Cara Menanam Kangkung Dalam Pot

Persiapan Bahan:
1.       Pot ukuran 35 harga @. Rp.2000.00
2.       Biji Kangkung secukupnya 1 Ons
3.       Tanah Humus secukupnya
4.       Kompos kotoran secukupnya
Cara menanam:
1.       Pot di isi tanah secukupnya.
2.       Tanam biji kangkung di pinggir pot 3 biji, sati pot 3 titik jadi 9 biji kangkung.
3.       Kemudian beri pupuk kompos atasnya secukupnya.
Perkembangan:
Setiap pagi siram pot dengan teratur selang 3 hari akan muncul tanaman kangkung setinggi 5 cm, seneng banget rasanya melihat tanaman tumbuh.
Pada suatu pagi saya kaget sekali karena kanggkung yang mulai hijau di beberapa pot hilang seperti patah lalu saya intip dipagi hari benar ternyata tanaman saya ada yang naksir yaitu burung-burung, waduh akhirnya caranya saya tutup ketika magrib baru kemudian di buka pagi hari.

Tetapi jangan khawatir sebab setelah tinggi ternyata burung tidak doyan lagi. O ya jangan lupa setelah tumbuh kasih pupuk urea sedikit aja seperempat sendok makan biar ga mati dan berguna untuk menghijaukan daun.

Gerak Pada Tumbuhan

Tumbuhan tidak mempunyai sistem syaraf, tetapi tumbuhan tetap mempunyai kemampuan untuk menerima rangsang & memberikan reaksi terhadap rangsang tersebut. Tumbuhan peka terhadap rangsang sentuhan / mekanik, cahaya, air, suhu, gravitasi, dan zat kimia. Gerak tumbuhan yang merupakan reaksi terhadap faktor lingkungan / faktor luar disebut gerak etionom. Sedang gerak tumbuhan yang tidak dipengaruhi faktor dari luar disebut gerak endonom / autosom / spontan. Gerak etionom dibedakan menjadi 3, yaitu :

1. Gerak Nasti

Gerak Nasti adalah gerak bagian tubuh tumbuhan yang arahnya tidak dipengaruhi oleh arah datangnya rangsang. Gerak nasti disebabkan oleh perubahan tekanan turgor didalam sel penyusun tumbuhan. Tekanan Turgor adalah tekanan total molekul air terhadap dinding sel. Jika kadar air sel tinggi maka tekanan turgor kuat, dan sebaliknya. Gerak nasti dibagi lagi menjadi 5 berdasarkan jenis rangsangannya seperti berikut :

a. Seismonasti (Tigmonasti)

Seismonasti adalah gerak nasti yang disebabkan oleh rangsangan berupa sentuhan / tekanan. Contoh dari gerak seismonasti : membuka dan menutupnya daun putrid malu (mimosa pudica).

b. Termonasti

Termonasti adalah gerak nasti karena pengaruh suhu / temperature. Contoh dari gerak termonasti : Membukanya bunga tulip karena pengaruh temperature yang biasa ini terjadi pada daerah dingin.

c. Fotonasti

Fotonasti adalah gerak nasti yang disebabkan karena rangsang berupa cahaya. Contoh dari gerak fotonasti :
Gerak mekarnya bunga pukul empat (Mirabilis jalapa)
Gerak mekarnya bunga waru (Hibiscus tiliaceus)
Gerak mekarnya bunga kupu-kupu.

d. Niktinasti

Niktinasti adalah gerak menutup/rebahnya tumbuhan pada saat hari gelap/menjelang malam. Gerak ini terjadi karena perubahan tekanan turgor pada pulvinus seperti halnya pada seismonasti. Contoh dari gerak ini : gerak tidur petai daun petai cina pada malam hari.

e. Nasti kompleks

Nasti kompleks adalah gerak nasti yang disebabkan oleh beberapa faktor sekaligus yang terkait. Contohnya : Gerak membuka dan menutupnya sel penutup pada stomata.

2. Gerak Tropisme

Gerak Tropisme adalah gerak tumbuh bagian tubuh tumbuhan. Gerak tumbuh ini dapat mendekati/menjauhi sumber rangsang. Jika gerakannya mendekati sumber rangsang disebut tropisme positif, dan sebaliknya. Gerak tropisme dibagi menjadi 7, yaitu :

a. Fototropisme

Fototropisme adalah gerak bagian tubuh tumbuhan mendekati / menjauhi cahaya matahari. Fototropisme positif (mendekati arah sinar) diperlihatkan oleh pertumbuhan tunas-tunas daun/batang, sedangkan fototropisme negatif (menjauhi arah sinar) diperlihatkan oleh gerak tumbuh akar.

b. Geotropisme

Geotropisme adalah gerak bagian tubuh tumbuhan mendekati/menjauhi arah gaya gravotasi bumi. Geotropisme yang mendekati gaya gravitasi bumi (+), contohnya gerak tumbuh akar. Geotropisme yang menjauhi gaya gravitasi bumi (-), contohnya gerak tumbuh batang.

c. Tigmotropisme / Haptotropisme

Tigmotropisme adalah gerak bagian tubuh tumbuhan karena ada rangsang berupa sentuhan / singgungan. Contoh Tigmotropisme : gerak sulur yang melilit pada tumbuhan anggota familia cucurbitaceae, anggur, dan beberapa leguminosae.

d. Kemotropisme

Kemotropisme adalah gerak bagian tubuh tumbuhan karena rangsang yang berupa zat / bahan kimia.
Contoh-contoh Kemotropisme :
Gerak tumbuh akar menuju ke daerah-daerah yang banyak mengandung unsur-unsur hara.
Gerak berbeloknya ujung akar menjauhi besi yang berkarat didalam tanah.
Gerak benang sari menuju ke indung telur karena adanya rangsang berupa senyawa kimia yang dikeluarkan oleh indung telur.

e. Hidrotropisme

Hidrotropisme adalah gerak bagian tubuh tumbuhan karena ada rangsang berupa air. Contoh Hidrotropisme : gerak tumbuh akar yang menuju ke daerah yang lebih banyak mengandung air.

f. Reotropisme

Reotropisme adalah gerak bagian tubuh tumbuhan karena rangsang berupa arus air contohnya : gerak tumbuhan air yang tumbuh searah dengan arus air pada sungai-sungai yang berarus deras.

g. Termotropisme

Termotropisme adalah gerak bagian tubuh tumbuhan karena rangsng berupa panas. Bagian tubuh tumbuhan dapat bergerak mendekati/menjauhi panas.

3. Gerak Taksis

Gerak Taksis adalah gerak pindah tempat tubuh tumbuhan yang arahnya ditentukan oleh arag datangnya rangsang.
Gerak Taksis dibedakan menjadi 2, yaitu :

a. Fototaksis

Fototaksis adalah gerak pindah tempat tumbuhan karena adanya rangsangan berupa sinar matahari.
Contoh :
Gerak sopra kembara dari jamur Pilobolus
Gerak kloroplas menuju sisi sel yang mendapat sinar matahari
Euglena pada pagi hari bergerak kearah datangnya sinar matahari, tetapi pada siang hari Euglena akan bergerak menjauhi sinar matahari.

b. Kemotaktis

Kemotaktis adalah gerak pindah tempat tumbuhan karena adanya rangsangan berupa zat kimia.
Contoh :
Bakteri aerob pada percobaan Engelmann bergerak menuju bagian pita kloroplas yang terkena cahaya karena bagian tersebut mengeluarkan oksigen.
Gerak spermatozoid pada lumut / tumbuhan paku menuju sel telur karena pengaruh zat kimia berupa zat gula / protein.

SUKUN (Artocarpus altilis)

Sukun termasuk famili Urticaceae, genus Artocarpus dengan nama latin altilis nama lokal Sukun. Berasal dari daerah pasifik sekitar abad 18 dikembangkan sampai di Malaysia dan selanjutnya berkembang sampai di Indonesia.  

Buah sukun mengandung karbohidrat dan gizi yang tinggi  sehingga mempunyai prospekyang cerah sebagai komoditi  pangan pengganti. Pohon sukun bertajuk rimbun dengan percabangan melebar  ke samping dan tingginya dapat mencapai 10-20 m.  Buahnya berbentuk bulat sampai sedikit agak lonjong,  buah muda berkulit kasar dan buah tua berkulit halus. Warna buah tua berwarna hijau kekuningan dengan berat  dapat mencapai 4 kg per buah. Daging buah berwarna putih krem dan rasanya agak manis dan memiliki aroma spesifik. Pohon sukun memiliki 3 jenis varietas yang dicirikan oleh ukuran buah dan letak kedudukan daun. Jenis varietas pertama dan kedua berukuran buah kecil dan sedang dengan kedudukan daun agak menguncup ke atas, tepi daun bercanggap dengan lekuk dangkal. Jenias varietas lainnya berukuran buah besar dengan kedudukan daun mendatar dan tepi daun mencanggap dengan lekuk dalam.

Syarat-syarat untuk tumbuh kembang Pohon Sukun
1. Altitude : Pohon ini dapat tumbuh pada ketinggian 0-700 m di atas permukaan laut dan yang terbaik pada ketinggian 0-600 m di atas permukaan laut. 2. Iklim : Daerah beriklim basah sampai agak basah dengan rata-rata curah hujan berkisar 1.000-2.500 mm per tahun dan rata-rata suhu udara 21-35 derajat celcius. Iklim mikro yang ideal adalah tempat terbuka dan banyak menerima panas matahari. 3. Tanah : Dapat tumbuh hampir di segala jenis tanah. Pada jenis tanah latosol podsolik merah kuning, tanah berkapur, tanah berpasir, pohon sukun mampu hidup dengan baik. Tidakcocok dikembangkan pada tanah berkadar garam (Na Cl) tinggi).
Cara-cara Pembuatan Bibit Pohon Sukun

1. Pembuatan tempat pembibitan a. Pemilihan lokasi persemaian harus memenuhi persyaratan lapangan yang relatif datar tidak melebihi 5%, dekat sumber air sepanjang tahun, bebas hama penyakit dan dekat dengan lokasi penanaman. b. Pembuatan bedeng persemaian c. Pembuatan bedeng sapih 2. Teknik pembuatan bibit Ada beberapa teknik pembauatan bibit sukun yang biasa digunakan yaitu teknik Okulasi, Cangkok dan Stek akar, namun diantara ketiga teknik tersebut yang paling efektif adalah memakai teknik stek akar karena mampu memproduksi bibit dalam skala besar dibandingkan yang lainnya. Adapun cara memakai teknik ini adalah sebagai berikut: – Akar yang panjang dipotong-potong secara hati-hati dengan gergaji atau golok/ pisau tajam dengan ukuran 15-20 cm yang kemudian dipisahkan menurut ukuran besar, sedang dan kecil. Untuk akar besar dipotong menjadi 2-4 bagian tergantung besarnya akar. – Bahan stek tersebut disusun secara teratur searah pangkalnya dan diletakkan di tempat yang teduh tidak boleh kepanasan. Dari aspek prosentase tumbuh, stek akar berukuran diameter 2,5-3 cm menghasilkan persen jadi lebih tinggi. – Stek akar ditanam sedalam 8 cm, jangan sampai terbalik karena tidak mau bertunas. Pertunasan perakaran dapat dipacu dengan cara pemberian Rootone F pada stek sebelum ditanam. Bibit stek setelah berdaun 3-5 lembar ditanam dalam kantong – kantong plastik yang sudah diisi media dan bila perlu diberi pupuk Gandasil D. – Perawatan selanjutnya penyiraman secara teratur, pengendalian hama penyakit dan penjarangan tunas.
Cara-cara Penanaman Pohon Sukun

1. Persiapan Lapangan : siapkan ukurang lubang tanam 75x75x75 cm atau 60x60x60 cm, yang mana setiap lubang diberi pupuk organik berupa kompos/ pupuk kandang. Jarak tanam antar pohon 14×14 m atau 12×12 m. Apabila menggunakan pola usaha pekarangan, pohon sebaiknya ditanam berjarak minimum 4-5 m dari rumah agar tidak menaungi atap rumah. 2. Waktu Tanam : Penanaman dilakukan sore atau pagi hari pada permulaan musim penghujan yaitu curah hujan sudah cukup merata. 3. Pemupukan : Dianjutkan menggunakan pupuk organik berupa pupuk kandang atau kompos, sebagai tambahan dapat menggunakan pupuk anorganik (urea, TSP, KCl) dengan dosis sebagai berikut: Umur Tanaman Dosis Pupuk (gram)/Batang Pupuk Organik (tahun) Urea TSP KCl 0-1 24-72 42-70 24-36 1 blek 2-5 132-205 48-72 42-72 2 blek 5 lebih 180-300 180-300 180-300 3 blek sumber: Pitoyo Setijo 1992, Budidaya Sukun.
Cara-cara pemeliharaan Pohon Sukun

1. Penyulaman & Penyiangan Penyulaman tanaman mati dilakukan pada saat hujan masih turun pada tahun pertama dan kedua dengan bibit penyulaman setinggi 1 m. Penyiangan dengan cara membersihkan tanaman pengganggu dengan radius 1 m. 2. Pengendalian H2ama & Penyakit a. Hama : – Bagian pupuk tanaman : bekicot, ketam – Bagian batang : Penggerek batang – Bagian daun : Belalang – Bagian Buah : Penggerek buah, Kalong, Tupai dan Kera b. Penyakit : Jamur & Busuk buah
Panen
Umumnya pohon sukun muali berbuah pada umur 3 tahun. Pohon yang produktif rata-rata menghasilkan buah per musim per pohon. Buah sukun mempunyai daging buah tebal, rasanya agak manis dan kandungan airnya tinggi sehingga tidak tahan lama disimpan, paling lama seminggu setelah itu buah akan rusak. Oleh karena itu sukun harus segera diolah menjadi berbagi masakan seperti gaplek sukun, keripik sukun, tepung sukun dan sebagainya. Musim panen biasanya dua kali dalam setahun yaitu bulan Januari-Agustus, sedangkan potensi buah sukun di luar musimnya relatif sedikit. 
courtesy: Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Rehabilitasi lahan Dan Perhutanan Sosial – Balai Pengelolaan DAS Sampean – Madura

Optimalisasi Penggunaan Varietas Tebu

Produktifitas tebu merupakan hasil interaksi antara genotipe dengan phenotipe. Sifat genotipe merupakan sifat intern karakteristik potensi yang dimiliki varietas, seperti rendemen tinggi, tahan kekeringan, diameter besar, tahan keprasan dan lain-lain yang menunjukkan jati diri varietas yang bersangkutan. Sedangkan phenotipe merupakan kondisi lingkungan dimana tanaman tumbuh, seperti iklim, kesuburan tanah, drainase, ketersediaan air dll.
Untuk mendapatkan produktivitas tinggi salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah menggunakan varietas dengan potensi produktivitas tinggi, baik bobot maupun rendemen. Tentunya harus disesuaikan antara varietas dengan kondisi lingkungan tempat tumbuhnya, karena produktivitas tanaman tebu dipengaruhi oleh sinergitas kemampuan suatu varietas dan pengelolaan lingkungan tempat tumbuhnya.
A. Pemilihan Varietas Tebu
    Dalam hal pemilihan varietas dilakukan secara hati-hati dengan memperhatikan
    hal-hal sebagai berikut:
    1. Kebenaran Varietas
        Kegagalan produksi salah satu penyebabnya adalah salah memilih varietas, hal
ini disebabkan karena kurangnya kemampuan atau ketidaktahuan para praktisi
        pertebuan mengenai varietas sehingga harus dibayar mahal seperti
        membongkar ulang tanamannya, pengeluaran biaya, tenaga yang cukup besar
        disamping kerugian waktu.
        Oleh karena itu kebenaran varietas harus dikuasai, dipahami, dimengerti dan
        diyakini oleh praktisi dengan berbagai cara yaitu melalui pelatihan perbenihan,
        membaca buku atau mencari informasi sesama koleganya atau para penyuluh
        pertanian.
    2. Klasifikasi Varietas
        Klasifikasi varietas perlu mendapat perhatian, karena berkaitan dengan
        sertifikasi varietas. Dalam klasifikasi varietas terdapat Benih Bina dan Non
        Nina. Benih Bina adalah varietas tebu yang telah dirilis oleh pemerintah,
        sedangkan Benih Non Bina belum dirilis masih dalam tahap pengujian. Contoh
        Benih Bina : PS 851, BL, PS 861, PS 862, PS 863, PS 864, PS 921, PS 951,
        PSCO 90-1785, PS 80-1424. Benih Non Bina : CB 100, PSCO 617, CW 2014,
        CW 2019, DIV, MD 7, PA 197, PA 198, PS 82-19529, PS 91787, PS 921, PSBM
        88-144, PSBM 98-01, PSBM 98-113, PSCO 90-787, RA 2019, ROC, TRITON.
   3.  Pemilihan Varietas
        Pemilihan varietas berdasarkan kemasakannya sesungguhnya berkaitan
        dengan keinginan untuk mencapai rendemen optimal. Varietas tebu
        berdasarkan kemasakan sudah banyak diinformasikan tinggal bagaimana
        kecermatan dalam memilih varietas. Kemasakan tebu berkaitan erat dengan
        pengelolaan masa tanam dan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air pada
        periode basah dan kering, sehingga penanaman tebu dilakukan pada pola I
        (Mei – September) dan pola II (Oktober – Desember). Masa tebang optimal
        sangat dipengaruhi oleh kemasakan tebu dan masa tanam. Hubungan
        kemasakan varietas, masa tanam dan masa tebang mempunyai korelasi
        positif.
B. Tipologi Wilayah
    Faktor lingkungan utama yang berpengaruh terhadap produktivitas adalah tingkat
    kesuburan tanah dan iklim dalam mendukung ketersediaan unsur hara dan
    oksigen yang diperlukan tanaman, sedangkan ketersediaan air berkaitan dengan
    masa tanam dan panen. Pengelolaan lahan tebu dipengaruhi oleh keragaman
    tanah, maka untuk memudahkan pengelolaan varietas dengan kondisi lingkungan
    yang cocok dilakukan pengelompokkan.
    Tujuan dilakukan pengelompokkan adalah untuk memudahkan pengelolaan lahan
    dalam penerapan teknologi budidaya varietas yang sesuai. Sifat tanah yang dapat
    dikelompokkan sebagai penilai. Hasil penilaian di lapangan beberapa varietas
    tebu telah memiliki kesesuaian dengan pengelompokkan lahan. Pemberian contoh
    varietas yang cocok dengan lingkungan yang dimaksud sangat terbatas. Praktisi
    tebu dapat mengelompokkan sendiri berdasarkan pengalaman penggunaan
    varietas yang pernah dicoba dengan potensi produksi tinggi berdasarkan
    lingkungan.
Copyright : Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur

Zat Pemacu Kemasakan (ZPK) TEBU

1. Pengertian Zat Pemacu Kemasakan (ZPK)
    Zat Pemacu Kesehatan (ZPK) pada tebu atau caneripener merupakan suatu
    bahan kimia yang dapat mempercepat kemasakan tebu, yaitu suatu mekanisme
    dimana hasil fotosintesa dalam bentuk sukrosa disimpan dalam tebu. Penggunaan
    ZPK biasanya ditujukan pada tebu yang secara fisiologis belum masak atau
    mengalami penundaan kemasakan akibat berbagai faktor seperti kondisi tanah
    kelebihan air dan kebanyakan pupuk nitrogen (N).
    Percepatan proses kemasakan pada akhirnya akan berdampak terhadap
    rendemen atau perolehan gula. Namun demikian, pemberian ZPK tidak bisa
    meningkatkan rendemen diatas batas optimum yang dihasilkan tebu secara
    alamiah. Bila secara alami suatu varietas tebu memiliki potensi rendemen 10%
    pada umur 12 bulan, maka pemberian ZPK tidak akan menyebabkan rendemen
    menjadi lebih dari 10%. ZPK diperlukan pada saat awal giling, terutama pada
    hamparan tebu dengan komposisi kemasakan kurang baik atau didominasi oleh
    varietas masak tengah dan masak akhir. 
    Pada awal musim giling dibutuhkan tebu masak awal relatif banyak, sementara
    tebu varietas masak awal terbatas. Untuk mengatasi hal tersebut biasanya
    diaplikasikan ZPK. Sebenarnya secara alamiah kemasakan tebu bisa dipercepat
    dengan cara mengeringkan tanah, menurunkan suhu sekitar perakaran,
    membuat tanaman stres (kekurangan) hara atau memperpendek penyinaran
    matahari. Akan tetapi, cara-cara tersebut relatif sulit dilakukan dan perlu waktu
    relatif panjang. Iklim tropika seperti tanah di Indonesia sangat bertentangan
    dengan kondisi yang dibutuhkan untuk proses pemasakan tebu secara alami.
    Alternatif yang paling efektif adalah dengan menggunakan ZPK.
2. Pengaplikasian ZPK
    Efektifitas ZPK tergantung kepada berbagai faktor seperti varietas tebu, jenis dan
    takaran ZPK, dan kondisi lingkungan saat pemberian. Beberapa varietas tebu
    sangat responsif terhadap pemberian ZPK, sementara varietas lainnya kurang
    atau tidak responsif. Varietas yang responsif akan cepat masak dengan
    pemberian ZPK, sebaliknya varietas yang tidak responsif tingkat kemasakan
    sangat sedikit dipengaruhi oleh ZPK. Efek yang ditimbulkan dari pemberian ZPK
    terhadap varietas semacam ini secara ekonomi lebih rendah dibanding dibanding
    harga dan ongkos aplikasi ZPK.
    Suatu ZPK yang efektif digunakan pada suatuvarietas belum tentu efektif
    diaplikasikan pada carietas yang berbeda. Untuk itu suatu orientasi pendahuluan
    dibutuhkan, apabila ingin mengetahui efektifitas suatu ZPK bagi varietas tebu
    tertentu. Secara komersial di Indonesia saat ini beredar 4 jenis ZPK yaitu:
    a. Roundup, dengan bahan aktif isoprophylamine glyphosate
    b. Fusilade super, dengan bahan aktif fluazifop butyl
    c. Touchdown, dengan bahan aktif sulfosate
    d. Moddus, dengan bahan aktif terinexapac ethyl
    Dosis glyphosate, fluazifop, sulfosate dan terinexapac athyl per ha tebu masing-
    masing berkisar antara 250-280 g, 125-150 g, 0,6-0,7 liter dan 0,8-1 liter.
    Umumnya ZPK digunakan secara individu dibeberapa negara produsen utama
    gula seperti Australia dan Brazil, ZPK digunakan dalam bentuk campuran dari
    beberapa jenis. Misalnya Fusilade dicampur dengan ethrel yang berbahan aktif
    ethepon. Dosis ZPK sesuai anjuran diatas dilarutkan kedalam air bersih antara
    40-80 liter per ha, kemudian ditambah surfactan (agral) sebanyak 0,1-0,5%. Jadi
    bila suatu ZPK dilarutkan kedalam 50 liter air, maka jumlah surfactan
    yang ditambahkan sebanyak 50 ml hingga 100 ml.
    Jumlah surfactan untuk ZPK fusilade cukup 0,1%, sedangkan untuk roundup
    sekitar 0,5%. Setelah dicampur kemudian diaduk-aduk hingga semua ZPK larut
    dalam air. Sulfactan akan mempermudah pelarutan ZPK dalam air dan akan
    membantu masuknya ZPK kedalam tanaman tebu. Campuran ZPK, air dan
    surfactan dimasukkan ke dalam sprayer kemudian disemprotkan ke permukaan
    daun tebu secara merata. Karena pada saat penyemprotan ZPK umur tebu diatas
    9 bulan sehingga tanaman tebu relatif tinggi maka penyemprotan ZPK harus
    menggunakan alat semprot yang telah dimodifikasi atau menggunakan pesawat
    terbang kecil (ultralight). Di Jawa Timur, dimana pemilikan areal tebu petani
    relatif sempit dan terpencar, maka penggunaan alat semprot manual (hand
    sprayer) yang telah dimodifikasi tampaknya lebih sesuai. Alat semprot ini
    dilengkapi dengan tangkai panjang (6-7 m) sehingga mampu menyemprotkan
    ZPK dari permukaan tajuk tebu.
    Efektifitas pemberian ZPK tergantung kepada kondisi lingkungan. Secara umum
    pemberian ZPK akan efektif apabila kondisi lingkungan kurang mendukung proses
    pemasakan tebu secara alamiah seperti tanah masih cukup lembab dan
    kebanyakan pupuk nitrogen. Selain itu, beberapa hal yang harus diperhatikan
    dalam pemberian ZPK antara lain:
    a. Tanaman tebu dalam kondisi tegak dan kukuh umur antara 9-10 bulan
    b. ZPK disemprotkan 4-6 minggu sebelum tebu ditebang dengan dosis yang
        sesuai anjuran
    c. Penyemprotan dilakukan pada pagi hari (jam 6-9) agar terhindar dari angin
        kencang
    d. Penyemrpotan merata di seluruh tajuk tanaman
    e. Hingga 6 jam setelah penyemprotan tidak turun hujan. Apabila hujan turun
        sebelum waktu tersebut, maka ZPK yang menempel di daun akan tercuci air
        hujan sehingga penyemprotan harus diulang
     f. Pada saat tebu ditebang, maka bagian tanaman (pucuk) yang dibuang minimal
        diatas daun keempat. Ini karena setelah penyemprotan ZPK, sukrosa hasil
        fotosintesa disimpan kedalam batang tebu bagian atas.
3. Mekanisme Kerja ZPK
    ZPK umumnya menghambat pertumbuhan meristem apikel (titik tumbuh) yang
    menyebabkan penghambatan pertumbuhan vegetatif tebu. Energi gula yang
    sebelumnya digunakan untuk tumbuh dialihkan atau disimpan kedalam batang
    tebu sebagai sukrosa. Glyphosate akan menghambat aktivitas ensim yang terlibat
    dalam sintesa 3 asam amino aromatik (phenilalanin, tripotan dan tirosin) yang
    sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan tebu. Dengan adanya penghambatan
    terhadap enzim tersebut, ketiga asam amino tidak terbentuk sehingga tebu tidak
    bisa tumbuh lagi. Glyphosate juga akan menghambat aktivitas enzim yang
    merombak gula menjadi sumber energi bagi tebu. AKibatnya, gula lebih awet dan
    banyak tersimpan dalam batang tebu.
4. Keuntungan dan Kerugian pemakaian ZPK
    Berdasarkan berbagai laporan, pemberian ZPK bisa meningkatkan rendemen
    antara 0,3 hingga 1,5 poin. Rata-rata keuntungan bersih yang diperoleh pada
    penyemprotan ZPK yang efektif berkisar antara 1 hingga 2,5 juta rupiah per ha.
    Akan tetapi beberapa laporan menyebabkan bahwa penggunaan ZPK dapat
    menghambat pertumbuhan tanaman tebu keprasan. Ini karena efek ZPK dalam
    menghambat tunas masih terbawa hingga tanaman keprasan. Umumnya efek
    negatif fusilade terhadap keprasan lebih ekcil dibanding Glyphosate.
    Di beberapa negara, penggunaan ZPK hanya diizinkan pada tanaman keprasan
    terakhir, dimana pada tahun berikutnya diganti tanaman baru. Tebu yang
    disemprot ZPK pucuknya tidak bisa dipakai sebagai bibit atau bahan tanam,
    karena presentase pertumbuhan perkecambahan dari pucuk yang disemprot ZPK
    sangat rendah. Lebih jauh, beberapa laporan menyebutkan bahwa residu ZPK
    yang terbawa kelingkungan sekitar seperti air dan tanah bisa mengganggu
    keseimbangan alam dan mencemari lingkungan. Untuk itu, berkonsultasilah pada
    pihak-pihak tertentu terutama Dinas Perkebunan atau Dinas yang membidangi
    perkebunan setempat guna pemahaman yang lebih luas dan benar mengenai
    penggunaan ZPK.
Copyright : Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur

Jambu Mete (Anacardium occidentale L.)

Jambu mete merupakan tanaman buah berupa pohon yang berasal dari Brazil Tenggara. Tanaman ini dibawa oleh pelaut Portugis ke India 425 tahun yang lalu, kemudian menyebar ke daerah tropis dan subtropis lainnya seperti Bahama, Senegal, Kenya, Madagaskar, Mozambik, Srilangka,Thailand, Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Diantara sekian banyak negara produsen, Brazil, Kenya dan India merupakan negara pemasok utama jambu mete dunia.
Jambu mete tersebar diseluruh nusantara dengan nama berbeda-beda. Di Sumatera Barat (jambu erang/jambu monyet), di Lampung (gayu), di Jawa Barat (jambu mede), di Jawa Tengah dan Jawa Timur (jambu monyet), di Bali (jambu jipang/jambu dwipa) dan di Sulawesi Utara (buah yaki). Jambu mete mempunyai puluhan varietas, diantaranya ada yang berkulit putih, merah, merah muda, kuning, hijau kekuningan dan hijau.
Tanaman jambu mete merupakan komoditi ekspor yang banyak manfaatnya, mulai dari akar, batang, daun dan buahnya. Selain itu juga biji mete (kacang mete) dapat digoreng untuk makanan bergizi tinggi. Buah mete semu dapat diolah menjadi beberapa bentuk olahan seperti sari buah mete, anggur mete, manisan kering, selai mete, buah kalengan, dan jem jambu mete.
“ Manfaat Jambu Mete “
Kulit kayu jambu mete mengandung cairan berwarna coklat, apabila terkena udara, cairan tersebut berubah menjadi hitam. Cairan ini dapat digunakan untuk bahan tinta, bahan pencelup, atau bahan perwarna. Selain itu, kulit batang pohon jambu mete juga berkhasiat sebagai obat kumur atau obat sariawan. Batang pohon mete menghasilkan gum atau blendok untuk bahan perekat buku. Selain daya rekatnya baik, gum juga berfungsi sebagai anti ngengat yang sering menggerogoti buku.
Akar jambu mete berkhasiat sebagai pencuci perut. Daun jambu mete yang masih muda dimanfaatkan sebagai lalap, terutama di daerah Jawa Barat. Daun yang tua dapat digunakan untuk obat luka bakar.
“ Daerah Tumbuh “
Tanaman jambu mete banyak tumbuh di Jawa Tengah (Jepara dan Wonogiri), Jawa Timur (Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pasuruan dan Ponorogo), dan di Yogyakarta (Gunung Kidul, Bantul dan Sleman). Diluar pulau Jawa, jambu mete banyak ditanami di Bali (Karangasem), Sulawesi Selatan (Kepulauan Pangkajene, Sidenreng, Soppeng, Wajo, Maros, Sinjai, Bone, dan Barru), Sulawesi Tenggara (Muna), dan NTB (Sumbawa Besar, Dompu dan Bima).
“ Syarat Tumbuh “
* Iklim
1. Tanaman jambu mete sangat menyukai sinar matahari. Apabila tanaman jambu mete kekurangan sinar matahari, maka produktivitasnya akan menurun atau tidak akan berubah bila dinaungi tanaman lain.
2. Suhu harian di sentra penghasil jambu mete minimum antara 15-25 derajat celcius dan maksimum antara 25-35 derajat celcius. Tanaman ini akan tumbuh baik dan produktif bila ditanam pada suhu harian rata-rata 27 derajat celcius.
3. Jambu mete paling cocok dibudidayakan di daerah-daerah dengan kelembapan nisbi antara 70-80%. Akan tetapi tanaman jambu mete masih dapat bertoleransi pada tingkat kelembapan 60-70%.
4. Angin kurang berperan dalam proses penyerbukan putik tanaman jambu mete. Dalam penyerbukan bunga jambu mete, yang lebih berperan adalah serangga karena serbuk sari jambu mete pekat dan berbau sangat harum.
5. Daerah yang paling sesuai untuk budidaya jambu mete ialah di daerah yang mempunyai jumlah curah hujan antara 1.000-2.000 mm/tahun dengan 4-6 bulan kering (<60 mm).
* Media Tanam
1. Jenis tanah paling cocok untuk pertanaman jambu mete adalah tanah berpasir, tanah lempung berpasir dan tanah ringan berpasir.
2. Jambu mete paling cocok ditanam pada tanah dengan pH antara 6,3-7,3, tetapi masih sesuai pada pH antara 5,5-6,3.
* Ketinggian Tempat
Di Indonesia tanaman jambu mete dapat tumbuh di ketinggian tempat 1-1.200 m dpl. Batas optimum ketinggian tempat sampai 700 m dpl, kecuali untuk tujuan rehabilitasi tanah kritis.
“ Varietas Jambu Mete Unggul “
Saat ini telah dikenal beberapa varietas jambu mete unggul yang telah dikembangkan. Varietas GG-1 memiliki umur 5 tahun dengan potensi produksi 6-8 kg/pohon; PK-36 umur 5 tahun potensi produksi 6-8 kg/pohon; MR-851 umur 5 tahun potensi 6-8 kg/pohon; B-02 umur 11 tahun potensi 12,15 kg/pohon, SM-9 umur 11 tahun potensi 11,76 kg/pohon; Meteor YK umur 46 tahun potensinya 15,6 kg/pohon; MPF-1 umur 30 tahun potensi 19,8-33,5 kg/pohon: MPE-1 umur 30 tahun potensi 12,3-37,4 kg/pohon.
copyright : Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur

Cengkeh (Syzygium aromaticum)

Cengkeh termasuk jenis tmbuhan perdu yang dapat memiliki batang pohon besar dan berkayu keras. Cengkeh mampu bertahan hidup puluhan bahkan sampai ratusan tahun, tingginya dapat mencapai 20-30 meter dan cabang-cabangnya cukup lebat. Cabang-cabang dari tumbuhan cengkeh tersebut pada umumnya panjang dan dipenuhi oleh ranting-ranting kecil yang mudah patah. Mahkota atau juga lazim disebut tajuk pohon cengkeh berbentuk kerucut.
Daun cengkeh berwarna hijau berbentuk bulat telur memanjang dengan bagian ujung dan pangkalnya menyudut, rata-rata mempunyai ukuran lebar berkisar 2-3 cm dan panjang daun tanpa tankai berkisar 7,5-12,5 cm. Bunga dan buah cengkeh akan muncul pada ujung ranting daun dengan tangkai pendek serta bertandan. Pada saat masih muda bunga cengkeh berwarna keungu-unguan, kemudian berubah menjadi kuning kehijau-hijauan dan berubah lagi menjadi merah muda apabila sudah tua. Sedang bunga cengkeh kering akan berwarna coklat kehitaman dan berasa pedas sebab mengandung minyak atsiri.
Umumnya cengkeh pertama kali berbuah pada umur 4-7 tahun. Tumbuhan cengkeh akan tumbuh dengan baik apabila cukup air dan mendapat sinar matahari langsung. Di Indonesia, cengkeh cocok ditanam baik di daerah daratan rendah dekat pantai maupun di pegunungan pada ketinggian 900 meter diatas permukaan laut.
Bunga cengkeh selain mengandung minyak atsiri, juga mengandung senyawa kimia yang disebut eugenol, asam oleanolat, asam galotanat, fenilin, karyofilin, resin dan gom.
Berikut adalah nama-nama lokal cengkeh:
‘ Clove (Inggris)
‘ Cengkeh (Indonesia, Jawa, Sunda)
‘ Wunga Lawang (Bali)
‘ Cangkih (Lampung)
‘ Sake (Nias)
‘ Bugeu Lawang (Gayo)
‘ Cengke (Bugis)
‘ Sinke (Flores)
‘ Canke (Ujung Pandang)
‘ Gomode (Halmahera, Tidore)

Rekomendasi Pemupukan Padi Sawah

Pendahuluan
Untuk menyukseskan program peningkatan produksi padi sawah di Sulawesi Tenggara, acuan pemupukan spesifik lokasi sangat diperlukan.  Produktivitas  padi sawah di tingkat petani baru mencapai 3,46 t/ha GKG (BPS Sultra, 2002). Masih rendahnya   produktivitas padi sawah di antaranya disebabkan oleh kurangnya ketersediaan hara dalam tanah (Sudaryono, 1994 ; Suyamto, 1994). Unsur hara yang diperlukan oleh tanaman padi sawah dapat diberikan melalui pemupukan. nitrogen (N), posfor (P), dan kalium (K) merupakan hara yang paling banyak dibutuhkan tanaman padi sawah dibanding hara lainnya.
Hara N, P dan K yang ditambahkan ke dalam  tanah harus dalam jumlah yang tepat. Jenis tanah, tingkat ketersediaan hara dalam tanah, kondisi iklim, varietas padi sawah yang ditanam dan cara pemberian pupuk akan sangat menentukan ketetapan jenis dan dosis pupuk yang harus ditambahkan. Untuk menghasilkan padi sawah sebanyak 3 t/ha, dibutuhkan hara sekitar 54 kg N, 60 kg P2O5 dan 55 kg K2O/ha/musim (Djaenuddin et al., 2000). Sebagai pembanding, hasil penelitian Idris et al. (2002) menunjukkan bahwa pemupukan 90 kg N, 72 kg P2O5 dan 50 kg K2O/ha/musim menghasilkan gabah kering giling (GKG) + 5,4 t/ha/musim. Kelebihan atau kekurangan hara tersebut akan mempengaruhi efisiensi hara akibat terganggunya absorbsi hara dalam tanah dan metabolisme tanaman. Disamping itu, kelebihan hara juga dapat merusak lingkungan, memicu timbulnya kekahatan hara yang lain.  Sentra produksi padi sawah di Sultra memiliki agroekologi yang beragam. Oleh karena itu acuan pemupukan spesifik lokasi sangat diperlukan agar pemberian pupuk mencapai tingkat efisiensi yang tinggi.
 
Gejala Kekurangan N
Kekurangan N dapat menyebabkan daun menjadi hijau kekuningan sampai menguning seluruhnya, pertumbuhan tanaman lambat dan kerdil, dan pada gejala yang lebih berat lagi daun menjadi kering mulai dari bagian bawah terus kebagian atas.
 
Gejala Kekurangan P
Kekurangan  P dapat menyebabkan keadaan perakaran tanaman berkurang dan tidak berkembang. Dalam keadaan kekurangan P yang parah, daun, cabang, dan batang berwarna ungu. Hasil tanaman menurun.
 
Gejala Kekurangan K
Kekurangan K menyebabkan pertumbuhan tanaman lambat dan kerdil. Daun sebelah bawah terbakar  pada tepi dan ujungnya, kemudain berjatuhan sebelum waktunya. Tanaman mudah patah dan rebah. Daun mula-mula mengkerut dan mengkilap, selanjutnya pada bagian ujung dan tepi daun mulai terlihat warna kening-kuningan yang menjalar di antara tulang daun. Kemudian tampak bercak-bercak merah coklat dan akhirnya daun mati.
 
Cara Pemberian Pupuk
Yang perlu diperhatikan untuk mengurangi penurunan ketersediaan pupuk adalah waktu dan cara pemberian pupuk. Pemberian pupuk yang tepat selama pertumbuhan tanaman Padi sawah dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk. Sifat pupuk N umumnya mudah larut dalam air sehingga mudah hilang, baik melalui pencucian maupun penguapan. Untuk mengurangi kehilangan N, pupuk N sebaiknya diberikan secara bertahap, yaitu 1/2 bagian dosis pupuk N serta seluruh dosis pupuk P dan K diberikan pada awal tanam, sedangkan       1/2  dosis pupuk N  diberikan pada umur 40 hari setelah tanam. Cara pemberian pupuk yang baik adalah dengan jalan menabur secara merata dipermukaan tanah/sawah  dengan kondisi air + 5 cm.    Penyusunan acuan rekomendasi pemupukan padi sawah didasarkan hasil-hasil analisa tanah dan hasil penelitian pemupukan padi sawah oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanaian Sultra dan Balai lainnya.
Penentuan rekomendasi pemupukan didasarkan atas status hara tanah dan kebutuhan tanaman. Filosopinya adalah pada tanah dengan status hara yang rendah, respon pemupukan sangat tinggi, status sedang sedikit respon dan pada status hara tinggi tanaman tidak respon lagi. Artinya, pada tanah yang berstatus hara tinggi pemberian pupuk tidak mempengaruhi produksi, status sedang mempengaruhi produksi dan pada status rendah nyata mempengaruhi produksi.
Acuan dosis rekomendasi disajikan dalam bentuk unsur hara, sehingga dapat menggunakan jenis pupuk apa saja yang tersedia di pasaran, asalkan kandungan haranya sesuai dengan kebutuhan dalam acuan ini. Acuan rekomendasi pemupukan masing-masing sentra pengembangan padi sawah disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Acuan dosis pupuk N, P dan K spesifik lokasi untuk  tanaman Padi sawah. 
 
No.
Kecamatan
Dosis Pupuk (kg/ha)
N *)
P2O5
K2O
1
Mowewe
Horodopi
-128
2180
505
Inebenggi
-128
720
125
Waitombo
-122
220
125
2
Abuki
Alosika
-63
70
145
Padangguni
-25
130
125
Asolu
-61
210
-115
Mekarsari
-107
90
45
3
Lambuya
Tawa molawe
-113
30
-55
Tanggobu
-103
-10
5
Lambuya
-83
-10
5
Ameroro
-95
-70
125
4
Lainea
Punggaluku
-103
10
105
Ambolanggadue
99
150
65
5
Ladongi
Atula
-109
10
285
Welala
-109
-10
125
6.
Wondulako
Bende
-101
290
45
Trandat
-97
90
-15
7.
Bungi
-41
50
165
8.
Landono
-79
-30
-95
9.
Wawotobi
-101
-70
45
 
Keterangan :*) diberikan 2 kali (½ dosis pada saat tanam dan ½ dosis sisanya pada umur 40 hst)  ; (-) belum ada hasil analisa tanah; Angka negatif = kekurangan yang perlu ditambah; Angka positif  =  kelebihan yang tersimpan di tanah; Tahun berikutnya = status hara yang ada – kebutuhan tanaman
DAFTAR PUSTAKA 
Badan Pusat Statistik Propinsi Sultra. 2002. Sulawesi Tenggara dalam Angka 2001.
Idris, Suharno, dan Sahardi. 2002. Kajian Peningkatan Produksi Padi sawah di Sulawesi Tenggara. Laporan hasil Penelitian BPTP Sulawesi Tenggara, tahun 2002.
Djaenuddin, D., Marwan H., Subagyo, Anny Mulayani, dan N. Suharta. 2000. Kriteria Kesesuaian  Lahan untuk Komoditas Pertanian. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Sudaryono, 1994. Rakitan teknologi budidaya padi sawah pada lahan kering di Sulawesi Tenggara.
Suyamto,  1994.  Perbaikan sistem usaha tani berbasis padi sawah pada lahan kering di Sulawesi Tenggara

Sejarah Perkembangan Buah Apel

Apel adalah tanaman yang berasal dari daerah subtropis. Kemudian tanaman ini mulai di budidayakan ke daerah tropik. Mulanya tanaman apel banyak tumbuh di Peru, kemudian beberapa negara mulai membudidayakan seperti Amerika, Austria, dan Jepang. Di Indonesia tanaman apel dibudidayakan di Kabupaten Malang (Batu dan Poncokusumo) dan Pasuruan (Nongkojajar) Jawa Timur. Tanaman apel dibawa oleh orang Belanda ke Indonesia.
Di Indonesia tanaman apel mulai diusahakan petani pada tahun 1950, dan pada tahun 1960 tanaman tersebut mulai berkembang dengan pesat. Buah Apel mempunyai bentuk bulat sampai lonjong bagian pucuk buah berlekuk dangkal, kulit agak kasar dan tebal, pori-pori buah kasar dan renggang, tetapi setelah tua menjadi halus dan mengkilat. Warna buah hijau kemerah-merahan, hijau kekuning-kuningan, hijau berbintik-bintik, merah tua dan sebagainya sesuai dengan varietas.
Karakteristik buah apel dapat dinilai menurut :
  • Nilai fisik : Kekerasan, berat jenis, dan mudahnya lepas dari tangkainya.
  • Nilai visual : Warna kulit dan ukuran
  • Analisis Kimia : Kadar vitamin, Kadar pati dan asam
  • Metode fisiologi : Respirasi.
  • Kandungan dari buah apel antara lain : vitamin A 2%, vitamin C 11,42 mg/100 gram, besi 2%, air 83,39%, karbohidrat : 7%, mempunyai rasa manis dan sedikit asam untuk buah segarnya.
Buah apel lebih tahan lama daripada buah-buahan lainnya. Buah apel yang telah disimpan memiliki rasa yang enak, daripada pada saat dipetik. Buah apel setelah dipetik tetap mengalami pernafasan dan penguapan, maka apabila dibiarkan buah akan masak, kelewat masak, dan akan membusuk. Buah apel yang disimpan di dalam kamar pendingin dapat tetap segar selama 4 – 7 bulan. Pada suhu 32 – 33 (0 sampai 6). Buah apel tidak boleh disimpan  bersama-sama dengan bahan-bahan lain yang mempunyai bau kuat, misalnya bawang, minyak tanah, dan sebagainya, karena buah apel dapat mengabsorbsi bau.

Asal Mula Tanaman Anggur (Vitis vinivera)

Buah anggur berasal dari kawasan selatan antara Laut Kaspia dan Laut Hitam di Asia Kecil. Kemudian dibudidayakan orang ke daerah tropik dan selanjutnya menyebar pula ke daerah subtropik. Di daerah ini, anggur malah memperoleh lingkungan yang lebih mendukung sehingga produksi dunia sekarang berasal dai negara-negara subtropik, seperti Spanyol, Australia Selatan, Belanda, Inggris, Amerika, dan sebagainya.
Jenis anggur cukup banyak dan setiap jenis mempunyai kegunaan yang khas, karena itu usaha tani anggur juga memiliki tujuan yang berbeda, di antaranya anggur untuk buah meja, minuman (wine), kismis dan sari buah anggur. Anggur yang digunakan untuk buah meja yaitu buah yang memiliki ukuran besar, rasanya manis dan segar, dan tidak mudah lepas dari dompolannya. Jenis anggur yang penting adalah Vitis dan Muscadin. Muscadin memiliki kulit batang yang melekat, dompolan buahnya kecil dan bila buah masak ia mudah rontok. Vitis memiliki ciri-ciri yaitu mempunyai alat pemanjat yang kuat, kulit kayunya mengelupas, dompolan buahnya besar dan buah menempel kuat serta tidak mudah rontok bila masak.
Ciri-ciri buah anggur (Vitis vinifera) yang bermutu baik yaitu:
  • Dompolan buah tumbuh sempurna, cukup kuat dengan tangkai, usuran buah dalam dompolam seragam.
  • Butiran buah gemuk (besar), kulit agak keras, berwarna merah atau hijau bergantung varietasnya, ada yang bulat, bulat telur, jorong, jorong kesamping atau memanjang.
  • Rasa buahnya manis dan segar. Buah anggur merupakan buah yang perishable sehingga umur simpannya relatif singkat.
Umur simpan buah anggur yaitu selama 4-8 minggu dengan suhu penyimpanan dari -1 sampai 4. Pengemasan buah dilakukan dengan membungkus buah menggunakan kantong-kantong plastik dan dilubangi untuk memberikan ventilasi, yaitu sebesar 1/4 – 1/8 inci untuk memugkinkan cukup . dan menghindari kerusakan oleh akumulasi .