DADAP SEREP DAN DADAP AYAM

Nenek penulis jaman dulu sering menggunakan daun dadap serep sebagai salah satu bahan ramuan jamu jawa. Selain gulungan daun sirih bisa juga menggunakan gululungan daun dadap untuk menghentikan perdarahan di hidung (mimisan).

Kebiasaan di jaman dahulu dadap serep (Erythrina lithosperma Miq. non B1) menjadi salah satu ”tanaman ”wajib” di pedesaan yang kerap digunakan sebagai pagar hidup dan pohon peneduh. Di perkotaanpun bahkan masih bisa dijumpai, walaupun keguanaan sebagai obat herbal tidak begitu banyak mengetahuinya. Ia memiliki kerabat dekat bernama dadap ayam (Erythrina lithosperma B1). Keduanya termasuk anggota keluarga Papillionaceae (Leguminosae) dari suku Fabaceae dan telah lama dikenal sebagai tanaman obat khas Indo-nesia.

Pohon dadap ini memiliki banyak sebutan yang lain. Di antaranya dadap ayam, dadap laut (Jw.; dadap blendung (Sd.); theutheuk (Md.); dalungdung (Bal.); deris (Timor); galala itam (Maluku) dan lain-lain. Juga dapdap, andorogat (Fil.); th’ong banz (Laos (Sino-Tibetan)); thong baan, thong laang laai, thong phueak (Thai); penglay-kathit (Burma); Indian coral tree, variegated coral tree, tiger’s claw (Ingg.); arbre au corail, arbre immortel (Fr.) dan lain-lain.

Pohon yang berukuran sedang, mencapai tinggi 15–20 m dan gemang 50–60 cm. Bagian kulit batang yang masih muda dan halus bergaris-garis vertikal hijau, abu-abu, coklat muda atau keputihan; batang biasanya dengan duri-duri tempel kecil (1–2 mm) yang berwarna hitam. Tajuknya serupa payung atau membulat renggang, menggugurkan daun di musim kemarau.

Daun majemuk beranak daun tiga, hijau hingga hijau muda, poros daun dengan tangkai panjang 10–40 cm. Anak daun bundar telur terbalik, segitiga, hingga bentuk belah ketupat dengan ujung tumpul; anak daun ujung yang terbesar ukurannya, 9-25 × 10-30 cm.

Bunga-bunga tersusun dalam tandan berbentuk kerucut, di samping atau di ujung ranting yang gundul, biasanya muncul tatkala daun berguguran, menarik banyak burung berdatangan untuk menyerbukinya. Mahkota berwarna merah jingga hingga merah gelap; benderanya 5,5-8 × 8 cm, berkuku pendek, tidak bergaris putih. Polong tebal dan berwarna gelap, menyempit di antara biji-biji, 15-20 cm × 1.5-2 cm, berisi 5-10 butir biji berbentuk telur, coklat, merah atau ungu mengkilap. Bunga dadap ini biasanya sering dikunjungi burung madu sejenis Sriganti yang menghisap nektarnya.

Dadap Ayam
Bagaimana dengan dadap ayam? Sebetulnya selain pohon Dadap Serep dan Dadap Ayam ini masih terdapat satu jenis lagi yaitu pohon Dadap Merah. Pohon Dadap merah ini lebih eksotis dari sisi penampilan, baik dari struktur batangnya maupun bunganya yang tentu saja berwarna merah terang. Tetapi kali ini penulis hanya akan membicarakan Dadap serep dan sedikit tentang Dadap Ayam. Dadap Ayam ini dari segi ukuran, tanaman terlihat lebih super ketimbang dadap serep. Tingginya bisa mencapai 25 meter. Batangnya berkayu, berduri tempel, warna hijau keputihan.

Menurut referensi Tanaman Obat Indonesia (iptek.net.id), bagian tanaman dadap ayam yang digunakan adalah daun, kulit kayu, akar, dan biji. Karak-teristiknya mirip dengan dadap serep, yaitu memiliki sifat khas pahit, mendinginkan, dan membersihkan darah.

Kulit kayunya biasa dimanfaatkan untuk menyembuhkan asma, demam, sakit hati, rematik, dan patah tulang. Untuk mengatasi haid tidak teratur, raciklah beberapa helai daun, buah, dan bunga tanaman ini. Anda cukup mengolahnya sebagai sayuran dan dimakan dengan nasi.

Kalau untuk melancarkan ASI, daun dadap ayam dicampur santan secukupnya, lalu dibuat sayuran.

Manfaat
Dadap kerap dipakai sebagai pohon peneduh di kebun-kebun kopi dan kakao, atau pohon rambatan bagi tanaman lada, sirih, panili, atau umbi gadung. Juga baik digunakan sebagai tiang-tiang pagar hidup. Di wilayah Pasifik, dadap dimanfaatkan sebagai penahan angin.

Tanaman ini menghasilkan kayu ringan (BJ 0,2-0,3), lunak dan berwarna putih, yang baik untuk membuat pelampung, peti-peti pengemas, pigura, dan mainan anak. Kayunya juga merupakan bahan pulp, namun kurang baik digunakan sebagai kayu api karena banyak berasap.

Untuk dadap serep, bagian tanaman yang bisa digunakan pengobatan hanya daun dan kulit kayunya. Daunnya mengandung alkaloid, eritradina, eritrina, eritramina, hipaforina dan erisovina, yang memiliki sifat khas pahit, mendinginkan, dan membersihkan darah.

Dengan kandungan kimia itu, daun dadap serep memiliki khasiat sebagai antipiretik dan antiinflamasi. Kulit kayu-nya berkhasiat sebagai ekspektoran.

Sariawan Perut
Bagian daun dapat digunakan untuk menyembuhkan demam, sariawan perut, mencegah keguguran, nifas, perdarahan bagian dalam, sakit perut, dan mempe-lancar ASI. Sementara kulit kayu digunakan sebagai obat batuk dan sariawan perut.
Untuk mengatasi sariawan perut, ambillah 3 gram kulit kayu dadap serep, 3 gram sidowayah, 4 gram daun prasman segar, 4 gram akar manis, 4 gram daun china, dan 110 ml air. Ramuan itu dibuat infus atau diseduh, diminum se-banyak 100 ml (sekali/hari) selama dua minggu.

Untuk perdarahan/peradangan bagian dalam, ambillah daun dadap serep segar dan air secukupnya, kemudian dipipis hingga berbentuk pasta. Balurkan pasta pada bagian yang mengalami pendarahan bagian dalam. Tindakan itu diperbarui setiap tiga jam sekali.
Kalau mengalami gangguan sakit perut, misalnya mulas dan tinja berdarah atau berlendir, Anda bisa memanfaatkan daun dadap serep. Buatlah tapel dari daun dadap serep, daun sosor bebek, dan air secukupnya. Ramuan dipipis hingga berbentuk pasta. Balurkan pada perut, dan diperbarui setiap tiga jam sekali.

Daun-daun dadap yang muda dapat digunakan sebagai sayuran. Daun-daun ini berkhasiat membanyakkan susu ibu, membuat tidur lebih nyenyak, dan bersama dengan bunganya untuk melancarkan haid. Cairan sari daun yang dicampur madu diminum untuk mengobati cacingan; sari daun dadap yang dicampur minyak jarak (kasteroli) digunakan untuk menyembuhkan disentri. Daun dadap yang dipanaskan digunakan sebagai tapal untuk meringankan rematik. Pepagan (kulit batang) dadap memiliki khasiat sebagai pencahar, peluruh kencing dan pengencer dahak. Bijinya agaknya beracun jadi jarang digunakan sebagai obat dalam.

Memiliki kandungan protein (dan nitrogen) yang tinggi, daun-daun dadap juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau untuk pupuk hijau. Sebatang pohon dadap yang berukuran sedang, yang dipangkas 3-4 kali setahun, dapat menghasilkan 15-50 kg hijauan pakan ternak dalam setahunnya. Sejauh ini, daun-daun dadap diketahui tidak bersifat racun (toksik) bagi ternak ruminansia. Perakaran dadap bersimbiosis dengan bakteri Bradyrhizobium mengikat nitrogen dari udara, dan meningkatkan kesuburan tanah.

Komposisi kimia:
Alkaloid, eritradina, eritrina, eritramina, hipaforina, dan erisovina.

Ekologi
Dadap menyebar secara alami di pantai dan daerah-daerah di belakangnya, terutama di dekat-dekat muara sungai. Pohon ini tumbuh baik di daerah lembab dan setengah kering, dengan curah hujan 800 – 1500 mm pertahun dan 5-6 bulan basah. Ditanam untuk pelbagai keperluan, dadap sering dijumpai mulai dari wilayah pesisir hingga elevasi sekitar 1500 m dpl. Meskipun mampu hidup pada pelbagai keadaan tanah, dadap menyukai tanah-tanah yang dalam, sedikit berpasir, dan berdrainase baik. Dadap mampu tumbuh pada tanah-tanah bergaram, tanah yang terendam air secara berkala, dan tanah kapur berkarang. Kisaran pH tanah antara 4.5 – 8.0.

Perbanyakan
Perbanyakan dapat dilakukan melalui biji atau stek besar. Biji-biji hendaknya direndam dalam air hangat (80 °C) selama 10 menit, dilanjutkan dengan air biasa hingga semalam, sebelum kemudian ditebarkan di persemaian. Biji akan berkecambah setelah 8-10 hari, dan tumbuh cepat mencapai tinggi 30-50 cm dalam waktu 8-10 minggu.
Stek besar, dengan panjang 2-3 m dan diameter 2-5 cm, didiamkan sekurangnya 24 jam sebelum ditanam, agar tidak mudah diserang jamur. Lebih baik jika ditanam dalam kondisi agak kering. Untuk tiang-tiang pagar, dipakai stek yang lebih besar lagi, dengan diameter hingga 15 cm dan perlu didiamkan (disimpan tegak berdiri) sekitar seminggu sebelum ditanam. Calon tiang ini ditanam pada jarak sekitar 2 m. Untuk peneduh, dadap biasa ditanam pada jarak 8 x 10 m.

Persebaran

Dadap merupakan penghuni asli hutan-hutan pantai, mulai dari Afrika Timur, India, Asia Tenggara, Kepulauan Nusantara hingga Australia.

BLACAN DAN SAUDARANYA

Berbicara mengenai kucing hutan, penulis sangat tertarik dengan Leopard Cat alias Blacan dan Fishing Cat alias Kucing Bakau, untuk itu mari kita kupas kedua jenis kucing tersebut:

1.Kucing Hutan atau Leopard Cat (Prionailurus bengalensis)

Di Jawa daerahku sering disebut Blacan dan dalam bahasa latin (ilmiah) dinamakan bengalensis, merupakan salah satu spesies kucing liar yang dilindungi di Indonesia. Penulis dulu waktu kecil pernah memelihara anak Blacan yang lucu dan suka mengikuti kemana kita pergi. Namun kalau sedang “diumbar” sering makan anak ayam Bangkok, dan habis itu sama ayahku sering dipukuli, maka karena kasian si Blacan kecil aku lepaskan kembali ke hutan di sekitar lereng pegunungan “So” semoga saja sehat dan dapat beranak-pianak sampai sekarang.

Kucing hutan atau Prionailurus bengalensis, dalam bahasa Inggris disebut sebagai leopard cat lantaran bulunya yang bertotol-totol menyerupai corak kulit macan tutul (leopard) meskipun secara taksonomi keduanya berbeda genus. Kucing hutan bergenus Prionailurus sedang genus macan tutul adalah Panthera.

Saat ini Blacan sulit ditemui karena habitatnya yang sudah tergusur oleh aktifitas manusia. Habitat Blacan bervariasi, meliputi hutan tropis, semak belukar, hutan pinus, semi-gurun, daerah pertanian, hingga daerah bersalju tipis. Kucing yang dilindungi ini mampu hidup dihabitat dengan ketinggian mencapai 3.000 mdpl.

Blacan ini mempunyai daerah sebaran yang luas meliputi India, Afghanistan, Nepal, Pakistan, Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Cambodia, Thailand, Vietnam, Myanmar, Pilipina, Laos, Malaysia, Singapura, Indonesia (Jawa, Kalimantan, Sumatera), hingga ke Jepang, Korea Selatan, Korea Utara, Rusia, Taiwan, China, dan Hong Kong.

Anatomi

Tubuh Blacan dewasa kurang lebih sama ukurannya dengan kucing biasa, sedangkan warna bulu kucing hutan bervariatif menurut daerah hidupnya. Di saerah selatan termasuk Indonesia cenderung berwarna dasar kuning kecoklatan, tetapi di daerah utara (seperti Rusia dan Jepang) didominasi warna abu-abu-silver. Bulunya halus dan pendek. Warna dasar (kuning kecoklatan atau abu-abu silver) diselingi pola belang-belang hitam dari bagian kepala sampai tengkuk. Sedangkan bulu di daerah bertotol-totol hitam. Pola bulunya yang bertotol-totol ini membuat kucing hutan ini dikenal sebagai leopard cat (kucing macan tutul).

Blacan ini merupakan binatang nokturnal yang lebih banyak beraktifitas di malam hari termasuk untuk berburu mangsa seperti burung, tikus, bajing, tupai, serangga, ampibi, kelinci, kancil dan binatang kecil lainnya.

Binatang carnivora ini seperti berbagai jenis kucing lainnya merupakan binatang yang sangat pandai memanjat. Bahkan, meski jarang melakukannya, kucing hutan mempunyai kemampuan yang baik dalam berenang.

Subspesies Kucing Hutan. Kucing hutan dulunya dimasukkan dalam genus Felis, bahkan di PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, kucing hutan masih ditulis dengan nama ilmiah Felis bengalensis.

Kucing hutan (P. bengalensis) terdiri atas dua subspesies yaitu P. b. bengalensis dan P. b. iriomotensis. Namun Berdasarkan analisis morfologi, Groves (1997) menyarankan untuk membaginya kembali dalam beberapa spesies berbeda sesuai dengan asal daerah atau pulau kucing hutan tersebut.

Beberapa sunspesies tersebut antara lain; Prionailurus bengalensis alleni (China), Prionailurus bengalensis bengalensis (India, Bangladesh, Asia Tenggara daratan, Yunnan), Prionailurus bengalensis borneoensis (Borneo), Prionailurus bengalensis chinensis (China, Taiwan, Filipina), Prionailurus bengalensis euptailurus (Siberia, Mongolia), P.b. heaneyi (Pulau Palawan, Filipina), Prionailurus bengalensis horsfieldi (Himalaya), Prionailurus bengalensis javanensis (Jawa, Indonesia), Prionailurus bengalensis rabori (Filipina), Prionailurus bengalensis sumatranus (Sumatra, Indonesia), Prionailurus bengalensis trevelyani (Pakistan), dan Prionailurus bengalensis iriomotensis (Jepang).

Konservasi Kucing Hutan. Kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dikategorikan dalam status konservasi Least Concern (Resiko Rendah) oleh IUCN Redlist kecuali untuk subspesies P. b. iriomotensis yang berstatuskan Endangered (Terancam).

Sedangkan oleh CITES, kucing hutan didaftar dalam Apendiks II keculai untuk kucing hutan dari populasi di Bangladesh, India dan Thailand yang dimasukkan dalam daftar Apendiks I. Di berbagai negara, kucing liar bermotif mirif macan tutul ini pun dilindungi oleh hukum negara masing-masing termasuk di Indonesia yang memasukkan binatang ini dalam daftar satwa yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.

Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mamalia; Ordo: Carnivora; Famili: Felidae; Genus: Prionailurus; Spesies: P. bengalensis; Nama binomial Prionailurus bengalensis ( Kerr , 1792).

2.Kucing Bakau atau Fishing Cat (Prionailurus viverrinus)

Kucing bakau atau Fishing Cat (Prionailurus viverrinus) ternyata bisa menyelam ke dalam air untuk menangkap mangsanya. Sesuai namanya, kucing bakau di Indonesia sering dijumpai di daerah hutan bakau.

Dalam bahasa Inggris kucing bakau juga dinamai Fishing Cat. Ini merujuk pada kegemarannya dalam berburu ikan sebagai makanan utamanya. Di mana dalam berburu, kucing bakau sering menyambar ikan-ikan yang berada di perairan dangkal bahkan sesekali dengan berenang dan menyelam ke dalam air.

Ciri dan Kebiasaan. Kucing bakau yang mempunyai nama latin Prionailurus viverrinus mempunyai ukuran sekitar dua kali lipat besarnya dibanding kucing domestik (Felis catus). Panjang tubuhnya mencapai 57-78 cm dengan ekor sepanjang 20-30 cm dan berat mencapai 5-16 kg.

Bulu kucing bakau (Fishing Cat) berwarna abu-abu hijau zaitun dengan pola totol hitam yang membentuk garis membujur di sepanjang tubuh. Bulu bagian bawah berwarna putih dan bagian belakang telinga berwarna hitam. Sesuai dengan habitat yang didiaminya, jari-jari kucing bakau memiliki semacam selaput. Selaput ini mendukung kemampuan berenang dan menyelam kucing bakau.

Makanan utama kucing bakau adalah berbagai jenis ikan. Selain itu kucing bakau atau Fishing Cat (Prionailurus viverrinus) juga memangsa hewan air lainnya seperti katak, unggas air, dan udang, serta binatang darat seperti tikus, burung, ular, dan bahkan anak rusa.

Daerah Persebaran dan Habitat. Kucing bakau atau Fishing Cat (Prionailurus viverrinus) tersebar di Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Daerah sebarannya mulai dari Bangladesh, Bhutan, Kambodia, India, Indonesia, Laos, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia, kucing bakau dapat dijumpai di Jawa mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, meskipun hanya pada lokasi-lokasi tertentu.

Habitat kucing bakau adalah daerah-daerah berlahan basah seperti rawa, daerah aliran sungai, hutan mangrove dan daerah pasang surut di tepi pantai.

Ancaman dan Konservasi. Kucing bakau atau Prionailurus viverrinus, terdaftar sebagai Endangered dalam IUCN Redlist dan CITES Apendiks II. Di Indonesia, kucing bakau juga termasuk dalam satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999.

Ancaman utama kelestarian kucing bakau adalah berkurangnya lahan basah seperti hutan bakau akibat dikonversi menjadi lahan pertanian, tambak. Dan pemukiman manusia. Mungkin lantaran itu pula, di tempat saya yang meskipun dekat pesisir pantai dan sungai, kucing bakau yang pandai berenang dan menyelam ini tidak pernah terlihat. Kalau di tempat sobat?.

Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas Mammalia; Ordo: Karnivora; Famili: Felidae; Genus: Prionailurus; Spesies: Prionailurus viverrinus.

baca selanjutnya

GAYAM BIKIN AYEM (DAMAI) ORANG JAWA

GAYAM, nama pohon buah yang mungkin tidak popular di mata masyarakat, sebab jika ingin memakan buah Gayam (Inocarpus fagiferus) harus dimasak dulu. Berbeda dengan buah lainnya yang bisa langsung dimakan segar begitu dipetik dari pohon, buah Gayam harus dimasak dulu baik direbus, dibakar, atau diolah lainnya jika ingin menikmatinya.

Buah Gayam yang telah tua dan masak tidak dapat dimakan langsung. Buah dari Inocarpus fagiferus ini sebelum dimakan harus direndam air kemudian direbus atau dibakar. Buah Gayam yang telah dimasak ini dikonsumsi sebagai makanan ringan. Buah Gayam dapat juga dijadikan produk olahan semisal emping (keripik Gayam). Keripik ini dapat menjadi peluang bisnis kuliner yang belum banyak pesaingnya.

Kayu pohon Gayam dapat dimanfaatkan sebagai bahan furniture. Sedangkan dengan kerindangan daun dan dahannya pohon ini bisa dimanfaatkan sebagai pohon peneduh.

LATAR BELAKANG Gayam merupakan tanaman yang berasal dari kawasan Malesia bagian timur khusus-nya dari Indonesia. Tanaman ini dibawa oleh imigran-imi-gran dari Malaya-Polenisia ke Mikronesia, Melanesia dan Polenisia. Pohon Gayam telah tersebar luas dan ditanam di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Semenanjung Malaya.

Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae; Subkerajaan: Tracheobionta; Super Divisi: Spermatophyta; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Sub Kelas: Rosidae; Ordo: Fabales; Famili: Fabaceae; Genus: Inocarpus; Spesies: Inocarpus fagiferus (Parkinson) Fosberg. Sinonim: Inocarpus fagifer (Parkinson) Fosb., Inocarpus edulis J.R. & G. Forster, Aniotum fagiferum Parkinson, Bocoa edulis (J. R. Forst. & G. Forst.) Baill., Cajanus edulis (J. R. Forst. & G. Forst.) Kuntze.

DESKRIPSI TANAMAN Di pedesaan daerah Yogyakarta masih dapat ditemui pohon Gayam ini, biasanya tumbuh liar di daerah rawa-rawa atau tepi sungai. Tanaman ini tumbuh di daerah dataran rendah tropis yang lembab hingga ketinggian 500 meter dpl. Tumbuhan ini mampu tumbuh di tanah-tanah yang miskin hara sekalipun. Tinggi pohon Gayam mampu mencapai 20-an meter dengan diameter batang mencapai 65 cm. Batang pohon Gayam (Inocarpus fagiferus) sering kali beralur tidak teratur, kadang-kadang berakar banir, dengan percabangan merunduk. Pada kulit batang bagian dalam mengandung cairan berwarna merah. Dengan system perakaran yang kuat dan batang yang beralur ini sangat cocok digunakan sebagai tanaman pencegah erosi maupun karena aliran air.

Daun Gayam berseling, tunggal, dan kaku menyerupai kulit. Bentuknya lonjong, dan berwarna pink ketika muda. Bunga angkaeng majemuk bulir dengan panjang sekitar 15 cm. Gayam (Inocarpus edulis) mempunyai bunga kecil dan berbau wangi.
Buah Gayam (Inocarpus fagifer) berjenis polong berbentuk ginjal dan tidak pecah dengan kulit buah yang keras. Buah Gayam mempunyai 1 biji berbentuk gepeng. Kulit biji keras dengan endosperm putih. Ketika mentah buah berwarna hijau dan menjadi kuning atau kecoklatan ketika masak. Buah bisa mengapung lebih dari satu bulan di atas air laut tetapi viabilitas biji cepat hilang

FILOSOFI GAYAM Kata orangtua Jawa dulu kata Gayam berarti Gayuh Ayem yang bermakna mencari kedamaian. Kata “Ga” berasal dari kata gayuh yang artinya mencari, sedangkan potongan kata atau suku kata terakhirnya yakni “yam” untuk menyimbolisasikan rasa ayem ‘tenteram, tenang’.

Tanaman Gayam ini dari penampilannya mampu memberikan aura rasa ayem ‘tenteram, tenang’. Di samping itu, pohon Gayam juga dipercaya sebagai pohon yang dapat menyimpan/mendekatkan air ke permukaan tanah sehingga air jernih mudah didapatkan di sekitar pohon tersebut. Ketersediaan air berarti juga ketenangan dan kesejahteraan bagi manusia. Untuk itulah pohon Gayam digunakan sebagai simbol rasa keayeman. Di samping tentu saja, daunnya yang selalu lebat memberikan rasa teduh dan suasana tenang di sekitarnya.

CARI GAYAM Anda dapat menemukan nama Gayam sebagai nama daerah seperti Kabupaten Gayam di Sumenep Madura, Desa Gayam di daerah Cepu Blora Jawa Tengah, sedangkan di Kota Yogyakarta ada Kampung Gayam di daerah sekitar Radio Geronimo, bahkan di Bojonegoro juga ada Kecamatan Gayam.

Jika Anda ingin mencari pohon Gayam di kota gudeg ini Anda akan dapat menemukan di sepanjang sungai Opak atau Winongo di daerah Bantul Yogyakarta, tetapi jika Anda ingin tidak repot dapat melihat pohon Gayam ini di sekitar Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Bahkan pohon Gayam ini dipakai sebagai identitas flora di Kota Cirebon.
Sewaktu penulis kecil dulu pohon Gayam banyak di temui di pelosok desa di Kabupaten Sleman dan Bantul, tetapi pohon ini sekarang agak sulit ditemui, karena di samping sisi ekonominya kurang memuaskan, penampilan angker dari pohon ini juga banyak ditakuti oleh orang. Bahkan banyak yang beranggapan pohon ini sebagai rumahnya setan, padahal sebagai pohon peneduh sangat bagus karena rindang dan kuat.

Dan bagi Anda yang tertarik untuk mencicipi buah Gayam yang sudah diolah ini dapat ditemukan di pasar-pasar tradisional di daerah Bantul dan juga di pasar Balangan Minggir di kabupaten Sleman. Terakhir kali penulis mencicipi kuliner Gayam ini sekitar 2 tahun lalu sewaktu mudik lebaran.

SINGKONG

SINGKONG dikenal juga dengan nama Cassava, Ubi Kayu, Ketela Pohon, Telo Puhung atau Telo Jendal adalah pohon tahunan tropika dan subtropika dari keluarga Euphorbiaceae. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran. Bahkan kulit ubinya dapat dibuat kripik kulit singkong yang gurih dan renyah.
Jenis singkong Manihot esculenta pertama kali dikenal di Amerika Selatan kemudian dikembangkan pada masa pra-sejarah di Brasil dan Paraguay. Bentuk-bentuk modern dari spesies yang telah dibudidayakan dapat ditemukan bertumbuh liar di Brasil selatan. Meskipun spesies Manihot yang liar ada banyak, semua varitas M. esculenta dapat dibudidayakan.

Produksi singkong dunia diperkirakan mencapai 184 juta ton pada tahun 2002. Sebagian besar produksi dihasilkan di Afrika 99,1 juta ton dan 33,2 juta ton di Amerika Latin dan Kepulauan Karibia.

Singkong ditanam secara komersial di wilayah Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) pada sekitar tahun 1810[1], setelah sebelumnya diperkenalkan orang Portugis pada abad ke-16 ke Nusantara dari Brasil.

Umbi akar singkong banyak mengandung glukosa dan dapat dimakan mentah. Rasanya sedikit manis, ada pula yang pahit tergantung pada kandungan racun glukosida yang dapat membentuk asam sianida. Umbi yang rasanya manis menghasilkan paling sedikit 20 mg HCN per kilogram umbi akar yang masih segar, dan 50 kali lebih banyak pada umbi yang rasanya pahit. Pada jenis singkong yang manis, proses pemasakan sangat diperlukan untuk menurunkan kadar racunnya. Dari umbi ini dapat pula dibuat tepung tapioka.

Kadar gizi

Kandungan gizi singkong per 100 gram meliputi:
•Kalori 146 kal
•Air 62,50 gram
•Fosfor 40,00 gram
•Karbohidrat 34,00 gram
•Kalsium 33,00 miligram
•Vitamin C 0,00 miligram
•Protein 1,20 gram
•Besi 0,70 miligram
•Lemak 0,30 gram
•Vitamin B1 0,01 miligram[2]

KULINER DARI SINGKONG
Dimasak dengan berbagai cara, singkong banyak digunakan pada berbagai maam masakan.
1.Direbus untuk menggantikan kentang, dan pelengkap masakan.
2.Digoreng dengan diberi bumbu sehingga gurih dan renyah.
3.Dibuat kripik singkong terkenal dengan nama Criping, dapat dibuat dengan rasa gurih maupun pedas dengan sambal baladonya.
4.Tepung singkong dapat digunakan untuk mengganti tepung gandum, baik untuk pengidap alergi.
5.Kulit singkong dapat dibuat kripik kulit singkong yang gurih.

Selain diolah dengan metode di atas singkong dapat diolah sebagai salah satu pilihan kuliner yang lezat dan tentu saja asli Indonesia. Singkong tersebut dapat dapat diolah menjadi:

1.Tiwul/Thiwul
Makanan pokok pengganti nasi beras yang dibuat dari ketela pohon atau singkong. Penduduk Pegunungan Kidul (Pacitan, Wonogiri, Gunung Kidul) dikenal mengonsumsi jenis makanan ini sehari-hari.
Tiwul dibuat dari tepung gaplek. Gaplek yang akan dibuat tiwul harus gaplek yang berwarna putih, kalau banyak warna hitamnya akibat pengeringan yang tidak sempurna lebih baik dibuat gatot saja.
Gatot sebagai makanan pokok, kandungan kalorinya lebih rendah daripada beras namun cukup memenuhi sebagai bahan makanan pengganti beras. Tiwul dipercaya mencegah penyakit maag, perut keroncongan, dan lain sebagainya. Tiwul pernah digunakan untuk makanan pokok sebagian penduduk Indonesia pada masa penjajahan Jepang

2.Gatot
Dibuat dari gaplek yang berwarna putih dan hitam. Untuk mendapatkan gatot yang berkualitas dengan warna hitam yang merupakan warna khas gatot dilakukan dengan cara gaplek dihujan-hujankan. Setelah dicuci bersih gaplek dipotong-potong kecil kemudian dikukus. Setelah matang gaplek sudah menjadi gatot dan siap disajikan bersama parutan kelapa dan gula jawa.


3.Cenil
Dibuat dari campuran parutan singkong, agar-agar bubuk, air, gula pasir, santan dan garam. Aduk rata menggunakan tangan kemudian dikukus. Cenil disajikan dengan menaburkan parutan kelapa di atasnya.

4.Growol
Terbuat dari singkong yang diiris kecil-kecil kemudian direndam selama tiga hari dengan penggantian air setiap hari agar tidak “kecut” (asam). Kemudian ditiriskan dan dihancurkan sebelum akhirnya dikukus.

5.Gethuk

Kukus singkong dalam dandang yang telah dipanaskan hingga matang, angkat. Keluarkan dari dandang, haluskan bisa pakai mesin giling, campurkan gula pasir dan garam, aduk rata.Taruh di loyang yang dialas daun pisang, tipiskan hingga 1 1/2 cm, dinginkan, potong (2 x 2) cm. Campur kelapa muda dengan garam hingga rata, tambahkan daum pandan, kukus hingga matang. Sajikan gethuk singkong dengan kelapa muda dan gula pasir. Untuk mendapatkan aneka rasa dapat dicampur dengan bubuk coklat atau strawberry.

Bagi Anda yang tertarik untuk mencicipi kuliner ini, Anda dapat berkunjung ke kota Yogyakarta dan sekitarnya. Untuk Tiwul dan Gatot Anda dapat menemukan di pasar-pasar Wonosari Kabupaten Gunung Kidul, sedangkan Growol dapat diperoleh di pasar Wates Kabupaten Kulon Progo. Untuk Cenil dapat Anda peroleh di pasar Sewon Bantul atau pasar Balangan Sleman. Sedangkan untuk Gethuknya Anda dapat memperoleh di pasar Muntilan atau Magelang.

Jika Anda tidak punya waktu yang cukup untuk menikmati kuliner yang istimewa tersebut, Anda dapat mencoba mencari di pasar Balangan atau pasar Godean yang terletak di Kabupaten Sleman. Anda dapat menikmati kuliner asli Jawa tersebut sambil menikmati panorama alam pedesaan yang asri. Perlu diketahui Growol, Cenil, Tiwul dan Gatot hanya dapat Anda peroleh di pasar-pasar tradisional di Yogyakartam sedangkan untuk Gethuk dapat diperoleh di kota Yogyakarta maupun kota-kota di Jawa Tengah. Namun jika Anda ingin menikmati Gethuk yang paling istimewa hanya akan Anda dapatkan di kota Muntilan dan Magelang.

Dari Stasiun Tugu dapat ditempuh kurang lebih 30 menit ke arah barat kota Yogyakarta. Rutenya adalah Stasiun Tugu, Pingit, Jati Kencana, Godean, Seyegan dan Ngaran, Balangan.