PELUANG BISNIS IKAT PINGGANG BATOK KELAPA

Peluang Usaha

 
Rabu, 16 November 2011 | 13:52  oleh Fahriyadi, Dea Chadiza Syafina
PELUANG BISNIS IKAT PINGGANG BATOK KELAPA
Merangkai laba ikat pinggang batok kelapa

Limbah batok kelapa ternyata menyimpan banyak manfaat. Sampah tempurung itu bisa disulap menjadi aksesori seperti sabuk atau ikat pinggang. Kreasi produk ini bukan hanya dilirik oleh pasar lokal, tapi juga disukai oleh pasar ekspor karena ramah lingkungan. Tak heran, perajin sabuk batok kelapa ini bisa menangguk omzet ratusan juta rupiah.

Selain menjadi barang kerajinan, limbah batok kelapa juga bisa disulap menjadi ikat pinggang yang unik. Gesper ramah lingkungan ini banyak dibuat oleh perajin kreatif di Bali dan Yogyakarta.

Salah satunya, Abdul Aziz, pemilik Larizo Kerajinan Bali. Di bengkelnya, Abdul membuat ikat pinggang batok kelapa yang menjadi usaha turun temurun orang tuanya. Usaha ini telah menjadi mata pencaharian utama masyarakat Desa Pemuteran, Kecamatan Grokgat, Kabupaten Buleleng, Bali, tempat tinggal Abdul.

Padahal, pembuatan ikat pinggang batok kelapa ini cukup sulit. Batok kelapa yang keras, harus terlebih dulu diolah dalam beberapa tahap, sebelum dirangkai menjadi ikat pinggang. Abdul bilang, bahan baku batok kelapa tersebut dibelinya seharga Rp 400.000 per bak mobil pikap atau Rp 300 per kilogram.

Porsi kiloan menjadi pilihan beberapa perajin ikat pinggang ini jika membutuhkan batok kelapa dengan kriteria warna khusus seperti putih, cokelat natural atau hitam. “Jika membelinya dengan sistem borongan, yang didapat adalah batok kelapa campuran,” jelasnya.

Setelah batok kelapa terkumpul, mulailah proses pemotongan batok kelapa tersebut hingga seukuran manik-manik atau kancing pakaian. Setelah itu baru dibentuk dan dirangkai menjadi ikat pinggang.

Rangkaian ikat pinggang ini kemudian diberi warna dengan pewarna tekstil. “Proses ini yang paling memakan waktu karena harus dijemur di bawah terik matahari hingga cat benar-benar kering,” ucapnya. Selanjutnya, pada proses finishing, perajin akan menambahkan bahan lainnya, seperti tali sepatu atau benang elastis.

Abdul menjual gesper ini berkisar Rp 12.000 hingga Rp 20.000 per buah. Sebulan ia bisa menjual hingga 10.000 pieces, sehingga omzet usaha ini mencapai Rp 150 juta.

Selain dipasarkan di wilayah Bali, ikat pinggang batok kelapa ini juga dikirim ke Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Abdul pun menawarkannya lewat internet supaya bisa menjangkau pasar yang luas.

Berbeda dengan Abdul, Kulonuwun Handicraft justru langsung membidik pasar ekspor sebagai pasar sabuk batok kelapa produksinya. Maklum, menurut Ibnu Sukoco, Manajer Produksi Kulonuwun Handicraft, ide pembuatan ikat pinggang ini berasal dari banyaknya permintaan klien mereka di luar negeri.

Karena itu, mereka lebih fokus menggarap pasar ekspor. “Namun, belakangan, kami juga menjual sejumlah ikat pinggang ini untuk pasar lokal,” kata Ibnu.

Kendati cukup agresif memasarkan ke pasar lokal, pihaknya baru mampu menjual sebanyak 200 pieces saja ke wilayah sekitar Jawa dan Bali. Padahal setiap bulan kami biasa mengirim produk ini hingga 1.000 pieces untuk di ekspor ke beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, dan lainnya,” ujarnya.

Dengan harga jual Rp 30.000 per pieces, pihaknya pun bisa mengantongi omzet hingga Rp 36 juta per bulan. Meski begitu, Ibnu bilang, pihaknya masih terganjal oleh pengembangan desain sabuk. “Karena perajin kami bukanlah desainer fesyen yang paham untuk membuat model ikat pinggang yang laris di pasaran sebagai aksesori,” ungkapnya.

Kendati demikian, ia mengaku optimis bahwa prospek produk ini masih sangat bagus. Khususnya di pasar ekspor, karena konsumen sangat senang dengan produk ramah lingkungan. “Kesadaran akan produk ramah lingkungan masih belum maksimal dipraktikkan oleh masyarakat Indonesia,” jelas Ibnu. Pada usaha pembuatan gesper ini, perusahaannya bisa memperoleh margin keuntungan mencapai 20%-30%.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/82854/Merangkai-laba-ikat-pinggang-batok-kelapa-

Sulap Batok Kelapa Jadi Laba

Views :152 Times PDF Cetak E-mail
Senin, 17 Oktober 2011 10:47
Selama ini beberapa orang menyepelekan tempurung atau batok kelapa dengan hanya membuangnya usai mengambil daging kelapa. Namun, di tangan Nur Taufiq, limbah makanan ini merupakan bahan produksi kerajinan yang menjanjikan. “Produk kerajinan saya sudah dipasarkan ke Jepang, Jamaika hingga Perancis,” ujar pemilik Sanggar Kerajinan Tempurung Kelapa Chumplung Adji, beberapa waktu lalu.

batok1011Memulai bisnis kerajinan tempurung kelapa sejak 1992, pria asal Bantul ini sudah mengerahkan semua warga kampungnya untuk membantunya berproduksi. Selama belasan tahun menekuni bisnis ini, ia mengaku tidak pernah sepi order karena permintaan sangat banyak. “Terutama pesanan dari Jepang, biasanya mereka memesan mangkuk dari tempurung yang sekali pakai, jadi mereka selalu pesan terus,” ungkapnya.

Selain sudah menjelajah di pasar ekspor, ia juga telah menekuni pasar domestik. Selama 15 tahun, lanjutnya, ia telah memasok barang kerajinan ke salon-salon milik Martha Tilaar. Walaupun tidak sebesar pasar ekspor, tapi menurutnya pasar domestik juga sudah kontinu dalam memesan. “Pasar kami 75 persen adalah ekspor,sisanya dalam negeri,” katanya di galeri miliknya di Santan Guwosari, Pajangan, Bantul, DIY.

Dibandingkan kerajinan batok kelapa lainnya, produknya lebih mementingkan kualitas daripada murahnya produk. Ia menganggap, kerajinan batok kelapa yang ada di pasaran saat ini bukan merupakan produk Yogyakarta yang meniru desain milik pengrajin Yogyakarta.

Dari sisi kualitas, pihaknya berani menjamin barangnya lebih awet dari produk lainnya. Bahkan, ia membuka reparasi jika terjadi kerusakan atau lapisan finishing yang terkelupas. Dari proses finishing, ia menjelaskan Chumplung Adji menggunakan empat proses finishing yang lebih aman untuk digunakan manusia.

“Menurut buyer Jepang, finishing saya aman, sehingga produk saya aman kalau bersentuhan langsung dengan makanan. Berbeda dengan produk lain yang hanya menggunakan dua kali finishing,” paparnya.

Dari tangan pria yang pernah dinobatkan sebagai Pemuda Pelopor Wirausaha pada tahun 2003 ini, berbagai kerajinan unik berhasil dilahirkan. Misalnya boneka yang tersusun dari batok-batok kelapa yang hanya dihargai Rp 30 ribu, toples seharga Rp 85 ribu, frame foto seharga Rp 30 ribu, serta mangkuk seharga Rp 12 ribuan.

Meskipun sudah bergelut di pasar ekspor, namun ia mengaku masih terkendala modal manakala negara pemesan menghendaki pesanan yang sangat banyak. Menurutnya, ia tidak mempunyai banyak modal untuk memenuhi permintaan tersebut. “Terlebih mencari batok yang sesuai kriteria tidaklah mudah. Bahkan beberapa harus mencari ke Lampung dan Jambi,” terangnya.

Selain menginginkan terwujudnya sentra kerajinan di Dusun Santan tempatnya tinggal ini, ia juga berharap bisa mendirikan Bank Batok. Keinginannya ini dilandasi karena susahnya mencari batok kelapa yang sesuai untuk memenuhi permintaan ekspor. (*/Tribun Timur)

Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/manufaktur/12021-sulap-batok-kelapa-jadi-laba.html