BUDIDAYA KOLAM TERPAL

BUDIDAYA LELE DI KOLAM TERPAL

Kolam terpal adalah kolam yang dasarnya maupun sisi-sisi dindingnya dibuat dari terpal. Kolam terpal dapat mengatasi resiko-resiko yang terjadi pada kolam tanah maupun kolam beton. Terpal yang dibutuhkan untuk membuat kolam ini adalah jenis terpal yang dibuat oleh pabrik dimana setiap sambungan terpal dipres sehingga tidak terjadi kebocoran. Ukuran terpal yang di sediakan oleh pabrik bermacam ukuran sesuai dengan besar kolam yang kita inginkan. Pembuatan kolam terpal dapat dilakukan di pekarangan ataupun di halaman rumah. Lahan yang digunakan untuk kegiatan ini dapat berupa lahan yang belum dimanfaatkan atau lahan yang telah dimanfaatkan, tetapi kurang produktif.
1. Keuntungan dari kolam terpal adalah :
a. Terhindar dari pemangsaan ikan liar.
b. Dilengkapi pengatur volume air yang bermanfaat untuk memudahkan pergantian air maupun panen. Selain itu untuk mempermudah penyesuaian ketinggian air sesuai dengan usia ikan.
c. Dapat dijadikan peluang usaha skala mikro dan makro.
d. Lele yang dihasilkan lebih berkualitas, lele terlihat tampak bersih, dan tidak berbau dibandingkan pemeliharaan di wadah lainnya
Gambar 2. Kolam terpal pemeliharaan lele
Langkah-langkah pembuatan kolam terpal adalah sebagai berikut :
1. Usahakan lahan yang sedikit rindang, tapi jangan langsung di bawah pohon.
2. Terpal, ukuran 4×3 meter (terpal jenis A3 lebih tebal), saat pemasangan sebaiknya ukuran terpal agak dilebihkan agar dapat dibentuk sesuai rangka/patok.
3. Bambu, diperlukan bambu yang dibelah besar, dengan ukuran 2,2 meter sebanyak kurang lebih 10 belahan, dan ukuran 3,2 meter sebanyak kurang lebih 10 belahan.
4. Tiang patok, diperlukan kayu yang nantinya bakal tumbuh agar bisa bertahan lama, seperti tanaman hanjuang atau apa saja yang kuat. Jangan menggunakan bambu karena masa pakainya terbatas.
5. Paku, digunakan untuk memaku belahan bambu ke patoknya.
6. Kawat, digunakan untuk mengikat terpal ke patok/bambu.
Setelah semua bahan tersedia, terlebih dulu ratakan tanah yang akan di pakai untuk mendirikan kolam terpal, jangan sampai ada benda tajam di atasnya. Lalu dirikanlah patok di empat sudut berbeda dengan ukuran panjang 4 meter dan lebar 3 meter. Kemudian pasang belahan bambu 4,2 meter untuk panjangnya dengan menggunakan paku, dan belahan bambu 3,2 meter untuk lebarnya. Pasang agak merapat agar rangka kolam kuat. Setelah semua terpasang, maka terpal dapat dipasang membentuk segi empat di dalam rangka tersebut. Ujung terpal di ikat kuat-kuat dengan kawat ke patok. Karena nantinya terpal akan diisi air, maka pastikan rangka kolam terpasang dengan kuat.
4.1 Peralatan Penunjang
Beberapa jenis alat yang diperlukan diantaranya adalah timbangan, alat tangkap (serok/lambit), ember dan lain-lain. Alat-alat tersebut biasanya dipakai untuk memanen ikan atau pada saat kegiatan sampling pertumbuhan bobot tubuh ikan
Gambar 3. Timbangan, serok dan ember (kiri ke kanan)
4.2 Persiapan Kolam
Sebelum digunakan, sebaiknya kolam dipupuk terlebih dahulu. Pemupukan bermaksud untuk menumbuhkan plankton hewani dan nabati yang menjadi makanan alami bagi benih lele. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang (kotoran ayam) dengan dosis 500-700 gram/m2. Dapat pula ditambahkan urea 15 gram/m2, TSP 20 gram/m2, dan amonium nitrat 15 gram/m2. Tahapan pemupukannya adalah mula-mula kolam diisi air setinggi 30-50 cm dan dibiarkan selama satu minggu sampai warna air kolam berubah menjadi cokelat atau kehijauan, yang menunjukkan mulai banyak jasad-jasad renik yang tumbuh sebagai makanan alami lele. Kemudian secara bertahap ketinggian air ditambah, sebelum benih lele ditebar.
Pertumbuhan pakan alami pada media pemeliharaan (fitoplankton dan zooplankton) juga dapat dibantu dengan penggunaan probiotik/bakteri organik yang telah banyak tersedia. Penggunaan probiotik yang berlebihan (baik yang dicampur dalam pakan maupun ditebar langsung pada badan air/kolam) bukanlah tindakan yang bijak. Idealnya jenis dan takaran probiotik untuk setiap kolam berbeda-beda, tergantung dari kondisi masing-masing kolam berdasarkan hasil pemantauan berkala terhadap nilai pH (derajat keasaman), DO (oksigen terlarut), salinitas, suhu serta tingkat kejernihan air kolam, dan lainnya. Jenis dan kepadatan/konsentrasi kandungan bakteri pada setiap merk produk probiotik berbeda-beda. Dengan demikian penggunaannya pun hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan. Pemakaian probiotik yang berlebihan justru tidak tepat sasaran.
4.3 PENEBARAN BENIH
Sebelum benih ditebar, sebaiknya benih disuci hamakan dulu dengan merendamnya didalam larutan KMNO4 (Kalium Permanganat) atau PK dengan dosis 35 gram/m2 selama 24 jam atau formalin dengan dosis 25 mg/l selama 5-10 menit.
Penebaran benih hendaknya dilakukan pada pagi/sore hari. Pada kedua kondisi ini umumnya perbedaan nilai suhu air pada permukaan dan dasar kolam tidak terlalu besar. Jika perbedaan suhu air wadah benih dan air kolam tebar cukup signifikan, maka perlu dilakukan upaya penyamaan suhu air wadah benih secara bertahap terlebih dahulu agar benih tidak stres saat ditebarkan.
Kedalaman air kolam tebar pun hendaknya disesuaikan dengan jumlah dan ukuran benih. Sedapat mungkin hindari penebaran benih pada kondisi terik matahari secara langsung. Sebaiknya benih ikan tidak ditebar langsung dari wadah ke kolam. Cara yang sering dilakukan adalah menenggelamkan sekaligus wadah dan benih ikan ke dalam kolam tebar secara hati-hati, perlahan dan bertahap. Benih ikan akan mendapat kesempatan beradaptasi (walau sebentar) dengan lingkungan air kolam tebar sedini mungkin meskipun masih berada dalam wadahnya. Kemudian benih ikan dibiarkan keluar sendiri-sendiri dari wadahnya secara bertahap menuju lingkungan air kolam tebar yang sesungguhnya.
Benih yang sudah teraklimatisasi akan dengan sendirinya keluar dari kantong (wadah) angkut benih menuju lingkungan yang baru. Hal ini berarti bahwa perlakuan tersebut dilaksanakan diatas permukaan air kolam dimana wadah (kantong) benih mengapung diatas air. Jumlah benih yang ditebar 100-150 ekor/m2 yang berukuran 8-10 cm
Gambar 4. Benih ikan lele
4.4 PEMBERIAN PAKAN
Pakan yang diberikan berupa pelet dengan kandungan protein berkisar antara 26-28 %. Pemberian pakan ini dilakukan secara berkala dengan dosis 3-5 % dari bobot total ikan dan frekuensi pemberiannya sebanyak tiga kali sehari (pagi, siang dan sore).
Pemberian pakan buatan (pelet) diberikan sejak benih berumur 2 minggu yaitu pakan berupa bentuk serbuk halus. Penghalusan butiran lebih praktis dengan menggunakan alat blender atau dengan cara digerus/ ditumbuk. Kemudian setelah itu berangsur-angsur gunakan pelet diameter 1 milimeter barulah kemudian beralih ke pelet ukuran 2 milimeter (sesuai dengan umur ikan lele). Hal ini dimaksudkan agar pelet dapat dicerna lebih baik dan lebih merata oleh seluruh ikan sehingga meminimalisir terjadinya variasi ukuran ikan lele selama pertumbuhannya.
sumber : http://www.perikanan-budidaya.dkp.go.id

Ikan Air Tawar Kaya Protein dan Vitamin

Kandungan gizi ikan air tawar cukup tinggi dan hampir sama dengan ikan air laut, sehingga dianjurkan untuk dikonsumsi dalam jumlah cukup. Tingginya kandungan protein dan vitamin membuat ikan yang  sangat membantu pertumbuhan manusia. Dibandingkan dengan negara-negara lain, konsumsi ikan per kapita per tahun di Indonesia saat ini masih tergolong rendah, yaitu 19,14 kg. Hal ini sangat disayangkan, terutama mengingat betapa besar peranan gizi ikan bagi kesehatan. Untuk mengatasi masalah rendahnya konsumsi ikan laut akibat harganya yang relatif mahal, perlu upaya pengembangan ikan air tawar.

Sebagai bahan pangan, ikan merupakan sumber protein, lemak, vitamin, dan mineral yang sangat baik dan prospektif. Keunggulan utama protein ikan dibandingkan dengan produk lainnya adalah kelengkapan komposisi asam amino dan kemudahannya untuk dicerna. Mengingat besarnya peranan gizi bagi kesehatan, ikan merupakan pilihan tepat untuk diet di masa yang akan datang.

Ikan dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu ikan air laut, air tawar, dan air payau atau tambak. Ikan yang hidup di air tawar dan air laut sangat banyak, sehingga dibedakan menjadi golongan yang dapat dikonsumsi dan ikan hias.

Lingkungan hidup ikan air tawar adalah sungai, danau, kolam, sawah, atau rawa. Jenis ikan air tawar yang umum dikonsumsi adalah sidat, belut, gurame, lele, mas, nila merah, tawes, karper, nilem, tambakan, sepat siam, mujair, gabus, toman, betok, jambal, dan jelawat.

Budi Daya Air Tawar
Keberhasilan usaha perikanan air tawar ditentukan oleh faktor lingkungan. Tanah liat atau lempung sangat baik untuk pembuatan kolam. Demikian pula untuk tanah beranjangan atau terapan dengan kandungan liatnya 30 persen.

Kedua jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor. Faktor lingkungan dapat berpengaruh terhadap cita rasa ikan, misalnya bau tanah atau lumpur.

Hal lain yang sangat penting diperhatikan dalam budi daya ikan air tawar adalah mutu air. Sumber air bisa berasal dari air sungai, hujan, atau tanah. Mutu air yang diperlukan untuk budi daya ikan air tawar haruslah memenuhi beberapa persyaratan berikut: oksigen terlarut sekitar 5-6 ppm, karbondioksida terlarut kurang dari 25 ppm, pH antara 6,7-8,6, suhu 25-30oC dengan perbedaan suhu antara siang dan malam tidak lebih dari 5oC, serta tidak tercemar bahan kimia beracun, minyak, atau limbah pabrik.

Air yang terlalu keruh tidak baik untuk kehidupan ikan karena endapan lumpurnya terlalu tebal dan pekat, sehingga dapat mengganggu penglihatan ikan dalam air dan menyebabkan nafsu makannya berkurang. Semakin banyak dan beragam biota air yang terdapat di dalam perairan, semakin tinggi tingkat kesuburannya.

Budi daya ikan air tawar lebih mudah dibandingkan dengan ikan air laut. Sebagai contoh budi daya ikan mas sangat mudah sekali dilakukan karena toleransi terhadap lingkungan sangat tinggi. Meski demikian, dalam kenyataannya perkembangan ketersediaan dan konsumsi ikan air laut lebih besar daripada ikan air tawar.

Kendala utama budi daya ikan air tawar adalah diperlukan waktu dan biaya yang cukup tinggi. Komponen biaya meliputi: persiapan kolam, pemilihan induk, pemijahan, penetasan, dan pendederan. Biaya lain yang dianggap cukup tinggi adalah untuk pakan dan pemeliharaan terhadap hama dan penyakit ikan.

Penyimpanan Segar
Ikan air tawar umumnya diperdagangkan dalam keadaan masih hidup. Hal ini sangat menguntungkan karena mutunya masih sangat terjaga baik. Dengan alasan kepraktisan, banyak orang membeli ikan air tawar dalam jumlah banyak dan menyimpannya di rumah untuk berbagai keperluan.

Namun, ikan merupakan bahan pangan yang sangat mudah mengalami kerusakan. Berbagai jenis bakteri dapat menguraikan komponen gizi ikan menjadi senyawa-senyawa berbau busuk dan anyir, seperti indol, skatol, H2S, merkaptan, dan lain-lain. Beberapa bakteri patogen (penyebab penyakit), seperti Salmonella, Vibrio, dan Clostridium, sering mencemari produk perikanan.

Beberapa faktor penyebab kerusakan ikan air tawar adalah:

1. Kadar air cukup tinggi (70-80 persen dari berat daging) yang menyebabkan mikroorganisme mudah tumbuh dan berkembang biak.

2. Secara alami, ikan mengandung enzim yang dapat menguraikan protein menjadi putresin, isobutilamin, kadaverin, dan lain-lain, yang menyebabkan timbulnya bau tidak sedap.

3. Lemak ikan mengandung asam lemak tidak jenuh ganda yang sangat mudah mengalami proses oksidasi atau hidrolisis yang menghasilkan bau tengik.

4. Ikan mempunyai susunan jaringan sel yang lebih longgar, sehingga mikroba dapat dengan mudah mengggunakannya sebagai media pertumbuhan.

Sifat ikan yang sangat mudah rusak ini akan diperberat lagi oleh kondisi penanganan pascapanen yang kurang baik. Kerusakan mekanis dapat terjadi akibat benturan selama penangkapan, pengangkutan, dan persiapan sebelum pengolahan.

Gejala yang timbul akibat kerusakan mekanis ini antara lain memar (karena tertindih atau tertekan), sobek, atau terpotong. Kerusakan mekanis pada ikan ini tidak berpengaruh nyata terhadap nilai gizinya, tetapi cukup berpengaruh terhadap penampilan dan penerimaan konsumen.

Pada dasarnya penanganan dan pengolahan ikan bertujuan untuk mencegah kerusakan atau pembusukan. Upaya untuk memperpanjang daya tahan simpan ikan segar adalah melalui penyimpanan dalam lemari pendingin atau pembeku, yang mampu menghambat aktivitas mikroba atau enzim. Setiap penurunan suhu 8oC menyebabkan kecepatan reaksi metabolisme berkurang menjadi kira-kira setengahnya.

Oleh karena itu, makin rendah suhu penyimpanan ikan, makin panjang daya simpannya. Penyimpanan dingin dalam lemari es (refrigerator) hanya mampu memperpanjang umur simpan ikan hingga beberapa hari, sedangkan dalam lemari pembeku (freezer) akan membuat awet hingga berbulan-bulan, tergantung suhu yang digunakan.

Penyimpanan pada suhu rendah (pendinginan dan pembekuan) tidak dapat membunuh semua mikroorganisme, tetapi menghambat pertumbuhannya. Oleh karena itu, ikan yang akan disimpan pada suhu rendah harus dibersihkan terlebih dahulu untuk mengurangi jumlah mikroorganisme awal yang ada pada bahan tersebut.

Proses pembersihan tersebut dikenal dengan istilah penyiangan, yaitu pembuangan bagian kulit, insang, dan bagian dalam ikan (jeroan). Bagian-bagian tersebut perlu dibuang karena merupakan sumber utama mikroba pembusuk pada penyimpanan ikan.

Cara Membuat Keramba Ikan

Sistem karamba adalah sebuah sistem budidaya ikan yang dilaksanakan didalam sebuah wadah yang terbuat dari bambu maupun jaring.
Budidaya ikan dengan menggunakan sistem karamba dipelopori oleh para petani ikan yang berada disekitar aliran sungai Cibunut, Bandung pada periode tahun 1940an.
Berdasarkan letaknya didalam sebuah perairan, sistem karamba dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu karamba dasar, karamba bawah serta karamba sejajar.



Beberapa jenis ikan air tawar yang ditengarai dapat tumbuh optimal apabila dipelihara dengan sistem karamba adalah ikan mas, ikan bandeng, ikan lele, ikan nila serta ikan mujaer.

BAGAIMANA MEMBUAT KARAMBA ?
Beberapa bahan yang harus dipersiapkan sebelum membuat karamba adalah :
balok kayu dengan ukuran panjang 3 m, lebar 7 cm dan tebal 7 cm, bambu yang telah berusia tua dan berukuran besar serta jaring dengan ukuran mata jaring yang disesuaikan dengan ukuran benih ikan yang akan ditebar.
Adapun tahap – tahap pembuatan filter alga adalah sebagai berikut :
  1. Pembuatan kerangka karamba dengan ukuran panjang 3 meter, lebar 2 meter dan tinggi 1 meter.
  2. Jika bahan yang akan digunakan untuk menutupi tiap sisi karamba adalah berupa bambu, maka bambu – bambu tersebut harus memiliki panjang 1 meter dan lebar 4 cm.
  3. Potongan bambu tersebut direkatkan kedalam kerangka karamba dengan menggunakan paku dan kawat.
  4. Untuk setiap karamba, pada bagian tengah sisi atas dan disalah satu sudut bagian depannya dibuat 1 buah pintu yang masing – masing berukuran 40 x 40 cm. Pintu yang terletak disisi atas karamba akan berguna untuk mempermudah operasional panen, sedangkan pintu yang terletak disalah satu sudut bagian depan karamba akan berfungsi sebagai akses dalam memberikan pakan terhadap ikan yang dipelihara.
KELEBIHAN KARAMBA

Beberapa kelebihan yang dapat diperoleh sehubungan dengan penggunaan karamba ini adalah :
  1. Ikan dapat lebih terlindung dari serangan hama, sehingga berbagai macam kerugian yang disebabkan oleh hal ini dapat lebih diminimalisir.
  2. Kondisi perkembangan dan kesehatan ikan dapat terpantau dengan lebih baik.
  3. Memberikan pasokan oksigen dalam jumlah yang memadai dikarenakan pergantian air terjadi setiap saat.
  4. Sisa makanan dan kotoran ikan dapat langsung terbuang.

BUDIDAYA TIKUS PUTIH

Referensi Budidaya Peternakan :

Tikus putih adalah binatang asli Asia, India, dan Eropa Barat, termasuk dalam keluarga rodentia, sehingga masih termasuk kerabat dengan hamster, gerbil, tupai, dan mahluk pengerat lainnya. Tikus (mus musculus) merupakan makanan yang paling digemari oleh reptilia karena kandungan gizinya lebih banyak dari pada katak. Makanan tikus putih adalah biji-bijian, akar berdaging, daun, batang dan serangga. Tikus putih sering digunakan sebagai sarana penelitian biomedis, pengujian dan pendidikan. Kaitannya dengan biomedis, tikus putih digunakan sebagai model penyakit manusia dalam hal genetika.

Hal tersebut karena kelengkapan organ, kebutuhan nutrisi, metabolisme, dan bio-kimia-nya cukup dekat dengan manusia. Tikus putih yang dimaksud adalah seekor tikus dengan seluruh tubuh dari ujung kepala sampai ekor serba putih, sedangkan matanya berwarna merah jambu. Selain tikus putih, jenis tikus yang sering digunakan untuk penelitian tikus putih besar (rattus norvegicus). Dilihat dari struktur anatomisnya, tikus putih memiliki lima pasang kelenjar susu. Distribusi jaringan mammae menyebar, membentang dari garis tengah ventral atas panggul, dada dan leher. paru-paru kiri terdiri dari satu lobus, sedangkan paru kanan terdiri dari empat lobus.

Sekarang ini, usaha untuk mengembangbiakkan tikus putih sudah mulai marah. Hal ini dikarenakan fungsi tikus putih yang beraneka ragam, serta harganya yang semakin mahal. Usaha untuk mengembangbiakkan tikus putih bisa melalui perusahaan besar yang bertugas mensuplai kebutuhan laboratorium sebuah institusi pendidikan, serta dari usaha perorangan yang melihat bisnis budidaya tikus putih adalah sebuah bisnis yang menjanjikan. Langkah pertama dalam budidaya tikus putih adalah menyiapkan indukan. Indukan yang baik dan sehat, kemungkinan besar akan menghasilkan keturunan yang baik dan sehat.

Untuk membudidayakan tikus putih tidak perlu menggunakan tempat khusus. Tikus putih hanya perlu ditempatkan di bak-bak plastik sederhana, dengan tetap memperhatikan sirkulasi udaranya. Tidak ada makanan khusus yang harus disediakan untuk budidaya tikus putih. Tetapi ada sebuah pengalaman dari seorang pakar yang telah berhasil membudidayakan tikus putih selama bertahun-tahun bahwa : taoge merupakan makanan yang bisa dikonsumsi oleh tikus putih untuk memperbanyak anakan tikus. Indukan yang diberi makanan taoge biasanya akan menghasilkan anakan yang sangat banyak. Rata-rata periode kehamilan tikus putih adalah duapuluh hari. Pada masa itu, tikus putih yang sedang hamil harus dipisahkan dari tikus yang lain. Tujuannya adalah menghindari terjadinya stress pada tikus yang sedang hamil.

Setelah beberapa hari, indukan tikus akan segera melahirkan anaknya yang berwarna merah. Untuk tikus muda, sekali melahirkan bisa menghasilkan empat ekor anakan, dan untuk tikus dewasa bisa menghasilkan sepuluh ekor anakan. Pada masa-masa itu, seorang peternak tikus putih harus selalu memperhatikan makanan bagi indukan tikus supaya gizinya terpenuhi. Bisa dibayangkan jika seekor tikus untuk sekali melahirkan mampu menghasilkan empat sampai dengan sepuluh ekor anakan, serta hanya memerlukan waktu duapuluh hari untuk masa kehamilannya, usaha budidaya tikus putih akan berkembang dengan sangat cepat. Dan dengan pertimbangan kebutuhan tikus putih yang semakin lama semakin meningkat, menjadikan peternak tikus putih semakin antusias untuk mengembangkan usahanya.


Sumber: Klik here

Awalnya hanya untuk iseng saja. Dia memelihara hanya untuk ‘kelangenan‘ (klanengan kok tikus…???).

tikus mabok

mencit01
Mencit (Mus musculus)

Memelihara tikus ternyata sangat mudah. Makanannya apa saja dan mudah perawatannya. Setelah beberapa lama dipelihara, tikusnya mulai beranak pinak. Awalnya cuma lahir beberapa ekor ‘cindil’ (anak tikus). Lama kelamaan satu induk bisa melahirkan sampai 10 ekor cindil.

mencit01

Lama kelamaan jumlah tikus putihnya semakin banyak. Tikus yang banyak ini mau di kemanakan…??? Kemudian dicoba untuk menawarkan pada beberapa toko yang menjual binatang-binatang hias. Ternyata laku. Satu tikus dihargai antara Rp. 3000 – 5000. Memang tidak mahal karena oleh pedagannya mau dijual lagi untuk pakan reptil. Harga tikus putih/mencit untuk pakan di pet shop bisa mencapai Rp. 8-10 rb/ekor.

mencit01

Memelihara tikus sangat mudah sekali. Tikus putih hanya perlu ditempatkan di bak-bak plastik sederhana. Bak-bak ini bisa ditempatkan di rak-rak sederhana. Makanannya pun dari sisa-sisa dapur. Tidak perlu tambahan makanan macam-macam dan tidak perlu membeli.

Tikus beranak pinak dengan cepat. Tikus muda sekali melahirkan bisa 4 ekor cindil. Yang dewasa bisa sampai 10 ekor cindil sekali melahirkan. Kalau punya beberapa induk bisa dihasilkan ratusan cindil setiap bulannya. Sebagai contoh dalam sebulan bisa menjual 500 ekor saja, bearti omzetnya sudah rp. 2.5jt. Kalau mau lebih tinggal dikalikan saja.

mencit01
Mencit (Mus musculus)

Rattus norvegicus strain Wistar
Rattus norvegicus

Ternyata tikus putih alias mencit ini tidak hanya untuk pakan reptil saja. Tikus yang untuk pakan reptil adalah tikus putih biasa atau tikus afkiran. Tikus putih juga biasa digunakan untuk penelitian. Banyak mahasiswa STIKES atau mahasiswa Kedokteran dan Farmasi yang memanfaatkan tikus putih sebagai objek penelitian.

Harga tikus putih untuk penelitian tentu saja jauh lebih tinggi daripada tikus untuk pakan. Karena tikus-tikus untuk penelitian biasanya memerlukan persyaratan khusus. Misalnya: keseragaman galur, umur, dan bobot tubuh. Cara pemeliharaannya pun juga sedikit berbeda, lebih diperhatikan masalah kebersihan dan pakannya.

Permintaan tikus putih untuk penelitian ada spesifikasinya. Jenis tikus yang biasa untuk penelitian selain mencit (Mus musculus) adalah tikus putih besar (Rat) dari spesies Rattus norvegicus. Tetapi sekali lagi bukan sembarang Rattus norvegicus yang diminta untuk penelitian. Galur/strain Rattus norvegicus yang biasa diminta untuk penelitian dari galur Wistar dan Sprague Dawley (SD). Umunnya penelitian mahasiswa di Indonesia menggunakan galur Wistar.

Rattus norvegicus
Stok Rat untuk penelitian, tersedia segala umur dan bobot tubuh. Melayani semua kebutuhan penelitian.

Rattus norvegicus galur Wistar dikembangkan oleh Wistar Institute. Tikus putih ini adalah tikus Rattus norvegicus Albino (putih) yang matanya merah. Jadi sudah berbeda dengan ‘tetuanya’ yang liar. Warna asli Rattus norvegicusadalah coklat, atau sering juga disebut dengan tikus coklat (Brown Rat).

Harga tikus putih besar (Rat) untuk penelitian cukup tinggi. Harga Rat yang tidak memiliki surat keterangan galur/sertifikat bisa mencapai Rp. 30.000-40.000/ekor. Apabila disertai dengan surat keterangan galur, harganya bisa lebih tinggi lagi. Surat keterangan ini juga menjadi jaminan kualitas tikus untuk penelitian.

Bisnis tikut putih memang sangat mengiurkan, apalagi saat ini pasar masih terbuka sangat lebar. Pintar-pintar cari pasar, bisa dapat duit dari si Tikus Putih ini.

tikus emas, mencit, mus musculus, tikus putih
Tikus/mencit emas yang sangat unik dan langka. Warna bulunya kuning keemasan dan yang lebih istimewa lagi adalah warna matanya yang merah menyaladan warna bulunya yang mengkilat . Tikus ini adalah lambang kejayaan, kekayaan, dan keberuntungan. (Sumber : klik here)

tikus belang eksotik

    BUDIDAYA SALAK

    S A L A K

    ( Salacca edulis )

    1. SEJARAH SINGKAT
    Tanaman salak merupakan salah satu tanaman buah yang disukai dan mempunyai prospek baik untuk diusahakan. Daerah asal nya tidak jelas, tetapi diduga dari Thailand, Malaysia dan Indonesia. Ada pula yang mengatakan bahwa tanaman salak (Salacca edulis) berasal dari Pulau Jawa. Pada masa penjajahan biji-biji salak dibawa oleh para saudagar hingga menyebar ke seluruh Indonesia, bahkan sampai ke Filipina, Malaysia, Brunei dan Muangthai.

    2. JENIS TANAMAN

    Di dunia ini dikenal salak liar, seperti Salacca dransfieldiana JP Mo-gea; S. magnifera JP Mogea; S. minuta; S. multiflora dan S. romosiana. Selain salak liar itu, masih dikenal salak liar lainnya seperti Salacca rumphili Wallich ex. Blume yang juga disebut S. wallichiana, C. Martus yang disebut rakum/kumbar (populer di Thailand) sebagai pembuat masam segar pada masakan. Kumbar ini tidak berduri, bunganya berumah 2 (dioeciious). Salak termasuk famili: Palmae (palem-paleman),monokotil, daun-daunnya panjang dengan urat utama kuat seperti pada kelapa yang disebut lidi. Seluruh bagian daunnya berduri tajam Batangnya pendek, lamakelamaan meninggi sampai 3 m atau lebih, akhirnya roboh tidak mampu membawa beban mahkota daun terlalu berat (tidak sebanding dengan batangnya yang kecil).

    Banyak varietas salak yang bisa tumbuh di Indonesi. Ada yang masih muda sudah terasa manis, Varietas unggul yang telah dilepas oleh pemerintah untuk dikembangkan ialah: salak pondoh, swaru, nglumut, enrekang, gula batu (Bali), dan lain-lain. Sebenarnya jenis salak yang ada di Indonesia ada 3 perbedaan yang menyolok, yakni: salak Jawa Salacca zalacca (Gaertner) Voss yang berbiji 2-3 butir, salak Bali Slacca amboinensis (Becc) Mogea yang berbiji 1- 2 butir, dan salak Padang Sidempuan Salacca sumatrana (Becc) yang berdaging merah. Jenis salak itu mempunyai nilai komersial yang tinggi.

    3. MANFAAT TANAMAN
    Buah salak hanya dimakan segar atau dibuat manisan dan asinan. Pada saat ini manisan salak dibuat beserta kulitnya, tanpa dikupas. Batangnya tidak dapat digunakan untuk bahan bangunan atau kayu bakar. Buah matang disajikan sebagai buah meja. Buah segar yang diperdagangkan biasanya masih dalam tandan atau telah dilepas (petilan). Buah salak yang dipetik pada bulan ke 4 atau ke 5 biasanya untuk dibuat manisan.

    4. SENTRA PENANAMAN
    Tanaman salak banyak terdapat di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, Bali, NTB dan Kalimantan Barat.

    5. SYARAT PETUMBUHAN
    5.1. Iklim
    1. Tanaman ssalak sesuai bila ditanam di daerah berzona iklim Aa bcd, Babc dan Cbc. A berarti jumlah bulan basah tinggi (11-12 bulan/tahun), B: 8-10 bulan/tahun dan C : 5-7 bulan/tahun.
    2. Salak akan tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan rata-rata per tahun 200-400 mm/bulan. Curah hujan rata-rata bulanan lebih dari 100 mm sudah tergolong dalam bulan basah. Berarti salak membutuhkan tingkat kebasahan atau kelembaban yang tinggi.
    3. Tanaman salak tidak tahan terhadap sinar matahari penuh (100%), tetapi cukup 50-70%, karena itu diperlukan adanya tanaman peneduh.
    4. Suhu yang paling baik antara 20-30°C. Salak membutuhkan kelembaban tinggi, tetapi tidak tahan genangan air.

    5.2. Tanah
    1. Tanaman salak menyukai tanah yang subur, gembur dan lembab.
    2. Derajat keasaman tanah (pH) yang cocok untuk budidaya salak adalah 4,5 – 7,5. Kebun salak tidak tahan dengan genangan air. Untuk pertumbuhannya membutuhkan kelembaban tinggi.

    5.3. Ketinggian Tempat
    Tanaman salak tumbuh pada ketinggian tempat 100-500 m dpl.

    6. PEDOMAN BUDIDAYA
    6.1. Pembibitan
    Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam mengusahakan tanaman salak adalah penggunaan bibit unggul dan bermutu. Tanaman salak merupakan tanaman tahunan, karena itu kesalahan dalam pemakaian bibit akan berakibat buruk dalam pengusahaannya, walaupun diberi perlakuan kultur teknis yang baik tidak akan memberikan hasil yang diinginkan, sehingga modal yang dikeluarkan tidak akan kembali karena adanya kerugian dalam usaha tani. Untuk menghindari masalah tersebut, perlu dilakukan cara pembibitan salak yang baik. Pembibitan salak dapat berasal dari biji (generatif) atau dari anakan (vegetatif).

    Pembibitan secara generatif adalah pembibitan dengan menggunakan biji yang baik diperoleh dari pohon induk yang mempunyai sifat-sifat baik, yaitu: cepat berbuah, berbuah sepanjang tahun, hasil buah banyak dan seragam, pertumbuhan tanaman baik, tahan terhadap serangan hama dan penyakit serta pengaruh lingkungan yang kurang menguntungkan.

    Keuntungan perbanyakan bibit secara generatif:
    a) dapat dikerjakan dengan mudah dan murah
    b) diperoleh bibit yang banyak
    c) tanaman yang dihasilkan tumbuh lebih sehat dan hidup lebih lama
    d) untuk transportasi biji dan penyimpanan benih lebih mudah
    e) tanaman yang dihasilkan mempunyai perakaran kuat sehingga tahan rebah dan kekeringan
    f) memungkinkan diadakan perbaikan sifat dalam bentuk persilangan.

    Kekurangan perbanyakan secara generatif:
    a) kualitas buah yang dihasilkan tidak persis sama dengan pohon induk karena mungkin terjadi penyerbukan silang
    b) agak sulit diketahui apakah bibit yang dihasilkan jantan atau betina.

    1) Persyaratan Bibit
    Untuk mendapatkan bibit yang baik harus dilakukan seleksi terhadap biji yang akan dijadikan benih. Syarat-syarat biji yang akan dijadikan benih :
    a) Biji berasal dari pohon induk yang memenuhi syarat.
    b) Buah yang akan diambil bijinya harus di petik pada waktu cukup umur.
    c) Mempunyai daya tumbuh minimal 85 %.
    d) Besar ukuran biji seragam dan tidak cacat.
    e) Biji sehat tidak terserang hama dan penyakit.
    f) Benih murni dan tidak tercampur dengan kotoran lain.

    2)Penyiapan Bibit
    a) Bibit dari Biji:
    1. Biji salak dibersihkan dari sisa-sisa daging buah yang masih melekat.
    2. Rendam dalam air bersih selama 24 jam, kemudian dicuci.
    b) Bibit dari Anakan
    1. Pilih anakan yang baik dan berasal dari induk yang baik
    2. Siapkan potongan bambu, kemudian diisi dengan media tanah
    3) Teknik Penyemaian Bibit
    a) Bibit dari Biji
    1. Biji salak yang telah direndam dan dicuci, masukkan kedalam kantong plastik yang sudah dilubangi (karung goni basah), lalu diletakkan di tempat teduh dan lembab sampai kecambah berumur 20-30 hari
    2. Satu bulan kemudian diberi pupuk Urea, TSP dan KCl, masing-masing 5 gram, tiap 2-3 minggu sekali
    3. Agar kelembabannya terjaga, lakukan penyiraman setiap hari
    b) Bibit dari Anakan dengan pesemaian bak kayu:
    1. Buat bak kayu dengan ukuran tinggi 25 cm, lebar dan panjang disesuaikan dengan kebutuhan
    2. Diisi dengan tanah subur dan gembur setebal 15-20 cm
    3. Diatas tanah diiisi pasir setebal 5-10 cm
    4. Arah pesemaian Utara Selatan dan diberi naungan menghadap ke Timur
    5. Benih direndam dalam larutan hormon seperti Atonik selama 1 jam, konsentrasi larutan 0,01-0,02 cc/liter air
    6. Tanam biji pada bak pesemaian dengan jarak 10 x 10 cm
    7. Arah biji dibenamkan dengan posisi tegak, miring/rebah dengan mata tunas berada dibawah.
    Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
    Untuk pembibitan dari biji, media pembibitan adalah polybag dengan ukuran 20 x 25 cm yang diisi dengan tanah campur pupuk kandang dengan perbandingan 2:1. Setelah bibit atau kecambah berumur 20-30 hari baru bibit dipindahkan ke polibag.

    Pembibitan dengan sistem anakan, bambu diletakkan tepat di bawah anakan salak, kemudian disiram setiap hari. Setelah 1 bulan akar telah tumbuh dan anakan dipisahkan dari induknya, kemudian ditanam dalam polybag. Pupuk Urea, TSP, KCl diberikan 1 bulan sekali sebanyak 1 sendok
    5) Pemindahan Bibit
    Untuk bibit dari biji, setelah bibit salak berumur 4 bulan baru dipindahkan ke lahan pertanian. Untuk persemaian dari anakan, setelah 6 bulan bibit baru bisa dipindahkan ke lapangan.

    Pengolahan Lahan
    1) Persiapan
    Penetapan areal untuk perkebunan salak harus memperhatikan faktor kemudahan transportasi dan sumber air.
    2) Pembukaan Lahan
    a) Membongkar tanaman yang tidak diperlukan dan mematikan alang-alang serta menghilangkan rumput-rumput liar dan perdu dari areal tanam.
    b) Membajak tanah untuk menghilangkan bongkahan tanah yang terlalu besar.

    6.3. Teknik Penanaman
    1) Pembuatan Lubang Taman
    Lubang tanam dibuat dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm dengan jarak tanam 1 x 4 m; 2 x 2 m atau 1,5 x 2,5 m. Ukuran lubang dapat juga dibuat 50 x 50 x 40 cm, dengan jarak antar 2 x 4 m atau 3 x 4 m. Setiap lubang diberi pupuk kandang yang telah jadi sebanyak 10 kg.
    2) Cara Penanaman
    Biji ditanam langsung dalam lubang sebanyak 3- 4 biji per lubang. Sebulan kemudian biji mulai tumbuh
    3) Lain-lain
    Untuk menghindari sinar matahari penuh, tanaman salak ditanam di bawah tanaman peneduh seperti tanaman kelapa, durian, lamptoro dan sebagainya. Apabila lahan masih belum ada tanaman peneduh, dapat ditanam tanaman peneduh sementara seperti tanaman pisang. Jarak tanam pohon peneduh disesuaikan menurut ukuran luas tajuk misalnya kelapa ditanam dengan jarak 10 x 10 m, durian 12 x 12 m dan lamtoro 12 x 12 m.

    6.4. Pemeliharaan Tanaman
    Untuk menghindari sinar matahari penuh, tanaman salak ditanam di bawah tanaman peneduh seperti tanaman kelapa, durian, lamptoro dan sebagainya. Apabila lahan masih belum ada tanaman peneduh, dapat ditanam tanaman peneduh sementara seperti tanaman pisang. Jarak tanam pohon peneduh disesuaikan menurut ukuran luas tajuk misalnya kelapa ditanam dengan jarak 10 x 10 m, durian 12 x 12 m dan lamtoro 12 x 12 m.
    1.
    Penjarangan dan Penyulaman
    Untuk memperoleh buah yang berukuran besar, maka bila tandan sudah mulai rapat perlu dilakukan penjarangan. Biasanya penjarangan dilakukan pada bulan ke 4 atau ke 5.

    Penyulaman dilakukan pada tanaman muda atau yang baru ditanam, tetapi mati atau pertumbuhannya kurang bagus atau kerdil, atau misalnya terlalu banyak tanaman betinanya. Untuk keperluan penyulaman kita perlu tanaman cadangan (biasanya perlu disediakan 10%) dari jumlah keseluruhan, yang seumur dengan tanaman lainnya. Awal musim hujan sangat tepat untuk melakukan penyulaman. Tanaman cadangan dipindahkan dengan cara putaran, yaitu mengikutsertakan sebagian tanah yang menutupi daerah perakarannya. Sewaktu membongkar tanaman, bagian pangkal serta tanahnya kita bungkus dengan plastik agar aka-akar di bagian dalam terlindung dari kerusakan, dilakukan dengan hati-hati.
    2. Penyiangan
    Penyiangan adalah membuang dan memebersihan rumput-rumput atau tanaman pengganggu lainnya yang tumbuh di kebun salak. Tanaman pengganggu yang lazim di sebut gulma ini bila tidak diberantas akan menjadi pesaing bagi tanaman salak dalam memperebutkan unsur hara dan air.

    Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 2 bulan setelah bibit ditanam, penyiangan berikutnya dilakukan tiap 3 bulan sekali sampai tanaman berumur setahun. Setelah itu penyiangan cukup dilakukan setiap 6 bulan sekali atau 2 kali dalam satu tahun, dilakukan pada awal dan akhir musim penghujan.
    3. Pembubunan
    Sambil melakukan penyiangan, dilakukan pula penggemburan dan pembumbunan tanah ke pokok tanaman salak. Hal ini dilakukan untuk menghemat ongkos kerja juga untuk efisiensi perawatan. Tanah yang digemburkan dicangkul membentuk gundukan atau bumbunan yang berfungsi untuk menguatkan akar dan batang tanaman salak pada tempatnya. Bumbunan jangan sampai merusak parit yang ada.
    4. Perempalan/Pemangkasan
    Daun-daun yang sudah tua dan tidak bermanfaat harus dipangkas. Juga daun yang terlalu rimbun atau rusak diserang hama. Tunas-tunas yang terlalu banyak harus dijarangkan, terutama mendekati saat-saat tanaman berbuah (perempalan). Dengan pemangkasan, rumpun tanaman salak tidak terlalu rimbun sehingga kebun yang lembab serta pengap akibat sirkulasi udara yang kurang lancar diperbaiki. Pemangkasan juga membantu penyebaran makanan agar tidak hanya ke daun atau bagian vegetatif saja, melainkan juga ke bunga, buah atau bagian generatif secara seimbang.

    Pemangkasan dilakukan setiap 2 bulan sekali, tetapi pada saat mendekati masa berbunga atau berbuah pemangkasan kita lakukan lebih sering, yaitu 1 bulan 1 kali.

    Apabila dalam rumpun salak terdapat beberapa anakan, lakukanlah pengurangan anakan menjelang tanaman berbuah. Satu rumpun salak cukup kita sisakan 1 atau 2 anakan. Jumlah anakan maksimal 3-4 buah pada 1 rumpun. Bila lebih dari itu anakan akan mengganggu produktivitas tanaman.

    Pemangkasan daun salak sebaiknya sampai pada pangkal pelepahnya. Jangan hanya memotong setengah atau sebagian daun, sebab bagian yang disisakan sebenarnya sudah tidak ada gunanya bagi tanaman.

    Pemangkasan pada saat lewat panen harus tetap dilakuakan. Alat pangkas sebaiknya menggunakan golok atau gergaji yang tajam. Pemangkasan yang dilaksanakan pada waktu dan cara yang tepat akan membantu tanaman tumbuh baik dan optimal.
    5. Pemupukan
    Semua bahan yang diberikan pada tanaman dengan tujuan memberi tambahan unsur hara untuk memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman disebut pupuk. Ada pupuk yang diberikan melalui daerah perakaran tanaman (pupuk akar). Pupuk yang diberikan dengan cara penyemprotan lewat daun tanaman (pupuk daun). Jenis pupuk ada 2 macam: pupuk organik dan anorganik. Pupuk organik adalah pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, abu tanaman, tepung darah dan sebagainya. Pupuk anorganik adalah: Ure, TSP, Kcl, ZA, NPK Hidrasil, Gandasil, Super Fosfat, Bay folan, Green Zit, dan sebagainya. Pupuk organik yang sering diberikan ke tanaman salak adalah pupuk kandang.

    Umur tanaman :
    a) 0-12 bulan (1 x sebulan): Pupuk kandang 1000, Urea 5 gram, TSP 5 gram, KCl 5 gram.
    b) 12-24 bulan (1 x 2 bulan): Urea 10 gram, TSP 10 gram, KCl 10 gram.
    c) 24-36 bulan (1 x 3 bulan): Urea 15 gram, TSP 15 gram, KCl 15 gram.
    d) 36–dst (1 x 6 bulan): Urea 20 gram, TSP 20 gram, KCl 20 gram.
    6. Pengairan dan Penyiraman
    Air hujan adalah siraman alami bagi tanaman, tetapi sulit untuk mengatur air hujan agar sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman. Air hujan sebagian besar akan hilang lewat penguapan, perkolasi dan aliran permukaan. Sebagian kecil saja yang tertahan di daerah perakaran, air yang tersisa ini sering tidak memenuhi kebutuhan tanaman. Dalam budidaya salak, selama pertumbuhan, kebutuhan akan air harus tercukupi, untuk itu kita perlu memberi air dengan waktu, cara dan jumlah yang sesuai.
    7. Pemeliharaan Lain
    Setelah ditanam di kebun kita buatkan penopang dari bambu atau kayu untuk menjaga agar tanaman tidak roboh.

    7. HAMA DAN PENYAKIT
    7.1. Hama
    1. Kutu wol /putih (Cerataphis sp.)
    Hama ini bersembunyi di sela-sela buah.
    2. Kumbang penggerek tunas (Omotemnus sp..)
    3. Kumbang penggerek batang
    Menyerang ujung daun yang masih muda (paling muda), kemudian akan masuk ke dalam batang. Hal ini tidak menyebabkan kematian tanaman, tetapi akan tumbuh anakan yang banyak di dalam batang tersebut.
    Pengendalian: dimatikan atau dengan cara meneteskan larutan insektisida (Diazenon) dengan dosis 2 cc per liter pada ujung daun yang terserang atau dengan cara menyemprot. Dalam hal ini diusahakan insektisida dapat masuk ke dalam bekas lubang yang digerek.
    Memasukkan kawat yang ujungnya lancip ke dalam lubang yang dibuat kumbang hingga mengenai hama.
    4. Babi hutan, tupai, tikus dan luwak
    Pengendalian: (1) untuk memberantas babi hutan, dilaksanakan dengan penembakan khusus, atau memagari kebun salak dengan salak-salak jantan yang rapat. Akan lebih baik lagi kalau memagari kebun salak dengan kawat berduri; (2) untuk memberantas Tikus, digunakan Zink phosphit, klerat dan lainlain; (3) untuk memberantas Luwak dan Tupai, dapat digunakan umpan buah pisang yang dimasuki Furadan 3 G. Caranya: buah pisang dibelah, kurang lebih 0,5 gram Furadan dimasukkan ke dalamnya, kemudian buah pisang tersebut dijahit dan dijadikan umpan.

    7.2. Penyakit
    1. Penyakit yang sering menyerang salak adalah sebangsa cendawan putih,
    Gejala: busuknya buah. Buah yang terserang penyakit ini kualitasnya jadi menurun, karena warna kulit salak jadi tidak menarik.
    Pengendalian: mengurangi kelembaban tanah, yaitu mengurangi pohon-pohon pelindung.
    2. Noda hitam
    Penyebab: cendawan Pestalotia sp.
    Gejala: adanya bercak-bercakhitam pada daun salak.
    3. Busuk merah (pink)
    Penyebab:cendawan Corticium salmonicolor.
    Gejala:adanya pembusukan pada buah dan batang.
    Pengendalian: tanaman yang sakit dan daun yang terserang harus dipotong dan dibakar di tempat tertentu.

    7.3. Gulma

    Di beberapa tempat di Pulau Jawa, lahan salak dibangun di bekas persawahan. Sehingga otomatis gulma yang merajai kebun adalah gulma-gulma yang biasa terdapat di sawah. Karena lahan sawah yang biasa tergenang air dikeringkan dan dibumbun tanahnya maka gulma yang mampu bertahan adalah gulma berdaun sempit dan tumbuh menjalar yang sedikit sekali terdapat di sawah. Gulma yang berbatang kurus tegak, berdaun panjang yang umumnya di persawahan kurang mampu bertahan. Itulah sebabnya mengapa gulma di lahan bekas persawahan relatif lebih sedikit. Pengendalian secara manual dengan dikored atau dicangkul pun sudah memadai.

    Pemberantasan gulma secara kimia di kebun-kebun salak belum lazim dilaksanakan. Untuk lahan yang tidak seberapa luas, para petani masih menggunakan cara manual (mencabuti rumput-rumputan dengan tangan, dikored atau dicangkul). Bila lahan salak cukup luas, serta baru dibuka, gulma yang terdapat tentu banyak sekali dan sulit diberantas hanya dengan cara manual. Untuk situasi seperti ini perlu menggunakan herbisida, sebab biaya tenaga kerja relatif murah dan hasilnya lebih cepat. Reaksi bahan kimia dalam membunuh tanaman liar juga sangat cepat. Herbisida memiliki pengruh negatif, sebab racun yang dikandungnya dapat membahayakan mahluk hidup lain termasuk ternak dan manusia. Herbisida yang akan digunakan perlu sesuai dengan jenis gulma yang akan diberantas. Pilihan yang kurang tepat akan memboroskan biaya. Gulma dari golongan rumput-rumputan dapat dibasmi dengan herbisida Gramoxone, Gesapas, Basta atau Diuron. Dari golongan teki-tekian dapat diberantas dengan Goal. Alang-alang dapat dibasmi dengan Round-up atau Sun-up. Sedangkan tanaman yang berdaun lebar dapat diatasi dengan Fernimine. Ada juga herbisida yang dapat memberantas beberapa jenis gulma.

    8. P A N E N

    Mutu buah salak yang baik diperoleh bila pemanenan dilakukan pada tingkat kemasakan yang baik. Buah salak yang belum masak, bila dipungut akan terasa sepet dan tidak manis. Maka pemanenan dilakukan dengancara petik pilih, disinilah letak kesukarannya. Jadi kita harus benar-benar tahu buah salak yang sudah tua tetapi belum masak.
    8.1. Ciri dan Umur Panen
    PBuah salak dapat dipanen setelah matang benar di pohon, biasanya berumur 6 bulan setelah bunga mekar (anthesis). Hal ditandai oleh sisik yang telah jarang, warna kulit buah merah kehitaman atau kuning tua, dan bulu-bulunya telah hilang. Ujung kulit buah (bagian buah yang meruncing) terasa lunak bila ditekan. Tanda buah yang sudah tua, menurut sumber lain adalah: warnanya mengkilat (klimis), bila dipetik mudah terlepas dari tangkai buah dan beraroma salak.
    8.2. Cara Panen
    Cara memanen: karena buah salak masaknya tidak serempak, maka dilakukan petik pilih. Yang perlu diperhatikan dalam pemetikan apakah buah salak tersebut akan disimpan lama atau segera dimakan. Bila akan disimpan lama pemetikan dilakukan pada saat buah salak tua (Jawa: gemadung), jadi jangan terlalu tua dipohon. Buah salak yang masir tidak tahan lama disimpan. Pemanenan buah dilakukan dengan cara memotong tangkai tandannya.
    8.3. Periode Panen
    Tanaman salak dalam masa panennya terdapat 4 musim:
    1) Panen raya pada bulan Nopember, Desember dan Januari
    2) Panen sedang pada bulan Mei, Juni dan Juli
    3) Panen kecil pada bulan-bulan Pebruari, Maret dan April.
    4) Masa kosong/istirahat pada bulan-bulan Agustus, September dan Oktober. Bila pada bulan-bulan ini ada buah salak maka dinamakan buah slandren. Menurut sumber lain panen besar buah salak adalah antara bulan Oktober – Januari.

    8.3. Perkiraan Produksi
    Dalam budidaya tanaman salak, hasil yang dapat dicapai dalam satu musim tanam adalah 15 ton per hektar.

    9. PASCA PANEN
    Seperti buah-buahan lainnya, buah salak mudah rusak dan tidak tahan lama. Kerusakan ditandai dengan bau busuk dan daging buah menjadi lembek serta berwarna kecoklat-coklatan. Setelah dipetik buah salak masih meneruskan proses hidupnya berupa proses fisiologi (perubahan warna, pernafasan, proses biokimia dan perombakan fungsional dengan adanya pembusukan oleh jasad renik). Sehingga buah salak tidak dapat disimpan lama dalam keadaan segar, maka diperlukan penanganan pascapanen.
    9.1. Pengumpulan
    Gudang pengumpulan berfungsi sebagai tempat penerima buah salak yang berasal dari petani atau kebun. Dalam gudang pengumpulan ini dilakukan: sortasi, grading dan pengemasan.
    9.2. Penyortiran dan Penggolongan
    Sortasi/pemilihan bertujuan untuk memilih buah yang baik, tidak cacat, dan layak ekspor. uga bertujuan untuk membersihkan buah-buah dari berbagai bahan yang tidak berguna seperti tangkai, ranting dan kotoran. Bahan-bahan tersebut dipotong dengan pisau, sabit, gunting pangkas tajam tidak berkarat sehinga tidak menimbulkan kerusakan pada buah.

    Grading/penggolongan bertujuan untuk:
    a) mendapat hasil buah yang seragam (ukuran dan kualitas)
    b) mempermudah penyusunan dalam wadah/peti/alat kemas
    c) mendapatkan harga yang lebih tinggi
    d) merangsang minat untuk membeli
    e) agar perhitungannya lebih mudah
    f) untuk menaksir pendapatan sementara.

    Penggolongan ini dapat berdasarkan pada : berat, besar, bentuk, rupa, warna, corak, bebas dari penyakit dan ada tidaknya cacat/luka. Semua itu dimasukkan kedalam kelas dan golongan sendiri-sendiri.
    a) Salak mutu AA (betul-betul super, kekuningan, 1kg= 12 buah)
    b) Salak mutu AB (tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, dan sehat)
    c) Salak mutu C (untuk manisan, 1kg = 25 – 30 buah)
    d) Salak mutu BS (busuk atau 1/2 pecah), tidak dijual.

    9.3. Pengemasan dan Pengangkutan
    Tujuan pengemasan adalah untuk melindungi buah salak dari kerusakan, mempermudah dalam penyusunan, baik dalam pengangkutan maupun dalam gudang penyimpanan dan untuk mempermudah perhitungan. Ada pengemasan untuk buah segar dan untuk manisan salak.

    Pengemasan untuk buah segar:
    a) alat pengemas harus berlubang
    b) harus kuat, agar buah salak terlindung tekanan dari luar
    c) dapat diangkut dengan mudah
    d) ukuran pengemas harus disesuaikan dengan jumlah buah.

    Pengemasan untuk manisan salak: dikemas dalam kaleng yang ditutup rapat yang telah dipastursasi sehingga semua mikroba seperti jamur, ragi, bakteri dan enzim dapat mati dan tidak akan menimbulkan proses pembusukan. Untuk manisan yang dikeringkan, umumnya dikemas dalam plastik.

    Pengangkutan merupakan mata rantai penting dalam penanganan, penyimpanan dan distribusi buah-buahan. Syarat-syarat pengangkutan untuk buah-buahan:
    a) Pengangkutan harus dilakukan dengan cepat dan tepat.
    b) Pengemasan dan kondisi pengangkutan yang tepat untuk menjamin terjaganya mutu yang tinggi.
    c) Harapan adanya keuntungan yang cukup dengan menggunakan fasilitas pengangkutan yang memadai.

    10. STANDAR PRODUKSI
    10.1. Ruang Lingkup
    Standar ini meliputi syarat mutu, cara pengujian mutu, cara pengambilan contoh dan cara pengemasan salak.
    10.2. Diskripsi
    Salak adalah buah dari tanamn salak (Salacca adulia Reinw) dalam keadaan cukup tua, utuh, segar dan bersih. Standar mutu salak di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional Indonesia SNI 01-3167-1992.
    10.3. Klasifikasi dan Standar Mutu
    Jenis mutu salak dalam tiga ukuran, yaitu ukuran besar, sedang dan kecil. Berdasarkan berat, masing-masing digolongkan menjadi dua jenis mutu yaitu Mutu I dan Mutu II, ukuran besar, berat 61 gram atau lebih per buah, ukuran sedang, berat 33 – 60 gram per buah dan ukuran kecil, berat 32 gram atau kurang per buah.
    a) Tingkat Ketuaan: mutu I seragam tua, mutu II tidak terlalu matang, cara uji organoleptik
    b) Kekerasan: mutu I keras, mutu II keras, cara uji organoleptik
    c) Kerusakan Kulit Buah: mutu I kulit buah utuh, mutu II utuh , cara uji Organoleptik
    d) Ukuran: mutu I seragam, mutu II seragam, cara uji SP-SMP-310-1981
    e) Busuk (bobot/bobot) : mutu I 1%, mutu II 1 %, cara uji SP-SMP-311-1981
    f) Kotoran: mutu I bebas, mutu II bebas, cara uji organoleptik

    10.4. Pengambilan Contoh
    1) Salak Dalam Kemasan
    Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan seperti terlihat d bawah ini. Dari setiap kemasan diambil contoh sebanyak 2 kg dari bagian atas,tengah dan bawah. Contoh tersebut diacak bertingkat (stratified random sampling) sampai diperoleh minimum 2 kg untuk dianalisa.
    1. Jumlah kemasan dalam partai (lot): s/d100, contoh yang diambil 5.
    2. Jumlah kemasan dalam partai (lot): 101-300 contoh yang diambil 7.
    3. Jumlah kemasan dalam partai (lot): 301-500 contoh yang diambil 9.
    4. Jumlah kemasan dalam partai (lot): 501-1000 contoh yang diambil 10.
    5. Jumlah kemasan dalam partai (lot) >1000 contoh yang diambil min 15.
    2) Salak dalam Curah (in bulk)
    Contoh diambil secara acak sesuai dengqan jumlah berat total seperti terlihat di bawah ini. Contoh-contoh tersebut yang diambil bagian atas, tengah, bawah serta berbagai sudut dicampur, kemudian diacak bertingkat (stratified random sampling) sampai diperoleh minimum 2 kg untuk dianalisa.
    1. Jumlah berat lot (kg): < 200, contoh yang diambil <10.
    2. Jumlah berat lot (kg): 201–500, contoh yang diambil 20.
    3. Jumlah berat lot (kg): 501–1000, contoh yang diambil 30.
    4. Jumlah berat lot (kg): 1.001–5.000, contoh yang diambil 60.
    5. Jumlah berat lot (kg): > 5.000, contoh yang diambil min. 100.

    10.5 Pengemasan
    Salak dikemas dalam besek, keranjang bambu, peti kayu ataupun kemasan lain yang sesuai dengan berat bersih maksimum 40 kg. Daun kering, kertas atau bahan lain dapat dipakai sebagai penyekat. Isi dari kemasan tidak melebihi tutupnya.

    Dibagian luar keranjang/kemasan diberi label yang bertuliskan antara lain :
    a) Nama barang
    b) Jenis mutu
    c) Nama/kode perusahaan/eksportir
    d) Golongan ukuran
    e) Berat bersih
    f) Produksi Indonesia
    g) Negara/tempat tujuan
    h) Daerah asal

    11. DAFTAR PUSTAKA
    1. Balai Informasi Pertanian. (1992). Budidaya Tanaman Salak. LIPTAN Lembar Informasi Pertanian. Palangkaraya-Kalimantan Tengah. Nopember.
    2. Balai Informasi Pertanian (1994-1995). Pembibitan Tanaman Salak. LIPTAN. Lembar Informasi Pertanian. Sumatera Barat.
    3. Departemen Pertanian. (1995). Salak Pondoh. Proyek Informasi Pertanian. Daerah Istimewa Yogyakarta.
    4. Sunarjono, Hendro. (1998). Prospek Berkebun Buah. Jakarta, Penebar Swadaya.
    5. Tim Penulis Penebar Swadaya. (1998). 18 Varietas Salak: Budidaya, Prospek Bisnis, Pemasaran. Jakarta, Penebar Swadaya.

    Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS

    usaha budidaya ikan

    Perkembangan usaha budi daya ikan semakin hari dirasakan semakin meningkat. Hal ini memang sudah sejalan dengan kemajuan jaman dan teknologi. Pembudidaya ikan saat ini cenderung untuk memanfaatkan lahan yang tersedia semaksimal mungkin sehingga produksi persatuan luas juga semakin meningkat.usaha budidaya ikan

    PROSES PEMBUATAN IKAN ASIN_2

    ARTIKEL PERIKANAN

    1. PENDAHULUAN

    Ikan merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat selain
    sebagai komoditi ekspor. Ikan cepat mengalami proses pembusukan
    dibandingkan dengan bahan makanan lain. Bakteri dan perubahan kimiawi
    pada ikan mati menyebabkan pembusukan. Mutu olahan ikan sangat
    tergantung pada mutu bahan mentahnya.
    Tanda ikan yang sudah busuk:
    – mata suram dan tenggelam;
    – sisik suram dan mudah lepas;
    – warna kulit suram dengan lendir tebal;
    – insang berwarna kelabu dengan lendir tebal;
    – dinding perut lembek;
    – warna keseluruhan suram dan berbau busuk.
    Tanda ikan yang masih segar:
    – daging kenyal;
    – mata jernih menonjol;
    – sisik kuat dan mengkilat;
    – sirip kuat;
    – warna keseluruhan termasuk kulit cemerlang;
    – insang berwarna merah;
    – dinding perut kuat;
    – bau ikan segar.

    Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi
    masyarakat, mudah didapat, dan harganya murah. Namun ikan cepat
    mengalami proses pembusukan. Oleh sebab itu pengawetan ikan perlu
    diketahui semua lapisan masyarakat. Pengawetan ikan secara tradisional
    bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam tubuh ikan, sehingga tidak
    memberikan kesempatan bagi bakteri untuk berkembang biak. Untuk
    mendapatkan hasil awetan yang bermutu tinggi diperlukan perlakukan yang
    baik selama proses pengawetan seperti : menjaga kebersihan bahan dan alat
    yang digunakan, menggunakan ikan yang masih segar, serta garam yang
    bersih. Ada bermacam-macam pengawetan ikan, antara lain dengan cara:
    penggaraman, pengeringan, pemindangan, perasapan, peragian, dan
    pendinginan ikan.


    Tabel 1. Komposisi Ikan Segar per 100 gram Bahan

    KOMPONEN ……………………………….KADAR (%)

    Kandungan air ……………………………..76,00

    Protein…………………………………………. 17,00

    Lemak…………………………………………. 4,50

    Mineral dan vitamin …………………….2,52-4,50


    Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa ikan mempunyai nilai protein tinggi, dan

    kandungan lemaknya rendah sehingga banyak memberikan manfaat kesehatan

    bagi tubuh manusia.

    Manfaat makan ikan sudah banyak diketahui orang, seperti di negara Jepang

    dan Taiwanikan merupakan makanan utama dalam lauk sehari-hari yang

    memberikan efek awet muda dan harapan hidup lebih tinggi dari negara

    lainnya. Penggolahan ikan dengan berbagai cara dan rasa menyebabkan orang

    mengkonsumsi ikan lebih banyak.

    Ikan asin adalah makanan awetan yang diolah dengan cara penggaraman dan

    pengeringan.

    Ada 3 cara pembuatan :

    1) Penggaraman kering dengan pengeringan;

    2) Penggaraman basah (perebusan dalam air garam) dengan pengneringan;

    3) Penggaraman yang dikombinasikan dengan peragian (pembuatan ikan

    peda).

    2. BAHAN

    1) Ikan laut (ikan tawar) 10 kg

    2) Garam dapur 3 kg

    3. ALAT

    1) Bak (tong kayu) tempat penggaraman

    2) Pisau

    3) Tampah (nyiru)

    4) Peti Kayu (keranjang bambu)


    CARA PEMBUATAN

    1) Buang isi perut ikan (jangan sampai empedunya pecah);

    2) Sayat-sayat (untuk ikan yang ukuran besar) dengan tebal 2~3 cm, belah dari

    punggungnya (untuk ikan sedang atau kecil);

    3) Cuci, masukkan ke dalam bejana (tong kayu) dan taburi garam;

    4) Susun dalam bak (tong kayu) yang diselang-silang dengan lapisan garam

    kemudian tutup dengan kayu;

    5) Simpan dalam ruangan yang tidak mendapat sinar matahari langsung

    selama 3 hari;

    6) Jemur sampai kering kurang lebih selama 3 hari;

    7) Masukkan dalam keranjang bambu atau peti kayu.


    5. DIAGRAM ALIR PEMBUATAN IKAN ASIN CARA

    PENGGARAMAN KERING


    Sumber Dokumentasi : Click Here

    ANJURAN MENGKONSUMSI IKAN ASIN :

    Pemerintah Indonesia menargetkan produksi ikan nasional mencapai 12,26 juta ton, naik 13% dibandingkan tahun lalu yang sebesar 10,85 juta ton. Namun ini harus diikuti dengan peningkatan konsumsi ikan untuk peningkatan kesejahteraan nelayan dan petani budidaya ikan.


    Ini disampaikan oleh Kepala Pusat Data, Statistik, dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan Yulistyo Mudho dalam siaran pers, Senin (7/2/2011).

    “Dukungan konsumsi dalam negeri sangat diperlukan untuk membangun alur pemasaran produk yang kuat, yang bisa membangun kepercayaan diri pelaku usaha sektor perikanan dari hulu sampai ke hilir. Peningkatan tingkat konsumsi ikan diyakini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya pelaku usaha perikanan,” tuturnya.

    Yulistyo mengatakan, Menteri Kelautan dan Perikanan menargetkan tahun ini kegiatan perikanan budidaya difokuskan pada enam indikator, yaitu:

    • Volume produksi perikanan budidaya sebesar 6.847.500 ton
    • Jumlah benih dengan mutu terjamin sebesar 42,2 milyar ekor benih ikan dan 350.420 ton bibit rumput laut
    • Jumlah kawasan perikanan budidaya yang memiliki prasarana dan sarana yang sesuai kebutuhan sebanyak 116 kab/kota (70 kawasan payau, 116 kawasan tawar, dan 81 kawasan laut)
    • Jumlah kawasan perikanan budidaya (sama dengan point ketiga) yang memiliki usaha yang bankable 116 kab/kota (70 kawasan payau, 116 kawasan tawar, dan 81 kawasan laut)
    • Jumlah kawasan perikanan budidaya yang memiliki lingkungan yang sehat sebanyak 116 kab/kota (70 kawasan payau, 116 kawasan tawar, dan 81 kawasan laut)
    • Persentase perencanaan, pengendalian dan pelaporan terintegrasi, akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.

    Yulistyo mengatakan, masyarakat harus meningkatkan konsumsi ikan karena banyak manfaat dan keunggulan dibandingkan dengan protein hewani lainnya.

    “Ikan memiliki kandungan nutrisi yang relatif aman untuk balita hingga manula. Kandungan omega 3, 6, dan 9 pada ikan memberikan beberapa manfaat.

    Sumber : Click Here

    BUDIDAYA KACANG PANJANG

    ARTIKEL PERTANIAN :

    SYARAT PERTUMBUHAN
    Tanaman tumbuh baik pada tanah Latosol / lempung berpasir, subur, gembur, banyak mengandung bahan organik dan drainasenya baik, pH sekitar 5,5-6,5. Suhu antara 20-30 derajat Celcius, iklimnya kering, curah hujan antara 600-1.500 mm/tahun dan ketinggian optimum kurang dari 800 m dpl.

    PEMBIBITAN

    – Benih kacang panjang yang baik dan bermutu adalah sebagai berikut: penampilan bernas/kusam, daya kecambah tinggi di atas 85%, tidak rusak/cacat, tidak mengandung wabah hama dan penyakit. Keperluan benih untuk 1 hektar antara 15-20 kg.
    – Benih tidak usah disemaikan secara khusus, tetapi benih langsung tanam pada lubang tanam yang sudah disiapkan.

    PENGOLAHAN MEDIA TANAM

    – Bersihkan lahan dari rumput-rumput liar, dicangkul/dibajak hingga tanah menjadi gembur.
    – Buatlah bedengan dengan ukuran lebar 60-80 cm, jarak antara bedengan 30 cm, tinggi 30 cm, panjang tergantung lahan. Untuk sistem guludan lebar dasar 30-40 cm dan lebar atas 30-50 cm, tinggi 30 cm dan jarak antara guludan 30-40 cm
    – Lakukan pengapuran jika pH tanah lebih rendah dari 5,5 dengan dolomit sebanyak 1-2 ton/ha dan campurkan secara merata dengan tanah pada kedalaman 30 cm
    – Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1 botol (500 cc) POC NASA diencerkan dengan air secukupnya untuk setiap 1000 m2(10 botol/ha). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA, cara penggunaannya sebagai berikut:
    alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
    alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram 10 meter bedengan.

    TEKNIK PENANAMAN

    – Jarak lubang tanam untuk tipe merambat adalah 20 x 50 cm, 40 x 60 cm, 30 x 40 cm. Dan jarak tanam tipe tegak adalah 20 x 40 cm dan 30 x 60 cm.
    – Waktu tanam yang baik adalah awal musim kemarau/awal musim penghujan, tetapi dapat saja sepanjang musim asal air tanahnya memadai
    – Benih direndam POC NASA dosis 2 tutup/liter selama 0,5 jam lalu tiriskan
    – Benih dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 2 biji, tutup dengan tanah tipis/dengan abu dapur.

    PENYULAMAN

    Benih kacang panjang akan tumbuh 3-5 hari setelah tanam. Benih yang tidak tumbuh segera disulam.

    PENYIANGAN

    Penyiangan dilakukan pada waktu tanaman berumur 2-3 minggu setelah tanam, tergantung pertumbuhan rumput di kebun. Penyiangan dengan cara mencabut rumput liar/membersihkan dengan alat kored.

    PEMANGKASAN / PEREMPELAN

    Kacang panjang yang terlalu rimbun perlu diadakan pemangkasan daun maupun ujung batang. Tanaman yang terlalu rimbun dapat menghambat pertumbuhan bunga.

    PEMUPUKAN

    Dosis pupuk makro sebagai berikut:

    Waktu
    Dosis Pupuk Makro (per ha)
    Urea (kg) SP-36 (kg) KCl (kg)
    Dasar
    50
    75
    25
    Umur 45 hari
    50
    25
    75
    TOTAL
    100
    100
    100

    Catatan : Atau sesuai rekomendasi setempat.

    Pupuk diberikan di dalam lubang pupuk yang terletak di kiri-kanan lubang tanam. Jumlah pupuk yang diberikan untuk satu tanaman tergantung dari jarak tanam

    POC NASA diberikan 1-2 minggu sekali semenjak tanaman berumur 2 minggu, dengan cara disemprotkan (4-8 tutup POC NASA/tangki). Kebutuhan total POC NASA untuk pemeliharaan 1-2 botol per 1000 M2 (10-20 botol/ha). Akan lebih bagus jika penggunaan POC NASA ditambahkan HORMONIK (3-4 tutup POC NASA + 1 tutup Hormonik/tangki). Pada saat tanaman berbunga tidak dilakukan penyemprotan, karena dapat mengganggu penyerbukan (dapat disiramkan dengan dosis + 2 tutup/10 liter air ).

    PENGAIRAN

    Pada fase awal pertumbuhan benih hingga tanaman muda, penyiraman dilakukan rutin tiap hari. Pengairan berikutnya tergantung musim.

    PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT

    a. Lalat kacang (Ophiomya phaseoli Tryon)

    Gejala: terdapat bintik-bintik putih sekitar tulang daun, pertumbuhan tanaman yang terserang terhambat dan daun berwarna kekuningan, pangkal batang terjadi perakaran sekunder dan membengkak. Pengendalian: dengan cara pergiliran tanaman yang bukan dari famili kacang-kacangan dan penyemprotan dengan PESTONA.

    b. Kutu daun (Aphis cracivora Koch)

    Gejala: pertumbuhan terlambat karena hama mengisap cairan sel tanaman dan penurunan hasil panen. Kutu bergerombol di pucuk tanaman dan berperan sebagai vektor virus. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dengan tanaman bukan famili kacang-kacangan dan penyemprotan Natural BVR

    c. Ulat grayak (Spodoptera litura F.)

    Gejala: daun berlubang dengan ukuran tidak pasti, serangan berat di musim kemarau, juga menyerang polong. Pengendalian: dengan kultur teknis, rotasi tanaman, penanaman serempak, Semprot Natural VITURA

    d. Penggerek biji (Callosobruchus maculatus L)

    Gejala: biji dirusak berlubang-lubang, hancur sampai 90%. Pengendalian: dengan membersihkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman tempat persembunyian hama. Benih kacang panjang diberi perlakuan minyak jagung 10 cc/kg biji.

    e. Ulat bunga ( Maruca testualis)

    Gejala: larva menyerang bunga yang sedang membuka, kemudian memakan polong. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dan menjaga kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman. Disemprot dengan PESTONA

    f. Penyakit Antraknose ( jamur Colletotricum lindemuthianum )

    Gejala serangan dapat diamati pada bibit yang baru berkecamabah, semacam kanker berwarna coklat pada bagian batang dan keping biji. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perlakuan benih sebelum ditanam dengan Natural GLIO dan POC NASA dan membuang rumput-rumput dari sekitar tanaman.

    g. Penyakit mozaik ( virus Cowpea Aphid Borne Virus/CAMV).

    Gejala: pada daun-daun muda terdapat gambaran mosaik yang warnanya tidak beraturan. Penyakit ditularkan oleh vektor kutu daun. Pengendalian: gunakan benih sehat dan bebas virus, semprot vector kutu daun dan tanaman yang terserang dicabut dan dibakar.

    h. Penyakit sapu ( virus Cowpea Witches-broom Virus/Cowpea Stunt Virus.)

    Gejala: pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas (buku-buku) batang sangat pendek, tunas ketiak memendek dan membentuk “sapu”. Penyakit ditularkan kutu daun. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit mosaik.

    i. Layu bakteri ( Pseudomonas solanacearum )

    Gejala: tanaman mendadak layu dan serangan berat menyeabkan tanaman mati. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perbaikan drainase dan mencabut tanaman yang mati dan gunakan Natural GLIO pada awal tanam.

    PANEN DAN PASCA PENEN

    – Ciri-ciri polong siap dipanen adalah ukuran polong telah maksimal, mudah dipatahkan dan biji-bijinya di dalam polong tidak menonjol

    – Waktu panen yang paling baik pada pagi/sore hari. Umur tanaman siap panen 3,5-4 bulan

    – Cara panen pada tanaman kacang panjang tipe merambat dengan memotong tangkai buah dengan pisau tajam.

    – Selepas panen, polong kacang panjang dikumpulkan di tempat penampungan, lalu disortasi

    – Polong kacang panjang diikat dengan bobot maksimal 1 kg dan siap dipasarkan.


    Sumber Info : click here

    Budidaya dan Analisa Usaha Ikan Patin

    DESKRIPSI
    Ikan patin merupakan jenis  ikan konsumsi air tawar,  berbadan panjang
    berwarna putih perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Ikan patin
    dikenal sebagai komoditi yang berprospek cerah, karena memiliki harga jual
    yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan ikan patin mendapat perhatian dan
    diminati oleh para pengusaha untuk membudidayakannya. Ikan ini cukup
    responsif terhadap pemberian makanan tambahan. Pada pembudidayaan,
    dalam usia enam bulan ikan patin bisa mencapai panjang 35-40 cm. Sebagai
    keluarga Pangasidae, ikan ini tidak membutuhkan perairan yang mengalir untuk
    “membongsorkan“ tubuhnya. Pada perairan yang tidak mengalir dengan
    kandungan oksigen rendahpun sudah memenuhi syarat untuk membesarkan
    ikan ini.
    Ikan patin berbadan panjang untuk ukuran ikan tawar lokal, warna putih seperti
    perak, punggung berwarna kebiru-biruan. Kepala ikan patin relatif kecil, mulut
    terletak di ujung kepala agak di sebelah bawah (merupakan ciri khas golongan
    catfish). Pada sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang
    berfungsi sebagai peraba.
    2. SENTRA PERIKANAN
    Penangkaran ikan patin banyak terdapat di Lampung, Sumatera Selatan, Jawa
    Barat, Kalimantan.TTG BUDIDAYA PERIKANAN
    Hal. 2/ 14
    Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
    Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
    Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
    3. JENIS
    Klasifikasi ikan patin adalah sebagai berikut:
    Ordo : Ostarioplaysi.
    Subordo : Siluriodea.
    Famili : Pangasidae.
    Genus : Pangasius.
    Spesies : Pangasius pangasius Ham. Buch.
    Kerabat patin di Indonesia terdapat cukup banyak, diantaranya:
    a) Pangasius polyuranodo (ikan juaro)
    b) Pangasius macronema
    c) Pangasius micronemus
    d) Pangasius nasutus
    e) Pangasius  nieuwenhuisii
    4. MANFAAT
    1) Sebagai sumber penyediaan protein hewani.
    2) Sebagai ikan hias.
    5 .  P E R S Y  AR  A T  AN   L O  K  AS I
    1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,
    tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar
    dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
    2) Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5%
    untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
    3) Apabila pembesaran patin dilakukan dengan jala apung yang dipasang
    disungai maka lokasi yang tepat yaitu sungai yang berarus lambat.
    4) Kualitas air untuk pemeliharaan ikan patin harus bersih, tidak terlalu
    keruhdan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah
    pabrik. Kualitas air harus diperhatikan, untuk menghindari timbulnya jamur,
    maka perlu ditambahkan larutan penghambat pertumbuhan jamur (Emolin
    atau Blitzich dengan dosis 0,05 cc/liter).
    5) Suhu air yang baik pada saat penetasan telur menjadi larva di akuarium
    adalah antara 26–28 derajat C. Pada daerah-daerah yang suhu airnya relatif
    rendah diperlukan heater (pemanas) untuk mencapai suhu optimal yang
    relatif stabil.
    6) Keasaman air berkisar antara: 6,5–7.TTG BUDIDAYA PERIKANAN
    Hal. 3/ 14
    Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
    Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
    Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
    6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
    Budidaya ikan patin meliputi beberapa kegiatan, secara garis besar dibagi
    menjadi 2 kegiatan yaitu pembenihan dan pembesaran. Kedua jenis kegiatan
    ini umumnya belum populer dilakukan oleh masyarakat, karena umumnya
    masih mengandalkan kegiatan penangkapan di alam (sungai, situ, waduk, dan
    lain-lain) untuk memenuhi kebutuhan akan ikan patin.
    Kegiatan pembenihan merupakan upaya untuk menghasilkan benih pada
    ukuran tertentu. Produk akhirnya berupa benih berukuran tertentu, yang
    umumnya adalah benih selepas masa pendederan. Benih ikan patin dapat
    diperoleh dari hasil tangkapan di perairan umum. Biasanya menjelang musim
    kemarau pada pagi hari dengan menggunakan alat tangkap jala atau jaring.
    Benih dapat juga dibeli dari Balai Pemeliharaan Air Tawar di Jawa Barat. Benih
    dikumpulkan dalam suatu wadah, dan dirawat dengan hati-hati selama 2
    minggu. Jika air dalam penampungan sudah kotor, harus segera diganti dengan
    air bersih, dan usahakan terhindar dari sengatan matahari. Sebelum benih
    ditebar, dipelihara dulu dalam jaring selama 1 bulan, selanjutnya dipindahkan
    ke dalam hampang yang sudah disiapkan.
    Secara garis besar usaha pembenihan ikan patin meliputi kegiatan-kegiatan
    sebagai berikut:
    a) Pemilihan calon induk siap pijah.
    b) Persiapan hormon perangsang/kelenjar hipofise dari ikan donor,yaitu ikan
    mas.
    c) Kawin suntik (induce breeding).
    d) Pengurutan (striping).
    e) Penetasan telur.
    f) Perawatan larva.
    g) Pendederan.
    h) Pemanenan.
    Pada usaha budidaya yang semakin berkembang, tempat pembenihan dan
    pembesaran sering kali dipisahkan dengan jarak yang agak jauh. Pemindahan
    benih dari tempat pembenihan ke tempat pembesaran memerlukan
    penanganan khusus agar benih selamat. Keberhasilan transportasi benih ikan
    biasanya sangat erat kaitannya dengan kondisi fisik maupun kimia air, terutama
    menyangkut oksigen terlarut, NH3, CO2 , pH, dan suhu air.
    6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
    Lokasi kolam dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam
    dibangun di lahan yang landai dengan kemiringan 2–5% sehingga
    memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.TTG BUDIDAYA PERIKANAN
    Hal. 4/ 14
    Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
    Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
    Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
    1) Kolam pemeliharaan induk
    Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaannya. Sebagai
    contoh untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter persegi bila
    hanya mengandalkan pakan alami dan dedak. Sedangkan bila diberi pakan
    pelet, maka untuk 100 kg induk memerlukan luas 150-200 meter persegi
    saja. Bentuk kolam sebaiknya persegi panjang dengan dinding bisa ditembok
    atau kolam tanah dengan dilapisi anyaman bambu bagian dalamnya. Pintu
    pemasukan air bisa dengan paralon dan dipasang sarinya, sedangkan untuk
    pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.
    2) Kolam pemijahan
    Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok. Ukuran/luas
    kolam pemijahan tergantung jumlah induk yang dipijahkan dengan bentuk
    kolam empat persegi panjang. Sebagai patokan bahwa untuk 1 ekor induk
    dengan berat 3 kg memerlukan luas kolam sekitar 18 m
    2
     dengan 18 buah
    ijuk/kakaban. Dasar kolam dibuat miring kearah pembuangan, untuk
    menjamin agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu pemasukan bisa
    dengan pralon dan pengeluarannya bisa juga memakai pralon (kalau ukuran
    kolam kecil) atau pintu monik. Bentuk kolam penetasan pada dasarnya sama
    dengan kolam pemijahan dan seringkali juga untuk penetasan menggunakan
    kolam pemijahan. Pada kolam penetasan diusahakan agar air yang masuk
    dapat menyebar ke daerah yang ada telurnya.
    3) Kolam pendederan
    Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk kegiatan
    pendederan ini biasanya ada beberapa kolam yaitu pendederan pertama
    dengan luas 25-500 m
    2
     dan pendederan lanjutan 500-1000 m
    2
     per petak.
    Pemasukan air bisa dengan pralon dan pengeluaran/ pembuangan dengan
    pintu berbentuk monik. Dasar kolam dibuatkan kemalir (saluran dasar) dan di
    dekat pintu pengeluaran dibuat kubangan. Fungsi kemalir adalah tempat
    berkumpulnya benih saat panen dan kubangan untuk memudahkan
    penangkapan benih. dasar kolam dibuat miring ke arah pembuangan. Petak
    tambahan air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air sungai) maka perlu
    dibuat bak pengendapan dan bak penyaringan.
    6.2. Pembibitan
    1) Menyiapkan Bibit
    Bibit yang hendak dipijahkan bisa berasal dari hasil pemeliharaan dikolam
    sejak kecil atau hasil tangkapan dialam ketika musim pemijahan tiba. Induk
    yang ideal adalah dari kawanan patin dewasa hasil pembesaran dikolam
    sehingga dapat dipilihkan induk yang benar-benar berkualitas baik.TTG BUDIDAYA PERIKANAN
    Hal. 5/ 14
    Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
    Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
    Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
    2) Perlakuan dan Perawatan Bibit
    Induk patin yang hendak dipijahkan sebaiknya dipelihara dulu secara khusus
    di dalam sangkar terapung. Selama pemeliharaan, induk ikan diberi
    makanan khusus yang banyak mengandung protein. Upaya untuk
    memperoleh induk matang telur yang pernah dilakukan oleh Sub Balai
    Penelitian Perikanan Air Tawar Palembang adalah dengan memberikan
    makanan berbentuk gumpalan (pasta) dari bahan-bahan pembuat makanan
    ayam dengan komposisi tepung ikan 35%, dedak halus 30%, menir beras
    25%, tepung kedelai 10%, serta vitamin dan mineral 0,5%.
    Makanan diberikan lima hari dalam seminggu sebanyak 5% setiap hari
    dengan pembagian pagi hari 2,5% dan sore hari 2,5%. Selain itu, diberikan
    juga rucah dua kali seminggu sebanyak 10% bobot ikan induk. Langkah ini
    dilakukan untuk mempercepat kematangan gonad.
    Ciri-ciri induk patin yang sudah matang gonad dan siap dipijahkan adalah
    sebagai berikut :
    a. Induk betina
    – Umur tiga tahun.
    – Ukuran 1,5–2 kg.
    – Perut membesar ke arah anus.
    – Perut terasa empuk dan halus bila di raba.
    – Kloaka membengkak dan berwarna merah tua.
    – Kulit pada bagian perut lembek dan tipis.
    – kalau di sekitar kloaka ditekan akan keluar beberapa butir telur yang
    bentuknya bundar dan besarnya seragam.
    b. Induk jantan
    – Umur dua tahun.
    – Ukuran 1,5–2 kg.
    – Kulit perut lembek dan tipis.
    – Bila diurut akankeluar cairan sperma berwarna putih.
    – Kelamin membengkak dan berwarna merah tua.
    Benih ikan patin yang berumur 1 hari dipindahkan ke dalam akuarium
    berukuran 80 cm x 45 cm x 45 cm. Setiap akuarium diisi dengan air sumur
    bor yang telah diaerasi. Kepadatan penebaran ikan adalah 500 ekor per
    akuarium. Aerator ditempatkan pada setiap akuarium agar keperluan oksigen
    untuk benih dapat tercukupi. Untuk menjaga kestabilan suhu ruangan dan
    suhu air digunakan heater atau dapat menggunakan kompor untuk
    menghemat dana.
    Benih umur sehari belum perlu diberi makan tambahan dari luar karena
    masih mempunyai cadangan makanan berupa yolk sac atau kuning telur.
    Pada hari ketiga, benih ikan diberi makanan tambahan berupa emulsi kuning
    telur ayam yang direbus. Selanjutnya berangsur-angsur diganti denganTTG BUDIDAYA PERIKANAN
    Hal. 6/ 14
    Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
    Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
    Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
    makanan hidup berupa  Moina cyprinacea atau yang biasa dikenal dengan
    kutu air dan jentik nyamuk.
    Pembesaran ikan patin dapat dilakukan di kolam, di jala apung, melalui
    sistem pen dan dalam karamba.
    a) Pembesaran ikan patin di kolam dapat dilakukan melalui sistem
    monokultur maupun polikultur.
    b) Pada pembesaran ikan patin di jala apung, hal-hal yang perlu diperhatikan
    adalah: lokasi pemeliharaan, bagaimana cara menggunakan jala apung,
    bagaimana kondisi perairan dan kualitas airnya serta proses
    pembesarannya.
    c) Pada pembesaran ikan patin sistem pen, perlu diperhatikan: pemilihan
    lokasi, kualitas air, bagaimana penerapan sistem tersebut, penebaran
    benih, dan pemberian pakan serta pengontrolan dan pemanenannya.
    d) Pada pembesaran ikan patin di karamba, perlu diperhatikan masalah:
    pemilihan lokasi, penebaran benih, pemberian pakan tambahan,
    pengontrolan dan pemanenan.
    Hampang dapat terbuat dari jaring, karet, bambu atau ram kawat yang
    dilengkapi dengan tiang atau tunggak yang ditancapkan ke dasar perairan.
    Lokasi yang cocok untuk pemasangan hampang : kedalaman air  ± 0,5-3 m
    dengan fluktuasi kedalaman tidak lebih dari 50 cm, arus tidak terlalu deras,
    tetapi cukup untuk sirkulasi air dalam hampang. Perairan tidak tercemar dan
    dasarnya sedikit berlumpur. Terhindar dari gelombang dan angin yang
    kencang serta terhindar dari hama, penyakit dan predator (pemangsa). Pada
    perairan yang dasarnya berbatu, harus digunakan pemberat untuk
    membantu mengencangkan jaring. Jarak antara tiang bambu/kayu sekitar
    0,5-1 m.
    6.3. Pemeliharaan Pembesaran
    1) Pemupukan
    Pemupukan kolam bertujuan untuk meningkatkan dan produktivitas kolam,
    yaitu dengan cara merangsang pertumbuhan makanan alami sebanyakbanyaknya. Pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk kandang atau pupuk
    hijau dengan dosis 50–700 gram/m
    2
    2) Pemberian Pakan
    Pemberian makan dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore). Jumlah makanan
    yang diberikan per hari sebanyak 3-5% dari jumlah berat badan ikan
    peliharaan. Jumlah makanan selalu berubah setiap bulan, sesuai dengan
    kenaikan berat badan ikan dalam hampang. Hal ini dapat diketahui dengan
    cara menimbangnya 5-10 ekor ikan contoh yang diambil dari ikan yang
    dipelihara (smpel).TTG BUDIDAYA PERIKANAN
    Hal. 7/ 14
    Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
    Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
    Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
    3) Pemeliharaan Kolam dan Tambak
    Selama pemeliharaan, ikan dapat diberi makanan tambahan berupa pellet
    setiap hari dan dapat pula diberikan ikan-ikan kecil/sisa (ikan rucah) ataupun
    sisa dapur yang diberikan 3-4 hari sekali untuk perangsang nafsu makannya.
    7. HAMA DAN PENYAKIT
    7.1. Hama
    Pada pembesaran ikan patin di jaring terapung hama yang mungkin menyerang
    antara lain lingsang, kura-kura, biawak, ular air, dan burung. Hama serupa juga
    terdapat pada usaha pembesaran patin sistem hampang (pen) dan karamba.
    Karamba yang ditanam di dasar perairan relatif aman dari serangan hama.
    Pada pembesaran ikan patin di jala apung (sistem sangkar ada hama berupa
    ikan buntal (Tetraodon sp.) yang merusak jala dan memangsa ikan. Hama lain
    berupa ikan liar pemangsa adalah udang, dan seluang (Rasbora). Ikan-ikan
    kecil yang masuk kedalam wadah budidaya akan menjadi pesaing ikan patin
    dalam hal mencari makan dan memperoleh oksigen.
    Untuk menghindari serangan hama pada pembesaran di jala apung (rakit)
    sebaiknya ditempatkan jauh dari pantai. Biasanya pinggiran waduk atau danau
    merupakan markas tempat bersarangnya hama, karena itu sebaiknya semak
    belukar yang tumbuh di pinggir dan disekitar lokasi dibersihkan secara rutin.
    Cara untuk menghindari dari serangan burung bangau (Lepto-tilus javanicus),
    pecuk (Phalacrocorax carbo sinensis), blekok (Ramphalcyon capensis
    capensis) adalah dengan menutupi bagian atas wadah budi daya dengan
    lembararan jaring dan memasang kantong jaring tambahan di luar kantong
    jaring budi daya. Mata jaring dari kantong jaring bagian luar ini dibuat lebih
    besar. Cara ini berfungsi ganda, selain burung tidak dapat masuk, ikan patin
    juga tidak akan berlompatan keluar.
    7.2. Penyakit
    Penyakit ikan patin ada yang disebabkan infeksi dan non-infeksi. Penyakit noninfeksi adalah penyakit yang timbul akibatadanya gangguan faktor yang bukan
    patogen. Penyakit non-infeksi ini tidak menular. Sedangkan penyakit akibat
    infeksi biasanya timbul karena gangguan organisme patogen.
    1) Penyakit akibat infeksi
    Organisme patogen yang menyebabkan infeksi biasanya berupa parasit,
    jamur, bakteri, dan virus. Produksi benih ikan patin secara masal masih
    menemui beberapa kendala antara lain karena sering mendapat serangan
    parasit Ichthyoptirus multifilis (white spot) sehingga banyak benih patin yangTTG BUDIDAYA PERIKANAN
    Hal. 8/ 14
    Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
    Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
    Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
    mati, terutama benih yang berumur 1-2 bulan. Dalam usaha pembesaran
    patin belum ada laporan yang mengungkapkan secara lengkap serangan
    penyakit pada ikan patin, untuk pencegahan, beberapa penyakit akibat
    infeksi berikut ini sebaiknya diperhatikan.
    a. Penyakit parasit
    Penyakit white spot (bintik putih) disebabkan oleh parasit dari bangsa
    protozoa dari jenis Ichthyoptirus multifilis Foquet. Pengendalian:
    menggunakan metil biru atau methilene blue konsentrasi 1% (satu gram
    metil biru dalam 100 cc air). Ikan yang sakit dimasukkan ke dalam bak air
    yang bersih, kemudian kedalamnya masukkan larutan tadi. Ikan dibiarkan
    dalam larutan selama 24 jam. Lakukan pengobatan berulang-ulang
    selama tiga kali dengan selang waktu sehari.
    b. Penyakit jamur
    Penyakit jamur biasanya terjadi akibat adanya luka pada badan ikan.
    Penyakit ini biasanya terjadi akibat adanya luka pada badan ikan.
    Penyebab penyakit jamur adalah Saprolegnia sp. dan Achlya sp. Pada
    kondisi air yang jelek, kemungkinan patin terserang jamur lebih besar.
    Pencegahan penyakit jamur dapat dilakukan dengan cara menjaga
    kualitas air agar kondisinya selalu ideal bagi kehidupan ikan patin. Ikan
    yang terlanjur sakit harus segera diobati. Obat yang biasanya di pakai
    adalah malachyt green oxalate sejumlah 2 –3 g/m air (1 liter) selama 30
    menit. Caranya rendam ikan yang sakit dengan larutan tadi, dan di ulang
    sampai tiga hari berturut- turut.
    c. Penyakit bakteri
    Penyakit bakteri juga menjadi ancaman bagi ikan patin. Bakteri yang
    sering menyerang adalah Aeromonas sp. dan Pseudo-monas sp. Ikan
    yang terserang akan mengalami pendarahan pada bagian tubuh terutama
    di bagian dada, perut, dan pangkal sirip.  Penyakit bakteri yang mungkin
    menyerang ikan patin adalah penyakit bakteri yang juga biasa menyerang
    ikan-ikan air tawar jenis lainnya, yaitu Aeromonas sp. dan Pseudomonas
    sp. Ikan patin yang terkena penyakit akibat bakteri, ternyata mudah
    menular, sehingga ikan yang terserang dan keadaannya cukup parah
    harus segera dimusnahkan. Sementara yang terinfeks, tetapi  belum
    parah dapat dicoba dengan beberapa cara pengobatan. Antara lain: (1)
    Dengan merendam ikan dalam larutan kalium permanganat (PK) 10-20
    ppm selama 30–60 menit, (2) Merendam ikan dalam larutan nitrofuran 5-
    10 ppm selama 12–24 jam, atau (3) merendam ikan dalam larutan
    oksitetrasiklin 5 ppm selama 24 jam.
    2) Penyakit non-infeksi
    Penyakit non-infeksi banyak diketemukan adalah keracunan dan kurang gizi.
    Keracunan disebabkan oleh banyak faktor seperti pada pemberian pakan
    yang berjamur dan berkuman atau karena pencemaran lingkungan perairan.
    Gajala keracunan dapat diidentifikasi dari tingkah laku ikan.
    – Ikan akan lemah, berenang megap-megap dipermukaan air. Pada kasus
    yang berbahaya, ikan berenang terbalik dan mati. Pada kasus kurang gizi,TTG BUDIDAYA PERIKANAN
    Hal. 9/ 14
    Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
    Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
    Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
    ikan tampak kurus dan kepala terlihat lebih besar, tidak seimbang dengan
    ukuran tubuh, kurang lincah dan berkembang tidak normal.
    – Kendala yang sering dihadapi adalah serangan parasit Ichthyoptirus
    multifilis (white spot) mengakibatkan banyak benih mati, terutama benih
    yang berumur 1-2 bulan.
    – Penyakit ini dapat membunuh ikan dalam waktu singkat.
    – Organisme ini menempel pada tubuh ikan secara bergerombol sampai
    ratusan jumlahnya sehingga akan terlihat seperti bintik-bintik putih.
    – Tempat yang disukai adalah di bawah selaput lendir sekaligus merusak
    selaput lendir tersebut.
    8. PANEN
    8.1. Penangkapan
    Penangkapan ikan dengan menggunakan jala apung akan mengakibatkan ikan
    mengalami luka-luka. Sebaiknya penangkapan ikan dimulai dibagian hilir
    kemudian bergerak kebagian hulu. Jadi bila ikan didorong dengan kere maka
    ikan patin akan terpojok pada bagian hulu. Pemanenan seperti ini
    menguntungkan karena ikan tetap mendapatkan air yang segar sehingga
    kematian ikan dapat dihindari.
    8.2. Pembersihan
    Ikan patin yang dipelihara dalam hampang dapat dipanen setelah 6 bulan.
    Untuk melihat hasil yang diperoleh, dari benih yang ditebarkan pada waktu awal
    dengan berat 8-12 gram/ekor, setelah 6 bulan dapat mencapai  600-700
    gram/ekor. Pemungutan hasil dapat dilakukan dengan menggunakan jala
    sebanyak 2-3 buah dan tenaga kerja yang diperlukan sebanyak 2-3 orang. Ikan
    yang ditangkap dimasukkan kedalam wadah yang telah disiapkan.
    9. PASCAPANEN
    Penanganan pascapanen ikan patin dapat dilakukan dengan cara penanganan
    ikan hidup maupun ikan segar.
    1) Penanganan ikan hidup
    Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam
    keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke
    konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:
    a. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat
    C.
    b. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.TTG BUDIDAYA PERIKANAN
    Hal. 10/ 14
    Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
    Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
    Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
    c. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.
    2) Penanganan ikan segar
    Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang
    perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
    a. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
    b. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
    c. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak
    dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan
    daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan
    seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi
    kotak maksimum 50 cm.
    d. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.
    Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan
    jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian
    ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es
    lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian
    juga antara ikan dengan penutup kotak.
    3) Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah
    sebagai berikut:
    a. Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan
    tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong
    plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
    b. Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama
    dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan
    air sumur yang telah diaerasi semalam.
    c. Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.
    Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan
    dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1
    m x 1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan
    dapat menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan
    ukuran 3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan
    dengan ukuran benihnya.
    d. Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi
    menjadi dua bagian, yaitu:
    1. Sistem terbuka
    Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak
    memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba.
    Setiap keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk
    mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
    2. Sistem tertutup
    Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan
    waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media
    pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer
    Na2(hpo)4.1H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yangTTG BUDIDAYA PERIKANAN
    Hal. 11/ 14
    Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
    Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
    Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
    diangkut dengan kantong plastik: (1) masukkan air bersih ke dalam
    kantong plastik kemudian benih; (3) hilangkan udara dengan menekan
    kantong plastik ke permukaan air; (3) alirkan oksigen dari tabung
    dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga
    (air:oksigen=1:1); (4) kantong plastik lalu diikat. (5) kantong plastik
    dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan.
    Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m
    dapat diisi 2 buah kantong plastik.
    Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat
    tujuan adalah sebagai berikut:
    – Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin
    dalam 10 liter air bersih).
    – Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam
    setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong
    plastik terjadi perlahan-lahan.
    – Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan  tetrasiklin selama
    1-2 menit.
    – Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak
    pemberokan benih ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan
    pengobatan dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut.
    Selain tetrsikli dapat juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak
    20 ppm atau formalin sebanyak 4% selama 3-5 menit.
    – Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.
    Pengemasan benih harus dapat menjamin keselamatan benih selama
    pengangkutan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengemasan benih
    ikan patin yaitu:
    – Sediakan kantong plastik sesuai kebutuhan. Setiap kantong dibuat
    rangkap untuk menghindari kebocoran. Sediakan karet gelang untuk
    simpul sederhana. Masing-masing kantong diisi air sumur yang telah
    diaerasi selama 24 jam.
    – Benih ikan yang telah dipuasakan selama 18 jam ditangkap dengan
    serokan halus kemudian dimasukan kedalam kantong plastik tadi.
    – Satu persatu kantong diisi dengan oksigen murni (perbandingan
    air:oksigen = 1:2). Setelah itu segera diikat dengan karet gelang
    rangkap.
    – Kantong-kantong plastik berisi benih dimasukkan kedalam kardus.
    – Lama pengangkutan. Benih ikan patin dapat diangkut selama 10 jam
    dengan tingkat kelangsungan hidup mencapai 98,67%. Jika jarak yang
    hendak ditempuh memerlukan waktu yang lama maka satu- satunya
    cara untuk menjamin agar ikan tersebut selamat adalah dengan
    mengurangi jumlah benih ikan di dalam setiap kantong plastik.
    Berdasarkan penelitian terbukti bahwa benih patin masih aman
    diangkut selama 14 jam dengan kapadatan 300 ekor per liter.TTG BUDIDAYA PERIKANAN
    Hal. 12/ 14
    Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
    Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
    Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
    10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
    10.1.Analisis Usaha Budidaya
    Perkiraan analisis usaha ikan patin pada tahun 1999 di daerah Jawa Barat
    adalah sebagai berikut:
    1) Biaya produksi
    a. Kolam pemijahan 2 x 2 m Rp.     200.000,-
    b Bibit /benih
    – 2 ekor induk @ Rp. 150.000,- Rp.     300.000,-
    – Ikan donor 5 Kg @ Rp. 10.000,- Rp.       50.000,-
    c. Pakan/makanan (Artemia Salina) Rp.       80.000,-
    d. Obat
    – Alat suntik 0,5 cc (2 buah) @ Rp. 4000,- Rp.         8.000,-
    – Pregnil Rp.       50.000,-
    e. Alat
    – Bangunan dan sumur Rp.   2.000.000,-
    – Genzet Rp.   2.500.000,-
    – Aerator Rp.      500.000,-
    – Selang aquarium 50 m @ Rp 1000,- Rp.        50.000,-
    – Kompor (4 unit) @ Rp. 25.000,- Rp.      100.000,-
    – 100 unit aquarium: 40×80 cm @ Rp 35.000,- Rp.   3.500.000,-
    f. Tenaga kerja
    – Tenaga kerja tetap 14 hari, 2 orang @ Rp.20.000,- Rp.      560.000,-
    g. Biaya tak terduga 10% Rp.      989.800,-
    Jumlah biaya produksi Rp. 10.887.800,-
    2) Biaya investasi rata-rata/aquarium Rp.       98.000,-
    3) Presentase output terhadap investasi/aquarium 3,15 %
    4) Analisis usaha untuk menutup investasi
    a. Periode 1: 2 Minggu pertama
    Benih @ Aquarium:100 ekor=100x100xRp.125,- Rp.   1.250.000,-
    b. Periode II :
    Pengeluaran Tetap/2 mingguan Rp.      480.000,-
    Dari perhitungan di atas pada periode ke 14 atau sekitar 7 bulan, telah dapat
    menutup investasi, Pada Produksi ke 15 ke atas sudah dapat memetik
    keuntungan
    10.2.Gambaran Peluang Agribisnis
    Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa,
    danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensiTTG BUDIDAYA PERIKANAN
    Hal. 13/ 14
    Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
    Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
    Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
    alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha perikanan di Indonesia.
    Disamping itu banyak potensi pendukung lainnya yang dilaksanakan oleh
    pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program penelitian dalam hal
    pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen,
    penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import.
    Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan patin dan ikan air tawar
    lainnya selalu mengalami pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil
    penjualan secara rata-rata selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.
    Apabila pasaran lokal ikan patin mengalami kelesuan, maka akan sangat
    berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir
    di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan patin boleh dikatakan hampir tak
    ada masalah, prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi pendukung dan
    faktor permintaan komoditi perikanan untuk pasaran lokal, maka sektor
    perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.
    11. DAFTAR PUSTAKA
    1) Anonim (1995). Pembesaran Ikan Patin Dalam Hampang (Banjarbaru:
    Lembar Informasi Pertanian.
    2) Aida, Siti Nurul, dkk. (1992/1993). Pengaruh Pemberian Kapur Pada Mutu
    Air dan Pertumbuhan Ikan Patin di Kolam Rawa Non Pasang Surut dalam
    Prosiding Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar.
    3) Arifin, Zainal. (1987).  “Pembenihan Ikan Patin (Pangasius pangasius)
    Dengan Rangsangan Hormon” , Buletin Penelitian Perikanan  Darat. 6 (1),
    1987: 42 – 47.
    4) Arifin, Zainal, Pengaruh  Pakan  Terhadap  Pematangan  Calon  Induk
    Ikan  Patin (Pangasius pangasius) dalam Prosiding Seminar Hasil
    Penelitian Perikanan Air Tawar 1992/1993.
    5) ————–, dkk. Perawatan Larva Ikan Patin  (Pangasius pangasius)
    dengan Lingkungan Air Yang Berbeda dalam Proseding Seminar Hasil
    Penelitian Perikanan Air Tawar 1992/1993.
    6) ————–,  dkk. Pemberian Pakan Berbeda Pada Pembesaran Ikan Patin
    (Pangasius pangsius) Dalam Sangkar dalam Proseding Seminar Hasil
    Penelitian Perikanan Air Tawar 1992/1993.
    7) ————–, dan Asyari, Pembesaran Ikan Patin (Pangasius pangasius)
    dalam Sangkar di Kolam dengan Kualitas Air yang Berbeda dalam
    Proseding Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar 1991/1992,
    Balitkanwar, Bogor, 1992.
    8) ————–, dan Asyari, Perawatan Larva Ikan Patin (Pangasius
    pangasius) Dengan Sistem Resirkulasi dalam Proseding Seminar Hasil
    Penelitian Perikanan Air Tawar 1991/1992, Balitkanwar, Bogor, 1992.
    9) ————–; Asyari (1992). Pendederan Benih Ikan Patin (Pangasius
    pangasius) dalam Sangkar dalam Proseding Seminar Hasil Penelitian
    Perikanan Air Tawar 1991/1992, Balitkanwar, Bogor, 1992.TTG BUDIDAYA PERIKANAN
    Hal. 14/ 14
    Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
    Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
    Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
    10) Susanto, Heru (1999). Budi Daya Ikan Patin. Jakarta: Penebar Swadaya,
    1999 ).
    11) Widiayati, Ani, dkk., Pegaruh Padat Tebar Induk Patin (Pangasius
    pangasius ) Yang dipelihara di Karamba Jaring Apung dalam Proseding
    Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar 1991/1992, Balitkanwar,
    Bogor, 1992.
    12. KONTAK HUBUNGAN
    Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS;
    Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
    Jakarta, Maret 2000
    Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas
    Editor : Kemal Prihatman