Cacing Tanah Terhadap Pertumbuhan Tanaman

Peran cacing tanah terhadap pertumbuhan tanaman adalah melihat cacing sebagai dekomposer. Decomposer adalah makhluk hidup yang berfungsi untuk menguraikan makhluk hidup yang telah mati, sehingga materi yang diuraikan dapat diserap oleh tumbuhan yang hidup disekitar daerah tersebut. Beberapa jenis cacing tanah antara lain: Pheretima, Periony dan Lumbricus. Ketiga jenis cacing tanah ini menyukai bahan organik yang berasal dari pupuk kandang dan sisa-sisa tumbuhan. Cacing memiliki banyak kegunaan antara lain: membantu menghancurkan bahan organic yang dapat mempengaruhi kesuburan suatu tanah, Bahan Pakan Ternak, Bahan Baku Obat dan bahan ramuan untuk penyembuhan penyakit, Bahan Baku Kosmetik dan bahan baku makanan untuk beberapa jenis cacing yang dapat dikonsumsi dan bermanfaat bagi manusia
Cacing tanah bersegmen mampu menghasilkan material tanah 30 ton per hektar melalui digesti enzimatik dalam tubuhnya, dan peruraian hewan. Bekas cacing ini memiliki nitrogen, pospor, potassium, kalsium, magnesium, pH, pertukaran kation yang lebih tinggi dibandingkan didalam tanah. Jumlah cacing tanah dalam lantai hutan diperkirakan mencapai 1,5 juta-2,5 juta perhektar
1. Dapat Mempercepat Pelapukan Sisa Sisa Tanaman.
Pelapukan adalah proses pengrusakan atau penghancuran kulit bumi oleh tenaga eksogen. Pelapukan di setiap daerah berbeda-beda tergantung unsur-unsur dari daerah tersebut. Misalnya di daerah tropis yang pengaruh suhu dan air sangat dominan, tebal pelapukan dapat mencapai seratus meter, sedangkan daerah sub tropis pelapukannya hanya beberapa meter saja.
Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang tumbuhan dan manusia, binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah, serangga.
Dibatu-batu karang daerah pantai sering terdapat lubang-lubang yang dibuat oleh binatang.
Pengaruh yang disebabkan oleh tumbuh tumbuhan ini dapat bersifat mekanik atau kimiawi. Pengaruh sifat mekanik yaitu berkembangnya akar tumbuh-tumbuhan di dalam tanah yang dapat merusak tanah disekitarnya. Pengaruh zat kimiawi yaitu berupa zat asam yang dikeluarkan oleh akar- akar serat makanan menghisap garam makanan. Zat asam ini merusak batuan sehingga garam-garaman mudah diserap oleh akar. Manusia juga berperan dalam pelapukan melalui aktifitas penebangan pohon, pembangunan maupun penambangan.
2. Kotoran cacing dapat meningkatkan kesuburan tanah atau kadar NPK pada tanah yang di huninya
Cacing tanah ternyata bisa menjadi bahan baku untuk pembuatan pupuk kompos (kascing). Karena pupuk kompos yang dihasilkan dari Lumbricus Rubellus ini memiliki unsur-sunur hara yang dibutuhkan tanaman, diantaranya yaitu:
Kotoran yang dikeluarkan oleh cacing tanah banyak mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman seperti nitrogen, fosfor, mineral, dan vitamin. Karena mengandung unsur hara yang lengkap, apalagi nilai C/N nya kurang dari 20 maka kotoran cacing yang biasa disebut casting dapat digunakan sebagai pupuk.
Lahan pertanian yang mengandung cacing tanah pada umumnya akan lebih subur karena tanah yang bercampur dengan kotoran cacing tanah sudah siap untuk diserap oleh akar tanaman. Ca­cing tanah yang ada di dalam tanah akan mencampurkan bahan organik pa­sir ataupun bahan antara lapisan atas dan bawah. Aktivitas ini juga menye­babkan bahan organik akan tercampur lebih merata.
Pada tahun 1941 hasil penelitian T.C. Puh menyatakan, bahwa karena akti­vitas cacing tanah, maka N, P, K ter­sedia dan bahan organik dalam tanah dapat meningkat. Unsur-unsur tersebut merupakan unsur pokok bagi tanaman. Tahun 1949 Stockli dalam penelitian­nya menjelaskan, bahwa humus dan mikroflora kotoran cacing tanah lebih tinggi dari tanah aslinya. Demikian juga percobaan pada tanah-tanah gundul be­kas tambang di Ohio (Amerika Serikat) menunjukan, bahwa cacing tanah dapat meningkatkan kadar K tersedia 19% dan P tersedia 165%.
Tahun 1979, Wollny juga menyatakan bahwa cacing tanah mempengaruhi ke­suburan dan produktivitas tanah. Dengan adanya cacing tanah, kesuburan dan produkvitas tanah akan meningkat. Se­lain itu cacing tanah juga dapat mening­katkan daya serap air permukaan. Liang cacing tanah yang ditinggal dalam tanah berfungsi memperbaiki aerasi dan drai­nase. Keduanya sangat penting dalam pembentukan tanah. Cacing tanah juga membantu peng­angkutan sejumlah lapisan tanah dari bahan organik. Lapisan bawah permu­kaan dan mencampurkan tanah dari ba­han organik dengan bahan organik.
3. lorong lorong yang dibuatnya dalam tanah ( terutama pada lapisan top soil ) memungkinkan masuknya udara sehat ke dalam tanah dan terdesaknya kelebihan zat CO2 ke luar dalam tanah.
Cacing tanah juga dapat memper­baiki dan mempertahankan struktur tanah. Lubang-lubang cacing dan humus secara langsung menjadikan tanah gem­bur. Cacing ini memakan oarganisme hidup yang ada di dalam tanah dengan cara menggali tanah.Kemampuannya yang dapat menggali bermanfaat dalam menggemburkan tanah.
Earthworm on Plant Growth
The role of earthworms on plant growth is to see the worm as a decomposer. Decomposer is a living thing that serves to describe living creatures that have died, so that the material described can be absorbed by the plants that live around the area. Some species of earthworms include: Pheretima, Periony and Lumbricus. The three types of earthworms are like organic matter derived from manure and the remains of plants. Worms has many uses including: helping to destroy organic materials that can affect the fertility of the soil, Animal Feed Ingredients, Raw Materials and Drugs to cure disease potion ingredients, Cosmetics Raw Materials and food raw materials for some types of worms that can be consumed and beneficial to human
Bersegmen earthworm soil material capable of producing 30 tons per hectare through enzymatic digestion in the body, and dissociation of animals. Used this worm have nitrogen, phosphorus, potassium, calcium, magnesium, pH, cation exchange is higher than in the soil. The number of earthworms in the forest floor is estimated to reach 1.5 million-2, 5 million per hectare.
Can Accelerate Weathering Time Remaining Plants.
Weathering is the process of destruction or the destruction of the earth’s crust by exogenous force. Weathering in each region vary depending on the elements of the area. For example in the tropics that the influence of temperature and water is very dominant, thick weathering can reach a hundred meters, while the sub-tropical regions pelapukannya only a few meters.
The reason is the process of plant and animal organisms that humans, animals can perform weathering include earthworms, insects. Dibatu-rock coastal areas there are often holes made by animals.
The effect caused by the growing plants can be mechanically or chemically. Effect of mechanical properties of the roots of plants growing in soil that can damage the surrounding soil. Effect of chemical substances in the form of acid released by the roots suck salt dietary fiber food. These acids damage the rock so that salts are easily absorbed by the roots. Humans also play a role in weathering through logging activities, development and mining.
Manure worms can increase soil fertility or soil levels of NPK on the huninya
Earthworms could actually become the raw material for composting (vermi). Because the compost produced from Lumbricus Rubellus has sunur nutrient elements that plants need, among which:
Dirt issued by the earthworm contains many nutrients needed by plants such as nitrogen, phosphorus, minerals, and vitamins. Because it contains complete nutrients, let alone the value of C / N was less than 20 then the usual worm manure called castings can be used as fertilizer.
Agricultural land containing earthworms in general will be more fertile because of soil mixed with manure earthworm is ready to be absorbed by plant roots. Ca ¬ cing the existing soil in the soil organic matter will mix ¬ pa sir or material between the upper and lower layers. This activity also menye ¬ cause the organic material will be mixed more evenly.
In 1941 the research T.C. Puh states, that because of activism ¬ vital earthworms, then the N, P, K tar ¬ available and organic material in soil can be increased. These elements is an essential element for plants. In 1949 Stockli in research ¬ explained, that the humus and earthworm dung microflora higher than the original soil. Similarly, experiments on bare lands some cash ¬ mine in Ohio (United States) showed that earthworms can increase levels of available K and available P 19% 165%.
In 1979, Wollny also stated that ¬ earthworms affect the fertility and productivity of soil. With the earthworms, soil fertility and produkvitas will increase. Se ¬ other earthworm ¬ katkan also can increase surface water absorption. Earthworm burrows left behind in the soil serves to improve aeration and drai ¬ Nase. Both are very important in soil formation. Earthworms also help lawyers ¬ ground transport a number of layers of organic material. Kaan ¬ undercoat surfaces and mixing of soil organic han ba ¬ with organic material.

Hallway hallway made in the soil (especially in the top soil layer) allows the entry of air into the soil healthy and substance terdesaknya excess CO2 out of the ground.
Earthworms can also treat ¬ repairing and maintaining soil structure. Worm holes and directly make humus soil bur ¬ gem. This worm takes oarganisme life in the soil by digging tanah.Kemampuannya who can dig menggemburkan useful in soil.

PENGARUH BAKTERI PADA PERTUMBUHAN TANAMAN


Bakteri Sebagai Pengurai
Bakteri saprofit menguraikan tumbuhan atau hewan yang mati, serta sisa-sisa atau kotoran organisme. Bakteri tersebut menguraikan protein, karbohidrat dan senyawa organik lain menjadi CO2, gas amoniak, dan senyawa-senyawa lain yang lebih sederhana. Oleh karena itu keberadaan bakteri ini sangat berperan dalam mineralisasi di alam dan dengan cara ini bakteri membersihkan dunia dari sampah-sampah organic.

 

Bakteri nitrifikasi

Bakteri nitrifikasi adalah bakteri-bakteri tertentu yang mampu menyusun senyawa nitrat dari amoniak yang berlangsung secara aerob di dalam tanah. Nitrifikasi terdiri atas dua tahap yaitu:
·        Oksidasi amoniak menjadi nitrit oleh bakteri nitrit. Proses ini dinamakan nitritasi.
·        Oksidasi senyawa nitrit menjadi nitrat oleh bakteri nitrat. Prosesnya dinamakan nitratasi.
Dalam bidang pertanian, nitrifikasi sangat menguntungkan karena menghasilkan senyawa yang diperlukan oleh tanaman yaitu nitrat. Tetapi sebaliknya di dalam air yang disediakan untuk sumber air minum, nitrat yang berlebihan tidak baik karena akan menyebabkan pertumbuhan ganggang di permukaan air menjadi berlimpah. N amat penting bagi tanaman karena perannya dalam pembentukan protein. Namun demikian N mudah hilang oleh pencucian, penguapan dll.
Nitgogen banyak dijumpai diatmosfir (± 78%) dari jumlah gas yang ada, namun demikian N atmosfir tidak dapat digunakan langsung oleh sebagian besar tanaman. Mikroba tertentu mampu menambat N gas dan mengubahnya ke dalam senyawa amonium yang akan tersedia bagi tanaman. Mikroba tersebut adalah bakteri bintil akar yang bersimbiose dengan tanaman pepolongan dan bakteri yang hidup bebas seperti Azotobacter, Beijerinckia, Clostridium, Nocardia, Pseudomonas, Rhodospirillum, ganggang hijau biru dll.  Tidak semua m.o tersebut berhasil dibuktikan kemampuannya menambat N, namun telah diketahui bahwa m.o tersebut dapat hidup pada media yang kurang N nya.
Azotobacter adalah bakteri penambat N yang hidup bebas, banyak dijumpai di daerah rizosfer (dalam tanah 20 – 8000 sel/g), pada pH tanah antara 5,9 – 8,4 (tidak jumpai jika pH masam). Pada tanah dimana Azotobacter tidak ditemukan, maka bakteri penambat N yang hidup bebas lainnya dapat dijumpai (ex. Beijerinckia) yang tumbuh aerob pada tanah tropik masam.  Clostridium tumbuh secara anaerob pada kisaran pH antara Azotobacter dengan Beijerinckia.  Pseudomonas spp adalah bakteri penambat N untuk tanah masam.
Azotobacter mendapat banyak perhatian karena dapat diintroduksi masuk ke dalam tanah guna meningkatkan produksi tanaman. Para pakar Rusia melaporkan adanya kenaikan produksi serealia, tembakau dan kapas sebesar 20 % pada tanah yang diinokulasi dengan Azotobacter. Ada 3 spesies yang Azotobacter yang terkenal yaitu A. Chroococcum, A. Vinelandii, dan A. Agite.   Azotobacter adalah organisme penambat N yang hidup bebas yang paling efisien, ia mengoksidasi 1 g gula untuk menambat 5 – 20 mg N. Bakteri ini hanya bertahan di daerah rizosfer dan tidak di daerah bebas akar.  Jumlah inokulan yang diperlukan agar diperoleh hasil yang baik adalah 104 sel bakteri perbiji.  Perlakuan biji dengan Azotobacter dimungkinkan karena ia mampu bermigrasi sepanjang pertumbuhan akar.  Migrasi dan perbanyakannya berlangsung karena stimulasi eksudat akar muda seperti berbagai gula.  Sel – sel bakteri ini tidak memperbanyak diri pada bagian akar yang dewasa.
Inokulasi Azotobacter pada tanaman dimaksudkan untuk meningkatkan produksi, laju pekecambahan, pertumbuhan akar dan perkembangan tanaman (ex. pada tanaman tomat). Pengaruh peningkatan produksi tersebut terjadi akibat Azotobacter dapat menambat N, dapat menghasilkan pemacu tumbuh, dan dapat menghambat patogen tanaman.
Ganggang hijau biru, tumbuh subur pada lapisan permukaan tanah yang cukup cahaya. Ganggang sangat penting untuk padi sawah karena dapat menambat N sebanyak 13 – 70 kg N/ha/th. Dilaporkan oleh Watanabe (1960), padi yang diinokulasi dengan ganggang hijau biru akan memperoleh N 20% lebih banyak dari pada yang tidak diinokulasi.
Rhizobium yang diinokulasikan pada kedelai menaikkan hasil biji sebesar 31% (Norman, 1943), sedangkan Lynch dan Sears ( 1952) menemukan bahwa 89 dari 108 buah unit percobaan kedelai yang menunjukkan bahwa inokulasi meningkatkan hasil produksi.  Umumnya tanah yang tidak mengandung rhizobia memerlukan pre-inokulasi untuk mendapatkan produksi yang tinggi pada tahun-tahun pertama setelah penanaman, sedangkan pada tanah yang secara alami mengandung rhizobia yang efektif, pre-inokulasi hanyalah suatu usaha untuk mengatasi kegagalan produksi.  Tidak semua legum yang berbintil menambat N dengan kadar yang sama. Clover putih dan lucerna yang merupakan pepolongan yang paling efisien dalam nemambat N.
Bakteri Mengikat Oksigen
Bakteri nitrogen adalah bakteri yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan mengubahnya menjadi suatu senyawa yang dapat diserap oleh tumbuhan. Karena kemampuannya mengikat nitrogen di udara, bakteri-bakteri tersebut berpengaruh terhadap nilai ekonomi tanah pertanian. Kelompok bakteri ini ada yang hidup bebas maupun simbiosis. Bakteri nitrogen yang hidup bebas yaitu Azotobacter chroococcum, Clostridium pasteurianum, dan Rhodospirillum rubrum. Bakteri nitrogen yang hidup bersimbiosis dengan tanaman polong-polongan yaitu Rhizobium leguminosarum, yang hidup dalam akar membentuk nodul atau bintil-bintil akar. Tumbuhan yang bersimbiosis dengan Rhizobium banyak digunakan sebagai pupuk hijau seperti Crotalaria, Tephrosia, dan Indigofera. Akar tanaman polong-polongan tersebut menyediakan karbohidrat dan senyawa lain bagi bakteri melalui kemampuannya mengikat nitrogen bagi akar. Jika bakteri dipisahkan dari inangnya (akar), maka tidak dapat mengikat nitrogen sama sekali atau hanya dapat mengikat nitrogen sedikit sekali. Bintil-bintil akar melepaskan senyawa nitrogen organik ke dalam tanah tempat tanaman polong hidup. Dengan demikian terjadi penambahan nitrogen yang dapat menambah kesuburan tanah.
Effect of Bacteria on Plants
Bacteria As Decomposers
Saprophyte bacteria outlines of dead plants or animals, as well as the remains of organisms or dirt. The bacteria elaborate proteins, carbohydrates and other organic compounds into CO2, ammonia gas, and other compounds are more modest. Therefore, the presence of these bacteria is important in mineralization in nature and in this way the bacteria clean the world of organic waste.
Nitrifying bacteria
Nitrifying bacteria are certain bacteria that can develop from ammonia nitrate compounds that occur in aerobes in the soil. Nitrification consists of two phases:
• Oxidation of ammonia to nitrite by bacterial nitrite. This process is called nitritasi.
• Oxidation of compounds nitrite to nitrate by bacteria of nitrate.
The process is called nitratasi.
In agriculture, nitrification is very beneficial because it produces compounds needed by plants is nitrate. But instead in the water provided for drinking water, excessive nitrate is not good because it will cause the growth of algae in surface water became abundant. N is very important for plants because of its role in the formation of proteins. However, N is easily lost by leaching, evaporation, etc..
Nitgogen many found diatmosfir (± 78%) of the amount of gas there, however, atmospheric N can not be used directly by most plants. Certain microbes can tie up N gas and transform it into ammonium compound that will be available to plants. Microbes are bacteria root nodule symbiosis with plants pepolongan and free-living bacteria such as Azotobacter, Beijerinckia, Clostridium, Nocardia, Pseudomonas, Rhodospirillum, blue green algae, etc.. Not all these mo successfully proven its ability to tie up the N, but has been known that mo can live on less N media.
Azotobacter is a bacterium that lives fastening N-free, many are found in the rhizosphere (the soil 20-8000 cells / g), on soil pH between 5.9 to 8.4 (not met if the pH is acidic). In the land where the Azotobacter was not found, then the bacteria fastening other free-living N can be found (ex. Beijerinckia) which grow aerobic in acidic tropical soil. Anaerobic Clostridium grow in a pH range between Azotobacter with Beijerinckia. Pseudomonas spp are bacteria fastening N to acid soils.
Azotobacter received much attention because it can be introduced into the soil to increase crop production. Russian experts report significant increases in cereal production, tobacco and cotton by 20% in soil inoculated with Azotobacter. There are 3 famous Azotobacter species namely A. Chroococcum, A. Vinelandii, and A. Agite. Azotobacter is a living organism N-free fastening of the most efficient, he oxidize 1 g of sugar to make fast 5-20 mg N. These bacteria survive only in areas not in the rhizosphere and root free zone. The number of inoculant required to obtain a good result was 104 perbiji bacterial cell. Treatment of seeds with Azotobacter possible because he is able to migrate along the root growth. Migration and many stimulation lasted for young root exudates such as various sugars. Cells – the cells of these bacteria do not reproduce themselves at the root of the adult.
Azotobacter inoculation on plant intended to increase production, pekecambahan rate, root growth and development of plants (ex. on tomato plants.) Effect of increase in production occurred as a result Azotobacter can tie up N, can result in hyper growth, and can inhibit plant pathogens.
Blue green algae, thrive on the soil surface layer is quite light. Algae are very important for rice because it can tie up N as much as 13-70 kg N / ha / yr. Reported by Watanabe (1960), rice is inoculated with blue green algae will obtain N 20% more than those not inoculated.
Rhizobium of the inoculation on soybean seed yield increase of 31% (Norman, 1943), while Lynch and Sears (1952) found that 89 of 108 experimental units soybean fruits indicated that inoculation increased production output. Generally, land that does not contain rhizobia require pre-inoculation to obtain high production in the first years after planting, while in the soil that naturally contains rhizobia effective, pre-inoculation is an attempt to overcome the failure of production. Not all legumes that berbintil tie up N with the same content. White Clover and lucerna which is the most efficient pepolongan nemambat N.
Bacteria Oxygen Binding 
Nitrogen bacteria are bacteria that can bind free nitrogen from the air and turn it into a compound that can be absorbed by plants. Because of its ability to bind nitrogen in the air, these bacteria affect the economic value of agricultural land. This group of bacteria that live there freely and symbiosis. Nitrogen free-living bacteria is Azotobacter chroococcum, Clostridium pasteurianum, and Rhodospirillum rubrum. Bacteria that live symbiotic nitrogen plant legumes namely Rhizobium leguminosarum, which live in root nodules or nodule-forming nodules. Rhizobium symbiosis with plants that are widely used as green manure such as Crotalaria, Tephrosia, and Indigofera. The roots of leguminous plants that provide carbohydrates and other compounds to the bacteria through its ability to bind nitrogen to the roots. If the bacteria are separated from their host (root), then the nitrogen can not bind at all or only very little to bind nitrogen. Rash roots release organic nitrogen compounds into the soil where plant life pod. Thus an additional nitrogen can increase soil fertility.

PROSES PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN TANAH

(Sumber Foto dari atmos.albany.edu)
A. Faktor-Faktor Pembentukan Tanah
Dalam mempelajari proses pembentukan tanah penting sekali memperhatikan pengaruh alam lingkungan. Seorang ahli tanah berkebangsaan rusia yang bernama Duckuchaeiv (1870) telah mengemukakan pendapat bahwa tanah tidak terjadi secara kebetulan, tetapi biasanya terbentuk menurut pola bentuk wilayah, selanjutnya ia mengatakan bahwa perkembangan tanah terjadi sebagai hasil perpaduan dari lima faktor yaitu:
  1. Bahan induk
  2. Iklim
  3. Organisme tanah
  4. Topografi
  5. Waktu
Bahan mineral mengalami pelapukan akibat pengaruh Iklim dan organisme hidupselama beberapa waktu atau berabad-abad lamanya, bentuk wilayah juga penting dimana hal tersebut berkaitan dengan keadaan dan pergerakan air.
Eorang ahli tanah Amerika yang bernama Jenny (1941) mengemukakan pendapat yang sama Dukuchaeiv (1870) mengenai faktor-faktor pembentuk tanah, selanjutnya Jenny mengatakan proses pembentukan tanah dihubungkan dalam bentuk persemaian.
S=F (BI,I,O,Bw,W)
Ketarangan:
S = Sifat tanah yang terbentuk
F = Fungsi dari faktor pembentuk tanah
Bi = Bahan induk
BW = Bentuk wilayah
W = Waktu lamanya pembentukan tanah

B. Proses Pelapukan Bahan Induk
Bahan induk adalah batuan yang masih pejal maupun yang sudah lunak dan terpecah-pecah. Batuan yang ada di permukaan bumi menurut cara pembentukannya dibagi menjadi 3 golongan batuan yaitu:
1. Batuan beku (igneous rocks)
Batuan ini terbentuk dari suatu proses pembekuan suatu massa cairan panas yang keluar dari gunung api (magma) karena mengalami pendinginan. Batuan beku terdiri dari batuan beku luar (effisive) contoh batuan beku dalam: Adesit, Basalt, Liparit, trachit, batu apung dan batuan beku dalam (pltonic). Contoh batuan beku dalam adalah Gabroit, Granit, Diroit, Senit.
Proses pembekuan batuan beku ada 2 proses
  • Proses pendinginan relatif berlangsung cepat dan terjadi dipermukaan bumi, sehingga mineral-mineral berkristal kecil.
  • Proses pendinginan berlangsung lambat dan tersusun dan mineral-mineral berkristal besar.
2. Batuan endapan (Sedimentary rocks)
Batuan yang terdiri dari proses endapan dan atau pemadatan dari hasil-hasil pelapukan batuan beku dan atau berubah bentuk bila hasil endapan tersebut sudah keras maka di sebut batuan endapan, bila masih lunak disebut aluvial atau bahan endapan.
Contoh: bau pasir, batu liat, batu kapur, Breksi dan lain-lain.
3. batuan berubah bentuk (Metamorfhic rocks)
Batuan yang terjadi karena adanya perubahan dari batuan beku dan atau batuan endapan yang disebabkan oleh pengaruh temperatur dan tekanan yang sangat tinggi, sebagai contoh dari batuan ini adalah marmer atau batu pualam yang berasal dari batu kapur.
Proses Pelapukan Batuan
Faktor iklim merupakan penyebab utama terjadi proses pelapukan batuan, penyinaran matahari yang terik, perubahan temperatur di musim dingin dan panas, gerakan air tanah, dan peredaran angin semua itu dapat merusak batuan. Pada perinsipnya proses pelapukan batuan dibagi kedalam 3 jenis pelapukan, yaitu:
1. Pelapukan Fisis
Merupakan proses awal dari proses pelapukan batuan yaitu proses pemecahan batuan pejal menjadi bagian-bagian yang berukuran sangat berfariasi, kemudian proses selanjutnya terjadi pelembutan. Pemecahan lagi menjadi lebih kecil dan agak merata ukurannya. Proses ini tidak mengalami proses susunan kimia dan tidak ada lagi proses penyusunan mineral baru. Pelapukan ini akan cepat apabila terjadi didaerah-daerah yang mempunyai perbedaan temperatur udara yang besar antar siang dan malam, antara musim dingin dan panas, contoh AS, Eropa, Afrika dan beberapa daerah Australia.
2. Pelapukan Biologis
Merupakan proses pemecahan atau penguraian bahan/batuan induk akibat adanya kegiatan binatang dan tumbuhan, di celah-celah batuan yang pecah pengaruh iklim seiring dengan tumbuhnya akar tanaman, keadaan ini bisa membantu mempercepat proses pelapukan batuan. Jasad-jasad hidup yang terdapat dalam tanah, seperti rayap, semut, serangga dsb, dapat merombak bahan organik dan mencampurkannya dengan baham mineral dari batuan dengan demikian dapat mempercepat proses pelapukan.
3. Pelapukan Kimia
Merupakan tahap pelunakan dan penguraian pecahan-pecahan batuan dan mineral ke dalam elemen-elemen penyusunnya, yang sering-sering diikuti dengan pembentukan mineral baru yang kemudian disebut dengan mineral skunder (Mineral Liat yang berfungsi sebagai penyangga penyimpanan dan pengatur pelepasan unsur hara tanaman) Yaitu dengan adanya air dan senyawa lain yang terlarut didalamnya seperti asam-asam (Organik dan anorganik) CO2 dll. Reaksi kimia yang terjadi di sini adalah reaksi reduksi, oksidasi, hidrolisa, pembentukan senyawa-senyawa karbonat, pelarutan dan hidratasi yaitu reaksi mineral air.
Jadi pada prinsipnya pelapukan merupakan suatu proses pelunakan yang dilanjutkan dengan proses penguraian mineral-mineral primer dan kemudian membentuk mineral baru.