Ayam Pelung merupakan ayam peliharaan asal Cianjur

Ayam Pelung merupakan ayam peliharaan asal Cianjur, sejenis ayam asli Indonesia dengan tiga sifat genetik. Pertama suara berkokok yang panjang mengalun. Kedua pertumbuhannya cepat. Ketiga postur badan yang besar. Bobot ayam pelung jantan dewasa bisa mencapai 5 – 6 kg dengan tinggi antara 40 sampai 50 cm.

Menurut cerita tahun 1850 di Desa Bunikasih Kecamatan Warungkondang Cianjur ada Kiayi dan Petani bernama H. Djarkasih atau Mama Acih menemukan anak ayam jantan di kebunnya.

Anak ayam yang trundul di bawa pulang dan dipelihara. Pertumbuhan anak ayam tersebut sangat pesat menjadi seekor Ayam Jago bertubuh besar dan tinggi serta suara kokoknya panjang mengalun dan berirama. Ayam jantan itu dinamakan Ayam Pelung dan oleh Mama Acih dikembangkan, dikawinkan dengan ayam betina biasa.

Sekarang Ayam Pelung ini semakin terkenal dan cukup diminati oleh masyarakat umum, wisatawan nusantara dan mancanegara. Seorang Putra Kaisar Jepang pernah berkunjung ke Warungkondang untuk melihat peternakan Ayam Pelung tersebut. Bahkan di Cianjur setiap tahun diselenggarakan kontes Ayam Pelung yang diikuti pemilik dan pemelihara ayam pelung se-Jawa-Barat dan DKI Jakarta. Ayam Pelung terbaik yang menjadi juara kontes bisa mencapai harga jutaan rupiah.

Nama ayam pelung berasal dari bahasa sunda Mawelung atau Melung yang artinya melengkung, karena dalam berkokok menghasilkan bunyi melengkung juga karena ayam pelung memiliki leher yang panjang dalam mengahiri suara / kokokannya dengan posisi melengkung.

Ayam pelung merupakan salah satu jenis ayam lokal indonesia yang mempunyai karakteristik khas, yang secara umum ciri ciri ayam pelumg dapat digambarkan sebagai berikut :
* Badan: Besar dab kokoh (jauh lebih berat / besar dibanding ayam lokal biasa)
* Cakar: Panjang dan besar, berwarna hitam, hijau, kuning atau putih
* Pial: Besar, bulat dan memerah
* Jengger: Besar, tebal dan tegak, sebagian miring dan miring, berwarna merah dan berbentuk tunggal
* Warna bulu: Tidak memiliki pola khas, tapi umumnya campuran merah dan hitam ; kuning dan putih ; dan atau campuran warna hijau mengkilat
* Suara: Berkokok berirama, lebih merdu dan lebih panjang dibanding ayam jenis lainnya.

Budidaya Ayam Pelung
Budidaya yang bertujuan untuk menghasilkan keturunan ayam pelung yang unggul dan baik terus dilakukan secara teliti dan tepat, yang mencakup antara lain : Pemilihan Induk, Pemilihan Pejantan, Teknik pemeliharaan dan kesehatan (sanitasi kandang & vaksinasi berkala). Dengan perkembangan teknologi belakangan ini, kita semua sependapat bahwa ayam pelung harus dikembangkan dan dibididayakan secara maksimal untuk kepentingan kesejahteraan manusia, tetapi dari sisi melestarikan dan mengembangkan ayam pelung dengan tidak harus merusak atau memusnahkan ras pelung yang sudah ada dan terbukti memiliki berbagai keunggulan.

Kontes Dan Bursa Ayam Pelung
Seperti halnya burung perkutut atau burung kicauan lainnya, ayam jago pelung juga dikonteskan yang menitik beratkan kepada alunan suaranya, dan sekarang ini hampir semua aspek sudah mendapat penilaian dalam suatu kontes : kontes suara khusus untuk jago ayam pelung, kontes penampilan, bobot badan dan juga untuk Pelung betina yang meliputi lomba lokal, nasional maupun internasional yang telah diagendakan secara terorganisir pada setiap tahunnya.

Pada kontes Ayam Pelung tersebut selain diadakan lomba tarik suara dan lainnya juga merupakan arena bursa penjualan dari anak ayam sampai ayam dewasa, dari usia 0 s/d 1 bulan (jodoan), usia 3 bulan (sangkal), usia 6 s/d 7 bulan (jajangkar), sampai kepada ayam pelung yang sudah jadi (siap kontes). Dengan demikian lomba/kontes ayam pelung sekaligus merupakan bursa penjualan, promosi dan sosialisasi khusus ayam pelung. Melalui bursa semacam ini para pembeli, penjual dan penggemar merasa puas karena pada umumnya mendapatkan bibit-bibit maupun induk yang berkualitas dan tambahan pengetahuan tentang segala hal mengenai ayam pelung yang cukup memuaskan dari sesama peternak dan penggemar.

Sumber : http://cianjurkab.go.id/Ver.3.0/Content_Nomor_Menu_26_4.html

Beternak Ayam Pelung Cianjur

BERTERNAK dan Budidaya ayam pelung, kata Asep, cukup menjanjikan untung. Sepasang ayam yang masih kecil, berumur satu bulan bisa laku antara Rp 40.000 sampai Rp 50.000, berusia dua bulan Rp 75.000 sampai Rp 100.000, tiga bulan hingga enam bulan Rp 100.000 sampai Rp 300.000. Ketika menginjak umur tujuh bulan, saat ayam mulai berkokok dijual per ekor antara Rp 100.000 sampai Rp 400.000. Dan, lebih dewasa lagi, kalau suaranya bagus bisa laku Rp 1 juta/ekor.

Cuma saja merawatnya yang harus ulet, karena ayam butuh perhatian dalam perawatannya. Misalnya, makanannya juga harus disesuaikan tingkat perkembangan si pelung. Pada ayam pelung berusia sehari sampai dengan satu minggu, sebaiknya diberi makan menir dengan jumlah 18 gram per ekor setiap hari. Untuk yang berumur lebih dari satu minggu diberikan dedak mulai dari 25 gram per ekor setiap hari. Setelah itu sesuai perkembangan usianya, makanannya bisa ditambah sampai 127 gram per ekor setiap hari.

Ayam pelung jantan dewasa yang sudah bersuara mengalun dan indah, makanannya diberi campuran dedak halus, ditambah dengan gabah, nasi setengah matang, katak kecil dicincang, ikan kecil atau belut serta pisang. Sementara pakan jadi buatan pabrik dapat diberikan sesuai tingkatan umur. Namun pakan buatan pabrik tidak baik diberikan untuk ayam pelung jantan yang sudah berkokok merdu.

Ketika ayam mulai terlihat kurang sehat pemiliknya juga harus segera memberi obat. Untuk mencegah penyakit ND (cekak/tetelo/eluk), ayam pelung harus di-vaksinasi ND secara tepat dan benar sesuai program yang ditentukan, sehingga dapat menekan
kematian.

Sebenarnya, program vaksinasi ND ayam pelung sama dengan program vaksinasi ND untuk ayam buras biasa. Program vaksinasi itu diberikan sesuai tahapan usia, yaitu umur empat hari, empat minggu, empat bulan, dan kemudian diulang setiap empat bulan.
Sedang lokasi yang baik untuk pemeliharaan ayam pelung di tempat yang agak dingin dan teduh, dengan ketinggian antara 500-1.500 dpl. Dengan lokasi yang teduh, ayam pelung diharapkan bisa hidup nyaman, sehingga menghasilkan suara yang baik.

Pada umumnya pemeliharaan ayam pelung dilakukan di kandang. Pada awal ertumbuhan, ayam pelung sebaiknya ditempatkan di kandang postal atau kandang berpagar. Namun setelah ayam jantan dewasa sudah berkokok indah, ditempatkan di kandang yang disebut ajeng, yakni kandang khusus yang ditempatkan kurang lebih dua meter dari permukaan tanah.

Sumber : http://rivafauziah.wordpress.com/2009/01/12/beternak-ayam-pelung-cianjur/

BUDIDAYA AYAM PELUNG


Budidaya ayam pelung memiliki keuntungan yang tidak terbatas. Perawatan tidak membutuhkan penanganan khusus, yang harus diutamakan adalah bibit unggulan. Dengan bibit unggulan, hasil anakan akan memiliki nilai jual tinggi.

Rumah di Jalan Raya Dramaga ini terlihat asri dengan rimbunnya pepohonan di halaman depan rumah. Saat memasuki halaman rumah, suara-suara ayam yang merdu menyambut kedatangan kami. Ayam-ayam besar, tinggi, dengan warna-warni yang indah berlarian di depan rumah. Mereka tampak jinak dan biasa dengan kehadiran manusia. Rumah ini sudah sejak lama menjadi tempat budidaya ayam pelung. Pemiliknya, Oni Triyono sangat ramah menyambut kedatangan kami.
“Saya sudah membudidayakan ayam pelung sejak tahun 1994,” terang Oni memulai pembicaraan. Menurut Oni, aktivitasnya ini di­ mulai dari ketidaksengajaan. “Waktu itu saya iseng main ke daerah Cimacan, Cianjur. Ia mengutarakan bahwa ia ingin memulai budidaya ayam. Saudaranya berkata, bila ingin membudidayakan ayam cobalah untuk membudidayakan ayam pelung. Banyak yang bisa diambil dari ayam pelung misal budidayanya sama, namun memiliki nilai ekonomis yang lebih menguntungkan.
Ayam pelung merupakan plasma nutfah dari Cianjur. “Ayam ini asli berasal dari daerah Cianjur.” Ayam ini memiliki kekhasan genetika. Sifat-sifat genetik ini di antaranya suaranya kokokan ayam jantan memiliki suara yang panjang mengalun dan terdengar merdu. Pertumbuhan ayam ini sangat cepat. Bobot ayam pelung di atas rata-rata ayam biasanya. Ayam pelung memiliki berat antara 5 – 8 kilogram dan memiliki tinggi 40 – 50 cm. Cakar ayam pelung panjang dan besar, berwarna hitam, hijau, ku­ning atau putih. Ayam ini memiliki pial besar, bulat, dan memerah. Jengger ayam besar, tebal, tegak, berwarna merah darah, dan berbentuk tunggal. Warna bulu memiliki pola khas, umumnya campuran merah dan hitam, kuning dan putih, atau campuran hijau mengkilat.
“Kehadiran ayam ini tidak bisa dilepaskan dari cerita yang terus diyakini sebagai awal dikenalnya ayam pelung.” Di tahun 1850-an, hidup seorang petani bernama Haji Djarkasih atau akrab disapa Mama Acih. Ia merupakan ulama terkenal di Desa Bunikasih Kecamatan Warung Kondang Cianjur. Suatu waktu ia me­nemukan seekor ayam trundul (gundul) jantan di kebunnya. Anak ayam ini kemudian dikukut (dipelihara) oleh Mama Acih.
Pertumbuhan anak ayam tersebut sangatlah pesat. Selang beberapa bulan, ayam ini sudah menjadi seekor ayam jago yang bertubuh besar, tinggi, serta memiliki kokokan yang mengalun, merdu, dan lama. Mama Acih kemudian mengawinkannya dengan ayam betina biasa dan beranak pinak, ayam jago ini memiliki anakan yang bersifat genetik dengannya. Mama Acih kemudian menamakan ayam ini sebagai ayam pelung. Nama ayam pelung berasal dari bahasa sunda mawelung atau melung yang artinya melengkung, karena dalam berkokok menghasilkan bunyi melengkung. Nama pelung juga karena ayam ini memiliki leher yang panjang dalam mengakhiri suara/kokokannya dengan posisi melengkung.
“Ayam ini, sekarang sudah dikenal bukan hanya di Cianjur. Ayam pelung sudah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia dan bahkan hingga ke mancanegara. Ayam ini menjadi ayam kelas atas kesayangan para bangsawan dan pehobi binatang peliharaan.” Bahkan, Oni bercerita, suatu waktu ada seorang Putra Kaisar Jepang pernah berkunjung ke Warung Kondang untuk melihat peternakan ayam pelung tersebut. Ia menyempatkan membeli ayam pelung dan dibawa ke Jepang. Bahkan di Cianjur setiap tahun diselenggarakan kontes ayam pelung yang diikuti pemilik dan pemelihara ayam pelung se-Jawa Barat dan DKI Jakarta. Ayam pelung terbaik yang menjadi juara kontes bisa mencapai harga jutaan rupiah.
“Budidaya Ayam pelung umumnya sama dengan budidaya ayam kampung.” Menurut Oni, ayam pelung memiliki kebiasaan seperti layaknya ayam kampung. Yang harus diperhatikan jika ingin membudidayakannya adalah bibit. Oni meyakini, kualitas ayam pelung tergantung dari bibit. Bila bibit bagus atau bibit dari ayam jago yang selalu menang kontes, maka anaknya pun akan memiliki sifat yang sama seperti indukannya. “Untuk perawatan sama saja dengan budidaya ayam biasa. Yang membedakan adalah pemberian buah-buahan seperti pisang siem atau pisang batu untuk merangsang suara ayam. Selain itu, ayam perlu dijemur sekitar 10 – 25 menit setiap hari.
Pangsa pasar ayam pelung sudah memiliki pasar tersendiri. Pa­sar untuk ayam pelung umunya adalah pehobi ayam hias. Mereka melakukan pertemuan rutin dalam sebuah kontes ayam pelung. Di sinilah pe­luang – peluang bisnis dan jalinan jual – beli ayam pelung biasa dilakukan. Selain diadakan lomba tarik suara dan lainnya juga merupakan arena bursa penjualan dari anak ayam sampai ayam dewasa, dari usia 0 s/d 1 bulan (jodoan), usia 3 bulan (sangkal), usia 6 s/d 7 bulan (jajangkar), sampai k ayam pelung yang sudah jadi (siap kontes). Dengan demikian lomba/kontes ayam pelung sekaligus merupakan bursa penjualan, promosi dan sosialisasi khusus ayam pelung. Melalui bursa semacam ini para pembeli, penjual dan penggemar merasa puas karena pada umumnya mendapatkan bibit-bibit maupun induk yang berkua­litas dan tambahan pengetahuan tentang segala hal mengenai ayam pelung yang cukup memuaskan dari sesama peternak dan penggemar. “Harga jual ayam ketergantungan terhadap kualitas ayam. Bila ayam pelung jantan adalah ayam juara, harga jualnya bisa jutaan rupiah.” Untuk ayam yang tidak memiliki kualitas yang bagus umumnya hanya dijadikan sebagai ayam pedaging saja.

Analisa Usaha Ayam Pelung

Modal yang dibutuhkan di budidaya ayam pelung umumnya tidak terlalu besar. Pengeluaran tertinggi adalah di pembelian bibit.

Investasi kandang Rp 2.000.000
Pembelian bibit jantan
Rp 1.000.000
Pembelian bibit betina
Rp 250.000
Biaya pakan dalam satu tahun
Rp 2.500.000
Pengeluaran lain-lain Rp 500.000

Total Rp 6.250.000

Pendapatan
Dari satu indukan jantan dan betina bisa bertelur sebanyak 10 – 15 butir telur dalam 2 bulan dengan penetasan sekitar 80%. Harga anak ayam memiliki kelipatan per bulan.

12 ekor anak ayam umur
3 bulan x Rp 200.000
= Rp 2.400.000

Dalam satu tahun ayam pelung
mampu 6 kali bertelur.
Rp 2.400.000 x 6 =
Rp 14.400.000

Rp 14.400.000 – Rp 6.250.000
Rp 8.150.000