DANAU BRATAN SEBAGAI SATU CONTOH DANAU VULKANIK

Danau vulkanik adalah danau yang terbentuk akibat erupsi (letusan) gunung berapi. Danau vulkanik ini dibedakan menjadi dua, yakni: (a) Danau kawah, ialah danau yang terbentuk karena kawah gunung api itu terisi air. Danau ini sering pula disebut dengan danau kepundan. Contoh: danau Sarangan dan danau Wurung di gunung Lawu, danau Ngebel di lereng gunung Wilis, danau Segara Anak di gunung Rinjani, dll. (b) Danau maar, ialah danau yang terbentuk pada sejenis kawah yang berbentuk corong pada gunung api yang sekali meletus kemudian mati. Masyarakat Jawa Timur menyebut danau maar ini dengan ranu. Contoh: ranu Grati, ranu mBedali, ranu Klakah, dsb.

Danau Bratan yang gambarnya tertera dalam posting ini sering pula disebut dengan danau Bedugul karena danau tersebut berada di daerah Bedugul. Menilik bentuk dan lingkungan sekitar danau, danau Bratan ini termasuk kategori danau kawah. Danau Bratan ini berada di sisi selatan gunung Catur (2.098m) yang berdekatan dengan dengan bukit Pohen (2.069m). Bukit Pohen ini berada di sebelah barat Bratan.

Mengingat danau Bratan ini berada di daerah wisata internasional, Provinsi Bali, maka danau ini tak luput menjadi obyek wisata yang menawarkan keindahan alam. Beraneka ragam permainan ditawarkan di danau yang luas dengan air jernih berwarna abu-abu kebiruan ini. Permainan air yang ditawarkan di sini adalah mengarungi danau dengan speedboat, berperahu cadik dengan mendayung sendiri, juga memancing. Kalau di Candi Kuning, tempat lain di sisi barat danau Bratan bahkan ada semacam becak air yang dapat dikayuh sendiri. Permainan lain yang bisa dinikmati oleh wisatawan adalah parasailing, mirip terjun payung yang ditarik dengan speedboat. Selain itu, di tepian danau Bratan tersaji juga kios-kios yang menjajakan beraneka macam hasil kerajinan Bali, pakaian, dan juga buah-buahan pegunungan, serta makanan khas Bali. Buah-buahan pegunungan hasil pertanian masyarakat setempat yang diperdagangkan di antaranya stawberi, markisa, salak Bali, terong Belanda, dsb.

Sebenarnya di sebelah barat laut danau Bratan masih ada lagi dua danau. Danau tersebut adalah danau Tamblingan dan danau Buyan. Namun kedua danau tersebut tidak menjadi obyek wisata karena menurut sopir bus yang membawa kami, akses untuk menuju ke dua tempat tersebut kurang memungkinkan.

KALI SAT, SATU SUNGAI DI DAERAH KARST

Kali Sat (bahasa Jawa) yang dalam bahasa Indonesia disebut sungai kering. Istilah itu kemudian digunakan untuk penamaan sungai yang gambarnya tertera pada posting ini. Belakangan nama tersebut digunakan pula untuk penamaan kampung yang ada di sekitar sungai tersebut.

Sungai menurut H.S. Wasono (1980) adalah “massa air yang secara alami mengalir pada suatu lembah”. Sedang pengertian lembah itu sendiri menurut H.S. Wasono (1980) adalah “permukaan Bumi negatif (lebih rendah dari sekelilingnya) yang terbentuk lantaran pengerjaan air yang mengalir”.

Ditilik dari namanya, sungai ini cenderung kering. Memang Kali Sat berdasarkan asal airnya termasuk jenis sungai hujan. Lembah sungai ini akan terisi air ketika hujan mengguyur daerah aliran sungai tersebut. Keadaan yang demikian, aliran sungainya akan sangat deras dan menimbulkan suara bergemuruh yang kadang-kadang menimbulkan kesan menakutkan. Begitu hujan reda, serta merta air yang ada di sungai tersebut akan habis. Dan sungai ini menjadi sama sekali kering ketika musim kemarau. Sedangkan berdasarkan kestabilan airnya atau berdasarkan kondisi airnya, Kali Sat tergolong sungai periodik, yakni sungai yang aliran airnya atau volume airnya tidak tetap. Aliran airnya sangat dipengaruhi oleh perubahan musim. Pada waktu musim penghujan, lembah sungainya terisi air dan debit airnya relatif besar, tetapi ketika musim kemarau, airnya kering sama sekali. Sungai yang demikian ini sering disebut sungai musiman.

Kali Sat yang gambarnya terpampang di atas, diambil pada penghujung musim penghujan yang baru lalu. Nampak masih dijumpai adanya air yang menggenang di antara batuan induk di dasar lembah. Memang secara Geologis/Geomorfologis, sungai tersebut termasuk sungai karst yang berbatuan induk berupa batuan kapur. Tepatnya sungai ini berada pada rangkaian pegunungan Kapur Selatan yang sering disebut dengan pegunungan Kidul. Secara administratif sungai tersebut berada di Dusun Kulonkali Desa Sumbermanjingkulon Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang. Mengingat sungai tersebut berada di daerah karst, maka pola aliran sungainya adalah pola sink holes. Sink holes adalah pola aliran sungai di daerah kapur yang berciri khas aliran sungainya sebagian menghilang (keluar/masuk) dalam tanah/lapisan batuan. Memang Kali Sat tersebut berhulu dari sebuah sungai bawah tanah yang oleh masyarakat setempat disebut ngguwa (gua). Dan sebelum bermuara ke laut, yakni samudera Indonesia (Hindia), Kali Sat ini kembali masuk sebagai sungai bawah tanah, di bawah perbukitan sebelah selatan Desa Sumbermanjingkulon.

Berdasarkan keadaan Kali Sat yang demikian itu, maka sungai ini relatif tidak bermanfaat bagi masyarakat setempat. Menurut penuturan penduduk setempat, pernah sumber air yang ada di gua (bagian sungai yang ada di bawah tanah) dimanfaatkan penduduk dengan cara dipasang mesin penyedot air, namun hanya bertahan beberapa saat. Mesin itu hanyut dan hilang terkena hempasan aliran air yang sangat deras ketika musim hujan.

DANAU KARST

Inilah fenomena sebuah danau karst ketika musim kemarau seperti saat ini. Menurut Forel (1892, dalam Mortopo, 1980, dalam Didik Taryana, 2004), “danau adalah suatu tubuh air tergenang yang menempati suatu cekungan (basin) yang sangat kecil hubungannya dengan laut”. Suatu genangan air dapat dianggap sebagai danau apabila memiliki ciri-ciri:
1. Air cukup dalam dan menunjukkan adanya perbedaan temperatur antara permukaan dan lapisan air di bawahnya.
2. Tumbuhan mengapung tidak dapat menutupi seluruh permukaan danau.
3. Ukuran genangan cukup luas yang ditunjukkan dengan adanya gelombang dan arus. Sumber air danau berasal dari air sungai, air hujan, air tanah, dan mata air.

Berdasarkan menurut penyusutan airnya, danau dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu: danau glasial, danau tektonik, danau vulkanik, danau vulkano-tektonik, danau fluvial, danau karst, danau produk aktivitas laut, danau produk aktivitas angin, dan danau bendungan. Pokok pembahasan pada posting ini hanya menekankan pada danau karst. Menurut Didik Taryana (2004), danau karst adalah “danau-danau di daerah pegunungan kapur yang terjadi karena adanya proses pelarutan kapur”. Proses pelarutan kapur menghasilkan bentukan berupa cekungan (basin) yang sering disebut dolina. Dolina inilah yang kemudian berfungsi sebagai penampung air yang berasal dari air sungai, air hujan, air tanah, dan mata air yang ada di sekitarnya.

Danau yang gambarnya tertera di atas adalah sebuah danau yang terdapat pada daerah kapur di Malang Selatan. Pegunungan kapur yang ada di daerah tersebut adalah rangkaian dari pegunungan Kapur Selatan yang sering disebut dengan pegunungan Kidul. Danau tersebut tepatnya terletak di Dusun Sumbersih (sering disingkat: Mbersih) Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Masyarakat setempat sering menyebut danau tersebut dengan nama Dam, karena di sisi selatan danau tersebut terdapat chekdam yang berfungsi untuk mengatur keluarnya air danau pada suatu sungai sink hole. Danau karst tersebut berada di ketinggian sekitar 280m di atas permukaan laut. Seiring berkurangnya curah hujan pada musim kemarau seperti saat ini dan tingkat penguapan yang ada, permukaan air danau ini menyusut drastis. Vegetasi penutup lahan sekeliling danau yang paling utama adalah jati. Walaupun demikian saat ini di sisi barat danau tersebut, lebih kurang berjarak 100m, lahannya telah diusahakan penduduk sebagai lahan perkebunan kelapa sawit. Walaupun demikian tingkat pengendapan pada danau tersebut cukup tinggi.

Danau karst merupakan bentang perairan penting bagi masyarakat sekitar. Masyarakat sekitar memanfaatkan air danau tersebut untuk keperluan sehari-hari dengan menyalurkan air tersebut melalui pipa-pipa maupun selang-selang plastik, walau jumlahnya tidak terlalu banyak. Di samping itu, air danau tersebut digunakan untuk irigasi, terutama ketika musim penghujan. Adapun saat musim kemarau seperti saat ini, air di danau tersebut tidak cukup mengalirkan airnya menuju sungai yang ada di bawahnya, sehingga sungai yang ada menjadi sungai musiman. Perlu diketahui bahwa sungai di daerah karst umumnya kering pada musim kemarau. Kalaupun ada airnya, volumenya sangat terbatas (sungai periodik).

Sumber:
Didik Taryana. 2004. Hidrologi. Malang: Tidak Diterbitkan.

HAFF

Posting ini berkaitan dengan pertanyaan seorang teman tentang tanda (X) yang tertera pada gambar soal nomor 23 Uji Coba (Try Out) Ujian Nasional Ke-3 SMA Kabupaten Malang Tahun 2010/2011. Isi soal tersebut selengkapnya sebagai berikut:
Tanda (X) pada gambar di bawah ini adalah…..

A. haff
B. nehrung
C. tombolo
D. delta
E. muara

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita perlu mengerti tentang konsep yang tertera pada masing-masing pilihan jawaban, mulai dari A sampai E. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
A. Haff adalah danau berair payau atau asin di daerah pantai/pesisir yang terbentuk lantaran perairan pantai/pesisir terhalang oleh gosong (endapan pasir) yang berbentuk memanjang. Sedangkan menurut Moh. Ma’mur Tanudidjaja dan Omi Kartawidjaja (1986:305) adalah “lagun yang terbentuk di muara sungai yang dihalangi oleh spit (nehrung). Memang nama lain dari haff ini adalah laguna/lagun (lagoon). Menurut M.A. Marbun (1982:88) “laguna adalah air (laut) dangkal, kadang-kadang luasnya beberapa mil, sering merupakan teluk atau danau, terletak di antara pulau penghalang dengan pantai. Air laut di dalam atol disebut juga laguna”.
B. Nehrung menurut Moh. Ma’mur Tanudidjaja dan Omi Kartawidjaja (1986:304) bahwa nehrung merupakan sebutan lain untuk spit yang ada di pantai laut Baltik.
Adapun pengertian dari spit atau pacak atau nehrung itu sendiri menurut M.A. Marbun (1982:137) adalah “sejenis gosong (sandbar) yang biasanya terdapat di muara sungai berbentuk estuarium ataupun di teluk, tetapi bentuknya yang khusus ialah bahwa salah satu ujungnya bersambung dengat daratan. Sedangkan menurut Nur Hasan Akhwan (tanpa tahun:83) bahwa spit merupakan bentuk pengendapan yang memanjang terdapat di teluk dan salah satu ujungnya bersambung dengan daratan.
C. Tombolo adalah gosong (endapan pasir) yang memanjang, menghubungkan daratan (pulau utama) dengan pulau kecil di seberangnya.
D. Delta adalah bentuk endapan di muara sungai yang berbentuk etuarium (corong). Material endapan ini disebut delta karena bentuknya mirip huruf delta pada abjad Yunani.
E. Muara adalah tempat pertemuan antara air sungai dengan air laut.

Dengan penjelasan di atas maka jawabannya adalah: A (haff).

Sumber:
– Akhwan, Nur Hasan. Tanpa Tahun. Geografi Xb, Lembar Kerja dan Tugas Siswa. Surabaya: Bintang Karya.
– Marbun, M.A. 1982. Kamus Geografi. Jakarta Timur: Ghalia Indonesia.
– Ma’mur Tanudidjaja, Moh. dan Kartawidjaja, Omi. 1986. Penuntun Pelajaran Geografi. Bandung: Ganeca Exact.