soeharto ditemukan tahun 1976 oleh peneliti LIPI, Rusdi E Nasution. Pemberian nama Tien Soeharto sebagai penghargaan kepada Ibu Negara atas upaya pelestarian anggrek di Indonesia.
Anggrek Tien Soeharto sangat langka. Pertumbuhannya sangat lambat. Anggrek itu tumbuh baik pada ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut.
Daunnya berbentuk pita memanjang hingga 50 sentimeter. Bunganya kuning kehijauan dan permukaan bawahnya kecoklatan dengan warna kuning pada bagian tepinya.
Koleksi anggrek spesies Rumah Anggrek Kebun Raya Bogor lebih dari 500 jenis. Seratusan spesies di antaranya bisa diperbanyak dalam botol kultur jaringan. “Spesies endemik lainnya yang kehilangan habitat, seperti anggrek macan (Grammatophyllum speciosum),” kata Sofi.
Anggrek macan berbunga kuning kehijauan dan bertutul kecoklatan adalah endemik hutan dataran rendah. Habitat itu rusak akibat perubahan fungsi hutan.
“Ada anggrek ekor tikus (Paraphalaenopsis serpentilingua) dengan lokasi endemik Kalimantan Barat yang juga terancam di habitat aslinya,” kata Sofi.
Tujuan awal budidaya anggrek di Rumah Anggrek adalah menyelamatkannya dari ancaman kepunahan. Selain itu, juga mengembalikan ke alam aslinya seiring keberhasilan pengembangbiakan di rumah kaca.
Namun, lanjut Sofi, kondisi habitat asli anggrek-anggrek langka terus terancam perusakan. Mengembalikan anggrek-anggrek langka tanpa adanya perlindungan nyata akan sia-sia.
Menurut Kepala Pembibitan Kebun Raya Bogor Yuzammi, pada dasarnya bangsa Indonesia kurang menghargai kekayaan keanekaragaman hayati. Satu per satu menghilang dan punah sebelum dibudidayakan lebih lanjut.
Tidak hanya pada tanaman anggrek, jenis tanaman endemik lainnya yang dibanggakan dunia pun tak pernah mendapat ruang penelitian yang memadai. “Seperti bunga terbesar di dunia yang memiliki lokasi endemik Sumatera, yaitu Amorphophalus titanum,” kata Yuzammi.
Saat ini Amorphophalus titanum setidaknya tersebar di 6.000 kebun botani dan hutan buatan (arboretum) di Eropa dan Amerika. Di Indonesia masih banyak yang belum mengenal tanaman itu.
Amorphophalus titanum sering disalahartikan sebagai Raflesia arnoldi. Secara ilmiah, Amorphophalus tergolong primitif. Adapun anggrek adalah bunga berevolusi maju. (NAW/GSA)

Cara Budidaya Raflesia Belum Ditemukan

JAKARTA, KOMPAS.com — Cara membudidayakan bunga raflesia yang tergolong langka belum ditemukan. Para ilmuwan mendorong pemerintah terus mengupayakan keselamatan habitatnya di hutan alam sehingga bunga itu tidak punah.
“Beberapa hari lalu bunga raflesia di Taman Nasional Kerinci Seblat mekar. Namun, perambahan hutan di taman nasional itu sangat mengkhawatirkan kelangsungan habitat bunga raflesia,” kata ahli konservasi tumbuhan, Prof Ervizal AM Zuhud, dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Senin (18/4/2011).
Taman Nasional Kerinci Seblat berada di empat wilayah provinsi, yakni Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Kawasan taman nasional ini berada di Pegunungan Bukit Barisan Selatan bagian tengah Pulau Sumatera seluas 1.368.000 hektar.
Bunga raflesia memiliki sedikitnya 27 spesies. Salah satunya spesies Rafflesia arnoldii yang diperkirakan tanaman asli wilayah Bengkulu. Melalui Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993, Rafflesia arnoldii ditetapkan sebagai puspa langka, diikuti penetapan lain, yaitu melati sebagai puspa bangsa dan anggrek bulan sebagai puspa pesona.
Ervizal mengatakan, pelestarian bunga raflesia mempersyaratkan pelestarian hutannya. Pemerintah didesak untuk memprioritaskan penyelamatan hutan sebagai habitat bunga itu.
Teknik budidaya
Secara terpisah, peneliti bunga raflesia dari Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Sofi Mursidawati, mengatakan, upaya mencari teknik budidaya bunga raflesia masih terus diupayakan.
“Kami mengembangkan salah satu spesies raflesia dari Pangandaran, Jawa Barat, tetapi belum sepenuhnya bisa dikatakan berhasil menemukan teknik budidayanya,” kata Sofi.
Menurut dia, ada karakter biologis yang belum sepenuhnya bisa diungkap dari berbagai spesies bunga raflesia. Begitu pula untuk mengetahui cara perkembangbiakannya.
Raflesia merupakan tumbuhan parasit yang menumpang di pohon inang. Menurut Sofi, Rafflesia arnoldii di Bengkulu memiliki inang pohon liana dari genus Tetrastigma. Perambahan hutan menyebabkan pohon liana makin langka.
“Liana itu pohon merambat yang sering ditebas batangnya, kemudian diambil airnya untuk diminum di tengah hutan,” kata Sofi.
Menurut Sofi, jaminan kelangsungan hidup berbagai pohon genus Tetrastigma menjadi prasyarat utama kelangsungan hidup berbagai spesies bunga raflesia. Saat ini LIPI terus menggalakkan konservasi berbagai jenis tumbuhan inang raflesia di Kebun Raya Bogor.
Bunga bangkai
Bunga raflesia sering dipahami sebagai bunga bangkai. Persiapan bunga Rafflesia arnoldii untuk tumbuh mekar membutuhkan sedikitnya masa sembilan bulan, kemudian diikuti masa bunga mekar selama 5 hari sampai 7 hari dan menebarkan bau busuk sehingga disebut bunga bangkai. Setelah masa itu, bunga raflesia layu dan mati.
Selain raflesia, LIPI mengoleksi spesies bunga bangkai lain, yaitu Amorphophallus titanum yang ditanam di Kebun Raya Cibodas, Jawa Barat. Spesies ini berbeda dengan raflesia.
“Kami sudah bisa membudidayakan Amorphophallus,” kata Yuzammi, ahli bunga bangkai dari LIPI.
Seperti dikhawatirkan para ilmuwan lain, habitat alami bunga bangkai Amorphophallus di Sumatera, menurut Yuzammi, juga terancam. (NAW