KETEPENG SEBAGAI OBAT

Satu lagi tanaman obat yang sudah jarang terlihat tumbuh liar di kebun-kebun sekitar kita, apalagi di kota besar seperti Jakarta. Tanaman ini dikenal dengan nama Ketepeng yang merupakan tanaman herbal yang ada di Indonesia. Tanaman herbal ketepeng ini hidup dilingkungan liar yang lembab.

Khasiat dan kegunaan tanaman herbal ketepeng tidak bisa diragukan dan banyak mastarakat yang telah membuktikannya. Dahulu waktu penulis masih kecil sekitar tahun ’70 an Ketepeng ini menjadi primadona penduduk desa sebagai salah satu obat munjarab sakit infeksi kulit, panu, kadas, kudis, kurap, borok, sembelit bahkan untuk membasmi cacing kremi pada anak, walaupun ketika itu para Mantri dari Puskesmas masih giat berkeliling dari rumah ke rumah di seluruh pelosok Kabupaten Sleman untuk mencatat kesehatan seluruh anggota masyarakat. Dan bagi yang sakit diberikan obat atau dirujuk untuk ke Puskesmas terdekat.

Entah mengapa kemudian di era tahun ’80 an Ketepeng ini dilupakan bahkan tanamannyapun banyak dibabat habis karena dipandang hanya merusak pemandangan dan menjadi sarang nyamuk. Tetapi mungkin juga karena keberhasilan dari pemerintah dalam program peningkatan kesehatan bagi masyarakat pedesaaan di Jawa, khususnya Yogyakarta. Namun sangat disayangkan peningkatan pengetahuan kesehatan termasuk masalah obat-obatan buatan industry farmasi tidak didukung dengan penyadaran masyarakat akan pentingnya obat-obat herbal yang sudah terbukti sejak nenek moyang kita. Pemerintah pun seakan-akan lupa terhadap masalah obat herbal ini, seakan-akan peningkatan kesehatan hanya akan berhasil dengan dukungan obat-obatan buatan pabrik saja, penelitian tentang obat herbal baru gencar dilakukan di awal abad 20 ini, itu pun belum dirasa keberhasilannya oleh masyarakat luas di Indonesia.

Sebetulnya Indonesia, sudah terkenal merupakan negara yang kaya bahan alam. Salah satu bahan alam yang memiliki potensi untuk diteliti adalah Ketepeng Cina (Cassia alata/KC) ini. Ketepeng Cina (KC) (Cassia alata L.) telah dilaporkan memiliki potensi untuk merangsang respon imun. Selama ini KC banyak dimanfaatkan secara tradisional, antara lain adalah sebagai antiparasit, laksan, kurap, kudis, panu, eksem, malaria, sembelit,radang kulit bertukak, sifilis, herpes, influenza dan bronchitis 3-7. Mengingat pemanfaatannya yang cukup luas spektrumnya terutama pada penyakit infeksi, sangat mungkin efek yang ditimbulkan adalah efek positif sebagai imunostimulator.

Pengetahuan tentang kasiat dan kegunaan tanaman herbal obat Ketepeng ini ada dua jenis yaitu Ketepeng Kecil (Cassia tora Linn.) dan Ketepeng Cina (Cassia alata, Linn.).

KETEPENG CINA

Ketepeng (Cassia alata L) merupakan anggota suku Caesalphiniaceae, masih saudara dari kembang merak. Tumbuhan ini biasa kita jumpai di daerah tepian air, seperti sungai, parit maupun rawa. Tumbuhan ini memiliki ciri-ciri sebagai tanaman perdu, tinggi 1-1,5 m, berdaun majemuk, menyirip genap, bunga berwarna kuning, buah bentuk tandan, polong

Nama Lokal :
Seven golden candlestik (Inggris), Ketepeng kebo (Jawa); Ketepeng cina (Indonesia), Ketepeng badak (Sunda); Acon-aconan (Madura), Sajamera (Halmahera),; Kupang-kupang (Ternate), Tabankun (Tidore); Daun kupang, daun kurap, gelenggang, uru’kap (Sumatera);

KLASIFIKASI : Ketepeng cia disebut Cassiaalata L, termasuk ke dalam famili Leguminosae. Tanaman ini dikenal dengan nama daerah daun kupang,daun kurap, ketepeng badak, ki manila, saya mara atau kupang-kupang.

SIFAT KIMIAWI : Tumbuhan ini kaya dengan berbagai kandungan kimia yang sudah diketahui, a. l : Rein aloe-emodina, rein aloe-emodina-diantron, rein,aloe-emodina, asam krisofanat dan tanin.

EFEK FARMAKOLOGIS : Dalam farmakologi Cina dan pengobatan tradisional lain disebut bahwa tanaman ini memiliki sifat rasa pedas, hangat, insektisidal, menghilangkan gatal-gatal, pencahar, obat cacing, obat kelainan kulit yang disebabkan oleh parasit kulit.

BAGIAN TANAMAN YANG DIGUNAKAN : Efek farmakologi diperoleh dari penggunaan daun.

PENYAKIT YANG DAPAT DISEMBUHKAN DAN CARA PENGGUNAANYA
Berdasarkan berbagai literatur yang mencatat pengalaman secara turun-temurun dari berbagai negara dan daerah, tanaman ini dapat menyembuhkan penyakit-penyakit sebagai berikut :
1. Panu, kurap, eksema. Satu genggam daun ketepeng cina segar ditambah sedikit tawas (atau 1 sendok makan kapur sirih) dilumatkan, kemudian digosokkan kuat-kuat pada kulit yang sakit, 2 x sehari.
2. Sembelit. Daun muda segar 7 lembar ditambah 2 gelas air, didihkan sampai 1 gelas, minum sekaligus.
3. Sariawan. Daun 4 lembar dicuci bersih lalu dikunyah dengan garam secukupnya (seperti mengunyah sirih) selama beberapa menit, kemudian airnya ditelan ampasnya dibuang.
4. Cacing kremi pada anak. Daun 7 lembar ditambah asam secukupnya (untuk menghilangkan bau) ditambah 2 sendok teh bubuk akar kelembak (Rheumofficinale Baill), direbus dengan 2 gelas air sampai menjadi satu gelas, saring, sesudah hangat minum.

CARA BUDIDAYA : Perbanyakan tanaman menggunakan biji. Pemeliharaan tanaman ini mudah, seperti tanaman lain dibu¬tuhkan cukup air dengan penyiraman atau menjaga kelembaban tanah dan pemupukan terutama pupuk dasar. Tanaman ini menghendaki tempat yang cukup matahari.

KETEPENG KECIL

KLASIFIKASI : Ketepeng kecil disebut Cassia torai L. atau Cassiafoetida salisb.r termasukke dalam famili tumbuhan Leguminaceae (Poaceae). Tanaman ini dikenal dengan nama daerah ketepeng cilik, ketepeng letik atau pepo.

SIFAT KIMIAWI : Tumbuhan ini kaya dengan berbagai kandungan kimia yang sudahdiketahui, a.l :
Biji segar : chryzophanol, emodin, aloe-emodin, rhein, physcion, obtusin, aurantio-obtusin, rubro-busarin, torachryson, toralactone, vit A.

EFEK FARMAKOLOGIS : Dalam farmakologi Cina disebutkan bahwa tanaman ini memiliki rasa manis, pahit dan asin, agak dingin. Pengobatan radang mata, peluruhair seni, melancarkan buang air besar. Herba ini masuk meridian liver (membersihkan) dan meridian ginjal (menguatkan).

BAGIAN TANAMAN YANG DIGUNAKAN : Efek farmakologi ini diperoleh dari penggunaan biji,dikeringkan.

PENYAKIT YANG DAPAT DISEMBUHKAN DAN CARA PENGGUNAANYA
Berdasarkan berbagai literatur yang mencatat pengalaman secara turun-temurun dari berbagai negara dan daerah, tanaman ini dapat menyembuhkan penyakit-penyakit sebagai berikut :
1. Radang mata merah, luka kornea, rabun senja, glaucoma.
Bubuk/serbuk ditambah the secukupnya, tempelkan pada kedua pelipis (pada kedua titik akupuntur Tay Yang / istimewa )
2. Tekanan darah tinggi.
Biji 15 gram digongseng ( goreng tanpa minyak) sampai kuning, kemudian digiling sampai terasa kesat, ditambah gula secukupnya, seduh dengan air panas atau direbus, minum sebagai penggantiteh.
3. Hepatitis,cirrhosis, ascites (Perut busung air).
Biji 5 – 15 gram direbus, minum.
4. Sulitbuang air besar (habitual constipation).
Biji 5 – 15 gram direbus, minum.
5. Cacingan pada anak.
Bubuk biji 9 gram ditambah 1 pasang hati ayam, dilumatkan dan ditambah sedikit arak putih, diaduk menjadi lempengan, kukus, makan.

CARA BUDIDAYA : Perbanyakan tanaman menggunakan biji. Pemeliharaan tanaman ini mudah, seperti tanaman lain dibutuhkan cukup air dengan penyiraman atau menjaga kelembaban tanah dan pemupukan terutama pupuk dasar.

info selengkapnya tentang khasiat ketepeng

JALI-JALI JAGUNG

Jali (Coix lacryma-jobi L.), merupakan sejenis tumbuhan biji-bijian (serealia) tropika dari suku padi-padian atau Poaceae. Asalnya adalah Asia Timur dan Malaya namun sekarang telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Beberapa varietas memiliki biji yang dapat dimakan dan dijadikan sumber karbohidrat dan juga obat. Bulir yang masak terbungkus struktur yang keras, berbentuk oval dan berwarna putih.

Biji jali yang sudah dikupas dari cangkangny, kalau dimakan mentah rasanya hambar seperti rasa tepung mentah. Biji jail yang telah digiling atau ditumbuk dapat dimasak menjadi nasi jali, selain itu jali juga dapat dibuat sebagai bahan membuat ketan, dodol jali, bubur jali, dll. Caranya pun tergolong hampir sama dengan bahan baku yang lain. Walaupun sekarang jali nyaris tidak lagi dikonsumsi, mungkin kalah terkenal dengan sumber makanan pokok lainnya. Padahal kalau dikembangkan, jali merupakan tanaman yang bermanfaat dan serbaguna. Serbaguna bagaimana? Nah ini uniknya jali. Tumbuhan ini masih dikenal orang, seperti dalam lagu gambang kromong “Jali-jali”, walaupun begitu saya berkeyakinan banyak orang yang belum pernah melihat jenis tumbuhan ini. Selain sebagai makanan pokok, makanan tambahan, jali juga dapat digunakan sebagai obat.

Ada dua varietas yang ditanam orang. Coix lacryma-jobi var. lacryma-jobi memiliki cangkang (pseudokarpium) keras berwarna putih, bentuk oval, dan dipakai sebagai manik-manik. Coix lacryma-jobi var. ma-yuen dimakan orang dan juga menjadi bagian dari tradisi pengobatan Tiongkok. Di perdagangan internasional ia dikenal sebagai Chinese pearl wheat (gandum mutiara Cina), walaupun ia lebih dekat kekerabatannya dengan jagung daripada gandum.

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Poales
Famili: Poaceae
Genus: Coix
Spesies: C. lacryma-jobi
Nama binomial Coix lacryma-jobi L.

Jali mengandung berbagai macam zat yang sangat diperlukan oleh tubuh. Perbandingan kandungan biji jali dan beras putih dalam 100 gramnya antara lain sebagai berikut

JALI
Bahan Kalori Karbohidrat 289
Lemak 61 4
Kalsium 213
Protein 11,1
Amonium 23
Fosfor 176
Zat Besi 11,0
Vit. B1 0,14

Beras
Bahan Kalori Karbohidrat 248
Lemak 79
Kalsium 1,2
Protein 5
Amonium 40
Fosfor 22
Zat Besi 0,5
Vit. B1 0,02
Sumber : http://azaima.tripod.com/kandungan_gizi/id2.html

Jali juga dapat dikatakan tanaman serbaguna. Mengapa serbaguna? Karena jali bukan hanya sebagai tanaman yang menghasilkan makanan pokok, tapi juga dapat digunakan sebagai makanan tambahan dan juga obat.

1. Jali Sebagai Makanan Pokok
Saat ini masyarakat masih bergantung pada beras sebagai makanan pokoknya. Padahal masih banyak makanan lain yang bisa dijadikan sebagai pengganti beras. Salah satunya ya jali ini. Toh rasanya tidak kalah dengan beras, kandungan gizinya pun cukup. Menurut kebutuhan gizi, beras jali ini juga tidak jauh beda dengan makanan pokok lain. Dalam 100 gram beras jali, terdapat 289 kalori, 11 gram protein, 4 gram lemak, 61 gram karbohidrat, 213 mg kalsium, 176 mg fosfor, 11 mg zat besi, dan masih banyak kandungan lainnya.

2. Jali Sebagai Makanan Tambahan
Jali sebagai makanan tambahan disini yang dimaksud adalah jali tidak hanya digunakan sebagai makanan pokok, melainkan dapat dibuat menjadi dodol jali, tape jali, ketan jali, jenang jali, bubur jali, dan masih banyak jenis makanan lainnya tergantung dari kreatifitas masing masing. Orang tua saya baru pernah membuat jali sebagai tape, jenang, dan bubur jali.

3. Jali sebagai Tanaman Obat
Setelah membaca beberapa artikel tentang jali, ternyata banyak juga manfaatnya. Bukan hanya sebagai makanan pokok, dapat digunakan juga sebagai obat seperti : Diare, radang paru paru, usus buntu, urin sedikit, keputihan, kutil, tidak datang haid, kanker mulut rahim, sakit kuning, dan masih banyak lagi manfaatnya. Jali juga mengandung komponen Coxenolide yang dapat digunakan untuk meningkatkan fungsi Cortex Adrenal pada Ginjal. Jadi, yang terkena penyakit yang berhubungan dengan ginjal, silahkan dengan memakan nasi jali, InsyaAllah fungsi dari ginjal dapat bertambah. Jali juga dapat meingkatkan daya tahan tubuh, mengobati rasa pegal, mengeluarkan nanah, anti toxic, menyembuhkan bisul, cacingan, sakit otot, sakit tulang, sakit persendian, dll.
Lebih lengkapnya di http://www.tanaman-obat.com/aneka-ta…aman-obat-jali .

4. Jali sebagai tanaman langka.
Saat ini jali dapat dikategorikan sebagai tanaman langka, sebab banyak orang yang tidak mengetahui apa itu jali, bagaimana bentuknya dan manfaatnya. Juga yang tadinya di berbagai daerah ada, sekarang sudah tidak lagi dikembangkan. Padahal cara penanamannya juga tergolong mudah dan biaya untuk menanam serta perawatannya juga tergolong murah. Murah dalam arti lebih murah prosesnya daripada tanaman pangan lainnya seperti beras dan jagung. Cara penanaman jali juga cukup mudah. Jali tidak harus ditanam di lahan terbuka. Kebanyakan orang memang menanamnya di lahan terbuka/tegalan. Namun, tidak harus di lahan terbuka. Di kebun yang banyak pepohonan pun juga bisa. Tidak hanya itu saja. Jali juga dapat ditanam di lahan yang kurang subur di tanah yang keras, dan banyak batu, namun bisa tetap tumbuh dengan baik.

Jali ketan ini cocok dengan lahan kering. Masa panen sekitar 5-6 bulan sejak biji ditanam. Dalam satu rumpun dapat terdiri banyak tunas. Kalau dalam 1 lubang ditanam 2 biji, maka dala satu rumpun akan tumbuh sekitar 7-10 tunas pada masa panen pertama. Pada masa panen ke-2 akan menjadi lebih banyak lagi. Berbeda dengan jagung yang hanya satu kali panen per 1x tanam. Tetapi jali dapat dipanen berkali kali dalam satu kali tanam.

SAWO BLUDRU

Sawo Bludru merupakan salah satu buah favorit penulis semasa masih kecil ketika tinggal di Yogyakarta. Walaupun seperti semua jenis Sawo yang mengandung banyak getah (lateks), namun untuk Sawo Bludru ini di kulit buahnya relative lebih banyak mengandung getah dan seringkali nempel di gigi. Rasanya sama seperti buah di Tropical farm. Terbukti setiap musim panen, buah-buah matang langsung habis diserbu anak-anak di pohon sampai tak sempat dijajakan di pasar.

Sawo Bludru merupakan kelompok tanaman yang tergolong dalam suku Sapotaceae (sawo-sawoan). Merupakan tanaman buah-buahan tahunan. Semua jenis Sawo buahnya enak dimakan, sehingga jenis buah Sawo ini banyak dibudidayakan sebagai tanaman buah dan buah sawo ini mempunyai beberapa jenis yaitu: Sawo Bludru, Sawo Manila dan Sawo Kecik. Dari ketiganya yang terkenal hanyalah Sawo Manila dan dua diantaranya mungkin sudah langka.

Nama daerah untuk sawo ini bermacam-macam khususnya di Pulau Jawa antara lain Sawo Bludru (Yk), sawo apel, sawo ijo (Jateng), sawo hejo(Snd), sawo kadu (Btn), kenitu/manecu (Jatim), sawo duren (Btw)

Penulis saat ini akan cerita mengenai sawo bludru yang sudah termasuk tanaman langka untuk dijumpai baik di pedesaan maupun perkotaan. Di Jakarta penulis menjumpai beberapa pohon sawo bludru ini ditanam di halaman Masjid Al-Ittihad perumahan Tebet Mas Jakarta Selatan, sedangkan untuk Sawo Kecik selain dihalaman rumah penulis juga bisa kita jumpai di tanam di halaman Masjid Az-Zihadah Pondok Bambu Jakarta Timur.

Sawo Bludru selain pohonnya langka buahnya pun jarang dijual di pasar. Buahnya sebesar buah apel, berbentuk bulat hingga bulat telur sungsang, berdiameter 5-10 cm, dengan kulit buah licin mengkilap, coklat keunguan atau hijau kekuningan sampai keputihan. Kulit agak tebal, liat, banyak mengandung lateks dan tak dapat dimakan. Daging buah putih atau keunguan, lembut dan banyak mengandung sari buah, manis, membungkus endokarp berwarna putih yang terdiri dari 4-11 ruang yang bentuknya mirip bintang jika dipotong melintang bulat, warna hijau keputih-putihan bila masak di pohon rasanya manis.

Biji 3-10 butir, pipih agak bulat telur, panjang sekitar 1 cm , coklat muda sampai hitam keunguan, keras berkilap.

Pohon Sawo Bludru ini selalu hijau dan tumbuh cepat, dapat mencapai tinggi 30 m, berumur menahun (perenial). Termasuk tumbuhan hermaphroditic (self-fertile) dengan akar tunggang yang kuat mencekeram tanah. Batang berkayu, silindris, tegak, permukaan bergaris kasar, Kulit batang abu-abu gelap sampai keputihan, dengan banyak bagian pohon yang mengeluarkan lateks, getah putih yang pekat, apabila dilukai.

Daunnya berbulu halus berwarna cokelat kemerahan, sedangkan bagian atasnya berwarna hijau mengkilat. Daun tunggal, warna permukaan atas hijau – bawah cokelat, panjang 9 – 14 cm, lebar 3 – 5 cm, helaian daun agak tebal, kaku, bentuk lonjong (elliptica), ujung runcing (acutus), pangkal meruncing (acuminatus), tepi rata, pertulangan menyirip (pinnate), tidak pernah meluruh. Daun tunggal berwarna coklat-keemasan (chrysophyllum berarti daun yang berwarna keemasan), karena bulu-bulu halus yang tumbuh terutama di sisi bawah daun dan di rerantingan; permukaan atasnya lekas gundul dan berwarna hijau cerah. Duduk daun berseling, memencar, bentuk lonjong sampai bundar telur terbalik, 3-6 x 5-16 cm, seperti kulit, bertangkai 0,6-1,7 cm panjangnya.

Perbungaan terletak di ketiak daun, berupa kelompok 5-35 kuntum bunga kecil-kecil bertangkai panjang, kekuningan sampai putih lembayung, harum manis. Kelopak 5 helai, bundar sampai bundar telur; mahkota bentuk tabung bercuping 5, bundar telur, panjang sampai 4 mm.

Klasifikasi
Kingdom: Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Ericales
Family : Sapotaceae
Genus : Chysophyllum
Species : Chrysophyllum cainito L.
Sinonim : Achras caimito

Manfaat :
Kenitu umumnya dikonsumsi sebagai buah segar, meski juga dapat digunakan sebagai bahan baku es krim atau serbat (sherbet). Pohon Kenitu menghasilkan buah setelah berumur 5-6 tahun, dan biasanya musim puncak buah itu di Jawa pada musim kemarau. Di samping itu, banyak bagian pohon yang berkhasiat obat; misalnya kulit kayunya, getah, buah dan biji. Rebusan daunnya dipakai untuk menyembuhkan diabetes dan rematik. Dari pepagannya (kulit kayu) dihasilkan obat kuat dan obat batuk. Pohonnya kerap digunakan sebagai tanaman hias dan peneduh di taman-taman dan tepi jalan. Kayunya cukup baik sebagai bahan bangunan. Dan cabang-cabangnya yang tua dimanfaatkan untuk menumbuhkan anggrek

Sebaran :
Chrysophyllum cainito berasal dari dataran rendah Amerika Tengah dan Hindia Barat. Karena manfaatnya, kini Chrysophyllum cainito telah menyebar ke seluruh daerah tropis. Di Asia Tenggara, Chrysophyllum cainito banyak ditanam di Filipina, Thailand dan Indocina bagian selatan.

BUBUT YANG MALANG

Penulis waktu kecil sekitar usia SD masih sering mendengar suara seram burung Bubut, biasanya di sore hari lebih ramai terdengar bersahut-sahutan di sarangnya. Burung bubut ini lebih banyak dijumpai pada habitat rawa atau semak-semak dekat dengan sungai. Bubut Besar adalah spesies burung yang mempunyai paruh tajam, berdarah panas, dan membiak dengan cara bertelur. Dahulu penulis sering menjumpai burung Bubut di sekitar semak-semak pohon pandan di daerah lereng “pegunungan So” desa Pare Kabupaten Sleman.

Penampilannya menyeramkan dan aromanya yang kurang sedap, membuat burung yang satu ini jarang dipelihara oleh orang. Bubut begitulah namanya atau nama latinnya Centropus Negrorufus , burung Bubut ini dinamai demikian karena merujuk dari suaranya yang berbunyi :”but….but…but…but”.

Sumber makanan burung Bubut ini bukanlah burung yang pemilih dari serangga, siput, kelabang, kepiting kecil, telur burung, katak dan ular pohon disantapnya. Dari jenis kebiasaan makannya Bubut ini memang sama dengan Gagak. Kedua burung ini diyakini masyarakat memiliki hubungan dengan alam gaib karena kemunculannya dikaitkan dengan kejadian kejadian tertentu yang bersifat buruk, karena itulah tak jarang warga mengusirnya kala berkeliaran di rumah mereka.

Namun dibalik penampilannya yang menyeramkan burung Bubut dan predikat jelek yang disandangnya burung ini ternyata banyak dicari orang karena mempunyai khasiat yang besar manfaatnya. Khasiat burung Bubut diyakini bisa sebagai obat untuk patah tulang dan konon kabarnya banyak juga di lakukan oleh masyarakat Dayak di pedalaman kalimantan dan tak hanya untuk obat patah tulang tapi juga buat obat keseleo.

Penulis sendiri masih belum percaya kalau burung Bubut ini berkhasiat untuk obat patah tulang. Untuk membuatnya adalah dengan membutuhkan 1 liter minyak kelapa murni dan seekor burung Bubut. Minyak kelapa ini bukan sembarang minyak, tetapi minyak yang dibuat dari kelapa yang letak buahnya menghadap ke arah kiblat. Dan mendapatkannya tidak boleh dijatuhkan dari atas pohon kelapa, tetapi dipetik dan dibawa turun dengan cara digigit. Setelah burung itu disembelih dan dibersihkan lalu direndam dalam minyak kelapa dan dijerang di atas kompor dengan api yang sedang saja. Api harus di jaga karena jangan sampai minyak menjadi terlalu mendidih sehingga burung Bubut tidak sampai matang dan hangus. Dan minyak yang hangat dari campuran minyak kelapa dan burung Bubut itulah yang bisa dipakai pengobatan. Dan agar minyak benar -benar siap proses pemasakan dilakukan selama tujuh hari terus menerus sampai daging burung Bubut itu mengkerut karena habis sari patinya.

Tetapi sebaiknya anda jangan percaya dengan mitos tersebut, karena dengan adanya kemajuan jaman dunia kedokteranpun makin lama makin maju sehingga tidak perlu lagi memburu burung Bubut yang sudah diambang kepunahan. Suara, rupa dan bau boleh saja tidak sedap, tetapi bukan berarti jenis ini lantas boleh dienyahkan. Hanya saja memang untuk Indonesia masih menjadi problem ketika jaminan kesehatan hanya bagi mereka yang berkantong tebal saja, sehingga orang miskin terpaksa masih mengandalkan terapi alternative dari para dukun patah tulang.


Bubut

Status konservasi Risiko rendah

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Cuculiformes
Famili: Cuculidae
Genus: Centropus
Spesies: C. bengalensis

Nama binomial
Centropus bengalensi

NASIB MUSANG PANDAN (LUWAK)

Penulis saat ini memelihara Musang Pandan satu ekor, yang sebetulnya tidak ada rencana untuk memelihara karena lebih suka kalau dia bebas berkeliaran di alamnya. Penulis akhirnya memutuskan memelihara karena pertimbangan daripada Musangnya mati dibunuh lebih baik dipelihara dan siapa tahu bisa di breeding, kemudian di lepas liarkan. Musang yang penulis piara ini berasal dari tangkapan seorang temen yang merpatinya sering mati terpenggal kepalanya dan tentu saja tersangkanya si Musang, karena modusnya memang begitu.

Di beberapa daerah di Indonesia, hewan ini dikenal dengan beberapa nama seperti Musang (Betawi), Careuh (Sunda), dan Luwak atau Luak (Jawa). Sedang dalam bahasa Inggris binatang seukuran kucing ini disebut Common Palm Civet, Mentawai Palm Civet, Common Musang, House Musang atau Toddy Cat.

Dalam bahasa ilmiah Musang Pandan disebut Paradoxurus hermaphroditus. Nama ini berasal dari fakta bahwa Luwak memiliki semacam bau yang berasal dari kelenjar di dekat anusnya. Samar-samar bau ini menyerupai harum daun pandan, namun dapat pula menjadi pekat dan memualkan.

Musang saat ini walaupun belum punah, tetapi habitatnya sudah mulai sulit ditemukan, selain karena reputasinya yang jelek sebagai pencuri juga karena pembangunan yang tidak mendukung untuk tempat berkembangnya Musang. Terkadang namanya pun banyak disematkan pada peribahasa-peribahasa yang bermakna kurang baik.

Di perkotaan tempat yang bisa dipakai untuk bersarang Musang masih banyak di jumpai seperti di atas plafon rumah atau kantor, tetapi daerah untuk mencari sumber makanan yang agak sulit ditemukan oleh Musang, karena sedikitnya pohon buah-buahan yang boleh diambil gratis oleh Musang. Mungkin karena tidak tersedianya buah-buahan di pohon sebagai sumber makanannya, maka terpaksalah Musang makan kepala ayam, merpati peliharaan bahkan telur-telurnya. Inilah akhir dari sejarah petualangan si Musang karena diburu dan kemudian di bunuh tanpa ampun.

Padahal terdapat sisi baik dari Musang yang sering disebut Luwak kalau di Jawa (Paradoxurus hermaphrodites). Banyak yang mengenal Musang sebagai binatang yang pandai memilih biji kopi terbaik yang setelah dimakan dan dikeluarkan bersama tinjanya kemudian menjadi komoditas kopi pilihan yang sering disebut kopi luwak. Sebetulnya Musang tidak hanya memakan biji kopi saja, tetapi juga buah-buahan kecil yang lain seperti rambutan, alkautsar, sawo kecik dsb, yang kemudian biji dari buah-buahan tersebut akan tersebar dan dapat tumbuh menjadi pohon-pohon baru.

Nah kalau begitu Musang sangat berjasa membantu penghijauan, puji syukur kepada Tuhan yang telah menciptakan makhluk dengan pencernaan yang sederhana sehingga biji-bijian yang dimakannya akan dikeluarkan kembali utuh bersama kotorannya. Kebiasaan makan hewan ini membuatnya mempunyai peranan penting dalam ekologis sebagai pemencar biji yang baik.

Diskripsi, Ciri, dan Perilaku. Musang Pandan atau Common Palm Civet bertubuh sedang berukuran sekitar 50 cm dengan ekor panjang mencapai 45 cm dan berat rata-rata 3,2 kg. Tubuh Luwak ditutupi bulu berwarna kecoklatan dengan moncong dan ekor berwarna kehitaman.

Sisi bagian atas berwarna abu-abu kecoklatan dengan variasi warna coklat merah tua. Muka kaki dan ekor coklat gelap sampai hitam. Dahi dan sisi samping wajah hingga di bawah telinga berwarna keputih-putihan, seperti beruban. Satu garis hitam samar-samar lewat di tengah dahi, dari arah hidung ke atas kepala.

Musang Pandan (Paradoxurus hermaphroditus) merupakan mamalia yang bersifat arboreal (hidup di pepohonan) meski sering juga turun di atas tanah. Musang Pandan juga merupakan binatang nokturnal yang beraktifitas di malam hari.

Musang Pandan merupakan hewan omnivora. Makanan utamanya adalah buah-buahan lembek seperti buah kopi, mangga, pepaya, dan rambutan. Namun Luwak juga memakan telur, serangga, burung dan mamalia kecil.

Persebaran dan Konservasi. Musang Pandan atau Common Palm Civet (Paradoxurus hermaphroditus) tersebar luas mulai dari Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, China, Filipina, India, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Singapura, Srilanka, Thailand, dan Vietnam.

Di Indonesia Musang Pandan tersebar secara alami mulai dari Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Selain itu juga telah diintoduksi ke Papua, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku.

Habitat yang disukai adalah hutan, semak-semak, hutan sekunder, perkebunan, dan di sekitar pemukiman manusia. Musang Pandan (Paradoxurus hermaphroditus) dapat hidup di daerah dataran rendah hingga di daerah dengan ketinggian 2.500 meter dpl.

Populasi dianggap masih banyak dan aman dari kepunahan. Karena itu, IUCN Redlist hanya memasukkannya dalam status konservasi Least Concern sejak 1996.

Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo: Carnivora; Famili: Viverridae; Genus: Paradoxurus; Spesies: Paradoxurus hermaphroditus.