Lasem-Petani garam di kecamatan Kaliori dan lasem memendam rasa kecewa berat akibat gagal panen, pasalnya dua malam berturut-turut Senin dan Selasa lalu, area tambak diguyur hujan deras. Dampaknya butiran garam yang siap panen kembali mencair, jerih payah selama satu minggu mengolah lahan akhirnya berakhir sia-sia.
Seperti halnya yang dikeluhkan Kasnadi warga Desa Sendang Asri Kecamatan Lasem, anggota kelompok petani garam Sido Makmur. Akibat gagal panen dia mengaku sudah tak lagi memiliki persediaan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.
Sehingga dia terpaksa berhutang kepada kerabatnya untuk membiayai pengeluaran sehari-hari dan modal untuk berproduksi garam. Padahal bila tidak gagal panen semestinya dia meraup pendapatan bersih bekisar Rp. 600 ribu.
Terpisah Ketua Kluster Garam Rakyat Rasmani menyampaikan, melihat kondisi alam pada awal Juni ini semula diprediksi produksi garam akan lancar. Puncak panen raya berlangsung mulai Juli hingga Desember, tetapi kembali anomali cuaca terjadi sehingga petani garam gagal panen.
Menurut Rasmani, curah hujan cukup tinggi membuat butiran garam rusak, kembali larut menjadi air, padahal, normalnya saat dipanen dari tambak lahan miliknya seluas 3 hektar bisa menghasilkan 70 ton. Taksiran pendapatan belasan juta rupiah musnah akibat tambak garam diguyur hujan dua malam berturut-turut.
Anggota klaster dan petani garam berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait mengupayakan bantuan permodalan karena gagal panen. Jangankan untuk kembali berproduksi, guna membiayai kebutuhan hidup sehari-hari mereka juga mengalami kesulitan.