Pemanfaatan Eceng Gondok

eceng gondokEceng gondok (Eichonia crassipes) awalnya adaah tanaman hias yang berasal dari Brazil, kini berubah menjadi gulma (tumbuhan pengganggu). Sisa-sisa penggunaan pupuk kimia oleh para petani di areal persawahan yang kemudian hanyut ke sungai, menjadikan pertumbuhan dan penyebaran eceng gondok sangat cepat, sehingga sulit ditangani, bahkan sampai memacetkan lalu lintas sungai.
IlungSebenarnya banyak potensi yang bisa di gali dari keberadaan eceng gondok tersebut, antara lain dapat dijadikan bahan kerajinan tangan seperti tas dan lain-lain, hanya saja ini memerlukan keterampilan khusus yang tidak mudah bagi semua orang. Cara memanfaatkan eceng gondok yang lebih sederhana adalah memanfaatkan akar eceng gondok tersebut sebagai bahan media tanaman seperti Seledri (Daun Sop), Cabai dan lain-lain.
daun sopBagaimana dengan batang dan daunnya?, bagian ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk dijadikan kompos.
Salah satu cara pembuatan kompos yang sederhana dan mudah adalah menggunakan bahan aktivator MikroDek (Mikroorganisme Dekomposisi) yaitu bioaktivator pengomposan yang memiliki kemampuan menghancurkan bahan organik mentah dalam waktu relatif singkat dan bersifat antagonis terhadap beberapa penyakit akar, berbentuk serbuk dan berwarna hitam. MikroDek merupakan teknologi pengomposan yang memiliki kemampuan menurunkan C/N secara efisien, cepat, murah, mutu memadai, dan tidak menimbulkan bau tidak sedap. MikroDek tergolong mikroorganisme termofilik, yaitu mikroorganisme yang dapat bertahan hidup pada temperatur mencapai 80°C. MikroDek bisa diperoleh di toko penyedia bahan pertanian.

Cara Membuat Kompos

  1. Sediakan wadah berupa drum/tong plastik dengan tutup yang rapat, tidak perlu membuat lubang ventelasi agar suhu yang tinggi dapat dipertahankan.
  2. Haluskan daun eceng gondok dengan dirajang atau mesin penghancur sampah.
  3. Masukkan eceng gondok yang sudah halus tersebut ke dalam drum sambil dipadatkan, setiap tingginya 20 cm taburkan MikroDek diatasnya, kemudian ulangi lagi sampai penuh, kemudian tutup rapat.
  4. Dosis Mikrodek adalah 0,5 % s.d. 1% dari berat eceng gondok yang di pakai.
  5. Pada hari kedua biasanya suhu meningkat sampai 80°C, pada hari ke 7 dan ke 14 bahan diaduk agar kelembaban terjaga dan merata.
  6. Air lindi yang keluar dari proses komposting merupakan pupuk cair yang banyak mengandung mikroorganisme pengurai dan bahan nutrisi bagi tanaman, kalau mau memanfaatkan cairan tersebut, sebaiknya buatlah lubang saluran pembuangan di dasar drum.
  7. Kalau suhu sudah menurun sampai 30°C, pengomposan sudah selesai.
  8. Keringkan kompos dengan dijemur pada panas matahari sampai kering, ayak agar besar butirannya merata, siap dipakai atau dikemas untuk dijual

KomposterSeandainya masyarakat sepanjang sungai mau memanfaatkan keberadaan eceng gondok ini maka sungai kita akan lebih bersih.
(Sunber: http://kampunggemilang.blogspot.com/2011/04/manfaatkan-eceng-gondok.html)

Limbah Cair Pati Kasava sebagai Substrat Nata De Cassava

Pendahuluan

Nata de Cassava bisa dijadikan makanan desert (pencuci mulut) karena selain rasanya enak juga mengandung serat tinggi yang dapat membantu pencernaan. Nata de Cassava dengan kandungan kalori yang rendah sehingga dapat menjadi pilihan dijadikan makanan diet.

Penampilan makanan ini sangat menarik dengan nilai estetika tinggi berwarna putih agak bening, tekstur kenyal, dan aroma segar. Sehingga Nata de Cassava menjadi makanan desert memiliki daya tarik yang tinggi.

Pembuatan nata yang diperkaya dengan vitamin dan mineral akan mempertinggi nilai gizi dari produk ini.

Apabila diproduksi dengan serius, Nata de Cassava menjanjikan nilai tambah yang tinggi.

Nata dibentuk oleh bakteri asam asetat yang mengubah cairan yang mengandung gula, sari buah atau ekstak tanaman. Terdapat beberapa spesies bakteri asam asetat yang dapat membentuk selulosa antara lain A. Xylinum. Bakteri ini masuk dalam genus Acetobacter dengan sifat Gram negatif, aerob, berbentuk batang pendek atau kokus.

Nata de Cassava dibuat dengan menggunakan limbah kasava. Adanya gula dalam limbah cair kasava akan dimanfaatkan oleh A. Xylinum sebagai sumber energi dan sumber carbon untuk membentuk senyawa metabolit selulose yang membentuk Nata de Cassava. Senyawa mineral dalam substrat akan membantu meningkatkan aktifitas enzim Kinase dalam metabolisme di dalam sel A. Xylinum untuk menghasilkan selulosa.

Dengan pertimbangan di atas maka pemanfaatan limbah padat/onggok dan limbah cair merupakan upaya pemanfaatan limbah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Fermentasi Nata de Cassava dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:

1. Peralatan yang diperlukan

a. Kompor
b. Panci
c. Gelas ukur 1 l dan 250 ml
d. Pengaduk
e. Pisau
f. Plastik kemasan ½ kg dan 1 kg
g. Saringan air kelapa/ayakan tepung
h. Nampan
i. Tali karet
j. Ember
k. Timbangan Kue
l. Sealer

2. Bahan yang diperlukan

a. Limbah cair 25 liter
b. Asam cuka (asam asetat 25%) / Asam cukla dapur
c. ZA 50 g
d. Sirup
e. Kap gelas 200 ml
f. Sendok plastik

3. Pemeliharaan Biakan murni A. Xylinum

Biakan murni A. Xylinum ditumbuhkan pada suhu kamar selama 2-3 hari dalam media agar miring Hassid Barker Agar (HBA) dengan komposisi sukrosa 10%, (NH4)2SO4 0,6 g/L, K2HPO4 5,0 g/L, ekstak Khamir 2,5 g/L 2% asam asetat glasial, agar Difco 15 g/L.

Biakan yang telah ditumbuhkan siap untuk kerja dan sebagian disimpan untuk stok dalam bentuk kering beku.

4. Persiapan Substrat dari Limbah cair Produksi Tapioka

a. 25 L limbah cair tapioka disaring
b. Ditambahkan gula pasir 2,5% (25 g setiap liter limbah cair tapioka)
c. Diaduk hingga merata
d. Didihkan
e. Ditambahkan asam asetat glasial 25% (cuka makan) sebanyak 20 ml/Liter (2,0 % (V/V).
f. Disaring dengan saringan kelapa / ayakan
g. Filtrat digunakan sebagai substrat
h. Tambahkan ZA sebanyak 2 g untuk setiap 1 liter substrat
i. Diaduk sambil dididihkan selama 15 menit.

5. Penyiapan Starter

a. Substrat didihkan selama 15 menit
b. Dinginkan hingga suhu 40 C
c. 300 ml substrat masukan dalam botol streril ukuran botol 500 ml
d. Inokulasikan 2 ose Bakteri A. Xylinum
e. Substrat digojog menggunakan shaker dengan kecepatan 140 rpm. Atau manual diguncang setiap 2-4 jam.
f. Diinkubasikan pada suhu kamar selama 2 hari.

6. Fermentasi

a. Substrat didihkan selama 15 menit
b. Tuangkan substrat dalam nampan yang steril dengan kedalaman 1,5 cm
c. Tambahkan starter sebanyak 10% (V/V)
d. Diaduk hingga mesra / rata
e. Ditutup dengan kertas koran / kain kasa
f. Ditutup dengan menggunakan kain bersih untuk menghindari kontaminasi
g. Diinkubasi / diperam tanpa diguncang pada suhu kamar selama 7 – 8 hari

7. Pengolahanan Nata de Cassava

a. Nata de Cassava dipanen, dipotong-potong seperti kubus dengan sisi 1 – 1,5 cm.
b. Dicuci dengan air bersih
c. Direndam dalam air bersih selama 30 – 60 menit.
d. Dibilas 3 – 4 kali hingga bau hilang
e. Direbus selama 10 menit
f. Rebus selama 15 menit dengan air bergula (500 g gula pasir dalam 5 liter air ditambah vanili atau flavour agent lain)
g. Nata de Cassava didiinginkan

8. Pengemasan

Tujuan pengemasan adalah :
a. Mengawetkan produk sehingga tahan lama dan tidak mudah rusak
b. Memberikan sentuhan nilai estetika sehingga mumpunyai daya tarik
c. Meningkatkan nilai tambah secara ekonomi terhadap produk
d. Memudahkan penyimpanan dan distribusi produk

Tahapan Pengemasan

a. Masukan Nata de Cassava ketika suhu 40 C dalam kemasan plastik secara aseptik
b. Usahakan tidak ada udara tersisa dalam kemasan untuk menghindari tumbuhnya mikroba kontaminan
c. Kemasan ditutup menggunakan sealer
d. Produk dimasukan dalam air dingin hingga menjadi dingin
e. Segera ditiriskan
f. Simpan dalam penyimpanan berpendingin

Sumber : Agro Inovasi, Sinar Tani Edisi 18-24 Mei 2011 no 3406 Tahun XLI