Ayam Berjalan Tegak Seperti Penguin

Seekor ayam di China tak seperti ayam biasa. Ia berjalan tegak seperti penguin. Sebuah koran lokal Jiangsu mempopulerkan ayam aneh ini dengan nama Mumble — karakter penguin yang tak bisa menyanyi tapi jago menari di Fim kartun ‘Happy Feet’.


Tak hanya fisik yang mirip penghuni kutub, perilaku ayam Mumble juga tak seperti rekan-rekannya, sesama ayam. Dia tidak menggunakan dua cakarnya untuk mengais tanah. Mumble juga tidak berkokok. Sang pemilik, Lu Xi mengatakan, keunikan fisik Mumble adalah pada sayapnya yang kecil. Sayap itu tetap menempel di badannya yang tegak lurus saat berjalan.
“Mungkin karena itu dia tidak bisa terbang,” kata Lu Xi seperti dimuat situs media, Orange.co.uk.

Lu Xi mengaku tak masalah ayam uniknya diberi nama Mumble. Meski ia mengaku belum pernah menonton ‘Happy Feet’.

“Meski, ayam saya tidak bisa menari, dia juga tak bisa berenang.”

Seluruh keluarga, kata Lu, menyukai Mumble. “Mumble pasti juga senang. Kami memutuskan untuk memelihara ketimbang memasaknya.”

membuat kandang ayam

Panduan Membuat kandang ayam bagian ke 3

Ini adalah panduan membuat ayam bagian ke3, Jika anda belum membacanya pada artikel sebelumnya mengenai membuat kandang ayam dan cara memelihara DOC silahkan surfing dulu link nya, agar lebih bisa memahami article yang informasi peternakan bagikan.

Saya sebagai penulis di informasi peternakan ini “TIDAK MELARANG UNTUK COPAS” jadi jika anda membutuhkan untuk copas dan ingin membaca nya ketika offline, silahkan saja dan sama sekali tidak di larang, termasuk mempublikasikan nya kembali dengan catatan sharing terhadap yang lain.

Termasuk ada yang sempat comment di artikel sebelumnya, katanya Artikel yang informasi peternakan ayam bagikan adalah hasil “Copas” dari blog lain., secara kebetulan mungkin si pembaca melihat tulisan informasi peternakan ayam berada di blog lain. Padahal tulisan tersebut tulisan saya sendiri, karena saya mengijinkan untuk yang membutuhkan “dipersilah kan untuk mengopy” sekiranya artikel informasi peternakan ayam di anggap berguna.

Jadi Informasi peternakan ayam sharing pengalaman dari pengalaman pribadi selama menjalankan pahit manis nya mengenai peternakan ayam.
Ini hanya sekedar memberikan jawaban kepada yang menyangka artikel informasi peternakan adalah artikel copas.
Ok …. mari kita lanjutkan ke dalam topik tentang panduan memelihara ayam semasa kecil atau yang biasa di sebut “brooding”

Tapi dalam brooding ini, dalam artikel sebelumnya kita telah membahas tentang membuat kandang ayam secara kecil-kecilan, jadi di dalam pembahasan ini tidak akan jauh dari ‘alternative” atau mencari solusi tentang memelihara ayam yang baik dalam sekala kecil-kecilan.

Jadi saya rekomendasikan, artikel ini adalah artikel sambungan membuat kandang ayam bagian ke 3, jadi lebih baik baca dulu di artikel sebelumnya.

Dan kita lanjutkan pada beberapa pertanyaan yang ada pada artikel sebelumnya.

Sampai berapa hari makanan ayam tersebut di tumbuk?
Untuk penumbukan , 2 hari saja cukup.

Perawatan Indukan agar ayam tetap dalam keadaan sehat:

dalam kotak indukan tersebut, koran yang di jadikan alas pasti mengalami “basah” Jadi koran yang ada di dalam indukan harus selalu di ganti ketika terlihat basah, Untuk menghindari terjadi nya penjamuran di dalam kandang ayam yang kita buat secara sederhana itu.

Sampai umur berapa harus menggunakan koran?
Untuk penggunaan koran, cukup selama 4 hari saja.

Ketika sudah 4 hari, Pada siang hari , ayam sudah bisa di pindah ke kotak lain, atau kotak yang terbuat dari kawat ram tersebut (maaf gambar nya belum saya update lagi)

dalam kotak kawat ram tersebut, alas nya atau bawah nya harus masih menggunakan kayu, Di kotak kawat tersebut ayam akan mendapat udara yang lebih baik, di dalam kotak kawat kita bisa menggunakan udara yang alami.
Dan pada saat ayam sudah di pindah kan ke dalam kotak kawat tersebut, pada sisi lain kita bisa membersihkan kotak “indukan” dan kalau bisa sambil di jemur. Agar bisa menghambat laju nya pertumbuhan bakteri di dalam kandang indukan tersebut.

Tapi bagai mana jika brooding dalam sekala besar dan tidak menggunakan box seperti di atas, ???

Ok mari kita membahas lebih jauh dan tentang teknik brooding, .
Jika brooding yang anda lakukan adalah brooding dalam sekala besar dan bukan seperti di atas, maka silahkan baca lagi ke bawah dan jangan bosen

Di dalam brooding yang harus di perhatikan adalah:
Jika tempat brooding menggunakan sekam padi sebagai alas, Makan sekam padi harus selalu kering, Jangan menggunakan sekam padi yang basah.

Apakah untuk alas hanya bisa menggunakan sekam padi? apakah ada pengganti bahan yang lain selain sekam padi?
jawaban nya: tidak !!!  tidak harus menggunakan sekam padi sebagai alas brooding,
Bahan lain yang bisa di gunakana dalah bekas serutan kayu, tapi serutan nya serutan mesin, jadi hasilnya hampir mirip dengan sekam padi, jadi yang harus di perhatikan adalah kualitas dari bekas serutan tidak selalu sama.

Jadi tergantung kepada “kayu yang di serut” jika kay nya memiliki kualitas yang baik, sudah pasti bekas serutan yang di hasilkana akan baik, dan jika “kayu” yang di serutnya memiliki kualitas yang kurang baik, maka hasil dari bekas serutan nya juga kurang begitu baik.

Perbedaan bekas serutan kayu yang baik dan yang kurang baik:
Perbedaan nya hanya dalam ketahanan dan penyerapan kelembaban terhadap “kotoran ayam’
Jika kualitas serutan yang kurang baik, alas yang berada di dalam brooding akan cepat basah.
Begitu juga ketika ayam sudah beranjak besar, ketahanan dari kualitas yang bekas serutan ini tidak bisa tahan lama, bila di bandingkan dengan sekam padi.

Tapi kalau untuk alternative, tidak ada salahnya untuk mengganti sekam yang harganya sudah sering mengalami kenaikan.
Bila di bandingkan harga bekas serutan dengan sekam padi, harga bekas serutan selalunya lebih murah bila di bandingkan dengan harga sekam padi.

Kenapa alas atau lantai tidak boleh menggunakan sekam atau bekas serutan yang basah?
Jika kualitas sekam yang kurang kering, apalagi sekarang cuaca di kita tidak menentu dan curah hujan sangat tinggi, maka hati2 ketika memilih sekam yang akan di gunakan dalam brooding atau pun yang akan di gunakan untuk periode setelah brooding sampai periode afkir.
Maka jika sekam yang di gunakan adalah sekam basah, sudah tentu sedikit mengganggu terhadap proses brooding.

karena suhu yang di butuhkan adalah sekitar 31-33 celcius, jadi alangkah sulitnya untuk kita meyakin kan ayam dalam keadaan hangat dan dalam suhu stabil.

Kedua:
Dengan sekam yang kurang kering (basah) maka katika makanan yang tertumpah ke atas lantai, akan sangat cepat membantu penjamuran, yang mana penjamuran di area brooding sangat tidak boleh terjadi, karena akan mengganggu kesehatan ayam. dan jika kesehatan ayam terganggu ketika ayam masih dalam proses atau fase pertumbuhan, maka pertumbuhan ayam kedepan nya tidak akan bisa tumbuh secara maksimal, dan selain itu jika ayam kita sakit akam memaksa kita untuk mengeluarkan uang yang lebih untuk membeli obat  atau antibiotik jadi pencegahan lebih baik dari pada pengobatan

Ketiga:
Selain dari menghambat suhu yang di perlukan, sekam yang kurang “kering” akan sangat cepat bau dan membusuk, ketika proses pembusukan terjadi, amonia yang ada di dalam kandang akan semakin cepat meningkat , dan dengan waktu bersamaan “ketika amonia naik” maka kualitas angin yang ada di dalam kandang akan menurun,

Sebagai mana kita ketahui, terjadinya kegagalan dan kesuksesan yang terjadi di dalam peternakan ayam bukan hanya tergantung dari satu faktor saja, tapi masih banyak faktor2 yang harus di ketahui oleh seorang peternak yang suka bekerja keras.
Jadi kualitas angin juga sangat-sangat harus kita perhatikan kestabilan nya.
—–
Tempat brooding atau area brooding/indukan, harus di siapkan sekam yang masih segar yang belum di pakai sebelumnya.
Di dalam indukan peternakan ayam, anak ayam harus bisa bergerak/berjalan2 dengan bebas, dan jangan terlalu padat.

Jika temperatur nya kurang, anak ayam akan berkerumun di bawah pemanas dan jika terlalu panas DOC akan menyebar atau menjauhi sumber pemanas. untuk memahami ini sebaiknya lihat dulu tips nya di sini panduan-dasar-memelihara-anak-ayam
Untuk pembahasan kali ini sampai di sini dulu.
dan masih bersambung

sumber http://www.muksin.com

Membuat kandang ayam yang benar

Untuk Memelihara ayam, kita di tekan kan untuk menyediakan berbagai perlatan dan berbagai kebutuhan, kita harus memikirkan betapa penting nya kandang ayam selama ayam tinggal di dalam kandang.

Dengan demikian, Pembuatan kandang ayam tidak hanya sekedar jadi saja [asal asalan] ,  namun pembuatan kandang perlu di perkirakan dan perlu di buat senyaman mungkin buat ayam kelak,.

Dengan kandang yang nyaman  di tinggali, maka ayam berkemungkinan betah dan selesa,

Bagai mana membuat ayam selesa dan nyaman di kandang?
Untuk membuat ayam merasa nyama di kandang , kita harus menyediakan proferty atau perlengkapan yang kumplit untuk ayam selama di kandang, perlengkapan yang di butuhkan di dalam kandang,
Saya mengambil  keperluan dasar dan sederhana saja, Tidak mengambil contoh dari keperluan kandang modern dan otomatis, Misalnya:

    Brooder [Pemanas]
    Gallon [tempat minum]
    bell drinker
    Nipple line
    Chick tray [broiler]
    Feeder [tepat makanan]
    Water tank [tanki air]
    Kipas [jika perlu]
    Colling pad [jika perlu]
     Tenggeran [untuk ayam kampung dan ayam layer]
    Nest box atau sangkar [untuk ayam petelur dan ayam kampung yang akan di buat secara Intensive]
    dan lain-lain.
    Untuk catatan; kandang haruslah menghadap ke arah Utara atau selatan,  janghan menghadap ke timur dan kebaran, ya… miring dikit gak apa2 🙂 agar kandang pada pagi hari bisa terkena sinar matahari.

Brooder
Untuk Menyediakan brooder, kita bisa memilih dengan berbagai jenis mengikut kemampuan kita, ada brooder atau pemanas yang serba otomatis, tergantung suhu yang di perlukan, jika suhu turun pemanas akan hidup, dan jika naik pemanas akan mati…

Atau kita hanya bisa menggunakan pemanas biasa seperti di bawah ini.


Gambar 1
Pemanas atau brooder yang menggunakan infra red, atau gas.


Gambar2
Pemanas buatan untuk skala ayam kecil, Tapi ini sangat bagus, Dengan menggunakan lampu mercury, Yang bisa menghasilkan suhu sekitar 33 drajat celcius.

Kita perhatikan gambar Nomber dua di atas,

Untuk peternak kecil2an yang jika membeli brooder atau pemanas yang menggunakan gas, tentunya bisa menaikan biaya pengeluaran produksi , karena biaya beli yang relatip mahal,  Jadi Kita bisa menggunakan dan membuat brooder yang seperti nomber 2 di atas.

Brooder tersebut sangat efektif jika di gunakan untuk ayam bersekala kecil2an,  misalnya kita hanya mampu memelihara ayam sekitar 200 ekor, Lumayan dengan cara di atas [gambar nomber 2 ] bisa mengurangi biaya membeli gas atau elpiji yang mahal.

Brooder itu di buat dengan menggunakan lampu mercury, Regulator atau termostat pengukur kebutuhan panas.
Dan kita bisa menggunakan termometer yang biasa saja

Jika kita tidak mau menggunakan lampu mercury yang memakan  listrik besar, kita bisa menggunakan Lampu biasa.

2. Gallon atau bell drinker
Bell drinker terdapat berbagai jenis, tergantung kita mau menggunakan jenis yang bagai mana, 

3 Nipple Line

Feeder
Berbagai feeder atau tempat makanan ayam yang tersedia di toko dan pasar. Jika kita memelihara ayam kecil2an, kita mungkin enggan mengeluarkan biaya yang besar, apalagi dengan membelei tempat makanan dari pasar..

Jangan kuatir.. ada alternatif lain untuk membuat tempat makanan ayam.. yaitu dengan menggunakan PVC , peralatan yang di perlukan adalah:

  • Pipa PVC berukuran 6″ [inchi] , yang akan di gunakan untuk tabung nya nanti.
  • Pot kembang ber ukuran sederhana /tidak terlalu besar. Untuk dasar atau tempat makanan.
  • 4 Screws yang agak panjang , untuk menggabungkan pot kembang dan PVC tsbt.

Gambar Feeder di atas sangat sederhana sekali. akan tetapi jika di gunakan di peternakan ayam kecil2an, sangat membantu untuk tetap bisa memelihara ayam. walaupun tanpa harus mengeluarkan biaya pembelian feeder dari toko atau pasar, yang mungkin harganya lebih mahal dari Feeder PVC di atas..

sumber http://www.muksin.com

penyakit ngorok pada ayam pedaging

Penyakit ngorok CRD atau CRD komplek, sering kali dan kerap di temukan pada ayam broiler, atau ayam pedaging.
Baca artikel sebelumnya di sini

Anak-anak ayam yang masih dalam brooding

Tapi bukan berarti ayam jenis lain tidak menghidap penyakit CRD ini, mengikut perbandingan antara ayam broiler dan ayam petelur yang terserang penyakit CRD.

Untuk ayam broiler atau ayam pedaging penyakit CRD masih menduduki posisi pertama  (yang sering menyerang ayam pedaging)

Berikut urutan penyakit yang sering menyerang ayam pedaging:

  1. CRD komplek 20.32%
  2. CRD 19.36%
  3. Korisa 17.97%
  4. colibacillosis 14.12%
  5. Gumboro 8.24 %
  6. Koksi 4.49%
  7. ND 3.85%
  8. leucocytozoonosis 3.21%
  9. Kolera 2.14 %
  10. AI 2.03%

Seperti kita lihat data yang ada di atas bahwa penyakit ngorok CRD kompleks masih terlihat unggul dari penyakit yang lain nya.

dan kita banding kan dengan penyakit CRD kompleks yang menyerang ayam petelur.
Kolera 17.19%
korisa 13.6%
ND 13.29%
cacingan 11.15%
CRD 10.08%
colibacillosis 7.26%
CRD komplek 3.97%
Gumboro 3.74%
ILT 2.98%
IB 2.9%

Dalam tangga penyakit yang menyerang ayam peleur menunjukan bahwa penyakit ganas ngorok CRD komplek menduduki urutan ke-7.

Ayam Dewasa

Jadi kesimpulan dari data di atas bahwa penyakit CRD kompleks “yang berbahaya itu” pada ayam dewasa atau ayam petelur tidak sampai menimbulkan kematian yang terlihart secara signifikan.
walaupun kadar kesakitan terhadap ayam tersebut sangat tinggi.

jadi berhati2 lah terhadap penyakit ngorok pada ayam broiler,

jadi harus di anggap serius jika terjadi kelainan prilaku ayam atau kondisi ayam yang terkadang terlihat sederhana dan tidak berbahaya.

seperti pada penyakit ngorok tadi, terkadang seorang peternak banyak yang menganggap penyakit ngorok adalah penyakit ringan dan seperti hal yang sudah biasa, sering kali tidak di ambil tindakan yang serius untuk di tangani. kenali penyakit2 ayam di sini

walaupun demikian penyakit ngorok sangat mudah untuk di deteksi dan di ketahui ayam tersebut ngorok.
coba saja untuk contoh, mati kan lampu [pada malam hari] atau periksa ayam ketika ayam tersebut sedang tidur.

kalau ayam broiler tersebut tidurnya bersuara atau seperti mendengkur, berarti menandakan bahwa ayam tersebut sudah terkena penyakit ngorok.

alangkah baiknya segera lah anda memberikan antibiotik yang bisa mencegah penyakit ngorok tersebut, dan jika tidak di ambil tindakan yang baik, di takutkan penyakit E.coli akan masuk kedalam tubuh ayam dan menjangkit secara perlahan dan akan terjadilah penyakit yang sangat berbahaya yang di sebut dengan CRD komplek.

jadi untuk pemilihan obat CRD komplek , yang saya pernah gunakan adalah produksi dari medion maaf bukan promosi, hanya sekedar berbagi saja, dan sangat gampang untuk di dapatkan di poultry shop terdekat anda, misalnya:

  1. Doxityn
  2. Trimezyn
  3. Respiratrek
  4. neo meditril
  5. Doctril
  6. Gentamin
  7. dan lain lain

anda bisa memilih salah satu obat2 antibiotik tersebut dan ikuti cara pemakaian nya seperti yang telah di rekomendasikan oleh pabrik pembuat obat untuk penyakit ngorok tersebut.

dan sangat di anjurkan sekali bahwa setiap 4 periode pemeliharaan, pemakaian obat2 atau antibiotik harus di lakukan penggantian, maksudnya untuk mencegah terjadinya resistensi obat pada ayam.
sumber  http://www.muksin.com

Limbah Cakar Ayam Berpotensi Membuka Peluang Usaha

cakar ayam1 300x225 Limbah Cakar Ayam Berpotensi Membuka Peluang UsahaCakar merupakan sisa pemotongan ayam setelah diambil karkasnya. Masyarakat mengkonsumsi cakar ayam sejauh ini terbatas untuk sop, semur, bacem, dll., tetapi masih sangat jarang masyarakat mengkonsumsi rambak cakar, selain karena sulit didapat di pasar juga karena sulit dalam pengolahannya.
Cakar ayam dijual murah di pasar-pasar yang dihasilkan dari Rumah Potong Ayam (RPA). Dengan nilai jual cakar ayam yang tidak terlalu besar maka perlu adanya alternatif pengolahan cakar ayam yang lebih memiliki nilai jual, salah satunya adalah pengolahan menjadi rambak cakar ayam.
Rambak cakar ayam tergolong makanan ringan yang memiliki sifat renyah (keras tapi mudah patah). Kerenyahan inilah sebenarnya yang membuat rambak cakar ayam banyak disukai konsumen. Apalagi selain renyah, rasanya juga enak, tahan lama, praktis, dan dapat dinikmati kapan saja (terutama di saat santai) (Sutejo dkk, 2000).
Sebagai bahan baku rambak cakar sebenarnya merupakan daging dan kulit yang
ada di bagian kaki. Oleh karena itu, kandungan gizi antara cakar dan daging ayam bias dikatakan relative sama. Seperti halnya daging ayam, cakar ayam juga mengandung protein, kalori, kalsium, fosfor, lemak, besi, dan vitamin A serta B1. Meski zat-zat gisi tersebut jumlahnya bervariasi, tetapi kandungan protein, kalori, dan fosfornya cukup tinggi. Untuk itu perlu dipelajari bagaimana mengolah rambak cakar secara tepat dan benar.
Cara pengolahan Rambak cakar ayam, sebagai berikut
Bahan :

  1. Cakar ayam            1     Kg
  2. Garam                100 gram

Cara :

  1. Cakar ayam di sortasi dan dicuci sampai bersih
  2. Cakar ayam direndam dengan air garam + 15 menit
  3. Cakar ayam dikukus selama +  3 menit ( jangan terlalu lama untuk memudahkan pengelupasan kulit )
  4. Hasil kukusan didinginkan
  5. Setelah dingin kulit cakar ayam dikelupas, diusahakan hasil kelupasan dalam keadaan utuh
  6. Hasil kelupasan dikeringkan dalam oven 50o C selama 24 jam, atau di bawah sinar matahari ± 3 hari
  7. Cakar ayam yang sudah kering lalu digoreng dan dikemas dalam plastik.

Diolah dari berbagai sumber
(Sumber Gambar: http://p00tri.multiply.com)

MANAJEMEN PETERNAKAN PADA KOMODITAS UNGGAS

MANAJEMEN PETERNAKAN PADA KOMODITAS UNGGAS
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di tengah tekanan yang mendera berbagai sektor industri di dalam negeri, sektor peternakan unggas tetap mampu bertahan. Industri peternakan di Indonesia sepanjang tahun 2008 yang lalu menunjukkan kinerja yang cukup bagus. Bahkan dalam tahun 2009 ketika krisis global yang belum berlalu ketika terjadi penurunan daya beli yang kemudian mendorong substitusi pangan ke produk unggas, industri perunggasan masih mampu bertahan. Produk unggas yang tetap bertahan di tengah krisis adalah ayam dan telur, yang termasuk sebagai protein hewani yang harganya relatif murah dibandingkan dengan harga daging sapi.

Sementara itu, dari sisi lain produksi terlihat kecenderungan yang meningkat pada produksi DOC broiler (Daily Old Chick) atau dikenal sebagai ayam pedaging yaitu melonjak menjadi 1,2 juta ekor pada tahun 2008 dari tahun sebelumnya hanya 1,1 juta ekor. Demikian juga dengan produksi DOC layer atau ayam petelur tercatat naik dari 64 juta ekor pada tahun 2007 menjadi 68 juta ekor pada tahun 2008.
Walaupun demikian bukan berarti tidak ada masalah yang dihadapi industri perunggasan. Hingga pertengahan tahun 2009 pasar dalam negeri mengalami kelebihan pasokan ayam mencapai 27%. Hal ini mengakibatkan harga ayam di pasar lokal menjadi tertekan. Sedangkan pada tahun sebelumnya kondisi kelebihan pasokan hanya sekitar 5% saja.
Selain itu, industri peternakan ayam juga menghadapi permasalahan kenaikan harga pakan dan biaya produksi yang diikuti dengan kenaikan harga ayam hidup. Hal ini terkait dengan daya beli masyarakat yang sangat tergantung terhadap pendapatan. Sejauh ini daya beli masyarakat terhadap produk perunggasan dalam pemenuhan gizi (protein hewani) masih rendah dibandingkan dengan gaya hidup masyarakat yang sangat konsumtif.
Pada umumnya peternakan ayam dapat dibedakan menjadi dua, berdasarkan jenis yaitu :
Ayam bukan ras (buras) atau lebih dikenal dengan nama ayam kampung, yang merupakan ayam lokal. Ayam lokal banyak dipelihara secara tradisional, oleh peternak skala kecil. Lokasi peternakan baik di rumah-rumah maupun di kebun-kebun.
Ayam ras, yang asal mulanya diimpor dari luar negeri. Ayam jenis ini dikenal dengan istilah ayam broiler.
Impor anak ayam dalam umur sehari atau disebut Day Old Chick (DOC) dalam bentuk DOC komersial (DOC Final Stock/DOC FS). Final Stock yaitu jenis ayam yang tidak untuk dikembangbiakkan lagi, hanya dipelihara dalam satu siklus produksi. Untuk DOC broiler (ayam pedaging) selama 8 minggu, sedangkan untuk DOC layer (ayam petelur) selama 73 minggu.
Ayam ras komersial merupakan hasil kemajuan teknologi pemuliaan ternak (animal breeding), baik melalui persilangan beberapa bangsa ayam atau galur murni (pre bred/line). Ayam jenis ini memiliki karakteristik yaitu produktivitas tinggi, tahan penyakit dan memiliki sifat-sifat unggul.
Dengan tumbuh pesatnya industri perunggasan, maka tumbuh spesialisasi industri yaitu pembibitan (animal breeder), penetasan (hatchery), pemotongan / pemrosesan ayam pedaging, telur tetas, telur konsumsi, pakan ternak, obat-obatan hewan, sarana produksi dan sebagainya.
Di sisi lain, kampanye gizi hendaknya diagendakan dan digalakkan terus-menerus agar kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi protein hewani pun semakin tinggi. Yang perlu diingat bahwa mulai tahun 2010 akan berlaku perdagangan bebas. Tidak akan ada lagi proteksi terhadap produk dalam negeri. Oleh karena itu perlu ditekankan agar masyarakat lebih mencintai produk yang dihasilkan oleh negeri sendiri.
Para peternak dituntut untuk lebih efisien agar biaya produksi dapat ditekan rendah namun tetap efektif. Pemerintah pun tak luput dari tanggungjawabnya dalam membantu dari segi regulasi. Semuai itu dilakukan tak lain agar produk hasil unggas kita sanggup bersaing dengan produk asing yang bebas malang melintang di waktu yang akan datang.
BAB II PEMBAHASAN
A. Sektor bibit unggas
Berdasarkan data Dirjen Peternakan, produksi pembibitan ayam ras pedaging (broiler) dalam periode lima tahun pada 2004-2008 mengalami peningkatan. Kondisi perunggasan tidak terlepas dari berapa suplai DOC FS yang diproduksi oleh para pembibit.
Produksi bibit ayam ras (Daily Old Chick Final Stock/DOC FS) broiler pada triwulan pertama tahun 2008 tercatat naik menjadi 26.8 juta ekor per minggu atau terjadi peningkatan sebesar 16.5% dibandingkan 23 juta ekor per minggu pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan produksi DOC FS broiler, didukung oleh laporan populasi, produksi dan distribusi yang disampaikan oleh para pembibit. Kenaikan produksi di triwulan pertama ini disebabkan karena efek samping dari faktor bisnis pada triwulan keempat tahun 2007, antara lain penjualan DOC yang tidak optimal, penundaan/pengurangan setting HE (harga ekspor) dan aborsi disetter/hatcher pada triwulan keempat tahun 2007 untuk peningkatan harga. Kejadian seperti ini terjadi hampir di setiap tahun.
Sementara itu Produksi DOC FS pada triwulan kedua ini adalah produksi bibit ayam ras (DOC FS) broiler pada triwulan kedua tahun 2009 dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2008 terjadi peningkatan yaitu dari produksi DOC FS sebanyak 24.1 juta ekor per minggu menjadi 28.2 juta ekor per minggu atau meningkat sebesar 17 %. Peningkatan produksi DOC FS broiler pada triwulan kedua tahun 2009, diperkirakan merupakan sikap optimis para pengusaha yang terlihat dari produksi DOC FS broiler yang terus meningkat mulai bulan April sampai dengan Juni 2009. Momen liburan anak sekolah dan meningkatkan permintaan di bulan Juni sampai dengan Juli akibat banyaknya orang yang mengadakan pesta, mendorong para pengusaha untuk meningkatkan produksi DOC FS dengan harapan demand akan meningkat.
Sementara produksi ayam pedaging (boiler) mengalami pertumbuhan rata-rata 5,89% yaitu dari 975 juta ekor pada 2004 menjadi 1.230 juta ekor pada 2008.
Sementara itu, produksi bibit ayam ras (DOC FS) layer pada triwulan pertama tahun 2008 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2007 terjadi penurunan dari produksi DOC FS 0.73 juta ekor per minggu menjadi 0.70 juta ekor per minggu atau terjadi penurunan sebesar 4.1 %. Penurunan ini disebabkan karena penundaan masyarakat untuk mengganti ternak ayam layer. Hal ini disebabkan karena melonjaknya harga penunjang seperti pakan yang tidak sebanding dengan harga telur. Turunnya minat masyarakat peternak tersebut juga didukung oleh data jumlah pemasukan Grand Parent Stock (GPS) dan Parent Stock (PS) tahun 2007 yang lebih rendah dibanding tahun 2006.
Produksi bibit ayam ras (DOC FS) layer mengalami peningkatan pada triwulan kedua tahun 2009 dibandingkan dengan periode yang sama pada 2008 sama besar yaitu sejumlah 1,55 juta ekor/minggu. Kondisi ini disebabkan karena sikap keragu-raguan dari peternak untuk meningkatkan demand terhadap DOC FS layer membuat para pembibit masih menahan produksinya.
Pada triwulan kedua tahun 2009 tercatat pemasukan PS layer sebesar 51.660 ekor, sedangkan pada triwulan kedua tahun 2008 tidak ada pemasukan PS layer. Para pembibit PS layer optimis, diperkirakan adanya peningkatan demand pada enam bulan kedepan terhadap DOC FS layer, sehingga mereka meningkatkan pemasukan DOC PS layer. Peningkatan ini biasanya terjadi menjelang puasa dan Hari Raya pada Agustus –September ini.
Sedangkan produksi ayam petelur (layer) juga mengalami peningkatan dalam periode 2004-2008, dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 5,47% per tahun. Produksi ayam petelur (layer) tercatat dari hanya 55 juta ekor pada 2004 , kemudian meningkat menjadi 68 juta ekor pada 2008.
B. Sektor produksi daging unggas dan pakan
Kontribusi daging dari berbagai jenis ternak yang menggambarkan struktur produksi daging menunjukkan bahwa peranan daging unggas semakin meningkat dari 20% pada tahun 70-an menjadi 64,7% (1.403, 6 ribu ton) pada tahun 2008 dan diantaranya 16,3% (352,7 ribu ton) berasal dari unggas lokal. Perubahan struktur tersebut disebabkan semakin tingginya produksi daging unggas sejalan dengan meningkatnya industri perunggasan nasional. Sementara itu, industri sapi potong yang masih mengandalkan industri peternakan rakyat dengan dukungan pihak industri (feedlotter) belum mampu mengimbangi permintaan daging sapi domestik, kontribusinya malah berbalik yang pada tahun 70-an sebesar 53.5% dan pada tahun 2008 turun menjadi 16,3%. Fenomena yang terjadi adalah laju peningkatan daging unggas lebih tinggi dibandingkan laju peningkatan produksi daging sapi. Artinya dengan semakin meningkatnya teknologi pada industri perunggasan terjadi transformasi produksi dari dominasi sapi ke dominasi unggas.

C. Sektor pakan unggas
Kondisi musim mempengaruhi ketersediaan suatu bahan pakan. Bekatul umumnya mudah didapatkan pada saat musim panen padi pada musim penghujan. Sehingga harga bekatul pada saat tersebut umumnya relatif lebih murah dibandingkan pada saat musim kemarau. Hal seperti ini juga dialami juga oleh jagung. Harga bahan pakan merupakan pertimbangan utama bagi peternak untuk menyusun pakan. Semakin murah harga suatu bahan pakan, maka akan semakin menarik bagi peternak. Harga bahan pakan unggas bervariasi bergantung pada beberapa hal, antara lain jenis bahan pakan, kebijakan pemerintah dalam bidang pakan ternak, impor bahan pakan, kondisi panen dan tingkat ketersediaan bahan pakan tersebut pada suatu daerah.
Kebijakan pemerintah selama ini kurang memprioritaskan dunia peternakan termasuk kebijakan tentang pakan ternak, sehingga harga pakan tidak pernah stabil pada suatu imbangan harga tertentu. Berbeda dengan harga pangan yang diusahakan oleh pemerintah untuk selalu stabil pada harga tertentu, seperti beras dan gula yang diatur dalam bentuk harga dasar sehingga memungkinkan petani untuk dapat menikmati keuntungan dari hasil usahanya. Jagung sebagai bahan pakan utama unggas sampai saat ini belum tersentuh regulasi pemerintah untuk penstabilan harga.
Hal ini berakibat pada fluktuasi harga jagung dari tahun ke tahun. Pada saat panen dan penawaran melimpah, harga jagung akan turun sampai dibawah harga bekatul sebagai sesama sumber energi pakan dengan catatan komposisi energi jagung lebih tinggi pada berat yang sama. Tetapi pada saat kekurangan produksi jagung, harga jagung akan mendekati harga bungkil kacang kedelai dan tepung ikan. Padahal secara umum harga bahan pakan sumber energi jauh lebih murah dibandingkan dengan harga pakan sumber protein.
Masalah penyediaan bahan baku pakan industri perunggasan, di mana sebagian besar bahan baku pakan ternak penting harus diimpor, impor jagung mencapai 40-50 %, bungkil kedelai 95%, tepung ikan 90-92%, serta tepung tulang dan vitamin/feed additive hampir 100% impor.
Kondisi yang ada pakan unggas yang 50% komponennya terdiri dari jagung, dalam kurun waktu 5 tahun (2004-2009) mengalami dinamika yang cukup signifikan. Dalam perkembangannya maka impor jagung mencapai puncaknya pada tahun 2006 yaitu sebesar 1,5 juta ton dari kebutuhan 3, 74 juta ton (artinya kita impor sebesar 63%).
D. Kebijakan
1) Dalam jangka pendek hingga menengah industri pakan ternak (ayam ras) akan tetap masih bertumpu pada pakan berbahan baku impor. Kondisi ini tidak terhindarkan, namun karena masih tingginya harga pakan yang harus dibayar peternak, maka perlu dilakukan peningkatan efisiensi dan produktivitas di level pabrik pakan.
Terdapat tiga sumber pertumbuhan produktivitas untuk pabrik pakan, yaitu : adanya perubahan teknologi pembuatan pakan ternak ke arah teknologi yang lebih efisien, efisiensi produksi ditingkatkan terutama melalui alokasi input secara lebih optimal, meningkatkan skala usaha, terutama pada pabrik pakan skala kecil, karena sifat hubungan antara biaya dengan skala usaha bersifat menurun (decreasing cost to scale).
2) Mengembangkan industri pakan ayam ras yang berbasis bahan baku domestik dengan tujuan meningkatkan daya saing produk unggas nasional. Upaya yang dapat dilakukan adalah: mengembangkan daerah produksi jagung dengan sistem distribusi yang efisien dan sistem penyimpanan modern (silo), memanfaatkan biji-bijian alternatif seperti sorgum dan limbah pertanian terutama dari industri pengolahan sawit, mengembangkan industri tepung ikan pada sentra produksi perikanan nasional, dan mendorong pihak industri pakan melakukan penelitian dan pengembangan untuk menggunakan bahan baku lokal.
E. Sektor Penataan Kompartemen
Kompartemen adalah suatu peternakan dan lingkungannya yang terdiri dari satu kelompok unggas atau lebih yang memiliki status kesehatan hewan. Penataan Kompartemen (compartementalization) adalah serangkaian kegiatan untuk mengkondisikan suatu usaha peternakan unggas agar memiliki status kesehatan hewan melalui penerapan cara pembibitan ternak yang baik dan cara budidaya ternak yang baik. Sedangkan zona adalah suatu kawasan atau daerah yang memiliki status kesehatan hewan yang jelas dan telah menerapkan sistem budidaya ternak yang baik yang mencakup aspek manajemen, kesehatan hewan dan pengendalian limbah.
Penataan zona (zoning) adalah prosedur untuk mengkondisikan suatu zona atau daerah sehingga memiliki status kesehatan hewan melalui penerapan sistem budidaya ternak yang baik yang mencakup aspek manajemen, kesehatan hewan dan pengendalian limbah serta manajeman biosekuriti. Penataan komparteman (kompartementalisasi) dan penataan zona (zonifikasi atau Zonasi) pemeliharaan unggas merupakan solusi penting yang telah mendapatkan rekomendasi dari Office Internationale de Epizooticae (OIE) dalam rangka penanggulangan untuk mengendalikan dan memberantas suatu kawasan dari penyakit unggas terutama Avian Influenza (AI), sekaligus upaya mendukung terpenuhinya persyaratan dalam perdagangan unggas dan produk unggas, antar daerah maupun antar negara.
Peraturan Menteri Pertanian Nomor 28/Permentan/OT.140/5/2008 tentang Pedoman Penataan Kompartemen dan Penataan Zona Usaha Perunggasan yang dikeluarkan pada tanggal 30 Mei 2008. Penerapan cara pembibitan dan cara budidaya tersebut dilakukan pada: Usaha Pembibitan Unggas Grand Parent Stock (GPS) petelur (layer) dan pedaging (broiler) dan Usaha Pembibitan Unggas Parent Stock (PS) petelur (layer) dan pedaging (broiler) dan Usaha Peternakan Unggas Komersial petelur (layer) dan pedaging (broiler). Penataan zona dilakukan di setiap kawasan usaha perunggasan agar unggas dan produk unggas yang dihasilkan memenuhi persyaratan keamanan dan kualitas/mutu unggas dan produk unggas. Untuk dapat memenuhi persyaratan tersebut dilakukan melalui penerapan Cara Budidaya Unggas yang Baik (Good Farming Practice). Penerapan Cara Budidaya Unggas yang Baik tersebut dilakukan pada: Usaha peternakan unggas kemersial dan budidaya unggas di masyarakat. Sesuai dengan Permentan dan SOP tentang Penataan Kompartemen dan Zona Perunggasan maka penataan kompartemen dan zona dilakukan melalui tahap persiapan, pelaksanaan dan pemberian surat keterangan.
F. Sistem Vaksinasi Unggas
Ketua Pelaksana Harian Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI). Sistem vaksinasi flu burung pada unggas perlu dibenahi. Oleh karena, lemahnya sistem vaksinasi dikhawatirkan akan menyebabkan kurang efektifnya penanggulangan penyebaran flu burung.
Sejak awal munculnya kasus flu burung pada unggas, pemerintah telah memilih vaksinasi sebagai penanggulangan masalah flu burung dibandingkan dengan pemusnahan seluruh unggas di Indonesia dengan pertimbangan ekonomi. Saat memutuskan itu, sudah diketahui ada risiko-risiko dari dijalankannya vaksinasi di antaranya ayam yang diberi vaksin tetap hidup, tetapi jadi pembawa virus.
Saat ini ada dua masalah terkait vaksinasi flu burung pada unggas di Indonesia. Pertama, banyaknya jenis vaksin yang beredar dan hingga saat ini belum secara tegas dinyatakan mana yang paling efektif dan cocok untuk unggas di Indonesia. Masalah kedua adalah masih lemahnya sistem vaksinasi mulai dari jenis vaksin, bagaimana membawa atau mendistribusikan vaksin, dan jumlah tenaga vaksinator.
Pemberian vaksin flu burung tidak bisa hanya dilakukan sekali, tetapi harus beberapa kali. Akan tetapi, di beberapa daerah pelaksanaan vaksinasi masih belum sempurna, baik jenis maupun distribusinya, apalagi rasio tenaga vaksinator dengan jumlah unggas sangat timpang. Akibatnya, tingkat efektivitas penggunaan vaksin untuk meningkatkan kekebalan tubuh unggas terhadap virus flu burung relatif rendah.
Beragamnya jenis vaksin flu burung yang beredar di pasaran dan banyak digunakan peternak bisa mempercepat terjadinya pandemi influenza. Ada yang menggunakan vaksin H5N2, H5N9, H5N1, H7N7, dan banyak lagi jenis vaksin lainnya. “Ini kan tidak benar dan bisa menyebabkan kurangnya imunitas pada unggas,”
Maka dari itu, vaksinasi flu burung harus dilakukan dengan vaksin dan sistem yang benar. Jadi, vaksinasi masih tetap diperlukan. Beberapa negara yang tidak menerapkan vaksinasi tetapi memilih pemusnahan total unggas ternyata masih muncul kasus penularan flu burung pada manusia. “Ini berarti tidak ada upaya yang bisa menanggulangi masalah flu burung secara total,”
BAB III PENUTUP
Dari segi pembibitan unggas, produksi pembibitan ayam ras pedaging (broiler) dalam periode lima tahun pada 2004-2008 mengalami peningkatan. Kondisi perunggasan tidak terlepas dari berapa suplai DOC FS yang diproduksi oleh para pembibit. Produksi bibit ayam ras (Daily Old Chick Final Stock/DOC FS) broiler pada triwulan pertama tahun 2008 tercatat naik menjadi 26.8 juta ekor per minggu atau terjadi peningkatan sebesar 16.5% dibandingkan 23 juta ekor per minggu pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan produksi DOC FS broiler, didukung oleh laporan populasi, produksi dan distribusi yang disampaikan oleh para pembibit Sehingga produksi ayam pedaging (boiler) mengalami pertumbuhan rata-rata 5,89% yaitu dari 975 juta ekor pada 2004 menjadi 1.230 juta ekor pada 2008
Kontribusi daging dari berbagai jenis ternak yang menggambarkan struktur produksi daging menunjukkan bahwa peranan daging unggas semakin meningkat dari 20% pada tahun 70-an menjadi 64,7% (1.403, 6 ribu ton) pada tahun 2008 dan diantaranya 16,3% (352,7 ribu ton) berasal dari unggas lokal. Perubahan struktur tersebut disebabkan semakin tingginya produksi daging unggas sejalan dengan meningkatnya industri perunggasan nasional
Dari segi paka, kondisi musim mempengaruhi ketersediaan suatu bahan pakan. Bekatul umumnya mudah didapatkan pada saat musim panen padi pada musim penghujan. Sehingga harga bekatul pada saat tersebut umumnya relatif lebih murah dibandingkan pada saat musim kemarau. Semakin murah harga suatu bahan pakan, maka akan semakin menarik bagi peternak. Kebijakan pemerintah selama ini kurang memprioritaskan dunia peternakan termasuk kebijakan tentang pakan ternak, sehingga harga pakan tidak pernah stabil pada suatu imbangan harga tertentu Jagung sebagai bahan pakan utama unggas sampai saat ini belum tersentuh regulasi pemerintah untuk penstabilan harga.
Penataan Kompartemen (compartementalization) adalah serangkaian kegiatan untuk mengkondisikan suatu usaha peternakan unggas agar memiliki status kesehatan hewan melalui penerapan cara pembibitan ternak yang baik dan cara budidaya ternak yang baik. Penataan zona (zoning) adalah prosedur untuk mengkondisikan suatu zona atau daerah sehingga memiliki status kesehatan hewan melalui penerapan sistem budidaya ternak yang baik yang mencakup aspek manajemen, kesehatan hewan dan pengendalian limbah serta manajeman biosekuriti. Penataan komparteman (kompartementalisasi) dan penataan zona (zonifikasi atau Zonasi) pemeliharaan unggas merupakan solusi penting yang telah mendapatkan rekomendasi dari Office Internationale de Epizooticae (OIE) dalam rangka penanggulangan untuk mengendalikan dan memberantas suatu kawasan dari penyakit unggas terutama Avian Influenza (AI)
Sedangkan untuk sistem vaksinasi flu burung pada unggas perlu dibenahi. Oleh karena, lemahnya sistem vaksinasi dikhawatirkan akan menyebabkan kurang efektifnya penanggulangan penyebaran flu burung. Pemerintah Indonesia sendiri belum menetapkan jenis vaksin yang cocok digunakan untuk unggas di Indonesia sehingga banyak vaksin yang beredar Masalah kedua adalah masih lemahnya sistem vaksinasi mulai dari jenis vaksin, bagaimana membawa atau mendistribusikan vaksin, dan jumlah tenaga vaksinator. Dan pemberian vaksin flu burung tidak bisa hanya dilakukan sekali, tetapi harus beberapa kali
sumber.
manajemen ternak unggas ketangguhan sistem perunggasan
http://h0404055.wordpress.com /manajemen-ternak-unggas-ketangguhan-sistem-perunggasan/

BUDIDAYA AYAM RAS PEDAGING

BUDIDAYA AYAM RAS PEDAGING
1.SEJARAH SINGKAT
Ayam ras pedaging disebut juga broiler, yang merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam. Sebenarnya ayam broiler ini baru populer di Indonesia sejak tahun 1980-an dimana pemegang kekuasaan mencanangkan panggalakan konsumsi daging ruminansia yang pada saat itu semakin sulit keberadaannya. Hingga kini ayam broiler telah dikenal masyarakat Indonesia dengan berbagai kelebihannya. Hanya 5-6 minggu sudah bisa dipanen. Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat dan menguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan diberbagai wilayah Indonesia.
2.SENTRA PETERNAKAN
Ayam telah dikembangkan sangat pesat disetiap negara. Di Indonesia usaha ternak ayam pedaging juga sudah dijumpai hampir disetiap propinsi
3.J E N I S
Dengan berbagai macam strain ayam ras pedaging yang telah beredar dipasaran, peternak tidak perlu risau dalam menentukan pilihannya. Sebab
semua jenis strain yang telah beredar memiliki daya produktifitas relatif sama.
Artinya seandainya terdapat perbedaan, perbedaannya tidak menyolok atau sangat kecil sekali. Dalam menentukan pilihan strain apa yang akan dipelihara, peternak dapat meminta daftar produktifitas atau prestasi bibit yang dijual di Poultry Shoup. Adapun jenis strain ayam ras pedaging yang banyak beredar di pasaran adalah: Super 77, Tegel 70, ISA, Kim cross, Lohman 202, Hyline, Vdett, Missouri, Hubbard, Shaver Starbro, Pilch, Yabro, Goto, Arbor arcres, Tatum, Indian river, Hybro, Cornish, Brahma, Langshans, Hypeco-Broiler, Ross, Marshall”m”, Euribrid, A.A 70, H&N, Sussex, Bromo, CP 707.

4. MANFAAT
Manfaat beternak ayam ras pedaging antara lain, meliputi:
1)penyediaan kebutuhan protein hewani
2)pengisi waktu luang dimasa pensiun
3)pendidikan dan latihan (diklat) keterampilan dikalangan remaja
4)tabungan di hari tua
5)mencukupi kebutuhan keluarga (profit motif)
5.PERSYARATAN LOKASI
1)Lokasi yang cukup jauh dari keramaian/perumahan penduduk.
2)Lokasi mudah terjangkau dari pusat-pusat pemasaran.
3)Lokasi terpilih bersifat menetap, artinya tidak mudah terganggu oleh keperluan-keperluan lain selain untuk usaha peternakan.
6.PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Sebelum usaha beternak dimulai, seorang peternak wajib memahami 3 (tiga) unsur produksi yaitu: manajemen (pengelolaan usaha peternakan), breeding (pembibitan) dan feeding (makanan ternak/pakan)
6.1.Penyiapan Sarana dan Peralatan
1.Perkandangan
Sistem perkandangan yang ideal untuk usaha ternak ayam ras meliputi: persyaratan temperatur berkisar antara 32,2-35 derajat C, kelembaban berkisar antara 60-70%, penerangan/pemanasan kandang sesuai dengan aturan yang ada, tata letak kandang agar mendapat sinar matahari pagi dan tidak melawan arah mata angin kencang, model kandang disesuaikan dengan umur ayam, untuk anakan sampai umur 2 minggu atau 1 bulan memakai kandang box, untuk ayam remaja ± 1 bulan sampai 2 atau 3 bulan memakai kandang box yang dibesarkan dan untuk ayam dewasa bisa dengan kandang postal atapun kandang bateray. Untuk kontruksi kandang tidak harus dengan bahan yang mahal, yang penting kuat, bersih dan tahan lama.
2.Peralatan
a.Litter (alas lantai)
Alas lantai/litter harus dalam keadaan kering, maka tidak ada atap yang bocor dan air hujan tidak ada yang masuk walau angin kencang. Tebal litter setinggi 10 cm, bahan litter dipakai campuran dari kulit padi/sekam dengan sedikit kapur dan pasir secukupnya, atau hasi serutan kayu dengan panjang antara 3–5 cm untuk pengganti kulit padi/sekam.
b.Indukan atau brooder
Alat ini berbentuk bundar atau persegi empat dengan areal jangkauan 1-3 m dengan alat pemanas di tengah. Fungsinya seperti induk ayam yang menghangatkan anak ayamnya ketika baru menetas.
c.Tempat bertengger (bila perlu)
Tempat bertengger untuk tempat istirahat/tidur, dibuat dekat dinding dan diusahakan kotoran jatuh ke lantai yang mudah dibersihkan dari luar. Dibuat tertutup agar terhindar dari angin dan letaknya lebih rendah dari tempat bertelur.
d.Tempat makan, minum dan tempat grit
Tempat makan dan minum harus tersedia cukup, bahannya dari bambu, almunium atau apa saja yang kuat dan tidak bocor juga tidak berkarat. Untuk tempat grit dengan kotak khusus
e.Alat-alat rutin
Alat-alat rutin termasuk alat kesehatan ayam seperti: suntikan, gunting operasi, pisau potong operasi kecil, dan lain-lain.
6.2.Pembibitan
Ternak yang dipelihara haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a) ternak sehat dan tidak cacat pada fisiknya
b) pertumbuhan dan perkembangannya normal
c) ternak berasal dari pembibitan yang dikenal keunggulannya.
d) tidak ada lekatan tinja di duburnya.

1.Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Ada beberapa pedoman teknis untuk memilih bibit/DOC (Day Old Chicken)/ayam umur sehari:
a.Anak ayam (DOC ) berasal dari induk yang sehat.
b.Bulu tampak halus dan penuh serta baik pertumbuhannya .
c.Tidak terdapat kecacatan pada tubuhnya.
d.Anak ayam mempunyak nafsu makan yang baik.
e.Ukuran badan normal, ukuran berat badan antara 35-40 gram.
f.Tidak ada letakan tinja diduburnya.
3.Perawatan Bibit dan Calon Induk
Dilakukan setiap saat, bila ada gejala kelainan pada ternak supaya segera diberi perhatian secara khusus dan diberikan pengobatan sesuai petunjuk Dinas Peternakan setempat atau dokter hewan yang bertugas di daerah yang bersangkutan.
6.3.Pemeliharaan
1.Pemberian Pakan dan Minuman
Untuk pemberian pakan ayam ras broiler ada 2 (dua) fase yaitu fase starter (umur 0-4 minggu) dan fase finisher (umur 4-6 minggu).
a.Kualitas dan kuantitas pakan fase starter adalah sebagai berikut:
-kualitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 22-24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%, Kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9%, ME 2800-3500 Kcal.
-kuantitas pakan terbagi/digolongkan menjadi 4 (empat) golongan yaitu minggu pertama (umur 1-7 hari) 17 gram/hari/ekor, minggu kedua (umur 8-14 hari) 43 gram/hari/ekor, minggu ke-3 (umur 15-21 hari) 66 gram/hari/ekor dan minggu ke-4 (umur 22-29 hari) 91 gram/hari/ekor.
Jadi jumlah pakan yang dibutuhkan tiap ekor sampai pada umur 4 minggu sebesar 1.520 gram.
b.Kualitas dan kuantitas pakan fase finisher adalah sebagai berikut:
-kualitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 18,1-21,2%; lemak 2,5%, serat kasar 4,5%, kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9% dan energi (ME) 2900-3400 Kcal.
-kuantitas pakan terbagi/digolongkan dalam empat golongan umur yaitu: minggu ke-5 (umur 30-36 hari) 111 gram/hari/ekor, minggu ke-6 (umut 37-43 hari) 129 gram/hari/ekor, minggu ke-7 (umur 44-50 hari) 146 gram/hari/ekor dan minggu ke-8 (umur 51-57 hari) 161 gram/hari/ekor. Jadi total jumlah pakan per ekor pada umur 30-57 hari adalah 3.829 gram.
2.Pemberian minum disesuaikan dangan umur ayam yang dikelompokkan dalam 2 (dua) fase yaitu:
a. Fase starter (umur 1-29 hari), kebutuhan air minum terbagi lagi pada masing-masing minggu, yaitu minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor, minggu ke-3 (15-21 hari) 4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4 (22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor. Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4 minggu adalah
sebanyak 122,6 liter/100 ekor. Pemberian air minum pada hari pertama hendaknya diberi tambahan gula dan obat anti stress kedalam air minumnya. Banyaknya gula yang diberikan adalah 50 gram/liter air.
b.Fase finisher (umur 30-57 hari), terkelompok dalam masing-masing minggu yaitu minggu ke-5 (30-36 hari) 9,5 liter/hari/100 ekor, minggu ke-6 (37-43 hari) 10,9 liter/hari/100 ekor, minggu ke-7 (44-50 hari) 12,7 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-8 (51-57 hari) 14,1 liter/hari/ekor. Jadi total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4 liter/hari/ekor.
4.Pemeliharaan Kandang
Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan merupakan usaha pencegahan penyakit yang paling murah, hanya dibutuhkan tenaga yang ulet/terampil saja. Tindakan preventif dengan memberikan vaksin pada ternak dengan merek dan dosis sesuai catatan pada label yang dari poultry shoup. Agar bangunan kandang dapat berguna secara efektif, maka bangunan kandang perlu dipelihara secara baik yaitu kandang selalu dibersihkan dan dijaga/dicek apabila ada bagian yang rusak supaya segera disulam/diperbaiki kembali. Dengan demikian daya guna kandang bisa maksimal tanpa mengurangi persyaratan kandang bagi ternak yang dipelihara.
7.HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Penyakit
1.Berak darah (Coccidiosis)
Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox.
2.Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)
Gejala: ayam sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang; (2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.
7.2.Hama
1.Tungau (kutuan)
Gejala: ayam gelisah, sering mematuk-matuk dan mengibas-ngibaskan bulu karena gatal, nafsu makan turun, pucat dan kurus.
Pengendalian: (1) sanitasi lingkungan kandang ayam yang baik; pisahkan ayam yang sakit dengan yang sehat; (2) dengan menggunakan karbonat sevin dengan konsentrasi 0,15% yang encerkan dengan air kemudian semprotkan dengan menggunakan karbonat sevin dengan konsentrasi 0,15% yang encerkan dengan air kemudian semprotkan ketubuh pasien. Dengan fumigasi atau pengasepan menggunakan insektisida yang mudah menguap seperti Nocotine sulfat atau Black leaf 40.
8.P A N E N
8.1.Hasil Utama
Untuk usaha ternak ayam pedaging, hasil utamanya adalah berupa daging ayam
8.2.Hasil Tambahan
Usaha ternak ayam broiler (pedaging) adalah berupa tinja atau kotoran kandang dan bulu ayam.
9.PASCA PANEN
9.1. Stoving
Penampungan ayam sebelum dilakukan pemotongan, biasanya ditempatkan di kandang penampungan (Houlding Ground)
9.2.Pemotongan
Pemotongan ayam dilakukan dilehernya, prinsipnya agar darah keluar keseluruhan atau sekitar 2/3 leher terpotong dan ditunggu 1-2 menit. Hal ini agar kualitas daging bagus, tidak mudah tercemar dan mudah busuk.
9.3.Pengulitan atau Pencabutan Bulu
Caranya ayam yang telah dipotong itu dicelupkan ke dalam air panas (51,7- 54,4 derajat C). Lama pencelupan ayam broiler adalah 30 detik. Bulu-bulu yang halus dicabut dengan membubuhkan lilin cair atau dibakar dengan nyala api biru.
9.4.Pengeluaran Jeroan
Bagian bawah dubut dipotong sedikit, seluruh isi perut (hati, usus dan ampela) dikeluarkan. Isi perut ini dapat dijual atau diikut sertakan pada daging siap dimasak dalam kemasan terpisah.
9.5. Pemotongan Karkas
Kaki dan leher ayam dipotong. Tunggir juga dipotong bila tidak disukai. Setelah semua jeroan sudah dikeluarkan dan karkas telah dicuci bersih, kaki ayam/paha ditekukan dibawah dubur. Kemudian ayam didinginkan dan dikemas.
10.ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
10.1. Analisis Usaha Budidaya
Dasar perhitungan biaya yang dikeluarkan dan pendapatan yang diperoleh dalam analisis ini, antara lain adalah:
a.jenis ayam yang dipelihara adalah jenis ayam ras pedaging (broiler) dari strain CP.707.
b.sistem pemeliharaan yang diterapkan dengan cara intensif pada kandang model postal
c.luas tanah yang digunakan yaitu 200 m2 dengan nilai harga sewa tanah dalam 1 ha/tahun adalah Rp 1.000.000,-.
d.kandang terbuat dari kerangka bambu, lantai tanah, dinding terbuat dari bilah-bilah bambu denga alas dinding setinggi 30 cm, terbuat dari batu bata yang plester dan atap menggunakan genting.
e.ukuran kandang, yaitu tinggi bagian tepinya 2,5 m, lebar kandang 5 m dan lebar bagian tepi kandang 1,5 m.
f.lokasi peternakan dekat dengan sumber air dan listrik.
g.menggunakan alat pemanas (brooder) gasolec dengan bahan bakar gas.
h.penerangan dengan lampu listrik.
i.umur ayam yaitu dimulai dari bibit yang berumur 1 hari
j.litter/alas kandang menggunakan sekam padi.
k.jenis pakan yang diberikan adalah BR-1 untuk anak ayam umur 0-4 minggu dan BR-2 untuk umur 4-6 minggu.
l.tingkat kematian ayam diasumsikan 6%.
m.lama masa pemeliharaan yaitu 6 minggu (42 hari).
n.berat rata-rata per ekor ayam diasumsikan 1,75 kg berat hidup pada saat panen.
o.harga ayam per kg berat hidup, yaitu diasumsikan Rp 2500,-, walau kisaran harga sampai mencapai Rp 3000,- ditingkat peternak/petani.
p.ayam dijual pada umur 6 mingu atau 42 hari.
q.nilai pupuk kandang yaitu Rp 60.000,-.
r.bunga Bank yaitu 1,5%/bulan
s.nilai penyusutan kandang diperhitungkan dengan kekuatan masa pakai 6 tahun dan nilai penyusutan peralatan diperhitungkan dengan masa pakai 5 tahun.
t.perhitungan analisis biaya ini hanya diperhitungkan sebagai Pedoman dasar, karena nilai/harga sewaktu-waktu dapat mengalami perubahan.
Adapun rincian biaya produksi dan modal usaha tani adalah sebagai berikut :
1) Biaya prasarana produksi
a.Sewa tanah 200 m2 selama 2 bulan Rp. 20.000,-
b.Kandang ukuran 20 x 5 m
– Bambu 180 batang @ Rp 1250,
– Semen 4 zak @ Rp 7000,
– Kapur 30 zak @ Rp 6000,
– Genting 2600 bh @ Rp 90,
– Paku reng 5 kg @ Rp 2000,
– Paku usuk 7000 kg @ Rp 1800,
– Batu bata 1000 buah @ Rp 55,
– Pasir 1 truk
– Tali 28 meter @ Rp 5000,
– Tenaga kerja
Rp. 225.000,-
Rp. 28.000,-
Rp. 18.000,-
Rp. 234.000,-
Rp. 10.000,-
Rp. 12.600,-
Rp. 55.000,-
Rp. 230.000,-
Rp. 14.000,-
Rp. 400.000,-
c.Peralatan
– Tempat pakan 28 bh @ Rp 5000,
– Tempat minum 32 bh @ Rp 3880,
– Sekop 1 bh
– Ember 2 bh @ Rp 2000,
– Tong bak air 1 bh
– Ciduk 2 bh @ Rp 500,
– Tabung gas besar 1 bh
– Thermometer 1 bh
– Regulator 1 bh
– Brooder (gasolec) 1 bh
– Tali gantung tmp pakan 120 m @Rp 500,-
Rp. 140.000,-
Rp. 124.000,-
Rp. 7.000,-
Rp. 4.000,-
Rp. 15.000,-
Rp. 1.000,-
Rp. 250.000,-
Rp. 2.000,-
Rp. 52.500,-
Rp. 15.000,-
Rp. 60.000,-
Jumlah biaya prasarana produksi Rp. 2.052.000,-
2) Biaya sarana produksi
a.Bibit DOC 1000 bh @ Rp 900,- Rp. 900.000,-
b.Pakan dan obat-obatan
– BR-1 31 zak (0-4 minggu) @Rp 36.000,
– BR-2 34 zak (4-6 mingu) @ Rp 34.000,
– obat-obatan @ Rp 150,-/ekor
Rp. 1.116.000,-
Rp. 1.156.000,-
Rp. 150.000,-
c.tenaga kerja pelihara 1,5 bln @ Rp 105.000,- Rp. 157.500,-
d.Lain-lain
– sekam padi alas kandang 1 truk @Rp 60.000,-
– karung goni bekas 32 kantong @ Rp 300,-
– pemakaian listrik selama 0-6 minggu
– pemakaian gas Rp. 10.000,-
Rp. 60.000,-
Rp. 2.400,-
Rp. 7.000,-
Rp. 35.000,-
Jumlah biaya prasarana produksi Rp. 3.583.900,-
3) Biaya produksi
a.Sewa tanah 200 m2 selama 2 bulan Rp. 20.000,-
b.Nilai susut prasarana produksi/2 bln
– kandang
– Peralatan Rp 805.660,- : 30
Rp. 51.109,-
Rp. 26.856,-
c.Bibit DOC 1000 ekor Rp. 900.000,-
d.Pakan dan obat-obatan Rp. 2.422.000,-
e.Tenaga kerja Rp. 157.500,-
f.lain-lain Rp. 104.400,-
g.Bunga modal 1,5% per bulan Rp. 84.543,-
h.Bulan modal 1,5 bulan Rp. 126.815,-
Jumlah biaya prasarana produksi Rp. 3.808.680,-
4) Pendapatan
a.Total produksi 1000X94%X1,75 kg X Rp 2500,- Rp. 4.112.500,-
b.Nilai Pupuk kandang Rp. 60.000,-
c.Jumlah pendapatan Rp. 4.172.500,-
d.Keuntungan Rp. 363.820,-
5) Parameter kelayakan usaha
a.BEP Volume Produksi = 870 ekor
b.BEP Harga Produksi Rp. 3.316.000,-
c.B/C Ratio = 1,09
d.ROI = 6,45 %
e.Rasio keuntungan terhadap pendapatan = 8,71 %
f.Tingkat pengembalian modal = 2,6 th.
10.2.Gambaran Peluang Agribisnis
Prospek agribisnis peternakan untuk ternak ayam broiler cukup baik dimana permintaan pasar selalu meningkat, sejalan dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi hewani. Produksi ternak ayam broiler saat ini berkembang dengan pesat dan peluang pasar yang bisa dihandalkan.
11.DAFTAR PUSTAKA
1.Muhammad Rasyaf, Dr.,Ir. Beternak Ayam Pedaging. Penerbit Penebar Swadaya (anggota IKAPI) Jakarta.
2.Cahyono, Bambang, Ir.1995. Cara Meningkatkan Budidaya Ayam Ras Pedaging (Broiler). Penerbit Pustaka Nusatama Yogyakarta.
12.KONTAK HUBUNGAN
1.Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
2.Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id
Sumber :
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

BUDIDAYA AYAM BURAS

BUDIDAYA AYAM BURAS
1. PENDAHULUAN
Perkembangan ayam buras (bukan ras) atau lebih dikenal dengan sebutan ayam kampung di Indonesia berkembang pesat dan telah banyak dipelihara oleh peternakpeternak maupun masyarakat umum sebagai usaha untuk pemanfaatan pekarangan, pemenuhan gizi keluarga serta meningkatkan pendapatan.
Dikarenakan dengan pemeliharaan sistem tradisional, produksi telur ayam buras sangat rendah, ± 60 butir/tahun/ekor. Berat badan pejantan tak lebih dari 1,9 kg dan betina ± 1,2 ~ 1,5 kg, maka perlu diintensifkan. Pemeliharaan yang intensif pada ayam buras, dapat meningkatkan produksi telur dan daging, dapat mencegah wabah penyakit dan memudahkan tata laksana.
Sistem pemeliharaan ayam buras meliputi : bibit, pemeliharaan, perkandangan, pakan dan pencegahan penyakit.

 
2. BIBIT
Ciri-ciri bibit yang baik :
a. Ayam jantan
-Badan kuat dan panjang.
-Tulang supit rapat.
-Sayap kuat dan bulu-bulunya teratur rapih.
-Paruh bersih.
-Mata jernih.
-Kaki dan kuku bersih, sisik-sisik teratur.
-Terdapat taji.
b. Ayam betina (petelur) yang baik
-Kepala halus.
-Matanya terang/jernih.
-Mukanya sedang (tidak terlalu lebar).
-Paruh pendek dan kuat.
-Jengger dan pial halus.
-Badannya cukup besar dan perutnya luas.
-Jarak antara tulang dada dan tulang belakang ± 4 jari.
-Jarak antara tulang pubis ± 3 jari.
3. PEMELIHARAAN
Ada 3 (tiga) sistem pemeliharaan :

1) Kulit, sebagai bahan industri tas, sepatu, ikat pinggang, topi, jaket.
2) Tulang, dapat diolah menjadi bahan bahan perekat/lem, tepung tulang dan barang
Kerajinan
3) Tanduk, digunakan sebagai bahan kerajinan seperti: sisir, hiasan dinding dan masih banyak manfaat sapi bagi kepentingan manusia.
a. Ekstensif (pemeliharaan secara tradisional = ayam dilepas dan mencari pakan sendiri).
b. Semi intensif (ayam kadang-kadang diberi pakan tambahan).
c. Intensif (ayam dikandangkan dan diberi pakan).
Apabila dibedakan dari umurnya, ada beberapa macam pemeliharaan, yaitu :
a. Pemeliharaan anak ayam (starter) : 0 – 6 minggu, dimana anak ayam sepenuhnya
diserahkan kepada induk atau induk buatan.
b. Pemeliharaan ayam dara (grower) : 6 – 20 minggu.
c. Pemeliharaan masa bertelur (layer) : 21 minggu sampai afkir (± 2 tahun).
Untuk memperoleh telur tetas yang baik, diperlukan 1 (satu) ekor pejantan
melayani 9 (sembilan) ekor betina, sedangkan untuk menghasilkan telur
konsumsi, pejantan tidak diperlukan.
4. MANFAAT
Memelihara sapi potong sangat menguntungkan, karena tidak hanya menghasilkan daging dan susu, tetapi juga menghasilkan pupuk kandang dan sebagai tenaga kerja. Sapi juga dapat digunakan meranih gerobak, kotoran sapi juga mempunyai nilai ekonomis, karena termasuk pupuk organik yang dibutuhkan oleh semua jenis tumbuhan. Kotoran sapi dapat menjadi sumber hara yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih gembur dan subur.
Semua organ tubuh sapi dapat dimanfaatkan antara lain:
1) Kulit, sebagai bahan industri tas, sepatu, ikat pinggang, topi, jaket.
2) Tulang, dapat diolah menjadi bahan bahan perekat/lem, tepung tulang dan barang
kerajinan
3) Tanduk, digunakan sebagai bahan kerajinan seperti: sisir, hiasan dinding dan masih banyak manfaat sapi bagi kepentingan manusia.

5. PERSYARATAN LOKASI
Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus
dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian.
Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.
Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.
Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai
penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.
Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahanbahan lainnya.
Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5×2 m atau 2,5x2m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8×2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5×1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).
Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab. Pembuatan kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang meliputi konstruksi, letak, ukuran dan perlengkapan kandang.
1) Konstruksi dan letak kandang
Konstruksi kandang sapi seperti rumah kayu. Atap kandang berbentuk kuncup dan salah satu/kedua sisinya miring. Lantai kandang dibuat padat, lebih tinggi dari pada tanah sekelilingnya dan agak miring kearah selokan di luar kandang. Maksudnya adalah agar air yang tampak, termasuk kencing sapi mudah mengalir ke luar lantai kandang tetap kering.
Bahan konstruksi kandang adalah kayu gelondongan/papan yang berasal dari kayu yang kuat. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat, tetapi agak terbuka agar sirkulasi udara didalamnya lancar.
Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air minum yang bersih. Air minum diberikan secara ad libitum, artinya harus tersedia dan tidak boleh kehabisan setiap saat.
Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang. Pembuatan kandang sapi dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah/ladang.
2) Ukuran Kandang
Sebelum membuat kandang sebaiknya diperhitungkan lebih dulu jumlah sapi yang akan dipelihara. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2 m.
Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk seekor anak sapi cukup 1,5×1 m.
3) Perlengkapan Kandang
Termasuk dalam perlengkapan kandang adalah tempat pakan dan minum, yang sebaiknya dibuat di luar kandang, tetapi masih dibawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak/ tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai.
Dengan demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya. Perlengkapan
lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat, sekop, sabit, dan tempat untuk
memandikan sapi. Semua peralatan tersebut adalah untuk membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit sekaligus bisa dipakai untuk memandikan sapi.
6.2. PEMBIBITAN
Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah:
1)Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap
1.silsilahnya.
2)Matanya tampak cerah dan bersih.
3)Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari hidung tidak keluar lendir.
4)Kukunya tidak terasa panas bila diraba.
5)Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.
6)Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur.
7)Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.
8)Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.
Untuk menghasilkan daging, pilihlah tipe sapi yang cocok yaitu jenis sapi Bali, sapi
Brahman, sapi PO, dan sapi yang cocok serta banyak dijumpai di daerah setempat. Ciriciri
sapi potong tipe pedaging adalah sebagai berikut:
1) tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat/bola.
2) kualitas dagingnya maksimum dan mudah dipasarkan.
3) laju pertumbuhannya relatif cepat.
4) efisiensi bahannya tinggi.
6.3. Pemeliharaan
Pemeliharaan sapi potong mencakup penyediaan pakan (ransum) dan pengelolaan kandang. Fungsi kandang dalam pemeliharaan sapi adalah :
a) Melindungi sapi dari hujan dan panas matahari.
b) Mempermudah perawatan dan pemantauan.
c) Menjaga keamanan dan kesehatan sapi.
Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga.
Makin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan, makin besar tenaga yang ditimbulkan dan masih besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.
1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.
2. Pemberian Pakan
Pada umumnya, setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan. Sapi dalam masa pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan yang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya.
Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua.
Penggembalaan dilakukan dengan melepas sapi-sapi di padang rumput, yang biasanya dilakukan di daerah yang mempunyai tempat penggembalaan cukup luas, dan memerlukan waktu sekitar 5-7 jam per hari. Dengan cara ini, maka tidak memerlukan ransum tambahan pakan penguat karena sapi telah memakan bermacam-macam jenis rumput.
Pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang yang dikenal dengan
istilah kereman. Sapi yang dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang, sawah/tempat lain. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% – 2% dari berat badan. Ransum tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu.
yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus. Pakan sapi dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal dengan istilah ransum.
Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan keraman. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (legu minosa) dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro.
Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan
agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah jerami padi, Jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat kasar.
Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase ini
dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang disebut silase.
Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.
3. Pemeliharaan Kandang
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar.
Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi
daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Penyakit
1. Penyakit antraks
Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan.
Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3)
pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4)
kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman.
Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.
2. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air
liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.
Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat
tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun
drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur
keluar berlebihan.
Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.
3. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman
yang tercemar bakteri.
Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan
kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput
lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas
sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.
Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.

4. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.
Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh;
(2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.

7.2. Pengendalian
Pengendalian penyakit sapi yang paling baik menjaga kesehatan sapi dengan tindakan
pencegahan. Tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan sapi adalah:
1.Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.
2.Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.
3.Mengusakan lantai kandang selalu kering.
4.Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk.
8. P A N E N
8.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi potong adalah dagingnya
8.2. Hasil Tambahan
Selain daging yang menjadi hasil budidaya, kulit dan kotorannya juga sebagai hasil
tambahan dari budidaya sapi potong.
9. PASCA PANEN
9.1. Stoving
Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan sapi agar
diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:
1. Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum pemotongan
2. Ternak sapi harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging.
3. Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita
ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara tuntas.
4. Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis
mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.
9.2. Pengulitan
Pengulitan pada sapi yang telah disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit sapi dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit sapi dijemur dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat.
9.3. Pengeluaran Jeroan
Setelah sapi dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan jeroan
dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut sapi.
9.4. Pemotongan Karkas
Akhir dari suatu peternakan sapi potong adalah menghasilkan karkas berkualitas dan berkuantitas tinggi sehingga recahan daging yang dapat dikonsumsipun tinggi. Seekor ternak sapi dianggap baik apabila dapat menghasilkan karkas sebesar 59% dari bobot tubuh sapi tersebut dan akhirnya akan diperoleh 46,50% recahan daging yang dapat dikonsumsi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dari seekor sapi yang dipotong tidak akan seluruhnya menjadi karkas dan dari seluruh karkas tidak akan seluruhnya menghasilkan daging yang dapat dikonsumsi manusia. Oleh karena itu, untuk menduga hasil karkas dan daging yang akan diperoleh, dilakukan penilaian dahulu sebelum ternak sapi potong. Di negara maju terdapat spesifikasi untuk pengkelasan (grading) terhadap steer, heifer dan cow yang akan dipotong.
Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas tubuh
bagian kanan. Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha depan, paha
belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas dan hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran mikroorganisme selama proses pemotongan dan pengeluaran jeroan.
Daging dari karkas mempunyai beberapa golongan kualitas kelas sesuai dengan lokasinya pada rangka tubuh. Daging kualitas pertama adalah daging di daerah paha (round) kurang lebih 20%, nomor dua adalah daging daerah pinggang (loin), lebih kurang 17%, nomor tiga adalah daging daerah punggung dan tulang rusuk (rib) kurang lebih 9%, nomor empat adalah daging daerah bahu (chuck) lebih kurang 26%, nomor lima adalah daging daerah dada (brisk) lebih kurang 5%, nomor enam daging daerah perut (frank) lebih kurang 4%, nomor tujuh adalah daging daerah rusuk bagian bawah sampai perut bagian bawah (plate & suet) lebih kurang 11%, dan nomor delapan adalah daging bagian kaki depan (foreshank) lebih kurang 2,1%. Persentase bagian-bagian dari karkas tersebut di atas dihitung dari berat karkas (100%).
Persentase recahan karkas dihitung sebagai berikut:
Persentase recahan karkas = Jumlah berat recahan / berat karkas x 100 % Istilah untuk sisa karkas yang dapat dimakan disebut edible offal, sedangkan yang tidak
dapat dimakan disebut inedible offal (misalnya: tanduk, bulu, saluran kemih, dan bagian lain yang tidak dapat dimakan).
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
10.1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya sapi potong kereman setahun di Bangli skala 25 ekor pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:
1) Biaya Produksi
a. Pembelian 25 ekor bakalan : 25 x 250 kg x Rp. 7.800,- Rp. 48.750.000,-
b. Kandang Rp. 1.000.000,-
c. Pakan
– Hijauan: 25 x 35 kg x Rp.37,50 x 365 hari
– Konsentrat: 25 x 2kg x Rp. 410,- x 365 hari
Rp. 12.000.000,-
Rp. 7.482.500,-
d. Retribusi kesehatan ternak: 25 x Rp. 3.000,- Rp. 75.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 69.307.500,-
2) Pendapatan
a. Penjualan sapi kereman
Tambahan berat badan: 25 x 365 x 0,8 kg = 7.300 kg
Berat sapi setelah setahun: (25 x 250 kg) + 7.300 kg = 13.550 kg
Harga jual sapi hidup: Rp. 8.200,-/kg x 13.550 kg
Rp. 111.110.000,-
b. Penjualan kotoran basah: 25 x 365 x 10 kg x Rp. 12,- Rp. 1.095.000,-
Jumlah pendapatan Rp. 112.205.000,-
3) Keuntungan
a. Tanpa memperhitungkan biaya tenaga internal keuntungan Penggemukan 25 ekor sapi selama setahun. Rp. 42.897.500,-
4) Parameter kelayakan usaha
a. B/C ratio = 1,61
10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Sapi potong mempunyai potensi ekonomi yang tinggi baik sebagai ternak potong maupun ternak bibit. Selama ini sapi potong dapat mempunyai kebutuhan daging untuk local seperti rumah tangga, hotel, restoran, industri pengolahan, perdagangan antar pulau.
Pasaran utamanya adalah kota-kota besar seperti kota metropolitan Jakarta.
Konsumen untuk daging di Indonesia dapat digolongkan ke dalam beberapa segmen yaitu:
A) KONSUMEN AKHIR
Konsumen akhir, atau disebut konsumen rumah tangga adalah pembeli-pembeli yang
membeli untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individunya. Golongan ini mencakup porsi yang paling besar dalam konsumsi daging, diperkirakan mencapai 98% dari konsumsi total.
Mereka ini dapat dikelompokkan lagi ke dalam ova sub segmen yaitu :
1. Konsumen dalam negeri ( Golongan menengah keatas )
Segmen ini merupakan segmen terbesar yang kebutuhan dagingnya kebanyakan dipenuhi dari pasokan dalam negeri yang masih belum memperhatikan kualitas tertentu sebagai persyaratan kesehatan maupun selera.
2. Konsumen asing, Konsumen asing yang mencakup keluarga-keluarga diplomat, karyawan perusahaan dan sebagian pelancong ini porsinya relatif kecil dan tidak signifikan. Di samping itu juga kemungkinan terdapat konsumen manca negara yang selama ini belum terjangkau oleh pemasok dalam negeri, artinya ekspor belum dilakukan/jika dilakukan porsinya tidak signifikan.
B) KONSUMEN INDUSTRI
Konsumen industri merupakan pembeli-pembeli yang menggunakan daging untuk diolah kembali menjadi produk lain dan dijual lagi guna mendapatkan laba. Konsumen ini terutama meliputi: hotel dan restauran dan yang jumlahnya semakin meningkat
Adapun mengenai tata niaga daging di negara kita diatur dalam inpres nomor 4 tahun 1985 mengenai kebijakansanakan kelancaran arus barang untuk menunjang kegiatan ekonomi. Di Indonesia terdapat 3 organisasi yang bertindak seperti pemasok daging yaitu:
a. KOPPHI (Koperasi Pemotongan Hewan Indonesia), yang mewakili pemasok
b. produksi peternakan rakyat.
c. APFINDO (Asosiasi Peternak Feedlot (penggemukan) Indonesia), yang mewakili
d. peternak penggemukan
e. ASPIDI (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia).
11. DAFTAR PUSTAKA
1. Abbas Siregar Djarijah. 1996, Usaha Ternak Sapi, Kanisius, Yogyakarta.
2. Yusni Bandini. 1997, Sapi Bali, Penebar Swadaya, Jakarta.
3. Teuku Nusyirwan Jacoeb dan Sayid Munandar. 1991, Petunjuk Teknis Pemeliharaan
4.Sapi Potong, Direktorat Bina Produksi Peternaka
5.Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta Undang Santosa.1995, Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi, Penebar Swadaya, Jakarta.
7.Lokakarya Nasional Manajemen Industri Peternakan. 24 Januari 1994,Program
8.Magister Manajemen UGM, Yogyakarta.
9.Kohl, RL. and J.N. Uhl. 1986, Marketing of Agricultural Products, 5 th ed,
10.Macmillan Publishing Co, New York.
11.Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas
12. KONTAK HUBUNGAN
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS, Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829, Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340,
Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id
sumber http://www.nguntoronadi.wonogiri.org

Pengelolaan Ayam Petelur

Pengelolaan Ayam Petelur 
Pengelolaan ayam petelur yang baik adalah sangat penting untuk mempeoleh tingkat produksi telur yang tinggi. Apabila ayam petelur dipupuk sebagai sumber penghasilan yang menguntungkan, maka mereka harus tumbuh berkesinambungan sepanjang masa perkembangannya. Pedoman berikut ini dapat membantu dalam mensukseskan proses pertumbuhan dan perkembangan ayam petelur selama masa pertumbuhannya:
•RUANGAN – Untuk setiap 100 ayam petelur harus memiliki ruang antara 25 m2 sampai 100 m2. Sediakan 0,2 sampai 0,3 m2 per ayam apabila dibiarkan tumbuh di luar kandang.

•MAKANAN – Sediakan pakan penumbuh (growing mash) yang baik di depan ayam sepanjang waktu. Pakan yang komplit dari pabrik biasanya telah mengandung semua nutrisi yang diperlukan. Pengoplosan pakan dengan menambahkan pakan dari luar (misalnya jagung) dapat menyebabkan terjadinya ketidak-seimbangan yang pada akhirnya hasil yang diperoleh akan mengecewakan.
•AIR – Pada masa pertumbuhannya ayam petelur akan banyak minum dan membutuhkan banyak air untuk menjaga pertumbuhan yang normal. Air harus tetap segar dan dingin.Air mancur dijaga agar senantiasa dalam keadaan yang baik dan selalu dibersihkan setiap hari.
•PENEDUH – Pada musim panas, ayam petelur akan merasa lebih nyaman apabila diberi tempat meneduh.
•PISAHKAN AYAM PETELUR MUDA DARI YANG LEBIH TUA – Ini akan menolong mengurangi kemungkinan menyebarnya penyakit dari induk ayam yang lebih tua ke yang lebih muda.
•TEMPAT BERTEDUH – Sediakan satu tempat berteduh yang berukuran 3 x 4 meter untuk tiap 100 sampai 125 ayam petelur.
•PENCEGAHAN PARASIT – Ayam petelur dapat terkena penyakit cacing. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, terdapat sejumlah obat yang dapat dipergunakan untuk mencegah parasit pada ayam yang datangnya dari dalam. Dengan pengelolaan dan sanitasi yang baik dapat membantu mengurangi terjangkitnya parasit. Periksalah beberapa ayam petelur dari waktu ke waktu untuk parasit yang datangnya dari luar seperti kutu ayam.
•LINDUNGI DARI MUSUHNYA – Yakinkan bahwa binatang pemangsa tidak dapat memasuki bangunan tempat ayam tidur di malam hari.
Saat ayam petelur sedang tumbuh adalah saat yang paling baik untuk membentuk berat tubuhnya yang baik, kuat dan penuh vitalitas. Saat yang paling kritis selama hidupnya ayam petelur adalah selama masa pertumbuhannya. Apabila Anda menginginkan ayam yang memberikan keuntungan, maka perhatikan bahwa mereka berkembang dengan baik selama masa pertumbuhannya.

Vaksinasi Ayam

Vaksinasi Ayam
Kerugian besar dalam produksi telur yang terjadi pada kebanyakan peternakan disebabkan oleh gagalnya memvaksinasi terhadap penyakit Fowl fox dan Newcastle. Jangan biarkan penyakit tersebut lepas dari penjagaan Anda. Vaksinasilah sebelum terlambat. Beberapa minggu produksi akan hilang bila ayam betina yang tidak divaksinasi terkena penyakit setelah mereka mulai bertelur.
Vaksinasi terhadap kedua penyakit tersebut di atas dapat dilakukan setiap saat setelah ayam berumur 8 minggu. Jangan menunggu lebih lama setelah 8 minggu karena akan menghadapi risiko besar atas kehilangan beberapa ayam. Untuk mencegah reaksi yang tidak diinginkan akibat dari vaksin, pada saat divaksinasi ayam harus berada dalam keadaan sehat atau tidak sedang terinfeksi parasit. Sekali vaksinasi hanya untuk satu jenis penyakit, sedangkan vaksinasi untuk jenis penyakit lainnya dapat dilakukan kurang lebih 3 minggu sesudahnya.

Methode yang digunakan untuk memvaksinasi terhadap penyakit Fowl Pox dan Newcastle adalah methode jaringan sayap. Methode ini sangat sederhana. Semua bulu di dekat siku dari salah satu sayap dibuang sehingga jaringan kulit yang cukup luas kelihatan sebagai tempat untuk penyuntikkan vaksin agar semua vaksin dapat dimasukkan pada ayam. Isi jarum vaksin dengan obat vaksin dan suntikkan pada jaringan kulit tersebut. Proses vaksinasi selesailah sudah. Yakinkan bahwa semua ayam yang belum pernah divaksinasi telah mendapat giliran.
Sistem ventilasi harus diatur sedemikian rupa sehingga udara di dalam kandang tidak terlalu panas atau terlalu lembab karena dapat menyebabkan stress pada ayam. Pada musim kemarau, perputaran udara harus ditingkatkan agar udara panas dalam kandang segera terganti dengan udara segar yang lebih dingin. Sedangkan pada musim hujan, perputaran udara harus dikurangi sampai pada tingkat yang cukup untuk tidak menimbulkan adanya kelembaban dan bibit penyakit. Singkirkan semua lapisan kotoran atau alas yang basah segera setelah terbentuk sehingga kandang tetap terpelihara dalam keadaan kering.
Apabila ayam betina telah berumur 16 minggu, cahaya di dalam kandang harus mulai diatur. Pemberian cahaya ini akan mempunyai pengaruh terhadap baik buruknya dalam memproduksi telurnya kelak. Induk ayam memerlukan cahaya yang konstan selama 16 sampai 17 jam tiap hari, kalau tidak terpenuhi maka mereka akan berhenti bertelur dan mulai mencabuti bulunya. Untuk mendapatkan cahaya yang konstant tiap hari, sumber cahaya listrik di dalam kandang bisa diatur dengan mempergunakan alat timer. Penjelasan tambahan mengenai pencahayaan pada induk ayam yang sedang bertelur dapat dimintakan pada penjual pakan ternak atau dinas peternakan setempat.
Tabel program vaksinasi untuk Leghorn
Umur Saat Divaksinasi Jenis Vaksinasi
Umur 1 hari Marek’s
15 hari (1/2 dosis) Infectious Bursal
20 hari (1/2 dosis) Infectious Bursal
25 hari Bronchitis, New Castle, Infectious Bursal
Contoh merek di pasar: Combo Vec. 30)
30 hari Bronchitis, New Castle, Infectious Bursal
(Contoh merek di pasar: Combo Vec. 30)
49 hari Bronchitis, New Castle, Infectious Bursal
Contoh merek di pasar: Combo Vec. 30)
10 minggu Fowl Pox and Laryngotracheitis
biasa dikenal sebagai LT)
12 minggu Combo Vec. 30
13 minggu Avian Encephalomyelitis
(biasa dikenal sebagai AE)
16 minggu New Castle