Makalah Asma Bronkial

BAB I
PENDAHULUAN
A. Pengertian
Asma Brokiolus adalah penyakit yang umum, yang mempengaruhi sekitar 5% dari populasi. Pria dan wanita tampaknya sama-sama terpengaruh. Setiap tahun, di rumah sakit Amerika Serikat sekitar 470.000 dan 5000 kematian dikaitkan dengan asma. Asma banyak menyerang orang kulit hitam dan anak-anak dan tingkat kematian untuk asma secara konsisten tertinggi pada orang kulit hitam berusia 15-24 tahun (Wilson, 2002).
Asma adalah penyakit peradangan saluran nafas dan obstruksi aliran udara yang ditandai dengan adanya terjadinya tanda mengi, sesak dada, sesak napas (dyspnea) dan batuk. Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (Wilson, 2002).
B. Etiologi
Asma Bronkiale adalah penyakit paru kronis yang paling umum, yang mempengaruhi sebanyak 15-17% dari beberapa populasi. Tingkat prevalensi tertinggi dilaporkan di Australia dan Selandia Baru di Amerika Serikat, prevalensi adalah 3-5%. Asma lebih sering terjadi pada anak-anak dan terjadi lebih sering pada anak laki-laki daripada perempuan. Penyakit ini yang masih menjadi masalah kesehatan mayarakat di hampir semua negara di dunia, diderita oleh anak-anak sampai dewasa dengan derajat penyakit yang ringan sampai berat, bahkan dapat mematikan. Lebih dari seratus juta penduduk di seluruh dunia menderita asma dengan peningkatan prevalensi pada anak-anak (Damgraad, 2000).
Data yang berhubungan dengan kematian akibat asma tidak lengkap dan tetapi cenderung tingkat mortalitas meningkat pada baru-baru ini. meskipun ketersediaan yang lebih besar dari pengobatan farmakologis efektif. Beberapa mempengaruhi asma, termasuk efek samping obat-obatan dan meningkatnya eksposur polutan industri (Damgraad, 2000)..
Atopi, atau produksi antibodi IgE dalam menanggapi paparan alergen, adalah umum pada penderita asma dan memainkan peran dalam evolusi penyakit.  Asma telah konvensional dibagi menjadi asma ekstrinsik dan intrinsik tergantung pada ada atau tidaknya atopi. Ada beberapa perbedaan karakteristik antara kedua kelompok seperti pada asma intrinsik, usia kemudian di awal, kurangnya sensitisasi alergi jelas dengan menguji dan kecenderungan arah keparahan penyakit yang lebih besar. Namun, dua jenis saham fitur patologis dari saluran napas, hyperresponsiveness peradangan dan penyumbatan sehingga perbedaan tersebut belum terbukti bermanfaat secara klinis (Damgraad, 2000).
Kelainan mendasar pada asma meningkat reaktivitas saluran udara terhadap rangsangan.  Ada banyak agen provokatif dikenal untuk asma. Ini dapat dikategorikan sebagai (1) fisiologis atau mediator farmakologis dari respon saluran napas asthematic, (2) alergen yang dapat menyebabkan inflamasi saluran nafas dan reaktivitas pada individu peka dan (3) agen fisikokimia eksogen atau rangsangan yang menghasilkan respon asthmaties saja (misalnya, olahraga, adenosin), sementara yang lain menghasilkan khas diperbesar tanggapan dalam asthmaties yang dapat digunakan untuk membedakan mereka dari normals di bawah kondisi pengujian yang dikendalikan (misalnya, histamin, methacholine). Asthmaties biasanya memiliki tanggapan awal dan akhir terhadap rangsangan provokatif.  Dalam resposen asma awal, awal penyempitan saluran napas dalam 10-15 menit setelah pajanan dan peningkatan sebesar 60 menit. Hal ini terkadang bisa diikuti oleh tanggapan asthematic terlambat, yang muncul 4-8 jam setelah terjadinya stimulus awal. Meskipun mekanisme memproduksi dua tanggapan yang berbeda, mereka adalah bagian dari suatu radang saluran napas proces umum (Damgraad, 2000).
Genetik cenderung mempengaruhi terjadinya asma. Faktor terkuat predisposisi diidentifikasi untuk pengembangan asma adalah atopi. Paparan pasien sensitif terhadap inhalasi alergen meningkatkan peradangan saluran napas, hiperresponsivitas saluran napas, dan gejala. Pasien mungkin mengalami gejala-gejala segera (respon asma langsung) atau 4-6 jam setelah eksposur mereka (akhir respon asma). aeroallergens umum meliputi tungau debu rumah (sering ditemukan pada bantal, kasur, furnitur kain, karpet, dan tirai), kecoa, kucing, dan serbuk sari musiman. Mengurangi terpaparnya secara substansial mengurangi temuan patologi dan gejala klinis. precipitants nonspesifik asma termasuk olahraga. Infeksi saluran pernafasan, rhinitis, sinusitis, postnasal drip, aspirasi, gastro esophageal reflux, perubahan cuaca, dan stres. Paparan terhadap tembakau gejala asma lingkungan asap meningkat dan kebutuhan obat-obatan dan mengurangi fungsi paru-paru. Peningkatan tingkat partikel udara terhirup, ozon, SO, dan NO2 gejala asma endapan dan kunjungan darurat meningkatkan departemen dan rawat inap. Dipilih individu mungkin mengalami gejala asma setelah terpapar aspirin, dan non obat anti-inflamasi steroid, atau pewarna tartrazine. obat tertentu lainnya juga dapat menimbulkan gejala asma. Kerja asma dipicu oleh berbagai agen di tempat kerja dan dapat terjadi minggu tahun setelah paparan awal dan sensitisasi. Perempuan mungkin mengalami kucing asma kasar pada saat predicable selama siklus menstruasi. Latihan bronkokonstriksi diinduksi biasanya dimulai dalam waktu 3 menit setelah akhir pocks latihan dalam 10-15 menit dan kemudian menyelesaikan dengan 60 menit. Fenomena ini dianggap sebagai konsekuensi dari upaya napas untuk menghangatkan dan melembabkan peningkatan volume udara kadaluarsa selama latihan “asma jantung” adalah bronkospasme endapan oleh gagal jantung kongestif kompensasi. Temuan Klinis Gejala dan tanda-tanda sangat bervariasi dari pasien ke pasien serta individu dari waktu ke waktu. Umum temuan klinis pada pasien asma yang stabil tercantum di bawah ini; temuan terlihat selama eksaserbasi asma (Damgraad, 2000).
C. Patogenesis
Serangan asma terjadi karena adanya gangguan pada aliran udara akibat penyempitan pada saluran napas atau bronkiolus. Penyempitan tersebut sebagai akibat adanya arteriosklerosis atau penebalan dinding bronkiolus, disertai dengan peningkatan ekskresi mukus atau lumen kental yang mengisi bronkiolus, akibatnya udara yang masuk akan tertahan di paru-paru sehingga pada saat ekspirasi udara dari paru-paru sulit dikeluarkan, sehingga otot polos akan berkontraksi dan terjadi peningkatan tekanan saat bernapas. Karena tekanan pada saluran napas tinggi khususnya pada saat ekspirasi, maka dinding bronkiolus tertarik kedalam (mengerut) sehingga diameter bronkiolus semakin kecil atau sempit, dapat dilihat seperti pada Gambar 1. (Cunningham, 2003).
Berdasarkan Gambar 2 diatas asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody IgE abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat. Pada asma , diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest (Damgraad, 2000).
BAB II
PERMASALAHAN
A. Angka Kesakitan
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah penderita asma di dunia diperkirakan mencapai 300 juta orang dan diperkirakan meningkat hingga 400 juta pada tahun 2025. Jumlah ini dapat saja lebih besar mengingat asma merupakan penyakit yang underdiagnosed. Menurut Global Intiatif For Asthma (GINA). Dan menurut laroran para ahli internasional pada hari peringatan asma sedunia tanggal 04 Mei 2004 yang lalu diperkirakan penderita asma di seluru dunia mencapai 400 juta orang, dengan pertambahan 180.000 setiap tahun (GINA, 2006).
B. Angka Kematian
Hasil penelitian Study on Asthma and Alergies in Childhood International pada tahun 2005 menunjukkan, di Indonesia prevalensi gejala penyakit asma melonjak dari sebesar 4,2 persen menjadi 5,4 persen. Selama 20 tahun terakhir, penyakit ini cenderung meningkat dengan kasus kematian yang diprediksi akan meningkat sebesar 20 persen hingga 10 tahun mendatang. WHO memperkirakan di tahun 2005 terdapat 255 ribu penderita meninggal dunia karena asma (GINA, 2006.).
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. Keluhan dan Gejala Penyakit
Gejala dan tanda-tanda merupakan variabilitas indikasi tingkat keparahan penyakit asma dari yang tingkat asma ringan hingga berat yaitu asma fatal. Asma ditandai dengan kesulitan episodik bernafas, sesak dada, dan batuk. Berikut ini gejala dari penyakit asma menurut Clifford, et al (1987) yaitu sebagai berikut :
1. Batuk-batuk akibat dari penyempitan saluran napas, hipersekresi lendir, dan peningkatan reaksi saraf aferen yang dilihat karena adanya peradangan saluran napas. Batuk juga dapat terjadi sebagai akibat infeksi saluran nafas oleh virus. Pada pasien asma, batuk akan mendorong lendir atau lumen kental yang menyumabat bronkiolus. Akibat dari tekanan yang tinggi dari gejala batuk tersebut maka dapat menimbulkan edema pada didnding bronkiolus. Batuk pada asma dapat berupa batuk kronis kering atau batuk produktif yang terjadi secara terus menerus. Frekuensi batuk biasanya meningkat pada malam hari. Secara fisik terjadi pembengkakan mukosa hidung dikarenakan peningkatan sekresi hidung, dan hidung polyp sering terlihat pada pasien dengan asma alergi, eksim, gangguan kulit atropic, bahu membungkuk. 
2. Wheezing (nafas yang berbunyi) dari kontraksi otot halus bersamaan dengan hipersekresi lendir dan retensi saluran nafas. Nafas yang mengi (mencuit-cuit) sebagai akibat dari penyempitan bronkiolus baik pada salurannapas kecil, sedang maupun yang besar karena adanya lendir atau lumen kental pada bronkiolus sehingga pada saat ekspirasi udara sulit dikeluarkan dan menimbulkan nada mengi. Gejala mengi menandakan ada penyempitan di saluran nafas besar.
3. Dyspnea atau sesak dada terjadi karena peningkatan kerja otot pada dinding dada dalam mengatasi resistensi jalan napas. Penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi tetapi kesulitan dalam melakukan ekspirasi sebab secara fisiologis saluran nafas menyempit pada fase tersebut. Hal ini mengakibatkan udara distal tempat terjadinya obtruksi terjebak tidak bisa diekspirasi
4. Takipnea, takikardia-takipnea dan takikardia umumnya terjadi pada penyakit asma akut.
5. Pulsus Paradoxus adalah penurunan lebih dari 10 mm / Hg tekanan arteri sistolik selama inspirasi dan terjadi pada asma akut.
6. Hipoksemia yaitu penurunan tekanan parsial oksigen dalam darah.
Klasifikasi berdasarkan penyebabnya menurut Cunningham (2003), asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe,yaitu :
1. Ekstrinsik (alergik)
Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi.Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik.
2. Intrinsik (non alergik)
Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan.
3. Asma gabungan (campuran alergik dan non-alergik)
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik.
Keluhan dan gejala penyakit asma berdasarkan beratnya penyakit menurut Wilson (2002) dibagi 4 (empat) yaitu:
1. Asma Intermiten (asma jarang)
Gejala kurang dari seminggu
Serangan singkat
Gejala pada malam hari < 2 kali dalam sebulan FEV 1 atau PEV > 80%
PEF atau FEV 1 variabilitas 20% – 30%
2. Asma Mild Persistent (asma persisten ringan)
Gejala lebih dari sekali seminggu
Serangan mengganggu aktivitas dan tidur
Gejala pada malam hari > 2 kali sebulan
FEV 1 atau PEV > 80%
PEF atau FEV 1 variabilitas < 20% – 30% 3. Asma Moderate Persistent (asma persisten sedang) Gejala setiap hari Serangan mengganggu aktivitas dan tidur Gejala pada malam hari > 1 dalam seminggu
FEV 1 tau PEV 60% – 80%
PEF atau FEV 1 variabilitas > 30%
4. Asma Severe Persistent (asma persisten berat)
Gejala setiap hari
Serangan terus menerus
Gejala pada malam hari setiap hari
Terjadi pembatasan aktivitas fisik
FEV 1 atau PEF = 60%
PEF atau FEV variabilitas > 30%
Sedangkan, menurut Global Initiative for Asthma (GINA) 2006, penggolongan asma bedasarkan derajat atau tingkat keparahan asma adalah sebagai berikut :
Selain berdasarkan gejala klinis di atas, asma dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat serangan asma yaitu:
1 Serangan asma ringan dengan aktivitas masih dapat berjalan, bicara satu kalimat, bisa berbaring, tidak ada sianosis dan mengi kadang hanya pada akhir ekspirasi,
2 Serangan asma sedang dengan pengurangan aktivitas, bicara memenggal kalimat, lebih suka duduk, tidak ada sianosis, mengi nyaring sepanjang ekspirasi dan kadang -kadang terdengar pada saat inspirasi,
3 Serangan asma berat dengan aktivitas hanya istirahat dengan posisi duduk bertopang lengan, bicara kata demi kata, mulai ada sianosis dan mengi sangat nyaring terdengar tanpa stetoskop,
4 Serangan asma dengan ancaman henti nafas, tampak kebingunan, sudah tidak terdengar mengi dan timbul bradikardi.
Perlu dibedakan derajat klinis asma harian dan derajat serangan asma. Seorang penderita asma persisten (asma berat) dapat mengalami serangan asma ringan. Sedangkan asma ringan dapat mengalami serangan asma berat, bahkan serangan asma berat yang mengancam terjadi henti nafas yang dapat menyebabkan kematian.
A. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Menurut Alotaibi, 2000, penegakan diagnosis asma didasarkan pada anamnesis, tanda-tanda klinik dan pemeriksaan tambahan yaitu sebagai berikut :
1. Pemeriksaan anamnesis keluhan episodik batuk kronik berulang, mengi, sesak dada, kesulitan bernafas,
2. Faktor pencetus (inciter) dapat berupa iritan (debu), pendinginan saluran nafas, alergen dan emosi, sedangkan perangsang (inducer) berupa kimia, infeksi dan alergen.
3. Pemeriksaan fisik sesak nafas (dyspnea), mengi, nafas cuping hidung pada saat inspirasi (anak), bicara terputus putus, agitasi, hiperinflasi toraks, lebih suka posisi duduk. Tanda-tanda lain sianosis, ngantuk, susah bicara, takikardia dan hiperinflasi torak,
4. Pemeriksaan uji fungsi paru sebelum dan sesudah pemberian metakolin atau bronkodilator sebelum dan sesudah olahraga dapat membantu menegakkan diagnosis asma.
Asma sulit didiagnosis pada anak di bawah umur 3 tahun. Untuk anak yang sudah besar (>6 tahun) pemeriksaan fungsi paru sebaiknya dilakukan. Uji fungsi paru yang sederhana dengan peak flow meter atau yang lebih lengkap dengan spirometer, uji yang lain dapat melalui provokasi bronkus dengan histamin, metakolin, latihan (exercise), udara kering dan dingin, atau dengan NaCl hipertonis. Penggunaan peak flow meter merupakan hal penting dan perlu diupayakan, karena selain mendukung diagnosis, juga mengetahui keberhasilan tata laksana asma, selain itu dapat juga menggunakan lembar catatan harian sebagai alternative.
Menurut Global Initiative for Asthma (GINA) 2006, pemeriksaan penunjang penyakit asma dapat dilakukan dengan cara :
1. Pemeriksaan radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut:
a. Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah.
b. Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah.
c. Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru
d. Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
e. Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumoperikardium, maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.
2. Pemeriksaan tes kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma.
3. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian, dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu :
a. Perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise rotation.
b. Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB ( Right bundle branch block).
c. Tanda-tanda hopoksemia, yakni terdapatnya sinus tachycardia, SVES, dan VES atau terjadinya depresi segmen ST negative.
4. Scanning Paru
Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru.
5. Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible, cara yang paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pamberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. Benyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi.
B. Faktor-Faktor Resiko
Secara umum faktor risiko asma dibagi kedalam dua kelompok besar, faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya atau berkembangnya asma dan faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya eksaserbasi atau serangan asma yang disebut trigger faktor atau faktor pencetus). Adapun faktor risiko pencetus asma bronchial menurut Global Initiative for Asthma (GINA) 2006, yaitu:
1. Asap Rokok
Pembakaran tembakau sebagai sumber zat iritan dalam rumah yang menghasilkan campuran gas yang komplek dan partikel-partikel berbahaya. Lebih dari 4500 jenis kontaminan telah dideteksi dalam tembakau, diantaranya hidrokarbon polisiklik, karbon monoksida, karbon dioksida, nitrit oksida, nikotin, dan akrolein.
2. Perokok pasif
Paparan asap tembakau pasif berakibat lebih berbahaya gejala penyakit saluran nafas bawah (batuk, lendir dan mengi) dan naiknya risiko asma dan serangan asma. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa risiko munculnya asma meningkat pada anak yang terpapar sebagai perokok pasif.
3. Perokok aktif
Merokok dapat menaikkan risiko berkembangnya asma karena pekerjaan pada pekerja yang terpapar dengan beberapa sensitisasi di tempat bekerja. Namun hanya sedikit bukti-bukti bahwa merokok aktif merupakan faktor risiko berkembangnya asma secara umum.
4. Tungau Debu Rumah
Asma bronkiale disebabkan oleh masuknya suatu alergen misalnya tungau debu rumah yang masuk ke dalam saluran nafas seseorang sehingga merangsang terjadinya reaksi hipersentitivitas Tipe I. Tungau debu rumah ukurannya 0,1 – 0,3 µm dan lebar 0,2 µm, terdapat di tempat-tempat atau benda-benda yang banyak mengandung debu. Misalnya debu yang berasal dari karpet dan jok kursi, terutama yang berbulu tebal dan lama tidak dibersihkan, juga dari tumpukan koran-koran, buku-buku, pakaian lama.
5. Jenis Kelamin
Jumlah kejadian asma pada anak laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan perempuan. Perbedaan jenis kelamin pada kekerapan asma bervariasi, tergantung usia dan mungkin disebabkan oleh perbedaan karakter biologi. Penyakit asma 2 kali lebih sering terjadi pada anak laki-laki usia 2-5 tahun dibandingkan perempuan sedangkan pada usia 14 tahun risiko asma anak laki- laki 4 kali lebih sering dan kunjungan ke rumah sakit 3 kali lebih sering dibanding anak perempuan pada usia tersebut, tetapi pada usia 20 tahun kekerapan asma pada laki-laki merupakan kebalikan dari insiden ini.
Peningkatan risiko pada anak laki-laki mungkin disebabkan semakin sempitnya saluran pernapasan, peningkatan pita suara, dan mungkin terjadi peningkatan IgE pada laki-laki yang cenderung membatasi respon bernapas. Predisposisi asma pada laki-laki lebih tinggi dari pada anak perempuan, akan tatapi prevalensi asma pada anak perempuan lebih tinggi dari pada laki-laki. Aspirin lebih sering menyebabkan asma pada perempuan.
6. Binatang Peliharaan
Binatang peliharaan yang berbulu seperti anjing, kucing, hamster, burung dapat menjadi sumber alergen inhalan. Sumber penyebab asma adalah alergen protein yang ditemukan pada bulu binatang di bagian muka dan ekskresi. Alergen tersebut memiliki ukuran yang sangat kecil (sekitar 3-4 mikron) dan dapat terbang di udara sehingga menyebabkan serangan asma, terutama dari burung dan hewan menyusui.
7. Jenis Makanan
Beberapa makanan penyebab alergi makanan seperti susu sapi, ikan laut, kacang, berbagai buah-buahan seperti tomat, strawberry, mangga, durian berperan menjadi penyebab asma. Makanan produk industri dengan pewarna buatan (misal: tartazine), pengawet (metabisulfit), vetsin (monosodum glutamat-MSG) juga bisa memicu asma. Penderita asma berisiko mengalami reaksi anafilaksis akibat alergi makanan fatal yang dapat mengancam jiwa. Makanan yang terutama sering mengakibatkan reaksi yang fatal tersebut adalah kacang, ikan laut dan telur. Alergi makanan seringkali tidak terdiagnosis sebagai salah satu pencetus asma meskipun penelitian membuktikan alergi makanan sebagai pencetus bronkokontriksi pada 2% – 5% anak dengan asma.
Meskipun hubungan antara sensitivitas terhadap makanan tertentu dan perkembangan asma masih diperdebatkan, tetapi bayi yang sensitif terhadap makanan tertentu akan mudah menderita asma kemudian, anak-anak yang menderita enteropathy atau colitis karena alergi makanan tertentu akan cenderung menderita asma. Alergi makanan lebih kuat hubungannya dengan penyakit alergi secara umum dibanding asma.
8. Perabot Rumah Tangga
Bahan polutan indoor dalam ruangan meliputi bahan pencemar biologis (virus, bakteri, jamur), formadehyde, volatile organic coumpounds (VOC), combustion products (CO, NO2, SO2) yang biasanya berasal dari asap rokok dan asap dapur. Sumber polutan VOC berasal dari semprotan serangga, cat, pembersih, kosmetik, Hairspray, deodorant, pewangi ruangan, segala sesuatu yang disemprotkan dengan aerosol sebagai propelan dan pengencer (solvent) seperti thinner. Sumber formaldehid dalam ruangan adalah bahan bangunan, insulasi, furnitur, karpet. Paparan polutan formaldehid dapat mengakibatkan terjadinya iritasi pada mata dan saluran pernapasan bagian atas. Partikel debu, khususnya respilable dust disamping menyebabkan ketidaknyamanan juga dapat menyebabkan reaksi peradangan paru.
9. Perubahan Cuaca
Kondisi cuaca yang berlawanan seperti temperatur dingin, tingginya kelembaban dapat menyebabkan asma lebih parah, epidemik yang dapat membuat asma menjadi lebih parah berhubungan dengan badai dan meningkatnya konsentrasi partikel alergenik. Dimana partikel tersebut dapat menyapu pollen sehingga terbawa oleh air dan udara. Perubahan tekanan atmosfer dan suhu memperburuk asma sesak nafas dan pengeluaran lendir yang berlebihan. Ini umum terjadi ketika kelembaban tinggi, hujan, badai selama musim dingin. Udara yang kering dan dingin menyebabkan sesak di saluran pernafasan.
10. Riwayat Penyakit Keluarga (Genetik)
Risiko orang tua dengan asma mempunyai anak dengan asma adalah tiga kali lipat lebih tinggi jika riwayat keluarga dengan asma disertai dengan salah satu atopi. Predisposisi keluarga untuk mendapatkan penyakit asma yaitu kalau anak dengan satu orangtua yang terkena mempunyai risiko menderita asma 25%, risiko bertambah menjadi sekitar 50% jika kedua orang tua asmatik. Asma tidak selalu ada pada kembar monozigot, labilitas bronkokontriksi pada olahraga ada pada kembar identik, tetapi tidak pada kembar dizigot. Faktor ibu ternyata lebih kuat menurunkan asma dibanding dengan bapak. Orang tua asma kemungkinan 8-16 kali menurunkan asma dibandingkan dengan orang tua yang tidak asma, terlebih lagi bila anak alergi terhadap tungau debu rumah.
11. Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
12. Olah raga atau aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.
C. Cara Pencegahan
Menurut penelitian Ruth A. Etzel (2010) dan WHO (2002) disebutkan bahwa pencegahan terhadap penyakit asma diantaranya pendidikan kesehatan atau konseling dari pelayanan kesehatan, menghindari dari lingkungan yang memngkinkan terjadinya eksposure atau terpapar faktor resiko asma. Berikut ini pencegahan terhadap penyakit asma berdasarkan faktor resiko :
1. Genetik
Melakukan konsultasi kesehatan apabila terdapat anggota keluarga yang mempunyai riwayat penyakit asma, sebab sebagian besar penyakit asma merupakan penyakit yang bersifat genetic.
2. Mengurangi dan menghindari merokok, terutama apabila memiliki anggota keluarga bayi atau balita, sebab asap rokok dapat meningkatkan sensitivitas IgE sehingga meningkatkan sensitivitas terhadap allergen. Selain itu, menghidari anak dari polusi udara seperti asap kendaraan dan pabrik.
3. Lingkungan rumah baik indoor maupun outdoor selalu bersih dari debu atau bahan allergen lainnya.
4. Melakukan diagnosis dini, terutama pada individu yang memiliki faktor resiko asma.
5. Menghindarkan diri dari stress dan mengurangi aktivitas yang berat.
6. Mengurangi olahraga yang berlebihan
D. Cara Pengobatan
Banyak obat asma dapat diberikan secara langsung atau dengan inhalasi. Obat Asma dapat dibagi menjadi kontrol jangka panjang dan obat cepat-lega. Obat kontrol jangka panjang digunakan setiap hari untuk mengontrol asma persisten yaitu menghaluskan peradangan saluran udara dan merelaksasikan otot polos. Prinsip umum pengobatan asma bronchial yaitu :
a. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segara.
b. Mengenal dan menghindari fakto-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma
c. Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai penyakit asma, baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan penngobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnnya (Wilson, 2002)
Adapun pengobatan terhadap penyakit asma terbagi menjadi 2 menurut Global Initiative for Asthma (GINA) 2006, yaitu :
1. Pengobatan non farmakologik:
Memberikan penyuluhan
Menghindari faktor pencetus (resiko)
Pemberian cairan
Fisiotherapy
Memberi O2 bila perlu.
2. Pengobatan farmakologik :
a. Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran nafas. Terbagi dalam 2 golongan :
Simpatomimetik/ Andrenergik (Adrenalin dan Efedrin)
Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet, sirup, suntikan dan semprotan. Yang berupa semprotan: MDI (Metered dose inhaler). Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent, Berotec, brivasma serts Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang sangat halus ) untuk selanjutnya dihirup.
Santin (Teofilin)
Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi cara kerjanya berbeda. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat seperti : Aminofilin (Amicam supp), Aminofilin (Euphilin Retard) dan Teofilin (Amilex). Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai pada serangan asma akut, dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah. Karena sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum sesudah makan. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini. Teofilin ada juga dalam bentuk supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus. Supositoria ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya muntah atau lambungnya kering).
b. Kromalin
Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. Manfaatnya adalah untuk penderita asma alergi terutama anak anak. Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain, dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian satu bulan.
c. Ketolifen
Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Biasanya diberikan dengan dosis dua kali 1mg / hari. Keuntungnan obat ini adalah dapat diberika secara oral.
E. Rehabilitasi
Rehabilitasi asma bronchial dapat dilakukan dengan cara :
1. Yoga
Senam yoga bertujuan untuk memperlancar aliran udara pada saluran pernapasan. Selain itu, bertujuan untuk mengurangi bahkan menghilangkan stress pada pasien. Senam yoga juga dapat disebut sebagai terapi psikologi (Jain, 1993).
2. Terapi relaksasi dengan senam asma
Terapi relaksasi dengan senam asma berujuan dari terapi relaksasi adalah untuk mengurangi ketegangan otot pernapasan tambahan sehingga dapat mengurangi pemakaian energi saat bernapas, penderita dilatih untuk bisa melakukan kontrol pernapasan. Terapi relaksasi bisa dilakukan dengan posisi tidur miring atau posisi duduk dengan kepala dan dada atas bertumpu pada 2-3 bantal di meja. Kedua posisi ini selain membantu waktu terjadi serangan, juga membantu ketegangan otot diafragma. Manfaat senam pada penderita asma, bila dilakukan secara teratur jangka waktu 2 bulan akan mendapatkan beberapa manfaat yaitu pengurangan frekuensi kekambuhan pengurangan intensitas kekambuhan, gejala asma menjadi ringan sehingga diperoleh peningkatan VO2 maks (Huntley, 2002.).
3. Terapi Spa
Menurut penelitian Mitsunobu di Jepang, terapi spa bermanfaat langsung bagi penderita asma yaitu dengan cara memberikan kenyamanan pada penderita asma seperti latihan berendam di dalam air hangat selama 30 menit, memsukkan uap dari larutan garam yodium secara inhalasi dan terapi fingo yaitu terapi dengan lumpur yang berasal dari Ningyo, lumpur tersebut dipanaskan terlebih dahulu hingga suhunya mencapai 70-800C. Lumpur tersebut didinginkan sampai suhunya 40-430C, kemudian dilakuakan spa dan kompres dengan lumpur hangat pada pasien tersebut selama 30 menit. Untuk penderita asma dianjurkan untuk melakukan terapi fingo lima kali per minggu. Terapi spa memberikan manfaat langsung pada kelancaran sirkulasi udara pernapasan (Mitsunobu, 2004).
F. Prognosis
Prognosis penyakit asma bronkiale adalah dapat menimbulkan komplikasi, asma bronkiale akut bahkan dapat menimbulkan kematian. Berikut ini berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah :
1. Status asmatikus
Suatu serangan asma yang berat, berlangsung dalam beberapa jam sampai beberapa hari, yang tidak memberikan perbaikan pada pengobatan yang lazim. Status asmatikus merupakan kedaruratan yang dapat berakibat kematian, oleh karena itu :
Apabila terjadi serangan, harus ditanggulangi secara tepat dan diutamakan terhadap usaha menanggulangi sumbatan saluran pernapasan.
Keadaan tersebut harus dicegah dengan memperhatikan faktor-faktor yang merangsang timbulnya serangan (debu, serbuk, makanan tertentu, infeksi saluran napas, stress emosi, obat-obatan tertentu seperti aspirin, dan lain-lain).
2. Atelektasis
Atelektasis (Atelectasis) adalah pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara (bronkus maupun bronkiolus) atau akibat pernafasan yang sangat dangkal.
3. Hipoksemia (atau Hypoxaemia)
Secara umum didefinisikan sebagai penurunan tekanan parsial oksigen dalam darah, kadang-kadang khusus kurang dari yang, tanpa spesifikasi lebih lanjut, akan mencakup baik konsentrasi oksigen terlarut dan oksigen yang terikat pada hemoglobin.
4. Pneumothoraks adalah adanya udara di dalam rongga pleural antara pleura parietal dan viseral. 
5. Emfisema adalah penyakit yang gejala utamanya adalah penyempitan (obstruksi) saluran napas, karena kantung udara di paru menggelembung secara berlebihan dan mengalami kerusakan yang luas (Anonim, 2010).
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Asma adalah penyakit peradangan saluran nafas dan obstruksi aliran udara yang ditandai dengan adanya terjadinya tanda mengi, sesak dada, sesak napas (dyspnea) dan batuk. Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernafas.
1. Gejala
Gejala dan tanda-tanda merupakan variabilitas indikasi tingkat keparahan penyakit asma dari yang tingkat asma ringan hingga berat yaitu asma fatal. Asma ditandai dengan kesulitan episodik bernafas, sesak dada, dan batuk. Berikut ini gejala dari penyakit asma yaitu sebagai berikut :
a. Batuk-batuk
b. Wheezing (nafas yang berbunyi)
c. Dyspnea atau sesak dada
d. Takipnea, takikardia-takipnea dan takikardi
e. Pulsus Paradoxus
f. Hipoksemia
2. Berdasrkan jenis penyakit asma itu sendiri. berdasarkan beratnya penyakit dibagi 4 (empat) yaitu:
a. Asma Intermiten (asma jarang)
b. Asma mild persistent (asma persisten ringan)
c. Asma moderate persistent (asma persisten sedang)
d. Asma severe persistent (asma persisten berat).
3. Pencegahan
a. Genetik (riwayat keluarga)
b. Konsultasi Kesehatan
c. Menghindari/mengurangi rokok
d. Menjauhkan Anak dari asp Kendaraan dan Asap rokok
e. Lingkungan Rumah Bersih dari Debu
f. Melakukan Pemeriksaan Diagnosis
g. Mengurangi Stres
h. Mengurangi Olahraga Yang Berat
4. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik antara lain :
a. Pemeriksaan anamnesis
b. Faktor pencetus (inciter)
c. Pemeriksaan fisik sesak nafas (dyspnea
d. Pemeriksaan uji fungsi paru
5. Faktor-faktor resiko penyakit asma bronchial antara lain :
a. Asap Rokok
b. Perokok pasif
c. Perokok aktif
d. Tungau Debu Rumah
e. Jenis Kelamin
f. Binatang Peliharaan
g. Jenis Makanan
h. Perabot Rumah Tangga
i. Perubahan Cuaca
j. Riwayat Penyakit Keluarga
6. Pengobatan
a. Pengobatan non farmakologik
b. Pengobatan farmakologik
7. Komplikasi
Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah :
a. Status asmatikus
b. Atelektasis
c. Hipoksemia
d. Pneumothoraks
e. Emfisema
8. Rehabilitasi
a. Yoga
b. Terapi Spa (Terapi fingo)
c. Terapi relaxasi dengan senam Asma
DAFTAR PUSTAKA
Alotaibi, Sultan 2000. Diagnosis of Occupational Asthma: Review Vol. 22, No. 1, March 2000. www.bahrainmedicalbulletin.com/march_2000/Asthma.pdf. Diakses tanggal 20 november 2010.
Anonim. 2010. Asthma Bronchiolus. Wikipedia. www.wikipedia.org. Diakses pada tanggal 30 November 2010
Clifford, dkk. 1987. Symptoms, atopy, and bronchial response to methacholine in parents with asthma and their children. www.ncbi.nlm.nih.gov/ pmc/articles/…/pdf/archdisch00702-0072.pdf. Diakses tanggal 20 november 2010.
Cunningham, Gary. 2003. Williams Obstetrics 21 Edition. McGraw-Hill Companies : USA.

Makalah Diabetes Melitus ( Epidemiologi Penyakit Tidak Menular )

BAB I
PENDAHULUAN
Diabetes mellitus atau sering orang menyebutnya dengan diabetes menurut wikipedia merupakan sekelompok penyakit metabolik yang menyerang seseorang dengan gula darah tinggi dikarenakan tubuh tidak dapat memproduksi cukup insulin. Tingginya gula darah pada seseorang akan menjadikan orang tersebut mengalami gejala polyuria (peningkatan jumlah kencing) dan polyphagia (peningkatan rasa lapar).
Secara garis besar terdapat tiga tipe utama diabetes:
Diabetes tipe 1: dikarenakan tubuh gagal untuk memproduksi insulin, dan sesegera mungkin orang tersebut membutuhkan injeksi insulin. Selain diabetes tipe 1, injeksi insulin juga bisa diberikan kepada orang yang menderita insulin dependent diabetes mellitus (IDDM) atau diabetes mellitus yang tergantung insulin dan juvinile diabetes.
Diabetes tipe 2: dikarenakan insulin resisten (perlawanan insulin), yaitu sebuah kondisi dimana sel tubuh gagal untuk menggunakan insulin yang telah di produksi secara baik dan kadang-kadang kondisi ini juga diperparah dengan adanya kekurangan insulin secara keseluruhan.
Gestritional diabetes: adalah kondisi dimana jika seseorang hamil yang sebelumnya dia tidak pernah menderita diabetes, terjadi peningktan gula darah yang tinggi selama kehamilan berlangsung. Proses ini kemungkinan merupakan proses yang terjadi lebih dulu sebelum diabetes ini berkembang menjadi diabetes tipe 2.
Bentuk lain dari penyakit diabetes antara lain adalah diabetes kongenital, yang disebabkan oleh kecacatan genetik penskresi insulin, diabetes sisti fibrosis berhubungan, steroid diabetes yang ditandai dengan tingginya dosis glukokortikoid, dan beberapa bentuk lain dari diabetes menogenik.
Semua jenis diabetes telah bisa dlakukan treatmen semenjak ditemukannya insulin pada tahun 1921, dan diabetes tipe 2 mungkin di kontrol dengan obat-obatan. Diantara diabetes tipe 1 dan 2 kesemuanya merupakan kondisi kronis yang pada umumnya tidak dapat disembuhkan. Transplantasi pankreas telah berhasil dicoba meskipun dengan tingkat keberhasilan yang terbatas untuk diabetes tipe 1; mengurangi dan menghindari konsumsi gula telah berhasil mengatasi obesitas dan diabetes tipe 2. Diabetes gastrointestinal umumnya baru bisa dilakukan pengobatan setelah mencul tanda dan gejala. Diabetes yang tidak di tangani dengan tepat dapat timbul banyak komplikasi baik yang bersifat akut maupun yang bersifat kronis. Komplikasi yang bersifat akut diantaranya hipoglikemia, diabetic ketoacidosis, atau nonketonic hyperosmolar coma. Kompliasi jangka panjang (kronis) lebih berisfat serius dibanding komplikasi yang bersifat akut. Adapun komplikasi jangka panjang tersebut diantaranya penyakit kardiovaskuler, gagal jantung kronis, dan kerusakan retina. Treatmen secara adekuat merupakan hal yang sangat penting dalam prinsip pengobatan diabetes, seperti pengontrolan kadar gula darah dan pengontrolan gaya hidup seperti penghentian merokok dan menjaga berat badan tubuh yang ideal.
Seperti pada tahu 2000, sekitar 171 juta penduduk diselurh dunia telah menderita diabetes. Angka tersebut setara dengan 2,8% populasi diasluruh dunia. Diabetes tipe 2 merupakan yang paling banyak terjadi, seperti di amarika serikat dimana penduduk yang menderita diabetes disana 90-95%nya meupakan penderita diabetes tipe 2, (http://www.wikipedia.org).
BAB II
PERMASALAHAN
Pada tahun 2000, berdasar laporan WHO dalam jurnal “Global Prevalence of Diabetes Estimates for the year 2000 and Projections for 2030”, sekitar 171 juta penduduk diseluruh dunia telah menderita diabetes. Angka tersebut setara dengan 2,8% dari total penduduk di seluruh dunia. Insidensi kejadian diabetes memang mengalami peningkatan dengan cepat, dan diperkirakan pada tahun 2030, jumlah penderita diabetes akan menigkat tajam menjadi 2 kali lipat. Diabetes mellitus terjadi di seluruh dunia, akan tetapi umumnya ditemukan di negara-negara berkembang, khususnya untuk kasus diabetes tipe 2. Peningkatan prevalensi kesakitan terbesar diperkirakan akan terjadi di kawasan Asia dan Afrika. Peningkatan kasus diabetes di negara-negara berkembang sebagian besar merupakan dampak dari adanya urbanisasi dan perubahan gaya hidup.
Berdasarkan studi yang telah dilakukan oleh WHO menggunakan desain studi kohort di seluruh dunia selama kurang lebih 11 tahun diperoleh data bahwa angka kematian akibat diabetes pada tahun 2000 diperkirakan sekitar 2,9 juta kematian dimana 1,4 juta adalah laki-laki dan 1,5 juta perempuan. Angka ini setara dengan 5,2% dari seluruh kematian dengan berbagai sebab di seluruh dunia pada tahun 2000. Jika dipisahkan berdasarkan tingkat kemajuan sebuah negara, maka didapatkan angka bahwa angka kematian akibat diabetes pada tahun 2000 di negara maju sebesar 1 juta orang dan di negara berkembang sebesar 1,9 juta orang. Angka kematian akibat diabetes terandah (2,4%) terdapat pada negara-negara miskin di afrika, kamboja, laos, myanmar dan vietnam. Sementara itu angka kematian akibat diabetes tertinggi adalah 9% di negara-negara timur tengah semenanjung arab dan 8,5% di negara-negara kawasan amerika. Negara-negara dengan angka prevalensi kematian tinggi akibat diabetes pada kelompok dengan usia muda seperti di kawasan Asia Tenggara, semenanjung arab, kawasan timur tengah, dan kawasan timur pasifik memiliki kecanderungan umur tertinggi untuk kematian akibat diabetes adalah berkisar antara 50-54 tahun. Akan tetapi secara umum di seluruh dunia, angka kematian akibat diabetes tertinggi terjadi pada usia sekitar 55-59 tahun. Sementara itu untuk angka kesakitan diabetes, diperoleh data bahwa pada negara berkembang, kebanyakan orang yang menderita diabetes adalah usia 45 sampai 64 tahun. Keadaan yang sangat berkebalikan terlihat di negera-negara maju dimana umumnya orang yang menderita diabetes di negar maju adalah orang yang berumur 64 tahun keatas.
Secara keseluruhan, 7,5 juta penduduk yang menderita diabetes diperkirakan telah meninggal pada tahun 2000. Angka tersebut terdiri dari 4,6 juta penduduk yang menderita diabetes namun diasumsikan meninggal karena penyebab lain (non-diabetes), ditambah dengan 2,9 juta penduduk yang menderita diabetes dan meninggal akibat diabetes yang dideritanya. Pada seseorang dengan umur kurang dari 35 tahun yang menderita diabetes, 75% diantaranya meninggal akibat diabetes yang dideritanya; pada penduduk dengan usia 35-64 tahun yang menderita diabetes, 59% diantaranya meninggal akibat diabetes yang dideritanya; dan pada seseorang dengan usia lebih dari 64 tahun yang menderita diabetes, 29% diantaranya meninggal akibat diabetes yang dideritanya. Berikut data presentase kematian akibat diabetes dan presentase total kematian akibat sebab umum yang dikelompokkan menurut umur:

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A.Keluhan dan Gejala Penyakit (www.wikipedia.org)
Keluhan klasik dari seseorang yang menderita diabetes adalah mengalami polyuria (peningkatan frekuesi urinasi/produksi urin), polydipsia (peningkatan rasa haus) dan polyphagia (peningkatan rasa lapar). Gejala yang timbul mungkin akan berkembang dengan cepat (dalam hitungan minggu atau bulan) pada diabetes tipe 1, akan tetapi pada diabetes tipe 2 pada umumnya perkembangan tersebut berjalan lebih lambat dan mungkin lebih halus atau tidak terlihat.
Poliuri (banyak berkemih) merupakan konsekuensi dari dieresis osmotik sekunder untuk hyperglyecemia berkelanjutan, hal ini mengakibatkan hilangnya glukosa serta air bebas dan elektrolit dalam urin. Haus (banyak minum) adalah konsekuensi dari kondisi hiperosmolar. Selain itu, penglihatan kabur juga merupakan gejala yang sering berkembang akibat lensa dan retina terkena cairan hiperosmolar, (Lawrence, 2002).
Kadar glukosa dalam darah yang tinggi akan mengakibatkan absorpsi glukosa, yang mana absopsi glukosa tersebut akan menjadikan perubahan pada bentuk lensa mata, dan pada akhirnya terjadi perubahan penglihatan. Hal ini dapat diatasi dengan cara mengontrol asupan glukosa, dimana cara tersebut akan mendorong lensa untuk kembali ke bentuk asalnya. Penglihatan yang kabur biasanya merupakan hal yang dikeluhkan pasien yang terdiagnosis menderita diabetes. Pasien akan dengan cepat didiagnosis diduga penderita DM tipe 1 jika terjadi perubahan penglihatan secara cepat, dan pada tipe 2 perubahan umumnya berlangsung secara berangsur-angsur, akan tetapi tetap akan dicurigai sebagai kasus.
Orang-orang (umumnya dengan diabetes tipe 1) mungkin juga menunjukkan gejala diabetik ketoacidosis, sebuah kondisi dimana metabolisme tubuh tidak berputar dan ditunjukkan dengan terciumnya bau aseton; mengambil nafas dalam dengan cepat atau yang disebut pernafasan kussmaul; mual; muntah dan sakit pada daerah perut (abdomen); dan terjadi perubahan kesadaran. Perubahan tingkat kesadaran pasien dapat bervariasi tergantung pada tingkat hyperosmolality, ketika kekurangan insulin berkembang relatif lambat dan dengan asupan air yang cukup, pasien akan tetap pada kondisi waspada dengan kenampakan fisik yang minimal. Ketika muntah terjadi sebagai respon terhadap memburuknya ketoasidosis, dehidrasi dan mekanisme kompensasi menjadi tidak memadai untuk menjaga osmolalitas serum di bawah 320-330 mosm/L. Dalam keadaan ini, pingsan atau bahkan koma dapat terjadi.
Sedikit berbeda, namun hampir sama kemungkinannya dengan keadaan hyperosmolar nonketotic, dimana keadaan tersebut lebih sering muncul pada penderita diabetes tipe 2 dan utamanya menjadikan penderita merasa dehidrasi. Kadang-kadang, pasien melakukan perilaku minum minuman dengan gula banyak secara berlebihan, diamana perilaku tersebut mendorong terjadinya siklus buruk dengan kenampakan kehilangan banyak air.
Orang yang menderita diabetes (khususnya tipe 1) akan mengalami penurunan berat badan, meskipun dia mengalami peningkatan nafsu makan dan rasa lapar. Penurunan berat badan awalnya dikarenakan deplesi air, glikogen, dan trigliserida, kemudian dilanjutkan dengan berkurangnya massa otot yang terjadi sebagai akibat asam amino dialihkan untuk membentuk glukosa dan keton oleh tubuh.
Produksi volume plasma yang menurun akan menghasilkan gejala hipotensi postural pada penderita DM tipe 1, yaitu kondisi dimana tubuh kehilangan kalium. Selain itu, paresthesis (kesemutan) dapat pula dijumpai pada seseorang yang menderita DM terutama pada fase subakut. Hal itu mencerminkan disfungsi sementara saraf-saraf tepi sebagai pengganti insulin yaitu mengembalikan tingkat glikemik ke arah normal. Ketika kekurangan insulin absolut onset gejala akan terjadi secara akut, gejala di atas akan berkembang secara tiba-tiba, (Lawrence, 2002).
Beberapa rash pada kulit dapat saja muncul pada orang dengan diabetes yang apabila mengelompok disebut dengan dermadromes diabetes.

B.Pemeriksaan Penunjang Diagnosis (Lawrence, 2002)
Pemeriksaan skrining perlu dilakukan pada kelompok dengan risiko tinggi untuk DM, yaitu kelompok usia dewasa tua ( > 40 tahun ), obesitas, tekanan darah tinggi, riwayat keluarga DM, riwayat kehamilan dengan berat badan lahir bayi, >4.000g, riwayat DM pada kehamilan, dan dislipidemia.
Pemeriksaan skrining dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah sewaktu, kadar glukosa darah puasa (Tabel 1).kemudian dapat diikuti dengan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) standar. Untuk kelompok resiko tinggi yang hasil pemeriksaan penyaringnya negatif, perlu pemeriksaan penyaring ulangan tiap tahun. Bagi pasien berusia >45 tahun tanpa faktor resiko, pemeriksaan penyaring dapat dilakukan setiap 3 tahun.

Tabel 1. Kadar Glukosa darah sewaktu dan puasa dengan metode enzimatik sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM (mg/dl)

Cara Pemeriksaan TTGO, adalah:
1.Tiga hari sebelum pemeriksaan pasien makan seperti biasa.
2.Kegiatan jasmani sementara cukup, tidak terlalu banyak.
3.Pasien puasa semalam selama 10-12 jam.
4.Periksa glukosa darah puasa.
5.Berikan glukosa 75 g yang dilarutkan dalam air 250 ml, lalu minum dalam waktu 5 menit.
6.Periksa glukosa darah 1 jam dan 2 jam sesudah beban glukosa.
7.Selama pemeriksaan, pasien yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok.
WHO (1985) menganjurkan pemeriksaan standar seperti tersebut, tetapi seringnya pemeriksaan yang dilakukan hanya pemeriksaan glukosa darah 2 jam saja.
Keluhan dan gejala yang khas ditambah hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu >200 mg/dl atau glukosa darah puasa ≥126 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM. Bila hasil pemeriksaan glukosa darah meragukan, pemeriksaan TTGO diperlukan untuk memastikan diagnosis DM. untuk diagnosis DM dan gangguan toleransi glukosa lainnya diperiksa glukosa darah 2 jam setelah beban glukosa.sekurang-kurangnya diperlukan kadar glukosa darah 2 kali abnormal untuk konfirmasi diagnosis DM pada hari yang lain atau TTGO yang abnormal. Konfirmasi tidak diperlukan pada keadaan khas hiperglikhemia dengan dekompensasi metabolic akut,seperti ketoasidosis, berat badan yang menurun cepat,dll.

A.Faktor Risiko (American Optometric Association, 2009)
Tingginya angka prevalensi diabetes tipe 2 dan telah terjadinya peningkatan angka kematian dan kesakitan yang berhubungan dengan penyakit tersebut, maka direkomendasikan adanya skrining untuk dewasa usia ≥45 tahun. Sementara itu, untuk seseorang dengan risiko tinggi, skrining dilakukan pada usia yang lebih muda dan frekuensinya ditambah. Adapun tanda-tanda orang yang berisiko tinggi terhadap diabetes adalah sebagai berikut:
Obesitas (berat badan >120% dari berat badan yang sebenarnya diperlukan, atau BMI >25 kg/m2). Keadaan ini merupakan kondisi pertama yang dihubungkan dengan diagnosis DM. Diabetes tampaknya lebih sering dikaitkan baik pada pria dan wanita dengan lokasi timbunan lemak pada segmen atas tubuh (terutama perut, dada, leher, dan wajah). Baku tabel rasio pinggang-pinggul menunjukkan bahwa rasio “lebih besar dari 0,9” pada pria dan “lebih besar dari 0,8” pada wanita berhubungan dengan peningkatan risiko diabetes pada seseorang yang obesitas. Selain itu, hipertensi ringan juga sering timbul pada penderita diabetes yang obesitas.
Orang keturunan etnik tertentu yang memiliki risiko tinggi terhadap DM (misalnya: etik amerika keturunan afrika, hispanik, dan orang amerika asli)
Seseorang yang telah melahirkan bayi dengan berat lebih dari 9 pounds atau seseorang yang telah terdiagnosis GDM.
Seseorang yang hipersensitif (tekanan darah >140/90).
Seseorang dengan kadar kolesterol HDL <35 mg/dl dan atau kadar trigliserid tubuhnya >250 mg/dl.

B.Cara Pencegahan
Aktivitas fisik teratur merupakan komponen penting dalam pencegahan dan manajemen diabetes mellitus tipe 2. Namun, untuk diabetes tipe 1, tindakan pencegahan ini tidak menunjukkan hasil yang optimal. Meskipun demikian, penderita diabetes tipe 1 yang berolahraga secara teratur telah menunjukkan penurunan angka morbiditas dan kematian dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukan olah raga teratur, (Bastaki, 2005).
Penderita diabetes tipe 1 dan 2 dapat melakukan pencegahan terhadap diabetes yang dideritanya agar tidak menjadi bertambah parah dengan cara mengotrol diet, dan lebih lagi untuk DM tipe 2, dapat sepenuhnya dikontrol dengan modifikasi diet. Beberapa penelitian merekomendasikan seseorang yang menderita diabetes untuk mengkonsumsi tinggi serat, dan diet 75% karbohidrat. Selain itu, pengontrolan berat badan secara ketat agar tatap ideal harus dilakukan. Pemeriksaan tekanan darah dan kadar glukosa dalam darah haus dilakukan scara rutin, (www.wikipedia.org)

C.Cara Pengobatan (American Optometric Association, 2009)
Pengobatan DM terdiri dari satu atau lebih dari kombinasi berikut: terapi gizi medis, latihan, insulin, dan pengobatan noninsulin, seperti obat-obatan oral dan non-insulin. Dijelaskan oleh ahli gizi, setiap pasien dengan DM harus menerima rekomendasi diet. Terapi gizi medis yang dilakukan pada tahap awal penyakit, efektif untuk mengontrol DM tipe 2 pada banyak pasien. Diet rekomendasi yang memperhitungkan kebutuhan kalori harian pasien tersebut, dirancang untuk mengendalikan berat badan untuk mencapai berat badan ideal. Pengoptimalan asupan tingkat protein dan lemak, karbohidrat biasanya ditentukan menurut pedoman diet khusus diabetes.
Pengobatan untuk penderita DM berupa kegiatan pengelolaan dengan tujuan :
Menghilangkan keluhan dan gejala akibat defisiensi insulin ( gejala DM )
Mencegah komplikasi kronis yang dapat menyerang pembuluh darah, jantung, ginjal, mata, syaraf, kulit, kaki dsb.
Tindakan pengelolaan yang dilakukan :
Menormalkan kadar glukosa, lemak, dan insulin di dalam darah serta memberikan pengobatan penyakit kronis lainnya. Langkah yang dilakukan terutama : Diet; Mengurangi kalori dan meningkatkan konsumsi vitamin. Aktivitas fisik; olahraga teratur, pengelolaan glukosa dan meningkatkan kepekaan terhadap insulin.
Obat-obat hipoglikemia oral : Sulfonylurea untuk merangsang pankreas menghasilkan insulin dan mengurangi resistensi terhadap insulin.
Terapi insulin, diperlukan untuk semua pasien dengan DM tipe 1 dan bagi pasien DM tipe 2 terapi ini tidak efektif dan responsif. Tujuan terapi insulin adalah untuk mempertahankan kadar normal glukosa darah sepanjang hari.
Meningkatnya penggunaan terapi oral dan terapi oral dikombinasikan dengan insulin mampu menawarkan pasien manfaat potensial dari tindakan sinergis yang berbeda obat sekaligus mengurangi efek samping.

D.Rehabilitasi (Skreela, 2010)
Hal penting yang mendasari adanya proses rehabilititasi untuk penderita diabetes adalah prevalensi angka kesakitan diabetes di dunia yang meningkat secara tajam dan dikarenan telah ditemukannya obat-obatan dan hormon-hormon insulin pengganti. Adapun tujuan dari rehabilitasi terhadap penderita diabets adalah untuk mencegah terjadinya komplikasi dan diabetes, untuk mendeteksi secara dini jika ada komplikasi, dan untuk mengobati komplikasi jika komplikasi tersebut ternyata sudah muncul.
Proses rehabilitasi ada beberapa tahap, tahap yang pertama adalah pemberian pendidikan tentang diabetes terhadap pasien. Tahap ini merupakan tahap yang pling penting dalam proses rehabilitasi. Pemberian pendidikan pada pasien akan membantu pasien untuk tidak tergantung tinggal di rumah sakit atau dengan kata lain agar pasien dapat melakukan proses-proses rehabilitasi di rumah, namun tetap dalam pengawasan dokter.
Tahap selanjutnya dalam proses rehabilitasi adalah pencegahan terhadap komplikasi. Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap pendidikan terhadap pasien. Prinsip dari pencegahan terhadap komplikasi adalah memperketat kontrol kadar glukosa darah. Adapun hal-hal yang bisa dilakukan pasien untuk mencegah timbulnya komplikasi adalah:
1.Berhenti merokok
2.Melakukan kontrol tekanan darah secara rutin
3.Melakukan deit khusus diabetes
4.Melakukan olahraga secara teratur. Hal ini dapat meningkatkan sensitivitas ujung reseptor sel organ terhadap insulin.
5.Mencegah timbulnya infeksi
Selain rehabilitasi secara fisik, rehabilitasi psikologi juga merupakan hal yang penting. Seseorang yang menderita diabetes biasanya akan mengalami trauma emosional yang sangat dalam, oleh karena itu dengan adanya terapi psikologi ini diharapkan seseorang dengan diabetes dapat hidup mendekati kehidupan orang normal.

E.Prognosis (www.wikipedia.org, 2010 )
Diabetes mellitus sangat berisiko menimbulkan penyakit vaskuler, termasuk kardiovaskuler. Berdasarkan pada suatu studi, wanita dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) 3 kali lebih sering menderita diabetes tipe 2 dibandingkan dengan wanita dengan tekanan darah normal, setelah disesuaikan dengan beberapa variasi faktor seperti umur, etnik, kebiasaan merokok, asupan alkohol, BMI, pengendalian yang dilakukan, dan riwayat diabetes dalam keluarga, dsb. Penelitian ini dilakukan pada 38.000 wanita sehat yang dilakukan secara kohort pada 10 tahun.
Kecuali dalam kasus diabetes tipe 1, dimana kasus tersebut selalu membutuhkan penggantian insulin, untuk memanage diabetes tipe 2 dilakukan berdasarkan umur atau dengan kata lain jenis terapi dan manajemen berbeda menurut umur. Produksi insulin menurun karena bertambahnya umur, dihubungkan dengan kerusakan atau memburuknya fungsi beta sel pangkreas. Ditambahkan juga, peningkatan resistensi insulin bisa dikarenakan kehilangan lemak-lemak jaringan dan akumulasi lemak, terutama pada bagian intra-abdomial, dan penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin. Toleransi terhadap glukosa secara progresif menurun karena faktor umur, hal ini mendorong terjadi tingginya prevalensi diabetes tipe 2 dan kejadian hiperglikemia pada populasi penduduk usia tua. Umur memang berhubungan dengan intoleransi glukosa pada manusia dan sering hal tersebut terjadi bersamaan dengan resistensi insulin, akan tetapi sirkulasi kadar insulin pada orang tua sama dengan pada orang dengan usia muda. Treatmen ditujukan untuk pasien dengan usia tua yang menderita diabetes berbeda-beda menurut masing-masing individu, tergantung status kesehatan individu, seperti usia harapan hidup, derajat ketergantungan, dan kemauan untuk mengkonsumsi obat obatan untuk penyembuh. Kadar glikogen dalam hemoglobin lebih baik digunakan sebagai acuan dibandingkan kadar glukosa puasa untuk menentukan besarnya risiko kejadian penyakit kardiovakular dan kematian akibat diabetes dilihat dari banyaknya penyebab kematian pada penyakit ini.

BAB IV
PENUTUP
Simpulan
Diabetes mellitus adalah penyakit metabolik yang berhubungan erat dengan produksi dan penggunaan insulin dalam tubuh. Diabetes ada 3 tipe utama, yaitu diabetes mellitus tipe 1, diabetes mellitus tipe 2, dan gastrointestinal diabetes. Pemeriksaan penunjang diagnosis yang bisa dilakukan untuk menentukan seseorang menderita diabetes atau tidak adalah pemeriksaan kadar glukosa darah dan pemeriksaan TTGO.
Orang yang berisiko menderita diabetes adalah seseorang yang mengalami obesitas, orang dengan keturuan etnik tertentu, seseorang yang melahirkan bayi dengan BB >9 pound (>4,1 kg), seseorang yang menderita hipersensitf, dan orang dengan kadar kolesterol HDL <35mg/dl.
Pencegahan pada seseorang yang menderita diabetes harus dilaksanakan secara dini dengan pencegahan primer. Adapun hal yang bisa dilakukan dalam pencegahan primer adalah dengan melakukan aktivitas fisik secara teratur (olah raga).
Proses rehabilitasi dilakukan dengan cara memberikan pendidikan terhadap pasien agar pasien penderita diabetes mampu mengotrol penyakitnya sendiri. Selain memberikan pendidikan, pasien juga harus diberikan rehabilitasi psiokologi. Sementara itu, pengobatan untuk penderita diabetes secara garis besar dapat dilakukan dengan terapi insulin dan non insulin. Prognosis penyakit diabetes mellitus tergantung pada jenis keparahan penyakit dan komplikasi yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Lawrence M. Tierney, Jr. 2002. Current Medical Diagnosis & Treatment, Adult Ambulatory & Inpatient Management. McGraw-Hill Companier. New York, USA
Bastaki, Salim. 2005. Review Diabetes Mellitus and its Treatment. Department of Pharmacology, Faculty of Medicine & Health Sciences, United Arab Emirates University, Al Ain United Arab Emirates. Int j Diabetes & Metabolism (2005) 13:111-134
Anonim. 2010. Diabetes Mellitus. Http://wikipedia.org/diabetesmellitus/. Diakses tanggal 1 november 2010
Skreela. 2010. Diabetes Rehabilitation. www.commedtvm.org/phus/phu06_ session4.htm. Diakses tanggal 1 November 2010
American Optometric Association. 2009. Optometric Clinical Practice Guideline Care of the Patient with Diabetes Mellitus Reference Guide for Clinicians. Aoa Board of Trustees, USA
Wild, Sarah; Gojka Roglic, Anders Green; Richard Sicree, & Hilary King. 2004. Global Prevalence of Diabetes Estimates for the Year 2000 and Projections for 2030. Diabetes care 27:1047–1053, 2004

Makalah Kecelakaan Lalulintas

TUGAS TERSTRUKTUR
EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR

KECELAKAAN LALULINTAS
BAB I
PENDAHULUAN
Kecelakaan lalulintas adalah kejadian di mana sebuah kendaraan bermotor bertabrakan dengan benda lain dan menyebabkan kerusakan. Kadang kecelakaan ini dapat mengakibatkan luka-luka atau kematian manusia atau binatang. Kecelakaan lalulintas menelan korban jiwa sekitar 1,27 juta manusia setiap tahun menurut WHO (Soehodho, 2009).
Menurut Khan, et al (2007), dampak dari kecelakaan lalulintas diantaranya yaitu dampak ekonomi yang menyebabkan pengeluaran untuk biaya perawatan, hilangnya waktu dan kemampuan bekerja sehingga menyebabkan pendapatan berkurang. Berdasarkan laporan WHO kecelakaan lalulintas telah membunuh lebih dari 5000 orang dan melukai 12000 orang di satu negara berkembang setiap tahun. Kecelakaan lalulintas merupakan masalah kesehatan masyarakat, karena itu penting untuk dicegah karena dapat menyebabkan kematian dan kecacatan.
Kecelakaan di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat, hal ini dikarenakan jumlah manusia yang semakin bertambah dan juga diiringi dengan peningkatan status ekonomi masyarakat yang menyebabkan daya beli masyarakat terhadap kendaraan semakin tinggi pula.
BAB II
PERMASALAHAN
Kecelakaan lalulintas merupakan permasalahan kesehatan masyarakat dunia. Tahun 2002. 1,2 juta orang meninggal karena kecelakaan lalulintas dan 50 juta orang terluka baik ringan maupun berat. Kecelakaan lalulintas merupakan rangking kesebelas penyebab kematian dan terhitung 2,1 % kematian secara global di dunia (World Report on Road Traffic Injury Prevention, 2004).
WHO mengungkapkan lebih dari 1,27 juta orang meninggal akibat kecelakaan lalulintas setiap tahunnya yang meliputi pejalan kaki, pengendara kendaraan bermotor dan pengendara sepeda. Studi menunjukkan kebanyakan orang yang meninggal karena kecelakaan lalulintas di Indonesia adalah pengendara kendaraan beroda dua atautiga yangmencapai 61%, pejalan kaki 15%, pengendarasepeda 13%, penumpang kendaraan roda empat 4% dan pengendara kendaran roda empat 3%, yang dilaporkan Polisi Nasional pada tahun 2008 di tiga provinsi.
Walaupun laju perkembangan kecelakan lalulintas di Indonesia tinggi, pengumpulan data dan informasinya susah. Data dan informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber seperti kepolisian, rumah sakit dan perusahaan asuransi. Menurut kepolisian kematian merupakan seseorang yang meninggal pada saat kecelakaan sedangkan menurut rumah sakit kematian didefinisikan sebagai keadaan meninggalnya seseorang setelah mengalami kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit.
Angka kecelakaan di beberapa kota di Indonesia terutama dikota besar seperti Jakarta, disebabkan ketidakseimbangan sistem lalulintas. Hal ini dikarenakan perbedaan antara daya tampung jalan raya dengan banyaknya kendaraan yang ada. Data dan informasi mengenai kecelakaan berdasarkan laporan dari Jakarta, Jambi dan Jawa Barat (Soehodho, 2009).
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. Jenis Kecelakaan
Menurut Dimaio Vincent dan Dominick (1998), kecelakaan kendaraan bermotor dibagi menjadi 4 kategori yaitu :
1. Front impact crashes
2. Side impact crashes
3. Rollovers
4. Rear impact crashes
1. Front impact crashes
Jenis kecelakaan ini sering terjadi ketika seorang pengumudi lengah dan berbicara ketika mengendarai kendaraan. Kecelakaan ini terjadi ketika dua kendaraan bertubrukan dari depan atau sebuah kendaraan menabrak suatu objek. Luka yang sering terjadi yaitu pada bagian lutut pengendara yang terbentur dash board atau bagian depan kendaraan, dada terbentur pada stang kemudi, dan kepala terbentur kaca depan.. Jika pengendara memakai sabuk pengaman tapi tanpa airbag, lutut dapat terbentur dashboard tapi kepala dapat melentur ke depan, dengan dagu menyentuh sternum. Penumpang yang tidak memakai sabuk pengaman dan duduk di kursi belakang akan menabrak kursi yang ada di depannya dan penumpang yang di depan akan menabrak kaca yang depan. Jika kepala pengendara atau bagian depan penumpang menabrak kaca depan, akan terjadi luka pada bagian depan kepala, hidung dan wajah, dengan luka terbentuk secara vertikal. Potongan kaca dapat masuk ke bagian yang luka.
2. Side impact crash
Tabrakan ini biasanya terjadi di persimpangan jalan ketika sebuah kendaraan menabrak sisi dari kendaraan lain. Korban yang terkena adalah orang yang berada disisi mobil yang tertabrak. Jarang terjadi luka pada penumpang yang berada pada sisi lain bagian mobil yang tertabrak. Tabrakan dari samping bisa juga terjadi karena mobil tergelincir ke samping jalan dan bagian samping mobil menabrak pohon atau pembatas jalan yang ada disamping jalan. Sabuk pengaman atau penampung udara yang ada di dalam mobil sebenarnya tidak terlalu memberi manfaat yang besar. Dampak yang terjadi, seperti luka luar contohnya abrasi dan fraktura tergantung dari posisi ketika tabrakan terjadi, jika tabrakan terjadi dari samping, maka luka yang ditimbulkan juga di samping, jika tabrakan terjadi dari belakang, luka yang ditimbulkan juga bagian belakang, misal retaknya tulang kepala bagian belakang.
3. Rollovers
Tabrakan yang sampai terguling seringnya memberi dampak kematian dari pada tabrakan yang lainnya. Ketika mobil terguling dan penumpangnya masih berada didalam mobilnya itu bisa resiko kematian, hal ini dikarenakan bisa terjadi mobil meledak ataupun mobil tersebut rusak berat dan bisa menyebabkan penumpangnya terjepit ataupun tertindih benda-benda yang ada di dalam mobil. Korban tidak bisa keluar dari mobilnya ketika terguling dikarenakan mobil sudah didesain agar pintu tidak bisa dibuka ketika mobil terguling. Penumpang bisa keluar dari mobil jika jendela dari mobil tidak ditutup sebelum mobil terjatuh. Korban yang terlempar dari mobil bisa menyebabkan luka yang tak teratur dan menyebabkan luka pada organ dalam seperti luka pada hati, jantung, dan paru.
4. Rear Impact Crashes
Kecelakaan bagian belakang umumnya adalah kecelakaan yang kurang berbahaya. Hal ini dikarenakan penumpang yang ada di dalam mobil terlindungi oleh bagian belakang mobil yang digunakan untuk menyimpan barang (bagasi). Kecelakaan ini biasanya terjadi karena kendaraan tersebur mengurangi kecepatan secara tiba-tiba. Dampaknya pada penumpang sering menyebabakan whiplash syndrome (sindrom salah urat pada leher karena kepala tersentak).
B. Penyebab Kecelakaan
Ada tiga faktor utama yang menyebabkan terjadinya kecelakaan, pertama adalah faktor manusia, kedua adalah faktor kendaraan dan yang terakhir adalah faktor jalan. Kombinasi dari ketiga faktor itu bisa saja terjadi, antara manusia dengan kendaraan misalnya berjalan melebihi batas kecepatan yang ditetapkan kemudian ban pecah yang mengakibatkan kendaraan mengalami kecelakaan. Disamping itu masih ada faktor lingkungan, cuaca yang juga bisa berkontribusi terhadap kecelakaan (Anonim, 2010).
1. Faktor manusia
Faktor manusia merupakan faktor yang paling dominan dalam kecelakaan. Hampir semua kejadian kecelakaan didahului dengan pelanggaran rambu-rambu lalulintas. Pelanggaran dapat terjadi karena sengaja melanggar, ketidaktahuan terhadap arti aturan yang berlaku ataupun tidak melihat ketentuan yang diberlakukan atau pula pura-pura tidak tahu.Selain itu manusia sebagai pengguna jalan raya sering sekali lalai bahkan ugal ugalan dalam mengendarai kendaraan, tidak sedikit angka kecelakaan lalulintas diakibatkan karena membawa kendaraan dalam keadaan mabuk, mengantuk, dan mudah terpancing oleh ulah pengguna jalan lainnya yang mungkin dapat memancing gairah untuk balapan.
2. Faktor kendaraan
Faktor kendaraan yang paling sering terjadi adalah ban pecah, rem tidak berfungsi sebagaimana seharusnya, kelelahan logam yang mengakibatkan bagian kendaraan patah, peralatan yang sudah aus tidak diganti dan berbagai penyebab lainnya. Keseluruhan faktor kendaraan sangat terkait dengan technologi yang digunakan, perawatan yang dilakukan terhadap kendaraan.
Untuk mengurangi faktor kendaraan perawatan dan perbaikan kendaraan diperlukan, disamping itu adanya kewajiban untuk melakukan pengujian kendaraan bermotor secara reguler.
3. Faktor jalan
Faktor jalan terkait dengan kecepatan rencana jalan, geometrik jalan, pagar pengaman di daerah pegunungan, ada tidaknya median jalan, jarak pandang dan kondisi permukaan jalan.Jalan yang rusak/berlobang sangat membahayakan pemakai jalan terutama bagi pemakai sepeda motor.
4. Faktor Cuaca
Hari hujan juga mempengaruhi unjuk kerja kendaraan seperti jarak pengereman menjadi lebih jauh, jalan menjadi lebih licin, jarak pandang juga terpengaruh karena penghapus kaca tidak bisa bekerja secara sempurna atau lebatnya hujan mengakibatkan jarak pandang menjadi lebih pendek. Asap dan kabut juga bisa mengganggu jarak pandang, terutama di daerah pegunungan.
Ada banyak faktor resiko yang menyebabkan terjadinya kecelakaan lalulintas, diantaranya jenis kelamin, tujuan berkendara, jarak, pengetahuan berkendara, jumlah kendaraan yang dimiliki (Indriastuti, 2010).
1. Jenis kelamin
Laki-laki lebih beresiko mengalami kecelakaan dalam berkendara karena laki-laki lebih cenderung tidak bisa mengontrol emosinya. Contohnya ketika seorang laki-laki sedang berkendara dan didahului oleh pengendara lain dia akan langsung menarik gasnya lebih kencang untuk mengejar pembalap yang tadi mendahului karena laki-laki tidak bisa mengontrol emosinya dan tidak mau dianggap kalah oleh pengendara yang lain.
Pengendara laki-laki juga lebih berani mengambil resiko dengan berjalan dibelakang pengendara lain dengan jarak yang terlalu dekat dan mengambil jalan yang sempit untuk mendahului tanpa memperhatikan keselamatan dirinya dan orang lain. Selain itu sebagian pengendara adalah laki-laki dan berumur 17 sampai 22 tahun yang pada masa ini mereka masih mempunyai emosi yang belum stabil.
2. Jumlah kendaraan yang dimilki
Jumlah kendaraan yang dimiliki berengaruh pada kecelakaan yang terjadi pada pemiliknya karena dengan jumlah kendaraan yang banyak menyebabkan pemilik kendadraan mempunyai waktu yang lebih banyak dalam menggunakan kendaraannya walaupun hanya untuk perjalanan yang dekat sekalipun, hal ini menambah pemilik kendaraan beresiko lebih tinggi terjadi kecelakaan lalulintas.
3. Tujuan perjalanan
Perjalanan yang untuk kepentingan yang rutin seperti untuk bekerja dan sekolah mempertinggi resiko terjadinya kecelakaan lalulintas, karena mereka harus mengjar waktu untuk mencapai tempat tujuan dengan tepat waktu. Sementara itu perjalanan untuk kepentingan yang bersifat sosil yang tidak dikejar oleh waktu mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan.
4. Jarak
Semakin jauh jarak yang ditempuh oleh pengendara maka semakin besar pula resiko terjadinya kecelakaan lalulintas, hal ini dikarenakan pengendara membutuhkan konsenterasi, tenaga dan juga pengendalian emosi yang lebih lama yang disebabkan oleh jarak tempuh yang lebih jauh.
5. Pengetahuan berkendara
Ketidaktahuan dalam berkendara meningkatkan resiko terjadinya kecelakaan. Hal ini dikarenakan pengendara tidak tahu mengenai peraturan lalulintas dan melanggar peraturan tersebut sehingga membahayakan bagi dirnya dan orang lain.
C. Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan ataupun dampak dari kecelakaan,diantaranya yaitu:
1. Penggunaan seat belt (sabuk pengaman)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada setiap kecelakaan terbukti dengan digunakannya sabuk pengaman dapat mengurangi resiko kematian sebanyak 2/3 dan mengurangi resiko luka atau cedera yang serius.
2. Maintenance (pemeliharaan)
Rancangan dan pemeliharaan kendaraan yang baik, misalnya rem yang baik dan suspensi yang dapat dikendalikan dalam keadaaan darurat sehingga akan lebih siap untuk menghindari tabrakan. Beberapa skema pemeriksaan kendaraan wajib meliputi tes untuk beberapa aspek kelayakan jalan, seperti tes MOT Inggris atau Jerman dengan inspeksi TUV. Rancangan kendaraan juga telah berkembang untuk meningkatkan perlindungan setelah tumbukan, baik untuk penumpang kendaraan dan bagi mereka di luar kendaraan.
3. Desain Jalan
Trotoar lebar cocok untuk lalulintas pejalan kaki diharapkan
– Penyeberangan pejalan kaki dekat dengan garis yang memungkinkan pejalan kaki untuk menyeberang jalan dengan aman.
– Rute pejalan kaki dipisahkan dan jalur jauh dari jalan raya utama.
– Gundukan yang dapat mengurangi kecepatan
– Kecepatan rendah batas yang ketat diberlakukan, kemungkinan oleh kamera.
4. Peraturan Pengguna Jalan
Keamanan dapat ditingkatkan dengan metode yang mendorong perilaku aman, atau mengurangi kemungkinan kesalahan driver atau pengendara. Beberapa di antaranya:
– Wajib pelatihan dan perizinan bagi pengendara
– Pembatasan mengemudi sambil mabuk atau terganggu oleh obat-obatan.
– Pembatasan penggunaan telepon selular sewaktu beraktivitas.
– Asuransi wajib untuk memberikan kompensasi korban.
– Pembatasan jam pengemudi kendaraan komersial
– Penegakan hukum lalulintas, termasuk kamera menjalankan lampu merah
– Sebuah “jam malam” yang dikenakan pada pembalap muda untuk mencegah mereka mengemudi di malam hari.
– Seorang supervisor berpengalaman untuk pendamping pengemudi yang kurang berpengalaman.
– Pembatasan kendaraan (misalnya membatasi akses ke kendaraan ‘kinerja tinggi’)
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Kecelakaan lalulintas adalah kejadian di mana sebuah kendaraan bermotor bertabrakan dengan benda lain dan menyebabkan kerusakan. Kecelakaan kendaraan bermotor dibagi menjadi 4 kategori yaitu front impact crashes, side impact crashes, rollovers dan rear impact crashes. Ada tiga faktor utama yang menyebabkan terjadinya kecelakaan, pertama adalah faktor manusia, kedua adalah faktor kendaraan dan yang terakhir adalah faktor jalan. Pencegahan dapat dilakukan untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan ataupun dampak dari kecelakaan, diantaranya yaitu penggunaan seat belt (sabuk pengaman), maintenance, desain jalan, dan peraturan pengguna jalan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Traffic Collision. www.wikipedia.org. Diakses tanggal 10 Nopember 2010.
Dimaio Vincent dan Dominick. 1998. Forensic Pathology Second Edition. CRC Press. New York.
Indriastuti, Amelia. 2010. Influencing Factors On Motorcycle Accident In
Urban Area Of Malang, Indonesia. http://www.ijar.lit.az/pdf/7/2010(5- 45).pdf. Diakses tanggal 10 Nopember 2010.
Khan, Mohamad Hussain, et al. 2007. Road Traffic Acidents (Study of Risk Factor). Diakses tanggal 10 Nopember 2010.
Soehodho, Susanto. 2009. Road Accidents in Indonesia. www.iatss.or.jp/pdf/research/33/33-2-11.pdf. Diakses tanggal 10 Nopember 2010.